Bulan Suci Bulan Konsumsi


Sumber gambar: islamidia.com
Rahmat, berkah, dan ampunan adalah tiga frasa yang sering kita dengar menjelang ramadhan. Sebagai bulan Rahmat hampir setiap muslim pada bulan ramadhan berbuat kebaikan kepada sesamanya; memberi santunan, menyediakan takjil untuk pejalan kaki, berbuka bersama anak yatim, dan lain sebagainya, atau memberikan bingkisan kepada tetangga. Tidak hanya mengasihi sesama, umat muslim juga mengasihi dirinya sendiri dengan cara memperbaiki diri; tadarus, sholat malam, mengikuti kajian ramadhan, pola hidup sehat, memperbanyak ibadah Sunnah atau ibadah wajib.

Sebagai bulan berkah, bertambahnya rezeki dirasakan oleh sebagian kaum muslim, sejak awal ramadhan tidak sedikit yang terjun membuka usaha. Begitu juga nonmuslim turut merasakan keberkahan ramadhan.  Banyak penjual makanan, toko oleh-oleh, fashion, atau retail yang turut kebahagian berkahnya termasuk produsen-produsen sandang dan pangan besar. Yang tidak punya kegiatan usahapun menjadi pengusaha dadakan dengan menjadi pedagang kolek, parcel, atau usaha lainnya.

Sebagai bulan ampunan, pada 10 hari terakhir puasa sudah mulai memburu malam lailatul qodar. Bahkan sudah didengung-dengunkan pasca malam nuzulul qurán. Setiap muslim banyak yang melakukan itikaf di masjid. Porsi ibadah juga ditambah, tadarus ditingkatkan agar cepat khatam, amal baik dilakukan dengan memberi santunan. Tidak sedikit juga yang berbuka bersama anak yatim baik dengan langsung mendatangi panti asuhan ataupun anak yatim yang datang ke rumah. Sebagian lagi berlomba-lomba memperoleh ampunan dengan memburu lailatul qadar. Mereka juga melakukan itikaf di masjid.

Terlepas dari tiga karakteristik bulan ramadhan. Satu fakta yang menjadi keseharian masyarakat muslim, khususnya di Indonesia adalah hiruk pikuknya kehidupan konsumtif. Sehingga bulan rahmat dan berkah juga berlaku dalam hal konsumsinya yang meningkat. Awal pertama ramadhan yang disebut sebagai munggahan bagi urang sunda selalu dicirikan oleh meningkatnya minat belanja. Khususnya belanja pangan. Wajar jika menjelang ramadhan harga-harga meningkat karena banyaknya permintaan. Harga daging melonjak dengan tajam hingga terjadi kelangkaan.

Pada warung-warung tradisional, jenis konsumsi pun bertambah dengan bahan kolak, sirup, es campur, ataupun es buah. Para penjual takjil dan menu buka puasa dadakan kaki lima memenuhi jalan-jalan. Mereka seakan tidak ingin ketinggalan berkah momentum ramadhan.  Di warung modern bahan pangan dan konsumsi lainnya didiskon besar-besaran dengan berbagai jenis kemasan; harga heran, harga heboh, diskon 50%, beli dua dapat satu, dan lain sebagainya.

Bukan hanya di toko retail, para produsen juga dengan gencar mengajak konsumen untuk merasakan produk-poruknya. Hampir setiap waktu iklan-iklan produk memenuhi ruang televisi, halaman koran dan majalah, juga space di media online. Program-program televisi pun bertambah dari mulai kuis ramadhan, sinetron ramadhan, acara sahur, dan siraman rohani yang muncul setiap menjelang magrib dan sahur. Bahkan kotak ajaib tersebut mengondisikan ramadhan jauh sebelum hari H puasa. Iklan-iklan menebarkan rasa senangnya akan kehadiran ramadhan. Hampir semua tayangan selalu dikaitkan dengan kondisi masyarakat yang sedang berpuasa.

Iklan-iklan televisi begitu rupa dari menebarkan pesan ‘’don’t judge by its cover”, pentingnya tolong menolong sampai iklan syrup dan minuman berenergi yang menyebarkan pesan, “jika ingin kuat puasa minumlah produk INI sehingga tetap terjaga produktifitas kerjanya, atau dengan frasa “untuk mengganti ion yang hilang dalam tubuh selama puasa minum produk INI”.
Ramadhan, Bulan Belanja.

Televisi masih menjadi media paling popular di Dunia, menurut John Vivian (2008) tingkat penetrasi televisi masih berada pada posisi nomer satu dibandingkan media lainnya termasuk internet. Di Indonesia sendiri, seperti diteliti oleh Nielsen tahun 2014 tingkat konsumsinya mencapai 95% sedangkan internet hanya 33 %. Lebih tinggi dibandingkan tahun 2013 yang hanya 94 %. Dengan tingkat konsumsi tersebut, masyarakat semakin terbuai dengan sajian-sajian televisi.

Tidak dinafikan jika ada beberapa program positif dari televisi seperti Dai Muda, Hafidz Indonesia, Tafsir Al-Misbah, Muslim Traveler, siraman rohani setiap menjelang magrib atau sahur, dan lainnya. Tapi porsinya sangat kecil, itu pun diselingi dengan berbagai iklan produk. Sehingga nuansa ramadhan hanya terasa saat tayangan agama saja. Selesai tayangan nuansanya diganti dengan nuansa konsumtif iklan yang menggempurnya tanpa henti.

Majalah Mix edisi 17 Juni -15 Juli mengulas tentang banyak Brand yang memanfaatkan momentum ramadhan. Bahkan salah satu produk kecantikan menjadikan momentum ramadhan, khususnya menjelang lebaran sebagai bulan marketing. Ini menunjukan jika momentum ramadhan dijadikan sebagai bulan khusus untuk menggenjot penjualan. Setiap brand berusaha untuk menarik dan membius konsumen agar hidup konsumtif.

Bagi Idi Subandy, seorang peneliti media, media popular tersebut tak ubahnya sebagai media promosi gaya hidup. Sehingga momentum ramadhan diterjemahkan oleh konsumen sebagai realisasi gaya hidup. Bukan lagi sebagai rahmat dan berkah dalam konteks menyelamatkan diri dan banyak berbagi. Sebagai bulan gaya hidup, Bulan ramadhan pun berubah menjadi bulan belanja, bulan konsumsi.

Hal ini diperkuat oleh catatan dari Google Internal Data pada tahun 2015,  pada bulan suci justeru banyak orang berlomba-lomba untuk berbelanja. Seperti dikutip oleh majalah mix & marketing edisi Junu-Juli 2016, Peningkatan belanja ramadhan terjadi pada jenis pakaian sebanyak 29%, smartphone 17%, data 17 %, dan barang elektronik 24 %. Situs-situs e-commerce sendiri mencatat setiap minggunya terjadi peningkatan, baik dari sisi penjualan ataupun pengunjung. Menurut data google tersebut, minggu ke-2 dan ke-3 menyumbang peningkatan yang paling tinggi. Hal ini juga dibenarkan oleh Co-CEO Lazada, sebagai salah satu pemain ecommerce terbesar di Indonesia. Bahwa minggu ke-3 dan ke-4 atau dua hingga satu minggu menjelang lebaran tingkat konsumsi masyarakat Indonesia meningkat.

Tanpa harus merujuk pada data yang dikeluarkan oleh lembaga penelitian, sejak puluhan tahun lalu, atau sejak hanya ada TV hitam putih satu saluran, masyarakat Indonesia sudah memiliki kultur konsumtif menjelang ramadhan dan lebaran. Terlebih ideology konsumerisme terus menerus dihembuskan oleh media televisi  dan kini internet. Walhasil, bulan suci bukan hanya bulan untuk memperbaiki diri, bukan hanya bulan rahmat, berkah, dan ampunan. Bulan suci juga sebagai bulan konsumsi. Semoga rahmat dan berkah Allah mengampuni kita semua. ***[]

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

2 comments

Write comments
Jul 8, 2016, 8:59:00 AM delete

Iya euy, sering gagal paham. Pas bulan Ramadhan kok nafsu belanja malah sering tak terkendali ya. Yang lebih gak paham lagi adalah ramenya dar-der-dor petasan.

Reply
avatar
Abah Raka
AUTHOR
Jul 14, 2016, 5:51:00 AM delete

Iya mbak Tira bukan hanya gagal paham juga gagal perilaku hehehe..., nafsunya tambah gede menjelang lebaran...bener gak?

Reply
avatar

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon