Trend Public Relations di Era Digital

sumber gambar: cyberprmusic.com
Era digital telah memorakporandakan dunia sekaligus mindset manusia dalam berkomunikasi. Wajar jika Thomas L. Friedman mengatakan jika the world is flat. Perubahan ini berdampak pada lini komunikasi yang dilakukan oleh perusahaan, salah satunya adalah dunia Public Relations. Situs Mix.com mengutif pernyataan John Hall, CEO of Influence & Co merilis apa yang dipublikasikan oleh Forbes.com tentang perubahan ini, yaitu:

1. Siaran Pers Tidak Menggigit Lagi.
Siaran pers standar dengan format standar tidak lagi menggigit pada tahun 2016. Artinya jika perusahaan tidak memiliki inovasi maka siaran pers akan sia-sia, dari pada mencoba untuk mendapatkan liputan media melalui siaran pers yang dinilai tidak efektif, para profesional PR dan pemasar mencari cara baru dan berbeda.

Salah satu inovasi yang kini sedang trend adalah siaran pers dibagikan tidak hanya kepada wartawan namun juga para personal publisher atau blogger. Kemampuan dari mereka berada di atas rata-rata sebagian yang lain, bahkan magnitude-nya bisa viral tersebar melebihi media mainstream. Oleh karena itu suatu kewajaran jika dunia blogger benar-benar hidup. Di Jakarta, setiap blogger bahkan seperti halnya profesional yang setiap waktunya memiliki job dari perusahaan. 

2. Gagasan Pemimpin Perusahaan akan Menjadi Prioritas
Pemimpin perusahaan memegang peranan penting dalam tren pemasaran baru di tahun 2016. Pemimpin perusahaan menjadi rujukan dan kerangka besar untuk taktik PR terkait dan kampanye brand atau perusahaan. Oleh karena itu, peran CEO sangat menentukan maju mundurnya perusahaan. Tidak sedikit perusahaan rela membayar seorang CEO dengan gaji yang sangat mahal demi mendapatkan gagasan-gagasannya.

3. Konten yang mengandung Amplifikasi akan Lebih Dibutuhkan.
Hari ini, konten yang baik dan viral tidak selalu dihasilkan oleh seorang pesohor atau media mainstream juga oleh personal yang tidak dikenal sama sekali. Justeru mereka menjadi pemasok konten bagi media mainstream yang terbatas SDMnya. Ini sudah dibuktikan oleh mereka yang memiliki kreatifitas di era digital ini. Oleh karena itu, personal yang kreatif ini seringkali menjadi mitra perusahaan, dari kecil sampai perusahaan nasional. 

4. Brand Advocates yang Bicara Negatif dapat Dicegah dengan Konten
Pada konteks ini, sebuah brand bukan hanya bisa secara viral menjadi sangat populer namun juga sebaliknya, dalam waktu sekejap bisa jatuh karena konsumen yang menjalin relasi dengan perusahaan atau produk memiliki pengalaman tidak menyenangkan. Pengalaman ini dapat tersebar secara di media sosial secara berantai. Namun pengalaman buruk ini bisa diantisipasi dengan banyaknya konten positif yang membicarkan produk atau perusahaan tersebut. Oleh karena itu, di era digital salah satu pekerjaan baru yang tercipta adalah pekerjaan menceritakan produk atau perusahaan. Biasanya mereka disebut sebagai buzzer dan sejenisnya.

5. Manajemen Reputasi Online Makin Diperlukan
Populernya relasi dalam jaringan dan kehidupan yang ada di dalamnya menjadikan hampir semua transaksi dapat dilakukan pada media ini. Termasuk transaksi diri dalam bentuk pencitraan. Jutaan konten yang hilir mudik dari personal atau lembaga lama dan baru terus memenuhi ruang. Sehingga siapapun harus jeli dalam menyaring informasi tersebut. Para pencari informasi dalam dunia daring harus benar-benar melakukan kroscek agar informasinya tidak menjerumuskan.

Hal serupa juga harus dilakukan oleh brand, banyaknya para pencari informasi dan pewarta personal, perusahaan harus selektif agar konten yang diciptakannya tidak jatuh pada orang yang salah. 

6. Influencer Sejati Tidak Selalu Memiliki Banyak Pengikut
Menurut pandangan saya bukan hanya soal pengikut, tapi juga soal jenis postingan. Memang betul seorang influencer tidak harus memiliki pengikut banyak karena sifatnya yang ekslusif, bisa jadi pengikut tersebut adalah pengikut yang benar-benar fanatik dan tahu betul kapasitas seseorang tersebut. Begitu juga tidak setiap isu dari berbagai aspek harus dipostingnya. Satu isu tapi konsisten justeru akan lebih berdampak kuat pada jaringannya.

7. Menggunaan Promosi Berbayar
Salah satu pengalaman yang saya dapatkan saat berinteraksi dengan pelaku UKM adalah promosi berbayar. Promosi berbayar tertarget memiliki peluang dua kali lipat agar produk yang diceritakannya mendapat respon positif dari market. 

Dari fenomena temlen di media sosial juga tidak sedikit teman-teman yang cukup telaten dalam menceritakan produk klien. Ini menjadi pekerjaan baru tanpa harus terikat dengan perusahaan. Ini tentu diluar promosi secara terlembaga. 

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon