Blogger Tak Sekedar Menulis, Blogging Gak Cuma Sharing & Conecting


Ki-ka Mbak Shinta Ries, Teh Ani Bertha, dan Mbak Haya Aliya Zaki
Masih ingat pada Tahun 2002, tulisan pertama Si Sayah dimuat pada Neswletter salah satu kampus negeri di Bandung dengan honor 30.000.  Senangnya bukan main, tapi sekaligus malu. Kenapa malu? Setelah dibaca ulang, tulisannya tidak memiliki logika yang ajeg, bahkan susunan redaksi kalimatnya juga tidak urut. 
Pimpinan Redaksi saat itu memberi selamat, karena tulisan saya bisa dipublikasikan melalui newsletter yang dipimpinnya. Semangat pun menggebu, bahwa saat itu bertekad jika menulis harus menjadi salah satu jalan pembuka pintu rezeki ke depannya.

Sejak saat itu, meninggalkan rutinitas menulis sungguh berat, ide seringkali muncul ketika selesai membaca. Sehingga menghasilkan tesa baru. Namun, tulisan tidak juga halus. Logika menulis masih tambal sulam dalam setiap paragraf, sampai kini. Mungkin, inilah yang namanya proses belajar. Proses yang tak pernah menemukan ujung pangkalnya. Selalu merasa kurang dan kurang.

Berproses. Beberapa kali ikut pelatihan jurnalistik. Ikut forum-forum diskusi. Membeli dan membaca buku secara rutin. Dan yang tidak bisa dilupakan, setiap hari kamis membeli koran Pikiran Rakyat, karena dalam edisi kampus terdapat satu rubrik yang dikhususkan untuk mahasiswa. Tentu saja tujuannya adalah belajar menulis artikel, sehingga beberapa file tulisan memenuhi server komputer.

Mengirim artikel ke koran bukan satu kali dua kali, hingga tulisan pertama muncul menjelang wisuda tahun 2006, di Koran Harian Pikiran Rakyat. Setelah beberapa kali mengirim ke redaksi, tulisan ke 7 kalinya yang dikirim, baru dimuat. Bangga bukan main. Pencapaian yang luar biasa pada saat itu, mimpi yang terbeli. Dengan honor Rp. 200.000, besenang-senanglah bersama kawan di Kios Bakso. Alhamdulillah. 

Beberapa file yang tersimpan dalam komputer jadul, sayang juga jika tidak dishare kepada yang lain, padahal tidak sedikit hasil pemikiran Kaum Cendekia yang menjadi penunjang dan penguat argumentasi tulisan. 2004, menjadi tahun bagaimana file-file tersebut dipindahkan ke blog, walaupun sekarang entah berada di mana. Tahun 2008, mulai memiliki blog tetap melalui blogspot. Tahun 2009 memiliki akun Kompasiana.

Karena tidak melalukan literasi blog, perjalanan menulis catatan-catatan itu tidak menyisakan kesadaran. Hanya sekadar pelampiasan atas mimpi dan hobby. Tak berbekas.

Turning Point
Walaupun mulai memiliki blog sejak tahun 2004, dan mulai aktif memindahkan tulisan menetap pada satu blog hitungan agak sering tahun 2008 serta mulai berjejaring blog melalui kompasiana tahun 2011 (Tahun 2009 membuat akun K.) bahkan tahun 2013 diakui komunitas #BloggerBDG, ternyata belum menyadari bagaimana kekuatan itu bisa dibangun dari tulisan blog. Sebuah kekuatan yang mampu membukakan pintu jejaring beserta rezekinya. Sebuah kekuatan yang bisa mengubah siapapun yang ingin berubah. Melalui kekuatan tulisan, ngeblog.

Fun Blogging, melalui tangan-tangan terampilnya dalam melakukan gerakan ngeblog; Teh Ani Bertha, Mbak Haya Aliya dan Mbak Shinta Ries, seakan memberikan jalan terang dan menutup pintu-pintu kegelapan. Bahwa rezeki menulis itu tidak hanya bagi mereka yang terampil mendatangkan pembaca lalu meng­klik iklan google (adsense). Karena hal yang seperti itu, bisa dilakukan pun tanpa konten berkualitas. Juga bagi mereka yang dengan konsisten membuat konten yang berkualitas.

Pintu rezekinya sendiri bukan karena pageview blog (saja) namun karena kualitas tulisan; memiliki kekuatan. Tulisan tidak ditujukan untuk menarik mitra usaha sekalipun, namun dengan murni tujuannya berbagi dalam arti sosial. Di sinilah para pelaku usaha melirik tulisan sehingga mengajak kerja sama. Seperti dialami Mbak Haya Aliya Zaki dan Teh Ani Bertha.

