Pembingkaian Berita, Fakta atau Mengada-ada?


Contoh #Framing, lihat perbedaan setiap gambar. Sumber: selasar.com
Istilah bingkai berita atau #framing sempat meramaikan timeline media sosial. Seminggu belakangan juga masih muncul. Hal ini terkait dengan fenomena sajian informasi yang diberitakan oleh media mainstream yang dipandang tidak lagi berimbang dan netral dalam mempublikasikan berita. 

Sebenernya gak terlalu ngeuh untuk membahasnya, karena sudah terlalu banyak yang bikin tagar dengan menggunakan istilah ini. Sampai ada yang nyinyirin dengan istilah tersebut, mungkin saking bosennya lihat timeline. Atau mungkin karena kemapanan politik statusnya terancam oleh istilah ini, entahlah.

Istilah ini sudah saya kenal sejak saya kuliah, tepatnya 10 tahuan yang lalu. Walaupun tidak pernah mempelajari secara resmi di bangku kuliah, karena kepentingan penyelesaian tugas akhir, akhirnya berkenalan juga dengan #framing. 

Apa yang disebut #framing? Benarkan media-media dengan kredibilitas tinggi yang beritanya biasa kita baca sehari-hari sebagai sumber rujukan informasi melakukan #framing.

Saya menyederhanakan istilah #framing dengan pembingkaian. Berasal dari kata #frame atau #bingkai. Tepatnya istilah ini saya ibaratkan dengan bingkai foto. Belakangan, sejak selfie semakin popular, hampir setiap orang melakukan pembingkaian. Setiap orang berusaha menampilkan sisi terbaiknya. Tidak mungkin semua sisi terlihat. Sedangkan sisi buruknya tidak dimunculkan. Tidak dimunculkan bukan berarti dihilangkan atau disembunyikan. Hanya saja fakta tentang sisi jeleknya bukan tujuan dari pembingkaian tersebut. 

Untuk kepentingan personal, demi melakukan ‘’branding’’ atas sebuah foto diri, tidaklah menjadi masalah. Toh tujuannya hanya untuk menarik perhatian dan atau like. Selebihnya untuk bersenang-senang. Tidak untuk tujuan menyampaikan fakta atas kebenaran.

Sedangkan berita yang dipublikasikan media mainstream harus memiliki muatan dan tujuan menyampaikan kebenaran. Sehingga semua informasi harus disampaikan dengan akurat. Seperti disampaikan oleh guru jurnalisme dunia, Bill Kovach, bahwa prinsip-prinsip dalam menyampaikan berita harus mengandung 9 elemen diantaranya adalah kebenaran, komitmen untuk kepentingan public, keberpihakan terhadap yang lemah, keberimbangan, disiplin verifikasi, independen terhadap sumber berita, sebagai watchdog, dan mengutamakan hati nurani, menjadi ruang terbuka bagi masyarakat. 

Beberapa elemen tersebut harus menjadi rujukan semua media dan awaknya untuk menyampaikan informasi dengan benar. Sehingga sebelum berita tersebut dipublikasikan harus benar-benar memenuhi unsur-unsur tersebut di dalamnya.

Lalu bagaimana dengan ramainya isu #pembingkaian yang dilakukan oleh media akhir-akhir ini, apakah memang fakta atau hanya mengada-ada kaum nyinyir yang dianggap nyinyir oleh mereka yang nyinyir? 

Begini,

Seperti saya ceritakan di atas, bahwa saat seseorang melakukan selfie, sudah pasti memiliki muatan untuk menyampaikan sesuatu, tidak mungkin dilakukan dengan netral, setidaknya memiliki tujuan menyampaikan sisi imutnya, sisi cantik gantengnya, sisi gagahnya, sisi seksinya atau sisi-sisi yang lainnya. Mereka melakukan #pembingkaian. 

Saat memproduksi berita, wartawan/ jurnalis/ awak media tidak dengan pengetahuan/ pikiran yang netral. Mereka membawa pengetahuan, latar belakang sosial ekonomi, politik, agama, bahkan ideologinya. Pengetahuan dan latar belakangnya tersebut berpengaruh terhadap cara ia menulis dan memublikasikan berita. Terlepas apakah ia berniat untuk melakukan pembingkaian atau tidak, terlepas ia punya kepentingan spesifik atau tidak. Apalagi jika ia punya niat dan kepentingan tertentu, misalnya kepentingan melakukan branding, mengkritisi, atau menghancurkan  reputasi orang/ lembaga.

Contoh sangat sederhana adalah saat satu media sebut saja metro TV terus-terusan memberitakan korupsi yang dilakukan oleh para pembesar demokrat. Hampir dalam setiap Headline News selalu menganggat bagaimana sepak terjak para pembesar Demokrat tersebut dalam melakukan korupsi. Pada sisi lain beberapa kader dan pembesar partai lain juga melakukan korupsi. Hanya pemberitaannya tidak secara intensif diberitakan. Kenapa? Jawabanya, karena media tersebut sedang menanamkan ideologinya dengan melakukan pembingkaian. Ini adalah fakta bukan mengada-ada. 

Satu lagi menjelang pemilu 2014 dan kini juga sama terjadinya dengan yang sedang dilakukan oleh Partai Baru, Perindo. Saat Metro TV dengan porsi yang tidak terhingga selalu melakukan laporan khusus pelantikan-pelantikan partai tersebut. Sama halnya dengan jaringan media MNC yang selalu memublikasikan kegiatan dari Perindo secara khusus. Sementara banyak partai lain yang melakukan kegiatan yang sama namun tidak dengan porsi yang sama. Ini adalah bentuk ketidakadilan yang dilakukan media. Ini adalah bentuk nyata pembingkaian.

Begitu juga saat Metro TV atau TV One kini selalu menayangkan keberhasilan-keberhasilan pemerintah sementara isu yang paling substansial tentang naiknya harga-harga kebutuhan pokok yang tidak mendapatkan porsi layak sehingga seakan-akan di media masyarakat Indonesia baik-baik saja. Ini jelas bentuk pembodohan. Inilah kenapa pada akhirnya bentuk-bentuk pemberitaan tersebut menjadi masalah. Karena menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain. 

Oke, ada yang bilang sah-sah saja karena media tersebut milik ketua partainya. Apakah memang benar demikian?  Saya bilang tidak! karena frekuensi televisi, jaringan internet, ataupun jalan raya yang digunakan untuk melakukan sirkulasi dan distribusi berita adalah milik negara, milik rakyat. Artinya bahwa mereka menggunakan fasilitas negara untuk memaksakan kepentingannya tersebut. Ini jelas tidak fair.

Secara teori, pembingkaian berita dilakukan untuk menanamkan kepentingannya secara ideologis. Apa yang dilakukan oleh media adalah saluran bagaimana media tersebut melakukan konstruksi sosial sehingga masyarakat penonton menerjemahkan, menafsirkan, atau melakukan persepsi terhadap realitas sosial sesuai dengan apa yang disampaikan oleh media. 

Kepentingan-kepentingan tersebut tidak melulu soal politik, bisa juga dalam aspek ekonomi, ideology agama, ataupun budaya. Sebagai penonton seringkali kita mengiyakan apa yang disampaikan oleh media. Jika demikian, artnya media berhasil menanamkan nilai-nilai kepentinganya kepada masyarakat. Nasdem mampu mengecoh sebagai partai restorasi sehingga masuk 10 besar, padahal sebagai partai baru. Kenapa Sekjennya tidak diberitakan besar-besaran karena telah melakukan korupsi? Inilah pembingkaian!

Dengan demikian, #pembingkaian bukan mengada-ada tapi sebuah fakta dan praktik pemberitaan yang memuat kepentingan-kepentingan dari seseorang atau lembaga tertentu untuk mengambil keuntungan dari praktik tersebut. 

Jika tidak percaya, baik akan saya bumbui dengan teori dan hasil penelitian!

Di kampus-kampus, khususnya oleh mahasiswa komunikasi, telah banyak dilakukan penelitian-penelitian tentang #framing. Misalnya penelitian tentang “Lumpur Sidoarjo VS Lumpur Lapindo” yang kedua frasa tersebut digunakan masing-masing oleh media yang berbeda, yang pertama oleh media yang cenderung pro Bakrie yang kedua cenderung anti Bakrie. 

Bahkan Agus Sudibyo (2001) memublikasikan hasil penelitiannya tentang berbagai isu pemberitaan panas sepanjang tahun konflik Aceh. Salah satu hasil penelitiannya menggambarkan misalnya; Kompas lebih banyak memberitakan bahwa pemerintah serius dalam menyikapi konflik Aceh beberapa tahun lalu, sedangkan Republika lebih banyak memberitakan jika pemerintah tidak serius terhadap kasus Aceh. Bahkan dari hasil-hasil penelitiannya, Sudibyo menyimpulkan jika media mainstream tidak berbeda dengan media partisan dalam pemberitaannya.

Pada masa pemerintahan SBY, Salvatore Simarmata melakukan penelitian #Framing atas tiga media yaitu Media Indonesia, Republika, dan Kompas. Hasil penelitian terhadap berita utamanya, Media Indonesia lebih banyak memberitakan pemerintahan dengan posisi sebagai oposan Presiden SBY, 10% beritanya menyudutkan pemerintah sedangkan Republika dan Kompas cenderung netral. Sikap politik Media Indonesia lebih cenderung memosisikan sebagai oposan:

Sikap Politik
Media Indonesia
Republika
Kompas

F
%
F
%
F
%
Oposisional
63
51,2
27
31
24
30
Netral
58
47,2
58
68,2
54
68,4
Sumber: Salvatore Simarmata (2014) 

Hasil penelitian di atas menunjukan jika media Indonesia sebagai media oposan bagi pemerintahan SBY, sedangkan Republika dan Kompas cenderung netral. Lalu bagaimana sikap Media Indonesia terhadap pemerintahan sekarang? Penonton sudah bisa menilai, apakah lebih dominan memosisikan sebagai oposisional atau netral, atau bahkan partisan. Saya sendiri menilai lebih netral bahkan cenderung sebagai media partisan yang menjadikan media tersebut sebagai Humas Pemerintah. Walaupun harus dilakukan penelitian.

Hasil penelitian ini menunjukan jika pembingkaian berita adalah fakta yang dilakukan oleh media mainstream yang harusnya mewakili kepentingan masyarakat. Hasil penelitian Salvatore tersebut bahkan, media-media umum sangat jarang menyampaikan berita yang terkait dengan kepentingan langsung masyarakat. 

Pada massa Jokowi sekarang, media umum terlalu menunjukan jika beberapa media sebagai media partisan pemerintah. Misalnya pada aksi demontrasi besar-besaran hari buruh, tidak ada media mainstream yang mengangkat isu nasional ini dalam headlinenya, bahkan televisi juga sepertinya sepi dari pemberitaan ini. Padahal gelombang aksi ini sangat jelas terjadi seperti diberitakan oleh media lain. Isu munculnya komunisme di tengah masyarakat dimana banyak buruh yang mengenakan kaos PKI juga sepertinya sepi dari pemberitaan media mainstream, keculai media online gurem. Belum lagi berita politik misalnya isu korupsi Ahok yang tidak mendapatkan porsi yang cukup untuk dikritisi oleh media.  Ini sebagai contoh pelengkap jika pembingkaian itu adalah fakta, bukan mengada-ada.

Secara teori, #Framing #pembingkaian adalah suatu metode yang dilakukan oleh media bagaimana mengkonstruksi realitas. #framing adalah cara media bercerita atas peristiwa. Cara bercerita itu tergambar dari cara melihat terhadap realitas  yang dijadikan berita. Dalam konteks sosial, seperti ditulis Berger (Eriyanto, 2002) realitas itu dibentuk secara ilmiah, tidak ujug-ujug diturunkan oleh Tuhan. Artinya bahwa apa yang kita pandang tentang dunia ini merupakan hasil bentukan dari media. Sehingga setiap orang akan berbeda memandang satu peristiwa/ realitas. Dikatakan James W Carey (Eriyanto, 2002) dalam pandangan konstruksionis, fakta adalah hasil konstruksi. Realitas bukanlah sesuatu yang terberi, seakan-akan ada, realitas sebaliknya diproduksi.

Lalu untuk apa realitas itu diciptakan oleh media? 

Secara sederhana, konstruksi realitas oleh media dilakukan untuk membuat opini atau mengalihkan isu. Dalam konteks wacana, pembingkaian dilakukan sebagai praktik kekuasaan. Sebagai penghubung antara realitas dengan kekuasaan, yaitu kontrol. Berita diciptakan untuk melakukan kontrol terhadap reaksi berlebihan atas kekuasaan.

Pembingkaian juga dilakukan sebagai praktik ideology. Strateginya adalah dengan membuat kesadaran palsu kepada khalayak bahwa dominasi itu diterima secara taken for granted, seakan-akan sudah dari sananya. Wacana dalam pendekatan semacam ini, seperti dikatakan Eriyanto dipandang sebagai medium melalui mana kelompok yang dominan mempersuasi dan mengkomunikasikan kepada khalayak produksi kekuasaan dan dominasi yang mereka miliki, sehingga tampak abash dan benar. Seperti pernah terjadi pada kasus Saeni, yang menjadi arena praktik kekuasaan media mainstream seperti Kompas dan lainnya seakan-akan berita tersebut terjadi begitu saja tanpa konstruksi. Kasus Reklamasi, saat asset negara menjadi asset corporate dan kepentingan pemodal sepertinya tidak lepas dari praktik ini. Hingga akhirnya berpengaruh terhadap reshuffle kabinet. 

Sekarang muncul kasus pembakaran Kelenteng gara-gara ada orang yang melarang adzan menggunakan speaker masjid. Media mau membawa kemana kasus ini? Juga Pilkada jakarta, main mata antara politisi dengan media akan semakin garang. Kita lihat saja!

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

4 comments

Write comments
Jul 31, 2016, 11:36:00 PM delete

lagi tren punya tipi punya partai, sekarang susah ngelihat berita yang objektif..

Reply
avatar
Abahraka
AUTHOR
Aug 1, 2016, 5:09:00 AM delete

Betul David, mereka bikin berita sesuai dengan hawa nafsunya

Reply
avatar
sri wahyuni
AUTHOR
Oct 3, 2016, 9:45:00 AM delete

setiap televisi untuk kepentingan masing" ( masing-masing kepentingan politik )...

Reply
avatar
kumpulan
AUTHOR
Dec 8, 2016, 10:43:00 AM delete

Mesti kita yang pinter-pinter milih buat plek-ketiplek percaya atau nyaring berita. Thanks for sharing, btw.

Salam,
Syanu.

Reply
avatar

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon