Showing posts with label Catatan Harian. Show all posts
Showing posts with label Catatan Harian. Show all posts

22.1.11

Membenturkan Islam

Tersinggungkah jika ada yang mengatakan bahwa Islam itu Terorist? Bahwa Islam itu Kumuh? Bahwa Islam itu bodoh?
Read More

11.1.11

Facebook, Tuhan Baru Manusia


Fesbuk kini bukan sekadar media jejaring social, tapi juga semacam berhala bahkan Tuhan baru bagi para penggunanya. Benarkah? Ya saya berfikir memang demikian. Betapa tidak, beberapa tahun belakangan, orang begitu menggandrungi fesbuk. Para penggunanya begitu mabuk oleh media tersebut. Lalai kerja karena fesbuk. Mencari jodoh minta ke fesbuk. Bahkan kini fesbuk pun menjadi tempat curhat di tengah malam, alih-alih sholat tahajud. Fesbuk diakui menjadi jembatan untuk saling menemukan kembali dari koleganya yang sudah loss kontak.

Tentu fenomena fesbuk yang sudah banyak diungkap oleh mainstream media khususnya tidak akan saya tulis disini, selain karena saya tidak pernah selesai membaca info tersebut sehingga tak bisa menuliskannya lagi, juga karena saya yakin kawan-kawan bloger sudah pada mafhum.

Beberapa hari yang lalu, sekitar tanggal 17 november 2010, saya sedang berselancar di fesbuk, tiba tiba saya temukan salah satu fesbuker yang menuliskan status, entah ini sebagai curhatan atau sebagai doa, barangkali temen bloger bisa menilainya sendiri, status tersebut cukup panjang:

“Atas nama-Mu ya Allah, aku melaksanakan tugas yg mulia ini, terimalah dia sbgai ibadahku kepadamu, untuk itu karuniakanlah aku menyerap sedikit saja sifatmu yang maha rahman… Karuniakanlah aku kmampuan mengartikulasikan, merancang strategi operational, melaksanakan ikhtiar dan usahaku ini, sehingga berhasil maksimal, dalam sistem takdirmu dan sistem iradahmu, kelak aku akan menuju jalanmu yang lurus…”

Tak lama berselang, saya pun berselancar lagi, tanpa sengaja saya temukan lagi status sejenis;
“Kini kupasrahkan spnuhnya kpd Engkau Wahai Penguasa Takdir! Tlh kujalani tugas hamba sbg manusia. Kini, hanya Engkau yg Maha Tahu dibalik sulitnya hamba mmproleh SKCK, Kartu kuning dll. Mdh2an goresan tangan, cu2ran keringat, terkurasnya materi, waktu&tenaga Kau catat sbg wujud ktaatanku pada-Mu. Laa hawula wala kuwata illa billah…..”

Seingat saya, sekali saya pernah membuat status yang hampir serupa, namun tentu segera ku sadari, mending nulis status yang agak lucu-lucu aja dh, itu pun jarang-jangan, bahkan seringnya fesbuku tanpa status he..he..,.

Sesaat setelah membaca status tersebut, tiba-tiba pikiran saya melayang ke beberapa ribu tahun yang lalu ketika ka’bah hanya dijadikan sebagai tempat menyembah berhala oleh masyarakat sekitar. Penyembahan berhala bukan berarti karena penduduk mekah tidak menyembah Tuhannya, namun karena mereka terlalu rendah diri untuk menyembah Tuhan sehingga menggunakan perantaraan berhala tersebut (washilah).

Tiba-tiba saya merasa khawatir, jangan-jangan kini fesbuk sudah dijadikan semacam berhala, menjadi perantara agar doanya terdengar oleh Tuhannya, karena para pembuat status tersebut merasa malu terhadap Tuhan karena tidak pernah bersilaturahmi dengan-Nya sehingga menyampaikan salam dan doa melalui media. Bukankah itu pula yang terjadi pada masyarakat lampau sebelum Nabi Muhammad SAW di utus? Saya merasa bisa jadi demikian. Jika hal ini terus-terusan terjadi maka berapa Ribu orang yang sudah tersesat dalam pemberhalaan fesbuk, dijadikan sebagai media untuk berdoa kepada Tuhan, tanpa melakukan perintah-Nya sama sekali.

Pantas saja salah satu teori komunikasi massa memunculkan tentang teori equation, yaitu adanya penyamaan fungsi media sebagai kawannya sendiri, media diajak curhat, dijadikan tempat bertanya, ia menjadi sumber inspirasi. Contoh misalnya ketika memiliki persoalan seks maka kita dapat bertanya ke media melalui rubric seksologi, ketika kita memiliki penyakit yang sulit disembuhkan kita pun bisa bertanya ke media melalui rubric bengkel hati misalnya. Begitupun media dapat dijadikan curhat, kita curhat ke mamah dedeh misalnya.

Namun jika Media menjadi pemberhalaan baru dan washilah agar do’anya didengar Tuhan sementara perintahnya tidak dijalankan, bukankah ini sudah menjadi kejatuhan pada kejahiliahan? Era Jahiliah di abad millennium.

Karena tidak sedikit orang yang meminta petunjuk melalui fesbuk, orang yang berdoa melalui fesbuk, orang yang meminta diterangkan jalannya oleh Tuhan melalui fesbuk, mengeluh kepada Tuhan melalui fesbuk. Bukankah ini sama dengan jaman jahiliah dulu yang berdoa kepada Tuhan tapi melalui perantraan Latta Uzza?

Read More

7.1.11

Sholat di Tengah Kemacetan

Subhanallah, decak kagumku ketika menyaksikan seorang muslimah berjilbab yang akan melaksanakan sholat di tengah kemacetan. Tiba-tiba saja tengkuku merasa merinding, ingat tentang setiap perjalananku yang kadang kewajiban sholat diabaikan begitu saja, diabaikan ya diabaikan, sholat satu waktu disatukan dengan waktu lain, atau istilah fikihnya di jama, sholat yang disatukan dalam satu waktu. Selain di Jama, juga diqoshor yaitu penyingkatan jumlah rakaat shalat jika memang benar-benar darurat. Namun saya, ketika hendak bepergian, biasanya waktu sholat di Jama Takdim atau waktu yang akan datang ditarik ke waktu sekarang. Jika terlambat sholat maka waktu yang sudah lalu di jama takhir, artinya disatukan diwaktu akhir.

Sebagian teman-teman kompasiana barangkali sudah lebih faham masalah ini. Walaupun saya faham akan hal ini, tapi kadang mengabaikannya. Itulah yang membuat saya merinding, kok saya yang masih segar bugar, seringkali melalaikan sholat sementara yang sudah berusia setengah baya begitu getol melaksanakan kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan tersebut. Padahal kita tahu bahwa dalam sholat, selain dari maknanya sendiri yang berarti selamat, tetapi saya tidak mencerminkan ingin selamat.

Saat itu, Selasa sore sekitar pukul 17.30. Jalan Soekarno Hatta Bandung tepatnya di daerah persimpangan Gede Bage. Setiap kali Bandung diguyur hujan lebat, persimpangan Gede Bage selalu menjadi tempat nyamannya air untuk bermain, sehingga satu jalur sebelahnya nyaris tidak bisa dilalui oleh kendaraan, baik mobil ataupun motor, karena akan menggenangi mesin, kalo masih nekat melaluinya, air bisa marah dan merangsek mesin hingga akhirnya kendaraan mogok.

Karena itulah, Jalan Soekarno Hatta yang memiliki masing-masing jalur antara kanan dan kirinya, satu jalur dipindahkan ke jalur lainnya. Akhirnya satu jalur kendaraan itu rela berbagi tempat dengan jalur lainnya. Otomatis, kendaraanpun bertumpuk pada jalur tersebut sehingga mengakibatkan kemacetan.

Sebagai motoris yang sering tertimpa kemacetan akibat banjir di Soekano Hata tersebut, saya coba menikmatinya, apalagi ada pemandangan unik, yaitu diangkutnya motor-motor oleh warga setempat untuk dipindahkan ke jalur melewati bahu jalan untuk pindah jalur yang aman dari amukan air. Di samping itu di tempat yang agak sepi dari keramaian air, motor-motor berjejer karena mogok seperti sedang ada even saja.
Saat itulah saya melihat seorang muslimah berkerudung sangat tertutup, sedang menempelkan tangannya ke dashboard dalam sedan yang ditumpanginya. Ia mengusapkan telapak tangan ke lengan lainnya, begitupun sebaliknya, saya yang menyaksikannya begitu nyaman, tenang dan damai, namun diiringi oleh perasaan merinding. Ya, tidak lain ia sedang melakukan tayamum. Walaupun saya tidak melihatnya sholat, tapi saya yakin dia akan melakukan sholat. Subhanallah, decak saya.

Saya berefleksi, capek sedikit saja kadang urusan sholat menjadi nomer ke berapa, sibuk sedikit saja urusan sholat menjadi urusan terakhir. Padahal saya tahu kalo sholat adalah tiang agama. Siapa yang melalaikan niscaya ia sedang berusaha untuk meruntuhkan agama. Bahkan barangkali ketika kita sakit, kita seringkali menjadikan alasan untuk tidak melakukan sholat, padahal dalam keadaan apapun sholat tetap harus dilakukan kecuali untuk perempuan yang sedang haid atau nipas dan orang yang kehilangan kesadarannya (gila).
Read More

Kongres HMI, dari Nasyid Hingga Musik Rock

Rabu malam (10/11) di pelataran Gedung Insan Cita, Depok beberapa meter dari arah mesjid orang berkerumun dan bersorak. Saat itu sekitar pukul 11 malam. Cukup penasaran dengan kerumunan, akhirnya aku dekati sumber kerumunan tersebut. Orang-orang ramai bertepuk tangan dan khidmat menyaksikan suguhan acara. Tak lama suara halus melengking diiringi petikan gitar akustik mengalun. ‘Eumh, lagu nasyid’, gumamku dalam hati. Lagu yang tidak pernah aku suka, kecuali 2 grup saja dari sekian grup nasyid di era populernya dulu, satu grup dari Bandung yang kini sudah tiada, dimana syairnya masih ku ingat sampai sekarang, dan satu lagi adalah Grup Debu, yang sering nongkrong di layar kaca.

“Dik dengarlah Allah itu Esa,’ salah satu lirik nasyid yang kusenangi dulu, ya lagu nasyid yang dibawakan oleh salah satu kader HMI tersebut lirik dan syairnya mirip dari grup yang menyanyikan lirik tersebut.

Tepuk tangan hadirin menandakan lagu telah usai, petikan gitar akustik pun berhenti. MC memanggil kembali penyumbang lagu yang akan tampil dari daerah di luar Jawa, kalo gak salah HMI Cabang Bau-bau. 

Drum digebuk, bas dibetot, melody di gesek, melengking, keluarlah suara vokalnya, membawakan salah satu lagu dari Band Padi, yang liriknya ku ingat satu potong lirik,”begitu indaaah”.

Lagu padi selesai, MC memanggil kembali penyumbang lagu berikutnya, ia membawakan lagu-lagu popular dari Band yang sering menjadi ringtone sekelas kapten, d’massive, hello, yang liriknya tak pernah ku hapal.

Satu selesai, tiba-tiba senar bas dibetot, saya mulai curiga, ko sepertinya tidak asing dengan betotan Bas tersebut, benar saja, satu lagu dari aliran cadas, hiphop-punk-rock meluncur, lirik-liriknya keluar, eumh ini aku suka, lagu Pas Band.

Aku tak pernah mengerti, di dunia pencaci
Bersemi luka luka, kekerasan dan tangisan
Darah tubuhku lain denganmu
Jadi bubur cair dan banyak waktu, tuk menyinyir, tuk menyinyir, tuk menyinyir
Jadi pemenang yang kita pikirkan, jadi yang kuat yang kita pikirkan
Jadi yang kaya yang kita paksakan, jadi pemenang yang kita pikirkan
Hanya pemenang yang kita yakini, hanya yang kuat yang kita yakini
Yang kaya kita yakini jadi pemenang yang kita yakini…
Aku mulai bosan dengarkan kata kata
Aku mulai muak dengarkan ceritamu
Aku sudah lelah dengan harapan
Aku mulai mual dengarkan ceritamu

Saya suka lirik dan syair Pas Band, walaupun tidak sepopuler Gigi tapi musiknya menghentak, bisa mengekspresikan kejiwaan yang kesal terhadap keadaan negeri ini.

Petikan bas dan hentakan drum berhenti, lagu lawas ‘Putri’ dari Jamrud berteriak Keras, ‘Putriii Gadis Belia yang baru Meleeek,” sepotong dari lagu Jamrud aku tinggalkan karena harus bergegas ke Bekasi.

Di luar arena musik arus utama, sekelompok lain dengan menggunakan alat musik jalanan membacakan puisi dengan suara parau, berteriak menyuarakan keadilan.

Dalam perjalanan, saya berfikir tentang keragaman lagu yang dialunkan oleh kader dari berbagai daerah tersebut, seberagam pemikirannya tentang dunia dan kehidupannya, baik menyangkut masalah ideology agama, politik dan social.

Ya, ini adalah ciri dari keberagaman intelektualitas kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Masa kini, orang mungkin banyak yang tidak kenal apa dan siapa HMI. Bahkan media pun sering terpelintir dengan ‘I’nya adalah Indonesia bukan Islam. HMI adalah organisasi Mahasiswa Islam tertua dan mungkin terbesar se Indonesia, terlahir tahun 1947. Jika dilihat dari jumlah kader serta distribusinya di berbagai lini. Apalagi lini partai. 

Berbagai tokoh lahir dari organisasi ini, mulai dari tokoh politik, tokoh intelektual, pejabat public, advokat, ekonom, fasilitator. Dari mulai Nurkholis Madjid, Azzumardy Azra, Komarudin Hidayat, Akbar Tanjung, Anas Urbaningrum, Marwah Daun Ibrahim, Didik J Rakhbini, Andi Malaranggeng, Marzuki Ali, Sulastomo, Ridwan Saidi, Munir (Alm, pejuang HAM), Abu Bakar Ba’asyir, Miftah Faridl, M. Arifin Ilham, Adyaksa Dault dan masih banyak lagi yang tidak dapat disebutkan satu-persatu baik nasional ataupun di daerah baik yang terjun ke dunia politik yang popular, professional, karyawan, sampai aktifis yang tidak popular, seperti mendampingi anak jalanan, atau pemberdayaan masyarakat pinggiran yang berada di bawah garis kemiskinan.

Output dari HMI begitu beragam, berbagai profesi, berbagai pemikiran dari yang pundamentalis hingga liberal. Jika dikaitkan dengan perilaku keberagamaannya, barangkali juga dari yang sholatnya sangat rajin, rajin, kadang-kadang, sampai yang dibilang oknum. Inilah realitas. Di HMI terdapat berbagai latar belakang social pendidikan yang sangat beragam, ilmu alam, social, humaniora termasuk yang berlatar belakang pendidikan agama yang sangat kuat. Berbagai latar belakang ini menyatu dalam satu organisasi besar, yaitu HMI. 

Dengan berbagai latar belakang tersebut, sangat mungkin bahwa pengetahuan dan perilaku kader dan alumninya pun sangat berbeda, apalagi ideology Islam yang dikembangkan di HMI adalah Islam yang universal dan penuh toleransi, HMI tidak pernah mengarahkan pada satu titik pemikiran atau madzhab, sebab disini kita mengenal dan belajar banyak madzhab. Karena tidak hanya mengenal satu madzhab saja baik dalam pemikiran ataupun aplikasinya sehari-hari sehingga seringkali HMI diidentikan dengan pemikiran-pemikiran liberal, padahal tentu saja ini adalah medium pembelajaran kreatif dalam hal berfikir. 

Di HMI saya mengenal tokoh Wahhabi, Syi’ah, Salafi, Marxis, kritis, positivistic, di HMI juga saya mengenal Muhammadiyah, NU ataupun Persis yang berbeda-beda mempraktikan ritual agamanya. Karena pengenalan-pengenalan tersebutlah kader HMI sedikit banyak belajar toleransi namun bukan berarti ia sangat liberal dan bebas, karena liberal dalam sudut pandang HMI bukan kebebasan tetapi membebaskan, menyingkirkan penghalang dan belenggu agar mampu bersikap independen.

Melalui music nasyid, pop, pop rock, rock, hiphop punk rock seperti yang saya dengarkan di Kongres HMI, seolah menunjukan suasana yang tidak fanatic terhadap berbagai hal, ia toleran terhadap berbagai jenis aliran music seperti halnya sangat toleran terhadap berbagai agama dan pemikiran. Saya ingat masa ketika menjadi pengurus structural, walaupun belum pernah duduk di Jakarta namun suasana Kongres membuat saya rindu diskusi, saya rindu debat pemikiran yang penuh dinamika, intrik politik untuk pembelajaran, namun kini semuanya harus disudahi, karena masa mahasiswa adalah masa-masa hidup di alam semireal, kini ku hidup di dunia nyata yang harus dihadapi secara nyata pula, pengalaman di HMI semoga menjadi bekal untuk Hidup di tengah masyarakat.
Bila pun kini hidupku belum bermanfaat untuk masyarakat, minimal aku tidak menjadi benalu untuk masyarakat, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi masyarakatnya. Selamat Berkongres Kawan-kawan!
Read More

6.1.11

Tidak ada Juara Satu dalam Menulis

Setiap hari selalu saja ada para kompasianer baru yang bergabung. Salah satu harapan mereka adalah menjadikan rumah kompasiana sebagai tempat berbagi berinteraksi. Namun diantara mereka tidak sedikit yang belum menorehkan sejarahnya untuk berbagi bersama kompasianer lain karena alas an tidak bisa menulis. Mereka merasa malu dan minder karena dalam sangkaannya, semua kompasianer pandai menulis. Sehingga tidak jarang diantara kompasianer tersebut yang hanya mengomentarai tulisan dari kompasianer lainnya yang telah mampu menorehkan sejarahnya dalam hal menulis.

Read More

23.7.10

Anak dan Behaviorisme

-->
Setiap kali dilafalkan lagu Sulis yang berjudul Ya Toyiba, ponakan saya, Irgi namanya selalu ketakutan dan langsung minta dipeluk terus digendong mamahnya.

Lirik lagu inipun oleh mamahnya selalu dijadikan senjata bila si Irgi nakal, nangis gak berhenti-berhenti. Saya terheran-heran kenapa lirik lagu Islami seperti itu justeru membuat takut anak balita tersebut. Setelah diselidiki ternyata kejadiannya sangat sederhana.

Read More

30.12.09

Guru, Ko Mau Dimanfaatin

Guru oh Guru, betitle pahlawan tanpa tanda jasa ini kini sedang di uji. Ujian datang justeru setelah masa reformasi. Kenapa saya katakan sebagai ujian bagi guru, karena sejak reformasi Guru menjadi seolah tidak berwibawa. Padahal jelas, Guru adalah sumber ilmu bagi siapapun termasuk presiden sendiri. Semua pejabat pernah merasakan kasih sayang dan kucuran ilmu dari Sang Guru. Kini dalam pandangan saya tidak semua Guru pantas dikatakan sebagai sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Read More