15 April 2018

Menikmati Kopi Sanger di W@reh Kupie


Penampakan Kopi Sanger buihnya kasar tapi rasanya smooth
Hari sabtu kerja? Malam minggu masih ngampus? Hmmm sudah biasa! Tinggal gimana menikmatinya aja sih. Tapi tentu saja itu dilakukan karena di kota sendiri dengan suasana yang sudah terbiasa, yang setiap minggunya pasti terulang.

Tapi….

Apakah mau melewatkan malam minggu di kampung orang hanya dengan menjadi kupu-kupu hotel? Kuli pulang – kuli pulang ke hotel, lalu tidur, besoknya nguli lagi? Tentu saja enggak kan?!

Sementara teman-teman yang merasa lebih muda memilih memisahkan diri untuk ngemall dan mencari tongkrongan, saya ikut saja bapak-bapak yang sudah pada matang dengan jiwa mudanya yang masih bergejolak hehehe…maksudnya ikut pulang ke hotel. Biasa, di tempat kerja selalu membiasakan diri untuk taat amir alias pemimpin rombongan hehehe…

Saat kendaraan melaju, tiba-tiba saja sang kumendan – bukan amir, spontan ngajak cari makan di luar hotel. Artinyaaa? Ini tentu saja kalimat tersirat menikmati malam mingguan di negeri orang, jiwa muda tersalurkan biar usia bukan lagi kepala 2....

Awalnya saat mencari tongkrongan dan ngopi kendaraan yang kami tumpangi mengarah ke Mr. Brewok Dining Room, Jalan Sudirman Pekanbaru. Sayang, rupanya kendaraan melaju lebih tepat dibandingkan dengan arahan mister google maps yang katanya 15 menit lagi, padahal taunya lokasi yang kami tuju sudah terlewat beberapa ratus meter hingga akhirnya kami harus memutar arah.

Saya sudah membayangkan mendapatkan tempat yang nyaman, bersih, dan harga terjangkau dengan wifi kencang. Namun saat berbelok arah, tiba-tiba seorang teman teriak, eh itu apa Wareh kopi? Saya pun langsung menengok, tampak kendaraan roda dua dan empat sudah berjejer, dengan lampu biru membelit pohon di depan tempat parkir.

Wareh Kupie, ramai luar dalam...

“Yuk kesitu aja, sepertinya enak buat nongkrong, udah pak disitu aja!” pinta saya…

Dan akhirnya kendaraan langsung dibelokkan ke tempat parkir berpasir putih.

Ternyata saat masuk ke dalam W@reh Kupie, hampir semua termpat duduk sudah terisi, yang kosongpun sudah reserved. Kami kebagian tempat paling pinggir yang sempit dengan meja kecil. Setelah saya duduk, tiba-tiba pramusaji mengarahkan kami ke tempat yang sudah reserved dengan ruangan lebih privat dan meja cukup lebar, sekalipun untuk digunakan sebagai meja kerja 4 orang.

“Menu favoritnya apa?” tanya kumendan.

“Kopi Sanger pak,” jawab pramusaji.

“Apa itu Kopi Sanger?” kumendan tanya lagi.

“Itu kopi aceh tambah creamer,” jawabnya

Saya penasaran, karena selama ini saya selalu ngopi Arabica Gayo untuk meminimalisir gangguan lambung, lalu saya tanya,”Itu kopi Arabica bukan? Tanya saya.
pembuka menu, kopi sanger dan ketang goreng

“Bukan, itu kopi Aceh bukan Arabica,” ujar pramusaji…

Ya sudah, dalam hati saya mending coba, daripada penasaran apakah Kopi Sanger itu varian Arabica atau Robusta, akhirnya saya pesan, 2 teman lain pun pesan kopi yang sama. Sebagai menu favorit, ternyata meja sebelahnya juga memesan Kopi Sanger.

Dengan buihnya yang kasar, saya curiga kalau itu bukan kopi Arabica, saya cium, baunya seperti wangi kopi hangus, “Ini sih Robusta, “ ucap saya dalam hati. Dan benar saja setelah saya sruput, aroma itu tidak jauh dari jenisnya, Robusta—agak pahit-pahit dikit, tapi justeru disitulah rasa nikmatnya muncul. Kopi Sanger punya taste-nya sendiri.

Kopi Sanger dibuat dengan sedikit susu, sehingga rasa kopi pahitnya lebih kerasa. Persis seperti yang sering saya buat menggunakan Vietnam drip dengan bahan Arabica Gayo, hanya saja jika Arabica rada asem, Sanger terasa lebih pahit. Bagi yang suka kopi, dua-duanya punya taste masing-masing.

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari berbagai situs, Kopi Sanger adalah kopi khas Aceh dan menjadi jenis menu kopi favorit. Sanger dihasilkan dari gilingan kopi yang kasar.

Awalnya memang kopi Sanger dibuat dari Robusta, seperti yang saya minum menggunakan jenis tersebut. Sanger sendiri merupakan kependekan dari ‘sama-sama ngerti’ bukan ‘SANGE’ loh ya hehehe…konon terinspirasi gara-gara harga kopi susu mahal. Apalagi dengan jenis kopi Arabica. Maka ya dari sisi harga, mencoba kopi khas Aceh ini di W@reh Kupie hanya mengeluarkan kocek 10.000,- saja untuk satu gelasnya.
menikmati makanan khas Aceh di Pekanbaru W@reh Kupie

Sambil ngeblog on the spot demi update blog sebulan sekali, Kopi Sanger saya nikmati bersama sepiring kentang goreng. Demi merasakan panasnya  kopi, saya seruput cepat-cepat. Saat tulisan ini menjelang tuntas, perut saya lapar, akhirnya pesan nasi goreng seafood. Dan makanan penutup berat ini melengkapi kenikmatan santap malam di Pekanbaru yang baru saja saya jejak.***[] 

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi dan menulis feature perjalanan dan buku. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

6 komentar

Kayaknya enak ya ngopi santai sama temen-temen di wareh Kupi. Tempatnya asyik banget kayaknya. jadi penasaran pingin nyoba..

Betul sekali mbak Junita, santai sambil menikmati kopi Sanger....

bagi penggemar kopi tentunya sangat asyik ya bisa kongkow di sana

Iya betul sekali bu Tira...jadi kayak anak muda lagi hehe

Omaaak..katrep hana jep kupie sanger hehe

hehehe aku tak ngerti apa itu katrep hana jep

Terima kasih telah berkunjung, tunggu kunjungan balik saya ya...
EmoticonEmoticon