Nasihat Copy Paste


Siapa yang tidak melakukan copy paste (copas) hari ini? mungkin naif jika jawabannya tidak sama sekali. Setidaknya copy paste informasi. Sah saja copas informasi apalagi dibagikan di grup yang tepat. Dari copas-copas tersebut ada suatu yang kita dapat, misalnya info lowongan kerja, info lomba, info sim keliling, info rekayasa lalu lintas, info banjir, info macet dan lain-lainnya. Info-info tersebut semu orang membutuhkannya. Tidak peduli info tersebut berasal dari mana, karena sifatnya informative setiap orang bisa menerimanya.

Dan copas mengcopas ini seperti sudah lumrah di era digital. Bukan hanya informasi tak bertuan, informasi yang punya hak cipta saja dikopas demi menaikan rating pembaca.

Tapi bagaimana jika copas nasihat, copas siraman rohani, copas renungan iman, dan semacamnya? Sebuah pesan yang lebih menitikberatkan pada perubahan perilaku seseorang, bukan hanya informasi. Setiap orang copas dan membagikannya digrup? Di broadcast ke setiap grup yang ada dalam kontak grupnya.

“Copas dari grup sebelah”

“Copas dari grup sebelah”

Begitu kira-kira kalimat pembukanya, sudah copas bilang-bilang lagi. Sebuah fenomena media social. Saking fenomenalnya, tahun 2009, di Barat sana muncul agama copy paste yang mendapatkan legalitas dari negara. Setiap copasan tersebut hampir serupa masuk ke beberapa grup dalam aplikasi masanger WA saya. Karena isi beberapa  pesan tersebut adalah nasihat, saya berfikir, bukankah sebuah pesan itu akan bertenaga jika disampaikan oleh seorang yang ekspert dibidangnya? Sesuai dengan ilmu dana atau kemampuannya? Dan berasal dari siapa pesan tersebut? Tidak jelas, pesan tak bertuan.

Bagi saya pesan-pesan nasihat itu hampa, tanpa jiwa. Mungkin saya termasuk seorang konservatif yang harus merujuk pada seorang yang jelas latar belakangnya saat menerima nasihat agama. Jika ia orang yang ekspert, pesan itu akan masuk langsung bukan hanya ke dalam otak tapi juga ke dalam hati. Ini sudah menjadi hukum dalam komunikasi. Factor ethos, pathos, dan logos masih menjadi madzhab kuat agar pesan tersebut bisa diterima dengan baik (efektif). Sehingga kurang bisa menerima pernyataan dari filsuf,’’Embil pesannya lupakan orangnya”.

Apalagi jika pesan yang sama beberapa kali diterima dalam grup, bukan hanya tidak bertenaga, tapi sangat membosankan. Maka sia-sia lah copasan tersebut.

Jika pun mau berbagi, selain sesuai ekspert, ya ada usaha sedikit. Membuat tulisan sendiri misalnya. Mau ngetik cape-cape di grup WA? Sudah tentu dengan mengeluarkan tenaga ekstra tersebut, pesannya menjadi sangat bertenaga. Karena copas tidak mengeluarkan tenaga ekstra, wajar, mungkin hukum alam, jika pesannya pun tidak bertenaga. Persis seperti yang saya rasakan.

Mau nasihatnya bertenaga dan mengubah seseorang? Ngetik sendiri dari referensi yang bisa dipertanggungjawabkan, jangan copas bro! Jika gak mau cape, jangan salahkan pembaca jika pesannya diabaikan orang.***[]


Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon