31 December 2017

Persinggahan Mengesankan di Malaka

Gedung Merah menjadi salah satu ciri khas dari Kota Malaka (c)@abahraka
“Saya akan kasih surprise untuk kalian semua. Kalian memiliki waktu satu jam sahaja, kalian akan singgah di Tanah Merah. Dan nanti setelah satu jam kalian harus kembali lagi ke tanah merah,” ujar Suzie, seorang guide lokal Malaysia dengan logat khas melayunya.

Lalu saya membuka rundown itinerary. Agenda yang tertulis, setelah melakukan persinggahan ke University Kebangsaan Malaysia (UKM) lalu transit di Johor sebelum akhirnya menyeberang ke Singapura. Surprise yang dimaksud oleh Suzie adalah persinggahan di Kota Malaka. Tidak ada dalam itinerary karena kunjungan ini inisiatif dari travel agent sebagai ganti satu kunjungan yang berubah jadwal.

Saat mendengar nama Melaka, pikiran saya tiba melanglang buana terhadap salah satu materi pelajaran sejarah saat sekolah. Malaka adalah salah satu penggalan sejarah Indonesia. Malaka, adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah eksistensi Nusantara pada masa kerajaan sebelum akhirnya menjadi Indonesia. Pada masa Indonesia masih terdiri dari kerajaan, Malaka adalah kesultanan yang menguasai sebagian wilayah Indonesia yaitu Pulau Sumatera. Pendirinya sendiri berasal dari Nusantara, yaitu keturunan Sriwijaya, Prameswara. Ia memerintah selama 110 tahun di Kesultanan Malaka sebelum ditaklukkan Portugis tahun 1511.

Melalui jalur Malaka-lah Portugis menguasai Jawa bagian Barat dengan menaklukan kerajaan Sunda dan menjajah Indonesia. Sebelum melakukan penjajahan, Portugis melakukan kerjasama dagang dengan kerajaan Sunda. Sunda Kelapa Jakarta menjadi saksi sejarah kehadiran portugis di Nusantara dan mendirikan prasasti perjanjian dengan kerajaan Sunda.

Malaka juga saya ingat bukan hanya karena sejarahnya yang kuat dengan Indonesia, juga menjadi jalur dagang laut internasional pada abad ke-16. Para pedagang yang datang ke Nusantara baik dari Arab, Gujarat, India, ataupun Eropa yang kesengsem dengan rempahnya berlabuh di Malaka. Malaka menjadi jalur batas antara Indonesia dan Malaysia, yaitu sebuah selat atau laut yang diimpit oleh dua dataran, Sumatera di Indonesia dan Semenanjut Malaya di Malaysia.

Saya tidak menyangka jika persinggahan ke tempat ini merupakan persinggahan bersejarah. Bukan hanya tertulis dalam buku-buku sejarah Indonesia, Malaka benar-benar memiliki atmosfer sejarah. Hampir setiap jalan yang saya lewati penuh dengan bangunan sejarah, dalam hati saya berdecak kagum, betapa bangunan tersebut masih apa adanya, “Ini benar-benar wisata heritage,”gumam saya. Sepanjang jalan yang saya lewati, kanan dan kiri berdiri kokoh bangunan-bangunan tua peninggalan portugis, Belanda, dan Inggris.

Malaka sendiri berjarak 148 km dari Kuala Lumpur. Perjalanan yang ditempuh sekitar 2,5 jam menggunakan bis. Jika menggunakan kendaraan umum bisa menggunakan komuter. Sesampainya rombongan di Bundaran Jalan Merdeka yang di sekelilingnya terdapat bangunan berwarna merah. Lokasi ini menjadi titik berkumpul peserta Campus & Company Visit dari kampus kami, Politeknik LP3I Bandung pada April 2017agar tidak tersesat setelah kami berkeliling menikmati seuprit tempat dari Kota Makala. Karena tidak mungkin bisa menikmati semua hal yang ada di Malaka dengan waktu kurang lebih satu jam setengah saja.

Rombongan turun dan behenti di Taman Kota Malaka. Kami langsung mengambil foto dengan latar Gereja Kristen (Crist Church Malaka). Begitu ramainya kota Malaka, sebuah taman dengan tulisan I Love Malaka menjadi tempat favorit berswafoto atau foto group. Saya harus sabar untuk mengantri, agar mendapatkan latar yang heritagenic dengan berswafoto di taman dengan latar gedung merah. Setelah duduk-duduk menikmati Taman Malaka yang dikelilingi oleh bangunan tua berwarna merah, saya pun bergegas menuju salah satu area tempat berdirinya kompleks museum sejarah dan berjalan menuju sebuah bukit bernama Bukit St. Paul.  

Menikmati Malaka dari Bukit St. Paul
Di Bukit St Paul selain bisa menikmati bangunan tua peninggalan Portugis, juga gedung-gedung pencakar langit
Untuk mencapai bukit Saint Paul pengunjung harus melewati bangunan merah dan ratusan anak tangga. Saat sampai bukit, pengunjung akan disambut oleh patung pendeta. Konon patung tersebut adalah Pendeta Santo Francis Xavier. Seorang pendeta yang ditugaskan untuk melakukan misi Gospel atau penyebaran agama Kristen. Ia dianggap sebagai manusia suci sehingga dibuatkan patungnya.

Ada satu cerita yang menarik dari Patung Xavier ini, yaitu tangan kanannya yang patah. Pada tahun 1514, jenazah Xavier tangannya dipotong untuk kanonisasi dan simbol pembaptisan. Potongan tangannya sendiri di Simpan di Gereja Roma. Untuk menghormati jasa-jasa Xavier maka dibuatkan patungnya di bukit Saint Paul. Pada saat patung tersebut berdiri, tangan kanan patung Xavier patah tertimpa pohon dan potongannya tidak ditemukan. Maka berdirilah patung Xavier yang tidak memiliki tangan kanan sampai sekarang.

Setelah melewati Patung, sebuah bangunan berwarna putih tampak berdiri tinggi dan kokoh, konon ini merupakan peninggalan terakhir yang masih ada sebagai bagian dari Benteng A’Fomosa yang digunakan untuk memantau dan menghalau serangan musuh. Tepat di belakangnya adalah Gereja tertua di Malaysia, Gereja Saint Paul. Walaupun warna catnya sudah memudar dan tidak terdapat lagi atap di atasnya. Di dalam Gereja terdapat puing-puing makam peninggalan bangsa Portugis dan Belanda.

Bukit saint Paul merupakan salah satu bukit pertahanan Bangsa Portugis pada masanya untuk menahan gempuran dari Belanda yang sama-sama berebut wilayah kekuasaan di Asia Timur. Sebagai bagian dari kota pertahanan di sini didirikan kota A’Famosa yang di sekelilingnya berdiri berbagai bangunan dan juga kedai dan yang paling utama adalah Benteng sepanjang 1,5 km. Kota A’Famosa sendiri tepat mengelilingi bukit Saint Paul.

Saat berada di atas bukit Saint Paul, saya bukan hanya sedang berwisata Heritage. Saya juga sedang menikmati Kota Malaka pada abad modern. Seperti halnya Braga di Kota Bandung, yang menyisakan secara utuh berbagai bangunan sejarah , juga terdapat bangunan-bangunan pencakar langit. Saya juga dapat menyaksikan hamparan selat Malaka yang berseberangan langsung dengan Indonesia. Malaka bukan hanya sebagai sebuah Kota Sejarah, Malaka juga kota yang sudah hiruk pikuk dan padat dengan bangunan-bangunan pencakar langit. Tampak berjejer bangunan apartemen dan hotel yang menjulang tinggi ke langit. Hotel Malaka atau Holiday Inn atau apartemen yang bangunannya berjajar serupa kembar.

Satu Jam di Kota Warisan Dunia
Bandara Internasional pada masa lalu

Selama satu jam setengah menikmati Kota Malaka, hampir setiap sudut yang saya jumpai adalah bangunan-bangunan tua yang sarat nilai sejarah. Wajar jika pada tahun 2008 UNESCO atau Badan Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan di bawah Naungan PBB menetapkan Malaka sebagai World Heritage City. Bangunan-bangunan yang ada merupakan peninggalan 3 kerajaan Eropa masa penjajahan; Portugis, Belanda, dan Inggris.

Bangunan Heritage apa saja yang bisa saya nikmati selama berkeliling di sekitar Gedung Merah tersebut?

Pertama kali menginjakkan kaki di Taman Melaka dengan kesegaran air mancurnya adalah bangunan yang mirip seperti komplek pertokoan. Komplek pertokoan dengan cat berwarna merah ini merupakan bangunan pelindung Bukit Saint Paul. Tepat berada di belakang Taman Malaka yang bertuliskan ‘I Love Malaka’ adalah Gereja Kristen Malaka (Crist Church Malaka) yang berdiri kokoh bersebelahan dengan Gedung Galeri Seni Lukis Kota Malaka.

Setelah saya puas menikmati bangunan merah yang tepat berada pada 0 km Kota Malaka, pelancongan dilanjutkan ke Bukit Saint Paul melewati komplek Museum Demokrasi. Di sinilah patung misionaris pertama portugis berdiri kokoh membelakangi Gereja Saint Paul yang tidak lagi beratap namun tetap kokoh. Di dalam gereja berjejer nisan prajurit Portugis setinggi 2,5 m.

Puas menikmati semilir angin di atas bukit, saya turun dengan tujuan menuju sungai Malaka. Melewati Bundaran 0 km, di sebelah kiri jalan tampak tulisan besar ‘Selamat Datang Bandaraya Melaka Bersejarah’. Saat membaca tulisan tersebut, pikiran saya seakan dibawa ke dalam sejarah masa penjajahan seperti yang pernah saya baca dalam buku-buku sejarah.  Ya, pada masanya, ini adalah Jalur dagang internasional. Salah satu Bandar internasional strategis, sebuah jalur perdagangan paling penting pada masanya.

Museum berbentuk Kapal Pinisi

Sungai Malaka dan Pedestrian yang bersih dan nyaman untuk nongkrong
Sebelum sampai di pedestrian sungai Malaka, saya menyaksikan bagian dari Benteng A’Fomosa yaitu Middleburg yang menjadi benteng pengawasan. Benteng ini merupakan Benteng pengintaian yang digunakan oleh Portugis untuk mengawasi musuhnya yang datang dari arah Selat Malaka. Sungai Malaka sendiri airnya mengalir menuju Selat yang yang berbatasan dengan Indonesia.

Pedestrian Sungai Malaka tampak resik dengan sebagian tempat duduk kursi-kursi taman klasik. Pedestrian juga menjadi tempat asyik untuk kongkow dan bercengkerama menikmati pagi dan senja sambil sarapan atau ngopi. Seberang pedestrian berdiri kokoh bangunan heritage Hotel Del Rio.

Beranjak dari pedestrian, saya melipir mencari toilet untuk buang air kecil yang berada di muara sungai. Tidak jauh dari muara, saya lewati bangunan mirip kapal Phinisi. Bangunan ini merupakan museum kelautan Malaka (Maritime Museum Phase One Melaka) atau replika dari kapal Flor de La Mar yang pada masa lalu pernah terdampar di Pantai Malaka ketika kembali perjalanan dari Portugis. Dalam kapal dengan luas sekitar 288 M terdapat artefak dan dokumen peninggalan masa kejayaan kesultananan Malaka.

Seandainya tidak berbatas waktu, ingin sekali menikmati pagi dan senja itu di sini. Malaka. Kota Sejarah yang pertautannya sangat kuat dengan Indonesia. Bahkan sampai Kini. ***[]

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi dan menulis feature perjalanan dan buku. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

5 komentar

Sungai Malakanya bersih banget ya.. sejam cukupkah explore Malaka?

Jadinya ngaret sampai 1,5 jam. Dan cuma bisa lihat aja hehe..

nah iya itu pedestrian dan sungai Malaka bersih banget, coba kalo Citarum sebersih itu ya, bisa dipake buat angkutan...

Romantis bgt suasananya, bisa duduk menikmati sungai malaka bercengkrama bersama sahabat. Tempatnya pun bersih. Nice Abah...

Betul, saya ngebayangin kalo sore-sore dengan semilir angin, duduk-duduk di pedestrian, asyik banget--romantis beneran...

This comment has been removed by the author.

Terima kasih telah berkunjung, tunggu kunjungan balik saya ya...
EmoticonEmoticon