Kekuatan menulis, seperti apa yang disampaikan oleh Haya Aliya Zaki tidak pernah saya perhatikan. Menulis bagi saya hanya sekedar menumpahkan ide, agar tidak terlalu memberatkan pikiran. Menulis bagi saya hanya sekedar menyalurkan ide siapa tau beranak pinak dengan ide-ide lain untuk bisa dikirim ke media. Wajar selama tahunan memiliki blog, belum pernah ada satu pun yang mengajak kerja sama. Ada sih, tapi melalui perantara komunitas, tidak langsung ditujukan kepada penulis. 

Dan kini, saya sangat jarang memperbaharui blog. Tidak pernah mengurusnya. Padahal bagi seorang blogger, blog adalah senjatanya. Bagaimana blog saya akan menjadi bagian dari kekuatan untuk melakukan perubahan jika tidak pemiliknya sendiri tidak pernah memedulikannya.

Fun Blogging ibarat lilin di tengah kegelapan. Ia menyadarkanku bahwa ngeblog tak sekedar menulis. Tak hanya sekedar memiliki blog. Setelah mengikuti acara yang dipandu oleh Ibu-ibu luar biasa tersebut, muncul keinginan kuat untuk serius ngeblog. Blog yang saya buat tak lebih dari tempat parkir beberapa tulisan. Pengarsipan beberapa catatan kuliah yang tersimpan di dalam komputer. Padahal dari blog, bisa memberikan perubahan, bukan hanya kehidupan pribadi, juga kehidupan orang lain.

Maka, tidak berlebihan jika momentum ‘Fun Blogging 6’ yang diselenggarakan di Digilife Dago (Sabtu, 5/9/2015) menjadi turning point (titik balik) pencerahan saya dalam ngeblog, karena pada dasarnya spirit ngeblog adalah menulis. Seperti yang selama ini sering saya lakukan. Namun, kekuatan ilmu menulis yang disampaikan oleh Mbah Haya tidak pernah saya lakukan. Wajar jika blog saya pun seakan tidak bernilai (lebih), tak lebih dari blog-blog yang tidak pernah memiliki manfaat. Saya sendiri sudah lama meninggalkan blog rintisan karena merasa tidak memberikan manfaat apa-apa.

Melalui pelatihan blog yang disponsori oleh SmartFren, Gerai CNI, dan Digilife Telkomsel tersebut memacu lagi semangat untuk membenahi cara saya ngeblog; maintenance kembali blog lama di http://nahakunaon.blogspot.com yang setahun kemarin sudah mendapatkan pageview 2000-an/bulan; Maintenance dari sisi template, rubrikasi, konten tulisan, ataupun desain seperti arahan mbak shintaries. Blog baru saya juga sepertinya akan saya perbaharui http://urgar.com untuk dilink-an dengan blog utama. Tak berlebihan kan, jika ini akan menjadi titik balik saya dalam dunia persilatan (blog).

Blogger Tak Sekedar Menulis
Spirit Ngeblog adalah menulis. Tapi tidak sekedar menulis seperti yang saya lakukan, tanpa kekuatan, tanpa spirit, tanpa tujuan. Haya Aliya Zaki memberikan banyak pencerahan, bagaimana agar tulisan memiliki tenaga. Tulisan bertenaga, selain berasal dari konten, juga dari tata bahasa.  

Untuk apa tulisan bertenaga? Seperti yang dibilang seleb blog Marischa Prudence, untuk memanjakan pembaca. Bagaimanapun blog ibarat rumah, tempat tinggal kita sendiri. Jika rumah kita nyaman, maka pengunjung akan betah berlama-lama lalu terus membaca karya-karya kita. Namun tidak nyaman, jangankan membaca, melihatnya saja sudah malas.

Bagi Haya Aliya Zaki, tulisan bertenaga bukan hanya nyaman untuk dibaca. Bukan sekadar menulis rapi atau memenuhi unsur 5W+1H yang selama ini menjadi rumus baku dalam menulis reportase. Namun juga harus jujur apa yang kita suka sehingga menjadi pengalaman yang memberikan ruh pada tulisan kita sendiri. Ya, Jujur saat menulis, menyesuaikan dengan minat dan pengalaman kita menjadi faktor utama agar tulisan kita benar-benar bertenaga. Karena pada dasarnya kita menulis tidak hanya dari pikiran, namun juga dari hati. Menulis bukan hanya dengan menggunakan logika, namun juga rasa. Rasa memberikan energi agar tulisan betul-betul hidup.

Haya Aliya Zaki memberikan 12 tips agar sebuah tulisan betul-betul disukai dan pengunjung blog merasa nyaman saat membacanya. Inilah tulisan yang bertenaga. Namun tentu saja ke 12 tips tidak akan diulas di sini karena keterbatasan tempat. Jika benar-benar ingin mendapatkan tips tersebut bisa langsung berkunjung ke blognya Mbak Haya www.hayaaliyazaki.com atau ikut pelatihan Fun Blogging.

Penjelasan Haya Aliya Zaki mengingatkan kembali pada catatan-catatan lama yang tidak pernah dipakai saat menulis. Padahal begitu sangat pentingnya bagaimana sebuah tulisan memberikan nilai pada penulisnya.

Blogging Gak Cuma Sharing & Conecting
Saat selesei mengunggah tulisan ke dalam blog dan kita share melalui media sosial dan teman-teman komunitas, apakah tugas kita selesai?

Tidak!

Bahkan, sejak niat seorang blogger menulis, selain tidak sekadar membuat catatan dan mempostingnya, harus memiliki tujuan agar tulisan dapat memberikan manfaat ganda dari menuliskan pengalaman pribadinya, yaitu edukasi. Berintegrasi dengan media sosial, blog memiliki efek viral terhadap para pembacanya. Blog dan tulisan bertenaga akan memberikan dampak positif untuk pendidikan di Indonesia. Bahkan gerakan ngeblog sendiri menjadi bagian dari cara mendidik menyampaikan ide dan gagasan untuk perubahan sosial.

Namun, perlu dicatat, seperti disampaikan Ani Bertha, blog harus memiliki kekuatan untuk dikunjungi dan dibaca. Sehingga mengisi konten blog saja tidak cukup, perlu mengoptimasi blog yang kita miliki. Hal yang paling minimal adalah terindex oleh google. Salah dua agar cepat terindex oleh google adalah update berkala pada sisi konten dan harus sering bersilaturahmi dengan cara blogwalking.

Memperbaharui tulisan secara berkala akan memberikan pancingan pada mesin pencari google sehingga akan banyak kata kunci yang terkait yang mengarah pada blog kita. Sedangkan bersilaturahmi, minimal mengucapkan salam, tidak hanya dilakukan di dunia nyata, namun juga dunia maya. Di dunia blog, bersilaturahmi, bisa dengan cara meninggalkan jejak (berkomentar) pada tulisan blogger lain. Dua hal ini menjadi saling padu, saat kita betul-betul memutuskan diri untuk aktif ngeblog (blogger profesional).

Shintaries melengkapi, kekuatan sebuah blog juga terdapat pada formula desain blognya yang user friendly sehingga bisa meningkatkan optimasi blog.

Saat seorang blogger telah mendapatkan dari apa yang diimpikannya dari profesinya tersebut. Ada hukum Tuhan yang harus dipenuhi sehingga tidak menjadi beban dan penyakit, yaitu sodaqoh. Bagaimana sodaqah seorang blogger?

Bagi Ani Bertha, ini semacam Corporate Social Responsibility atau bisa disebut Personal Social Responsibility bagi seorang blogger. Inilah salah satu yang dilakukan 3 emak-emak blogger yang sudi jauh-jauh datang dari Jakarta ke Bandung, demi menunaikan salah satu kewajibannya sebagai penganut agama yang taat, Sodaqah ala blogger, berbagi ilmu ngeblog. Ini juga sekaligus sebagai bagian dari personal branding melalui tanggung jawab sosialnya sebagai seorang blogger.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Srikandi Blogger tersebut, kehadiran mereka juga merupakan atas program dari mitranya sebagai bentuk tanggung jawab sosialnya dalam memberikan pendidikan yang bermanfaat di era digital; Smartfren 4G, yang peduli dan turut serta mencerdaskan anak bangsa melalui perannya sebagai perusahaan operator telekomunikasi. Ia terus mendorong bagaimana anak bangsa terus melakukan literasi digital melalui bantuan tanpa pamrih seperti yang dilakukan oleh team Fun Blogging.

Catatan ini, mudah-mudahan bisa memberikan manfaat!
Terima kasih sudah berbagi Mbak Haya, Mbak Shinta Ries,  dan Teh Ani.



Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

2 comments

Write comments
Sep 26, 2015, 12:29:00 AM delete

Abah, semoga blog-blog kita bisa memberi banyak manfaat bagi banyak orang ya :)

Reply
avatar
Abah Raka
AUTHOR
Sep 26, 2015, 1:26:00 PM delete

Amiin, semoga aja ya teh evi. Sesuai dengan karakternya yang viral dan semangat perubahan yang selalu didengungkan melalui banyak cyberspaca, bisa ngasih manfaat buat banyak orang...

Reply
avatar

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon