Showing posts with label Diurna. Show all posts
Showing posts with label Diurna. Show all posts

23.12.15

Menulis untuk Diri Sendiri

Menulislah untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain!

Apa yang diharapkan oleh blogger saat blogwalking? Atau terdampar di sebuah halaman blog?

Kalo saya sih, personalisasi isi yang mencerminkan penulisnya! Atau setidaknya diferensiasi dari kontennya yang berbeda dengan konten blog lain. Lalu jika isinya review produk semua gimana?

Gak masalah jika berdasarkan pengalaman pribadi karena sudah pernah menggunakan produk tersebut. Itulah ngeblog! Lalu jika isinya review semua, dengan beragam produk yang beda aliran bagaimana? Sedangkan dia sendiri bukan seorang ahli, tetapi dia bisa menceritakan secara detail sampai spesifikasi teknisnya. Ini membuat saya boring. Karena jika ingin mencari hasil review, pasti seseorang lebih memilih membaca review dari ahlinya doong. Misalnya, kalo mau cari review Kamera SLR misal, rujukannya infofotografi.com. Bukan personal blog yang isinya hampir semua review-an.

Merasa tertampar dengan tulisan Suhu blogger, Kang Arul, dalam tulisan “Karena Kita Bukan Lagi Blogger”. Sebelum pada akhirnya saya terlanjur ikut trend yang ada, saya ingin mengingatkan buat diri sendiri. Apakah apa yang saya lakukan selama beberapa bulan terakhir betul berbagi melalui menulis? Atau ada semacam show of ‘force’ jaringan dan kita sebagai siapa dengan ikut-ikut event?

Sebenarnya bisa masa bodoh dan bilang ‘bodo amat’. Namun, jika blog-blog isinya seragam dengan isi yang hampir sama dari press release atau produk knowledge, lalu dimana personalisasinya? Maka tepat yang dikatakan Kang Arul dalam judul tulisannya tersebut, Kita Bukan lagi Blogger. Karena isi blog kita semua pesanan,  mungkin hanya 10 % inisiasi tulisan personal.

Mengaca pada diri sendiri, saya bergabung dengan #BloggerBDG sekitar 1 tahun, dan selama satu tahun, tidak semua event saya ikuti, terutama event-event kuliner. Saat itu saya merasa bukan passionnya di bidang kuliner. Walaupun akhirnya saya juga ikut-ikutan, itung-itung silaturahmi dengan teman-teman blogger yang jarang bertemu.

Adapun pilihan event yang terbersit untuk mengisi blog saat itu hanya jika bedah buku, film, atau terkait dengan media dan teknologi boleh lah saya ikut. Setidaknya ada hal yang bisa saya ambil saripati wawasannya tentang media. Namun belakangan, hampir semua event jika waktu sedang kosong saya ikut juga.

Terlebih 4 bulanan terakhir, sejak blog yang sudah berjamur dan lukutan saya aktifkan kembali. Merasakan jika personalisasinya tidak muncul. Padahal awal menulis blog adalah sebagai tempat parkir tulisan-tulisan yang sudah atau tidak dimuat oleh media. Sisanya opini-opini bebas, review buku dan film yang bukan pesanan, tapi inisiatif sendiri. Wajar jika tulisan kang arul seakan mengingatkan saya bagaimana konten-konten blog itu harus dipersonalisasi.

Menulis untuk diri sendiri!
Dasarnya menulis blog ditujukan untuk diri sendiri, dengan tujuan itu, sudah pasti tulisannya harus enak dan nyaman dibaca sendiri. Pernahkah membaca kembali tulisan yang sudah diposting? Enakkah dibaca?  

Kalo sudah enak dan nyaman bacanya, yakin orang lain juga akan nyaman membaca tulisan tersebut. Tapi seringkali tulisan sendiri, tidak nyaman dibaca. Bagaimana dengan orang lain yang membaca? Apalagi itu!

Nah kalo begitu, kesimpulan saya, terlepas kontennya pesanan, bagaimana pesanan tersebut mendapatkan sentuhan personal. Pengalaman pribadi masuk ke dalam narasi konten. Sehingga tulisan pesanan tersebut menjadi khas personal. Tidak terlalu plek dari press release atau apa yang dikatakan oleh narator product knowledge.

Maka wajar jika seorang blogger yang sudah jadi/ profesional/ sering menang lomba pula mereka menjadi rujukan blogger lainnya. Namun saran saya sebagai newbie di dunia ini, karakter itu muncul dari dalam diri sendiri bukan dari orang lain. Karakter tulisan akan muncul dengan pengalaman personal dan rujukannya masing-masing. Sehingga seorang blogger yang merasa baru, tidak mesti harus menjiplak karakter tulisan dari blog lain. Karena pada dasarnya kita menulis untuk diri sendiri. Ciptakan kenyamanan untuk diri sendiri agar orang lain juga merasa nyaman. You are what you are write!

Lho saya siapa berani-berani nulis ini? 


Read More

23.10.11

Siswa, Korban Konten Media

Berita pemukulan Wartawan menjadi salah satu berita yang popular dalam minggu terakhir, di samping kasus korupsi yang melibatkan sejumlah menteri. Mereka dihadap-hadapkan dengan siswa yang melakukan pemukulan terhadap salah satu wartawan foto media nasional. Bagi saya sendiri, ada hal yang menjadikan berita ini cukup popular; pertama karena wartawan itu sendiri dan yang kedua karena posisi pemukul sebagai siswa/ pelajar SMA. 

Wartawan memiliki hak prerogative untuk memberitakan apapun selama berita itu dapat dijual dan bernilai berita. Apalagi dapat bernilai menjadi berita popular. Ini akan menguntungkan bagi sebuah media karena akan dijadikan referensi oleh para konsumen media yang akan mengangkat popularitas terhadap institusinya.
Sebagai institusi atau person yang memiliki kewenangan/ berkuasa dalam membuat berita tentu sah-sah saja saat wartawan dan medianya melakukan subjektifitas dalam pemberitaan. Walapun wartawan diharuskan untuk membuat berita yang objektif, namun nilai objektifitas suatu berita tidak terlepas dari pengalaman dan pengetahuan sang wartawan, dalam kasus atau masalah apapun. Sehingga nilai subjektifitas wartawan akan tetap tidak bisa lepas dari konten media. 

Salah satu fungsi komunikasi massa adalah sebagai penafsir dari suatu peristiwa. Saya memberikan contoh jika ada aksi demonstrasi di kantor pemerintah, lantas mahasiswa tersebut merusak pagar dan membakar ban, berita tersebut akan memiliki isi berbeda jika yang memberitakannya wartawan mantan demonstran dan reporter Humas Pemkot tersebut. Wartawan yang berasal dari aktifis akan memberitakan dari sudut pandang aktifis yang menilai pemerintahan. Sementara staf humas pemkot akan memberitakan tentang aksi mahasiswa yang mengganggu dan merusak fasilitas umum. Walaupun peristiwanya sama tetapi cara mengambil framenya berbeda.

Hal yang saya cermati dalam kasus pemukulan terhadap wartawan pun demikian adanya. Wartawan, dalam pandangan saya telah melakukan subjektifitas pemberitaan terhadap kasus pemukulan terhadap wartawan tersebut. Emosi para wartawan turut terlibat dalam pembelaan kepada sesama rekan wartawan sendiri. Saya mengambil kesimpulan sementara tersebut, karena mencermati sejumlah pemberitaan yang menilai bahwa pemukulan tersebut murni kesalahan siswa. 

Pemberitaan secara terus menerus pemukulan yang dilakukan oleh siswa SMA 6 Jakarta terhadap wartawan tersebut akan mengarahkan mindset penonton bahwa wartawan sebagai korban yang tidak bersalah sama sekali. Apa akibatnya terhadap pemberitaan ini? Hampir semua masyarakat mengecam sikap dan perilaku siswa SMA 6 tersebut, bahkan sudah mengarah kepada institusi yang diwacanakan untuk memutus satu generasi. 

Dari kesalahan siswa menjadi hukuman bagi institusi. Tentu saja ini tidak salah, karena institusi bertanggungjawab terhadap perilaku anak didiknya sebagai hasil dari system pendidikan yang dijalankannya. Namun kita tidak pernah menelisik lebih jauh, apakah ini benar-benar kesalahan siswa SMA 6 sendiri ataukah kesalahan system yang lebih tinggi lagi? Sebab perilaku buruk tersebut tidak hanya aksi brutal saja, namun juga tindakan asusila yang saat ini sudah menyebar ke daerah-daerah seperti kasus video porno, atau geng motor, atau pun geng perempuan yang meresahkan siswa lainnya. Oleh karena itu menghukum SMA 6 secara kelembagaan ataupun personal (siswa dan pihak manajemen sekolah) sangatlah tidak adil dalam pandangan saya, begitupun menyalahkan secara membabi buta siswa SMA 6 bagi saya tidaklah tepat, karena mereka adalah bagian dari objek pendidikan belaka yang sikap dan tingkah lakunya telah digerogoti oleh system yang ada.

Namun pada kenyataannya, kita sama sekali tidak mengetahui bagaimana perlakukan salah seorang wartawan tersebut terhadap siswa yang sedang diliputi oleh emosi saat tawuran. Hal ini luput dari sorotan media, karena tidak mungkin seorang yang sedang melakukan pembelaan mengakui kesalahannya tanpa syarat. Teman-teman wartawan yang sprofesi pun tentu akan lebih bersimpatik pada rekannya sendiri daripada terhadap siswa yang sedang tawuran apalagi hal tersebut dipandang sebagai aksi brutal.

Siswa Korban Media
Saya setuju jika siswa yang melakukan pemukulan merupakan tindakan brutal dan sama sekali tidak dibenarkan, oleh karena itu sayapun setuju jika mereka diproses sesuai dengan hukum yang berlaku. Namun, kita semua termasuk wartawan ataupun pihak berwajib harus sadar bahwa subjektifitas akan selalu ada, karena pada akhirnya objektifitas itu menjadi relative dalam sebuah pemberitaan terlebih lagi pemberitaan yang menyangkut pihak rekan wartawan yang menjadi korban. Sebagai korban tentu akan merasa tersakiti dan dizolimi yang akan menutup ruang kebenaran dalam pemberitaannya.

Hal yang harus disadari oleh awak media adalah bahwa aksi brutal yang dilakukan oleh siswa tersebut merupakan akumulasi yang tersimpan dalam memory mereka akan konten yang sering mereka tonton dalam media massa terutama televisi. Seperti kita ketahui konten televisi lebih banyak menyiarkan konten-konten yang dapat merusak perilaku remaja. Sinetron-sinetron kita lebih banyak menunjukan tentang kekerasan yang dilakukan oleh remaja. 

Remaja yang masih mencari jati diri akan menganggap bahwa tindakan licik, brutal, intrik, kekerasan yang ditampilkan televisi adalah hal biasa belaka. Bahkan tindakan-tindakan tersebut merupakan aksi seru-seruan saja seperti halnya bagaimana remaja ABG geng motor yang melakukan perampokan terhadap minimarket bersama teman-temannya. Pola pikir mereka yang belum bisa berfikir jauh tentang dampak dan nilai baik buruknya tentu akan lebih memilih berfikir pendek untuk seru-seruan bersama teman-temannya.
Siapakah yang mengajari mereka tentang seru-seruan? Kenapa mereka merasa bahwa hal tersebut sulit dibedakan nilai baik-buruknya saat bersama rekan-rekan meraka, karena mereka lebih memilih aksi seru-seruan daripada nilai ada di dalam berserta dampak ke depannya? Saya memandanya, media lah yang mengajari mereka. 

Media tidak hanya mengajarkan kekerasan, media pun sebagai penafsir telah mengajarkan bagaimana agar masyarakat bersikap kritis. Saat pelajar tahu bahwa tindakannya yang dinilainya tidak baik, namun seru, diliput oleh media akan menjadikan berita bagus bagi media tetapi menjadi berita buruk bagi mereka (bad news is good news), tentu saja mereka tidak rela jika mereka dijadikan objek kesalahan oleh Media. Saya melihatnya hal ini adalah sesuatu hal yang wajar, para siswa berada pada posisi pembelaan walaupun dinilai salah. Inilah pelajaran berharga bagi media. Propagandanya menjadi boomerang bagi awak media sendiri.

Tata ulang Mindset Konten Media
Menurut pandangan masyarakat pengkaji media, berita-berita dan siaran media lainnya, konten media banyak yang tidak mendidik. Bahkan jargon yang sering muncul dari konten tersebut adalah bad news is good news. Coba kita cermati, kasus bom bali, pelakunya saat akan dihukum mati malah seolah-olah menjadi pahlawan, sekarang pun Nazarudin bak pahlawan yang akan membongkar aliran dana yang dikorupsi, bahkan acara empat mata menjadikan Sumanto sebagai ‘pahlawan’ hingga harus menanggung malu acaranya dihentikan. Masih banyak konten-konten yang bertolak belakang dengan moral budaya bangsa namun seolah-olah menjadi konten yang berkualitas dan menarik bagi media itu sendiri. Jika saat ini awak media menjadi korban keganasan para konsumen media, kenapa mereka yang harus disalahkan. Bukankah yang harus diperbaiki adalah mindset dari konten siaran media itu sendiri yang selama ini menjadi guru bagi para Remaja?

Melalui tulisan sederhana ini, saya hanya ingin merefleksikan diri tentang sumber kesalahan dari kasus ini. Kita pun sebagai penikmat berita jangan cepat terpengaruhi oleh berita yang bersifat subjektif, karena wartawan pun punya peran untuk memancing emosi para siswa tersebut.
Hidup Konten Berkualitas!
Read More

22.1.11

Membenturkan Islam

Tersinggungkah jika ada yang mengatakan bahwa Islam itu Terorist? Bahwa Islam itu Kumuh? Bahwa Islam itu bodoh?
Read More

7.1.11

Kongres HMI, dari Nasyid Hingga Musik Rock

Rabu malam (10/11) di pelataran Gedung Insan Cita, Depok beberapa meter dari arah mesjid orang berkerumun dan bersorak. Saat itu sekitar pukul 11 malam. Cukup penasaran dengan kerumunan, akhirnya aku dekati sumber kerumunan tersebut. Orang-orang ramai bertepuk tangan dan khidmat menyaksikan suguhan acara. Tak lama suara halus melengking diiringi petikan gitar akustik mengalun. ‘Eumh, lagu nasyid’, gumamku dalam hati. Lagu yang tidak pernah aku suka, kecuali 2 grup saja dari sekian grup nasyid di era populernya dulu, satu grup dari Bandung yang kini sudah tiada, dimana syairnya masih ku ingat sampai sekarang, dan satu lagi adalah Grup Debu, yang sering nongkrong di layar kaca.

“Dik dengarlah Allah itu Esa,’ salah satu lirik nasyid yang kusenangi dulu, ya lagu nasyid yang dibawakan oleh salah satu kader HMI tersebut lirik dan syairnya mirip dari grup yang menyanyikan lirik tersebut.

Tepuk tangan hadirin menandakan lagu telah usai, petikan gitar akustik pun berhenti. MC memanggil kembali penyumbang lagu yang akan tampil dari daerah di luar Jawa, kalo gak salah HMI Cabang Bau-bau. 

Drum digebuk, bas dibetot, melody di gesek, melengking, keluarlah suara vokalnya, membawakan salah satu lagu dari Band Padi, yang liriknya ku ingat satu potong lirik,”begitu indaaah”.

Lagu padi selesai, MC memanggil kembali penyumbang lagu berikutnya, ia membawakan lagu-lagu popular dari Band yang sering menjadi ringtone sekelas kapten, d’massive, hello, yang liriknya tak pernah ku hapal.

