24 April 2018

Bianglala di Atas Jakarta


Menyaksikan estetika kota dari ketinggian tertentu menjadi satu kepuasan tersendiri. Padanan kotak-kotak yang tersusun rapi di atas bumi, keteraturan jalan yang menjadi seperti halnya garis-garis menjadi pembatas gedung pencakar langit, jalan tol memanjang menjadi border gedung terbentang dari ujung batas kota melewati dalam kota menuju pinggiran. Sebagai co-creator Tuhan, manusia mampu menciptakan keindahan duniawi melalui gedung menjulang tersebut. Disandingkan dengan kreasi Tuhan yang Maha Indah, lautan luas terbentang tanpa batas sejauh mata memandang.

Secuil keindahan ini bisa dinikmati dari ketinggian yang tak seberapa dari atas bianglala, sebuah wahana yang berputar secara simetris dalam porosnya dari bawah ke atas dan sebaliknya sambil menikmati pemandangan sekitarnya sehingga penikmatnya bisa turun naik tanpa perlu khawatir tumpah dan jatuh. Tidak sedikit warga yang menjadikan bianglala sebagai wahana hiburan. Termasuk bagi saya. Saya menikmati bianglala bukan karena bisa berputar maju dan naik lalu turun lagi. Tapi saya juga menikmati proses naik turunnya kehidupan. Seperti makna intrinsik dari bianglala sendiri sebagai warna warni pelangi.

Bangunan Jakarta dari atas Bianglala
Rabu, 4 April 2018 saya mendapatkan kesempatan menikmati bianglala serta wahana lain – melalui One Day Trips bersama Politeknik LP3I Bandung. Sebagaimana halnya bianglala dalam arti kiasan, One Day Tour ini adalah titik warna-warni cerah yang menggantikan warna abu dan hitam. Menggantikan rutinitas kerja, membebaskan dari cengkeraman meja, mendatangkan suasana dengan warna ceria.

“Minimal Bapak Ibu bisa refreshing….”

Begitu kira-kira kata yang terlontar untuk mengantarkan kami pergi berwisata satu hari tersebut –  agar bisa merilekskan diri dari kegiatan rutinitas. Tujuannya adalah Dunia Fantasi hehehe…yang memang sudah digadang-gadang sebelumnya. Waktu SMP sempat akan pergi ke salah satu tempat favorit di ibu kota ini, sayang karena faktor biaya akhirnya akhir berangkat. Saat kuliah tahun 2008 akhirnya kesampaian juga hehe…

Tapi sekarang? Setelah 10 tahun, begitu banyak wahana sejenis yang bisa menjadi sarana hiburan. Belum lagi sepertinya refreshing lebih asyik mantai atau destinasi yang lebih didominasi oleh pepohonan hijau seperti hutan atau bukit.

Tanjung Priuk, dok: pribadi
Saya membayangkan, apa enaknya naik kora-kora yang bisa bikin jantung copot, apa enaknya naik roller coaster yang bikin andrenalin tidak karu-karuan, apa enaknya naik ontang-anting yang seperti balita ketemu komidi putar? Ah sudahlah, itu 10 tahun lalu memang asyik…tapi sekarang di saat usia sudah kepala tiga.

Tapi letak rekreasinya bukan naik itu semua, kebersamaan bersama rekanlah refreshing sesungguhnya.  Yap, betul banget kebersamaan. Sama halnya saat bertemu teman-teman lama, masalah hidup seakan tenggelam karena selalu bernostalgia dengan masa lalu.

Pukul enam, saya sudah berkumpul dengan rekan dan mahasiswa. Jam 11.00 sampai lokasi. Sebagai yang ditunjuk menjadi guide, saya masuk belakangan. Membiarkan peserta untuk menikmati duluan berbagai wahana yang tersedia. Saya sendiri lebih banyak melewati wahana-wahana tersebut. Memilih menikmati panasnya ibu kota yang terus menerus membuatku berkeringat.

Menjelang pukul 15.00 akhirnya saya menikmati kehidupan melalui bianglala, suatu pasang surut kehidupan dari setiap orang. Kadang di bawah kadang juga di atas. Jika pernah merangkak hidup dari bawah, ikhtiar dan sabar bisa mengantarkan orang untuk naik ke atas.

Antri bersabar menunggu giliran, akhirnya saya pun bisa menikmati kotak-kotak hasil rekayasa co-creator di atas tanah Jakarta. Sebuah bangunan pencakar langit yang tersusun rapi. Cuaca cerah menambah keindahan kota begitu Nampak. Dibatasi garis-garis tegas berupa jalan dan border daratan, lautan luas tak terhingga menambah ketakjuban. Inilah akhir dari One Day Trip, refreshnya ada di ujung helatan. Bianglala di atas Kota Jakarta. **[]

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi dan menulis feature perjalanan dan buku. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Next
This Is The Current Newest Page

2 komentar

wah kora2 haaa, menikmtai dari sana bisa ya, apa kita konsentrasi dg diri sendiri krn mual dsbnya

Hehe saya gak berani lagi naik kora2 bu...jantung serasa mau jatuh eh copot..

Terima kasih telah berkunjung, tunggu kunjungan balik saya ya...
EmoticonEmoticon