17 March 2018

Literasi: Hati-hati dengan Remarketing Google!

sumber: google
Tulisan ini terinspirasi status Kang Isjet, Chief Community Editor Kompasiana. Ia memosting status tentang bumerang terhadap seorang pegiat media digital yang bermaksud menyerang sebuah situs muslim atau dengan kata lain menjelek-jelekkannya namun justeru berbalik menyerang dirinya sendiri. Tak tanggung-tanggung jabatannya sebagai pendiri dan juga direktur. Serangan yang dilakukan oleh orang tersebut adalah memosting iklan yang muncul pada sebuah situs berita muslim. Iklan yang dimaksud adalah iklan berbau pornografi.

Terlepas benar atau tidak, hoax atau bukan. Google menampilkan iklan berdasarkan kata kunci yang biasa dicari oleh para peselancar. Contohnya, sebulan yang lalu atau beberapa minggu yang lalu saya mencari lensa Nikon 18-200 mm. Saya lakukan banyak pencarian di berbagai marketplace agar mendapatkan harga termurah dan juga barang terbaik. Walaupun pada akhirnya belum membelinya karena alasan keuangan. Setiap saya buka situs apapun, situs yang memasang iklan google akan menampilkan iklan lensa nikon tersebut. Kita seakan diikuti oleh iklan tersebut kemana pun kita pergi. 

Dalam istilah digital marketing, google sendiri menamakannya sebagai remarketing – pemasaran ulang display yang dipasang atau barang yang dipasarkan. Untuk para pemasar cara ini sangat efektif, karena sekali barang kita dicari oleh seseorang, maka kemungkinan besar barang yang kita kampanyekan pada google adword akan terus muncul pada alamat email yang kita gunakan untuk mencari barang tersebut. 

Sama halnya saat kita mencari suatu video pada youtube, saat kita buka lagi keesokan harinya youtube kita melalui alamat email yang sudah terpasang, maka akan muncul lagi video yang kita cari. Dalam keterangannya, google menulis bahwa remarketing adalah,”Kampanye pemasaran ulang digunakan untuk menampilkan iklan kepada orang yang pernah mengunjungi situs web Anda atau menggunakan aplikasi Anda. Kampanye ini menyediakan setelan dan laporan tambahan khususnya untuk menjangkau pengunjung dan pengguna sebelumnya.” Begitu kata google.

Belakangan seorang teman seperti ditulis pada paragraf di atas memosting twit seorang pegiat media digital yang menyerang situs Islam melalui cuitannya. Cuitannya menampilkan bahwa situs Islam tersebut mengingklankan ‘pornografi’. Ia meng-capture iklan pornografi tersebut. Kalau rujukannya remarketing, apa yang dicuitkan adalah pengulangan apa yang sering dicari. Saat membuka situs lain, apa yang dicari akan muncul kembali.

Bagi orang awam—seperti saya, bisa jadi dengan polosnya akan menuduh,”wah parah nih, situs Islam kok ngiklanin pornografi,” tentu saja dengan yakinnya. Jika kebencian saya sudah mendalam terhadap situs Islam tersebut, saya akan capture dan menyebarkannya di akun media sosial saya. Agar kredibilitas situs Islam tersebut jatuh. Ya, mungkin dengan begitu dahaga kebenciannya terlampiaskan. Apalagi situs Islam tersebut seakan-akan selalu berhadapan dengan cara pandangnya yang berseberangan. 

Tapi sayang, dalam persfektif remarketing, justeru apa yang saya sebarkan memperlihatkan ketidaktahuan saya tentang dunia digital. Perilaku saya menjadi bumerang untuk saya sendiri.

Karena pada dasarnya iklan yang ditayangkan/ ditampilkan oleh sebuah situs—khususnya yang berasal dari google adalah apa yang belakangan sedang dicari-cari. Saya kutip dari toffeedev.com, remarketing memberikan sebuah cara efisien untuk menampilkan iklan spesifik kepada mereka yang pernah mengunjungi website. Ini merupakan cara terbaik untuk terhubung kembali—saya ulangi—untuk terhubung kembali dengan orang-orang yang belum pernah menjadi pelanggan saat mengunjungi website. Dengan kata lain, saat seseorang mencari pertama kalinya sudah produk/ jasa, ia akan mendatangi lagi dengan iklan yang relevan dengan apa yang pernah dicari. Remarketing didasari beberapa kegiatan yang dilakukan seseorang di dalam website yang dikunjungi.

Pelajaran yang bisa saya petik, kritis harus tapi sebelum melakukan kritik harus melakukan literasi—literasi digital. Agar kritik kita lebih elegan dan tidak jadi bumerang. Alih-alih menjadi produktif malah destruktif terhadap diri sendiri. 

Tentu saja tulisan ini pada akhirnya bukan tentang tips beriklan dengan melakukan remarketing tetapi lebih pada karakteristik dunia digital yang benar-benar transparan. Perilaku kita akan ditunjukan sendiri oleh media yang kita jajaki. Apa yang kita lihat, apa yang kita lakukan di media digital akan diperlihatkan juga kepada orang lain. Di Era digital perilaku kita menjadi transparan, bahkan sekalipun kita menggunakan akun samaran.***[]

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi dan menulis feature perjalanan dan buku. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Terima kasih telah berkunjung, tunggu kunjungan balik saya ya...
EmoticonEmoticon