Writherapy, Salurkan Energi Berlebih (Negatif) dengan Menulis


Sumber gambar: psikologikita.com
Saat kuliah, teman hidup yang paling setia menemani setiap perjalanan adalah buku. Buku bukan hanya teman setia, ia juga adalah teman terbaik karena tidak pernah mengeluh untuk berbagi kisah dan ilmu kapanpun dan dimanapun. Bahkan ia tidak pernah mengeluh saat selalu dijadikan pelarian saat jenuh. Namun ternyata, bertambah jam terbang dalam membaca buku, semakin merasa banyak kekurangan, semakin merasa banyak yang tidak diketahui. Pada sisi lain bahan-bahan yang tersimpan dalam memory juga sepertinya bosan berdiam diri sehingga perlu disimpan di tempat lain.

Membaca diibaratkan dengan makan, jika sisa-sisa makanan ini tidak dibuang dari lambung, perut bisa mengeras dan menjadi penyakit. Begitu juga, bahan-bahan yang kita masukan ke dalam tubuh baik yang bersifat fisiologis ataupun psikis sebagian menjadi energy berlebih yang harus kita keluarkan dari tubuh kita. Energy yang berasal dari makanan fisik dan nonfisik tersebut berubah menjadi berbagai macam energy dalam tubuh kita, misalnya Sex atau emosi. 

Jika energy tersebut tidak disalurkan dengan tepat bisa menjadi boomerang bagi diri. Orang-orang yang stress atau depressi pada dasarnya adalah orang yang tidak mampu menyalurkan energy berlebih dari dirinya sehingga mereka tertekan. Orang yang libidonya tinggi jika tidak tersalurkan dengan baik bisa membahayakan dirinya entah dengan cara memuaskan diri sendiri atau menyalurkan kepada orang yang tidak tepat, bisa berakhir buruk.

Menurut Freud, energy yang menghancurkan ini disebut eros. Sedangkan energy yang bisa mengembangkan diri adalah Thanatos. Semua energy berlebih dalam diri kita jika tidak tersalurkan dengan baik bisa menjelma menjadi eros, tapi jika bisa disalurkan dengan baik menjadi thanatos. Bagi seseorang yang mendapatkan tekanan berat sehingga mengalami depresi, perlu mendapatkan therapy agar energy negatifnya bisa dialihfungsikan menjadi energy positif. 

Ingat satu film yang saya tonton dua minggu terakhir berjudul independence Writers. Menceritakan perjuangan seorang guru dalam mendidik anak-anak yang memiliki energy berlebih. Mereka terdiri dari siswa-siswa yang memiliki masalah hidup; ada yang dikucilkan, ada yang diusir orang tuanya, ada siswa yang ayahnya dipenjara hingga harus berhadapan dengan saudaranya sendiri, ada siswa korban konflik saudara, korban perceraian dan banyak lagi siswa yang betul-betul tidak bisa hidup dengan teratur. Namun di bawah bimbingan sang guru, anak-anak tersebut mampu menjadi siswa yang berprestasi.

Hal yang diajarkan oleh sang Guru adalah menyalurkan setiap energy berlebih tersebut melalui kegiatan menulis dan menjalin relasi persahabatan dalam kelas. Setiap tugas selalu diselipkan kewajiban melaporkan atau berbagi melalui resume dan menulis. Tulisannya lalu diceritakan di depan kelas, bahkan dikirim langsung ke seseorang yang menjadi objek dalam observasi bukunya. Kekuatan berbagi melalui tulisan dan relasi yang terjalin mampu mendorong siswa-siswa yang berasal dari latar belakang kacau ini akhirnya mendorong siswa-siswi pada kelas yunior tersebut berprestasi. Hingga akhirnya masuk koran. Dan terkenal sebagai siswa-siswi dengan latar belakang kacau namun mempu berprestasi.

Dalam sebuah buku yang saya temukan selintas di rak toko buku beberapa tahun silam dengan judul “Tidak Selamanya Diam itu Emas” menjadikan menulis sebagai bagian dari therapy. Sepertinya dalam film tersebut, menulis menjadi alat untuk menyalurkan energy berlebihnya (negatif) sehingga menjadi energy positif. Energy berlebih inilah yang menjadi kekuatan sehingga siswa-siswi bermasalah tersebut menjadi siswa/i berprestasi.

Dalam ruang-ruang kelas dan menjadi pengalaman saya saat dulu menjadi pengajar, tidak sedikit siswa yang nakal dan sulit diatur, namun jika pendekatan terhadap mereka tepat, kenakalan mereka justeru menjadi energy yang bisa membuat mereka sukses, jika dibandingkan dengan mereka yang terlalu baik (pendiam). 

Bahkan dalam buku Quantum Writingnya Hernowo, seorang peneliti psikologi melakukan eksperiment (penelitian) terhadap mahasiswa yang mengalami banyak kengerian dalam hidupnya. Mereka ditherapy dengan cara melepaskan energy negatif melalui tulisan. Dalam jangka waktu enam bulan lamanya, di antara mahasiswa tersebut sudah mulai tampak hasilnya. Selama jangka waktu enam bulan tersebut mahasiswa diwajibkan meluapkan emosinya melalui tulisan. Klinik universitas yang biasanya rutin dikunjungi oleh banyak mahasiswa yang bermasalah tersebut berkurang, dan dalam jangka waktu 6 bulan selanjutnya, mereka yang bermasalah dan sering keluar masuk klinik sama sekali tidak lagi bersentuhan dengan klinik kecuali beberapa orang saja.

Menurut Dr. Pennebaker menulis tentang pikiran dan perasaan terdalam tentang trauma yang dialami mereka alami menghasilkan suasana hati yang lebih baik, pandangan yang lebih positif, dan kesehatan yang lebih baik. Bahkan bukan hanya kesehatan jiwa, bagi Fatima Mernisi, seorang aktifis Islam dari Mesir (kalo gak salah hehe) menulis juga bisa mengencangkan kulit. 

Maka wajar jika kita lihat para penulis, katakanlah Pram, walaupun mengalami trauma yang sangat berat karena keluar masuk penjara dengan kesalahan yang tidak jelas, umurnya cukup panjang (81 tahun). Atau Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) penulis Lembaga Hidup, Tasauf Modern, atau dua novel yang telah difilmkan (Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Di Bawah Naungan Ka’bah) umurnya sampai 73 tahun. WS Rendra meninggal dalam usia 73 tahun. Sutan Takdir Alisyahbana saat meninggal berumur 86 tahun. Sekedar contoh, kalo kita lihat para penulis terkenal sepertinya mereka sehat-sehat saja sebut saja Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Dewi Lestari, Kang Abik.

Walaun tulisan ini tidak berdasarkan penelitian karena ada beberapa penulis yang mati muda seperti Soe Hok Gie, Chairil Anwar, atau Ahmad Wahib, tapi jumlahnya lebih sedikit dan ada sebab lain. Soe Hok karena racun belerang (?), Chairil Anwar karena Disentri (?) atau Ahmad Wahib karena tertarbrak (?). 

Nah, selain sebagai therapy, menulis juga menyehatkan baik psikis ataupun fisiologis kita. Ini jadi satu satu alasan, agar kita tetap menulis. Di samping juga karena hoby ataupun cari duit.***[]

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

4 komentar

Write komentar
adetruna
AUTHOR
Jul 3, 2016, 11:55:00 AM delete

artikel di atas selain informatif seputar terapi dengan menulis juga mengingatkan akan kematian hehehe...

mantap bah, teruskan dengan gayamu menulis, chayooo!

Reply
avatar
Abahraka
AUTHOR
Jul 4, 2016, 1:57:00 PM delete

Hehe jadi berubah makna nya tentang kematian kang hehehe. Iya gara2 Aya penulis muda yang meninggal nya kang.

Paingan akang awet muda dan nulis wae nya hehe

Nuhun kang...

Reply
avatar
ryokusumo
AUTHOR
Jul 5, 2016, 11:27:00 AM delete

Artikelnya sangat bermanfaat abah, jika kita sudah tdk di dunia, setidaknya tulisan kita yang akan terus dikenang, untuk itu menulislah dengan inspirasi dan menginspirasi..salam kenal, dan selamat berlebaran
Monggo mampir abah: www.ryokusumo.com

Reply
avatar
Abah Raka
AUTHOR
Jul 6, 2016, 12:47:00 AM delete

Para penulis itu walaupun telah meninggal tapi tetap abadi, dikenang terus, bahkan hidup dalam kehidupan kita sehari-hari pemikirannya.

Terima kasih pa ryo sudah berkunjung, saya sudah langsung ke TKP Pak..

Reply
avatar

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon