06 November 2018

Pemuda Era 4.0

Sumber: Pikiran Rakyat:
Penulisan artikel ini, bertepatan dengan hari sumpah pemuda 28 Oktober 2018. Saya membaca profil yang dipublikasikan Pikiran Rakyat pada hari yang sama (minggu, 28/10/2018), yaitu sosok ketua KNPI Jawa Barat Rio F. Wilantara. Rio menjabat ketua KNPI kurang lebih sudah satu tahun, yang dilantik tahun 2017.

Membaca biodatanya, jika diibaratkan makanan, taste-nya sangat berbeda dengan sosok Ketua KNPI sebelum-sebelumnya. Sosok Rio adalah sosok yang mewakili generasi millenial, selain karena umurnya yang betul-betul masih muda (32), latar belakang pendidikan dan aktivitas sehari-harinya selalu berarsiran dengan dunia teknologi yang millenial banget. Usaha dalam bidang teknologi, dan dua kali kuliah doktor salah satunya dalam bidang media studies—yang tentu arsirannya sangat kuat dengan teknologi.

Membaca visi sosok ini seakan menemukan danau yang airnya jernih dan bersih—sebagai sumber kehidupan masyarakat. Betapa tidak, Rio ingin membawa sekitar 13 ribu personil strutural pemuda ke arah kemandirian bukan yang menggantungkan hidupnya dari APBD. Ia ingin pemuda menjadi lokomotif wirausaha sebagaimana yang telah menjadi program pemerintah Jawa Barat. Ia tidak ingin pemuda terbawa arus ke ranah politik praktis sebagaimana yang ia rasakan selama aktif di organisasi kepemudaan tersebut.

Pada sisi lain banyak permasalahan yang dihadapi pemuda. Menurut data yang dikeluarkan oleh Merial Institute, sebuah lembaga  penelitian dan pembedayaan pemuda, pada tahun 2017 secara demografi pemuda bertambah namun pengangguran bertambah juga. Penyalahgunaan narkoba juga menjadi persoalan tersendiri yang merusak masa depan pemuda Indonesia. Hal yang cukup krusial, dengan meningkatkan jumlah pemuda ternyata tidak menambah mental kebangsaan meningkat justeru dipertanyakan (nasionalisme).

Beberapa kasus juga yang menjadi pelakunya adalah notabede menyandang status pemuda, misalnya MA seorang anak muda yang membuat grafis tidak senonoh tentang presiden Jokowi, atau pembakaran bendera tauhid oleh kelompok pemuda dari ormas kepemudaan. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, bahkan belahan bumi lain, seperti yang cukup menghebohkan sekelompok muda-mudi merayakan ajaran satanisme dan menjadikan lima belas orang sebagai target untuk dibunuh sebagai bahan pemujaan.

Marwah Gen Millenial
Pemuda Gen Millenial,  merujuk pada hasil penelitian Don Tapscot (2009) adalah generasi yang lahir pada rentang 1977-1997, atau 19980-1995 seperti ditulis oleh David Stillman dan Jonah Stillman. Terlepas rentang waktu tersebut, kedua pendapat tersebut memasukkan bahwa pemuda yang lahir pada tahun 80-an adalah generasi yang ketika sudah baligh telah bersentuhan dengan dunia digital. Bagi Tapscot, mereka adalah generasi internet atau gen y atau gen millenial.

Bagi gen millenial, teknologi tidak berbeda dengan udara, yang menjadi nafas kehidupan mereka. Hal ini masuk akal karena generasi millenial dan teknologi internet tumbuh bersama-sama. Mereka akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan aplikasi dibandingkan menonton televisi. Mereka juga lebih peka terhadap isu-isu global tanpa melupakan isu-isu lokal. Hal ini menjadi antitesis dari generasi sebelumnya yang cenderung lebih peka dengan isu-isu global sedangkan isu lokal terlupakan.

Untuk memahami generasi ini, ada beberapa ciri yang dominan dalam diri mereka, seperti ditulis Tapscot; kebebasan, kustomisasi, apresiasi, kolaborasi, kecepatan, dan inovator. Tidak lupa juga hiburan dan gaya hidup.

Generasi yang lahir bersamaan dengan kelahiran dan kemajuan teknologi internet ini merupakan generasi yang menginginkan kebebasan, tidak mau dikekang, akan tetapi kebebasan mereka jelas dan terarah. Sehingga melahirkan inovasi melalui kolaborasi. Apa yang terjadi pada Go-Jek dan pendirinya mewakili ruh gen millenial. Perusahaannya begitu cepat melaju hingga menjadi satu-satunya perusahaan yang pertama memperoleh deviden satu trilyun. Kemajuan ini tidak didapatkan dengan berdiam diri di depan layar komputer, akan tetapi hasil kerja bareng dan negosiasi bisnis (kolaborasi dan relasi).

Apa yang dihasilkan oleh gen millenial merupakan produk inovatif yang belum pernah ada dan terpikirkan oleh generasi sebelumnya (Gen-X). Bahkan seringkali gen millenial tidak ingin produknya meniru dan sama dengan yang lain sehingga menghasilkan produk yang beda (kustom).

Pemuda 4.0; Internalisasi Marwah Gen Millenial
Bagaimanapun pemuda hari ini adalah gen millenial yang telah tumbuh dewasa. Benang merahnya adalah bahwa teknologi internet dan pemuda memiliki arsiran kebebasan sehingga mampu berkreasi dan melahirkan kustomisasi dan inovasi. Hanya sayang di balik kebebasan tersebut seringkali pemuda tidak mampu mengendalikan diri, sifat pendobraknya akhirnya menjadi kebablasan. Pengetahuannya belum melahirkan sikap bijak.

Melalui hari Sumpah Pemuda, meminjam istilah seorang pakar marketing, Hermawan Kertajaya, maka pemuda harus menjadi citizen 4.0. Citizen 4.0 adalah warga yang telah melalui 4 fase; fase pengetahuan, bisnis, pelayanan dan pengabdian. Fase pengetahuan dicirikan dengan keakrabannya dengan teknologi, bisnis dicirikan dengan kemandirian, pelayanan dicirikan dengan sikap bijak untuk menolong dan saling menghargai, dan fase pengabdian dicirikan berada di tengah-tengah masyarakat untuk melakukan perubahan. Perubahan bukan hanya ide, tapi juga contoh nyata—tut wuri handayani.

Melalui fase tersebut, pemuda era 4.0 mau tidak mau harus sadar sebagai manusia sejati yang memiliki akar religiusitas. Soal gaya hidup pemuda misalnya, yang di era media sosial dirayakan dengan narsisme melalui food, fashion, dan traveling, maka pemuda harus mempertimbangkan maslahat, mudarat, halal, dan haramnya. Ia tidak hanya sekedar gaya tapi juga memiliki nilai dan manfaat. Saat terjadi bencana seperti di Lombok dan Palu, religiusitas yang merupakan pengejawantahan dari fase pelayanan dan pengabdian, maka pemuda harus memiliki kepekaan. Ia harus mengambil peran dengan berada di tengah-tengah bencana seperti halnya dilakukan oleh selebgram Awkarin.

Jika merujuk pada prawacana di atas, maka pemuda di era 4.0 termasuk 13.000 pemuda yang berada di bawah nakhoda Rio, harus sudah memasuki fase pengabdian—ia tidak hanya berpengetahuan dan mandiri, tapi juga peka (melayani) dan menjadi lokomotif perubahan di tengah-tengah masyarakat. Pemuda di era 4.0 adalah manusia yang gaul sekaligus religius; Iman adalah panduan sikapnya, gaya adalah kendaraannya, dan teknologi adalah nafasnya. Ia gaul dan teknologis, mandiri, peka dan menjadi lokomotif perubahan.***[]

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi dan menulis feature perjalanan dan buku. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

4 komentar

Nuhun penjelasan ttg pemuda era 4.0 nya, Bah. Sangat mencerahkan. Harus baca 2 kali biar ngerti banget.

Saaya-aya teh, pengetahuanana masih terbatas...

Ayo Engkom nulis lagi...biar semangat!

Terima kasih telah berkunjung, tunggu kunjungan balik saya ya...
EmoticonEmoticon