Syarikat Islam dan Kebangkitan Nasional

Tersebutlah satu organisasi yang diinisiasi oleh seorang priyayi yang menghimpun para elit masyarakat secara ekonomi, politik, maupun sosial. Pada tahun 1900-an, berangkat dari keprihatinan yang terjadi terhadap masyarakat pribumi, yang tertinggal sekaligus ditindas oleh pengusaha Belanda melalui sistem tanam paksa. Sang pendiri ingin melakukan perubahan di masyarakat melalui support para elit atau para priyayi.

Syarikat Priyayi, demikian sebutan organisasi tersebut, ternyata tidak mampu menjadi magnet bagi para priyayi untuk bergabung dan melakukan perubahan terhadap masyarakat. Tirto Adi Suryo yang menjadi penggagas tidak cukup cakap memasarkannya. Sebagai mantan jurnalis untuk media-media asing, ia tidak mampu merajut relasi dengan masyarakatnya sendiri khususnya para elit untuk mendukung perjuangannya mengangkat harkat martabak masyarakat Indonesia saat itu.

Tirto Adi Suryo tidak menyerah, setelah seringnya mendapatkan kenyataan bahwa masyarakat pekerja dibayar sangat murah, untuk sekedar makan saja begitu kesulitan. Empati ini begitu kuat. Hingga melihat kenyataan bahwa mayoritas masyarakat tersebut adalah umat Islam. Pada sisi lain, alat perjuangannya tidak mendapatkan tempat dari masyarakat, karena membawa embel-embel priyayi yang jelas punya jurang pemisah dengan rakyat jelata.

Syarikat Islam, menjadi pilihan bagi Tirto Adi Soeryo, selain untuk memperjuangkan mereka yang selama ini banyak ia saksikan menderita. Ia juga punya ekspektasi didukung oleh masyarakat yang mayoritas umat Islam. Bergantilah dari Syarikat Priyayi pun berubah menjadi Syarikat Islam.

Sejak mengganti nama syarikat priyayi menjadi syarikat Islam, respon masyarakat sangat berbeda. Banyak para pedagang dan saudagar mendaftarkan diri menjadi anggota bahkan masyarakat biasa dari kalangan muslim pun berbondong-bondong masuk organisasi yang kemudian dikenal juga sebagai syarikat dagang Islam. Karena salah satu focus perjuangannya adalah memperjuangkan ekonomi politik masyarakat muslim yang saat itu cenderung termarginalkan oleh para pengusaha Belanda dan nonpribumi lainnya.

Dalam beberapa tahun, Syarikat Dagang Islam mampu menggeser monopoli ekonomi Belanda. Dari mulai hotel, kertas, media, dan perdagangan lainnya. Hingga akhirnya Belanda merasa bahwa Syarikat Islam ini menjadi salah satu ancaman kebangkrutan ekonomi mereka. Betapa tidak, suplay kertas yang tadinya dimonopoli oleh perusahaan Belanda, kini mampu dilakukan oleh Syarikat Islam dengan membuka kerjasama internasional secara langsung dengan perusahaan asing.

Bahkan dari usaha yang dilakukan oleh SI, bukan hanya mampu memajukan ekonomi kaum pribumi. Sebagian keuntungannya juga disalurkan untuk menyokong pendidikan pribumi yang diinisiasi oleh Boedi Otomo. Pada awal-awal berdirinya Boedi Oetomo khususnya saat perjuangan dalam mendapatkan hak pendidikan, SI tampil paling depan menjadi donaturnya.

Pada sisi lain, perjuangan ekonomi politik terus dilakukan oleh SI, Boedi Oetomo berjuangan untuk mendapatkan keseteraan pendidikan untuk pribumi. SI dan BO berkolaborasi memperjuangkan hak rakyatnya.

Syarikat Islam pun berkembang dengan pesat bahkan menjadi satu-satunya organisasi yang memiliki cabang di setiap daerah, bukan hanya Jawa tapi juga luar Jawa. Hal ini dikarenakan bahasa pengantar dalam menjalankan organisasi ini menggunakan bahasa melayu yang sudah difahami oleh hampir sebagian masyarakat Indonesia; Jawa, Sumatera, Kalimantan dan lainnya.

Sayang, perjuangan ekonomi politik dianggap sebagai ancaman yang berbahaya bagi Belanda, belum lagi isu-isu yang selalu dihembuskan oleh SI melalui Medan Priyayi untuk memperjuangkan hak ekonomi, sosial, budaya, ataupun politik bangsa Indonesia. Sungguh membuat Belanda selalu merah muka. Hingga akhirnya Tirto Adi Soeryo menjadi buruan. Sebelum akhirnya dia mati oleh Agen.

Bukan Samanhudi atau HOS Tjokroaminoto yang menjadi founding father SI, ia adalah tokoh dan pahlawan pers Indonesia TAS. Pram memanggilnya Minke. Anak bupati lulusan Stovia yang tersadarkan akan keadaan bangsanya melalui perjuangan pers dan usaha ekonomi politik. Ialah yang membawa bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan melalui Medan Priyayi dan bahasa organisasi SI. Bukan bahasa Belanda, Jawa, atau Sunda yang menjadi tempat besarnya SI dan Medan Priyayi Buitenzorg atau Bogor.

Maka wajar jika seharusnya, SI mendapat tempat sebagai organisasi yang membawa kesadaran akan berbahasa persatuan. Ialah salah satu cikal bakal pembangin kesadaran nasional tahun 1908. Yang telah banyak berjasa memajukan kesadaran melalui sokongan dana langsung pendidikan Boedi Oetomo yang saat itu tak lebih dari organisasi kedaerahan, jika dilihat dari sisi bahasa-Jawa. Saat Boedi Oetomo sedang mencari langkah, Syarikat Islam sudah membukakan jalannya.

Syarikat Islam telah mendorong kebangkitan nasional, bukan hanya dari sisi bahasa, juga dari sisi rasa kebangsaan.

Maka wajar, belakangan Syarikat Islam menggugat tentang siapa pelopor Kebangkitan Nasional, bahkan banyak yang bertanya, siapa sesungguhnya pelopor kebangkitan nasional.

Rasanya tidak mungkin, Pram yang berasal dari Blora mengkhianati bangsanya, demi membela Syarikat Islam. Pelurusan sejarah ini perlu, agar semangat kebangkitan nasional tidak dinodai oleh chauvinisme.


Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

10 comments

Write comments
Anjar Setyoko
AUTHOR
May 21, 2017, 5:12:00 AM delete

Memang perlu dipertanyakan siapa pelopor dibalik kebangkitan nasional, tetapi jika dilihat secara skematis syarikat islma juga mempunyai sumbangsih pada kebangkitan nasional, bukan hanya dari sisi bahasa, juga dari sisi rasa nasionalis kebangsaan , saya juga baru tahu mas bahwa syarikat islam itu dulunya adalah syarikat priyayi,

Reply
avatar
Dudi Rustandi
AUTHOR
May 21, 2017, 5:55:00 AM delete

Ya kang, betul sekali bukan hanya dari sisi bahasa tapi juga dari sisi nasionalisme. Bisa baca buku roman sejarahnya Pramoedya Ananta Toer, dia menulis berdasarkan realitas, bahkan dari potongan-potongan koran..., terima kasih sudah mampir Kang...

Reply
avatar
May 21, 2017, 8:11:00 AM delete

Salam sejarawan . Saya juga anak sejarah . Infonya bagus.

Reply
avatar
May 21, 2017, 10:40:00 AM delete

salam sejarah pak ... artikelnya sangat bermanfaat sekali :-)

Reply
avatar
Meta Maftuhah
AUTHOR
May 21, 2017, 3:20:00 PM delete

Abah, hatur uun tulisannya mencerahkan. Jadi kebangkitan nasional teh tgl 20'Mei atau 16 Oktober? SALAM

Reply
avatar
Dudi Rustandi
AUTHOR
May 22, 2017, 7:27:00 AM delete

Salah sejarawan, saya mah bukan anak sejarah, anak komunikasi hehehe. terima kasih Ainun. Namanya bagus, mengingatkan pada Bapak Teknologi, BJ Habibie

Reply
avatar
Dudi Rustandi
AUTHOR
May 22, 2017, 7:28:00 AM delete

Terimakasih Gus Bolang...salam kenal...

Reply
avatar
Dudi Rustandi
AUTHOR
May 22, 2017, 7:29:00 AM delete

Hehe teulangkun perkawis tanggal bu, mung peloporna kedah aya pelurusan, semua organisasi saat itu banyak berkontribusi...

Reply
avatar

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon