Cinta Berbeda Perahu

Tumbuhnya cinta dalam dua perahu yang berbeda memang sama-sama indahnya dengan satu perahu sehingga bisa mengayuh dayung bersamaan. Namun menjadi sangat menyakitkan jika salah satu di antara keduanya bertahan dalam perahunya masing-masing. Mereka bisa sama saling menatap, bisa saling merasakan aura cinta yang tumbuh, bisa merasakan tarikan magnet pasangannya, namun tetap tidak bisa mengayuh dayung bersamaan untuk sampai pada tempat tujuan yang sama. 


Mengisahkan dua pasang manusia, Julie Nava, sang penulis mengisahkan cinta yang asing bagi Rosie dan Tony. Rosie bekerja pada perusahaan financial consultant milik temannya, dan Tony sering berkunjung ke kantornya karena urusan bisnis. Kecerdasan Rosie mampu menarik perhatian Tony yang dingin. Walaupun belum dilandasi oleh rasa suka, tetapi bukan itu yang diminati oleh Tony, berbekal berbagai informasi dari temannya Rosie, Silvia, Tony memberanikan diri untuk melamarnya melalui Imam mesjid tempat Rosie bernaung.

Hubungan tanpa Rasa
Hubungan Rosie dan Tony adalah kisah cinta tanpa rasa. Keduanya bersepakat untuk menikah walaupun belum dilandasi oleh cinta. Keduanya yakin, cinta itu akan tumbuh seiring waktu berjalan. Pengalaman dalam menjalin cinta dengan pasangan sebelumnya dijadikan dasar keduanya untuk menjalin komitmen tanpa rasa, seperti ditulis sang novelis,“Namun trauma masa lalu masih membekas dalam dirinya. Cinta.” (hal.24).
Saat diperkenalkan kepada keluarga Tony, seluruh anggota keluarga terperanjat dengan niat Tony yang tiba-tiba untuk menikahi gadis dari dunia lain. Keduanya mendapatkan tentangan dari keluarga yang memiliki budaya dan keyakinan yang bersebrangan. Dari sinilah konflik dimulai.
Penentangan keluarga Tony justeru membuat keduanya semakin dekat, namun tetap dibalut oleh sikap dingin keduanya. Rosie ataupun Tony merasa gengsi jika harus mengakui rasa suka terhadap satu sama lainnya. Hal ini menambah beban batin Rosie. Sebagai wanita, walaupun memiliki sifat dan sikap dan mandiri tetap membutuhkan kenyamanan melalui ungkapan cinta Tony.

Konflik bertambah kompleks karena sikap Rosie yang selalu menuntut equality. “Tony,”potong Rosie.”Bisakah kita sepakati bahwa biaya sehari-hari akan ditanggung bersama? Kau dan aku?” (hal. 61).
Tekad kuat pasangan berbeda budaya dan keyakinan tersebut tidak menyurutkan keluarga Luzzio, keluarganya Tony untuk tetap menggagalkan pernikahan. Tanpa diketahui oleh Tony, Ibu bersama kedua adik Tony membuat rencana terselubung.

Antara Cinta dan Sex
Kedekatan selama persiapan pernikahan serta seringnya bersama membuat hati keduanya luluh, mereka jatuh cinta. Satu sama lain dibantu oleh dekatnya ruang dan waktu. Hanya sayang, mereka begitu segan untuk mengungkapkannya. Namun tidak pada perilaku dan hati mereka. Hal ini merubuhkan prinsip lain yang dipegang oleh Rosie, sehingga terjadilah kejadian diantara keduanya yang sangat dilarang oleh Agama, yang mendorong Rosie merasa shock dan sakit. Seperti dapat diketahui dari obrolan Tony dengan Marco.“Well, aku hanya mencoba melihatnya dari sudut pandang dia. Sekalipun dia sudah lama tinggal di sini, kurasa untuk soal ini dia masih terikat dengan nilai budayanya yang memandang tabu untuk hubungan sebelum pernikahan.” (hal.158).

Extase Kekecewaan, Berada dalam Perahu yang Berbeda
Rosie merasakan bahwa Keyakinan Tony tetap berada dalam keyakinan sebelumnya. Ia melihat bahwa dirinya berada dalam perahu yang berbeda, terlebih saat Tony tetap menjadi ayah Baptis dari anak sepupunya, Jessie, yang selama ini ditentang oleh Rosie (hal. 211).

Keyakinan Rosie bahwa calon suaminya masih berdiri dalam keyakinan lamanya bertambah saat menghadiri pernikahan sepupu Tony, wajahnya begitu berbinar saat berada di Gereja. Matahari di wajah Tony dan Maria memancar semakin terang (hal. 185).

Klimaks terjadi saat Rosie mendapati indahnya pelaminan dengan kursi berjejer rapi, bentangan kain dan pita halus yang bersambung-sambung dengan anggun serba putih. Rosi tercekat. Tubuhnya mendadak terasa membeku dan tak mampu digerakkan. Rosie mengamuk dan menangis sejadinya. “Pernikahan ini akan gagal, Marco. Aku benci warna Putih!! Aku benciii!!!”(hal 213).

Perbedaan keduanya memuncak dengan batalnya pernikahan antara Tony dan Rosie.”Aku lelah, Tony. Aku lelah bersitegang denganmu. Kau bukan untukku. Mimpimu jauh berbeda dengan mimpiku. Mimpimu warna putih. Mimpimu telah menyakitiku…”

Cinta tidak mudah hilang begitu saja. Rosie yang dengan pelan membuka hati, serta Tony yang dengan dingin mencintainya tetap bersemayam dalam diri keduanya. Niat melupakanpun menjadi sia-sia. Selang satu tahun mereka pun bertemu dan saling mengungkapkan rasa yang tertunda. Setelah menikah dengan Aurora yang tidak membahagiakan, Tony lari dari kenyataan untuk meraih asa masa lalunya. Rencana menyatukan cinta yang terpendam pun batal untuk keduakalinya. Bab inilah sesungguhnya sebagai puncak dari konflik cinta mereka. Rosie kecewa untuk keduakalinya oleh orang yang sama.

Sebagaimana kisah cinta dalam telenovela, sakitnya cinta selalu diakhiri dengan happy ending. Kisah yang mengoyakkan hati inipun berakhir dengan kebahagiaan yang tak sempurna dari Rosie yang menikah dengan Marco, saudara Tony yang diam-diam mencintainya, celah inilah yang dimanfaatkan oleh Tony untuk mundur dari kehidupan Rosie walaupun wajahnya yang berada dalam perahu berbeda tersebut tidak pernah luput dari bayangan masing-masing.

Melalui kisah cinta yang menyakitkan tersebut, Julie Nava mampu mencabik-cabik hati pembacanya. Dinamika konflik yang fluktuatif dikisahkannya dengan meninggalkan bekas sangat mendalam pada benak pembaca. Seperti menonton sinetron yang menguras air mata, pembaca akan merasa ketagihan untuk melanjutkan cerita dari bab ke bab hingga selesai dalam satu waktu bacaan. Inilah kekuatan dari novel tersebut. Ia mampu menggambarkan jelasnya latar dan emosi dengan sempurna serta melibatkan diri pembaca ke dalamnya. Ketidaksempurnaan Cinta yang dimiliki oleh Rosie dan Tony dengan sempurna mampu disuguhkan oleh penulis.

Bagi para penggemar kisah romantic, novel ini tidak menyuguhkan kisah cinta yang sempurna, karena kesempurnaan yang disuguhkan sang penulis berada pada busaran emosi yang dibuatnya bahkan pada lembar terakhir. Rosie baru berusaha untuk melupakan cintanya dengan menghadirkan cinta lain, Marco!.
Namun bagi penikmat karya sastra, kisah cinta dan gambaran emosi yang dibuat sang pengarang layak mendapatkan acungan dua jempol, penggambarannya begitu mengalir, tanpa harus menginterpretasikan ulang atau berfikir mendalam walaupun pembacanya berasal dari dunia dan budaya lain. Orgasmus!.

Info Buku;
Judul Buku : Musim Gugur Terakhir di Manhattan.
Penulis : Julie Nava
Penerbit : Lingkar Pena
Tahun Terbit : Mei, 2011
Jml Halaman : x + 319

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon