Mengejar Rank dari ‘Kampus Abal-abal’


Media Daring, menjadi peluang bagi penganut ‘aliran cracking’ di dunia profesi. Peluang tersebut dimanfaatkan oleh mereka yang melek dan mau belajar berbagi di dunia maya. Salah satu keterampilan yang harus dikuasai adalah menulis. Menulis adalah salah satu cara untuk melahirkan konten. Konten menjadi raja dalam dunia ‘persilatan’ blog.

Dalam media daring, terdapat beberapa kategori media, ada yang disebut media online, ia dikelola oleh lembaga pers. Sebut saja kompas.com, detik.com, tempo.co, republika.co.id dll. ada juga kategori blog yang dikelola secara mandiri tanpa harus memiliki lembaga. 

Blog bisa dikategorikan ke dalam beberapa jenis;

Pertama, blog keilmuan. Jika saya perhatikan, blog ini dibuat untuk berbagi tentang wawasan dan ilmu sang blogger. Tidak ada orientasi ranking terhadap blognya. Blognya mau dikunjungi banyak orang atau tidak sepertinya tidak menjadi urusannya. Yang penting bagi bloger tersebut adalah ia bisa berbagi ilmu yang dimilikinya titik.

Kedua, Blog Pengalaman. Pada dasarnya kehadiran blog adalah untuk berbagi. Berbagi pengalaman.  Jika pada tipe pertama seorang blogger hanya berbagi ilmu yang dipelajari atau yang didapatnya saja misalnya materi kuliah dalam blog ini, orang berbagi pengalaman hidup. Dari cerita yang enteng sama masalah yang berat.

Ketiga, Blog Review. Bermacam-maca review. Review buku, film, tempat wisata, hotel, atau produk-produk lainnya. Blog review juga ada dua kategori yaitu review berbayar dan kesadaran diri.
Ketiga blog di atas rata-rata fokus pada konten. Sebagai blog yang mengedepankan konten isi blognya rata-rata orisinal. Orisinalitas menjadi ruh para blogger untuk mengejar ranking blognya. Selain orisinil, cara mereka blogging sangat kreatif baik isi atau judul. Tidak bombastis ekstrem apalagi sampai copy paste dari blog lain.

Namun ada juga blog yang mengejar ranking demi alasan ekonomi, mereka membuat judul bombastis untuk menarik pengunjung. Di lihat dari isinya juga sangat beragam. Setiap isu yang sedang rame langsung diposting. Bahkan rela menjual diri dengan melakukan copypaste tanpa menyebutkan sumbernya. Membuat coockies atau spamming dll. Mereka juga seringkali sense terhadap isu-isu aktual yang sedang rame. Bahkan melibatkan kata kunci-kata kunci yang banyak dicari di google search engine. ini type keempat dari blog yang saya temukan.

Type keempat ini memanfaatkan isu-isu aktual yang bisa membuat heboh dunia. Salah satunya adalah  yang sedang membuat heboh perguruan tinggi dengan judul ‘kampus abal-abal’. Judul dan isi dari postingan tersebut banyak dicopy paste oleh blog lain. Tapi antara judul dan isi gak ada relevansinya. Parahnya, hal ini juga dilakukan oleh media cetak lokal. Mungkin media tersebut benar-benar kehilangan pembaca sehingga harus membuat judul ‘gosip’, dengan bahasa ‘Menduga-duga’, yang cenderung melakukan fitnah.

Lantas bagaimana mencari berita yang bisa dipercaya?

Pertama, kritis terhadap setiap pemberitaan. Apakah berita tersebut dipublikasikan oleh media yang memiliki kredibilitas atau bukan.

Kedua, kroscek setiap media yang dianggap kredibel tersebut, bandingkan setiap judul dan isi beritanya. Jika antara judul dan isi tidak nyambung, hiraukan saja. Cari sumber berita lain yang kredibel.

Ketiga. Cek sumber informasi paling valid, misalnya berita-berita yang disampaikan oleh otoritas. Misalnya dari pejabat kopertis sebagai wakil dikti di daerah, atau dari dirjen yang terkait dengan pendidikan tinggi.

Keempat. Kroscek ke kampus masing-masing, tanyakan langsung ke pejabat yang mengurusi masalah akademik, misalnya Pembantu Rektor I, Pembantu Ketua I, atau Wakil Direktur I.

Kelima. Secara objektif kita juga bisa melakukan penilaian terhadap kampus. Apakah pembelajaran berjalan dengan normal atau tidak. Jika masih tidak percaya, bisa cek apakah pembelajarannya mendapatkan ijin program studi atau tidak dengan cara mengkinfirmasi ke kampus masing-masing.

Pada akhirnya, tidak semua berita yang bermunculan di media baik media yang jelas lembaganya objektif karena mengejar rating dengan isu bombastis. Apalagi blog-blog dan media yang belum jelas kredibilitasnya. Abaikan saja, karena mereka sedang menaikan rank dari ‘Kampus Abal-abal’ 
  

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon