21 January 2018

Menghadang Serangan Disrupsi!

sumber: @abahrakarhen
Tahun 2017 salah satu berita yang menjadi perhatian masyarakat ekonomi adalah tutupnya beberapa usaha ritel seperti 7-Eleven, Disc Tarra, Lotus, Dabenhams. Bahkan sebagian cabang Matahari Departemen Store juga mengalami hal serupa. Bukan hanya usaha jaringan yang disupport oleh pemodal besar, usaha milik masyarakat yang tersebar di pusat-pusat perdagangan juga sepi; Pasar Elektronik Glodok, Mangga Dua, bahkan Tanah Abang sekalipun. Beberapa hasil amatan media, sepinya pasar-pasar besar modern dan semimodern tersebut disebabkan oleh turunnya daya beli masyarakat.

Pada sisi lain, berdasarkan hasil survei BPS pada tahun 2017, index kebahagiaan masyarakat Indonesia mengalami peningkatan. Betapa tidak, banyak tersebar di media sosial rata-rata masyarakat Indonesia menjadikan bepergian menjadi gaya hidup mainstream. Bisa jadi alokasi belanja ritel dialihkan untuk alokasi wisata yang menjadi kebutuhan tiap bulannya.

Hal berbeda dijelaskan oleh Rhenald Kasali yang sejak lama meneliti tentang berbagai gejala perubahan khususnya bidang ekonomi dan manajemen. Menurutnya, gejala di atas bukan disebabkan oleh daya beli masyarakat menurun, tetapi beralihnya cara belanja. Ia mengistilahkan gejala tersebut sebagai Peradaban Uber. Belanja masyarakat tidak ketahuan karena dilakukan secara online. Kedatangannya tidak terlihat secara kasat mata. Seperti halnya jasa angkutan berbasis aplikasi yang dipelopori oleh Uber.

Eksistensi apalikasi sebagai usaha baru ini mengancam pengusaha lama atau diistilahkan sebagai incumbent  yang tidak melakukan inovasi. Eksistensi usaha melalui aplikasi sebagai buah inovasi ini diistilahkan oleh Rhenald Kasali sebagai Disruption yang sekaligus menjadi judul buku terbarunya. Inovasi bukan hanya dari sisi kecanggihan teknologi aplikasi, juga inovasi dari sisi harga. Kehadiran aplikasi telah memangkas hingga 40 % lebih biaya yang harus dikeluarkan oleh konsumen.

Buku setebal 511 halaman tersebut tidak hanya menguraikan sejumlah fenomena jaman now; konflik horizontal antara pegawai  usaha konvensional dengan pegawai usaha online, kegelisahan para incumbent di Indonesia atau di dunia termasuk negara-negara maju yang ketakutan menghadapi agresifnya ekonomi China. Disertai kejatuhan perusahaan besar seperti Nokia, Kodak, Pan Am, Enron, Lehman Brother. Juga secara teori dan sejarah disruption selama 20 tahun.

Jika 20 tahun lalu yang menikmati hasil usaha hanya pemilik modal dan kelas menengah. Abad 21, kelas bawah dan para penonton mulai bisa berperan dan menikmati hasilnya sendiri. Bermunculannya para entrepreneur baru baik yang sudah go public seperti pendiri Go-Jek atau Bukalapak, juga entrepreneur ritel yang membuka lapak usahanya di marketplace tanpa harus mengeluarkan biaya sewa toko.

Terbentuknya dunia usaha yang bisa dinikmati hasilnya oleh kalangan bawah, bagi Kasali menjadi akhir dari kapitalisme berubah bentuk menjadi manage capitalism kemudian berubah lagi menjadi entrepreneurial capitalism. Kehadiran entrepreneurial capitalism melahirkan para pelaku usaha baru kreatif yang mengancam sekaligus menghancurkan legagacy para incumbent (hal 136).

Tiga konsekuensi dan dampak luas dari disrupsi bagi Kasali adalah, pertama menyerang para incumbentKedua menciptakan pasar baru yang sejak kehadiran internet diabaikan oleh incumbentKetiga, terjadinya deflasi atau penurunan harga karena tidak terdapat biaya mencari dan transaksi. Sehingga harga barang dan jasa yang menggunakan perantara teknologi informasi lebih murah.

Siapapun, kita sebagai apa, akan terkena dampak disrupsi. Memilih tergerus atau cepat beradaptasi dengan perubahan? Atau meminjam bahasa Gede Prama, memilih Inovasi atau Mati?.

Kasali memberikan solusi agar kita bisa beradaptasi, karena disrupsi yang satu sisi menghancurkan usaha-usaha dengan mindset lama, sisi lain peradaban uber menjadi peluang besar bagi siapapun yang ingin berubah dengan secepat mungkin. Salah satu yang ditawarkan Mindset Disruption adalah dengan bergeser ke corporate mindset. Bagi penulis buku fenomenal Change ini, mindset bukan hanya harus dipahami tapi juga dilatih dan diaplikasikan

Kasali membuat sebuah perbandingan bagaimana mindset incumbent dan mindset disruptif yang ia istilahkan dengan Fixed Mindset dan Growth Mindset:

Fixed Mindset; intelligence is static
Growt Mindset: Intelligence can be developed
Mudah menyerah
Tahan menghadapi rintangan
Menghindari tantangan
Siap menerima tantangan baru
Melihat usaha sebagai hal sia-sia
Melihat usaha sebagai bagian untuk jadi mahir
Merasa terancam dengan keberhasilan orang lain
Mendapatkan pelajaran dan inspirasi dari kesuksesan orang lain
Mengabaikan kritikan yang membangun
Belajar dari kritikan

Buku ini diakhiri dengan bab akibat-akibat yang akan muncul dari disrupsi dalam semua bidang kehidupan yang ia uraikan dalam bentuk fenomena; pangan, pemerintahan, olahraga, pendidikan. Dan disrupsi memunculkan karakter 3 S: speed, surprises, dan sudden shift.

Seperti buku karangannya yang lain, satu nafas karakter dari buku Kasali selain dibumbui oleh sejumlah teori dan kutipan orang-orang besar; filsuf, cendekiawan, intelektual, pelaku pasar ataupun praktisi yang menggeluti bidangnya, juga diawali dengan hasil observasi dan uraian sejumlah fenomena. Seperti saya temukan dari buku Cracking Zone ataupun Self-Driving. Sehingga, sebelum penikmat buku memahami buku secara utuh, sudah dibekali sejumlah kejadian-kejadian nyata kenapa suatu fenomena terjadi. Sehingga saat masuk ke dalam bagian yang bersifat konseptual dan teoritis, tidak kesulitan memahaminya. Wajar sebagian besar bukunya selalu best seller di tahun yang sama saat buku tersebut pertama terbit.

Bagi saya, buku ini ditulis cukup komprehensif seperti halnya menulis tugas akhir, di awali sejumlah fenomena, teori, aplikasi teori dalam kehidupan nyata dan tentu saja solusinya. Namun tidak seperti tugas akhir yang ditulis baku,  buku ini ditulis dengan bahasa yang mengalir sebagai ciri khas tulisannya, walaupun banyak istilah-istilah asing dan akademis, membaca buku ini tidak terasa berat dan jenuh. Sehingga sangat layak dibaca oleh semua kalangan.

Kritiknya yang menohok, bukan hanya bagi pelaku usaha, tapi juga birokrat dan sejawatnya, wajar jika seorang teman mengatakan jika banyak yang mengkritik buku ini. Seperti halnya kaum kiri, buku ini memorakmorandakan perilaku kaum mapan yang tidak berani beralih haluan, baik dari cara berfikir ataupun aktivitasnya.

Selamat datang di era Disruptif, memilih mengubah haluan atau kita akan tertinggal dan tergerus lalu mati sia-sia di tengah puing-puing kemapanan?

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi dan menulis feature perjalanan dan buku. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

4 komentar

Terima kasih telah berkunjung, tunggu kunjungan balik saya ya...
EmoticonEmoticon