Tantangan Menulis di Freez

tampilam freez versi online pada kanal kompasiana.
Blogsosial terbesar di Indonesia, Kompasiana menghadirkan versi cetak yang disisipkan bersama koran Kompas. Ini tentu saja kesempatan untuk blogger yang bisa menulis dengan ikhlas untuk mendapatkan koin tambahan. Apalagi yang bermimpi agar tulisannya dimuat di media cetak. Freez menjadi salah satu saluran untuk mencapai mimpi tersebut. 

Menulis merupakan perkara yang sulit bagi yang bukan penulis, minimal bagi yang tidak biasa menulis. Jangankan menulis Opini menulis sebuah laporan peristiwa saja, ia akan sulit, harus mulai darimana ia menulis. Apalagi jika menulis opini yang kadang tidak hanya asal bunyi saja. Apalagi jika hendak dikirimkan ke media cetak, selain harus memenuhi karakterisasi dari media tersebut, hal lain yang cukup menentukan adalah orisinalitas gagasan, sistematika penulisan dan pemikiran, panjang tulisan dan EYD.

Sejak munculnya media sosial, orang dengan bebas bisa menulis apa saja. Begitupun tulisan-tulisan saya yang selalu ditolak media cetak dapat dengan mudah melenggang di media sosial. Setelah mendapatkan hasil yang memuaskan (apresiasi), dari hasil menulis instan di media sosial, lama-lama menjadi ketagihan. Kesal menunggu terbit dari media cetak tak kunjung tiba akhirnya menyeret saya untuk menulis di media sosial atau blog komunitas secara berkala, walaupun tidak sering, tetapi dalam sebulan selalu ada karya tulisan.
Berawal dari sinilah menulis instan itu dimulai, jika tulisan yang ditujukan ke media cetak seringkali saya proses melalui editing yang berulang-ulang, dari mulai substansi, keruntutan sampai hal teknis redaksi;kata dan kalimat, maka menulis yang ditujukan ke media sosial nyaris tanpa editing (ketauan kan, hasilnya ancur? hehe). Seringkali saya edit setelah tulisan terbit, atau jika tulisan tersebut HL. Hal tersebut dilakukan karena bagaimanapun sebuah tulisan harus nyaman dibaca oleh pembaca.
Berkait akan terbitnya Kompasiana edisi cetak yang akan menjadi suplemen Kompas cetak pada Juli mendatang, walaupun masih dalam bingkai media sosial, menulis di FreeZ akan sangat berbeda dengan menulis di Kompasiana edisi online. Perbedaan ini karena antara Kompasiana edisi online dengan edisi cetak (FreeZ) memiliki perbedaan karakteristik. 
Kompasiana edisi online termasuk FreeZ yang masih dalam bentuk online jika ditinjau dari system komunikasi termasuk ke dalam system komunikasi antarpribadi, karena walaupun dimediasi oleh pengelola, namun bagi tulisannya yang tidak melanggar tata tertib nyaris tanpa sensor dari pengelola. Setiap tulisan, walaupun hanya beberapa kata dan kalimat, tentu akan langsung terbit. Kecuali bagi beberapa tulisan yang melanggar tata tertib atau akan dijadikan HL oleh admin, secara otomatis pengelola akan meremove atau mengeditnya. Lebih tepatnya, bentuk komunikasi (tulisan) melalui kompasiana sebagai komunikasi semi massa, karena walaupun dinaungi oleh lembaga tetapi tidak melalui proses terbit dan rumit sebagaimana halnya pada bentuk komunikasi massa (cetak).

Sementara untuk FreeZ, bagi saya sendiri, telah masuk pada system komunikasi massa. Karena tulisan yang 
akan diterbitkan di FreeZ, barangkali akan melalui proses yang rumit. Mungkin saja setiap tulisan akan dibawa terlebih dahulu ke meja redaksi Kompasiana (FreeZ), kemudian menyortirnya, kemudian menentukan tulisan, kemudian mengeditnya. Termasuk penentuan tema yang akan diangkat dalam setiap edisinya. Proses ini (jika benar) tentu sama halnya dengan proses terbit dalam media massa sebagai medium komunikasi massa. Beda kan dengan Kompasiana? Yang saat itu kita menulis, saat itu juga kita terbit, ibarat komunikasi antarpersonal, saat itu kita ngomong saat itu juga omongan kita didengarkan.

Oleh karena itu, seperti halnya kita menulis dengan tujuan dikirimkan ke media cetak, maka tulisan yang ditujukan untuk FreeZ layaknya ditujukan ke media cetak, harus benar-benar melalui proses editing yang ketat dari penulisnya, tidak bisa instan saat menulis di Kompasiana, sebelum tulisan kita diseleksi/diedit oleh editor/redaksi Kompasiana (FreeZ). Hal ini dikarenakan tulisan kita akan diseleksi oleh tim redaksi FreeZ, apalagi FreeZ menjadi salah satu suplemen Kompas yang akan dibaca oleh pembaca Kompas, tentu standar tulisannya pun disesuaikan dengan standar Kompas, walaupun tidak seketat Kompas.

Inilah yang menjadi tantangan kita untuk menulis di FreeZ. Menulis di FreeZ layaknya menulis di Media cetak. Tidak bisa seinstan menulis di Kompasiana atau media sosial online lainnya. Apalagi FreeZ merupakan media sosial cetak pertama di Indonesia. Tentu FreeZ pun akan menyeleksi dengan ketat tulisan-tulisan yang masuk.
Salah satu kelebihan Kompasianer untuk berlomba menulis di FreeZ tentu saja karena para penulis di luar Kompasianer tidak akan dimuat tulisannya, sehingga saingannya hanya sesama Kompasianer sehingga mengurangi sifat kompetisi saat mengirimkan tulisan ke media cetak.

Pada sisi lain, menulis di media sosial online (Kompasiana) dengan media cetak, menimbulkan kepuasan yang berbeda, khususnya bagi saya sendiri, mungkin juga kompasianer lain, karena bagaimanapun, eksistensi kita akan lebih terasa dan diakui saat dimuat pada media cetak. Kita merasa telah menjadi penulis (walaupun amatiran) saat tulisan dicetak atau sering dimuat di media cetak. Walaupun menulis di Kompasiana seringkali HL, dengan pegeview ribuan dan ratusan komentar, namun kepuasannya tidak akan tergantikan saat tulisan kita sering muat di media cetak.

Indikatornya dapat kita lihat misalnya saat tulisan beberapa kompasianer dimuat pada media cetak. Rasanya tidak habis bangganya dengan terus menerus menceritakannya di Kompasiana. Hal yang serupa juga terjadi pada beberapa kompasianer yang tulisannya telah naik cetak menjadi buku. Beberapa diantaranya atau salah satunya bahkan sudah ada yang meninggalkan Kompasiana, karena barangkali tujuannya telah tercapai. Yakni menerbitkan Buku. Seketika juga ia telah menjadi penulis karena sudah memiliki karya dalam bentuk buku.

Beberapa catatan yang menjadi perhatian saya untuk menulis pada FreeZ, jika memang ingin dimuat setidaknya mengikuti point berikut:
1. Aktualitas. Tulisan-tulisan yang dikirimkan ke FreeZ harus yang benar-benar actual.
2. Memenuhi standar untuk HL (highlight dan headline).
3. Mengikuti aturan Kompasiana.
4. Bahasa dan kalimat mengikuti kaidah menulis ilmiah popular. Tidak seperti makalah yang terlalu kaku dan bahasa yang kadang sulit dimengerti oleh pembaca umum.
5. Bukan tulisan status. Beberapa kompasianer kadang hanya menuliskan beberapa kata dan kalimat saja seperti halnya status.
6. Bukan tulisan link. Beberapa kompasianer juga kadang menulis pendek hanya untuk menyambungkan ke blog pribadinya.
7. Antar judul dan isi nyambung.Salah satu yang sering di’komplain’ oleh kompasianer bahwa banyak tulisan yang bombastis tetapi tidak sesuai dengan konten tulisannya.
8. Bukan tulisan-tulisan yang controversial, apalagi mengandung unsur SARA.
9. Tulisan cukup mendalam dan memenuhi standar 5 W + 1 H.
10. Karena berbagai point di atas, proses editing oleh penulis sangat diperlukan jika memang ditujukan untuk dimuat di FreeZ.
11. Apakah personal brand juga diperlukan oleh FreeZ? Ini masih menjadi tanda tanya bagi saya sendiri. Artinya apakah tulisan kompasiners yang diterbitkan di Freez harus yang benar-benar konsisten menulis satu tema/ keahlian seperti halnya pada media cetak.

Catatan di atas hanya berdasarkan opini saya pribadi, di samping ada kriteria khusus untuk menulis di FreeZ yang terdapat dalam keterangan FreeZ.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon