Pemukulan Wartawan, Korban Kesombongannya Sendiri?

Mungkinkah pemukulan wartawan sebagai korban kesombongannya sendiri? Pertanyaan ini diajukan oleh salah seorang Kompasianer saat mengomentarai tulisan ‘Siswa, Korban Konten Media’. Lantas saya menjawabnya bahwa mungkin saja pemukulan wartawan tersebut sebagai boomerang bagi wartawan sendiri. Jika pada tulisan ‘Siswa, Korban Konten Media’ saya menekankan pada kekerasan yang dilakukan oleh Media sendiri seperti pada tulisan saya yang lain Televisi Menebar Teror’.

Saya menjawab kemungkinan ‘ya’, bahwa pemukulan wartawan oleh siswa sekolah sebagai kesombongannya sendiri. Hal tersebut berdasarkan pengalaman selama berinteraksi dengan beberapa wartawan. Dan tentu saja, tulisan ini tidak bermaksud menggeneralisir, namanya juga opini dan pengalaman pribadi serta citra yang selama ini menerpa wartawan secara umum.

Wartawan, sama halnya seperti kita, ia manusia biasa, ada yang baik ada juga yang nakal. Ia juga berbeda karakter, ada yang lembut, ada yang keras dan kasar, ada yang memiliki sifat ekspresif yang reaksioner, ada yang kritis, ada yang analis. Oleh karena itu berdasarkan berbagai macam karakter wartawan sebagaimana halnya manusia biasa, tidak menutup kemungkinan saat di lapangan, sangat terbuka kemungkinan gesekan antara wartawan dengan pelajar yang sedang tawuran terjadi, jika sudah bentrok, maka perkelahian tidak akan terhindarkan. Apalagi jika wartawan merasa dilecehkan oleh anak kecil yang jauh dibawah umurnya.
Ego yang tinggi justeru akan menambah suasana menjadi tambah panas. Oleh karena itu, pemukulan terhadap wartawan merupakan boomerang dari ego wartawan sendiri yang memiliki ego yang tinggi.

Pengalaman Berinteraksi dengan Wartawan
Wartawan, karena kerjanya di lapangan, maka siapapun pasti pernah bertemu dengan wartawan, apalagi saat ada kegiatan, event atau kejadian di tempat kita tinggal. Mereka akan gampang ditemui. Oleh karena itulah, siapapun barangkali pernah berinteraksi dengan wartawan.

Beberapa kali berinteraksi dengan wartawan, kita akan melihat mereka sebagai sosok yang cerdas karena luas wawasannya, tetapi juga di antara mereka ada yang biasa-biasa saja. Namun secara umum, yang saya nilai dari seorang wartawan, mereka memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi. Hal tersebut dikarenakan mereka harus berinteraksi dengan berbagai macam orang dari berbagai macam kalangan sehingga unsur percaya diri mutlak diperlukan oleh Wartawan, dan tentu saja oleh kita semua.

Rasa diri yang tinggi yang dimiliki oleh wartawan kadang terlihat berbeda dan berubah menjadi sikap jumawa, over, bahkan terlampau sombong. Saat saya masuk pada suatu kelas di salah satu perguruan tinggi di Bandung, saya berkenalan dan berteman dengan seorang wartawan. Penilaian saya dan teman-teman terhadap sosoknya adalah sosok yang overconfidence dengan isi dan tampilan yang biasa saja (penilaian pada waktu itu). Bahkan dia sendiri mengatakan kepada kami saat itu, bahwa seorang wartawan itu memiliki sifat selalu merasa cerdas dan lebih pintar dari siapapun. Karakter dia pun précis seperti apa yang dikatakannya sendiri. Bahkan seringkali ia sedikit merendahkan orang lain (subjektif).

Satu kali saya sempat ngobrol dengan salah satu wartawan lokal di Bandung. Saat itu saya terjebak dalam obrolan tentang nasib media cetak dengan wartawan tersebut. Dalam obrolan tersebut, ia dengan jumawa dan pengetahuannya mengatakan bahwa media cetak itu PASTI akan mati dalam waktu beberapa tahun ke depan, bahkan ia mengatakan hal tersebut dikatakan oleh seorang praktisi media yang sangat tahu tentang seluk beluk kertas. Karena memastikan hal yang belum jelas, apalagi berbicara masa depan, saat itu saya mengajukan ketidaksetujuan saya. Namun ia mengatakan, “KATA SAYA PASTI, SAYA SUDAH JELAS REFERENSINYA,”. Tentu saja saat itu saya merasa tergerak, emangnya mati yang sudah pasti, sementara jika melihat makin bertambahnya media cetak di Bandung, tentu saja kepastian media cetak akan mati tersebut sedikit terbantahkan.

Karena dia terus mengatakan kepastiannya, saya cari celah agar tidak berdebat terus, karena bagi saya jika Diskusi sudah berujung pada kepastian, apalagi yang mau didiskusikan, tidak guna bagi saya, jika seseorang yang seolah merasa paling tahu kemudian berdiskusi. Akhirnya saya membelokan, dengan bertanya tentang televisi digital. Dia mengatakan,”ENTE, TELEVISI DIGITAL SAJA GAK TAU, BAGAIMANA MAU BERDEBAT TENTANG NASIB MEDIA CETAK,”. Saat itulah saya melihat arogansinya, padahal saya tidak kenal dan belum pernah ketemu sebelumnya dengan dia.

Namun tentu saja saya itu hanyalah sebagian pengalaman yang tidak mengenakan, masih cukup banyak pengalaman yang tidak mengenakan lainnya saat berinteraksi dengan wartawan, terlebih cerita kawan.
Di samping cerita miring dan tidak mengenakan, saya melihat masih banyak wartawan-wartawan yang memiliki sifat rendah hati dan ramah bahkan jauh dari sifat jumawa. Baik lokal maupun nasional. Termasuk saat mengenal Mas Nurullah dari Kompas dan Kang Pepih hehehe.

Namun berdasarkan cerita dan pengalaman saya, mungkin juga teman-teman, kasus pemukulan wartawan, kemungkinan besar karena ulah wartawan sendiri yang tidak bisa menahan emosi dengan keegoannya yang tinggi. Apalagi jika kita lihat dalam salah satu tayangan, kita lihat bagaimana wartawan itu dengan penuh emosi menantang juga para siswa.

Wartawan juga manusia biasa, sebagai agen informasi di dalam institusi yang memiliki kontribusi besar dalam membangun bangsa dan Negara ini, tetap harus mampu mengontrol emosinya.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon