Buku; Investasi Dunia Akhirat

Gambar: koleksi pribadi @abahraka
Waktu mahasiswa, saat belanja kebutuhan buku, senang sekali jika mendapatkan harga miring dari umumnya. Maklum, awal tahun 2000-an buku-buku sudah cukup mahal. Apalagi menjelang tahun 2017. Sulit sekali mendapatkan buku berkualitas dengan harga di bawah lima puluh ribu, rerata di atas harga tersebut. Jika pun ada buku murah, masuk kategori buku saku atau buku-buku ringan atau buku diskon sampai 50 dan 70 % masuk kategori buku yang tidak saya butuhkan.

Beberapa waktu lalu, melalui akun media sosial, tiba-tiba muncul pada temlen buku terbitan tahun 2014 yang memang sudah tidak terbit lagi dan kebetulan saya butuhkan untuk penyusunan proposal-proposalan, “Wah wah kebeneran banget nih, bukunya masih ada, walaupun harus dikirim dari luar kota,”gumam saya sambil saya klik akun yang memajang buku tersebut.

Akhirnya saya DM lah akun tersebut, tentu saja, sekalian saya ambil buku lain yang memang sudah jarang ada di pasaran. Walhasil 6 eksemplar buku dengan judul berbeda dihargai 230 ribuan. Biasanya untuk seharga itu paling hanya dapat 3 atau maksimal 4 buku dengan ketebalan yang berbeda-beda. Saya cukup girang, apalagi tahu bahwa ketebalan bukunya 300-an halaman. Hanya saja sedikit heran, kenapa 6 buku tersebut sangat murah.

Sudah senang dong, buku langka dan tebal dengan harga murah tersebut. Dan salah satu bukunya adalah buku yang akan saya jadikan referensi. Ada sedikit tanda tanya selama buku dalam proses pengiriman, “ini buku jangan-jangan memang bukan orisinil ya,”pikir saya. Dan setelah 5 hari bukunya sampai juga. Saat menerima bungkusan buku, kecurigaan saya bertambah. Karena setau saya, bukunya cukup panjang ukurannya. Sementara ini rata sama semua ukurannya.

“Jangan-jangan buku tersebut tidak ada, seperti pengalaman saat belanja online beberapa waktu lalu, setelah diterima baru bilang kalau bukunya belum ada,”gumam saya. Setelah duduk dan buku tersebut saya simpan di atas meja, akhirnya saya unboxing (hehe bahasanya!), saya sobek langsung menggunakan cutter, dan ketidakenakan saya ternyata benar, jika buku yang saya beli adalah buku bajakan, lebih tepatnya adalah repro. Saya buka satu persatu, tidak satupun buku orisinil. Selain ukuran buku tidak asli, kualitas kertas yang jauh buruk, juga warna tulisan yang bladus. Bukan hanya itu, sebagian buku terbitan lama sudah ada nama dan coretan di sana-sini sehingga kurang elok untuk dibaca. Walaupun secara substansi bisa jadi sama saja dengan buku aslinya.

Kecewa? Ya pastinya, karena dari awal transaksi saya tersugesti untuk bersemangat saat buku baru menjadi koleksi. Nyatanya tidak sama sekali. Tidaklah bertambah booster saya. Hanya berharap suatu saat nanti bisa berguna untuk keperluan kaji mengkaji.

Akhirnya saya DM lagi melalui akun medsosnya,”bukunya bukan orisinilan ya?” tanya saya.

“Iya memang semua repro, waktu itu saya gak bilang ya kalo bukunya repro bung?” balasnya sambil bertanya.

“Gak sih,” jawab saya.

“Oh maaf bung, saya gak bilang ya, bukunya repro. Kalau yang mahal jikapun bukunya masih ada mahal,”balasnya.

“Iya mahal, makanya ini saya beli, tapi ya sudah gak apa-apa, makasih ya mas,” saya mengakhiri.
Tiba-tiba saya teringat dengan status seorang penulis yang seringkali dibecandain permintaan buku karyanya saat usai cetak di penerbit. Kira-kira statusnya menyindir, “Membuat buku itu hasil kerja keras, tiba-tiba diminta gratisan, hargai kerja keras kami,”.

Saya sadar, pembajakan buku atau karya lainnya, menjadi kejahatan luar biasa. Jika pencurian barang, korban mengetahui barangnya ada yang mengambil tanpa izin, maka penulis buku, dicuri karyanya belum tentu ketahuan. Terasa saat hasil dari royaltinya tidak lagi mengalir. Rezekinya tertahan. Walaupun selalu saja ada nasihat rezeki itu sudah diatur oleh Tuhan. Tetap saja dalam kasus pembajakan buku, kejahatannya melebihi kejahatan perampokan uang atau barang. Karena bisa seumur hidup terjadi dalam hidup seorang pengarang.

Buku sebagai investasi
Jika buku diibaratkan sebagai investasi yang akan mengalirkan tiga hal; pahala, materi, serta hal lainnya yang akan membuat seseorang menjadi manusia. Pahala akan mengalir selama buku tersebut dicetak dan terus terjual. Tidak sedikit buku-buku, misalnya yang terbit tahun 1980-an sekarang masih tetap naik cetak. Apalagi buku tersebut sebagai buku rujukan yang esensi materinya masih sulit ditemukan dalam buku-buku baru. Buku-buku filsafat misalnya seringkali sulit mendapatkan terbitan yang baru dari penulis yang sudah meninggal, sehingga karya-karya lamanya tetap dicetak dan diterbitkan lagi. Tidak ada revisi. Maka selama buku tersebut dicetak, penulisnya walaupun sudah meninggal tetap akan mendapatkan royalti ke ahli warisnya.

Penulis juga menjadi populer dengan keahlian yang dimiliki, sehingga bisa jadi  sering diminta untuk mengisi berbagai seminar atau semacamnya keluar kota bahkan ke luar negeri. Lihat saja para penulis berkelas dunia atau buku-bukunya sudah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa lain.

Begitu juga dengan ilmu. Penulis meninggalkan jejak ilmu bagi para pembacanya. Sehingga menjadi pahala yang tidak berkesudahan karena selain ilmu yang langsung didapatkan dari bukunya, jika sebagai buku rujukan dan referensi maka akan diajarkan terus menerus sampai beberapa generasi. Bahkan para penuntut ilmunya turut mendokan agar pengarang mendapatkan rahmat dan selamat dari Tuhan. Al-Ghazali dengan Ihya Ulumuddin dalam bidang tasauf dan akhlak misalnya terus menerus bukunya dibaca dan dicetak. Atau melalui buku Tahafut Alfalasifahnya untuk buku filsafatnya (sanggahan terhadap filsafat). Hamka dengan bukunya yang cukup banyak dan tetap masih dicetak misalnya Lembaga Hidup, Tasauf Moderan, Di Bawah Naungan Kabah, atau Tenggelamnya kapal Vanderwijk.

Penulis yang sudah zuhud bisa jadi tidak lagi peduli apakah karyanya dibajak atau tidak. Tapi bagi penulis baru yang belajar dengan satu, dua, atau tiga terbit dan menjadi satu-satunya harapan karena menggantungkan diri dari menulis tentu menjadi hal yang sangat signifikan untuk menghidupi kesehariannya. Bagaimana jika bukunya dibajak? Hmmm tentu saja pembajak sudah menghentikan jalan rezeki si penulis, walaupun selalu ada kelakar, rezeki ada di tangan Tuhan. Yang jelas, jalan ikhtiarnya terhambat oleh si Pembajak! Nilai investasinya secara materialpun menjadi berkurang. Dunia dan immateri tetap harus seimbang tanpa saling meniadakan yang lain. Materi memang bukan segala-galanya, dan pahala menjadi income tak terhentikan, tetapi melalui materi income pahala bisa ditambah berkali lipat.

Saya hanya berharap bahwa kejadian ini tidak terulang. Agar saya tidak menghambat rezeki penulis. Karena sebagian pemberi nafas dompet saya juga dari menulis.

Penulis selain mendapatkan aliran pahala karena ilmunya bermanfaat, juga menjadi abadi karena terus diingat melalui sitasinya. 😊 Salam. #abahraka #dudirustandi ***[]

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar
Tira Soekardi
AUTHOR
Oct 30, 2017, 2:30:00 AM delete

aduh betul adanya ya, rak bukuku juga sdh mulai penuh lagi

Reply
avatar
Dudi Rustandi
AUTHOR
Oct 30, 2017, 9:15:00 PM delete

Dari karya orang lain harus diisi sama karya sendiri ya teh...

Reply
avatar

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon