Anas Urbaningrum, Paduan Caknur dan Akbar Tanjung


Anas Urbaningrum (AU) adalah Ketua Umum Partai termuda. Karirnya betul-betul cemerlang. Menurut pengamatan, ketokohan dan karir yang dimiliki oleh Anas hanya muncul setiap 30 tahun sekali. Sebelum Anas mungkin ada beberapa orang yang cemerlang seperti Anas dari latar belang sosial yang berbeda, katakanlah Habibie. Dan akan muncul lagi 30 tahun kemudian. Namun karir cemerlang yang dimiliki Anas yang digadang-gadang sebagai calon pemimpin Indonesia ke depan terganjal masalah serius. Tidak tanggung-tanggung, tokoh muda yang terkenal santun dan cool ini diprediksi memiliki keterkaitan korupsi trilyunan Rupiah.

Dalam tulisan ini, saya tidak akan memunculkan masalah tersebut, tetapi bagaimana AU membangun ketokohannya dari bawah. Tulisan ini saya kumpulkan dari para senior yang pernah bertemu, bercengkrama, bersenda gurau dengan AU, juga pengamatan terhadap pribadi terhadap Media.

Anas Urbaningrum membangun karir politiknya di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sejak ia kuliah di Unair. Menjelang turunnya Presiden Soeharto, Anas Urbaningrum sudah memimpin Organisasi Mahasiswa Islam terbesar dan pertama di Indonesia, HMI. Banyak kader, alumni dan sejawatnya berkomentar bahwa sejak dipimpin oleh Anas Urbaningrum, HMI mencapai masa kejayaannya kembali setelah sekian lama tidak melahirkan tokoh muda berkualitas seperti pada masa Cak Nur kisaran tahun 1970-an. Pada masa Caknur, HMI banyak melahirkan tokoh-tokoh yang berkualitas, dan momentum itu disambut oleh Anas Urbaningrum yang kembali mengharumkan HMI.

AU, paduan Caknur dan Akbar Tanjung
Nurcholis Madjid, Intelektual yang lahir pada masa orde baru dan pemikiran-pemikiran kenegaraannya sangat orde baru seperti dalam buku “Islam, Keindonesiaan dan Kemodernan” tersebut merupakan tokoh bangsa yang diakui oleh kalangan Islam Modern ataupun tokoh lain yang berhaluan modern/ moderat. Cak Nur terkenal melalui gagasan-gagasannya yang dituangkan melalui tulisan baik tentang Keislaman ataupun tentang keindonesiaa, sehingga melahirkan apa yang dikenal dengan Islam Indonesia atau ide masyarakat madani. Gagasan-gagasannya sering muncul di media Massa. Ia pun sering tampil mengemukakan gagasannya di tingkat organisasi baik HMI ataupun organisasi Pemuda lainnya yang saat itu sudah bermunculan. Cak Nur pernah memimpin PB HMI selama 2 periode.

Sedangkan Akbar Tanjung berada pada wilayah yang berseberangan dengan Cak Nur. Sementara Cak Nur menggagas tentang politik tingkat tinggi (high politik), Akbar Tanjung terjun langsung ke Politik Praktis. Ia juga pernah menjadi Ketua Umum PB HMI. Ia bersama tokoh HMI lainnya menjadi lokomotif Orde Baru pada tingkat Praktis. Karena pemikirannya yang modern, ia bersama kawan lainnya direkrut menjadi bagian dari pemerintahan Orde Baru.
Pada saat reformasi, Akbar Tanjung mampu menyelamatkan Golkar dari keterpurukan yang disebabkan oleh angin kencang reformasi. Sehingga ia menjadi salah satu tokoh yang memiliki karakter kuat dalam kepemimpinannya sebanding dengan Cak Nur dalam bidang pemikiran.

Bagaimana dengan Anas?
Orang yang lahir kemudian, jauh setelah Cak Nur dan Akbar Tanjung tersebut bersinergi dua karakter kepemimpinan yang dimiliki oleh Cak Nur dan Akbar Tanjung. Saat belum terjun ke ranah politik, AU memiliki gagasan-gagasan yang dituangkan dalam bentuk tulisan yang sering dimuat di Harian Kompas. Ide, gagasan dan kualitas intelektualnya sudah teruji oleh publik. Kualitas pemikiran dan intelektualitas dengan Anas merupakan arsiran, penjelmaan, dan ajaran langsung dari Cak Nur yang mewarnai AU. Sebelum menjadi anggota KPU pun, Cak Nur memiliki peran untuk memunculkan Anas sebagai tokoh muda di kancah Nasional setelah setelah selesai dari PB HMI, dengan sebutan tim 9 (kalo tidak salah).

Sementara, karir politiknya, saya melihat merupakan arsiran tak langsung dari karakter kepemimpinan dari Akbar Tanjung yang ‘cool’. Kita bisa lihat Anas sebelum menjadi Ketua Partai, emosinya selalu datar, tidak meledak-ledak seperti halnya Akbar Tanjung. Sebagai adik kandung Akbar Tanjung di HMI, tentu ia juga mendapatkan banyak pelajaran dari kepemimpinan Akbar Tanjung.

Jika Anas Mampu Keluar dari Kemelut
Akbar Tanjug pernah divonis hukum dengan kasus Bullogate, namun ternyata Bebas. Bagi orang-orang politik, hal ini merupakan bagian dari kecerdasan politik yang dimiliki oleh Akbar Tanjung. Dan walaupun pernah terkait kasus tersebut, sampai hari ini, Akbar Tanjung masih menjadi tokoh yang disegani di tingkat Nasional, bahkan kini menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar. Ketokohan Akbar pun diakui oleh tokoh lintas partai atau ormas, tidak hanya sekedar oleh kader-kader yang memiliki ambisi politik di tingkat HMI.

Saya melihat, jika saja Anas mampu keluar dari kemelut yang terkait dengan korupsi, AU akan melebihi ketokohan Akbar Tanjung, karena selain memiliki kecerdasarn politik, ia juga memiliki kecerdasan Intelektual dan emosional. Hal ini akan menjadi modal besar untuk Anas, agar ke depan mampu menjadi Presiden RI dari kalangan muda. Apalagi didukung oleh Jaringan yang tersebar di seluruh Indonesia. Bukan hal yang tak mungkin! Karir Anas tidak akan mati begitu saja, kecuali ia dinyatakan bersalah dan sudah menjadi terdakwa!

Mudah-mudahan saja, apa yang dituduhkan oleh Media dan opini-opini lawan politiknya tentang AU tidak menemukan pijakan realitasnya. Dan jika pun benar, itu menjadi sandungan yang sangat tajam untuk menjegal AU.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon