PHP ala Mahasiswa

sumber gambar: kampuholic.co
Siapa yang pernah kena jebakan betmen? Alias dipehapein sama temen atau sama dosen? Atau sama perusahaan tempat kita melamar kerja?

Pasti pernah dong, dari mulai sama orang yang lagi pedekate sama kita, atau yang ngeceng-ngeceng tapi ragu, terus janjiin dateng malam minggu tapi gak jadi!  Atau sekedar janjiin mau telpon, sms, atau ngasih kabar lainnya, tapi setelah ditunggu-tunggu gak kunjung ada kabar. Mungkin pengalaman ini paling sering buat para ababil atau yang lagi nyari jati diri…bener kan?

Buat yang lagi cari kerjaan, HRD juga biasanya janjiin mau telpon kita setelah proses penilaian selesai, tapi setelah seminggu, dua minggu, atau satu bulan, tidak ada kabar berita sama sekali dari perusahaan tempat kita wawacara atau nitipin lamaran kerja. Sebel ya? Pastinya…

Timeline media sosial, karena banyak berteman dengan mahasiswa, atau beberapa akun instan masanger juga sering banget nemuin status-status mahasiswa yang galau, gara-gara nungguin dosen gak juga datang, batal lagi deh bimbingannya, lama lagi deh bimbingannya karena harus reschedule bimbingan, sebel, tapi harus gimana lagi namanya juga kita yang perlu, jalanin aja iya, toh ini akan jadi cerita kita saat sidang dan saat-saat kita sukses—ya kalo sukses sih hehe…yang jelas, buat saya yang pernah jadi mahasiswa, ini bagian dari ujian, ujian yang tidak pernah tertulis saat nyusun skripsi. Dan yakin, ini bagian kecil dari yang membahagiakan kita, bahwa sidang itu bukan hanya sekedar test IQ, ujian mental sekaligus.

Biasanya di timeline atau linimasa media sosial kita, mahasiswa sering nyetatus dengan kegalauannya karena dipehapein dosen. Entah itu yang janjian mau ngumpuin tugas, tapi dosennya gak jadi ngampus karena ada keperluan mendadak. Yang mau bimbingan juga seringkali begitu. Nah, saya apakah termasuk yang suka pehapein mahasiswa? Entahlah, yang jelas jika berhalangan, saya sampaikan kegiatan saya hari itu agar mahasiswa tidak menunggu.

Justeru saya sebaliknya. Beberapa kali dipehapein mahasiswa. Seperti apa cara mahasiswa ngepehapein dosennya?

Yang paling sering adalah saat mau kumpulin tugas, besok lagi, besok lagi, dan besok lagi. Bahkan saat mau bimbingan juga, gak sedikit dari mereka menjanjikan akan datang tapi gak jadi terus, sampai setaun lamanya tugas akhir gak kelar-kelar. Bahkan teman saya, yang sudah 3 kali dipehapein mahasiswanya, padahal dia sudah sengaja datang ke kampus karena janjian, eeeh pas di kampus, mahasiswanya malah gak jadi datang. Ayo, siapa yang suka pehapein? Dosen atau mahasiswa?

Salah satu pengalaman saya yang menyebalkan karena dipehapein mahasiswa, saat mahasiswa tanya-tanya kesukaan saya apa atau ngejanjiin nanti mau dikasih sesuatu. Bukan soal gak ngasihnya, karena kewajiban dosen adalah membimbing. Tapi janjinya itu loh. Toh gak janji apa-apa juga saya tetap membimbing karena sudah menjadi tugas dan pekerjaan. ngasih gak ngasih tetap membimbin kok, percaya deh.

Bahkan pernah ada seorang mahasiswa bertanya nomer s****, saya pikir buat apa? Gak saya jawab karena merasa tidak etis, setelah didesak sampai keempat kalinya karena bertanya terus, akhirnya saya jawab. Dan keluarlah ucapan yang paling dibenci, yaitu mau dibelikan sepatu. Hmmm, dalam hati, ini anak modus banget ya…., terus setelah selesai sidang apakah nomornya datang? Gak ada kabar berita sama sekali. Beneran modus yang sudah ketauan sejak awal, tapi saya mau aja dimodusin dengan mengatakan nomornya hihihi...

Kalo itu sih mending, kita gak mikir, Cuma merasa tidak etis, setelah melakukan hal yang tidak etis
karena memberikan nomor. Kita gak mikir sama sekali.

Pengalaman yang membuat, benar-benar dipehapein mahasiswa adalah saat saya dimintai sebuah tulisan oleh mahasiswa karena dia aktif di media kampus. Saat itu, mahasiswa tahu jika beberapa tulisan saya dimuat di media cetak ternama, karena mengetahui itu, mintalah dia sebuah artikel opini, yang katanya mau dimuat di media tempat dia bernaung. Menghormati mahasiswa yang aktif, akhirnya di luar waktu kerja, saya sempatkan menulis, dan saya serahkan setelah selesai.

Saya tidak pernah mengingat-ingat apa yang saya berikan, tetapi biasanya teringatkan jika ada tanda-tanda yang terkait dengan media tersebut lewat di hadapan saya. Kejadiannya memang sudah lama sejak tulisan tersebut diserahkan, dan akhirnya melalui media sosial, saya tanyakan, perasaan dulu pernah dimintai tulisan, apa yang terjadi? Pertanyaan saya hanya di ‘R’ saja. Bagaimana rasanya? Hmmm jangan ditanya ya hehehe….rasain aja sendiri hahaha.

Padahal kalo soal layak tidak layaknya, opini saya pernah dimuat di media massa membuktikan jika tulisan saya layak. Tapi no problemo…., hanya saja saya jadi kasian, karena itu bisa jadi catetan utang dalam catatan memori saya.

Satu lagi, dengan terburu-buru seorang mahasiswa minta sebuah pendapat yang berhubungan dengan profesi atau hobi saya, ia memintanya dalam bentuk tulisan. Katanya mau dimuat untuk hari senin besok. Owh saya langsung menolak, untuk pekerjaan saja kadang sering banyak ditundanya, apalagi ini yang meminta begitu saja, belum lagi dengan pekerjaan yang menjadi kewajiban harus segera diselesaikan. Akhirnya karena memaksa, saya janjikan besok paginya. Karena ada pekerjaan dadakan, akhirnya siangnya baru bisa saya email.

Saya pun tidak ingat dengan apa yang diberikan tersebut, tapi teringatkan saat ada menyinggung-nyinggung masalah profil di media. Hmmm saya pun teringatkan pernah diminta sebuah pendapat yang profilnya akan dimuat di sebuah koran. Ternyata saat saya konfirmasi melalui media sosial. Jawabnya,”gak jadi pak”, dengan jawaban lempeng alias watados.

Dus, yang suka pehapein ternyata bukan hanya dosen-dosen yang supersibuk terhadap mahasiswanya, tapi juga mahasiswa yang supersibuk terhadap dosen-dosennya yang gak ada kerjaan seperti sayah huhuhu….

Tulisan ini bukan curhat ya, sekedar membeberkan bukti, juga untuk hiburan diri, dikala miskin ketikan jari, dan utamanya bahwa mahasiswa juga yang berposisi sering dipehapein gak selamanya selalu benar…hehehe, karena saya dulu juga pernah menjadi mahasiswa. Ternyata bisa juga sebaliknya loh…oooh jadi inget Sang Dosen Galau, Kang Arul!


Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

2 comments

Write comments
Tira Soekardi
AUTHOR
May 21, 2017, 2:33:00 AM delete

alhamdulilahnya aku mah dosennya punay jadwal pertemuan shg gak pernah di phpin

Reply
avatar
Dudi Rustandi
AUTHOR
May 21, 2017, 5:53:00 AM delete

hehe iya betul mbak, biasanya dosen suka bikin jadwal, tapi udah dijadwal, saking sibuknya jadi aja prioritas yang lain. tapi juga mahasiswa sering pehapein dosennya juga hehehe

Reply
avatar

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon