Jangan [hanya] Membaca, Jika Ingin Bisa Menulis!

Jangan banyak membaca jika ingin menulis! Ini nasihat ekstrim seorang teman, saat menyadari bahwa tidak ada yang didapatkannya hanya dari membaca [saja]. Apalagi jika ingin bisa menulis. Membaca hanyalah pekerjaan sia-sia saja.

Pengalaman sang teman ternyata ada buktinya. Saat pertama kali kuliah, saya merupakan orang yang keranjingan membaca. Karena kuatnya keinginan sebagai pembelajar, saya menargetkan setiap satu bulan harus ada buku yang harus dibeli. Tentu saja hampir semua buku saya pada awalnya.

Dari membaca inilah termotivasi untuk menulis, apalagi setelah baca buku-buku Pram dan Ali Syariati. Keinginan untuk belajar menulis mulai tumbuh. Mulailah mencari buku-buku tentang menulis, jurnalistik, feature, opini termasuk menulis karya sastra.

Faham ilmu menulis saat membaca tentu berbeda ketika mencoba menuangkannya dalam bentuk tulisan. Susahnya minta ampun. Ide ada, isinya sulit didapat. Ide dapat dituangkan takut tidak pas. Dapat menulis satu halaman sampai dua halaman, takut gak mutu. Dan banyak lagi godaannya. Hingga akhirnya tulisan gak pernah dipublikasikan apalagi dikirim ke Koran, hanya sekedar untuk bulletin kampuspun merasa malu.

Ketidakpedean, akhirnya mendorongku untuk membaca dan membaca lagi. Hingga akhirnya sadar. Jika membaca terus tanpa aksi menulis, kapan bisa menulisnya. Kapan lagi saya tahu jika tulisan saya jelek. Kapan lagi saya tahu jika tulisan saya belepotan.

Saat itulah saya mencoba mepraktikan, apa yang kita fahami dari hasil baca, coba dikontekstualisasikan ke dalam masalah-masalah yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Saat itulah menulis pun menjadi kegiatan rutin setelah membaca, terlahirlah resensi, terlahirlah opini. Terlahirlah tulisan-tulisan lain, walaupun hanya sekedar cerita dan curhat.Walaupun belepotan, acaka-acakan, yang penting kita aksi, aksi menulis.

Oleh karena itu, membaca terus-menerus menjadi percuma jika pada akhirnya tidak ada aksi untuk memahami ilmu tersebut dalam pemahaman kita sendiri. Pemahaman tersebut dapat direalisasikan dalam tulisan kita. Karena menulis bagi saya sendiri adalah persfektif, tak ada persfektif tanpa menuliskannya lagi. Menulis adalah seni tafsir kita terhadap sesuatu.

Teringat perkataan seorang sejarawan, menurutnya bahwa seseorang dikatakan intelektual itu dilihat dari gagasannya yang dapat diikat dengan menuliskannya. Banyak orang mampu menjadi speaker seperti Guru, Dosen, Penceramah, Motivator dsb, tetapi jika ia tidak menulis. Ia belum dapat menjadi seorang ahli dalam bidangnya tersebut.

Ayo, jangan hanya membaca! Ayo, Jangan hanya Bicara! Buktikan! Aksi, aksi dan Aksi, begitulah perintah seorang penulis buku. Intinya harus Aksi, aksi menulis. Kalo baca dan bicara terus kapan nulisnya dong?

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar
Anonymous
AUTHOR
Apr 10, 2012, 3:55:00 PM delete

He he he... Terima kasih mas
Saya jadi pengen nulis nih....

Kangazul

Reply
avatar
Abah Raka
AUTHOR
Oct 5, 2015, 10:57:00 AM delete

Terima kasih kangazul sudah mau mampir

Reply
avatar

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon