Antara Syariati dan Pram


Hampir tak dapat dipungkiri bahwa titik tolak pencerahan dan gelisah hidupku tak dapat dipisahkan dari pengaruh kedua tokoh yang berbeda secara geografis seperti disebut pada judul; Syariati dan Pram, kedua tokoh tersebut dapat dikatakan merupakan satu generasi walau berbeda tempat pijakan, ia sama-sama berada pada satu ruang yang sama dalam memperjuangkan bangsanya masing-masing; berjuang melalui tulisan.

Syariati panggilan akrab Ali Syariati (lahir di ) merupakan seorang tokoh pergerakan Islam Iran menjelang Revolusi Iran 1979, walau hampir tidak pernah disebutkan sebagai orang yang berada di balik revolusi Iran dibandingkan dengan Ruhullah Khomaini dan Murthada Muthahari, namun ia telah berjuang sejak mula untuk meruntuhkan rezim Syah Pahlevi. Ia berjuang sejak masa kuliah hingga meraih gelar master dan doktornya di Sorbonne University Prancis. Melalui tulisan-tulisannya ia menggerakan pelajar Iran yang sedang belajar di Luar Negeri.

Pram, panggilan akrab Pramoedya Ananta Toer (lahir), seorang novelis besar yang dihargai dunia namun dipenjarakan di Negeri sendiri sejak masa Penjajahan hingga masa Presiden Soeharto. Pram berjuang melalui tulisan-tulisannya yang khas, novel sejarah yang diangkat langsung dari peristiwa-peristiwa kesaharian atau dalam istilahnya ia menganut aliran realism. Tokoh-tokoh yang dibangun Pram adalah tokoh-tokoh yang hampir tidak kita kenal. Pram mengangkat tokoh-tokoh yang hampir tidak dilirik oleh manusia kebanyakan yang biasanya lebih gandrung terhadap tokoh ‘besar’, bahkan ia mengangkat tokoh-tokoh yang dicibir sekalipun seperti gundik, pelacur, pegawai rendahan, walaupun ada beberapa tokoh besar yang ia angkat seperti Kartini, karena yang ingin ia ajarkan adalah ideology menulisnya.

Kenapa Syariati saya sebutkan dalam judul lebih dahulu, karena pertama kali berkenalan dengan tokoh pergerakan adalah Syariati, walaupun sebetulnya ada tokoh pergerakan, pemikir Islam dari Indonesia yaitu Cak Nur melalui Islam Keindonesiaan dan Kemodernan, namun sayang ia tidak meninggalkan jejak berbekas kecuali tentang pembelaannya terhadap Pancasilanya Orde Baru (saat itu), sementara melalui Ali Syariati, telah meninggalkan kesan yang cukup mendalam, Syariati melalui ‘Tanggung Jawab Cendekiawan Muslim’ telah membakar semangat saya, semangat untuk melakukan perubahan.

Sejak saat itulah, semangat perubahan tersebut saya wujudkan dalam bentuk banyak membaca buku dan aktif di beberapa organisasi kampus yang banyak menggelar diskusi, pencerahan dan pandangan. Sebagai mahasiswa, hidup saya saat itu benar-benar dinamis dan menggairahkan. Dari waktu-ke waktu saya isi dengan berdiskusi, pelatihan, berorganisasi. Namun tentu saja yang paling berkesan dari pandangan-pandangan Ali Syariati pada saat itu adalah pandangan terhadap simbolisasi manusia shaleh yang tidak bisa dipandang dari sisi bentuk atau formalitasnya saja karena bagi Ali Syariati manusia yang tercerahkan adalah;

“ia dengan tangan yang sama menuliskan ayat-ayat suci dari langit serta terbenam dalam genangan lumpur dan mengayunkan kayu untuk menyuburkan tanah yang kering, ia berdiri tegak memperjuangkan ayat-ayat Allah dan hak-hak masyarakat”. (Ali Syariati dalam Tanggung Jawab Cendekiawan Muslim)

Melalui pandangan dan sejumlah kritiknya terbukalah mata saya bahwa seorang yang baik, shaleh dan patut mendapatkan penghargaan adalah orang-orang yang tidak hanya berteriak tentang kitab suci, namun ia yang memperjuangkan hak masyarakat, bukan pula ia yang sering merendahkan orang-orang kecil dan termarjinalkan namun ia yang mampu menemukan makna dari kehidupannya walaupun dianggap kotor.

Sejak saat itu pula, keberaniannya mengkritik menumbuhkan rasa kepedean saya, bahwa orang besar belum tentu besar dengan kebesarannya, karena orang besar seperti dalam analogi Syariati adalah orang yang tidak hanya besar dengan kedudukan dan kata-katanya, namun yang mampu merealisasikan kata-katanya dan rela berkubang dengan lumpur sekalipun.

Seolah menemukan momentum, saat itu pun pandangan ini saya tuangkan dalam bentuk tulisan kritik terhadap orang-orang yang dianggap besar dan kerdil dalam moralnya. Seperti kasus dosen/ ustad cabul, Pejabat Korup, atau dalam bentuk kritik lainnya seperti tercermin dalam beberapa tulisan saya. Tentu saja tulisan saya sangat terbata-bata karena selain tidak memiliki skill menulis, ilmu dan penghayatan saya pun sangat dangkal. Namun tidak mengurangi rasa PD saya untuk menuliskannya dan ditempel di mading organisasi.

Melalui Syariati saya yang dusun/ ndeso/ katro belajar berani mengatakan hal saya anggap benar terhadap apa dan siapapun tanpa melihat jabatannya, jika salah ya harus berani mengkritik khususnya dalam relasi saya dengan kampus dan lingkungannya.

Jika pengaruh Syariati menyumbang keberanian serta membantu cara memandang manusia agar tidak dilihat dari seberapa besar jabatan dan setinggi apa posisi seseorang, hal yang berbeda disumbangkan terhadap saya dari novelis kelas dunia, Pramoedya Ananta Toer. Pram sapaan akrabnya mengajarkan untuk selalu menghargai orang-orang kecil bahkan yang dipandang kotor sekalipun. Novel-novelnya menceritakan banyak peran dari masyarakat bawah. Seperti pada novel Larasati.

‘Larasati’ mengisahkan tentang seorang artis yang lebih menonjol kepelacurannya daripada sebagai seorang pekerja seni. Ia merupakan potret seorang pelacur yang memperjuangkan bangsanya dengan caranya. Melalui tokoh Larasati Pram mengajak pembaca bahwa setiap orang itu memiliki kebermanfaatan terhadap lingkungannya, bahkan seorang pelacur pun menyumbangkan peluhnya demi tegaknya bangsa ini, dengan caranya sendiri. Caranya tentu bukan dengan melacurkan diri, namun menjadikan ilmu menggoda untuk melengahkan musuhnya. Melalui peran kepelacurannya ini ia bisa membantu pejuang.

Hal serupa juga ditonjolkan dari magnum opusnya Pram, Tetralogi Pulau Buru, 4 Roman bersambung tersebut menonjolkan peran seorang gundik yang dipandang sebelah mata, Nyai Ontosoroh, Ia mampu menjadi administrator yang baik bagi perusahan-perusahaan meneer/ suaminya, seorang bangsawan berpendidikan sekelas Minke yang anak bupati dan calon dokter pun menghormati dan segan terhadap Nyai Ontosoroh sebagai mertuanya. Nyai Ontosoroh pun sangat disegani oleh keluarga ‘suaminya’ keluarga Mellema.

Nyai ontosoroh adalah sosok perempuan yang menyerah pada keadaan pada awalnya, namun pada sisi lain ia mampu menjelma menjadi sosok yang kuat dan tegas terhadap keadaan pada akhirnya. Ia menjadi daya tarik tersendiri bagi rekan-rekan bisnisnya. Tidak sedikit yang kagum terhadap kecantikannya namun segan terhadap sikap tegas dan kecerdasannya. Ia begitu pandai menghargai setiap orang termasuk para pekerjanya, seperti pernah ia katakana,

”Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaran dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput” (Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia)

Tokoh-tokoh yang dianggap marjinal tersebut merupakah contoh dari penokohan yang diangkat Pram, masih banyak karakter masyarakat lain yang diangkat oleh Pram, Novel sejarah Ken Arok mengisahkan keberhasilan orang kecil yang berasal dari kalangan Sudra namun mampu naik tahta menjadi Brahmana sekaligus ksatria, hanya dengan bekal ketrampilan. Hanya sayang, keberhasilannya tersebut tidak bisa dipelihara oleh Ken Arok.

Namun tentu saja Pram tidak hanya menceritakan tokoh kecil yang memiliki peran besar yang positif, orang kecil pun sering melakukan peran yang dilakukan orang-orang besar seperti tergambar dari novel ‘Korupsi’. Dalam penceritaannya, yang membuat pegawai kecil berbuat korupsi bukan karena gajinya yang kecil, namun lebih karena mentalnya.

Alhasil, melalui kedua tokoh tersebut, saya belajar berani untuk mengatakan tentang kebenaran kepada orang yang dianggap besar (kritik) namun juga terbuka untuk bisa menghargai orang-orang yang perannya bahkan tidak dipandang sekalipun oleh masyarakat kebanyakan seperti dalam beberapa tulisan saya tentang Waria dan Pelacur.

Perkenalan dengan kedua tokoh tersebut, tentu saja melalui kekuatan buku-buku yang dikarangnya. Melalui Syariati saya berkenalan dengan sejumlah pandangannya melalui buku ‘Tugas Cendekiawan Muslim’, ‘Islam Agam Protes’, ‘Agama vs Agama’, Abu Dzar,’Islam Madzhab Pemikiran dan Aksi’, Kemuliaan Mati Syahir, Humanisme dan Hijrah. Sedangkan melalui Pram saya berkenalan dengan sejumlah tokoh lain sebagai tokoh novelnya seperti tokoh-tokoh dalam dalam Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) seperti Minke, Nyai Ontosoroh, Jan Marais, Anelis, Larasati, Ken Arok, pelarian yang dituduh PKI dll.

Melalui kekuatan buku-buku tersebutlah kedua tokoh tersebut mampu membukakan mata tentang kebenaran dan pentingnya menghargai manusia kecil. Bahkan tidak hanya sudut pandang, tapi juga menjelma menjadi perilaku keseharian walaupun tidak berwujud 100 %.
Ingin mengubah mindset dan hidup anda? Banyaklah membaca buku. Pandangannya akan mengendap dalam alam bawah sadar anda dan akan menjelma menjadi perilaku tanpa anda sadari. Kekuatan membaca buku merujuk pada pandangan Freud Ibarat sebagai sebuah mesin mobil yang menggerakan roda-rodanya. Mesinnya sendiri tidak kentara, namun ia menjelma menjadi putaran roda.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon