Perempuan Pemakan Kemaluan Laki-laki


Sejarah kini bukan lagi milik ilmu humaniora yang harus memenuhi standard ilmiah, namun juga dapat dikemas dalam bentuknya melalui campuran imajinasi penulisnya. Melalui keahlian mengolah rasa, para novelis mampu menyajikan sejarah dalam bentuk fiksi, lahirlah novel sejarah, campuran antara fakta dan imajinasi. Sejarahpun menemukan makna dan interpretasi baru di tangan sastrawan Indonesia generasi millenium ketiga ini. Seperti dilakukan oleh Ayi Jufridar dengan novel ‘Putroe Neng’.


Bagian pendahuluan ‘Putroe Neng’ menjadi inti dari novel yang ingin disampaikan oleh Ayi, yaitu tentang kegagahan seorang Panglima Perang, Nian Nio Liang Khie yang mengubah namanya menjadi Potroe Neng setelah menikah dengan Sultan Meurah Johan. Walaupun pada akhirnya bertekuk lutut di medan tempur, namun tidak pernah menyerah di medan ranjang. Meurah Johan bersimbah darah oleh senjata mematikan yang dimiliki oleh Putroe Neng, Meurah Johan adalah laki-laki pertama yang merasakan dahsyatnya senjata pamungkas Potroe Neng. Walaupun tidak pernah bermaksud untuk membunuh suaminya sendiri, namun senjata yang dimiliki oleh Putroe telah memakan korban pertama, senjata itu adalah racun yang ditanam dalam kemaluannya sendiri yang dipasang oleh neneknya Khie Nai-nai. Di atas ranjang malam pertamanya, Sultan Meurah Johan tergeletak dengan tubuh yang sudah membiru. Sebiru lautan lamuri di siang hari (hal 11).

Membedah Aceh masa lampau, tidak ada bedanya dengan daerah-daerah lain yang menganut kepercayaan terhadap dewa-dewa. Hal ini diceritakan oleh Ayi dalam bab pertama yang mengeksplorasi kepercayaan masyarakat Indra Purba akan sesembahan menjelang panen raya atau khusus untuk menghindari segala jenis bala. Masyarakat Indra Purba sebagai masyarakat Aceh pada masa lampau sangat percaya terhadap kekuatan dewa-dewa. Rakyat Indra Purba pun percaya akan makna dari sebuah mimpi dan firasat-firasat lainnya (hal 24). 

Kerajaan Indra Purba merupakan salah satu ikon yang ingin dimunculkan oleh penulis tentang kekuatan Aceh masa lampau yang sudah memiliki berbagai ketrampilan dan strategi dalam membangun peradaban serta strategi perang. Hal ini diceritakan dengan baik saat Kerajaan Indrapurba menghadapi serangan dari tentara Gujarat, namun serangan tersebut dapat di patahkan oleh prajurit Indra Purba.

Kemenangan yang diperoleh Kerajaan Indra Purba tidak menyisakan kelengahan, namun berubah menjadi kewaspadaan akan ancaman selanjutnya yang datang dari tentara wanita bermata sipit yang dipimpin oleh Maharani Liang Khie dari Tionghoa. 

Setelah Pasukan Liang Khie membangun kuil megah di perbatasan antara Indra Jaya dan Indra Puri, mereka pun segera menaklukan kerajaan Indra Puri hanya dengan mengirimkan ayam mati kepada Raja Indra Puri, Sri Ranarendra (143). Kerajaan yang senang menyabung ayam ini bertekuk lutut tanpa perlawanan.

Penaklukan dua kerajaan tetangga Indra Purba menambah waspada Raja Indra Sakti, yang mendorong mengirimkan ratusan pasukannya untuk belajar ilmu perang kepada kerajaan Peureulak. Perbedaan keyakinan yang dianut tidak menyurutkan Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Syah sebagai raja Peureulak untuk menerima kedua ratus prajurit tersebut. Bahkan kerajaan Peureulak memberikan bantuan pasukan yang dipimpin oleh Syeikh Syiah Hudam yang akhirnya dapat menekuk kerajaan Seudu yang dipimpin oleh Laksamana Nian Nio, penerus dari Maharani Liang Khie.

Kekalahan inilah yang mempertemukan Sultan Meurah Johan dengan Laksamana Nian Nio di pelaminan. Demi menyatukan kerajaan-kerajaan yang ada di Darud Donya Darussalam, Meurah Johan yang telah menjadi menantu Raja Indra Saktipun menerima keinginan dari Nian Nio. Namun malang segera menjemputnya. Meurah Johan menjadi korban pertama keganasan kemaluan Niaon Nio yang mengandung racun mematikan. Dari sinilah kisah 99 lelaki yang menjadikan malam pertama sebagai malam terkahirnya dimulai. Bukan keinginan Putroe Neng untuk menjadikan malam pertama menjadi malam terakhir bagi suami-suaminya, karena hal tersebut sebagai antisipasi dan senjata ampuh yang ditanam oleh neneknya, Khie Nai-nai, agar Putro tidak menjadi korban keganasan perang di luar ancaman fisik lainnya. Khie Nai-nai, neneknya telah memasukan ramuan ke dalam kemaluan Putro saat ia beranjak remaja.

Kesadaran Putroe Neng akan bahaya racun tersebut tidak menyurutkan para pemuja kecantikan untuk menikahi Putro. Mereka terlalu bangga dan selalu mengatakan bahwa nanti akan bermalam bersama Putro, namun tidak ada yang pernah mengatakan bahwa tadi malam telah bercinta dengan Putro. Mereka semua tewas di ranjangnya sendiri, termasuk seorang Tabib yang berniat mengobatinya (hal. 322).

Hanya Syeikh Syiah Hudamlah yang bisa mengatakan bahwa dia telah bermalam dengan Putro karena hanya dialah yang mampu mengeluarkan racun mematikan tersebut. Puluhan tahun menjadi guru Putroe Neng menjadikan Syeikh mengetahui apa sebenarnya yang tertanam dalam kemaluan Putroe. Syeikh mampu mengeluarkan racun tersebut tanpa disadari oleh Putroe sendiri. Kekhawatiran murid-murid Syeikh yang menganggap bahwa Syeikh mencari lubang kematian dengan menikahi Putroe tidak terbukti. Namun tidak sia-sia doa sepanjang malam yang dipanjatkan oleh murid-murid Syeikh selama malam pertama, doa tersebut bersambut dengan keahlian syeikh sehingga Putroe tidak kembali memakan korban. Setelah malam pertama, Syeikh datang ke surau bersama Putro yang membuat gembira para muridnya (hal. 360).

Membaca Novel ini kita akan diajak penulisnya berkeliling-keliling ke wilayah kerajaan Aceh masa lampau, terutama menyampaikan pesan tentang kearifan bangsawan Islam yang tumbuh di Aceh. Islam bukanlah agama perang, bahkan seorang muslim akan mengulurkan tangannya kepada nonmuslim jika benar-benar membutuhkannya seperti dilakukan oleh kerajaan Peureulah dan Syeikh Syiah Hudam. Kearifan Islam inilah sesungguhnya yang menjadi daya tarik bangsa lain terhadap Islam seperti ditunjukan oleh kerajaan Indra Purba. Penulis dengan baik berhasil menggambarkannya. Novel ini pun mengajarkan bahwa sebuah do’a akan terkabul jika dibarengi dengan ikhtiar fisik sehingga mendapat hasil yang sempurna seperti dilakukan oleh Murid dan guru (Syeikh Syiah Hudam) saat melewati malam pertamanya.

Tidak berhenti disitu, inti pesan yang ingin disampaikan oleh penulis adalah kayanya Aceh akan wanita-wanita yang perkasa, tidak hanya Syeikh Keumala Hayati yang hidup pada abad ke 16, atau Cut Nyak Dien dan Cut Meutia, namun jauh-jauh sebelum mereka hidup, ada sosok Putroe Neng yang mampu membangun Aceh dengan menyatukan berbagai kerajaan, baik kerajaan Islam ataupun kerajaan non-Islam (Lingga, Peureulak, Indra Purba, Indra Jaya, dan Indra Puri).

Namun, jika salah-salah membaca, novel ini akan dianggap sebagai sejarah Aceh pada masa lampau belaka dengan menjadikan Putroe Neng sebagai pelengkap cerita belaka sebagai salah satu daya tariknya. Namun tentu saja pada akhirnya interpretasi sejati diserahkan kepada pembacanya, seperti ditulis oleh Barthes ‘Para Pengarang telah Mati”.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon