Merayakan Keberagamaan Populer

Gambar Ilustrasi dari Arhaam.blogspot.com
Menjelang sepuluh hari terkahir bulan ramadhan, porsi tayangan yang memiliki nilai syiar di media massa terlebih televisi bertambah. Setiap stasiun televisi seolah tidak ingin ketinggalan moment promosi ramadhan. Mulai dari pengajian Al-Qur’an, ceramah, sinetron Islami, acara-acara menjelang buka dan sahur, jejak sejarah Islam dan lain sebagainya. Sejumlah acara tersebut pun melibatkan sejumlah artis beken dan popular, baik yang memiliki karakter tetap sebagai artis yang dinilai religious atau artis religious dadakan. Sehingga syiar tersebut memiliki nilai plus, tidak saja memenuhi standar tuntutan amar makruf namun juga memenuhi selera penonton sebagai pasar televisi.

Terpenuhinya selera penonton dapat dilihat dari sejumlah iklan yang masuk terhadap salah satu syiar agama yang ditayangkan. Hal ini menunjukan bahwa syiar agama telah mampu masuk ke dalam pasar televisi karena relatif diminati dengan ditunjukan oleh adanya rating. Ini seolah menjadi rumus tetap bagi ketertarikan para pemasang iklan di salah satu siaran. 

Muballigh Selebritis
Muballigh bertambah popular muncul bersamaan dengan meningkatnya syiar agama di televisi. Mereka sebagai bagian dari selebritis yang eksistensinya dilahirkan oleh televisi, sebut saja yang sudah lawas (alm) alm Zaenudin MZ, Aa Gym, Uje, Arifin Ilham. Alm Zaenudin MZ dapat dikatakan sebagai pelopor dan generasai paling awal dari dakwah popular. Sedangkan Aa Gym, Uje, Arifin Ilham, termasuk Yusuf Mansur dapat dikatakan sebagai generasi penerus dari Dakwah Populer yang eksis di televisi. 

Memasuki tahun 2011, banyak mubaligh popular baru bermunculan yang tak kalah populernya dengan generasi awal, bahkan mereka telah menjelma sebagai selebritis baru seperti Mamah Dedeh, ustadz Nur Maulana, ataupun Ustadz Solmed, di samping masih banyak muballigh popular wajah lama yang tetap memiliki jamaahnya masing-masing.

Televisi, Ruang Keberagamaan Populer
Bertemunya antara karakter dakwah Islam yang khusu dan khidmat serta mendalam dengan tuntutan selera pasar dalam syiar Islam melahirkan jenis dakwah (tabligh/syi’ar) popular. Dakwah Populer sebagai bagian dari pola keberagamaan populer telah menjadi gaya hidup masyarakat postmodern yang dicirikan oleh kemajuan teknologi informasi sebagai cikal bakal dari perkembangan teknologi citra. Dakwah popular tidak terlepas dari citra dan imajinasi popular. Imajinasi Populer sebagaimana dinyatakan oleh Yasraf (2011). Ia merupakan salah satu imajinasi cultural yang dikembangkan dalam budaya popular yang dapat menguatkan imajinasi transcendental namun juga bisa sebaliknya, ia justeru bersifat kontradiktif.

Vivian dan Biagi (Vivian, 1996 dan Biaggi, 2009) melihat bahwa Televisi merupakan media paling popular yang mampu memampatkan pengaruh yang kuat terhadap ruang-ruang kesadaran para pemirsanya. Keserentakan dan jangkauannya yang cukup luas dan heterogen menjadikan televisi masih satu-satunya media yang dapat diakses oleh masyarakat hingga kini. Melalui televisi audiens sangat mudah mengenali dengan cepat sebuah produk atau konten siarannya. Begitupun era populernya krudung menjadi sebuah fashion hampir dapat dipastikan dikenalkan oleh televisi. Selebritas kita yang sering tampil di layar kaca membantu mempopulerkan jilbab sebagai mode sehingga orang tidak lagi alergi terhadap salah satu symbol agama Islam tersebut. Di dalam televisilah perayaan keberagamaan popular menemukan bentuknya.

Kemajuan atau Pendangkalan Agama?
Relasi antara citra yang ditampilkan oleh televisi dan dakwah sebagai jalan syiar agama berada dalam pembingkaian. Dengan demikian, dakwah popular dibingkai dalam wadah citra. Karakter pencitraan merupakan ciri khas dari symbol komunikasi yang dikembangkan oleh industry yang berorientasi pada keuntungan. Citra sendiri bermain di permukaan. Ketika syiar agama bertemu dengan budaya pop tersebut maka lahirlah dakwah dan pola keberagamaan popular sehingga terjadi tarik menarik antara kedalaman dan kedangkalan. Pada satu sisi harus memenuhi tuntuntan syiar agama tetapi pada sisi lain harus memenuhi selera pasar. Hal ini tampak sekali pada tayangan-tayangan syiar agama di televisi. Kita dapat mencermati bagaimana meriahnya setiap tabligh televisi bak hiburan, sebut saja acara Indahnya Islam yang disampaikan oleh Ustadz Nur Maulana atau Acara Mamah dan Aa yang selalu ramai dan penuh tawa. Salah satu diantaranya selalu menghadirkan artis sebagai daya tarik jamaah dan siaran. 

Pada sisi lain, ustadz-ustadz pun tidak sekedar penyampai risalah, ia menjelma menjadi artis. Mereka menjadi bintang iklan dan sinetron. Dan dalam faktanya mereka adalah artis yang secara khusus berperan sebagai ustadz. Kemasan syiar agama sekarang lebih variatif dan kreatif seperti halnya acara reality dan talk show live.

Jika melihat lalu lintas kegiatan dakwah di televisi, terlebih saat bulan ramadhan. Umat Islam tentu akan merasa bangga. Ini adalah kemajuan dakwah Islam yang didorong oleh kemajuan teknologi informasi. Dakwah pun tidak hanya berhenti sampai di situ, muncul pula dakwah versi online melalui portal-portal dakwah ataupun Youtube. Ini merupakan bentuk nyata dari kemajuan syiar Islam.

Dampak nyata dari syiar Islam salah satunya adalah membaiknya citra Islam sehingga orang tidak lagi alergi terhadap symbol-simbol Islam; orang bangga menggantungkan tasbih di dalam mobilnya, seorang perempuan bangga mengenakan krudung karena tidak kampungan lagi, mereka tetap bisa tampil cantik dan gaul begitupun dengan laki-laki merasa sangat religious ketika mengenakan peci dan baju koko.
 
Sisi lain berkembangnya lalulintas dakwah melalui media-media tersebut, tetap tidak menyurutkan orang untuk melakukan tindak kejahatan yang bertolak belakang dengan agama yang dianutnya. Saat dakwah memasuki kalangan eksekutif seperti yang dilakukan oleh Aa Gym melalui manajemen Qolbu, Ari Ginanjar melalui ESQ ataupun Kang Jalal melalui tasaufnya. Justeru pencurian eksekutif pun (korupsi) tidak pernah surut malah semakin menggurita. Pada kenyataan inilah muncul pertanyaan, apakah dakwah popular tersebut sebagai bagian dari pola keberagamaan popular menambah kedalaman orang untuk memaknai agama atau justeru membuatnya makna beragama menjadi dangkal?. Saat pemaknaan beragama menjadi dangkal, maka tidak heran korupsi makin menggila dan kejahatan lainnya yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku beragama. 

Analisis ini diperkuat oleh hasil survey kecil-kecilan yang dilakukan oleh Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi pada bulan Mei lalu terhadap 100 responden lebih. Salah satu ketertarikan audiens terhadap sinetron Islam KTP sebagai sinetron pavoritnya adalah karena kehadiran TB serta Mamat dan Karyo yang selalu bisa menghibur. Begitupun bagi saya sendiri, salah satu daya tarik dari sinetron Para Pencari Tuhan (PPT) adalah dinamika konflik yang diciptakan antara Azzam dan Aya, konflik cinta.
Namun terlepas dari kemenonjolan Dakwah Populer yang disiarkan masing-masing televisi swasta kita. Fakta di lapangan menunjukan selain gegap gempita syiar agama pada media-media, juga kriminalitas semakin meningkat juga. Ini barangkali sebagai sifat paradox dari pola keberagamaan popular. Ini mirip dengan sebuah pesta, kemeriahannya dapat tergantikan dengan cepat dengan situasi baru. 

Tetap Optimis
Walaupun telah terjadi paradox dari dampak pola keberagamaan popular melalui syiar populernya. Sebagai muslim yang memiliki kewajiban menyampaikan syiar Islam sebagaimana terdapat dalam salah satu hadits,ballighu anni walau ayat’(sampaikanlah walaupun satu ayat). Para muballigh dan da’i sebagai simpul agama tetap harus optimis. Begitupun kita sebagai konsumen agama tetap harus memiliki optimisme terhadap keberjalanan dakwah Islam di era industry tersebut. 

Walaupun dikemas dalam bingkai popular, bukan berarti dakwah Islam yang dimediasi oleh media massa yang dikendalikan oleh pemilik modal yang berorientasi pada keuntungan tersebut hanya bermain pada pencitraan dan permukaan saja sehingga telah terjadi pendangkalan. Begitupun dengan muballighnya, mereka tidak hanya mencari penghidupan saja melalui keahliannya bertabligh, namun memiliki niat yang tulus untuk mencerahkan umat. Akan selalu terdapat hikmah bagi orang yang mencari makna dalam beragama. Semoga. Wallahu’alam.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon