Showing posts with label Breakthrough. Show all posts
Showing posts with label Breakthrough. Show all posts

12.12.20

Pahami Karakter Medsosmu, Brosis! Jangan Sampai Keuwuan Membawa Sengsara

Uwu, seuwu tulisannya! @abahraka

Warganet 62 terkenal Julid, karena kejulidannya yang sudah melewati batas wajar, sampai-sampai lahir frasa netizen mahabenar. Namun pada sisi lain, netizen 62 juga terkenal dengan sikap empatiknya di dunia lain, apalagi jika dibubuhi dengan kata Please twitter, give your magic!, dengan cepat postingannya akan tersebar ke mayantara.


Akhir-akhir ini fenomena semacamnya menjadi pemandangan yang biasa di twitterland, yang bisa menyebar ke seantero negeri medsos lainnya. Jika awalnya, saya sering melihat fenomena tersebut karena isu-isu politik, belakangan tentang keuwuan anak tanggung sampai menu bekal suami pun dijulidin netizen maha benar. Wajar jika abegeh tersebut mendapatkan spill of the tea, karena sebelumnya, sang lelaki menggoda perempuan lain, sampai minta pap sensitif segala. Etapi menu bekal suami, kenapa dijulidin juga? Nah, kejulidan ini mengetuk tangan-tangan gatal saya, untuk menuliskan dalam bentuk catatan tak berdaya ini.


Sulit Melihat Orang Bahagia

Kenapa melihat orang bahagia begitu bencinya, dan saat orang berbagi inspirasi, seperti menonton kesalahan hakiki? Sedangkan berbagi posisi batu bata rumah di atas kusen pintu jadi inspirasi?


Asumsi saya, kedua contoh kasus tentang keuwuan erat hubungannya dengan rasa! You know lah, rasa itu ibarat lidah, saat badmood, makanan enak apapun tetap tidak punya taste. Hambar. Jika tidak enak justeru mengundang emosi. Apalagi bagi seseorang yang selama hidupnya belum pernah merasakan manisnya berpasangan. Jomlonya udah takdir. Untuk merasakan keuwuan, para jones badmood harus sering-sering nonton drakor. Nah, saat drakor selesai, badmood-nya memuncak lagi. Saat keuwuan orang muncul pada temlen, mencabik-cabik perasaannya, yang udah lama garing bertambah kering kerontang. Komentarnya pun autojulid. Belum lagi situasi sulit seperti sekarang menjadi pelengkap kejulidannya.


Kalau di temlennya muncul postingan keuwuan dengan dengan mutualannya, apakah itu tidak bikin panas? Sementara dirinya, yang sudah lama ngecengin anak tetangga, gak pernah dapat. Apalagi saat seorang istri sholehah, begitu cintanya, setiap hari membuatkan sarapan dan bekal, apa gak merasa gagal tuh kaum feminis dalam mendidik kaumnya agar memberontak patriarki? Maka muncul kejulidan-kejulidan berlapis yang akan diarahkan kepada siapapun yang pamer keuwuannya. Betapapun keuwuan yang wajar.


Nah, kalau sudah kejadian seperti ini, yang repot bukan hanya penikmat keuwuan semu dunia maya, juga para juliders yang tidak bisa tenang hidupnya. Karena setiap menonton keuwuan orang lain, hatinya panas bin julid.


Bukan untuk Fomo Sapiens

Pada negeri sebelah (baca Instagram), keuwuan menjadi hal yang lumrah. Bahkan keuwuan yang remeh temeh pun sering menjadi konsumsi warganya. Senang-senang aja tuh. Bahkan dapat laik dan komentar banyak. Gak ada yang julid. Kecuali seleb yang banyak haternya. Sepertinya, berbagi keuwuan di negeri sebelah itu, menjadi paten bagi negeri tersebut. Hal yang sulit terjadi, kalau orang-orang biasa (folowernya masih dikit) dijulidin sama warganet biasa juga.


Wajar jika negeri ini terkenal dengan sebutan negerinya tukang pamer; dari remeh temeh hingga ramah tamah, dari yang sederhana hingga yang mewah. Dari dapat voucher 50ribu, hingga dapat giveaway jutaan. Dari yang dapat untung ribuan hingga puluhan juta. Dari usaha jual cilok sampai usaha jual intan. Dari yang hanya makan sama ikan asin, sampai yang makan ikan Arwana harga jutaan (dikiranya ikan Arwana buat digoreng). Semua lumrah terjadi dan tidak pernah terjadi kericuhan.


Kaum julid juga malas jika harus numpahin teh di negeri kaum FoMO! (Fear of Missing Out). Karena pasti setiap orang berlomba-lomba pamer segala hal. Gak ada kesempatan kaum julid bikin ricuh, karena setiap netizen berkomentar dengan keuwuannya masing-masing. Mereka yang pseudo UWU, tidak punya kesempatan sama sekali untuk menuangkan tehnya. Maka pembalasan kaum julid lari ke twitterland, yang memungkinkan setiap orang membuang semua sampah dan sumpahnya.


Lengkaplah twitterland oleh beragam manusia; dari yang terpelajar, politisi, para UWU, sampe penyedia jasa esek-eesk. Sejak pemilik twitter memfasilitasi dengan beragam fitur yang unyu, banyak generasi abal-abal pindah ke sini. Dengan akun abal-abal mereka menjadi zombie di siang hari. Memakan semua hal yang berbau rasa dan keuwuan. Menyerang kebijaksanaan yang tidak mereka dapatkan di lingkungannya nyatanya.


Jadi, saranku, Kaum FoMO Sapiens, silahkan bersenang-senang di negeri yang memanjakan dirimu, yaitu di Instagram yang bersih, wangi, dan penuh pesona. Jangan di twitterland yang sudah basah oleh kucuran liur sampah serapah dan semua jasa hampir semua tersedia. Tapi lain hal, jika kamu seleb, apalagi pecandu sahdu, betapapun sampahnya cuitanmu, pasti disambut bahagia oleh mereka.


Anda harus sadar diri sebagai orang biasa, tunjukkanlah bahwa anda juga biasa, jika perlu, tunjukkan kesulitan anda, karena justeru mereka kaum Julid cukup bahagia melihat kesulitan. Mereka pun langsung percaya, karena kesulitan serupa dengan kekeringan rasa mereka. Walaupun pada akhirnya mereka tertipu dengan simulacra mayantara.


Tapi tidak sedikit kok, bahwa kesulitan-kesulitan itu nyata dan berbuah bahagia, karena; entah itu yang sedang bertahan hidup dengan berjualan, menjual motornya, ataupun jenis kesulitan lain misalnya diusir ibu tiri. Kesulitan mereka disambut dengan empatik.


Pahami Karakter Medsosmu, Brosis!

Setiap media sosial memiliki niche-nya masing-masing. Tidak menyamaratakan perlakukan pengguna terhadap semua media sosial menjadi pilihan bijak, jika eksistensi kita ingin diakomodasi. Mungkin itu kata-kata bijak yang saya miliki untuk penduduk tiap media sosial. Walaupun, tidak semua media sosial membuat segmentasi tertentu. Misalnya, twitter hanya untuk kaum terpelajar dan melek politik. Siapa bilang? Toh sekarang, politik bukan tema satu-satunya yang sering trending. Isu-isu remeh temeh dan bahasan generasi lebay juga banyak kok di sini.


Jika di negeri tetangga, Instagram, kalian mau pamer segala macam sah-sah saja, sepertinya negeri tersebut memang yang paling cocok. Tapi tidak cocok untuk berbagi informasi link berita, karena cocoknya di dunia lain, facebook, yang sudah sangat berjubel dari anak gadis sampai nenek kakek.


Kalau mau cari gebetan, tentu kalian tidak cocok mencarinya di negeri kantoran semacam LinkedIn, karena negeri tersebut khusus untuk para jobless dan penebar lowongan kerja. Kalian cukup pergi ke negeri Tinder atau Tantan. Begitu juga kalo mau cari cowok atau cewek yang gampang untuk bermain-main di kosan, tentu tidak di medsos itu, tapi di youchat.


Jika kalian ingin menjadi betul-betul maya dengan informasi yang seringkali mengagregasi keviralan dari media online tidak jelas,  kalian harus paham, itu ada di line. Atau jika kalian ingin memalsukan informasi, jangan bermain di Wikipedia, tapi bikin blog sendiri. Karena Wikipedia berisi orang-orang dengan berjubel pengetahuan.


Jadi bagi medsos addict, kalian harus paham karakter dari aplikasi jejaring tersebut, agar kalian tidak kena julid dan aplikasi kalian tidak rusuh. Jangan sampai kalian tidak tahu ‘niche’ yang lagi trend pada setiap aplikasi tersebut, karena salah tema saat berbagi, kalian bisa berakhir sengsara. Tapi jika tepat, kalian akan berakhir bahagia. Ya, bahagia yang semu!.***[]

 

Read More

13.7.18

Menjadi Doktor Tanpa Karya!

sumber gambar: nu online
Bagi akademisi atau berprofesi sebagai pengajar di perguruan tinggi, melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi menjadi mimpi atau bahkan keharusan. Karena isunya, dosen tidak lagi terbatas pada pendidikan S2, tetapi S3 dengan gelar doktor atau Ph.D jika dari luar negeri.

Tidak semua pengajar mendapatkan kesempatan tersebut, dengan program-program penggenjotan pendidikan paling tinggi ini menunjukan bahwa prosentasenya masih sedikit yang mengenyam pendidikan S3. Lambat laun program ini mulai kelihatan, kini anak-anak muda dengan usia 30an tahun sudah cukup banyak yang mengenyam pendidikan S3, dan mereka mendapatkan gelar doktor di bahwa usia 40 tahun atau di atas 30 tahun. Luar biasa.

Ada yang bilang mereka hebat. Mereka sendiri tidak merasa mereka hebat. Atau justeru sebaliknya mereka merasa paling hebat karena masih sedikit teman-teman seprofesinya mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan S3.  Di samping karena seleksi masuknya yang ketat, juga biayanya yang tidak murah. Jika harus ke swastapun sama saja. Belum lagi prosesnya seakan jungkir balik dengan tugas-tugas. Belum lagi mengejar jurnal internasional. Dengan keterbatasan bahasa dan ketidakbiasaan melakukan penelitian, hal ini menjadi cukup berat.

Lalu apa setelah lulus S3 dan berhasil mendapatkan gelar doktor?

Seorang senior berkelakar, jika doktor hanya mampu menjadi jago kandang, berarti gagal. Gak pernah ada yang mengundang jadi pembicara misalnya minimal dari kampus sendiri. Apalagi dari kampus luar. Artinya, kampus sendiri ataupun luar tidak tahu sama sekali apa yang menjadi keahliannya. Ada benarnya juga kelakar tersebut. Sudah pusing-pusing kuliah, bayar mahal-mahal, waste time, meninggalkan keluarga, lalu hasilnya nihil.

Inilah yang ditakutkan, menjadi semacam motivasi buat saya sendiri, jika kemudian mengenyam pendidikan tertinggi ini. Keahlian saya harus diketahui orang. Bagaimana caranya? Banyak cara! Salah satunya adalah bergaul dengan pernak-pernik akademik. Misalnya; tulisan sering muncul diberbagai media massa, agar popular sebagai intelektual publik. Dari sisi akademik juga harus sering menelurkan jurnal ilmiah, dan tentunya harus punya karya utuh dalam bentuk buku orisinal yang menunjukan siapa kita.

Apakah sudah cukup? Belum!

Yang paling penting adalah bagaimana seorang doktor juga tidak hanya berkutat dengan persoalan-persoalan akademik. Menjadi keniscayaan untuk menjadi seorang intelektual. Meminjam Ali Syariati, menjadi intelektual tercerahkan. Pikirannya menembus langit tangannya menggenggam lumpur. Syariati mengatakan:
“Seorang intelektual tercerahkan adalah ia dengan tangan yang sama menuliskan ayat-ayat suci dari langit serta terbenam dalam genangan lumpur dan mengayunkan kayu untuk menyuburkan tanah yang kering, ia berdiri tegak memperjuangkan ayat-ayat Allah dan hak-hak masyarakat”.
Seorang yang ahli dan menjadi intelektual public tidak hanya menguasai ilmu dalam bidang akademiknya saja. Ia harus mau turun ke tengah-tengah masyarakat untuk mengetahui persoalan-persoalannya dan menyodorkan tangannya untuk membantu mereka. Seorang intelektual selalu resah dengan keadaan sekitarnya. Tidak hanya resah dengan persoalan akademiknya.

Jika bidang akademik saya misalnya berkaitan dengan isu-isu masyarakat terkini atau biasa disebut dengan era revolusi industry 4.0 atau istilah Fukuyama dengan Disruptions yang kemudian dijadikan judul buku oleh Prof. Rhenald Kasali, maka isu-isu yang saya angkat relevansinya akan kuat dengan tema tersebut. Apa, siapa, kenapa, dimana, dan bagaimana menghadapi era tersebut. Ini akan menjadi semacam rujukan bagi masyarakat.

Orang-orang yang concern terhadap isu yang dikuasainya dan secara konsinten berbagi dan berpeduli dengan dunia tersebut, pada dasarnya ia telah melakukan action sebagai intelektual. Ia tidak hanya menjadi pemikir di bidangnya, juga turut terjun ke gelanggang untuk menyelamatkan mereka yang terjebak atau tidak tahu jalan di hutan belantara revolusi Industri.

Sebelum menjadi doktor, marilah kita berproses menjadi intelektual. Agar tidak hanya berkutat pada bidang akademik yang selalu duduk di atas menara gading. Marilah terjun ke tengah-tengah masyarakat agar proses intelektualitasnya terasah sehingga ketika menjadi doktor sekaligus kita juga menjadi intelektual tercerahkan seperti ditulis oleh Ali Syariati, serang arsitek revolusi Islam Iran.

Dengan begitu, karya pun akan dengan sendirinya mengikuti, karena ketika banyak sekali isu yang menjadi pemikiran kita, mau tidak mau kita menuangkannya dalam bentuk tulisan tidak hanya berada dalam pikiran. Konsep yang bagus adalah konsep yang sudah dituangkan dalam bentuk sketsa atau tulisan. Sehingga mudah ditemukan dan dipelajari oleh orang lain. 

Jangan menjadi doktor tanpa karya, meminjam istilah seorang teman ia masuk kategori Jaringan Intelektual Kagok. Mari berkarya!


Read More

24.8.16

Bercengkrama dengan Bapak Internet Indonesia


Cuaca saat itu cukup bersahabat, dengan panas yang agak kemalasan, membuat perjalanan dari Pahlawan menuju Lapas Sukamiskin cukup lancar. Tanpa harus berpanas-panas ria. Menggunakan sepeda motor, waktu yang ditempuh tidak lebih dari 20 menit. Bertemulah dengan Maz Hazmi, penulis buku dan blogger, serta yang kami anggap suhu di blogger bandung, Bang Aswi dan 3 orang teman lain, Nurul dan suami. 

Setelah berkoordinasi, masuklah ke Lapas tanpa susah-susah, karena ternyata kedatangan kami sudah dijadwalkan oleh pribumi, yaitu Indar Atmanto, bahkan Isterinya sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan kami. Sehingga harus jauh-jauh dari Jakarta menuju Bandung agar kami betul-betul nyaman saat ngobrol dengan Pak Indar.

Mungkin ada yang tidak tahu dengan sosok Indar Atmanto, Dia merupakan Direktur Utama PT IM2, anak perusahaan Indosat yang menjalankan bisnis jaringan internet. Indar terkena kasus kriminalisasi jaringan oleh LSM konsumen yang salah kaprah membidik korupsi. 

Kasusnya sempat heboh, karena menyangkut hajat hidup orang banyak di era serba terhubung. Jika kasus ini terus berlanjut dan tidak bisa diselesaikan secara hukum, lalu merembet ke persoalan yang sedang menjerat Indar Atmanto yang disangka merugikan negara karena perusahaan yang dipimpinnya PT IM2 tidak membayar biaya sewa jaringan ke negara. Maka ancaman asosiasi penyelenggara internet di Indonesia bisa saja terbukti. Semua penyelenggara jasa internet/ provider takut menghadapi ancaman serupa seperti menimpa Dirut IM2 tersebut.

Bersyukur, lulusan ITB ini berani pasang badan sehingga kasus yang menimpanya tidak merembet ke provider lain. Sehingga netizen di Indonesia masih bisa merasakan lalu lintas internet di Indonesia. Jika tidak, sejak beberapa bulan lalu, kita tidak bisa lagi menikmati internet di Indonesia, dan tentunya, sebagian besar usaha yang sudah sangat tergantung terhadap jaringan internet akan lumpuh.
Kamis, 22 Pebruari 2015, saya berkesempatan berbincang-bincang dengan Pak Indar dalam suasana yang akrab di Lapas Sukamiskin. Adalah sahabat Blogger Hazmi Fitriyasa dan Bang Asmi yang mengajak kopdar, sekaligus mensupport Pak Indar yang sebetulnya secara substansi tidak salah.

Pak Indar menjadi korban kebutaan hukum Teknologi Informasi para penegak hukum. Sekaligus menjadi korban LSM yang mencari peluang kesalahan demi segenggam berlian. Dan terbukti, LSM tersebut setelah ‘melaporkan’ Pak Indar terkena kasus pemerasan dan dipenjara. Selama Pak Indar dalam proses pengadilan, LSM tersebut dibui  dengan tuduhan pemerasan, ia di jebloskan ke balik jeruji besi.

Pak Indar tampaknya menyadari betul apa yang dihadapinya adalah persoalan kriminalisasi yang tidak jelas objek kesalahannya. Ia mengibaratkan bahwa persoalan jaringan dan frekwensi itu dengan sebuah kendaraan. Jika kita hendak pergi ke suatu tempat menggunakan bus, yang kita sewa adalah seatnya, tempat duduknya. Kita tidak menyewa sopir, ban, ataupun ruangnya dalam kendaraan tersebut, tetapi pemiliknya tiba-tiba meminta bayar sewa untuk  sopir, ban, dan juga ruangan, selain seat yang telah kita bayar. Saat kita menyewa seat, maka sudah include di dalamnya menyewa kendaraan dan supirnya, apalagi ban yang menjadi bagian dari komponen kendaraan tersebut sudah tidak perlu dibicarakan lagi dalam soal sewa menyewa seat. 

Perumpamaan tersebut sangat masuk akal, saat PT. IM2 yang dipimpin olehnya menyewa Jaringan Indosat. Penyewaan jaringan include di dalamnya juga frekuensi sebagai bagian yang dikontrak. Namun sayang, setebal apapun argumentasi yang disodorkan oleh team kuasa penyelenggara jasa internet tersebut seolah tak mampu menembus dinding ‘kebutaan’ para penegak hukum soal jaringan dan frekuensi. Bapak Internet di Indonesia ini tetap di penjara. Sehingga secara de fakto, suami dari seorang desainer ini menjadi korban dari kriminalisasi. Para penyelenggara internet di Indonesia tetap memberikan dukungan moral terhadapnya. Bahkan sebagian kebijaan dari PT IM2 masih berada di tangannya, karena pihak Indosat pun tidak mengakui kesalahan-kesalahan yang disangkakan kepadanya. 

Bapak Internet Indonesia
Melalui PT. IM2, pak Indar banyak melahirkan inovasi di bidang jaringan telekomunikasi khususnya internet. Ia bersama IM2 menjadi pelopor internet di Indonesia. Pak Indar, sebelum akhirnya Indosat berpisah dari saudara kandungnya Telkomsel, sebagai pelopor telepon seluler, banyak melakukan inovasi di bidang jaringan telekomunikasi internet. Wajar jika akhirnya ia mendapat ganjaran sebagai CEO terbaik dari majalah bergengsi 

Melalui buku ‘Krikil Tajam Telekomunikasi Broadband Indonesia’ Indar banyak bercerita bagaimana perjalanan membangun jalan tol internet di Indonesia. Jalan tol Internet menjadi mimpi dari Indar untuk mencerdaskan masyarakat melalui teknologi digital.

Dalam buku tersebut diceritakan bagaimana krikil datang silih berganti, dari mulai membangun infrastrukstur, suprastruktur, hingga Pak Indar akhirnya harus masuk penjara. Indar menjadi korban kejahatan dari kerakusan para pencari berlian yang mengandalkan jamuan gratis. 

Tak terasa, waktu berjalan, dari pukul 12.00-16.30-an kami mengobrol dalam suasana yang akrab. Walaupun baru pertama bertemu, tetapi jelas dari bahasa tubuhnya Pak Indar tidak menyimpan beban berat. Ini bagian dari perjalanan hidup yang harus dilaluinya. Kriminalisasi ini sepertinya sudah sangat dimafhumi oleh Pak Indar. Semoga keadilan tetap memihak orang-orang yang memperjuangkan kebenaran.
Sumber: uplek.com, tulisan pribadi
Read More

12.4.16

Attitude VS Pengetahuanmu


Sumber: LinkedIn.com
Remaja cantik yang masih SMA memaki-maki polisi, sambal mengaku-aku jika dirinya anak seorang pejabat berpangkat jenderal. Sonya Defari seketika menjadi seleb. Seragam sekolahnya yang dikenakannya tidak berbanding dengan sikap seharusnya sebagai anak sekolahan. Bukan kali pertama terjadi. Cantik, lucu, mungkin juga pintar—tapi jadi objek bully para netizen. Kasihan sekaligus sedih.

Ini juga terjadi di sekolah-sekolah saat siswa meledek gurunya atau mahasiswa melecehkan dan meledek dosennya. Seorang guru pada saat saya SLTA bercerita, ia pindah ke kota kecil gara-gara mendapatkan ancaman dari siswanya. Seakan ini menjadi fenomena. Banyak sebagian dari kita (mungkin) tidak mampu menahan diri.

Daniel Goleman, menyoroti persoalan ini dengan istilah kecerdasan emosi. Ia pernah menceritakan sebuah pengalaman yang dialami oleh karyawan yang pintar. Seorang Advokat yang cekatan dan penuh antusias. Ia adalah advokat berprestasi dan sangat diandalkan oleh firma hukumnya.

Suatu hari ia kecelakaan dan kepalanya terbentur dengan kerasnya. Selain kepalanya terbentur, ia juga mengalami patah kaki dan luka dalam. Alhamdulillah, dalam waktu satu bulan kesehatannya bisa pulih. Ia juga sudah mulai masuk kantor.

Dalam satu sampai dua hari belum ada yang aneh. Menjelang satu minggu, bosnya mulai melihat ada keanehan dari sikap dan perilaku karyawannya yang tidak biasa. Mulai saat masuk ruangan, biasanya ketuk pintu terlebih dahulu. Ia juga sering membantah saran-saran dari bosnya.

Tidak sampai satu bulan setelah ia kembali bekerja, bosnya dengan terpaksa memberhentikan karyawan berprestasi dan pintar tersebut. Satu catatan yang disayangkan bosnya, sikap-sikapnya tidak lagi bisa ia toleransi.

sumber: Katebilling.com
Cerita seperti mungkin pernah kita alami dan ada dalam lingkungan kita. Seseorang yang memiliki banyak pengetahuan tetapi berdiri seperti pohon kelapa ia akan dijauhi. Beda dengan yang menganut ilmu padi, makin menunduk semakin orang-orang mencarinya.

Tahun 1960-an satu penelitian mengarahkan dunia karir begitu mengagung-agungkan kemampuan intelektual. Intelektualitas berdiri di atas kecerdasan social, emosional, dan spiritual. Nasihat diabaikan, relasi ditenggelamkan, dan kematangan emosional tidak dipentingkan.

Dampaknya adalah seperti yang saya baca dalam status seorang teman,”kenapa sekarang banyak sekali staf muda tidak menghargai staf seniornya,” tulisnya. (saya samarkan).

“Tidak menghargai” bisa jadi merasa diri lebih hebat karena pendidikannya lebih tinggi atau karyanya banyak atau sering menjuarai lomba-lomba. Tidak menghargai juga bisa jadi sikapnya yang terlalu angkuh atau tidak ramah. Bisa jadi.

Attitude atau sikap adalah respon yang diberikan seseorang kepada orang lain saat berinteraksi langsung ataupun tidak. Jika sudah mendarah daging sikap biasanya mewujud jadi sifat atau karakter dari seseorang.

Jika merujuk pada istilah sekarang, sikap diterjemahkan menjadi semacam kecerdasan emosional dan sosial. Sabar, tidak emosian, bisa mengendalikan diri, tidak gampang menyepelekan, ramah, tidak angkuh atau tinggi hati, tidak merasa paling, ramah, tidak usil, daaan lain sebagainya. Tulisan Antara Berbagi dan Menggurui juga menjadi bagian dari sikap yang saya tulis ini. Menggurui bagi sebagian orang merupakan sikap yang tidak disukai.

Banyak cerita dan pengalaman jika sikap menjadi bagian dari sukses tidaknya seseorang. Penentu sukses seseorang di masa depan bukan hanya soal seberapa jeniusnya orang tersebut, bukan seberapa sering dia juara olimpiade. Bukan soal jago tidaknya dia membuat simulasi.

Di satu perguruan tinggi, seorang teman dengan IPK 3,8 diminta mewakili jurusannya untuk menyampaikan pidato wisuda, namun suatu ketika ia pernah mengatakan staf akademik dengan kata-kata bodoh. Ia pun batal menjadi wakil jurusannya. Bukan prestasi memang jika hanya menjadi wakil untuk menyampaikan pidato saja, namun jika dirunut, ini menyoal kepercayaan seseorang atau lembaga terhadap dirinya.

Alamiah saja, kita cenderung suka terhadap orang yang rendah hati dibandingkan yang tinggi hati. Saat saya minta diajarkan ke teman mahasiswa, dia menjawab,”waah saya kalo ngajarin gak bisa, tapi kalo sharing mah hayu,”

enak bacanya juga kan, Bandingkan dengan kalimat ini:

“Kalo belajar sama saya dong yang ahlinya, saya sudah bergelut puluhan tahun di bidang itu”.

Walaupun iya ahli, tapi untuk sebagian orang tidak suka jika kelemahannya makin dilemahkan.   

Fenomena Ilmu yang dimilikinya tidak berbanding lurus dengan sikap seharusnya, juga banyak terjadi pada pemuka agama yang memiliki ilmu, kadang sikap-sikapnya tidak seuai dengan tuntutan keharusan ia sebagai orang yang faham akan agama. Juga mungkin kita temukan dalam komunitas kita, dalam kelas, ataupun dalam lingkungan kolega dan teman kerja kita.

sumber:lifehack.org
Fenomena inilah yang mendorong konsep pendidikan berbasis karakter yang kemudian (kalo tidak salah) dituangkan dalam konsep kurikulum 2013 (kurtilas) dimana komponen sikap menjadi bagian dari penilaian integral dalam nilai raport/ kartu hasil studi.

Dalam kelas-kelas motivasi, Attitude sering disimulasikan dengan mengasosiasikan dengan angka. A=1, B=2, C=3, maka jumlah Attitude = 100. Jumlah sempurna/ istimewa dalam pencapaian nilai di kelas yang menyisihkan nilai lain seperti pintar, ulet, dan lainnya.
Semoga saya dan kita bisa memperbaiki diri***[]

Mungkin tulisan ini relevan:
Read More

9.4.16

Antara Berbagi dan Menggurui


Sumber: normantis.com
Tagline Sakral dalam dunia blogging adalah Sharing dan Connecting. Bagi saya selain berbagi juga berjejaring alias silaturahmi. Menjalin relasi dengan berbagai latar belakang blogger yang heterogen. Walaupun ngeblog sudah sejak 2006, berjejaring mulai terasa sejak kenal Kompasiana 2009. Berjejaring bagi saya selain bertambah teman juga bertambah ilmu.

Para blogger berasal dari berbagai jenis profesi dan pendidikan. Namun itu bukan soal, semua disatukan oleh sakralitas berbagi dan berjejaring. Namun, tidak semua yang dibagikan tersebut bisa dibaca oleh para netizen dan blogger. Tentu semua disesuaikan dengan kesukaan dan passion atau apa yang ingin diketahuinya. Wajar jika pada akhirnya pilih-pilih, karena semua itu adalah hal lumrah dan alamiah.

Belakangan dari kegiatan blogging juga mendatangkan hal lain seperti rezeki yang tidak disangka-sangkat, misalnya ditawari jadi redaksi majalah, jadi content writer, buzzer, atau pun undangan event-event. Tawaran tersebut mau diambil atau tidak, tentu tergantung pribadi kita. Disesuaikan dengan waktu luang. Hal ini juga bagi saya bagian dari dampak berjejaring seperti pernah dikatakan oleh para guru kita. Silaturahmi memperpanjang rezeki.

Bukan hanya rezeki, juga mendatangkan ilmu. Dari mulai ikut kelas-kelas blogging, blogshop, seminar, blogger gathering, dan lain sebagainya. Apa yang luar biasa dari itu semua? Yang luar biasa adalah kesempatannya bisa mengenal dan berjejaring. Silaturahmi dan silaturahimnya. Semua ada dalam bingkai blogging.

Namun bukan berarti blogging berjalan tanpa dinamika, apalagi saat berbagi tulisan politik. Tidak sedikit yang nyinyir karena tidak mendukung  calon yang sama. Kadang komentarnya sangat pedas. Muncullah fenomena unfriend dan unfollow. Berbagi tidak selalu direspon dengan positif, padahal tidak menyinggung personal blogger sama sekali. Ini bagian dari resiko berjejaring, sama beresikonya dengan kehidupan dunia nyata. Biarpun kita berbagi dan tidak berniat jahat selalu ada orang yang usil dan tidak senang. Menulis tidak menulis, berbagi tidak berbagi tetap diomongin dan dinyinyirin orang.

Tidak hanya fenomena tersebut, dengan latar belakang berbeda-beda entah pendidikan, keahlian, atau kemampuannya. Muncul juga fenomena menggurui dengan menempatkan diri menjadi Blogger super, tanpa cacat sedikitpun.

Jangankan orang dewasa, kadang anak-anak saja sekarang tidak mau digurui. Mereka senang jika cara menyampaikan atau mengkritiknya dengan Bahasa berbaur, tidak berjarak, atau menempatkan diri di tengah. Sedangkan Bahasa menggurui cenderung memosisikan dirinya serba tahu dan menganggap orang lain baru lahir.

Dalam dunia pendidikan istilah menggurui ini biasanya diistilahkan pedagogi. Di dalamnya ada isntruksi, di dalamnya ada telunjuk. Guru memosisikan diri serba tahu, serba segalanya. Namun sepertinya, pendidikan sekarang selain masih bertahan paradigram pedagogi, juga sudah menggeser paradigmanya bagaimana cara pembelajaran orang dewasa atau kalo gak salah istilahnya Andragogi.
Terlepas istilah andragogi dan pedagogi tersebut. Kembali ke diri pribadi, memosisikan diri menjadi orang yang serba paling tahu dalam berbagi justeru akan mencederai silaturahim. Karena mengganggap orang lain baru anak kemarin sore.

Dalam berbagi semua orang memosisikan diri setara dan sejajar. Yang tahu sesuatu lebih dahulu dari yang lain, berbagi untuk rekannya yang belum tahu. Begitu juga sebaliknya, memosisikan diri lebih rendah dari orang lain hanya akan menempatkan diri lebih rendah dan lebih dalam kerendahdirinya. Kita justeru akan tambah minder.

Dalam berbagi, semua sejajar. Posisinya bukan memberi tahu tapi berbagi ilmu. Istilahnya saja sudah beda. Memberi tahu dan berbagi. Dan itulah yang membuat saya merasa bisa bertahan jika masuk komunitas. Berbaginya lebih dominan daripada memberi tahunya. Berbagi adalah menginspirasi. Orang yang berbagi biasanya bisa menginspirasi orang lain. Tidak pelit ilmu.

Bagaimana cara membedakan mana yang memberi tahu dan menggurui? Saya kira setiap orang memiliki sense of ego. Kembali ke diri sendiri. Berbagi akan mendatangkan silaturahmi. Menggurui? entahlah, mungkin banyak yang merasa jenuh dan bosan. Apalagi kita bukan guru. Selamat Berbagi selamat Hari Sabtu. ***[]

Read More