11 December 2019

Menyoal Nilai Pancasila

Logika saya kadang selalu berbalik menyikapi fenomena yang ada, mungkin karena referensi dan pengalaman yang berbeda. Namun pada dasarnya, apa yang saya lakukan merupakan bagian dari pengejawantahan nilai-nilai.

Pada konteks Pancasila, nilai-nilainya bersifat universal. Begitu juga saat menyikapi berbagai fenomena di Indonesia, yang kadang logika saya selalu berfikir terbalik. Misalnya, saat menyikapi FPI dan HTI. Memang betul ada hal-hal yang mengancam Pancasila seperti radikalisme yang mereka lakukan. Akan tetapi pemberangusan terhadap eksistesi mereka, saya melihatnya sebagai perilaku yang tidak menghormati keberagaman dari nilai Pancasila.

Mereka tetap menjadi bagian dari ke-Indonesiaan, mereka tetap harus dirangkul. Oleh karena itu perlu ada dialog. Ini menjadi inti dari menciptakan keberagaman. Hanya saja yang menjadi pertanyaan, apakah kita pernah melakukan dialog dengan mereka. Pernahkan nilai-nilai Pancasila yang universal ditransformasikan kepada mereka. Ini menjadi persoalan.

Karena keberagaman tidak boleh dibuat standar ganda. Yang kita sukai boleh, yang tidak disukai tidak boleh. Bagi yang disukai sebagai bagian dari yang diangkat, tapi bagi yang beseberangan pendapatnya maka harus dibungkam. Bagi saya ini standard ganda.

Meminjam bahasa Prof Musdah Mulia, nilai-nilai universal itu salah satunya kebebasan, keadilan, persamaan, persatuan, solidaritas/ kerjasama, keberagaman/kebhinekaan, toleransi, tanggungjawab, kedamaian, kejujuran, keadaban, kemaslahatan.

Dengan kata lain, nilai-nilai Pancasila juga berarti tidak alergi dengan pemikiran atau sikap yang berseberangan dengan kita sendiri. Namun kadang, ego yang terlalu menonjol menutup kita sehingga jika ada yang berseberangan atau mengkritik mendorong terhadap sikap standar ganda kita sendiri dalam memahami nilai keberagaman, toleransi, atau keadilan.

Teringat kata pram, ketika ingin merealisasikan tentang suatu nilai, nilai itu harus ada dulu dalam pikiran. Keadilan harus ada sejak dalam pikiran. Jika hanya dalam pembicaraan maka jadinya terjadi standard ganda dalam toleransi. Karena toleransi sendiri tidak hanya terjadi dalam konteks agama dan suku saja atau sering disebut SARA.

Nah, menarik bahwa dalam diklat Pembinaan Ideologi Pancasila bagi Pendongeng, Youtuber, dan Influencer, bahwa hari ini memang seakan terjadi friksi-friksi di masyarakat. Kehidupan intoleransi terjadi di masyarakat, bahkan Jawa Barat sendiri yang menjadi rumah besar menjadi provinsi paling intoleran di Indonesia. Padahal, basis pesantren sangat kuat.

Bisa jadi hal ini karena adanya kebebasan yang tidak terkontrol. Sehingga pada akhirnya kebebasan ini dimanfaatkan oleh gerakan-gerakan yang ingin memecahbelah bangsa. Namun sayangnya, para oknum tersebut juga menjadi bagian dari kita sendiri, yang tidak paham tentang nilai-nilai tersebut. 

Nah jadi binguuuung….

Dari catatan yang disampaikan oleh Romo Beni, Era digital, konten-konten negative bisa muncul yang terkait dengan hal-berikut; (1) sentiment, suku, agama, ras, dan antar golongan. (2) Kemanusiaan reduksi dalam mekanis teknologi, (3) Permusuhan di ruang dunia maya (4) Hoax, ujaran kebencian

Nah untuk mengantisipasi ini semua perlu strategi. Paman Gery memberikan beberapa hal terkait dengan strategi tersebut; Pertama perlu ada segmentasi untuk penyebaran konten, sehingga pesan yang disampaikan tepat sasaran. Kedua, Konten. Konten juga menjadi hal yang penting, karena koten menjadi substansi dari pesan yang disampaikan. Ketiga Chanel. Pilihan media juga harus pas. Apalagi di era sekarang, media digital yang menjadi media mainstreamnya generai millennial dapat menjadi pilihan untuk menyebarkan konten yang segmentasinya millennial. Dan keempat, bahwa kontenya harus selesai.

Terakhir, yang paling diingat adalah pernyataan-pernyataan dari Pak Lek Djum, seorang Dalang Wayang Wolak-walik, pengurus LESBUMI PB NU. Bahwa nilai-nilai pancasila ini bukan persoalan butir-butir tapi bagaimana mengejawantahkan nilai-nilai yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ketemulah dengan apa yang disampaikan oleh Prof Musdah Mulia, Pancasila itu soal nilai-nilai yang universal dan persoalan moral.

Selain yang disebutkan di atas, seorang pengondeng senior Ki Kusumo mengatakan, membiasnya nilai Pancasila karena hilangnya rasa hormat dan penghargaan. Oleh karena itu rasa hormat dan menghargai itu harus dimunculkan. Ini juga menjadi bagian dari pengejawantahan nilai-nilai pancasila.

Bagi saya sendiri, mengejawantahkan nilai-nilai Pancasila itu gampang-gampang susah. Karena kadang kita membuat standar ganda. Pada sisi lain, kita seringkali baper jika berhadapan dengan orang yang berbeda, baik pemikiran, superioritas, atau pun sikap. Nah maka melalui Pancasila, apakah kita bisa cukup pikiran, rasa, dan sikap dalam bertoleransi dengan hal-hal tersebut!?

Semoga kegiatan ini menjadi pelecut untuk tetap berpegang pada nilai universal dan lokalitas kita! #SalamPancasila

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi dan menulis feature perjalanan dan buku. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

1 komentar so far

Terima kasih telah berkunjung, tunggu kunjungan balik saya ya...
EmoticonEmoticon