Uktub, Mewujudkan Mimpi Menulis Buku


Pepatah lama mengatakan, ‘Buku adalah Jendela Peradaban’. Melalui buku pembaca dapat menyelami peradaban-peradaban dunia, baik peradaban yang masih eksis atau peradaban yang telah punah. Buku menjadi jendela manusia untuk menyelami berbagai pengetahuan yang menjadi warisan suatu peradaban. Apa jadinya jika tidak ada buku-buku yang menuliskan sejumlah peristiwa dan pemikiran pada masa lalu, pembaca tidak akan mengenalnya. Apa jadinya jika tidak ada yang menuliskannya? Pembaca tidak akan mengetahui bagaimana peradaban Yunani, mesir, romawi, persia, yang sampai kini masih terasa walau peradabannya telah punah.

Pada sisi lain, saat seseorang menulis, menurut Guru Besar Sejarah dari UIN Yogjakarta, Agus Salim Sitompul, menunjukan kadar intelektualitas seseorang. Dengan menulis, seseorang juga sedang berproses menjadikan dirinya tetap ‘abadi’. Gus Dur, seorang kyai, budayawan, bapak demokrasi, sekaligus mantan Presiden RI ke-4, walaupun telah meninggal beberapa tahun lalu, ia tetap hidup. Karya dan pemikirannya tetap hidup di tengah-tengah masyarakat. Begitu juga para pilsuf, sampai hari ini tetap hidup karena karya-karyanya tetap dipelajari; Plato, Aristoteles, Sokrates, Alkindi, Alfarabi, Al-Ghazali, dan lainnya. Alasan ini diperkuat oleh Sastrawan Indonesia yang mendunia, Pramoedya Ananta Toer,”Orang boleh pandai setinggi langit tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.

Tidak dapat disangkal, buku adalah sebagai jendela pengetahuan sekaligus peradaban. Memasuki era kompetisi menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean, buku dapat dijadikan sebagai portopolio yang menunjukan kompetensi seseorang (penulis). Akbar Zaenudin, penulis Best Seller “Man Jadda Wajada” menjadikan buku sebagai kartu nama. Jika saat berkenalan dengan sejawat biasanya saling bertukar kartu nama, bertukar atau menjadikan buku sebagai kartu nama adalah hal yang luar biasa. Bagi jebolan Pondok Modern Gontor ini, buku juga dapat dijadikan sebagai sumber penghasilan, bahkan melalui buku seseorang bisa mendapatkan penghasilan pasif alias passive income.

Sayang, menulis buku bukan perkara mudah. Bukan hanya soal penguasaan pengetahuan, juga soal disiplin dan komitmen. Apalagi, tidak sedikit para pengarang yang menyelesaikan bukunya hingga bertahun-tahun.

Lulusan Pondok Pesantren Modern Gontor ini, melalui ‘Uktub’ membuat panduan bagaimana dapat menghasilkan buku dalam waktu 180 hari atau sekitar 6 bulan. Buku yang dikarangnya, tidak hanya bersifat praktis penyusunan buku, juga motivasi kenapa seseorang harus memiliki buku karangannya sendiri.

Buku, bagi penulis ‘Uktub’ adalah sebagai bagian dari personal branding, ia menjadi kartu nama terbaik. Selain buku juga dapat menjadi sumber penghasilan, akbar memotivasi bahwa melalui buku, seseorang bisa traveling ke banyak tempat. Seperti halnya Gola Gong. Melalui buku, ia telah mengelilingi belahan dunia.

Secara praktis buku ini menyarankan, bagi calon penulis, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memulai menulisnya, dengan menentukan jenis tulisan terlebih dahulu. Namun, bagi penulis pemula, salah satu hambatan yang seringkali muncul adalah persoalan ide. Dari mana ide itu datang? Secara gamblang, Kakak Senior Ahmad Fuadi ini memberikan panduan. Ide dapat ditemukan dengan cara menonton film, membaca buku, peristiwa yang dirasakan, perjalanan, lag, curhat atau obrolan, status media sosial, observasi, ajaran agama, kesulitan yang dialami, ataupun dari alam sekalipun dapat dijadikan sumber inspirasi. Sehingga, persoalan ide ini bukan lagi masalah bagi penulis pemula.

Sebagaimana halnya buku panduan, hal yang tidak ditemukan dalam buku sejenis adalah mind map yang dipopulerkan oleh Tony Buzzan. Akbar melakukan pemetaan bagaimana proses awal menulis buku hingga bisa sampai ke penerbit dan mendapatkan royalti. Oleh karena itu, karena muara dari buku yang ditulis adalah penerbit, akbar secara detail membuat panduan karakteristik dari penerbit agar penulis tidak salah pilih dan kirim, juga melampirkan nama serta alamat penerbitnya.

Bagi (calon) penulis, hal yang tidak boleh ditinggalkan adalah belajar. Karena dengan belajar seorang penulis akan terus mengembangkan dirinya, baik dalam segi kepenulisan ataupun hal lain yang terkait dengan kepenulisan, misalnya presentasi dan public speaking. Karena bagaimanapun, seorang penulis pada akhirnya dituntut untuk bisa berbicara dihadapan umum ketika bukunya diluncurkan atau dibedah. Wajar jika Akbar meyakini jika penulis sejati adalah pembelajar sejati. Karena hidup seorang penulis sangat dinamis.

Buku ini bukan hanya bisa menjadi panduan bagi calon-calon penulis, juga akan memotivasi bagi pembaca agar bisa terjun ke dunia kepenulisan. Karena pada dasarnya ialah kartu nama terbaik, terlebih lagi bagi mereka yang berprofesi yang lekat dengan dunia tulis menulis; guru, dosen, blogger, wartawan. Oleh karena itu, kehadiran buku how to ini bisa membantu dari sisi praksis, konsep, hingga hal teknis yang terkait dengan penerbit.***[]

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

1 komentar:

Write komentar
Nov 4, 2015, 11:20:00 PM delete

assalamualaikum bapak saya Sudah mengunggah review nya, bisa dilihat di http://rberlianaa.blogspot.co.id/2015/11/the-bang-bang-klub.html?m=1
KPI 3D

Reply
avatar

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon