Sisi Kemanusiaan Prabowo

Siapa bilang Prabowo Galak? Siapa bilang Prabowo tukang gebrak? Siapa bilang prabowo penculik? Tentu saja ada yang bilang, tetapi bilang-bilang mereka itu bilang-bilang yang tidak menggunakan mata hati, mereka bilang dengan mata yang masih tertutup. Mereka punya mata tapi tidak menggunakan mata hati. Dan itulah pekerjaan orang-orang yang memiliki penyakit hati, penyakit tercela, hatinya dipenuhi dengan iri dengki.

Salah satu ciri penyakit hati seringkali mencari-cari kesalahan orang lain. Dan kesalahan-kesalahan tersebut walaupun sudah terkubur dan tertinggal jauh selalu saja dijadikan rujukan dan digali-gali kembali. Apakah saya demikian? Bisa jadi, kita termasuk ke dalamnya.

Saya tidak hendak melupakan masa lalu Prabowo, karena itulah saya merasa tertarik untuk mengungkap sisi kemanusiaan seorang Prabowo Subianto yang seringkali dijadikan kambing hitam oleh koleganya sendiri, khususnya atasannya. Karena sesekali saya tengok masa lalunya.  Ia juga menjadi bulan-bulanan aktifis semacam kontras yang seolah-olah lebih manusiawi daripada sosok Prabowo Subianto. Padahal, seharusnya yang harus menjadi bulan-bulanannya Prabowo adalah atasannya.
Menculik, melawan, menggebrak, adalah kesan-kesan yang muncul dari sosok Prabowo. Kesan tersebut memunculkan satu kesan lebih menohok, yaitu kejam. Dengan kesan-kesan seperti itu, seolah-olah hilanglah sisi manusiawi dari sosoknya. Media memang jago bikin isu, mereka menjadi benar karena opini terus digelembungkan. Tapi satu yang tidak boleh kita lupa adalah sisi kemanusiaan dari seorang Prabowo, sisi lemah lembut, sisi kebapakan, sisi kasih sayang, sisi kecemasan. Apakah seorang mantan Jenderal Kopasus yang gagah berani seperti Prabowo punya sisi itu? Tentu saja punya, Tuhan sudah menganugerahkan sifat itu kepada semua umat manusia termasuk diri Prabowo Soebianto.

# KECEMASAN dan KERESAHAN. Walaupun Prabowo tampak kuat ketika memikul beban kasus HAM yang diarahkan kepadanya, seolah ia orang yang paling bertanggung jawab padahal masih ada atasannya yang paling pantas bertanggung jawab, Prabowo kuat, sebagaimana halnya Robot. Ia kuat menanggung sendirian beban itu. Hingga akhirnya isu itu hanya isu kosong yang dihembuskan oleh orang-orang yang ingin melihatnya jatuh. Di sisi lain, Prabowo selalu CEMAS dan RESAH menyaksikan bangsa ini yang terus dirongrong dan dirampok. Kekayaan negara diangkut oleh bangsa lain, tanpa rakyat Indonesia menikmatinya sendiri. Inilah ciri khas seorang Intelektual, ia selalu resah dan cemas melihat ketidakadilan yang terjadi di negerinya sendiri. Inilah yang mengetuk pintunya untuk kembali lagi ke Indonesia di samping kecintaannya yang besar terhadap tanah air.

# MENANGIS. Seorang jenderal juga bisa menangis. Ini adalah sisi kemanusiaan Prabowo yang harus menjadi catatan. Bukan menangis karena terus difitnah oleh orang-orang yang gemar menyebar isu, tetapi menangis haru karena kasus Wilfrida. Wilfrida adalah seorang TKI yang telah mengetuk hati Prabowo untuk membantu membebaskannya hingga harus bolak-balik ke negeri jiran. Bahkan ia menyewakan pengacara untuk Wilfrida. Hingga akhirnya Wilfrida bebas.

# MENDIDIK ANAK BANGSA. Salah satu fungsi dari tulang punggung kepala rumah tangga dalam keluarga adalah mendidik anak. Ini sudah menjadi fitrah di samping tanggung jawab terhadap Tuhan akan amanah diberinya seorang anak. Menurut cerita seorang blogger yang tinggal di sekitar kediaman Prabowo di Hambalang, Prabowo turut membantu menyekolahkan anak-anak sekitar rumahnya. Ini bukti dari tanggung jawab seorang Prabowo. Tentu ini sangat kecil bagi seorang Prabowo yang memiliki kekayaan melimpah. Tidak berhenti sampai disitu, Prabowo membantu memotivasi olahragawan termasuk kegiatan sosial lainnya. Bahkan ia menjadi salah satu yang memajukan pencak silat dan memperkenalkannya ke tingkat dunia. Ia juga mendorong kemandirian para pedagang pasar melalui asosiasi pedagang pasar.

# KEBAPAKAN. Sebagai seorang jenderal, laki-laki, dan punya anak. Tidak melulu harus bersikap galak dan angkuh. Ada kalanya ia harus dekat dengan anak. Hal ini sangat terlihat saat ia berkunjung ke Bandung. Ia tampak menggendong anak dan kemudian menciumnya dengan penuh kasih sayang tanpa canggung sedikitpun. Sebagai seorang bapak, ia juga bisa dibilang demokratis. Sebagai seorang tentara, ia memberikan kebebasan kepada anak semata wayangnya, Didit,  untuk menentukan pilihan profesi.

# MENYELAMATKAN. Alih-alih menculik, Prabowo Soebianto justeru menyelamatkan para aktifis yang selama ini dituduh telah diculik oleh Prabowo. Mereka adalah orang-orang kritis yang memiliki potensi untuk turut membangun bangsa Indonesia. Sebut saja Aan Rusdianto, Haryanto Taslam, Pius Lustrilanang, Desmond, dll. Mereka kini bergabung dengan Partai Gerindra. Ini fakta, logika juga pasti membenarkan, bagaimana bisa jika Prabowo melakukan pelanggaran HAM, sementara mereka justeru bergabung. Ini sikap keresahan jika pemuda potensial ini tidak diselamatkan maka tidak bisa memberikan kontribusi buat bangsa.








Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon