Film Dakwah, Mitos atau Realitas?

Cinta, dalam konteks apapun selalu laku dijual. Getir manisnya selalu menjadi daya tarik, getir manisnya menjadi kenangan. CInta masuk ke dalam berbagai terminology, mulai dari psikologi, sosial, komunikasi, termasuk terminology agama. Bertemunya berbagai terminology dalam menyatukan berbagai imajinasi dan visualisasi melahirkan cinta yang dimediasikan oleh Film dan tayangan sejenis dalam ontology sebuah layar. Cinta menjadi penghias yang bahkan melebihi dari substansinya sendiri.

Bangkitnya kembali film Indonesia tidak lepas dari tema cinta, sebut saja momentum itu dilakukan oleh film ‘Ada Apa Dengan Cinta’ (AADC) yang tayang tahun 1999. Ia menyumbangkan kegairahan kembali kepada sejumlah sineas film untuk meng-create film-film berkualitas. Namun kegairahan film-film tersebut mayoritas didominasi oleh film yang bertema Cinta seperti ‘Eifl I’m in Love’, ‘ yang cukup memenuhi dahaga penonton disusul dengan ‘Get Married’ dan film-film lainnya datang silih berganti menggantikan layar bioskop.

Boomingnya Film Dakwah?
Menjelang tahun 2003-2005, tidak hanya film bertema cinta murni remaja yang booming tapi juga film-film berlatar belakang religious. Setelah gagal mengangkat tema tentang sejarah ‘Sunan Kalijaga’ yang memiliki tema perjuangan dakwah dan syiar agama. Film ‘Ayat-ayat Cinta’ disebut-sebut sebagai moment kebangkitan film bertema dakwah setelah masa Nada dan Dakwah di Era 1990-an yang diperankan oleh Rhoma Irama dan KH. Zaenudin MZ.. Film ini mampu menyedot penonton mencapai 2 juta-an lebih.

Seolah ingin mendulang kesuksesan ‘Ayat-Ayat cinta’, menyusul film sejenis dengan latar yang sama, diangkat dari novel Habiburahman El-Syirazi, ‘Ketika Cinta Bertasbih’ diikuti sekuelnya, Ketika Cinta Bertasbih 2. Film ini pun ditengarai sebagai film dakwah mendulang sukses dengan capaian penonton jutaan.

Kesuksesan Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih 1 & 2 mendorong sang novelis untuk memproduksi filmnya sendiri. “Dalam Mihrab Cinta” pun lahir dari tangan sang novelis tersebut, latar dan alurnya hampir tidak jauh berbeda dengan film-film yang diangkat dari novel sebelumnya, konflik hubungan laki-laki dan perempuan selalu menonjol, yang membedakan diantaranya adalah alur dan seting tempat. Jika ketiga film pertamanya menggunakan seting tempat Perguruan Tinggi Mesir sementara di film terakhir yang dijadikan seting tempatnya adalah Pesantren Indonesia.

Kini muncul kembali film Dakwah sejenis, ia diangkat dari sebuah Novel Lawas karya Buya Hamka, ‘Di bawah Naungan Ka’bah’. Film inipun memanfaatkan hubungan pasangan lawan jenis sebagai bumbu yang melebihi isi. Film bertema dakwah namun lebih menonjolkan konflik hubungan lawan jenis. Hal inilah yang menarik dari film tersebut. Konflik cintanya telah menarik emosi para penonton. Inilah yang menjadi daya tarik semua film-film sejenis di atas. Menonjolkan konflik cinta lawan jenis yang kemudian dibalut symbol-simbol agama. Bahkan menjelang ajal, kedua tokoh utama dalam film tersebut, Hamid dan Zaenab, ditengarai mengalami sakit batin karena Cinta yang terpendam, seperti halnya Qais dan Laila. Tokoh Pria meninggal di bawah ka’bah dalam keadaan sakit batin mengingat Zainab. Pertanyaannya kemudian apakah ini sebagai film dakwah atau sebagai film cinta? Jika tidak cermat, kita akan terjebak bahwa film-film yang menggunakan symbol besar Islam tersebut sebagai film dakwah.

Film Dakwah Romantis sebagai Mitos Dakwah
Dakwah Romantis berjalan diantara kepentingan syi’ar dan penonjolan konflik cinta yang sering disukai oleh penonton. Sebagaimana halnya sinetron yang harus dapat menarik sebanyak mungkin penonton untuk mendapatkan iklan, tampaknya eksistensi dakwah romantic yang dimediasi oleh film belum mampu melepaskan diri dari dramatisasi kisah cinta. Cinta merupakan emosi yang laku di jual. Hal ini menjadi ciri dari budaya popular yang mendorong pola konsumtif sebagai alat dari ideology kapitalistik.

Sebagai bagian dari budaya Populer, dakwah romantis akan selalu terjebak pada kepentingan Pasar. Oleh karena itulah dalam kasus film-film dakwah Romantis, konflik cinta ditonjolkan daripada syiarnya. Jika kita tonton ‘Ema Ingin Naik Haji’ atau ‘Laskar Pelangi’, akan berbeda Jauh dengan film dengan genre ‘dakwah romantis’, film yang disebut terakhir memiliki karakter yang kuat sebagai film dakwah. Pesannya sangat nyata mengajak para penonton untuk tetap yakin dan berbuat baik.

Dengan demikian, kebesaran lembaga Pendidikan Al-Azhar Mesir dan Agungnya Ka’bah hanya dijadikan sebagai simulacrum belaka, agar tampak sebagai film dakwah. ia hanyalah negasi symbol untuk menjual ide cerita popular agar tampak nyata sebagai film religi. Inilah apa yang disebut oleh Roland Barthes sebagai mythos (1972), film bergenre drama cinta namun decoding pesannya terkesan sebagai film dakwah. Dalam pandangan Barthes, mitos didefinisikan bukan dari objek pesannya tetapi bagaimana cara menyampaikannya. Hal ini dengan jelas dapat dilihat dari beberapa film-film dakwah yang disebutkan.

Paradox Dakwah Populer
Kasus boomingnya ‘film dakwah’, creator film ‘mencuri’ symbol-simbol Islam untuk dijual. Dari mulai kerudung, bahasa arab, pesantren, lembaga dakwah hingga tempat ibadah. Kemunculan ‘bahasa’ agama tersebut secara nyata mampu menyihir pandangan penonton. Simulasi bahasa agama dalam imagy popular yang diputar secara berulang-ulang berpengaruh terhadap sifat bujukan dari film. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Willian L. River, Jay W. Jensen dan Theodore Petersen (2003) akan pengaruh media film terhadap masyarakat tidak saja terhadap perilaku namun dapat melakukan modifikasi pesan.

Modifikasi ini dapat kita cermati dalam kehidupan masyarakat, bagaimana misalnya kasus-kasus asusila yang dilakukan oleh perempuan berkerudung atau kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang yang beragama. Maki merajalelanya berbagai macam korupsi serta kekerasan diantara para pelajar dan mahasiswa kita menunjukan bahwa syiar, melalui film-film dakwah berbanding terbalik dengan boomingnya film dakwah. Sifat bujuk rayu media massa (film) tidak berbanding lurus dengan tujuan dari syiar. Syiar pada akhirnya alih-alih mengajarkan kedalaman dalam menghayati hidup seseorang sebagai manusia beragama, agar hidup lebih sabar, bijak dan terbuka justeru sebaliknya. Hal inilah yang disinggung oleh Yasraf (2011) bahwa dakwah popular yang berada dalam imajinasi popular berada dalam situasi paradox, ia berada antara kedalaman dan permukaan, antara kesederhanaan dan glamoritas, antara spirit mulia dan hasrat rendah. Hal ini menurut Yasraf disebabkan karena imajinasi agama berada dalam ruang imajinasi popular yang tidak bersesuaian dengan kedalaman, kemuliaan dan kesucian wacana spiritual sehingga terjebak dalam situasi yang kontradiksi.

Tantangan bagi Da’i dan Lembaga Dakwah
Perkembangan media komunikasi mendorong para Da’i untuk berperan serta sebagai bagian dari kewajiban syiar. Mereka menjadi bagian tak terpisahkan dari sinetron dan film sebagai media dakwahnya. Substansi pesan agama adalah perubahan perilaku penonton yang menjadi umatnya. Oleh karena itu seorang Da’i mempunyai tanggung jawab untuk memodifikasi perilaku umat ke arah yang positif. Da’i pun memiliki tanggungjawab lebih daripada sekedar bertabligh.

Bermunculannya media popular semacam sinetron dan film dakwah yang kini sedang naik daun ditengarai tidak menyelesaikan masalah keumatan, alih-alih memberikan penghayatan kedalaman agama sehingga umat memiliki sifat dan sikap sabar, bijak dan tawakkal, justeru menjadi cepat marah, tersinggung dan tidak sabaran seperti disinggung oleh KH. Miftah Faridl.

Oleh karena itu, menjadi tantangan khusus bagi para da’I popular yang memiliki umat paling banyak dan menjadikan media massa sebagai uslub dakwahnya harus mampu mengendalikan agar tabligh dan dakwahnya tidak terjebak pada kontradiksi yang justeru membawa umatnya kepada kedangkalan. Tanggung jawab tidak dipikul oleh da’i secara personal namun juga bagi lembaga-lembaga dakwah yang menggunakan televisi/ film sebagai media dakwahnya agar mampu menghasilkan karya yang dapat memberikan penghayatan kedalaman beragama kepada umat sehingga makna dan nilai pesan dakwah tidak bergeser menjadi mitos. Wallahu ‘Alam.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon