Komunikasi Dakwah dalam Persfektif Ali Syariati

Sumber: google earch engine
Menginjak Abad 21, Islam sebagai agama dakwah (Sambas, dalam Kusnawan, 2004:193), menghadapi tantangan yang besar. Hal ini disebabkan oleh sistem yang membantu pola hidup manusia diantaranya adalah Ekonomi, politik, sosial, Budaya dan teknologi.
Dalam bidang teknologi—di mana dakwah menggunakan perangkat teknologi dalam menjalankan fungsinya—telah mengalami perkembangan yang pesat, baik dalam pemakaian maupun dalam pergantian model. Hal ini berpengaruh terhadap proses komunikasi dakwah yang dilakukan. Di bidang ekonomi, dengan pesatnya ekonomi kapitalis menjadi persoalan tersendiri terhadap komunikasi dakwah. Pola hidup manusia tersebut telah masuk dalam perangkat global. Perubahan tersebut berpengaruh secara positif sekaligus negatif terhadap ummat Islam. Pengaruh yang negatif sesegera mungkin harus dibentengi dengan berbagai macam cara sesuai dengan prosedur.
Cara yang diajarkan Rosul untuk membentenginya adalah dengan melakukan komunikasi Dakwah. Komunikasi Dakwah tidak hanya upaya pembentengan  dari pengaruh negatif, lebih jauh merubah hal-hal yang sudah buruk menjadi baik, merekayasa sosial menuju tatanan masyarakat ideal sesuai dengan pesan-pesan Tuhan, seperti apa yang termaktub dalam firman-firman-Nya   ataupun pada sabda para utusan-Nya (Muhtadi, 2003: 15).
Komunikasi Dakwah sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Islam—baik secara teoritis maupun praktis—harus mampu menerjemahkan cita-cita yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw sebagai risalah yang membawa pada perubahan sosial, yang bisa membebaskan manusia dari berbagai macam belenggu.
Dalam dunia modern, belenggu-belenggu yang dimaksud bisa diartikan sebagai simbol dari penjajahan, penyembahan terhadap sesuatu selain Allah—yang karenanya manusia menjadi lupa kepada Allah—dalam kehidupan peradaban manusia. Dahulu penjajahan dilakukan secara fisik yang kasat mata, kini penjajahan masuk melalui ruang-ruang yang tidak kentara, bahkan tidak terasa. Penjajahan dilakukan melalui ghazwul fikri atau perang ide, yang meracuni pemikiran  masyarakat, yang pada proses kelanjutannya menjadi sebuah tindakan yang melahirkan krisis keagamaan. Krisis keagamaan dalam satu hal akan melahirkan biasnya antara yang hak dan yang batil.
Tidak sedikit orang Islam yang telah teracuni oleh pola fikir tersebut menunjukan krisis keagamaan yang serupa ketika Islam dibicarakan dengan mereka, bahwa Islam adalah sebuah keharmonisan yang mencakup sistem ekonomi yang adil, organisasi kemasyarakatan yang seimbang, hukum perdata, hukum pidana maupun hukum internasional, pandangan filosofis terhadap kehidupan beserta cara pelaksanaannya, yang semuanya terpancar dari dasar yang sama, yakni kepercayaan dan watak moral dan spiritual Islam. Mendengar semua ini, kaum terpelajar malah makin bingung. Dalam persangkaan mereka Islam telah lama mati, ditinggal zaman yang telah using (Qutb, 1980: 2). Yang dijadikan kiblat mereka adalah marxisme, Kapitalisme dengan berbagai faham terapannya. Bagaimana  kita akan bertarung melawan ideologi  lain yang berlangsung sengit  antara sistem sosial masyarakat modern yang berbeda-beda  apabila kadar keyakinan ummat terhadap agama kurang.
Dalam proses perubahan masyarakat, komunikasi dakwah memegang peran-peran strategis. Sebagai salah satu institusi sosial yang hidup di tengah-tengah dinamika masyarakatnya, komunikasi dakwah melakukan proses rekayasa sosial sesuai dengan etika serta norma agama. Karena itu, ia berfungsi sebagai pengendali perubahan terutama dalam proses transformasi nilai-nilai sosial budaya untuk membentuk tatanan baru atau membarukan kembali suatu tatanan yang dianggap telah kehilangan nilai relevansinya  dengan masyarakat, termasuk usaha membangun tatanan baru yang akhir-akhir ini lebih popular disebut masyarakat madani.
Kita melihat dan kita hayati dalam-dalam, segala aksi umat manusia menjelang millennium tiga tengah mengalami transformasi besar-besaran di berbagai bidang. Kegiatan ini menunjukan perkembangan yang pesat. Indikasinya secara sederhana dapat terlihat misalnya, berupa pesatnya perkembangan jumlah masjid, semaraknya majelis-majelis taklim, glamournya penyelenggaraan MTQ dan lain sebagainya. Akan tetapi, di balik kesemarakan yang membius seperti itu kita tidak bisa menutup mata bahwa arena komunikasi dakwah selama ini lebih merupakan ajang  masyarakat menenggak kehebatan da’i idolanya, daripada sebagai sarana mereka untuk mengkaji dan bertindak (Latif, 2000:3).
Untuk mengcounter masalah tersebut, revolusi aqidah tauhid dengan komunikasi Dakwah menjadi salah satu solusi. Hal ini dimaksudkan untuk membebaskan kembali manusia dari keterbelengguannya. Memberikan pemahaman secara benar, mengembalikan makna Islam yang telah dianggap usang juga mengarahkan ummat untuk bertindak sesuai dengan pemahaman baru.
Sepeninggalnya Nabi Agung, Muhammad SAW, Islam mengalami banyak kemajuan hingga mencapai puncak kejayaannya. Namun sejak perang Salib dan runtuhnya Khilafah Islamiyah Turki, Islam mulai mengalami kemunduran dan estafeta kemajuan dikendalikan oleh Barat.
Sampai pada akhir abad 19 kekuatan Barat masih bercokol di sebagian dunia Islam, hal ini memberikan pengaruh yang cukup kuat terhadap umat Islam, baik dalam aspek politik, ekonomi, budaya termasuk akidah. Kesan yang ditinggalkan oleh penjajah ada yang secara positif ditanggapi, tetapi selebihnya adalah negatif, yakni penderitaan yang dirasakan, sehingga menumbuhkan kesadaran dan keinginan dari umat Islam untuk bangkit kembali.
Dalam prosesnya, kebangkitan Islam dilatarbelakangi oleh kesadaran yang beragam. Ada yang dilatarbelakangi oleh kesadaran politik (nasionalisme, keinginan untuk merdeka), ada yang dilatarbelakangi oleh aspek agama (akidah yang tercemar). Tetapi secara pundamental kesadaran itu timbul atas keinginan untuk hidup bebas, merdeka, tidak mau ditindas. Di Iran, perjuangan mencapai klimaks setelah melakukan Revolusi kesadaran, yang mencapai puncaknya pada tahun 1979 dengan terjadinya revolusi pisik yang sekaligus revolusi budaya.
Revolusi Iran merupakan suatu rangkaian proses yang terpetakan dan sistematis dalam menggulingkan Rezim penguasa yang otoriter dan terbaratkan sejak tahun 1950-an (Supriadi, 2003:32). Ayatullah Khomeini merupakan aktor penting di balik revolusi Islam Iran tersebut bekerjasama dengan tokoh mullah lainnya seperti Muthahari dan Burujerdi sebagai desainer revolusi yang berada dalam barisan Mullah. Pada barisan lainnya ada Ali Syari’ati sebagai tokoh yang berada dalam barisan Intellektual, telah berjuang sejak mula untuk meluruskan pemerintahan yang dikemudikan oleh Amerika (Suwito, 2004:63). Syari’ati adalah salah satu tokoh kunci intelektual yang mampu menggerakan kaum muda dalam melakukan penyadaran akan pentingnya agama [Islam] untuk perubahan sosial politik. Dalam hal ini Revolusi  Iran bukan saja menumbangkan pemerintahan Iran yang otoriter, tetapi yang harus digarisbawahi adalah telah tumbuhnya kesadaran tentang sebuah ideologi (Islam).
Walaupun Ali Syari’ati tidak menikmati hasil revolusi, tetapi Ia berhasil mengantarkan Iran dalam melakukan revolusi, meninggalkan jejak kesadaran, melakukan Propagandanya dengan terlebih dahulu melakukan revolusi kesadaran terhadap kaum intellektual muda Iran. Gebrakan yang dilakukan Syari’ati dalam menyajikan gagasan Islam Revolusioner membawa implikasi besar dalam dinamika pemikiran di Iran. Gagasan (dakwah) Syari’ati yang berani dan brillian telah merasuk ke berbagai komponen masyarakat Iran, baik kalangan intellektual, mahasiswa, ulama, dan berbagai kelompok sosial pekerja. Dari sanalah muncul kesadaran untuk bergerak dan kesadaran kelas mulai menggeliat muncul (Supriadi, 2003:12).
Keberhasilan Syari’ati dalam melakukan propaganda terhadap masyarakat Iran, khususnya kaum muda dan kalangan Islam modern dan pedagang pasar, telah mampu mengantarkan revolusi Iran. Hal ini tidak terlepas dari kemahirannya mengemas pesan-pesan komunikasi yang disampaikan oleh Ali Syari’ati—sebagai salah satu unsur penting dari komunikasi (Mulyana, 1999:141) dan dakwah (Tasmara, 1986:39).
Adapun Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengungkap makna pesan, dan mengungkap retorika Pesan Komunikasi dakwah  Ali Syari’ati.
Metode
Untuk mempermudah dalam penelitian, penulis akan menggunakan metode penelitian komunikasi dengan model analisis wacana (discourse analysis). Terdapat empat kelebihan analisis wacana. Pertama, analisis wacana lebih bersifat kualitatif  dengan dasar analisisnya interpretasi, di mana setiap teks dapat dimaknai secara berbeda dan dapat ditafsirkan secara beragam. Kedua, analisis wacana berpretensi memfokuskan pada pesan latent (tersembunyi). Makna suatu pesan tidak hanya ditafsirkan sebagai apa yang tampak nyata dalam teks, namun harus dianalisis sebagai apa yang tampak bersembunyi. Ketiga, analisis wacana tidak hanya menyelidiki  apa yang dikatakan (what), tetapi juga  bagaimana ia dikatakan (how). Dalam kenyataannya, yang penting bukan apa yang dikatakan oleh media, akan tetapi bagaimana dan dengan cara apa pesan dikatakan. Hal ini disebabkan analisis wacana bukan hanya bergerak pada level makro (isi dari suatu teks) tetapi juga level mikro yang menyusun suatu teks, seperti kata, kalimat, ekspresi, dan retoris. Keempat, analisis wacana tidak berpretensi melakukan generalisasi bahkan prediksi (Sobur, 2001:70-71)Namun dalam konteks penelitian tersebut, peneliti hanya akan menggunakan dua pendekatan yaitu pemaknaan dan retorika.
Kerangka Pemikiran
Komunikasi Dakwah merupakan aktivitas sosial. Dalam proses penyampaiannya memerlukan interaksi  sosial sebagai bentuk umum dari proses sosial. Oleh karena interaksi sosial merupakan syarat utama  terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara  orang perorangan dengan kelompok manusia (Gillin dan Gillin dalam Soekanto, 1990:67).
Dalam menjalankan fungsinya, seorang individu, sejak lahir sudah berhubungan dengan manusia lainnya. Semakin bertambah usia seseorang, akan bertambah pula pengalaman dan pengetahuannya tentang hidup, juga bertambah luas pergaulannya dengan manusia lain dalam masyarakat. Diapun mengetahui bahwa di dalam pelbagai hal dia mempunyai persamaan-persamaan dengan orang lain, sedangkan dalam hal-hal lain dia mempunyai sifat-sifat yang khas  berlaku bagi dirinya sendiri  sehingga berbeda dengan orang lain. Semuanya merupakan pengetahuan yang bersifat sosiologis oleh karena ikut sertanya  Dia di dalam hubungan–hubungan sosial, dalam membentuk kebudayaan masyarakatnya dan kesadaran akan adanya persamaan dan perbedaan dengan orang-orang lain, semuanya itu memberikan gambaran tentang objek yang dipelajarinya, yaitu tentang sosiologi (Gillin dan Gillin dalam Soekanto, 1990:67). Pengetahuan-pengetahuan yang sudah diakumulasikan dari proses penyerapan terhadap masyarakat oleh penyampai pesan akan membentuk pada pandangan anggota masyarakatnya, baik yang spiritual ataupun fisikal.
Dengan berubah dan berkembangnya suatu masyarakat  berkembang pulalah dunia luar dalam pandangan seseorang yang hidup di dalamnya. Bahkan sikap mental setiap orang yang hidup terhadap alam tumbuh bersama-sama—dan  berjalan selaras dengan—lingkungan praktis yang ada di sekitarnya. Dengan demikian, dunia luar—sebagaimana yang dilihat seseorang–mencerminkan gambaran masyarakat  dan lingkungannya yang ada di alam realita maupun tersembunyi dari pandangan mata. Dalam Sosiologi, mental dan watak seseorang mencerminkan gambaran dan corak lingkungan yang mewarnai dirinya dalam bentuknya yang khas (Ali Syariati, 1992:11).
Sedangkan, bila dilihat dari persfektif psikologi, karakteristik lebih ditekankan pada penuturnya, sebagaimana halnya dijelaskan oleh Rakhmat, bahwa pemeran utama  dalam proses komunikasi adalah manusia, Rakhmat memandang komunikasi justeru pada prilaku manusia. Psikologi mulai masuk ketika membicarakan bagaimana manusia memproses pesan yang diterimanya, bagaimana cara berfikir dan cara melihat manusia dipengaruhi oleh lambang-lambang yang dimiliki  (Rakhmat, 2003:17).
Karakteristik yang dimiliki oleh seorang penyampai pesan akan berbanding lurus terhadap karakteristik pesan yang disampaikan oleh penyampai pesan tersebut. Dapat dikatakan bahwa secara psikologis setiap orang  akan mempersepsi stimuli sesuai dengan karakterisitik personalnya (Mubarok, 1994:107), sehingga akan menghasilkan pesan yang khas personal. Dalam hal ini ketika seorang penyampai pesan (propagandis/ muballigh) mempunyai latar belakang masyarakat tertentu, maka pesan yang disampaikan akan mengandung unsur-unsur yang dimiliki oleh masyarakat yang dianut oleh muballigh. Pesan yang disampaikan pun akan mempunyai karakteristik tersendiri.
Dalam bahasa ilmiah sifat khas itu disebut karakteristik, yaitu ciri khas/ bentuk-bentuk watak/ karakter yang dimiliki oleh setiap individu (atau sesuatu) ; corak tingkah laku; tanda khusus (Partanto & Albarry, 1994:306) pada sesuatu hal atau barang. Ciri khas adalah tanda khusus yang membedakan sesuatu dari yang lain (KBBI, 2003:215)..
Sedang pesan (Message) adalah salah satu, suatu komponen dalam proses komunikasi berupa paduan dari pikiran dan perasaan seseorang yang dengan menggunakan lambang bahasa atau lambang-lambang lainnya disampaikan kepada orang lain (Effendi, 1989:224), dalam pesan dakwah berarti  berupa pernyataan yang bermaterikan ajaran Islam sebagaimana tertuang dalam kitab suci Al-Qur’an dan al-Hadits (al maaddatu awil mauduu’).  Sumber pesan komunikasi dakwah diambil pula dari ayat qauniyah yaitu dari segala benda atau peristiwa  yang ada dan timbul di alam semesta (Subandi, 1994:128). Pesan komunikasi dakwah merupakan objek material dalam ilmu dakwah yaitu pernyataan antar manusia, hasil pemikiran terhadap gejala alam yang dilihat, didengar dan dialami oleh muballigh. Pernyataan komunikasi, dalam hal ini tabligh berupa bentuk lisan atau tulisan menurut Adinegoro seperti dikutif oleh Ahmad Subandi merupakan salah satu jenis dari tujuh macam pesan (Subandi, 1994:137).
Dengan pernyataan tersebut  orang dapat berkomunikasi satu sama lain. Adapun pernyataan itu timbul dari hasil proses pemikiran manusia terhadap rangsangan yang didapat dari lingkungan sekitar. Atas rangsangan tersebut manusia mempunyai kesan  tertentu terhadap apa yang ia lihat , dengar, rasa dan alami; ide tentang penyandian (pembentukan sandi) dari kesannya(Subandi, 1994:137).
Sejalan dengan itu Kant memerinci proses pemikiran atau timbulnya pemikiran manusia melalui tahapan: sensasi (stimulus yang belum tertib)---persepsi (stimulus yang belum ditertibkan)---konsepsi ­ (persepsi yang dikategorikan). Berdasarkan konsepsi inilah manusia berfikir sesuai dengan tujuan dan keinginan hidupnya (Subandi, 1994:137).
Demikian pula halnya dengan pesan komunikasi dakwah termaksud, semua bentuk pernyataan atau lambang yang menjadi pengetahuan manusia diolah kembali, atas dasar pengalaman dan rasionya yang membentuk logika (kepandaian membuat pertimbangan, pengertian dan kesimpulan  terakhir) dan dialektikanya (Subandi, 1994:133), hal ini akan melahirkan karakterisitik komunikator dalam menyampaikan pesan dan berpengaruh terhadap strukturisasi serta isi pesannya.
Ali Syari’ati sebagai seorang komunikator dakwah atau propagandis, akan mempunyai konsepsi yang berbeda dengan propagandis lainnya ketika menyampaikan, baik dari metode atau isi pesan, sesuai dengan kondisi yang mengiringinya, baik latar belakang sejarah, kondisi sosial politik, latar belakang pendidikan dan pengetahuannya, sehingga akan melahirkan karakteristik tertentu terhadap penyampaian materi pesan dsakwahnya.
Dalam menyampaikan pesan komunikasi dakwah, media memegang peranan yang penting, sebab media merupakan bagian dari sistem komunikasi atau Dakwah. Adapun media  yang dimaksud dalam penelitian ini adalah media cetak. Media Cetak merupakan salah satu media yang digunakan oleh Syar’iati. Media cetak mempunyai keunggulan karena sifatnya yang bisa dibaca berulang-ulang. Dalam hal ini media cetak, baik yang berupa buku ataupun kumpulan tulisan dan ceramah menjadi media dalam penyampaian pesan dakwah.
Komunikasi Dakwah dalam Persfektif Ali Syariati
Gambaran Umum
Ali Syari’ati dilahirkan pada 24 November 1933 di sebuah desa kecil di Kahak, Sekitar 70 kilometer dari Sabzevar (Rahnema, 2001:53) pinggiran Gurun Pasir Kavir dekat Mashad (Abidi, 1988:77) Propinsi Khorasan Iran.  Ali Syari’ati merupakan anak pertama dari pasangan Muhammad Taqi Syari’ati dan Zahra. Kelahirannya bertepatan dengan  periode ketika ayahnya menyelesaikan studi keagamaan dasarnya dan mulai mengajar di sebuah Sekolah Dasar Syerafat. Syari’ati lahir dari keluarga terhormat dan ta’at beragama, suka membantu  masyarakat dan zuhud. Dalam keluarga ini ritual keagamaan  ditunaikan secara seksama (Syariati, 2003: 15).
Menurut Ali Rahmena, Syari’ati mulai membentuk mentalitas, kepribadian dan jati dirinya lewat peran seorang ayahnya yang menjadi guru dalam arti sesungguhnya dan dalam arti spiritual (Supriadi, 2003:28). Syari’ati kecil mulai belajar menimba ilmu pendidikan dasarnya di Masyhad, yaitu Sekolah Dasar  Ibn Yamin, tempat ayahnya mengajar. Selama pendidikan dasarnya  ini Syari’ati termasuk orang yang tidak terlalu memperhatikan pelajaran seolahnya. Ia lebih senang membaca buku-buku yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran sekolah. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan milik ayahnya hingga menjelang pagi. Hal ini ia lakukan bersama ayahnya.
Begitu besar peranan Sang Ayah dalam mempengaruhi kecerdasan dan kecendikiawanan Syari’ati. Lewat ayahnya ia diajak untuk memasuki wawasan dan pandangan-pandangan dunia secara dewasa, menelaah beragam literatur yang secara bebas ia dapatkan di perpustakaan pribadi ayahnya. Perilakunya cenderung menyendiri dan perkembangan  pendidikannya di rumah membuat Syari’ati lebih mandiri di tengah masyarakat. Hal ini  kemudian melahirkan kebanggaan tersendiri yang mendalam bagi dirinya (Supriadi, 2003:28).
Selain sibuk menggeluti dunia pemikiran dan aktivitas politiknya, ia pun menjadi  penyunting dua jurnal Persia serta menerjemahkan beragam buku. Di antara buku-buku yang berhasil ia terjemahkan ialah: Niyashesh (“La Piere”) karya Alexis Carrel, Be Koja Takiye Kunin?(Apa yang menjadi Dukungan Kita ?) (1961), Guerrilla Warfare karya Guevara,  What is Poetry? Karya Sartre, dan The Wretched of the Earth karya Frantz Fanon. (Pinandito dalam Syariati, 1993: 3)
Sekembalinya dari Paris, ia dipenjarakan karena aktivitas politiknya di luar negeri dan setelah bebas ia memulai aktivitas mengajarnya di beberapa perguruan tinggi dan beberapa tahun kemudian ditempatkan di Universitas Masyhad (Supriadi, 2003:39). Ia langsung mengabdikan diri untuk membina angkatan muda. Karena metoda mengajarnya yang bebas serta provokatif, akhirnya Syari’ati diberhentikan.
Dalam masanya, karena karya-karyanya dianggap membahayakan bagi rezim Syah, maka buku dan artikel karya Syari’ati untuk beberapa periode dilarang untuk dikonsumsi publik. Syari’ati bukan hanya arsitek Iran Modern (Malaki, 2004: ix),  Ia juga seorang guru, Pendakwah ( Da’i), pejuang yang  berbeda dari yang lain (Abidi, 1988:76). Beberapa intelektual menyebutnya sebagai seorang ideolog, halnya disebutkan oleh Azzumardi Azra, seperti dikutif oleh Sucipto, selain seorang Ideolog Syi’ah, Publik Speaker (penceramah umum) ia juga seorang sosiolog yang tertarik pada dialektika antara teori dan praktik, ia adalah seorang pemikir Islam Revolusioner dan Progresif (Sucipto, 2003:303).
Pembahasan
1. Analisis Wacana terhadap Pesan Komunikasi Dakwah
Analisis wacana dalam pengertian di sini tidak dimaksudkan pada asfek formal bahasa belaka, walaupun pada akhirnya menggunakan bahasa dalam teks untuk dianalisis, tetapi bahasa yang dianalisis di sini berbeda dengan studi bahasa dalam pegertian linguistik tradisional, bahasa dianalisis bukan dengan menggambarkan semata dari asfek kebahasaan, tetapi juga menghubungkan dengan konteks. Konteks di sini berarti bahasa itu dipakai untuk tujuan dan praktik tertentu, termasuk di dalamnya praktik kekuasaan (Erianto, 2000: 7). Seperti diungkapkan oleh Fairclough dan Wodak, yang dikutif oleh Erianto, bahwa analisis wacana kritis melihat wacana—pemakaian bahasa dalam tuturan dan tulisan—sebagai bentuk dari praktik social (Erianto, 2000:7).
Berdasarkan pendapat di atas, untuk mempermudah analisis atas penelitian ini, peneliti tidak menitikberatkan pada asfek formal bahasa, tetapi lebih pada konteks dan kognisi sosial yang mengiringi Syari’ati.
2. Makna Pesan Komunikasi Dakwah
Dalam analisis wacana, makna kata adalah praktik yang ingin dikomunikasikan sebagai suatu strategi semantik dalam analisis wacana tidak hanya mendefinisikan bagian mana yang penting dari struktur wacana, tetapi juga mengatur ke arah mana sisi tertentu dari suatu peristiwa (Sobur, 2001:78).
Seperti halnya memaknai Al-Qur’an, dalam mengurai makna pesan dakwah, Seperti dikatakan oleh Fachrurrozi, “memahami makna tidak sempurna di luar kerangka pemakaiannya atau tanpa memahami konteksnya”, karena makna menurut bloomfield, seperti dikutik oleh Fachrurrozi adalah apa  yang ada pada diri pembicara baik berupa kata, maupun kalimat atau respon dari pendengar. Itu artinya, Facrurrozi melanjutkan, bahwa makna di samping ditentukkan oleh konteks gramatika, juga ditentukan oleh konteks sosial dan konteks situasional. Makna terkait dengan latar belakang sosiologi, antropologi, psikologi, dan falsafah penuturnya. Ia melanjutkan sambil mengutif pendapat Wittgenstein, bahwa jangan pernah tanyakan makna sebuah kata, tetapi lihat dan amati dalam konteks apa sebuah kata digunakan. Bahasa merupakan cerminan dari sebuah kultur, makna teks dan konteks tidak bisa dipisahkan (Fachrurrozi, 2004:9). Bahasa manusia adalah simbol dari perasaan keinginan harapan dan sebagainya.
a.          Sebuah Pendekatan untuk Memahami Islam.
Pada pertengahan tahun 1960-an mayoritas mahasiswa yang telah dipolitisir pada universitas-universitas Iran betul-betul terpengaruh oleh berbagai corak ide-ide Leninisme, Maoisme dan Castroisme. (Rahnema, 2001:299) Pada sisi lain pemerintah Iran saat itu menurunkan kebijakan yang kapitalistis dan westernis di segala sektor kehidupan. Dalam kondisi inilah Syari’ati tampil ke depan, sebagai seorang yang mencoba mengambil jalan tengah antara Kapitalisme dan Sosialisme. Dan salah satu gagasannya mengenai  Eslamshenasi (Islamologi) adalah kuliah mengenai metodologi dalam memahami Islam, atau dalam bahasa tema ini adalah Sebuah Pendekatan untuk Memahami Islam.
Dalam pesannya yang analitis ini, Syari’ati mengemukakan pendapatnya tentang pentingnya pendekatan untuk memahami Islam dari banyak dimensi, karena kecenderungan muslim mengaggap Islam itu hanyalah ritual fiqh belaka, khususnya kaum agamis tradisional dan yang lain mengangap Islam sudah usang, tidak cocok dengan peradaban yang ada, yang cocok untuk diterapkan adalah budaya Barat. Dari pemahaman tersebut maka melahirkan kemerosotan, baik moral ataupun sains. Agar Islam mampu menunjukan ke jalan yang benar maka Syari’ati mengingatkan pentingnya akan sebuah metode untuk memahami Islam. Metode bagi Syari’ati dapat menyebabkan suatu bangsa maju atau mundur, seperti apa yang dinyatakannya:

“ Suatu pendekatan sangatlah sensitif, baik berhubungan dengan kemajuan atau kemerosotan. Bukan kemampuan dalam menimbulkan suatu masalah yang menyebabkan stagnasi, atau gerak dan kemajuan, tetapi agaknya metodologi yang digunakan. Dalam abad keempat dan kelima Sebelum Masehi, ada jenius-jenius besar yang  yang tidak dapat dibandingkan dengan jenius-jenius abad ke empat belas, kelima belas, dan ke enam belas. Tidak disangsikan bahwa aristoteles lebih jenius dari pada Roger Bacon. Tetapi bagaimana bisa orang–orang yang memiliki tingkat kejeniusan yang lebih rendah dari pada orang- orang seperti aristoteles, telah meletakan dasar-dasar bagi kemajuan ilmu pengetahuan; sebaliknya, para jenius besar itu sendiri telah menyebabkan ribuan stagnasi di dunia; dan sebaliknya, orang awam menyebabkan terjadinya kemajuan ilmu pengetahuan dan kesadaran bagi umat manusia?” (Syariati, 1993:80)
Dalam persfektif komunikasi dakwah, Syari’ati ingin mengingatkan tentang pentingnya pendekatan yang lain, pada satu sisi pentingnya sebuah metode penalaran, dan pada sisi lain masih ada potensi kecerdasan yang mesti dieksplorasi yaitu metode hikmah  atau kecerdasan spiritual.
Bila mengacu pada konteks pemikirannya tampaknya Syari’ati ingin menekankan pentingnya sebuah aksi (praxis) dari gagasan. Untuk merubah kondisi yang ada, melakukan kesadaran, orang tidak saja berfikir, sebab berfikir tanpa bertindak adalah percuma.
b.         Pandangan Hidup Tauhid
Pandangan dunia merupakan sikap seorang individu dalam melakukan tindakan-tindakannya. Pandangan Hidup Tauhid sebagai pandangan dunia Syari’ati menempati posisi yang paling urgen. Menurut Syari’ati Pandangan hidup Tauhid merupakan cara kita memandang seluruh Alam Semesta sebagai suatu kesatuan:
“ Pandangan hidup saya adalah tauhid. Tauhid dalam arti keesaan Tuhan telah diterima oleh semua penganut agama monotheis. Tetapi Tauhid sebagai pandangan hidup yang saya maksudkan dalam teori saya ialah bahwa kita memandang seluruh alam semesta sebagai satu kesatuan. Jadi tidak terbagi-bagi atas dunia kini dan akhirat nanti, atas yang alamiah dan yang supra alamiah, atas ubstansi dan arti, atas jiwa dan raga. Jadi kita memandang seluruh eksistensi sebagai suatu bentuk tunggal, sebagai organisme tunggal, yang hidup dan memiliki: kesadaran, cipta, rasa dan karsa. Banyak orang yang percaya akan tauhid sebagai suatu teori religius filosofis, yang hanya berarti Tuhan adalah satu, tidak lebih dari satu”. Tetapi bagi saya Tauhid adalah suatu pandangan hidup yang melihat alam semesta sebagai suatu kumpulan yang kacau, penuh dengan keanekaan, kontradiksi dan hetegrogenitas. Tauhid memandang dunia sebagai suatu empirium, sedangkan syirik memandangnya sebagai suatu sistem feodal.”(Syariati, 2001:73)
Tauhid atau pengakuan akan keesaan Tuhan merupakan inti dari doktrin Islam. seperti apa yang dikatakan oleh Nashr,” Pembuktian dan pengakuan akan keesaan Tuhan inilah yang merupakan kredo atau inti doktrin dari Islam”. Tauhid adalah poros yang disekelilingnya semua ajaran Islam bergerak dan berputar” (Nashr, 2003:3)
c.          Manusia dan Islam
Manusia merupakan permasalahan yang sangat penting bagi Syari’ati. (Syariati, 2003:61) Dengan latar yang Dia eksplorasi dari Al-Qur’an diantaranya (Q.S 55:14) yang menyatakan bahwa manusia terbuat dari “lempung tembikar, yang ditafsirkan Syari’ati sebagai lempung endapan yang kering, kemudian Q.S. 15:26, yang menyatakan manusia diciptakan dari lempung berbau, yang ditafsirkan Syari’ati sebagai lempung busuk dan Q.S. 6:2; 23;12 yang juga berarti lempung (Syariati, 2003:61). Bahan dasar lumpur, Syari’ati menafsirkan sebagai bahan yang paling rendah, lantas ditiupkannya ruh Allah, Syari’ati menganggap awal simbol kesetaraan dan keagungan manusia. Karena bahan yang paling rendah oleh Allah disejajarkan atau disatukan dengan ruh-Nya, sebagaimana diungkapkannya;

“ Dalam bahasa manusia, lumpur adalah simbol kenistaan terendah. Tidak ada makhluk yang lebih rendah dari pada lumpur. Kembali dalam bahasa manusia, zat yang paling luhur dan paling suci ialah Allah, sedang bagian yang terluhur, tersuci dan termulia dari setiap zat ialah roh-Nya. Mansuia, wakil Allah, diciptakan dari lumpur, dari lempung endapan, dari bahan terendah di dunia, lalu Allah menghembuskan ke dalamnya ruh-Nya, yakni sebutan untuk bagian yang paling terhormat yang terdapat dalam perbendaharaan bahasa manusia Allah adalah Zat Termulia, dan ruh-Nya adalah suatu konsep terluhur sepanjang akal fikiran manusia.” (Syariati, 2003:64)  

Dari pernyataan tersebut Syari’ati membuat satu hipotesa bahwa Manusai merupakan makhluk dua dimensi dalam satu kesatuan, hal ini peneliti kira sebagai konsekuensi logis dari pandangan Tauhid Syari’ati, yang memandang tidak adanya pertentangan antara bumi dan langit antara tanah—walaupun dari sudut pandang tertentu rendah, tetapi dalam pandangan tauhid adalah sama posisinya sebagai makhluk Tuhan, bahkan mendapatkan kemuliaan dengan disandingkannya bersama ruh Allah.
d.         Wajah Muhammad
Islam merupakan agama penyempurna sebelumnya, adalah pesan tersirat dalam wajah Muhammad (the vissage of Muhammad). Dengan menggunakan penalaran komparasi, Syari’ati memperaktekan pendekatannya untuk memahami Islam. Hal ini dimaksudkan untuk melihat kelebihan Islam sebagai agama penyempurna dari agama sebelumnya. “Islam singkatnya satu-satunya agama di dunia ini dengan beberapa dimensi“(Syariati, 2003:129). Begitu ungkap Syari’ati. Kesimpulan ini merupakan hasil komparasi dengan agama lainnya.
Peneliti menangkap pesan dari pernyataan-pernyataan Syari’ati, bahwa Diri Nabi Muhammad merupakan penyempurna para Orang besar, nabi sebelumnya. Inilah wajah Islam. Islam tidak sekedar fiqh, Islam tidak sekedar spiritual, Islam tidak sekedar perang, Islam tidak sekedar kisah, Islam mencakup banyak dimensi, Islam tidak hanya memberi arah pada hidup individu tapi Islam sekaligus memberi arah pada masyarakat, Islam tidak hanya memberi arah pada ekonomi tapi Islam pun memberi arah pada politik dan pendidikan, Islam tidak hanya mengatur urusan akhirat tapi Islam pun megatur urusan dunia, Islam tidak hanya sekedar Agama, di dalamnya tercakup hukum-hukum dari banyak dimensi hidup yuang mengatur keseharian ummat manusia. Dan dimensi-dimensi ini diwakili oleh simbol-simbol Islam; Allah, Al-Qur’an, Nabi Muhammad SAW, Para Shahabat penerusnya, Kota yang ditinggalkannya, serta ummat-ummatnya. Islam Tidak hanya mengajarkan amar ma’ruf (Humanisasi), tapi juga sekaligus, nahyi munkar (Liberasi) dan (tu’minubillah) transendensi, begitu pendapat Kuntowijoyo.
e.          Qabil dan Habil
Kisah Qabil Habil menunjukan bahwa yang melatarbelakngi pembunuhan Qabil dan Habil tidak sekedar alasan seksual dan ekonomi. Penafsiran terhadap urusan seksual dan ekonomi belaka menurut Syari’ati terlalu dangkal, tapi kisah tersebut menjelaskan sistem kemasyarakatan kita sepanjang zaman yang merupakan dilektika antara penindas dan yang tertindas, kecenderungan manusia-manusia yang ingin berkuasa.
“ Dengan membahas kisah ini secara terperinci pertama-tama saya bermaksud untuk menolak pendapat yang mengemukakan bahwa kisah itu khusus bertujuan etis. Karena di dalamnya terkandung makna yang jauh lebih serius daripada sekedar judul suatu esai. Kedua, kisah itu bukanlah tentang pertengkaran antara dua saudara, melainkan berkenaan dengan dua sayap masyarakat manusia, dua cara produksi. Kisah itu melukiskan sejarah dua kelompok manusia sepanjang zaman, awal peperangan yang tidak kunjung selesai.” (Syariati, 2001:98)
Gambaran umum tentang struktur masyarakat yang dijelaskan oleh Ali Syari’ati dengan mengambil seting historis Qabil Habil merupakan gambaran nyata masyarakat yang ada sepanjang zaman, tak terkecuali konteks masyarakat Iran—dimana ia hidup pada saat itu. Kaum “agama” selalu berhadap-hadapan dengan agama, “Kabil” dengan “Habil”. Ini merupakan ceramah Syari’ati yang Kontroversial. Karena yang menjadi audiens tak langsungnya adalah kaum ulama yang oleh Syari’ati dianggap mewakili kaum “agama”, yaitu kaum agama yang mendukung despotisme pemerintah untuk menindas kaum agama yang kedua. Kaum “agama” diwakili oleh bal’am yaitu agamawan yang menyokong sistem kekuasaan yang menindas. Juga para fir’aun yang diwakili oleh pemerintah yang menindas atas nama agama modern. Dan kaum agama yang kedua adalah yang selalu mendukung dan memperjuangkan kaum mustadl’afin.
Dua struktur masyarakat yang selalu berhadap-hadapan secara kontradiktif ini, dua sayap manusia, dua cara produksi antara penguasa dan yang dikuasai, yang pertama selalu menindas dan yang kedua selalu ditindas, sepanjang sejarah akan selalu ada berulang-ulang, sejarah akan selalu hadir dalam masyarakat.
f.                    Menanti Agama protes
Menanti agama “protes” merupakan doktrin eskatologi Islam dalam versi Syari’ati. Syari’ati mensejajarkan dengan konsep imam zaman, akhir dunia dan revolusi terakhir. Dalam ceramahnya tentang Qabil-Habil, dengan berdasarkan pada keyakinannya akan menangnya Keadilan Allah, merupakan yang akan terjadi di masa depan,” Sejarah menunjukan bahwa umat manusia selalu berpegang pada prinsip bahwa keadilan, kebenaran dan kebebasan pasti akan menang di masa depan”(Syariati, 1993:62). Islam merupakan agama masa depan, yang selalu melihat masa depan tanpa meninggalkan sesuatu hal yang baik di masa lampau.
Dengan ciri khas analisis kelas yang selalu dihadap-hadapkannya, Syari’ati mengklasifikasikan penantian menjadi dua jenis, yakni jenis penantian yang negatif, membuat umat menjadi semakin jumud, terbelakang, dan merosot secara moral. Doktrin eskatologis negatif dimanfaatkan oleh kaum “agama” untuk melanggengkan status quo, menindas rakyat demi kepentingan pribadi dan kelompoknya. Konsep penantian yang negatif ini membuat umat statis, tidak mempunyai harapan masa depan. Ia merupakan penyebab kerusakan terbesar. Sedang jenis penantian yang positif merupakan penyebab gerakan terbesar, dan inilah yang melahirkan Islam sebagai agama protes. Penantian yang positif akan memberontak terhadap keadaan dan kondisi para kaum “agama” yang lalim dan menindas. Islam tidak pernah membiarkan suatu ketidakadilan membumi, Islam tidak membiarkan manusia ditindas oleh manusia lainnya, Islam tidak pernah membiarkan kejahilan dan maksiat merajalela di masyarakat, karena islam hdir untuk membebaskan umat manusia dari berbagai penindasan dan ketidakadilan yang seenang-wenang.
“Kita dapat melihat bahwa “penantian” merupakan sebuah pukulan terhadap realitas-realitas yang sampai sekarang mendominasi dunia, sejarah dan Islam. “Penantian” adalah suatu jalan untuk mengatakan “tidak” terhadap realitas yang sedang berlaku. Kenyataannya bahwa seseoang yang sedang menanti adalah suatu bentuk sanggahan atas kondisi yang ada sekarang.” (Syariati, 1993:66)
g.         Ideologi
Diperkirakan Inilah ceramah yang mendorong Syari’ati dicap sebagai seorang ideolog, kendatipun ia seorang ilmuan, tetapi ketika Islam menyentuh dengan sejarah dan masyarakatnya, ia berubah menjadi seorang idelolog. Di tangan Syari’ati, Islam dijadikan sebagai ideologi yang memihak, memihak terhadap kebenaran, keadilan, kesetaraan, kebebasan kaum tertindas. Islam tidak hanya sebuah tradisi dan ritual tapi juga menjadi ruh penggerak orang-orang yang tertindas, Islam di tangan Syari’ati menjadi praxis sosial dan menjadi kekuatan politik yang memihak.
Ideologi pada hakikatnya mencakup keyakinan, tanggung jawab, keterlibatan dan komitmen (Syariati, 1993:161). Menurut Sudjana, ideologi bagi masyarakat tersusun dari tiga unsur yaitu 1) Pandangan hidup (world view), 2) Nilai-nilai, dan 3) norma-norma. (Sudjana dan Eldine, 2003: 69). Pandangan hidup, nilai dan norma adalah sesuatu yang seharusnya inheren dengan sikap masyarakat, oleh karena itu Ideologi mesti memihak terhadap nilai. Islam yang di dalamnya terdapat pandangan hidup, nilai dan norma dalam pengertian ini sudah barang tentu harus menjadi basis dari ideologi, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para pendahulunya. Dalam Islam terkandung nilai-nilai keadilan, kesetaraan dan kebebasan. Dan itulah yang diperjuangkan oleh Syari’ati, ideologi yang memihak terhadap keadilan, kebebasan, kesetaraan, yang seringkali direnggut oleh Fir’aun, Qarun  dan bal’am dari  massa untuk mempertahankan status Quo. Ideologi yang semacam inilah yang sesuai dengan agama, di mana Islam sebenarnya sebagai cita-cita dan filsafat utama dan spirit dari kebenaran dan gerakan ini (Syariati, 1993:163).
“Lantas bagaimana dengan status quo dan bagaimana seharusnya? Inilah yang harus digarap oleh ideologi. Mempunyai ideologi berarti mempunyai kesadaran yang waspada tentang bagaimana mengubah status quo. Ideologi menerangkan status quo, bersama-sama degngan keadaan dan tahap-tahap sosial, historis, geografis dan politis dari para pembela status quo, dengan situasi mereka jika dibandingkandengan kelompok-kelompok yang juga terlibat dalam masyarakat yang sama. Ideologi juga dapat menafsirkan kondisi dan pentahapan seseorang tentang kelompok, kelas, daerah dan  bangsanya. Ideologi dapat memberikanjaaban terhadap berbagai maslah yang berkaitan dengan kemanusiaan, kelompok kelas-kelas sosial dan alam.” (Syariati, 1993:183).
Bagi Syari’ati, 1000 orang filosof tidak akan berguna untuk mengarahkan perubahan dalam masyarakat. Filosof yang hanya merenung dan berfikir kadang meresahkan masyarakat tidak pernah menyentuh kebutuhan dan apa yang dirasakan masyarakat. Bahkan Syari’ati menuduh justeru para pilosof adalah kawan seiringnya para penegak status quo. Hanya Rausyanfikrlah yang diharapkan Syari’ati menjadi seorang ideolog. Sebab ia mampu merasakan akan kebutuhan serta keadaan masyarakatnya.
3.  Retorika Pesan Dakwah Ali Syari’ati
Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan retorika sebagai  keterampilan berbahasa secara efektif, studi tentang pemakaian bahasa secara efektif dalam karang-mengarang dan seni berpidato yang muluk-muluk (KBBI 2003, 953). Retorika yang dimaksud dalam penelitian ini adalah penggunaan metafora, kiasan, analogi—sebagai  bagian dari seni retorika yang dimaksud dalam analisis wacana. Kiasan, ungkapan, metafora yang dimaksudkan sebagai ornamen atau bumbu dari suatu berita. Akan tetapi, pemakaian metafora tertentu bisa jadi menjadi petunjuk utama untuk mengerti makna suatu teks, sebagai  landasan berfikir, alasan pembenar atas pendapat atau gagasan tertentu kepada publik (Erianto, 2000: 259).
Dalam pesan-pesan tertulisnya, Syari’ati menggunakan bantuan retorika—dalam hal ini; cerita, kisah, analogi, metafora untuk membantu memudahkan pengertian yang dimaksudkan dalam ceramah Syariati. Kiasan-kiasan ini peneliti temukan hampir dalam setiap tulisan yang diteliti.
Misalnya, dalam ceramahnya tentang sebuah pendekatan memahami Islam, Pendekatan atau metode Syari’ati analogikan dengan sebuah jalan:
“ Berfikir dengan benar adalah seperti berjalan dengan benar. Seseorang yang berjalan lambat dan pincang tetapi meilih jalan yang lurus dan benar, akan sampai ke tujuan lebih cepat daripada seorang  seorang juara lari yang berlari di atas jalan bebatuan. Sang juara tidak akan sampai ke tujuan, seberapa cepat pun ia berlari. Sebaliknya, pelari yang pincang, yang telah memilih jalan yang benar, akan mencapai maksud dan tujuan”. (Syariati, 1993: 81)
“ Agama serupa individu. Berbagai karya dan pemikiran agama adalah kitabnya yang membentuk suatu madzhab serta mengajak manusia untuk mengikutinya. Biografi dan gambaran agama membentuk sejarahnya”. (Syariati, 1993: 84)
Ketika memberikan penjelasannya tentang pandangan hidup tauhid, Syari’ati menganalogikan:
“ Hubungan manusia dan Tuhan, antara alam dan meta alam, antara alam dan Tuhan—sebetulnya saya segan untuk mepergunakan istilah-istilahini—adalah bagaikan hubungan antara cahaya dan pelita yang memancarkannya. Atau seperti hubungan antara kesadaran seseorang mengenai tangannya dengan tangannya itu sendiri”. (Syariati, 2001: 74)
Dalam menjelaskan “Wajah Muhammad” Syari’ati menggunakan majas perbandingan:
“ …Seorang yang mengalami pedihnya lapar, haus, sakit, tunaisma, tunasandang, cekikan penindasan, pengangguran, penghisapan, kungkungan, keterbelakangan dan ratusan penderitaan, kepedihan yang nyata  dan api panas yang tertumpah sampai ke sumsum tulangnya; dan ia melihat bahwa ada ribuan kemewahan dalam hidup yang sama di atas planet yang sama dan di klong langit yang sama dan ia tersingkir darinya, maka ia tak pernah memikirkan dan melihat baju dan tanpa makanan di kedinginan, dan memandang wajah tak berdosa dari anaknya yang menderita dengan bibir gemetar yang membiru dan air mata di sudut matanya telah membeku, tidak akan pernah pergi mencari Nirwana seperi yang dilakukan Budha, sang Pangerandari Benares. Iaa meninggalkan anak isteri dan rumahnya. Ia pergi mencari api yang temarang yang membakar dalam nyala yang memberikan kehangatan hidup, api yang mestinya menyebabkan ia terbakar di dalamnya dalam pengertian realitas. Baginya derita tanpa sakit, kebutuhan tanpa keperluan, kesedihan yang indah dan puitis adalah khayali”. (Syariati, 2001: 121)
Dalam menggambarkan keadaan para penganut agama (Islam) pada masanya Syari’ati menganalogikan dengan mengutif Ali bin Abu Thalib, “ pakaian Islam adalah seperti mantel kulit domba yang dipakai terbalik”(Syariati, 1993:28).
Struktur masyarakat dalam kisah Nabi Adam yang Syari’ati gambarkan melalui kisah Habil dan kabil Syari’ati dianalogikan:
“Dahulu masyarakat bagaikan sekawan burung kelana, melintas di atas gurun tandus, menukik di tepian sungai dan pantai samudera, seiring dan setujuan. Tetapi sekarang, demi seonggok bangkai yang berujud harta pribadi dan nafsu monopoli, burung-burung pemberang itu harus saling mencakar, bertarung gencar, membinasakan satu sama lain” (Syariati, 2001: 92).
Dalam memahamkan konsep keterasingan yang diakibatkan oleh modernitas Syari’ati menganalogikan dengan birokrasi dan berjalannya mesin yang bergerak secara mekanis tanpa kreatifitas dan kebebasan.
Retorika tidak hanya pada penggunaan metafora atau bentuk kiasan, tapi juga penggunaan kata ganti orang. Dalam memposisikan dirinya, Syari’ati kadang membuat jarak dengan para audiens dengan mengganti kata dirinya dengan “saya” dan dengan kata ganti pertama jamak dengan “kita”, dengan menggunakan kata ganti “kita” posisi Syari’ati seolah-olah merupakan menjadi bagian dari audiens, ini merupakan strategi komunikasi yang persuasif.
Syari’ati sebagai komunikator memposisikan dirinya sebagai komunikator yang aktif sehingga seolah terjadi proses dialogis saat komunikan membaca teks tulisan Syari’ati. Nuansa interaksi ini terlihat dari kata-kata yang digunakan Syari’ati dengan kata sapaan kepada pembaca seperti  saya, anda, kita dan sebagainya. Begitupula pada bentuk-bentuk lain misalnya pada kalimat yang memaksa pembaca untuk memberikan feed back.  Pada sebagian tulisan yang diteliti ada sebagian ceramahnya yang membuka dialong langsung. Hal ini dapat dilihat adanya bentuk pertanyaan.
Ekspresi Syari’ati mempunyai banyak bentuk diantaranya pemakaian kata yang berlebihan (hiperbolik), pengulangan (repetisi), ejekan (ironi), dan gaya retoris kiasan (metafora).  Seperti dikutif beberapa contoh di atas.
PENUTUP
Peneliti dapat menyimpulkan bahwa karakteristik pesan komunikasi dakwah dalam ceramah-ceramah Syari’ati dari sisi isi tidak lepas dari konteks Islam Ideologis dimana seluruh wacana, selalu ditarik pada domain keislaman. Bagi Syariati, Islam harus menjadi basis pergerakan, harus menjadi sumber nilai bagi setiap penganutnya. Hal ini berangkat dari realitas sosial masyarakat Islam yang dilihat oleh Syari’ati yang hanya menganggap dan memperlakukan Islam hanya sebagai budaya, hanya sebagai ilmu tanpa ada praksis, karena pengaruh ideologi Komunisme dan kapitalisme.
Hal lain yang menjadi Karakteristik pesan komunikasi dakwah Syari’ati adalah bersifat kritis terhadap budaya dan ilmu yang sedang berkembang yang mempunyai kecenderungan merusak lingkungan sosial. Sehingga peneliti menyimpulkan bahwa pesan komunikasi dakwah yang disampaikan oleh Syari’ati bersifat sadar budaya dan tradisi sehingga dari sisi personal Syari’ati dapat digolongkan kepada komunikator yang nasionalis dan sadar akan tradisi leluhurnya.
DAFTAR PUSTAKA
Abidi, A.H.H. (1988)  Dr. Ali Shariati: The Man and His Ideas  dalam Islam  and The Modern Age. New Delhi : Quarterly Journal, Zakir Husain Institute of Islamic Studies, Jamia Millia Islamia, Jamia Nagar.
Dahlan, Alwi (ed.) (2003)  Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga, Balai Pustaka: Jakarta.
Effendi, Onong Uchjana  (1989)  Kamus Komunikasi, Bandung: Mahdar Maju.
Efendi, Onong Uchyana (2000) Ilmu, Teori dan Pilsafat Komunikasi, Bandung: Citra Aditya Bakti
Erianto. 2000. Analisis Wacana. Yogyakarta: LKiS.
Fachrurrozi, Aziz (2004) Memahami Ajaran Pokok Islam dalam Al-Qur’an melalui  Kajian Semantik. Jakarta: Pustaka Al-Husna Baru.
Kusnawan, Aep., et.al. 2004 Komunikasi dan Penyiaran Islam. Bandung: Benang Merah Press.
Latif, Yudi (2000)       Menuju Transformasi Dakwah Islam, Masih Berkutat di lingkungan cuap-cuap dalam Dakwah Kontemporer, Bandung: PUSDAI PRESS.
Mubarok, Achmad (1994) Psikologi Dakwah, Jakarta: Pustaka Pirdaus.
Mulyana, Deddy (2000) Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, Bandung: Remaja Rosda karya.
Nasr, Sayyed Hossein (2003) The heart of Islam; Pesan-pesan Universal Islam untuk Kemanusiaan, Mizan, Bandung.
NS, Suwito ( 2004) Transformasi Sosial. Yogyakarta:Unggun Religi.
Partanto, Pius A . dan Al-barry, M. Dahlan (1994) Kamus Ilmiah Populer. Surabaya: Arkola.Qutb Muhammad (1980) Salah Paham terhadap Islam,  Bandung: PUSTAKA. Diterjemahkan oleh Hersri.
Rahnema, Ali. 2001. Ali Syariati, Biografi politik Intelektual Revolusioner. Jakarta: Erlangga.
Rakhmat, Jalalludin (2003) Psikologi Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Saepul Muhtadi, Asep (2003) Metode Penelitian Dakwah, Bandung: Pustaka Setia.
Sobur, Alex (2001) Analisis Teks Media.  Bandung:Remaja Rosdakarya.
Soekanto, Soerjono (1990) Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: Rajawali Press.
Subandi, Ahmad (1994) Ilmu Dakah Suatu Pengantar, Bandung: Syahida.
Sucipto, Heri (2003) Ensiklopedi Tokoh Islam dari Abu Bakr sampai Nashr dan Qardawi, Hikmah Kelompok Mizan, Bandung.
Sudjana, Eggi dan Eldine, Achyar (2003) Ideologi dalam Persfektif Islam, Bogor: Esab.
Supriadi, Eko. 2003. Sosialisme Islam Pemikiran Ali Syariati. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Syariati,  Ali (2003) Kemuliaan Mati Syahid. Jakarta: Pustaka Zahra.
Syari’ati, Ali (1992) Rasulullah SAW Sejak  Hijrah hingga Wapat; Tinjauan Kritis  Sejarah Nabi  Periode Madinah, Bandung: Pustaka Hidayah.
Syariati, Ali  (1993) Islam Agama Protes. Jakarta: Pustaka Hidayah.
Syariati,  Ali (2001) Paradigma Kaum Tertindas, Sebuah kajian Sosiologi Islam, Jakarta: Al-Huda.
Tasmara, Toto (1986) Komunikasi Dakwah. Jakarta: Gaya Media Pratama.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon