Revolusi Komunikasi Jejaring Sosial


Sejak dilahirkan, manusia hidup bersama pesan-pesan komunikasi, mulai dari orang tua, saudara, kerabat serta lingkungannya. Seperti pernah diungkapkan Jalaluddin Rakhmat, Pakar Psikologi Komunikasi, bahwa jika seorang bayi tidak mendapatkan sentuhan ibunya keniscayaan cepatnya meninggal akan cepat. Sentuhan merupakan komunikasi dalam bentuk nonverbal, sentuhan orang tua akan membuat nyaman sang bayi dan sebaliknya tanpa sentuhan sang bayai akan mengalami depresi yang membuatnya stress dan cepat meninggal. Begitu dahsyatnya komunikasi sehingga survival hidup manusiapun dapat diprediksikan. 
Kekuatan komunikasi juga dapat membuat manusia, apakah hidupnya sukses atau tidak, bahagia atau tidak. Oleh karena itulah, Islam menganjurkan agar manusia selalu berkomunikasi dengan semua elemen hidup dari mulai Sang Khalik, sesama manusia ataupun dengan lingkungan sekitarnya yang diistilahkan dengan Habluminallah, habluminannas dan Habluminal’alam. Labih jauh konsep komunikasi ini direalisasikan dan dianjurkan oleh Nabi Muhammad dengan konsep Silaturahmi. 
Konsep silaturahmi telah muncul sejak masa Nabi Muhammad SAW. Melalui silaturahmi tersebut, nabi menjamin beberapa keuntungan yaitu menyangkut masalah rezeki serta panjang umur (akan diingat orang yang ditemui). Seperti tertera dalam sebuah hadits,”Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturahim.” Konsep silaturahmi konvensional menghubungkan antara satu orang dengan orang lain secara dyad. Dari hubungan antar dua orang, terhubungkan pula terhadap orang yang dikenalnya, terus sambung menyambung sehingga membentuk sebuah jejaring.
Hampir 15 Abad setelah konsep jejaring sosial konvensional yang dapat mengubah hidup manusia, konsep jejaring menemukan kembali ruhnya secara komprehensif melalui teknologi komunikasi dan informasi terlebih setelah teknologi internet menjadi sangat popular. Di awali oleh media jejaring sosial friendster yang cukup popular di tahun 2003-2006-an kemudian muncul facebook yang secara perlahan membunuhnya. Di samping kedua media sosial tersebut masih banyak media sosial lainnya seperti skype, plurk, twitter. Di Indonesia sendiri muncul koprol dan media sosial yang mendapatkan beberapa penghargaan, yaitu Kompasiana. Media sosial yang dibangun dan dikembangkan oleh Grup Kompas Gramedia. Kompasiana mendapatkan penghargaan di tingkat nasional serta internasional. Berbeda dengan para pendahulunya, kompasiana tidak sekadar melakukan koneksi atau hiperkoneksi dengan orang-orang, ia juga menekankan terhadap sharing ide antar anggota jejaring.
Melalui media Kompasiana, tidak sedikit melahirkan banyak penulis.  Melalui media jejaring sosial ini pula lahir berbagai ide tentang berbagai permasalahan nasional dan internasional; global warming, bantuan sosial bencana, kepedulian terhadap masyarakat kecil, isu kepahlawanan, bahkan dapat menggulingkan kepemimpinan otoriter seperti yang terjadi di Mesir dan semua itu dibangun melalui komunikasi jejaring sosial dunia maya.

KOMUNIKASI JEJARING KONVENSIONAL
Buku Connected yang ada di hadapan pembaca merupakan hasil penelitian tentang komunikasi Jejaring di Amerika Serikat oleh dua orang  ahli, Nicholas A. Christakis, M.D., Ph.D, ahli kesehatan masyarakat dari Universitas Harvard dan ahli politik, di samping juga menjadi peneliti pada Center for Wireless and Population Healts System, James H. Fowler, Ph.D dari Universitas California.
Nicholas dan James melakukan wawancara terhadap tiga ribu lebih warga Amerika Serikat. Menurut hasil penelitiannya tersebut, secara konvensional sebanyak 12 persen orang Amerika tidak memiliki teman untuk diajak bicara hal-hal yang penting karena tidak memiliki teman dan hanya 5 persen yang memiliki 8 teman dan diantaranya dapat diajak bicara.
Pada bab-bab awal buku, Nicholas dan James, meneliti Komunikasi Jejaring yang ter[di]bangun secara konvensional dalam realitas masyarakat nyata. Ia juga menguraikan hasil penelitian terdahulu akan pengaruh pesan jejaring yang hidup dan tumbuh di tengah-tengah masyarakat yang berpengaruh terhadap teman dan temannya teman dalam suatu jejaring.
Ia menguraikan contoh jejaring yang sangat sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Diantaranya bentuk barisan orang yang tidak terhubung sama sekali, ia ibarat kerumunan orang yang dengan bebas berhubungan dengan siapa saja. Terdapat pula Barisan Ember yang sedang berupaya memadamkan kebakaran. Jaringan ember tersebut berjejer dari satu orang kepada yang lain, menghubungkan lokasi air dan lokasi kebakaran. Masing-masing anggota jejaring memiliki dua pasangan teman. Barisan ember yang memadamkan kebakaran merupakan  jejaring sosial yang sangat sederhana [hal. 10].
Jejaring sosial lainnya yang terbentuk secara sederhana adalah model Pohon Telepon. Jika seseorang memerlukan hubungan dengan seratus orang dengan segera, sebelum adanya alat komunikasi modern dan internet tugas tersebut adalah tantangan karena tidak ada sarana public informasi yang dapat diakses dari rumahnya masing-masing. Telepon memang mempermudah tugas, tetapi berapa waktu yang dibutuhkan untuk menghubungi satu persatu dari seratus orang tersebut. Namun terdapat cara dengan membuat daftar untuk melakukan telepon berantai, orang yang dihubungi pertama kali agar melakukan hubungan dengan yang lain. Orang pertama menghubungi dua orang, dan kedua orang tersebut juga menelepon dua orang lainnya sehingga beban kerja dibagi rata terhadap yang lainnya.
Jejaring sosial terakhir yang terbentuk secara sederhana adalah jejaring yang terbentuk dalam kelompok militer (kompi). Dalam kompi beranggotakan seratus prajurit, tiap anggota regu mengenal sangat akrab semua rekan seregunya; dan tiap orang mempunyai Sembilan ikatan. Namun tiap regu tersebut tidak saling terhubung dengan regu lainnya. Jejaring ini membentuk masing-masing komunitas jejaring. Suatu komunitas jejaring bisa didefinisikan sebagai kelompok orang yang terhubung jauh lebih erat dengan sesama anggotanya daripada dengan kelompok orang-orang yang saling terhubung dalam bagian jejaring lainnya. Komunitas dibatasi oleh hubungan structural. 
Maka pada dasarnya, suatu jejaring sosial adalah kumpulan orang terorganisasi yang memiliki dua unsur: orang dan hubungan antar orang. Tetapi, tidak seperti barisan ember, pohon telepon dan satuan militer, organisasi jejaring sosial alami biasanya tidak ditentukan dari atas atau terstruktur. Jejaring sosial yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari berevolusi secara organic dari kecenderungan alami tiap orang untuk mencari banyak atau sedikit teman, berkeluarga besar atau kecil, bekerja di tempat yang ramai atau sepi. [hal.15] Jika dicontohkan dengan keanggotaan suatu asrama yang terdiri dari 105 mahasiswa, maka diantara 105 mahasiswa tersebut bisa jadi terhubung kepada enam teman dekat dan enam teman yang hanya kenal, namun bisa juga hanya terhubung kepada satu orang teman dekat saja. Semua bisa acak dan tidak tentu.
ATURAN HIDUP DALAM JEJARING SOSIAL
Aspek mendasar yang terdapat dalam kehidupan jejaring adalah terdapatnya hubungan, siapa terhubung kepada siapa dan adanya penularan, siapa menularkan apa kepada siapa. Sementara itu, hidup dalam jejaring sosial memiliki aturan; Pertama, kita membentuk Jejaring kita. Manusia sengaja membuat dan merombak jejaring sosialnya sepanjang waktu seperti dalam kasus homofili, kaum homofili memiliki kecenderungan sadar maupun tak sadar untuk berdekatan dengan orang-orang yang menyerupainya. Kedua, Jejaring kita membentuk kita. Tempat kita dalam jejaring juga membentuk kita. Orang yang tak punya teman akan punya kehidupan yang amat berbeda dengan orang yang punya banyak teman. Ketiga, Teman mempengaruhi kita. Yang terpenting bukan bentuk jejaring di sekeliling kita, namun juga apa yang mengalir melintasi sambungan-sambungannya. Satu penentu penting aliran adalah kecenderungan manusia untuk saling mempengaruhi dan saling meniru. Keempat, Temannya teman mempengaruhi kita. Dalam permainan ‘bisikan berantai’, suatu pesan dioper sepanjang rangkaian oleh anak-anak yang saling membisiki. Pesan yang dibawa mengandung segala kesalahan yang akhirnya ditiru oleh anak lain yang mendapat operan pesan. Dalam kenyataan hidup, tidak hanya teman yang mempengaruhi kita, namun juga temannya teman, juga keluarganya teman. Jika seseorang punya sesuatu dan ada kontak dengan orang lain, kontak itu cukup untuk dapat membuat orang keduanya mempunyainya juga. Namun tentu berbeda dengan penyebaran norma dan perilaku yang memerlukan proses yang lebih rumit dengan melibatkan penguatan oleh banyak kontak sosial, sehingga jejaring sederhana seperti barisan ember tidak mendukung terhadap penyebaran perilaku dan norma.[hal. 27]
            Kelima, Jejaring punya kehidupannya sendiri. Jejaring sosial memiliki sifat dan fungsi yang tak dapat dikontrol maupun disadari oleh orang-orang di dalamnya. Sifat-sifat tersebut hanya dapat dipahami dengan mempelajari keseluruhan kelompok dan strukturnya, bukan dengan mempelajari individu-individu secara tersendiri. Jika dicontohkan dengan kemacetan lalu lintas, kita tidak bisa memahami kemacetan tersebut dari satu individu yang sedang kesal di balik kemudinya. Atau jika kita cermati sekawanan burung dan ikan yang bergerak serentak menunjukan perkara yang sama: tidak ada kendali pusat atas pergerakan kelompok, tapi kelompok itu menunjukan semacam kecerdasan kolektif yang membantu semua anggotanya menghindari atau mengusir pemangsa. Perilaku tersebut tidak bersifat individual, melainkan bersifat kelompok. Penelitian terhadap kawanan burung yang memutuskan kemana harus terbang mengungkap bahwa mereka bergerak berdasarkan tujuan semua burung dalam kawanan. 
Dengan demikian, jejaring sosial memiliki sifat emergen, yaitu sifat-sifat baru suatu keseluruhan yang timbul dari interaksi dan saling hubung antar bagian-bagiannya.
PENGARUH  JEJARING SOSIAL
Sebagian besar diantara kita sudah sadar akan efek langsung seseorang kepada teman dan anggota keluarganya; tindakan seseorang bisa membuat mereka senang atau sedih, sehat atau sakit, bahkan kaya atau miskin. Tapi kita jarang berfikir bahwa segala yang kita pikirkan, rasakan, lakukan, atau katakan bisa menyebar jauh melampaui orang-orang yang kita kenal. Dalam semacam reaksi berantai sosial, kita bisa dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa yang tidak kita saksikan yang terjadi kepada orang-orang yang tidak kita kenal. Seolah kita  bisa merasakan denyut dunia sosial di sekeliling kita   dan menanggapi iramanya yang tak henti-henti.
Jejaring sosial dapat membantu melampaui apa yang tidak dapat kita capai sendirian. Dengan demikian, jejaring sosial ibarat hutan milik bersama, kita semua mendapat manfaat darinya, tapi kita juga harus bekerja bersama untuk menjamin dia tetap sehat dan produktif. Artinya jejaring sosial perlu diurus oleh individu, oleh kelompok dan oleh lembaga.
Berkaitan dengan pengaruh tersebut, pada Bab 2, 3, dan Bab 4, Nicholas dan James menguraikan hasil penelitian terhadap jejaring konvensional, bagaimana pengaruh dapat menyebar secara berantai melalui jejaring sosial, seperti dalam wabah tertawa (hysteria epidemik) yang terjadi di sebuah sekolah di Amerika, bertemunya sepasang suami isteri yang dihubungkan melalui jejaring, atau penyakit menular seksual ‘tiba-tiba’ muncul di sekolah elit dan bersih. Dalam kasus Mass Psikogenik illness yang pernah terjadi di Amerika memberi kesan bahwa emosi bisa menyebar jauh dan luas, mengalir melalui ikatan-ikatan jejaring sosial dari orang ke orang dan ke orang lagi. Melalui jejaring sosial, kebahagiaan bisa menular, namun juga jenis penderitaan dapat menular melalui media jejaring.
Media jejaring, tidak hanya dapat menularkan emosi, baik secara positif ataupun negatif, namun juga dapat menghubungkan temannya teman dalam suatu hubungan yang akrab dan intim. Nicholas dan James menguraikan hasil penelitian lama di Amerika Serikat terhadap 3432 orang, tahun 1992, bahwa pasangan suami isteri, atau pasangan seksual terhubung sebanyak 68 persen karena dikenalkan oleh seorang teman, sedangkan sebanyak 32 persennya berkenalan secara langsung. Sementara di China, pada tahun 1987, sebanyak 78 persen pasangan menikah berdasarkan jaringan kemiripan dan jaringan teman sebanya. [hal. 77]
Pada Bab Lima, Nicholas dan James, mulai memasuki komunikasi jejaring online. Menurutnya bahwa melalui media jejaring online setiap orang dapat mendulang dollar atau bahkan sebaliknya. Dari jejaring sosial inilah uang berawal. Dalam bab ini, kedua peneliti menguraikan bagaimana krisis keuangan Amerika Serikat pada tahun  2007 itu muncul. Walaupun pemerintah menjamin keamanan keuangan rakyatnya melalui siaran televisi, tetapi tidak menyurutkan para nasabah di suatu bank untuk menarik tabungan atau depositonya pada bank tersebut. Hal itu karena pengaruh komunikasi dalam jejaring sosial yang terbentuk secara alamiah. Kontak orang ke orang mempengaruhi banyak orang yang awalnya mengabaikan menjadi terpengaruhi. Kegelisahan yang menyebar  itu sama dengan kegelisahan yang menyebar pada penyakit psikogenik massal (Mass psikogenik illness, MPI) [hal.165].  Kepanikan tidak hanya terjadi pada satu perusahaan bank saja, namun juga menyebar terhadap perusahaan lain. Tak lama setelah kejatuhan bank tersebut yang tidak dipercaya oleh nasabahnya, harga sahamnya pun jatuh. Berita ini menjadi ketakutan umum di seluruh Amerika Serikat dan pada tahun 2008, wabah krisis menyebar ke pasar-pasar internasional yang menyebabkan krisis global. 
Meltdown tahun 2008 menunjukan betapa gampangnya panik menyebar dalam jejaring keuangan. Jika satu perusahaan besar ambruk, perusahaan lain yang terhubung dengannya juga menanggung resiko. Selagi kerugian berlanjut, terjadilah perlambatan dramatis ekonomi global, ribuan orang kehilangan rumah, jutaan orang kehilangan pekerjaan.

KOMUNIKASI JEJARING SOSIAL DUNIA MAYA
Kehadiran teknologi informasi membuat pesan komunikasi menjadi mudah untuk sampai kepada orang secara cepat dan egaliter. Jika dalam komunikasi jejaring konvensional, setiap orang terhubungkan dari teman ke teman dengan kualitas hubungan yang berbeda, dari hanya sekedar tahu dan kenal, dekat, menjadi teman, sahabat hingga membina hubungan intim. Dihitung dari aspek waktu, untuk membina pertemanan secara berkualitas di dunia nyata memakan waktu yang lama. Seperti yang digambarkan dalam jaringan ember berbaris dalam kasus kebakaran, atau jaringan di sebuah asrama mahasiswa. Melalui Komunikasi Jejaring Sosial dunia maya, seseorang dapat menjalin hubungan pertemanan secara langsung dan berkualitas dengan seseorang yang kita inginkan. Melalui dunia maya seseorang dapat menjadi pusat informasi, dan semua orang dapat terhubung secara langsung. 
Hal inilah yang dibangun oleh Tim Obama saat kampanye dan penggalangan dana. Obama langsung berhubungan dengan pendukungnya baik yang berasal dari kalangan atas ataupun kalangan bawah. Ia tidak hanya menyapa calon pendukungnya, namun juga menggalang dana hingga jumlah terkecil dari pendukungnya secara langsung. 
“Saya tidak pernah menjadi calon yang paling berpeluang untuk jabatan ini sejak awal. Kampanye kami…dibangun dibangun oleh para pekerja yang merogoh uang tabungan mereka yang tak seberapa, dan menyumbang lima atau sepuluh atau duapuluh dolar demi perjuangan,” uangkap Obama saat pidato kemenangannya tanggal 4 Desember 2008 [hal.207]. Diakhir masa kampanyenya, dana yang berhasil disumbangkan oleh tim Obama menjapai 600 juga dollar Amerika. Kemenangan Obama karena para ‘pekerja’ atau pemilih merasa terhubungkan. Kampanye Obama adalah tonggak revolusioner dalam kampanye tidak hanya menggunakan media web namun juga dengan menggunakan Media Sosial dan Komunikasi Jejaring yang menghubungkan langsung kepada pemilih. Padahal Obama dan timnya mengakui bahwa ia tidak memiliki basis masa yang sudah ada terlebih dahulu, hanya saja ia menyadari pentingnya internet.
Untuk menjaring dan berhubungan langsung dengan calon pemilih, tim Obama menggaet salah satu pendiri facebook, Chris Hughes, untuk kampanye online-nya dengan mendirikan situs jejaring sosial My.BarackObama. Tim kampanye online-nya mampu mengumpulkan akun calon pemilih dengan capaian 1,5 juta orang pada situs jejaring Sosial My.BarackObama. Melalui situs jejaring ini pengguna dapat membahas kandidat, menyumbangkan uang, dan yang terpenting, mengorganisasi kegiatan sosial di dunia nyata. Para pendukung online bahkan membentuk grup sebanyak 35.000 grup berdasarkan kedekatan geografis, afiliasi dengan isu tertentu, dan kesamaan minat budaya pop. 
Menurut American Life Project, semua kegiatan itu berpengaruh. Para pendukung Obama lebih giat daripada pendukung Hillary Clinton dalam memobilisasi teman dan anggota keluarga dengan mendatangi petisi online dan mengirimkan komentar politik lewat email, sms,  ataupun jejaring sosialnya sendiri.
Merujuk pada konteks pengaruh, pesan komunikasi melalui jejaring sosial, sebanyak 1,5 juta akun yang mendukung Obama tersebut dapat mempengaruhi teman dan temannya teman dalam dunia nyata. Melalui penelitian yang dilakukan oleh Nicholas dan James terhadap perilaku politik melalui pengaruh media sosial tersebut, satu orang pendukung Obama yang memiliki akun dalam MyBarackObama dapat mempengaruhi satu orang, dua orang, tiga orang, atau empat orang dalam dunia nyata baik teman satu lingkungan ataupun teman satu ideology dan sepemikiran. Hasil penelitiannya sangat mengejutkan karena satu akun dalam media jejaring sosial bahkan bisa memicu rentetan tambahan suara hingga seratus, walaupun seseorang tersebut hanya terhubung secara langsung hanya dengan empat orang.[hal.225]
Berdasarkan hasil penelitian Nicholas dan James, aktivitas online pendukung Obama cukup mencengangkan karena menunjukan kekuatan komunikasi melalui jejaring sosial dunia maya. Melalui kampanya Youtube, sebanyak 14,5 juta orang telah menontonnya, begitupun pidato Obama yang ditayangkan melalui Youtube telah ditonton 6,7 juta orang. Semua ini memberi kesan bahwa perubahan teknologi boleh jadi mengubah cara kita hidup   jejaring sosial dan berefek besar pada cara kita mengatur diri. Boleh dibilang kita sedang hidup di dunia baru. Jejaring sosial kita makin cepat dan besar selagi kita menggunakan sms, twitter, facebook, dan MySpace untuk berhubungan dengan semua orang yang kita kenal. Dunia baru ini memberi gambaran utuh  atas jejaring sosial  tempat kita hidup, membuat kita sadar akan pentingnya terhubung.
MAHA TERHUBUNG
Melalui jejaring sosial dunia maya, seorang aktivis tidak hanya terhubung satu derajat atau dua derajat saja (dengan teman dan temannya teman) namun juga sampai empat derajat (teman temannya temannya teman).
Situs jejaring sosial pertama, SixDegrees.com, dimulai tahun 1997, walaupun banyak menarik orang, namun gagal pada tahun 2000. Situs ini belum siap untuk terjun lebih jauh ke dunia bisnis. Tahun 2002 muncul friendster.com, friendster memungkina seseorang dapat melihat profil pribadi seseorang. Ketika friendster sudah disukai banyak orang, system jaringannya tidak bisa memuat membludaknya orang yang daftar ke friendster. Lalu muncul MySpace tahun 2003 yang menghubungkan anggota band dengan para penggemarnya. Tahun 2004 muncul facebook yang dapat menyaingi semua jejaring sosial dunia maya. Sejak tahun 2008, pengguna facebook telah melampaui pengguna jejaring sosial lainnya. Memasuki tahun 2009, pengguna facebook mencapai 175 juta. Salah satu penyebab keberhasilan facebook untuk menarik pengguna, salah satunya karena dapat membatasi akses profil. Facebook hanya memperkenankan orang melihat teman langsung (satu derajat) dan kadang temannya teman (dua derajat), fitur itu mengurangi tautan orang-orang yang tidak saling dan membuat seolah-olah para penggunanya bersangkut paut dengan jejarign sosial dunia nyata. [hal. 326]
Jejaring sosial online saat ini menuntut kita memberi informasi eksplisit  mengenai hubungan kita dengan orang lain dan kegiatan sehari-hari kita, tetapi sebentar lagi jejaring tersebut akan menjadi implisit. Sedang berkembang sistem-sistem baru yang secara otomatis menghasilkan banyak data yang dikumpulkan secara pasif online dan memperkenankan kita melacak teman-teman kita secara otomatis. Membludaknya penggunaan internet dan jejaring sosial dunia maya telah mempertinggi kemampuan kita untuk berhubungan dengan orang, membuat kita jadi maha terhubung (hyperconnected). Teknologi baru bisa memberi kita rasa seberapa terhubung atau tak terhubungkah kita secara langsung. 
Komunikasi sosial melalui dunia maya merupakan modifikasi radikal tipe-tipe interaksi jaringan sosial yang sudah ada di dalamnya dalam empat cara, yaitu:
1.      Enormitas (enormity), yaitu peningkatan bersar pada skala jejaring kita dan jumlah orang yang bisa dijangkau untuk bergabung.
2.      Komunalitas (Communality), yaitu perluasan skala untuk berbagi informasi dan berkontribusi ke usaha bersama.
3.      Spesifikitas  (specificity), yaitu peningkatan besar  pada kekhasan ikatan yang bisa kita bentuk.
4.      Virtualitas (Virtuality): Kemampuan menggunakan identitas virtual.
Sebagai hasil penelitian, baik lapangan (survey dan wawancara) ataupun pustaka, menghasilkan ragam efek dari komunikasi jejaring sosial, baik secara positif maupun negatif. Di samping itu, komunikasi jejaring yang diungkap dalam buku ini, tidak hanya sebatas komunikasi jejaring konvensional dan dunia maya, namun juga berbagai jenis jejaring termasuk jejaring genetic. 
Melalui penelitiannya tersebut, Nicholas dan James mengungkapkan, di lihat dari sisi negatif  pengaruh pesan dalam jejaring sosial dunia maya, bahwa anak muda yang seringkali terjerumus ke dunia gelap. Di Amerika, 80 % anak muda menggunakan internet dan dunia maya merupakan tempat nongkrong paling asyik bagi mereka. Namun juga melalui dunia maya, hampir 89 % para dermawan melakukan kegiatan derma melalui dunia maya.

PENUTUP
Bagi Nicholas dan James, yang terpenting dari Komunikasi sosial dunia maya adalah adanya proyek akbar pada abad kedua puluh satu, bagaimana melakukan penyadaran terhadap dirinya yang mengganjarinya kebahagiaan menemukan jati diri dan kesadaran bahwa agar dapat benar-benar mengenal diri kita sendiri, bagaimana dan untuk apa kita semua terhubung.
Melalui buku ini kita dapat memetik banyak pelajaran berharga, manfaat dari hiperkoneksi atau konsep silaturahmi yang ada dalam Islam. Sementara dilihat dari sisi pengaruh teknologi menjadi rekomendasi langsung untuk lembaga atau perseorangan, untuk melakukan penelitian secara mendalam bagaimana pengaruh secara komprehensif dari Jejaring sosial dunia maya pada masyarakat Indonesia dalam membentuk jati dirinya.
            Sebagai hasil penelitian buku ini dikemas dalam bentuk yang popular, baik sampul, jenis huruf termasuk tata bahasa dan redaksi katanya sehingga tidak terasa berat dan kaku.

INFO BUKU
Judul Buku: CONNECTED, Dahsyatnya Kekuatan Jejaring Sosial Mengubah Hidup Kita
Penulis : Nicholas A. Christakis, M.D., Ph.D & James H. Flower, Ph.D
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: xiv + 394 halaman


Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon