Ahok, antara Hoak dan Haok

Ahok, Gubernur DKI Jakarta. Sumber: Liputan 6
Sebagai Pemimpin, Ahok adalah Fenomena. Fenomena ini bukan karena dia seorang Tionghoa, tapi karena personalitynya yang unik dan berbeda dengan kepala daerah lainnya. Sampai hari ini, Ahok masih memiliki warna yang khas jika dibandingkan dengan kepala daerah lain. Sosoknya dipuja sekaligus dicaci, dibenci sekaligus dicinta. 

Tulisan ini, tidak akan menyangkutpautkan dengan isu politik atau etnis yang sensitif, apalagi dengan agamanya. Namun akan saya coba analisis dari sudut pandang komunikasi. Bagaimana sebetulnya sosok Ahok jika ditinjau dari sudut pandang ilmu yang sedang populer tersebut?

Terdapat kutub budaya berkomunikasi yang sering dijadikan rujukan ketika seorang pengamat komunikasi menafsirkan perilaku komunikasi seorang figur. Edward T. Hall (Mulyana, 2001) membedakannya menjadi budaya komunikasi konteks rendah dan budaya komunikasi konteks tinggi. Budaya komunikasi konteks rendah dinisbatkan pada seorang yang cenderung memiliki gaya komunikasi berterus terang, lugas, verbal namun tetap ramah dan sopan. Sedangkan budaya komunikasi konteks tinggi dinisbatkan kepada seseorang yang memiliki gaya komunikasi dengan pesan implisit, tidak langsung, dan tidak terus terang. Pesan yang sebenarnya bisa jadi disembunyikan dalam komunikasi nonverbalnya seperti ekspresi wajah, gerakan tangan, atau konteks fisik.

Menarik apa yang ditulis Tito Edy Priandono dalam Opini “PR” (10/03/2015) dengan judul tulisan “Dekonstruksi Politik Gaya Ahok”, gaya komunikasi ahok ia golongkan ke dalam budaya komunikasi konteks rendah. Mengutif pernyataannya yang disitir dari Park dan Kim (2008) bahwa komunikasi konteks rendah menggunakan gaya komunikasi yang bersifat dramatis, dominan, bersemangat, santai, penuh perhatian, terbuka, ramah, penuh perdebatan, dan meninggalkan kesan.

Selama ini kita melihat bahwa kesan yang muncul dari gaya berkomunikasi Gubernur Jakarta tersebut mewakili gaya komunikasi berterus terang dan lugas. Ia juga memiliki kesan sangat berani mengambil keputusan yang membahayakan baik secara personal ataupun jabatannya, tanpa melalui prosedur, seperti melakukan pemecatan terhadap beberapa pejabat yang dinilainya tidak memiliki kinerja baik, atau tidak mengindahkan keprotokoleran yang diatur Undang-undang.

Jika berhenti pada narasi tentang Ahok di atas, maka ada benarnya jika saudara Tito mengategorikan budaya komunikasi Ahok termasuk ke dalam gaya komunikasi konteks rendah. Namun perlu digarisbawahi, kategori ramah, santai, dan penuh perdebatan tidak masuk dalam kategori yang dimaksudkan. Gaya berkomunikasi Ahok seringkali disertai umpatan kata-kata kasar. Ia juga tida segan untuk menyerang lawan bicaranya melalui kata-kata. Sehingga menjadi kurang tepat jika gaya berkomunikasi Ahok masuk kategori Budaya Komunikasi konteks rendah.

Hoak Haok Ahok
Dalam istilah Sunda, kita mengenal satu peribahasa “Sahaok kadua Gaplok” yang artinya suatu sikap babarian ambek atau tempramental. Selain ditunjukan melalui perkataan (sahaok) juga dengan tindakan lanjutan (kadua) yaitu gampar (gaplok). Pada sisi lain sahaok juga disetarakan dengan istilah hoak (tunggal) atau hohoak (jamak) sebagai suatu sikap marah-marah. Selain marah-marah hohoak juga bisa dimaknai sebagai perkataan-perkataan yang terlalu mengentengkan perkara atau merendahkan orang lain dan meninggikan dirinya sendiri.

Pada diri ahok, alih-alih memiliki sikap rendah hati (handap asor) justeru dari sikap dan perilakunya menunjukan kedua istilah di atas, yaitu hoak dan haok. Selain kata-katanya ia juga melanjutkan dengan sikap lainnya yaitu menyerang. Walaupun tidak sampai menggunakan kekerasan fisik, namun kata-katanya sangat kasar karena setelah melakukan pertahanan karena tidak ingin disalahkan atas perilaku atau kepemimpinannya ia juga langsung menyalahkan orang lain atau justeru melakukan penyerangan melalui kata-kata kasar.

Dalam konteks komunikasi, selain budaya komunikasi konteks tinggi dan rendah, ada tiga karakter yang menyifati gaya berkomunikasi seseorang, yaitu pasif, asertif, dan agresif.  Menurut Kussusanti (2009) sikap pasif dalam berkomunikasi ditunjukan dengan sikap ragu, takut, gugup, terlalu banyak berfikir sebelum berbicara. Asertif mewadahi sikap-sikap lugas, berani, percaya diri, namun tidak memaksa dan tetap sopan. Sementara agresif dalam berkomunikasi ditunjukan dengan sikap menggurui, menyuruh, atau memerintah dengan kasar, dan memaksa. Agresif juga menunjukan sikap tidak mau kalah (depensif) dan melakukan penyerangan dalam berkomunikasi.

Ahok dengan hoak dan haoknya mewadahi karakter agresif dalam berkomunikasi; sikap-sikap menggurui, menyuruh, memerintah (dengan kasar), memaksa, menyerang, dan tidak mau disalahkan cenderung dominan dalam gaya bicaranya. Gaya dan karakter ini melekat dalam diri Gubernur DKI Jakarta kini, Ahok. Saat ada hal-hal yang tidak disukai, ia langsung menyerang, misalnya dalam kasus “Dana Siluman” APBD DKI Jakarta. Tanpa konfirmasi, ia menuduh DPRD melakukan penggelembungan. Ahok juga memiliki sikap depensif dalam berkomunikasi. Saat sejumlah tokoh pemuda ingin klarifikasi dengan tuduhan “PKI”, ia tidak mengakui bahwa ia telah mengeluarkan kata PKI tetapi “komunis”. Padahal di Indonesia konotasi komunis merujuk pada PKI. Saat ia didemo oleh sejumlah mahasiswa, alih-alih ia menerima masukan, justeru ia merasa tidak senang karena pendemo menagih janji-janji kampanye dari Wagub saat itu. Pada kasus terakhir, saat ia diwawancarai secara live oleh salah satu TV Swasta Jakarta bahkan ia membawa “makhluk toilet” untuk melabeli yang ia tuduh sebagai koruptor. Wajar jika haok dan hoak ini tidak bisa dipisahkan dari diri seorang Ahok.

Kini kata-kata/ bahasa yang “diciptakan” ahok menjadi populer seperti “bajingan, nenek lu, ta*, sialan, hajar, bego, bodoh, brengsek, pusing amat, peduli amat, dan kata kasar lainnya. Kata ta* yang ia “ciptakan” saat live di salah satu stasiun TV swasta nasional bahkan banyak dipermasalahkan oleh banyak kalangan; selain masyarakat juga dari anggota DPR, pejabat publik, sampai pemerhati anak dan psikolog.

Karakter berkomunikasi Ahok dinilai akan berdampak buruk terhadap perilaku berkomunikasi anak-anak, dengan alasan karena kata-kata tersebut sering ia lontarkan di hadapan publik dan atau media massa. Ia juga dinilai menyalahi etika sebagai pejabat publik. Di luar dampak dan etika sebagai pejabat publik, kata-kata kasar Ahok menyalahi ruang. Kata-kata ahok tidak pantas diucapkan sekalipun berada dalam lingkungan terbatas, misalnya keluarga. Apalagi diucapkan di tempat terbuka di hadapan publik.

Komunikasi Asertif
Pemimpin tegas dan berani memang dibutuhkan. Ketegasan dan keberanian untuk melawan mafia anggaran, keberanian untuk memberantas preman, ketegasan untuk menolak program-program yang menghamburkan uang rakyat. Ketegasan dan keberanian tersebut harus melekat dalam diri setiap pemimpin. Namun tentu kita tidak mengharapkan memiliki pemimpin yang memiliki karakter tukang hohoak dan sahaok kadua gaplok. Kita mengharapkan pemimpin yang tegas dan berani plus ramah dan memiliki sopan santun atau tata krama dalam berkomunikasi. Gaya dan karakter ini diwadahi dalam gaya berkomunikasi asertif. Sementara Ahok, walaupun tegas dan berani tetapi minus etika.

Seorang pemimpin yang asertif, jika pun kebijakannya tidak populis dan banyak dikritik, ia akan tetap menjaga hubungan dengan siapapun tanpa harus menyerang atau menyudutkan atau menyalahkan orang lain. Ia akan tetap menghargai lawan bicaranya dengan memberikan apresiasi, misalnya ucapan terima kasih karena telah memberikan masukan atau kritikan. Saat ada hal yang tidak berkenan, bukan penyerangan yang dilakukan, seorang pemimpin asertif akan melakukan konfirmasi atau bertanya maksud dari hal tersebut.

Dalam buku Self Driving (2014), Rhenald Kasali, Guru Besar Manajemen UI mengartikan asertif sebagai seni bertutur. Jika seorang pemimpin sebagai driver pemerintahan, maka ia harus mejadi good driver. Seorang good driver harus memiliki ketrampilan seni bertutur yang baik agar ia bisa membangun relasi yang baik dengan orang lain. Hal ini tidak kita dapatkan dalam sosok Ahok. Ahok, sebagai driver DKI Jakarta jika merujuk pada istilah tersebut termasuk pada kategori bad driver. Bagaimana tidak, setiap ada kebijakan di bawah pemerintahannya atau rekan kerjanya (DPR) yang tidak sejalan dengan idenya, ia langsung mengumpat bahkan menyerang.

Setelah Ahok menyadari kekeliruannya karena adanya kontrol dari publik lalu menyampaikan permohonan maaf, semoga ia akan menjaga sikap-sikap sesuai etika dan norma di kemudian hari. Pemimpin tegas dan berani memang dibutuhkan namun harus diikuti sikap etis. Jangan sekali-kali memberikan pilihan “pilih pemimpin yang  tegas dan berani menumpas koruptor dan perampok minus etika atau memiliki pemimpin sopan tetapi rampok dan korupsi?” kita butuh pemimpin tegas dan berani dalam melawan mafia dan ketidakadilan, plus dengan sejumlah sikap etis yang melekat dalam sosok diri pemimpin tersebut tanpa mendikotomikan keduanya. Kita butuh pemimpin yang memiliki ketrampilan komunikasi asertif.***[]

Tulisan ini repost ulang.
Salam

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon