Literasi Digital, Bukan Sekedar Membaca & Berbagi!

creditphoto: @ceumeta

Literasi kini menjadi istilah yang sangat familier, seiring dengan populernya media sosial. Banyak komunitas, perkumpulan, atau lembaga juga turut serta menggalakan gerakan-gerakan literasi. Bukan hanya para pegiat perpustakaan atau komunitas baca saja, juga para aktivis media sosial. Ini tidak terlepas dari banyaknya berbagai kasus yang muncul dari relasi dan transaksi yang dilakukan melalui media digital.

Banyaknya penyebar hoax tanpa disaring, nge-share berita tanpa mempelajari media dan konten apa yang dibagikan, dan tentu saja gerakan-gerakan yang lebih terstruktur yang ingin mengadu-domba masyarakat secara horizontal, memungkinkan terjadinya konflik yang tak berkesudahan. Bukan hal yang tabu, kini kita banyak berdebat-debat kusir di media sosial terhadap satu permasalahan. Padahal masalah tersebut belum tentu ada secara actual. Ia hanya dibuat untuk menggaduhkan suasana tanpa ada rujukan yang jelas dan real.

Literasi sering kali difahami sebagai kegiatan membaca dan menulis, kegiatan-kegiatan pembacaan dan kampanye membaca oleh pegiat sastra dan perpustakaan, yang mengajak audiensnya untuk membiasakan membaca dan atau menulis biasanya seringkali disebut sebagai kegiatan literasi. Padahal lebih dari itu, kegiatan membaca dan menulis tidak akan terjadi jika tidak tanpa adanya dorongan untuk melakukannya. Seseorang juga tidak akan menulis jika tidak paham pada persoalan apa yang ditulisnya. Artinya bahwa literasi bukan hanya menyoal baca dan tulis saja tetapi juga bagaimana memahami persoalan. Maka membaca dalam literasi adalah membaca dalam konteks mengkaji dan menganalisis suatu persoalan dalam kehidupan manusianya sehari-hari.

Awalnya kita mengenal istilah ini sering digunakan oleh para pegiat sastra atau pegiat pustaka baca. Bahkan jargon yang digunakan oleh pegiat pustaka tersebut adalah ‘Salam Literasi’ sambil mengacungkan jari dengan bentuk huruf L. Gabungan antara jari telunjuk dan jempol. Belakangan Literasi banyak digunakan oleh pegiat media sosial dan digital. Hal ini terkait dengan makin banyaknya perilaku-perilaku yang tidak mencerminkan sikap etis dalam berinteraksi di media sosial. Maklum, kini hampir setiap pengguna smartphone sepertinya tidak bisa menjauhkan diri dari satu aplikasi tersebut yang jumlahnya bermacam ragam.

Secara definitif, literasi dipahami sebagai kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan atau memproduksi suatu konten dalam persoalan yang sedang jadi permasalahan. Pada sisi lain, literasi juga didefinisikan sebagai serangkaian perspektif yang digunakan secara aktif untuk menghadapi terpaan pada persoalan yang dihadapi, menginterpretasi, dan atau mengcounternya.

Terkait dengan literasi digital maka bisa didefinisikan sebagai serangkaian kemampuan seseoarng dalam mengakses, menganalisis, mengevaluasi, memproduksi, menghadapi terpaan, menginterpretasi, dan atau mengcounter setiap terpaan atau interaksi dan transaksi yang dilakukan dengan media digital. Interaksi dan transaksi yang terjadi di media digital bermacam ragam dari mulai interaksi dan transaksi secara sincronus ataupun asincronus.

Komunikasi secara sincronus adalah komunikasi yang dilakukan dalam keserentakan secara waktu. Ada proses interaksi langsung dan feedback yang cepat antar manusia seakan-akan sedang melakukan percakapan antarmuka. Dalam komunikasi siber biasanya disebut sebagai CMC, computer mediated communications atau komunikasi yang dimediasi oleh computer. Mengisyaratkan adanya interaksi antarmanusia namun dimediasi oleh alat/ sarana/ media teknologi; chating, masangeran, atau lainnya.
Sedangkan asyncronus adalah interaksi manusia hanya dengan computer saja, misalnya saat stalking, membuat desain, atau saat membaca satu arah saja. Tidak adanya interaksi dengan manusia lagi membuat seorang yang beriteraksi dengan computer mempersepsikan sendiri tentang pesan-pesan yang beredar di media digital. Misalnya saat menerima berita yang dibagikan oleh orang lain lalu kita membagikan lagi di beranda sendiri. Dalam komunikasi asyncronus tidak terjadi interaksi antara manusia tetapi hanya manusia dengan computer saja. Sehingga komunikator menginterpretasikan apa yang terjadi sendiri tanpa ada interaksi dengan manusia lainnya.

sumber; arenalte
Literasi Digital memuat semua rangkaian proses seseorang dalam berhubungan dengan perangkat digital dan layar, baik syncronus ataupun asyncronus. Ada empat macam tujuan dalam melakukan literasi digital, seperti ditulis oleh Billy K. Sarwono (2016), Pertama terkait dengan  proteksi, yaitu perlindungan terhadap konten-konten yang membahayakan atau merugikan atau menimbulkan dampak negative. Oleh karena itu perlu diberikan kegiatan literasi agar netizen atau pengguna perangkat digital bisa mengerti dan memahami bahwa media digital memiliki sisi negative, baik sebagai perangkat itu sendiri ataupun dari sisi konten-konten yang muncul darinya.
sumber: mitrariset

Kedua, tujuan pemberdayaan. Media digital memiliki fungsi positif sebagai salah satu sumber belajar. Banyak source yang bisa dimanfaatkan untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Bahkan bisa dijadikan sarana khusus untuk kepentingan ekonomi. Sudah bukan rahasia, misalnya dengan media sosial seperti facebook bisa menjadi sarana untuk meningkatkan penjualan bagi pengusaha UMKM. Melalui media digital juga setiap orang bisa melakukan gerakan-gerakan pemberdayaan lainnya.

Ketiga, Kajian Media. Khusus bagi peminat khusus ilmu komunikasi atau media, melalui literasi bisa menjadi sarana mendapatkan ilmu dan pengetahuan. Seorang peminat bisa menjadikan media digital sebagai objek penelitian dalam bidang komunikasi. Mengetahui bahwa apa yang dibagikan pada media digital hoax atau bukan. Punya tujuan yang netral atau memiliki tendensi. Tulisan terkait kajian media digital: Pencitraan Politik Daring.

Keempat, Aksi. Selain pembedayaan dan kajian, media digital juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk menggerakan atau memobilisasi, baik gerakan sosial, ekonomi, atau advokasi. Tidak sedikit yang terbantu oleh ajakan di salah satu fanpage misalnya atau situs khusus charity seperti kitabisadotcom atau chagendotorg.

Setiap orang yang melakukan literasi digital pada akhirnya diharapkan dapat menggunakan teknologi dengan benar sehingga meminimalisir digital divide. Menggunakan perangkat digital di era sekarang juga diharapkan menjadi sarana efektif untuk berbagai keperluan. Selain itu para pembelajarnya juga diharapkan mampu membuat pilihan, memilah dan memilih, menyimpan, mengambil atau berbagi konten untuk tujuan positif melalui berbagai bentuk konten; teks, visual, audiovisual.

Dengan melakukan literasi digital, seorang pembelajar juga menjadi tahu bagaimana mendapatkan, memproduksi dan mengelola konten-konten digital sehingga dapat menggunakan media tersebut sekreatif mungkin dengan kritis sehingga bisa terhindar dari kegiatan menyinggung atau berbahaya. Justeru dengan melakukan kegiatan literasi digital dapat seorang pembeajar dapat memanfaatan berbagai konten bagus tersebut untuk kegiatan positif.

Jadi kata kunci dari literasi digital bukan hanya menulis dan membaca saja, juga proteksi, pemberdayaan, pengkajian/ penelitian, lalu aksi.***[]

Tulisan terkait Literasi Media Sosial , Optimalisasi Humas melalui Media Sosial, Review Buku Media Sosial

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar
Agung Rangga
AUTHOR
Oct 22, 2017, 4:38:00 PM delete

Literasi digital ini penting banget buat para blogger, supaya bisa menghasilkan konten yang lebih bermutu dan bermanfaat. :D

Reply
avatar
abahraka
AUTHOR
Oct 22, 2017, 7:45:00 PM delete

Waah terima kasih sudah melengkapi...

Reply
avatar

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon