Showing posts with label Buku. Show all posts
Showing posts with label Buku. Show all posts

11.6.18

Setelah Artikel-Opini, Feature, Lalu Esai!

Inilah Esai, Dokumen Pribadi
Sudah lama mencari buku yang membahas tentang hal ihwal tentang Esai, tapi ternyata cukup sulit, atau memang tidak ada penulis yang mengkhususkan diri menulis buku tentang esai, kecuali antologi esai. Padahal pelatihan penlisan esai beberapa kali saya pergoki walaupun saya tidak menjadi bagian di dalamnya. Kebanyakan buku sejenis tentang artikel-opini, berita dan feature berserakan dalam buku-buku pengantar jurnalistik. Esai? Sama sekali tidak ada karena barangkali tidak masuk kategori produk jurnalistik. Walaupun bisa jadi menjadi bagian dari suplemen produk jurnalistik.

Akhirnya kata kunci mengantarkan saya menemukan satu buku yang diterbitkan secara indie oleh radio buku, dengan penulisnya seorang esais; Muhidin M. Dahlan dengan judul Inilah Esai. Aha inilah yang saya cari-cari di dalamnya. Saat membaca ringkasan, saya curiga jika buku ini adalah buku kumpulan esai dari para penulis sohor sekelas Cak Nun yang telah melahirkan puluhan buku dari kumpulan-kumpulan esai-nya.

Bersamaan dengan Inilah Esai yang saya bawa serta adalah kumpulan Esai dari St. Sunardi Vodka dan Birahi Seorang ‘Nabi’. Jujur, beberapa buku yang ada dalam rak saya adalah kumpulan esai dari penulis sohor yang bahkan menjadi contoh-contoh esai yang ditulis oleh Muhidin ini, sebut saja misalnya esai-esai dari Kuntowijoyo, Yasraf Amir Piliang, Idy Subandi Ibrahim, Cak Nun, Seno Gumira Aji, F Budi Hardiman, Hernowo, atau yang cukup baru dari Pak Guru J. Sumardianta ‘Habis Galau Terbitlah Move On’.

Sayang dari sekian yang mendiami rak saya, yang rata-rata tidak pernah habis saya baca, saya tidak pernah menemukan kata sepakat tentang esai. Rasanya hambar jika saya temukan tulisan yang berserakan di internet tentang esai, tidak ada kata sepakat tentang esai, saya tidak puas, sebelum akhirnya menemukan karya pendiri radio buku tersebut, ‘Inilah Esai; Tangkas Menulis Bersama Para Pesohor’.

Dalam sampulnya saja sudah memberikan kata sepakat dan memenuhi rasa dahaga saya tentang definisi esai, ‘ Esai itu menghormati karya ilmiah dan puisi’, yang menjadi sub judul dari subjudul buku. Pantas, jika materi tentang esai tidak masuk ke dalam salah satu submateri pengantar ilmu jurnalistik, karena esai berdiri di antara. Berbeda dengan feature.

‘Inilah esai’ sendiri adalah esai. Ya buku ini ditulis dengan gaya menulis esai, berada diantara karya ilmiah dan puisi. Dengan data yang cukup lengkap Muhidin memberikan contoh-contoh esai, persis seperti sedang menulis karya ilmiah. Tapi pada sisi lain, pemilihan diksinya kadang-kadang membuncah, menendang, dan tidak terduga persis seperti fiksi yang sering memunculkan diksi-diksi provokatif, emosional, dan kadang baperan.

Dengan dinamika diksi penulis yang menggunakan gaya esai dalam menulis buku ini, saya merasa kembali lagi ke jaman mahasiswa, buku ini saya lahap dalam waktu yang dalam ukuran sekarang cukup singkat hanya satu minggu. Persis ketika saya membaca buku ‘Muslim Tanpa Mesjid’ Kuntowijoyo pada tahun 2001-an saat mengikuti basic training dari salah satu organisasi pelajar. Termotivasi.

Buku ini bukan hanya memandu secara teknis bagaimana menulis esai, tapi juga sikap apa yang harus dimiliki oleh calon penulis ketika ingin menulis esai. Ia harus banyak menyerap pengetahuan, apapun itu. Sehingga bisa menggunakan kekayaan wawasan dan pengetahuan tersebut sebagai persfektif yang kaya dalam menulis esai.

Satu catatan untuk penulis, betapa ia sebagai seorang literatur sejati ia hampir menguasai semua hal yang terkait dengan situasi dengan konteks saat esai-esai dari pesohor ditulis. Dari mulai saat penulis belum lahir hingga era Jokowi membubukan kaki kekuasaannya dalam esai ‘Revolusi Mental’. Sepertinya ia menyimpan banyak arsip tentang esai-esai sejak era Soekarno Hingga Jokowi.

Bagi saya buku ini mengantarkan kembali pada semangat belajar, saat mahasiswa, penuh idealism, kritis, dan kadang tak tahu diri. Mudah-mudahan ‘ketaktahudirian’ yang menjadi sifat terakhir saat mahasiswa kini bisa saya hilangkan sesuai dengan bertambahnya umur.

Ya, setelah merasakan bagaimana artikel-opini muncul dan beranak pinak pada koran dengan seleksi cukup ketat dan feature yang harus menunggu hinggal berbulan-bulan. Pada akhirnya saya menemukan media untuk menumpahkan unek-unek tanpa harus nyinyir dan emosional, karena disampaikan dengan bahasa yang elegan dan tanpa harus menohok langsung pada objeknya. Seperti yang terjadi di kampus, seorang pimpinan selalu menggunakan telapak tangan orang lain untuk memukul sasarannya. Jleb. Inilah Esai!

Dua kata untuk buku ini ‘kaya dan renyah’.

Read More

25.2.18

Muslim Milenial, Konsumtif Sekaligus Religius!

Sumber: @abahraka
Setiap periode sejarah Islam di Indonesia memiliki tokoh-tokoh yang menjadi panutan sekaligus rujukan berfikir dan betindak ummatnya. Sejak prakemerdekaan yang melahirkan tokoh Ahmad Dahlan, Hasyim Asyari, Hamka, atau tokoh kemerdekaan M. Natsir dan Wahid Hasyim.  Wahid Hasyim putra Hasyim Asyari selain tokoh kemerdekaan juga menjadi tokoh orde lama. Begitu juga orde baru melahirkan pemikir pembaharu sekelas Nurkholis Madjid atau Zainudin MZ. Sedangkan masa reformasi kita mengenal sosok Amin Rais atau Aa Gym. Lantas bagaimana Islam generasi digital, siapa tokoh yang muncul ke permukaan?

Era digital yang tidak lagi mengenal batas geografis memiliki tokoh panutan yang digitalfriendly, ia melek teknologi sekaligus berwawasan lintas sektoral, kehadirannya selalu dibarengi oleh viralitas atas sepak terjangnya yang tersebar di media digital, baik media online mainstream ataupun media sosial. Sama halnya dengan tokoh-tokoh orde baru dan reformasi, ia juga memiliki pemikiran yang lintas madzhab.

Hanya saja, jika para tokoh-tokoh Islam sebelumnya terkesan serius dan kaku. Para tokoh Islam Era Digital cenderung gaul dan kekinian. Sebut saja Hanan Attaki, pendiri Pemuda Hijrah jebolan Al-Azhar Mesir ini bukan hanya menguasai keilmuan Islam ia juga aktif di media sosial. Tidak seperti ustadz kebanyakan, Hanan Attaqi mendekati market dakwahnya melalui pendekatan-pendekatan kekinian; vlogging, update media sosial, mengenakan sweater hooly, kupluk dan sorban.

Generasi muslim inilah yang hendak digambarkan oleh Yuswohadi dan kawan-kawan dalam buku Gen M #Generationmuslim, Islam Itu Keren. Generasi muslim era digital cenderung menjadi muslim yang universal, ia tidak hanya memikirkan urusan akherat dengan tingkat spiritualitas yang tinggi juga sangat sensitif terhadap urusan duniawi.

Generasi digital yang sering dianekdotkan menjadi jaman now seringkali dikategorikan sebagai generasi Y dan atau Z seperti ditulis oleh Don Tapscot dalam Buku  Grown Up Digital (2009). Dalam konteks muslim Indonesia diistilahkan oleh Penulis Buku Crowd  tersebut sebagai #GenM karena pengalamannya lebih kontekstual dibandingkan dengan yang diistilahkan oleh Tapscot.

#GenM muncul ketika ICMI lahir diikuti oleh kehadiran Bank berbasis Muslim, Muammalat, lalu keberpihakan Presiden kedua Indonesia H.M. Soharto, dilanjutkan masa reformasi, naiknya Gusdur menjadi presiden, Fenomena Aa Gym awal tahun 2000, disusul popularitas film Ayat-ayat Cinta, lalu opick, kemudian masuknya nafas Islam ke dalam musik rock seperti dilakukan oleh grup Band Gigi tahun 2005.

Tahun 2010 merambah ke dunia fashion, banyak artis dan dunia fashion mulai mengembangkan gerakan hijab, kosmetik halal, hotel syariah, media Islam. Lalu kemunculan dakwah melalui media digital tahun 2012, diikuti ekonomi sharing yang salah satu pendirinya juga mewakili generasi muslim seperti Nadiem Makarim pencetus Gojek atau Ahmad Zaki CEO Bukalapak. Dakwah melalui media sosial semakin populer seperti dilakukan Hanan Attaqie, dan lainnya. Peristiwa dan fenomena tersebut menjadi spirit bagi munculnya generasi muslim di era digital.

#GenM tidak hanya concern terhadap religiusitas secara personal, juga ditunjukkan melalui perilaku sosial; Zakat bertumbuh pesat, bukan hanya yang dikelola oleh pemerintah atau ormas, juga oleh Civil Society Organization (CSO) seperti Rumah Zakat yang jangkauan bantuannya sudah lintas negara, atau Aksi Cepat Tanggap (ACT), Yatim Piatu, dan masih banyak lagi.

Karakateristik lainnya yang dimiliki oleh #GenM adalah mereka juga modern, bukan hanya dalam konteks pemikiran tapi juga perilaku sehari-hari. Mereka selalu update terhadap persoalan dan pengetahuan dunia. Sense of knowledge yang dimiliki oleh #GenM membuat mereka  sangat terbuka, fleksibel, dan berwawasan luas dalam memandang segala persoalan. Karakteristik inilah yang menjadi modal bagi lahirnya berbagai ragam inovasi dari #GenM.

Hal yang paling mainstream dari karakteristik generasi ini adalah Digital Savvy. Mereka adalah generasi yang bergantung pada teknologi dan masif menggunakan 5 jenis layar; TV, desctop, laptop, iPad, dan smartphone setiap harinya. Melalui ragam layar tersebut mereka melakukan banyak aktivitas dari bersosialisasi, melakukan pekerjaan, berbelanja. Mereka menganut gadget freak dimana aktivitasnya banyak dihabiskan bersama kelima layar di atas sehingga kemampuan relationship dan social skill nya kurang. Mereka juga hidup di banyak tempat online (komunitas) baik berbahasa lokal ataupun global.

Banyaknya relasi secara online dari komunitas global membuat pikiran mereka juga sangat terbuka. Merekalah generasi global sesungguhnya, karena mereka tidak hanya mengetahui secara global persoalan, mereka juga sudah terkoneksi dan berelasi secara global secara online.

Yuswohadi dkk memotret dengan gamblang dalam buku berjudul #GenM yang diterbitkan oleh Bentang tersebut bagaimana generasi muslim masa kini bukan saja religius baik secara personal atau individual. Ia juga menjadi dinamisator ekonomi di Indonesia, baik ekonomi berbasis sosial seperti pengelolaan ZIS dan wakaf ataupun berbasis ekonomi sharing. Generasi muslim mengisi hampir di setiap sektor ekonomi Indonesia dari ekonomi berbasis teknologi sampai seni.

Sebagai buku hasil penelitian, buku ini sangat komprehensif dalam memotret kemunculan generasi baru muslim di era digital. Namun tidak seperti hasil-hasil penelitian yang cenderung disajikan dalam kemasan serius, buku ini justeru sebaliknya, ditulis dan dikemas dengan cara populer. Penulisan subjudul yang mengikuti trend digital menambah kesan ngepop terhadap buku kajian yang masih langka ini di Indonesia mengenai kebangkitan Islam Populer. Sehingga segmentasi pembaca pun bisa dari semua kalangan.

Untuk memahami generasi muslim masa kini agar tidak kehilangan kesempatan berinteraksi dengan para inovator yang berasal dari generasi , buku ini layak menjadi bagian dari koleksi. Namun tentu saja, buku ini tidak memotret bagaimana generasi muslim yang masih jauh dari koneksi internet, sehingga tidak seharusnya memakan mentah-mentah semua isinya. Membaca buku ini harus ditempatkan pada konteksnya, yaitu yaitu potret generasi muslim yang sudah terhubung dengan jaringan internet. ***[]
Read More

21.1.18

Menghadang Serangan Disrupsi!

sumber: @abahrakarhen
Tahun 2017 salah satu berita yang menjadi perhatian masyarakat ekonomi adalah tutupnya beberapa usaha ritel seperti 7-Eleven, Disc Tarra, Lotus, Dabenhams. Bahkan sebagian cabang Matahari Departemen Store juga mengalami hal serupa. Bukan hanya usaha jaringan yang disupport oleh pemodal besar, usaha milik masyarakat yang tersebar di pusat-pusat perdagangan juga sepi; Pasar Elektronik Glodok, Mangga Dua, bahkan Tanah Abang sekalipun. Beberapa hasil amatan media, sepinya pasar-pasar besar modern dan semimodern tersebut disebabkan oleh turunnya daya beli masyarakat.

Pada sisi lain, berdasarkan hasil survei BPS pada tahun 2017, index kebahagiaan masyarakat Indonesia mengalami peningkatan. Betapa tidak, banyak tersebar di media sosial rata-rata masyarakat Indonesia menjadikan bepergian menjadi gaya hidup mainstream. Bisa jadi alokasi belanja ritel dialihkan untuk alokasi wisata yang menjadi kebutuhan tiap bulannya.

Hal berbeda dijelaskan oleh Rhenald Kasali yang sejak lama meneliti tentang berbagai gejala perubahan khususnya bidang ekonomi dan manajemen. Menurutnya, gejala di atas bukan disebabkan oleh daya beli masyarakat menurun, tetapi beralihnya cara belanja. Ia mengistilahkan gejala tersebut sebagai Peradaban Uber. Belanja masyarakat tidak ketahuan karena dilakukan secara online. Kedatangannya tidak terlihat secara kasat mata. Seperti halnya jasa angkutan berbasis aplikasi yang dipelopori oleh Uber.

Eksistensi apalikasi sebagai usaha baru ini mengancam pengusaha lama atau diistilahkan sebagai incumbent  yang tidak melakukan inovasi. Eksistensi usaha melalui aplikasi sebagai buah inovasi ini diistilahkan oleh Rhenald Kasali sebagai Disruption yang sekaligus menjadi judul buku terbarunya. Inovasi bukan hanya dari sisi kecanggihan teknologi aplikasi, juga inovasi dari sisi harga. Kehadiran aplikasi telah memangkas hingga 40 % lebih biaya yang harus dikeluarkan oleh konsumen.

Buku setebal 511 halaman tersebut tidak hanya menguraikan sejumlah fenomena jaman now; konflik horizontal antara pegawai  usaha konvensional dengan pegawai usaha online, kegelisahan para incumbent di Indonesia atau di dunia termasuk negara-negara maju yang ketakutan menghadapi agresifnya ekonomi China. Disertai kejatuhan perusahaan besar seperti Nokia, Kodak, Pan Am, Enron, Lehman Brother. Juga secara teori dan sejarah disruption selama 20 tahun.

Jika 20 tahun lalu yang menikmati hasil usaha hanya pemilik modal dan kelas menengah. Abad 21, kelas bawah dan para penonton mulai bisa berperan dan menikmati hasilnya sendiri. Bermunculannya para entrepreneur baru baik yang sudah go public seperti pendiri Go-Jek atau Bukalapak, juga entrepreneur ritel yang membuka lapak usahanya di marketplace tanpa harus mengeluarkan biaya sewa toko.

Terbentuknya dunia usaha yang bisa dinikmati hasilnya oleh kalangan bawah, bagi Kasali menjadi akhir dari kapitalisme berubah bentuk menjadi manage capitalism kemudian berubah lagi menjadi entrepreneurial capitalism. Kehadiran entrepreneurial capitalism melahirkan para pelaku usaha baru kreatif yang mengancam sekaligus menghancurkan legagacy para incumbent (hal 136).

Tiga konsekuensi dan dampak luas dari disrupsi bagi Kasali adalah, pertama menyerang para incumbentKedua menciptakan pasar baru yang sejak kehadiran internet diabaikan oleh incumbentKetiga, terjadinya deflasi atau penurunan harga karena tidak terdapat biaya mencari dan transaksi. Sehingga harga barang dan jasa yang menggunakan perantara teknologi informasi lebih murah.

Siapapun, kita sebagai apa, akan terkena dampak disrupsi. Memilih tergerus atau cepat beradaptasi dengan perubahan? Atau meminjam bahasa Gede Prama, memilih Inovasi atau Mati?.

Kasali memberikan solusi agar kita bisa beradaptasi, karena disrupsi yang satu sisi menghancurkan usaha-usaha dengan mindset lama, sisi lain peradaban uber menjadi peluang besar bagi siapapun yang ingin berubah dengan secepat mungkin. Salah satu yang ditawarkan Mindset Disruption adalah dengan bergeser ke corporate mindset. Bagi penulis buku fenomenal Change ini, mindset bukan hanya harus dipahami tapi juga dilatih dan diaplikasikan

Kasali membuat sebuah perbandingan bagaimana mindset incumbent dan mindset disruptif yang ia istilahkan dengan Fixed Mindset dan Growth Mindset:

Fixed Mindset; intelligence is static
Growt Mindset: Intelligence can be developed
Mudah menyerah
Tahan menghadapi rintangan
Menghindari tantangan
Siap menerima tantangan baru
Melihat usaha sebagai hal sia-sia
Melihat usaha sebagai bagian untuk jadi mahir
Merasa terancam dengan keberhasilan orang lain
Mendapatkan pelajaran dan inspirasi dari kesuksesan orang lain
Mengabaikan kritikan yang membangun
Belajar dari kritikan

Buku ini diakhiri dengan bab akibat-akibat yang akan muncul dari disrupsi dalam semua bidang kehidupan yang ia uraikan dalam bentuk fenomena; pangan, pemerintahan, olahraga, pendidikan. Dan disrupsi memunculkan karakter 3 S: speed, surprises, dan sudden shift.

Seperti buku karangannya yang lain, satu nafas karakter dari buku Kasali selain dibumbui oleh sejumlah teori dan kutipan orang-orang besar; filsuf, cendekiawan, intelektual, pelaku pasar ataupun praktisi yang menggeluti bidangnya, juga diawali dengan hasil observasi dan uraian sejumlah fenomena. Seperti saya temukan dari buku Cracking Zone ataupun Self-Driving. Sehingga, sebelum penikmat buku memahami buku secara utuh, sudah dibekali sejumlah kejadian-kejadian nyata kenapa suatu fenomena terjadi. Sehingga saat masuk ke dalam bagian yang bersifat konseptual dan teoritis, tidak kesulitan memahaminya. Wajar sebagian besar bukunya selalu best seller di tahun yang sama saat buku tersebut pertama terbit.

Bagi saya, buku ini ditulis cukup komprehensif seperti halnya menulis tugas akhir, di awali sejumlah fenomena, teori, aplikasi teori dalam kehidupan nyata dan tentu saja solusinya. Namun tidak seperti tugas akhir yang ditulis baku,  buku ini ditulis dengan bahasa yang mengalir sebagai ciri khas tulisannya, walaupun banyak istilah-istilah asing dan akademis, membaca buku ini tidak terasa berat dan jenuh. Sehingga sangat layak dibaca oleh semua kalangan.

Kritiknya yang menohok, bukan hanya bagi pelaku usaha, tapi juga birokrat dan sejawatnya, wajar jika seorang teman mengatakan jika banyak yang mengkritik buku ini. Seperti halnya kaum kiri, buku ini memorakmorandakan perilaku kaum mapan yang tidak berani beralih haluan, baik dari cara berfikir ataupun aktivitasnya.

Selamat datang di era Disruptif, memilih mengubah haluan atau kita akan tertinggal dan tergerus lalu mati sia-sia di tengah puing-puing kemapanan?
Read More

23.11.17

Pakem Konten Marketing Era IoT

Ojek pangkalan beringas, sopir taksi konvensional teriak. Sebagian perusahaan tempat mereka bekerja melakukan rasionalisasi, sebagian lagi tutup. Beberapa gerai ritel bangkrut. Terlepas karena bisnis modelnya yang tidak punya positioning dan diferensiasi sehingga orang lebih memilih produk sejenis dengan merek yang berbeda atau karena mereka tidak punya inovasi dalam bidang marketing, yang jelas faktanya mereka kini kalah berperang. Kios-kios di pusat grosiran juga pada tumbang tanpa diketahui penyebabnya.

Beberapa ahli berpendapat, karena daya beli yang menurun, hal ini berdasarkan analisis karena akselerasi ekonomi Indonesia cenderung melambat. Saya, tentu saja bukan ahli ekonomi atau pengamat ekonomi, sehingga hanya bisa mengatakan katanya, kata pengamat, kata berita, kata Koran, kata televisi, atau dengar-dengar info tetangga sebelah.

Tapi jika diperhatikan, kalau daya beli masyarakat yang menurun, kenapa setiap pagi, siang, malam atau jam dan hari selalu berseliweran orang bepergian dan melancong atau melakukan vacations ke tempat-tempat keren; entah domestic, regional, atau internasional. Jika pun daya beli masyarakat berkurang kenapa setiap weekend jalan – jalan di Bandung selalu padat, atau setidaknya jalan tol menuju Bandung bahkan padat cenderung macet. Begitu juga kendaraan yang menuju Garut dari arah Bandung atau tol juga sama padatnya. Bahkan saat saya pulang saat weekend, Jalan Cagak dan Lebak Jero seringkali macet.
Dalam catatan Rhenald Kasali, penilaian terhadap menurunnya daya beli masyarakat adalah pengamatan yang kurang tepat. Ada invisible hand. Daya beli beralih ke hal-hal yang tidak terlihat. Misalnya, agar bisa bepergian, maka belanja konsumsi dikurangi dialihkan untuk liburan setiap minggu atau bulannya. Agar tetap bisa tetap terhubung, orang menahan untuk membeli cemilan demi pulsa data. Begitupun yang tadinya belanja ke mall beralih belanja online baik melalui online mall atau online shop ke produsen secara langsung sehingga harga barang lebih murah.

Berbeda lagi pendapat dari Iwan Setiawan dan Yosanova Savitri dalam  Buku New Content Marketing, Gaya Baru Pemasaran Era Digital, menurutnya ara pergerakan marketing sekarang berubah, bukan lagi B2B tapi H2H. Conten harus diarahkan langsung untuk mengelus-elus konsumen. Conten marketing harus mampu menyentuh sisi terdalam dari manusianya. Persis seperti ditulisa dari Marketing 3.0. Pelanggan harus memiliki pengalaman dengan produk.

Dalam buku tipis namun padat berisi ini, Iwan dan Yosanova yang merupakan peneliti MarkPlus, menulis 3 garis besar dalam marketing; Why, What, dan How. Melalui bab ‘Why’, mereka menjelaskan kenapa content marketing harus berubah menjadi H2H bukan lagi B2B. Di era konektivitas, menurut penulis Marketing 3.0 tersebut semuanya serba paradox, walaupun setiap orang sudah sedemikian maju dengan teknologi, justeru content marketing tetap harus menyentuh aspek manusianya. Karena bagaimana pun pengguna teknologi adalah manusia.

Untuk menggerakkan konten tersebut ada tiga actor utama yang bermain; pertama anak muda, wanita, dan netizen. Jika diperhatikan, memang anak muda atau pemuda jaman now ini menjadi trend setter dalam bisnis. Generasi Y dan Z hampir bisa dipastikan menjadi pengisi utama baik konsumen dan produsen di dunia maya. Mereka menjadi factor dinamisator perubahan era Internet of things (IoT).

Unsur kedua yang menjadi actor utama di erah IoT ini adalah wanita. Ada satu adagium yang nyeleneh di era internet; the power of emak-emak. Kekuatan kaum wanita betul-betul telah meramaikan jagat internet. Wajar, mereka menjadi satu kekuatan khusus yang menggerakan hilir mudik barang atau konten karena mereka adalah makhluk yang paling aktif, kids jaman old bilang, mereka mulutnya dua. Sekarang ditambah lagi jempol, kedua mulutnya pindah ke jempol, wajarlah. Dengan kesenangan mereka bercerita dan berbagi menjadi satu daya tawar khusus eksistensi perempuan di internet.

Dan ketiga, factor dinamisator marketing di era IoT adalah netizen. Netizen, menurut pandangan Iwan dan Yasanova lebih emosional  ketimbang citizen dalam membahas sesuatu. Lihat saja misalnya saat adanya isu-isu politik, sepertinya netizen yang meramaikan jagad nusantara ini. Mereka menjadi Heart of the World. Dan tentu saja tidak semua citizen bisa menjadi netizen karena sifatnya yang berbeda. Netizen sudah masuk kerangka globalisasi.

Dalam konteks What, Iwan menulis bahwa semua hal yang disediakan oleh marketing semua berasal dari konsumen dan untuk konsumen. Oleh karena itu, agar produk mengerti konsumen, maka produk harus menjadi sahabat konsumen. Jika produk mampu menjadi sahabat konsumen, bukan lagi product awareness yang terjadi, tapi procut advocates. Konsumen akan membela produk. Dan inilah nilai besar dari keberhasilan pemasaran.

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan bagaimana menciptakan content marketing di era digital;

Langkah-langkah pembuatan konten marketing di era disruptif

Setelah memahami kenapa content marketing harus berubah dan apa yang harus dilakukan agar produk mampu dibela oleh konsumen. Bagian terakhir buku, menjelaskan bagaimana membuat konten yang mampu menciptakan nilai hingga muncul human interest. Dalam bab ini, Iwan banyak memberikan contoh bagaimana konten-konten era kini sudah sedemikian berubah sehingga mampu menciptakan nilai bagi konsumennya, bukan saja bagi corporate. Contohnya iklan Royco yang bergeser substansi iklannya dari produk oriented ke customer oriented.

Era IoT, ketika produk langsung berinteraksi langsung dengan konsumen, produk harus mampu menjadi bagian dari yang dimiliki atau yang dialami oleh konsumen, seperti iklan Astra Motor tentang keselamatan berkendaraan roda dua dengan judul Cerdas Melanggar. Iklan ini yang merupakan kampanye keselamatan mengajak masyarakat untuk aware terhadap keamanan berkendara. Dan banyak lagi contoh-contoh strategi marketing lainnya dalam buku tersebut.

Walaupun tipis, buku ini sangat padat. Istilah-istilah marketing akan dimudahkan dengan berbagai contoh konkret. Bagi pelaku pemasaran di internet atau yang bergelut dalam dunia marketing, buku ini akan memperkaya persfektif atau bahkan menggeser paradigma pemasaran yang selama ini menjadi pakem.

Nah, biar dapet ilmunya, mending baca aja bukunya ya J ***[]



Read More

14.10.17

Kopi dan Buku

Sebuah kiriman dibagikan oleh Dudi R (@abahraka) pada

Setiap membaca buku, seringkali rasa kantuk datang. Padahal buku yang harus dibaca adalah buku yang cukup menarik untuk dilahap. Alhasil, menjadi cara yang disadari, jika ingin mengundang kantuk adalah membawa buku ke tempat tidur, agar tidak mesti lagi pindah tempat. Ini seakan menjadi kebiasaan sejak SMA dan kuliah.

Namun seiring pekerjaan yang harus sering berjibaku dengan buku, termasuk buku-buku yang seringkali tidak menarik untuk dibaca, karena tuntutan pekerjaan, mau tidak mau harus berteman dengan buku. Sayang sejak kuliah, maag seperti menjadi penghalang agar mata ini tetap terjaga. Penyakit maag yang kronis menjadi phobia saat berhadapan dengan kopi. Padahal kopi bisa menyegarkan konsentrasi dan membantu agar tetap fokus.

Belakangan, muncul iklan “kopi putih” di televisi yang katanya aman bagi lambung, saya pun mencoba beberapa kali dan saya coba juga kopi hitamnya dari brand yang sama. Pertama dengan kopi putih, tidak menyelesaikan persoalan, setiap setengah gelas habis saya teguk, masalah mulai datang, perut mulai gemetaran hingga akhirnya turun ke lutut alias salatri. Ini artinya bahwa walaupun sudah makan, perut ini meminta kembali untuk diganjal dengan makanan cukup berat.

Saya coba dengan brand kopi hitamnya. Beberapa kali mencoba, memang cukup segar. Tetapi setelah seminggu mengkonsumsi dengan masalah yang bisa diminimalisir. Persoalan baru datang. Saya stress berhadapan dengan jenis nasi dan makanan lain. Sampai-sampai ketika lapar akhirnya malah tambah stress karena hampir dipastikan tidak akan ada asupan makanan. Entah berasal dari kopi hitam atau bukan, yang jelas saat stok kopinya habis, sedikit-demi sedikit, tingkat stress saat menghadapi nasi mulai berkurang dan kembali seperti semula lagi, alias rewog.

Kopi pun menjadi phobia, kopi jenis apapun, terlebih lagi kopi hitam dari jenis sobek. Mencium aromanya saja dari kebulnya, kepala ini sudah pusing dan perut mual.  Alhasil, hanya bisa iri dengan teman-teman yang bisa asyik menikmati secangkir kopi, apalagi dengan rokok di tangan. Sepertinya surga dunia banget.

Ya phobia dengan kopi! Bukan sesuatu yang patut dibanggakan, bahkan merasa tidak sempurna menjadi makhluk sosial karena tidak bisa bersosialisasi dengan secangkir kopi. Padahal tagline sebuah warung kopi di kawasan Gading Tutuka Dari Ngopi Jadi Dulur. Apakah saya tidak bisa menjali pertemanan dengan perantara secangkir kopi? Karena dengan sebatang rokok sudah mulai dikurangi!

Karena phobia, beberapa kopi hasil mahugi hanya menjadi pajangan dalam toples dan sebagian entah sudah berapa gram jadi milik tetangga dan saudara. Sebelum akhirnya tahu bahwa kopi-kopi yang menyebabkan tingginya asam lambung saat mengkonsumsi kopi bukan dari kopi sendiri tapi dari bahan kimia yang menjadi campuran kopi.

Pada 2015 tanpa sengaja mampir di sebuah warung kopi di bilangan Merdeka Garut. Masterblackcoffee. Di Garut, cafe-cafe sudah mulai menjamur dengan menyediakan berbagai aneka makanan berat dan camilan ringan plus yang tidak ketinggalan adalah kopi.

Dari hasil nongkrong tersebut dan dengan ragu-ragu memesan kopi dengan kadar yang minim. Momentum silaturahmi dengan beberapa mahasiswa tersebut yang membukakan wawasan saya tentang kopi, hingga akhirnya saya tulis menjadi semacam feature tentang kopi. Ini tulisannya: Kopi Garut.
Saya tidak hanya mengenal jenis kopi yang secara general terbagi dua; robusta dan arabica. Saya juga mengenal bagaimana roasting atau penyangraiannya. Saya juga kenal rasanya. Bagaimana robusta dan arabica. Sejak saat itu, kopi hasil mahugi yang masih awet dalam toples saya coba seduh. Kopi Aceh. Terkenal enaknya. Kebetulan saat gathering dengan salah satu brang pengiriman kilat, sang manager bicara tentang kopi. Saya coba metodenya. Cukup berhasil. Melalui satu seduhan dengan metode yang saya lakukan ternyata tidak membuat perut gemeteran ataupun lutut menjadi lemes.

Satu kali dua kali tiga kali, akhirnya 200 gram kopi dalam toples habis juga. Tanpa menyisakan sakit perut atau lapar yang mendadak seperti sebelum-sebelumnya. Tidak juga muncul rasa gelisah karena perut menjadi panas.

Tulisan tentang kopi aman bagi penderita maag: Tips Ngopi bagi Penderita Maag. 

Dari pengetahuan sedikit tentang kopi, banyak ngobrol tentang kopi. Tahu sedikit bahwa kopi sobek banyak campuran termasuk bahan kimia, walaupun dalam batas normal sehingga membuat lambung tidak nyaman. Salah satu cirinya adalah saat kita buang air kecil, bau air seninya seperti bau kopi yang kita minum. Bisa dibuktikan! Minum satu gelas kopi putih dari brand apapun, saat buang air kecil baunya menyerupai aroma kopi.

Dari pengalaman minum kopi tubruk tersebut, mengantarkan pada pencarian pengetahuan tentang kopi lagi. Bukan hanya sekedar menikmati tapi juga menjadi semacam obat agar setiap kali berjibaku dengan buku bukan rasa kantuk yang saya dapat, tapi konsentrasi dan rasa percaya diri!

Al hasil sejak bertemu dengan barista masterblackcoffee itulah tahu, entah jadi sugesti, kini menjadi penikmat arabica. Robusta pun tidak menjadi masalah selagi disajikan dengan cara sendiri hehehe. Jika pun harus pesan di warung khusus kopi (bukan warung indomie) asal sesuai dengan permintaan, sepertinya tidak terlalu bermasalah dengan perut.

Kini, kopi bukan soal gaya hidup, karena percuma disajikan dengan tingkat seni yang tinggi dan mahal jika akhirnya harus berjibaku dengan perut yang mulai nendang-nendang karena lapar mendadak atau ngajak pulang karena gemeteran. Kopi adalah soal kerja keras, soal konsentrasi, dan tentu menjadi masa depan. Karena beberapa kulian dan atau sampingan selalu berjibaku dengan buku. Kopi kini menjadi teman baru yang bisa melengkapi saat harus membuka lembaran-lembaran buku. Bahkan buku yang sama sekali tidak disukaipun.

Kopi dan buku kini menjadi paket lengkap agar bisa berkencan di malam minggu, saat sesekali anak dan isteri lebih memilih beristirahat.

Kopi dan buku, bukan gaya hidup. Tapi bagaimana soal bisa menikmati pekerjaan tanpa harus berlelah-lelah. Kopi dan buku bukan soal pamer di media sosial, tapi bagaimana keduanya bisa menjadi teman agar cita-cita yang belum kesampaian bisa diwujudkan. Dan tentu saja dengan tetap berharap bahwa perutku baik-baik saja.


Read More

23.7.17

'From Borneo To Bloomberg' Like A Power Bank


[abahraka.com] - Membayangkan sebuah buku autobiography, tergambar ukuran ideal dengan ukuran A4 kurang dan ketebalan mencapai 300 halaman lebih. Selain ukuran dan ketebalan, isinya juga sangat padat. Buku “Alex Perguson, managing my life” ketebalannya mencapai 477 halaman dengan ukuran 24×16.

Namun, saat buku  karya Iwan Sunito hadiran di hadapan penulis, sungguh jauh dari perkiraan. Dengan ukuran pas di tangan dan ketebalan rata-rata, buku ini menjungkirbalikan mainstream buku autobiografi. Apalagi jika sekilas hanya membuka-buka halaman, khususnya ketika CEO Crown Grup ini berbagi prinsip sukses. Jangan berharap jika pembaca akan mendapatkan gambaran utuh bagaimana kisah sukses itu dinarasikan dengan sempurna oleh lelaki kelahiran Surabaya tersebut.
Wajar jika Hendromasto, pembedah buku #FromBorneToBloomberg mengatakan, “Selalu ada yang tertinggal dari sebuah autobiografi”. Sebuah buku autobiografy tidak akan memberikan gambaran yang sempurna tentang dirinya sendiri.

Apalagi dengan narasi melalui halaman mini, itu pun hanya tercover 12 halaman plus tambahan beberapa halaman foto. Tentu sangat jauh dari kesempurnaan. Kita sama sekali tidak akan mendapatkan gambaran utuh apalagi sempurna dari salah satu sosok ‘penguasa’ real estate di Australia ini.

Tapi...

Saat saya merenungi prinsip pertama yang ditawarkan lelaki kelahiran Surabaya ini, pikiran saya terbawa ke dalam sebuah buku Best Seller yang pernah saya baca beberapa tahun silam, The Seven Habits of Highly Effective People karya Steven R. Covey, seorang motivator kepemimpinan kelas Dunia.

Salah satu kebiasaan manusia yang efektif menurut Covey adalah “Begin with the End in Mind”. Prinsip “Start With The End” yang ditulis Ketua Asosiasi Pengusaha peduli Tsunami Aceh tahun 2006 ini mengingatkan kembali tentang pentingnya tujuan, tentang pentingnya hasil akhir. Namun, bagi saya, prinsip pertama yang ditawarkan #FromBorneoToBloomberg Iwan selangkah lebih maju, lebih strategis. Ia tidak hanya berada dalam pikiran, tetapi sudah berpijak dalam kenyataan.

Dalam konteks inilah kekurangan ini disempurnakan oleh Iwan, melalui pemadatan makna dalam setiap tulisannya. Walaupun saat membuka lembaran-lembaran buku ini, Iwan cenderung ‘pelit’ dalam memberikan narasi perjalanan hidupnya. Namun ia memadatkan makna perjalanan hidupnya melalui kebijakan-kebijakan pengalamannya. Ia memulai tujuan akhir itu bukan lagi dalam pikiran, tetapi dalam langkah nyata. Tujuan akhir itu bisa tercapai jika kita memulainya dengan langkah pertama. Seperti yang ditulisnya:

“Success is not a destination but a journey. The first step in our life is to decide where we want to go”
Namun demikian, langkah itu tidak memiliki arti apa-apa jika tidak memiliki navaigasi. Navigasi itu adalah mimpi dan visi. Ia menulis “Your vision and dream have power. Your dream and vision will act like navigators. They Will Remind you are taking the wrong turn. They will help you get to your destination faster.”

Setelah membaca prinsip pertama inilah, saya merasakan kekuatan nyata buku ini. Seperti POWER BANK, buku ini mengalirkan ‘listrik’ yang mampu menyalakan kembali kekosongan visi. Prinsip pertama ini seakan mengingatkan saya kembali tentang visi, tujuan, keinginan yang harus saya capai dalam beberapa tahun ke depan. Mengingatkan kembali masa-masa waktu mahasiswa, masa-masa jomblo, masa-masa labil, bahwa buku menjadi satu-satunya teman hidup yang dapat melecut ketidakbergairahan. “Beruntung saya menghadiri Bedah buku ini, selain mendapatkan buku yang menjadi ‘power bank’ baru buat saya, juga mendapatkan Power Bank beneran, Power Bank dengan merek Merk ‘Crown’, Property Corporate yang dinakhodai pemenang  Entrepreneur Award pada Kongres Diaspora Indonesia.

Ini menjadi alasan utama, kenapa buku ini menjadi layak baca. Buku #FromBorneoToBloomberg diibaratkan sebagai Power Bank. Yang dibutuhkan oleh setiap gadget addict, dibutuhkan oleh mereka yang memperiotaskan komunukasi melalui sarana teknologi tinggi. Melawan mainstream buku autobiografi, yang tebal, lebar, besar dan berat. Buku ini pas di tangan, seperti halnya buku saku. Mudah dibawa kemana-mana, saat ingin menyelami perjalanan sang Penulis pun tidak perlu satu-persatu kata dijelajahi karena sudah focus pada inti setiap halamannya.

Hingga pada lembaran terakhir buku ini, seolah men-charger  diri saya yang terjebak pada rutinitas hidup, untuk kembali dinamis dalam mengarunginya,  #FromBorneoToBloomberg Like a Power Bank

Bukan sekedar Autobiografi
Bagi saya, buku ini bukan sekedar biografi. Percikan pengalamannya betul-betul kaya makna akan hidup. Bagaimana meraih sukses, tidak hanya cukup mimpi, visi, strategi. Bagi Iwan, menjadi baik saja tidak cukup menjadi orang sukses, tetapi orang-orang hebat sudah pasti sukses. Salah satu ciri yang membedakan orang baik dengan orang hebat tertumpu pada komitmen dan sikap. Percikan-percikan pengalaman seperti yang diutarakan pemenang Ernst & Young Entrepreneur inilah yang menjadi penyempurna buku ini.

Melalui percikan pengalamannya kita tahu bagaimana prinsip sukses Sang Penulis dilalui bukan hanya oleh kerja keras, tapi juga kerca cerdas.

Melalui buku yang ditulis dalam waktu 10 hari ini, Iwan mengungkapkan banyak hal yang terkait dengan prinsip suksesnya. Selain bicara Visi dan mimpi (include dalam prinsip #1), ia juga bicara peta hidup,   pentingnya pengetahuan, pentingya ikhtiar, pentingnya strategi (include dalam prinsip #2), pentingnya inovasi dan memilih orang yang layak menjadi pemimpin (include dalam prinsip #3).
Namun, harus dicatat, walaupun kepemimpinan menunjang sukses kita, kesuksesan hanya akan bisa diraih jika kita mengikuti suara hati kita, motivasi yang berangkat dari dalam diri sendiri. Ia juga mengingatkan tentang pentingnya Passion. “Successful are people who are clear about where they want to go from the inside out.” Tulis Iwan.

Campur Tangan Tuhan
Hidup di belahan budaya Barat, tidak lantas membuatnya tenggelan dalam hedonism. Apa yang telah diraihnya selama ini tidak bisa dipisahkan dari campur tangan Tuhan. Kesuksesan Iwan dibarengi dengan sikap religious dalam menghadapi dunia. Dunia bisa diraih jika bisa mendekatkan diri dengan Tuhan. Bagi Iwan, kesuksesan itu bukan karena diri sendiri, tetapi karena ada campur tangan iman dalam diri. Tuhan turut campur melalui ikhtiar yang dilakukannya.

“You Cannot judge your Future by what has happened to you in the past. Your Faith is the substance your Future”

“God Will never allow difficulty to come to you without a divine purpose”

Sebagai seorang yang melibatkan iman dalam melakukan ikhtiar dunianya, ia juga dekat dengan pengkhotbah. Tercermin dari kutipannya dari seorang pendeta yang banyak pengikutnya, Reinhard Bonnke. “God always works with workers and moves with movers, but He does not sit with sitters.
Agar fungsi ‘power bank’ buku ini bisa mengalirkan ‘listrik’ ke dalam jiwa kita, baiknya buka lembar perlembar buku ini. Kecil tapi mampu menyalakan ‘jiwa’ labil. #FromBorneoToBloomberg Like a Power Bank!***[]

INFO Buku
Judul     : From Borneo To Bloomberg, A Combeback Story and 13 Principles For Succes
Penulis  : Iwan Sunito
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun     : 2014
Jumlah Hlm : 268
Bahasa   : Inggris

Read More