25 February 2018

Muslim Milenial, Konsumtif Sekaligus Religius!

Sumber: @abahraka
Setiap periode sejarah Islam di Indonesia memiliki tokoh-tokoh yang menjadi panutan sekaligus rujukan berfikir dan betindak ummatnya. Sejak prakemerdekaan yang melahirkan tokoh Ahmad Dahlan, Hasyim Asyari, Hamka, atau tokoh kemerdekaan M. Natsir dan Wahid Hasyim.  Wahid Hasyim putra Hasyim Asyari selain tokoh kemerdekaan juga menjadi tokoh orde lama. Begitu juga orde baru melahirkan pemikir pembaharu sekelas Nurkholis Madjid atau Zainudin MZ. Sedangkan masa reformasi kita mengenal sosok Amin Rais atau Aa Gym. Lantas bagaimana Islam generasi digital, siapa tokoh yang muncul ke permukaan?

Era digital yang tidak lagi mengenal batas geografis memiliki tokoh panutan yang digitalfriendly, ia melek teknologi sekaligus berwawasan lintas sektoral, kehadirannya selalu dibarengi oleh viralitas atas sepak terjangnya yang tersebar di media digital, baik media online mainstream ataupun media sosial. Sama halnya dengan tokoh-tokoh orde baru dan reformasi, ia juga memiliki pemikiran yang lintas madzhab.

Hanya saja, jika para tokoh-tokoh Islam sebelumnya terkesan serius dan kaku. Para tokoh Islam Era Digital cenderung gaul dan kekinian. Sebut saja Hanan Attaki, pendiri Pemuda Hijrah jebolan Al-Azhar Mesir ini bukan hanya menguasai keilmuan Islam ia juga aktif di media sosial. Tidak seperti ustadz kebanyakan, Hanan Attaqi mendekati market dakwahnya melalui pendekatan-pendekatan kekinian; vlogging, update media sosial, mengenakan sweater hooly, kupluk dan sorban.

Generasi muslim inilah yang hendak digambarkan oleh Yuswohadi dan kawan-kawan dalam buku Gen M #Generationmuslim, Islam Itu Keren. Generasi muslim era digital cenderung menjadi muslim yang universal, ia tidak hanya memikirkan urusan akherat dengan tingkat spiritualitas yang tinggi juga sangat sensitif terhadap urusan duniawi.

Generasi digital yang sering dianekdotkan menjadi jaman now seringkali dikategorikan sebagai generasi Y dan atau Z seperti ditulis oleh Don Tapscot dalam Buku  Grown Up Digital (2009). Dalam konteks muslim Indonesia diistilahkan oleh Penulis Buku Crowd  tersebut sebagai #GenM karena pengalamannya lebih kontekstual dibandingkan dengan yang diistilahkan oleh Tapscot.

#GenM muncul ketika ICMI lahir diikuti oleh kehadiran Bank berbasis Muslim, Muammalat, lalu keberpihakan Presiden kedua Indonesia H.M. Soharto, dilanjutkan masa reformasi, naiknya Gusdur menjadi presiden, Fenomena Aa Gym awal tahun 2000, disusul popularitas film Ayat-ayat Cinta, lalu opick, kemudian masuknya nafas Islam ke dalam musik rock seperti dilakukan oleh grup Band Gigi tahun 2005.

Tahun 2010 merambah ke dunia fashion, banyak artis dan dunia fashion mulai mengembangkan gerakan hijab, kosmetik halal, hotel syariah, media Islam. Lalu kemunculan dakwah melalui media digital tahun 2012, diikuti ekonomi sharing yang salah satu pendirinya juga mewakili generasi muslim seperti Nadiem Makarim pencetus Gojek atau Ahmad Zaki CEO Bukalapak. Dakwah melalui media sosial semakin populer seperti dilakukan Hanan Attaqie, dan lainnya. Peristiwa dan fenomena tersebut menjadi spirit bagi munculnya generasi muslim di era digital.

#GenM tidak hanya concern terhadap religiusitas secara personal, juga ditunjukkan melalui perilaku sosial; Zakat bertumbuh pesat, bukan hanya yang dikelola oleh pemerintah atau ormas, juga oleh Civil Society Organization (CSO) seperti Rumah Zakat yang jangkauan bantuannya sudah lintas negara, atau Aksi Cepat Tanggap (ACT), Yatim Piatu, dan masih banyak lagi.

Karakateristik lainnya yang dimiliki oleh #GenM adalah mereka juga modern, bukan hanya dalam konteks pemikiran tapi juga perilaku sehari-hari. Mereka selalu update terhadap persoalan dan pengetahuan dunia. Sense of knowledge yang dimiliki oleh #GenM membuat mereka  sangat terbuka, fleksibel, dan berwawasan luas dalam memandang segala persoalan. Karakteristik inilah yang menjadi modal bagi lahirnya berbagai ragam inovasi dari #GenM.

Hal yang paling mainstream dari karakteristik generasi ini adalah Digital Savvy. Mereka adalah generasi yang bergantung pada teknologi dan masif menggunakan 5 jenis layar; TV, desctop, laptop, iPad, dan smartphone setiap harinya. Melalui ragam layar tersebut mereka melakukan banyak aktivitas dari bersosialisasi, melakukan pekerjaan, berbelanja. Mereka menganut gadget freak dimana aktivitasnya banyak dihabiskan bersama kelima layar di atas sehingga kemampuan relationship dan social skill nya kurang. Mereka juga hidup di banyak tempat online (komunitas) baik berbahasa lokal ataupun global.

Banyaknya relasi secara online dari komunitas global membuat pikiran mereka juga sangat terbuka. Merekalah generasi global sesungguhnya, karena mereka tidak hanya mengetahui secara global persoalan, mereka juga sudah terkoneksi dan berelasi secara global secara online.

Yuswohadi dkk memotret dengan gamblang dalam buku berjudul #GenM yang diterbitkan oleh Bentang tersebut bagaimana generasi muslim masa kini bukan saja religius baik secara personal atau individual. Ia juga menjadi dinamisator ekonomi di Indonesia, baik ekonomi berbasis sosial seperti pengelolaan ZIS dan wakaf ataupun berbasis ekonomi sharing. Generasi muslim mengisi hampir di setiap sektor ekonomi Indonesia dari ekonomi berbasis teknologi sampai seni.

Sebagai buku hasil penelitian, buku ini sangat komprehensif dalam memotret kemunculan generasi baru muslim di era digital. Namun tidak seperti hasil-hasil penelitian yang cenderung disajikan dalam kemasan serius, buku ini justeru sebaliknya, ditulis dan dikemas dengan cara populer. Penulisan subjudul yang mengikuti trend digital menambah kesan ngepop terhadap buku kajian yang masih langka ini di Indonesia mengenai kebangkitan Islam Populer. Sehingga segmentasi pembaca pun bisa dari semua kalangan.

Untuk memahami generasi muslim masa kini agar tidak kehilangan kesempatan berinteraksi dengan para inovator yang berasal dari generasi , buku ini layak menjadi bagian dari koleksi. Namun tentu saja, buku ini tidak memotret bagaimana generasi muslim yang masih jauh dari koneksi internet, sehingga tidak seharusnya memakan mentah-mentah semua isinya. Membaca buku ini harus ditempatkan pada konteksnya, yaitu yaitu potret generasi muslim yang sudah terhubung dengan jaringan internet. ***[]

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi dan menulis feature perjalanan dan buku. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

3 komentar

Sama-sama terima kasih bu Tira sudah berkunjung...

This comment has been removed by the author.

Terima kasih telah berkunjung, tunggu kunjungan balik saya ya...
EmoticonEmoticon