Satu selesai, tiba-tiba senar bas dibetot, saya mulai curiga, ko sepertinya tidak asing dengan betotan Bas tersebut, benar saja, satu lagu dari aliran cadas, hiphop-punk-rock meluncur, lirik-liriknya keluar, eumh ini aku suka, lagu Pas Band.

Aku tak pernah mengerti, di dunia pencaci
Bersemi luka luka, kekerasan dan tangisan
Darah tubuhku lain denganmu
Jadi bubur cair dan banyak waktu, tuk menyinyir, tuk menyinyir, tuk menyinyir
Jadi pemenang yang kita pikirkan, jadi yang kuat yang kita pikirkan
Jadi yang kaya yang kita paksakan, jadi pemenang yang kita pikirkan
Hanya pemenang yang kita yakini, hanya yang kuat yang kita yakini
Yang kaya kita yakini jadi pemenang yang kita yakini…
Aku mulai bosan dengarkan kata kata
Aku mulai muak dengarkan ceritamu
Aku sudah lelah dengan harapan
Aku mulai mual dengarkan ceritamu

Saya suka lirik dan syair Pas Band, walaupun tidak sepopuler Gigi tapi musiknya menghentak, bisa mengekspresikan kejiwaan yang kesal terhadap keadaan negeri ini.

Petikan bas dan hentakan drum berhenti, lagu lawas ‘Putri’ dari Jamrud berteriak Keras, ‘Putriii Gadis Belia yang baru Meleeek,” sepotong dari lagu Jamrud aku tinggalkan karena harus bergegas ke Bekasi.

Di luar arena musik arus utama, sekelompok lain dengan menggunakan alat musik jalanan membacakan puisi dengan suara parau, berteriak menyuarakan keadilan.

Dalam perjalanan, saya berfikir tentang keragaman lagu yang dialunkan oleh kader dari berbagai daerah tersebut, seberagam pemikirannya tentang dunia dan kehidupannya, baik menyangkut masalah ideology agama, politik dan social.

Ya, ini adalah ciri dari keberagaman intelektualitas kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Masa kini, orang mungkin banyak yang tidak kenal apa dan siapa HMI. Bahkan media pun sering terpelintir dengan ‘I’nya adalah Indonesia bukan Islam. HMI adalah organisasi Mahasiswa Islam tertua dan mungkin terbesar se Indonesia, terlahir tahun 1947. Jika dilihat dari jumlah kader serta distribusinya di berbagai lini. Apalagi lini partai. 

Berbagai tokoh lahir dari organisasi ini, mulai dari tokoh politik, tokoh intelektual, pejabat public, advokat, ekonom, fasilitator. Dari mulai Nurkholis Madjid, Azzumardy Azra, Komarudin Hidayat, Akbar Tanjung, Anas Urbaningrum, Marwah Daun Ibrahim, Didik J Rakhbini, Andi Malaranggeng, Marzuki Ali, Sulastomo, Ridwan Saidi, Munir (Alm, pejuang HAM), Abu Bakar Ba’asyir, Miftah Faridl, M. Arifin Ilham, Adyaksa Dault dan masih banyak lagi yang tidak dapat disebutkan satu-persatu baik nasional ataupun di daerah baik yang terjun ke dunia politik yang popular, professional, karyawan, sampai aktifis yang tidak popular, seperti mendampingi anak jalanan, atau pemberdayaan masyarakat pinggiran yang berada di bawah garis kemiskinan.

Output dari HMI begitu beragam, berbagai profesi, berbagai pemikiran dari yang pundamentalis hingga liberal. Jika dikaitkan dengan perilaku keberagamaannya, barangkali juga dari yang sholatnya sangat rajin, rajin, kadang-kadang, sampai yang dibilang oknum. Inilah realitas. Di HMI terdapat berbagai latar belakang social pendidikan yang sangat beragam, ilmu alam, social, humaniora termasuk yang berlatar belakang pendidikan agama yang sangat kuat. Berbagai latar belakang ini menyatu dalam satu organisasi besar, yaitu HMI. 

Dengan berbagai latar belakang tersebut, sangat mungkin bahwa pengetahuan dan perilaku kader dan alumninya pun sangat berbeda, apalagi ideology Islam yang dikembangkan di HMI adalah Islam yang universal dan penuh toleransi, HMI tidak pernah mengarahkan pada satu titik pemikiran atau madzhab, sebab disini kita mengenal dan belajar banyak madzhab. Karena tidak hanya mengenal satu madzhab saja baik dalam pemikiran ataupun aplikasinya sehari-hari sehingga seringkali HMI diidentikan dengan pemikiran-pemikiran liberal, padahal tentu saja ini adalah medium pembelajaran kreatif dalam hal berfikir. 

Di HMI saya mengenal tokoh Wahhabi, Syi’ah, Salafi, Marxis, kritis, positivistic, di HMI juga saya mengenal Muhammadiyah, NU ataupun Persis yang berbeda-beda mempraktikan ritual agamanya. Karena pengenalan-pengenalan tersebutlah kader HMI sedikit banyak belajar toleransi namun bukan berarti ia sangat liberal dan bebas, karena liberal dalam sudut pandang HMI bukan kebebasan tetapi membebaskan, menyingkirkan penghalang dan belenggu agar mampu bersikap independen.

Melalui music nasyid, pop, pop rock, rock, hiphop punk rock seperti yang saya dengarkan di Kongres HMI, seolah menunjukan suasana yang tidak fanatic terhadap berbagai hal, ia toleran terhadap berbagai jenis aliran music seperti halnya sangat toleran terhadap berbagai agama dan pemikiran. Saya ingat masa ketika menjadi pengurus structural, walaupun belum pernah duduk di Jakarta namun suasana Kongres membuat saya rindu diskusi, saya rindu debat pemikiran yang penuh dinamika, intrik politik untuk pembelajaran, namun kini semuanya harus disudahi, karena masa mahasiswa adalah masa-masa hidup di alam semireal, kini ku hidup di dunia nyata yang harus dihadapi secara nyata pula, pengalaman di HMI semoga menjadi bekal untuk Hidup di tengah masyarakat.
Bila pun kini hidupku belum bermanfaat untuk masyarakat, minimal aku tidak menjadi benalu untuk masyarakat, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi masyarakatnya. Selamat Berkongres Kawan-kawan!
Read More

6.1.11

Tidak ada Juara Satu dalam Menulis

Setiap hari selalu saja ada para kompasianer baru yang bergabung. Salah satu harapan mereka adalah menjadikan rumah kompasiana sebagai tempat berbagi berinteraksi. Namun diantara mereka tidak sedikit yang belum menorehkan sejarahnya untuk berbagi bersama kompasianer lain karena alas an tidak bisa menulis. Mereka merasa malu dan minder karena dalam sangkaannya, semua kompasianer pandai menulis. Sehingga tidak jarang diantara kompasianer tersebut yang hanya mengomentarai tulisan dari kompasianer lainnya yang telah mampu menorehkan sejarahnya dalam hal menulis.

Read More

7.10.09

Bank Syari’ah Pupus Praktik Renten

Praktik Renten atau kegiatan renten adalah suatu aktifitas dimana seseorang meminjamkan uang dengan bunga yang berlipat-lipat yang memungkinkan bunga tersebut melebihi utang pokoknya jika cicilannya terlambat.

Ketika saya kecil, praktik renten saya ketahui dari tayangan-tayangan sinetron di TVRI yang menggambarkan kehidupan di desa yang miskin seperti kampung nelayan atau pedalaman. Dan saya pikir, praktik renten itu hanya ada dalam wacana-wacana sinetron televise saja. Saat itu saya tidak percaya ada orang dengan tega meminjamkan uang namun dengan bunga yang berlipat-lipat. Namun ternyata kehidupan saya yang dewasa dimana banyak bergaul dengan tetangga, saya memulai membuka mata, bahwa praktik renten itu ada di sekitar saya. Bahkan seorang yang bertitel Pegawai N***ri rela menggandakan uangnya kepada tetangga-tetangganya yang sedang kepepet membutuhkan dana. Memang saat saya di kampung tersebut, praktik renten yang dilakukan oleh tetangga saya tidak terlalu menekan orang yang dipinjaminya uang, sehingga lebih sedikit terlihat manusiawi, dan bunganya pun relative tetap. Misalnya meminjam uang Rp. 1.000.000,- dengan bunga 20 % berarti menjadi 1.200.000,-. Walaupun dalam tempo yang ditetapkan masih juga belum membayar, maka sang rentenir hanya mengingatkan kembali dengan penekanan jika masih belum bisa membayar maka barang-barang yang ada di rumah sang peminjam menjadi taruhannya.

Ketika saya pindah ke kota (sisi kota Bandung), Praktik renten benar-benar berada di depan mata saya, bahkan sang collector (penagih) rela untuk membogem orang yang ditagihnya, dengan kata-kata yang kasar. Dan seperti yang saya ungkapkan di atas, Praktik renten yang dilakukan ini, piutangnya bisa berlipat-lipat dan melebihi uang piutangnya sendiri. Dan hal ini terjadi di tempat dimana saya tinggal.

Pola kerjanya adalah, broker (perantara) yang sekaligus kemudian hari menjadi collector mencari konsumen yang sedang kepepet membutuhkan uang. Setelah mendapatkan konsumen, broker berhubungan dengan Sang Rentenir (pemilik dana). Setelah disepakati, collector/ broker memberikan pinjaman kepada Sang Peminjam. Pemberian pinjaman dilakukan setelah disepakati bunga pinjaman antara broker dan peminjam. Bunga berlipat satu kali sampai tempo pembayaran. Namun jika pada saat tempo pembayaran belum juga dilunasi oleh peminjam, maka sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat bunganya berlipat lagi satu kali. Misalnya, bunga 20 % dari Rp 1.000.000,- adalah 200.000,-, jika tempo pembayaran yang telah disepakati masih belum juga dilunasi, maka bunganya bertambah 200.000,- sehingga jumlah keseluruhan yang harus dibayarkan adalah 1.400.000,- dan begitu juga selanjutnya. Bila tempo yang disepakti adalah satu bulan, maka jika tidak dapat melunasi hingga satu tahun, maka bunganya dikalikan 12, 200.000 x 12 = 2.400.000,- ditambah piutang pokok Rp. 1.000.000,- menjadi Rp. 3.400.000,-. Benar-benar lintah darat. Ini adalah kenyataan yang ada disekitar tempat penulis hidup. Dalam pengamatan saya, bahkan ada dua orang tetangga yang akhirnya menjual rumah tempatnya tinggal demi melunasi hutangnya yang sudah mencapai belasan juta rupia.

Bank Syari’ah Harus Hilangkan Praktik Renten
Bank Syari’ah yang sistemnya sudah dilaksanakan oleh BMT (Baitul Maal wat Tamwil) atau Koperasi Syari’ah Simpan Pinjam yang sudah tersebar hingga ke pedalaman dan tersebar hampir di setiap Kecamatan dan beberapa Desa harus mampu menghilangkan praktik renten tersebut. Bahkan kehadiran Bank Syari’ah harus mampu menghilangkan bertambahnya angka kemiskinan di daerah, baik pedalaman ataupun perkotaan yang diakibatkan oleh praktik renten. 

Bank Syari’ah menekankan pola bagi hasil, walaupun ada sebagian orang yang mengidentikan bahwa bagi hasil sama dengan bunga namun tentu dalam praktiknya sangat berbeda, karena bagi hasil tidak berlipat dan bertambah jika angsuran terhadap Bank macet. Hal ini sangat berbeda dengan Bank Konvnsional.
 
Sistem Bank Syari’ah, yang menghilangkan bunga dan menggantinya dengan system bagi hasil dari praktik usaha real para nasabahnya tersebut, selain memberikan pinjaman terhadap para pelaku usaha dengan system kepercayaan, juga harus mampu menginventarisir para penduduk miskin untuk dibina menjadi pelaku usaha kecil dan diberi modal dengan pengawasan langsung dari manajemen Bank Syari’ah. Dengan adanya inventarisasi penduduk miskin dan dijadikan sebagai mitra didik dalam bidang usaha kecil, maka dengan sendirinya praktik renten akan hilang dari tengah-tengah masyarakat. Namun tentu ini bukan perkara mudah, sehingga diperlukan manajemen yang solid dan kuat serta berorientasi Lillah.
 
Mudah-mudahan dengan adanya Bank Syari’ah yang masuk ke pelosok-pelosok praktik renten yang menyengsarakan masyarakat benar-benar pupus. Semoga!

Read More

9.9.09

Mau ke Caheum Ko Nyampe Ledeng

“Malu bertanya sesat di jalan”, mungkin ini adalah ungkapan yang tepat atas pengalaman yang pernah saya alami 9 tahun lalu, tepatnya ketika saya baru saja menginjakan kaki di Bandung. Saat itu penulis baru saja dinyatakan lulus masuk perguruan tinggi.

Sebagai orang baru di kota sebesar Bandung, tentu banyak hal-hal yang tidak diketahui. Sebagai orang kampung, sifat dusun masih sangat melekat, Jika ada sesuatu yang tidak diketahuinya rasanya sangat segan untuk bertanya kepada orang lain, peribahasanya “sok asa beurat kuletah, sehingga menjadi sok tahu. “kajeun atog-atogan itung jalan-jalan” itu merupakan slogan pembelaan terhadap diri yang sok tau.

Saat itu penulis diminta sodara sepupu untuk menemaninya untuk daftar ulang di salah satu Perguruan Tinggi swasta di wilayah Dipatiukur. Baik sodara sepupu ataupun saya sama-sama tak tahu menahu soal jalan-jalan di kota Bandung, yang tahu saat itu Cuma sekitar terminal ke terminal dan kampus, itu pun baru, karena memang terpaksa harus tahu.
 
Setelah melakukan daftar ulang, akhirnya kami naik angkot dengan jurusan Jalan Ir. H. Juanda, dan tepatlah kami berhenti sebelum jalan Merdeka. Dari situlah kami mulai kebingungan, naik yang ke arah mana, apakah naik yang menuju jalan merdeka, jalan Riau menuju Cicaheum, atau jalan menuju ke arah Jalan Sangkuriang (waktu itu kami tentu saja tidak hapal jalan-jalan tersebut) dan tujuan kami sebenarnya adalah menuju Cicaheum agar cepat sampai ke Cibiru. Namun pada saat itu karena ketidaktahuan dan kedusunan kami, akhirnya kami saling dorong untuk sekedar bertanya tentang arah angkutan umum yang menuju Cicaheum, alhasil tidak ada yang berani buka mulut untuk bertanya.
“Ah Hayu, mudah-mudahan we bener nu arah ka Cicaheum”, ajaku saat itu
 
Setelah beberapa lama, mobil angkutan umum tidak juga menunjukan tanda-tanda menuju ke jalan cicaheum, setidaknya Jalan Surapati yang pernah kutahu, malahan mobil menuju jalan menanjak yang tidak pernah kukenal (wilayah jalan setiabudi).
 
“Wah alamat nyasar sigana ieu mah kang”, ujarku saat itu
“Hah, tadina hayang ngirit ongkos”, balas sepupuku, sedikit kaget.
 
Setelah kami perhatikan, ternyata memang benar, angkutan yang kami tumpaki (tumpangi) sampailah ke sebuah terminal yang tidak pernah ku kenal, yang jelas bukan terminal cicaheum yang aku kenal (kalo sekarang saya terminal ini adalah terminal Ledeng).
 
Dengan polosnya aku nyeletuk ke sopir angkot,”ari ieu teh Cicaheum? Tanyaku
“Sanes ieu mah terminal Ledeng a”, jawabnya heran.
 
Jawaban itu membuat mukaku menjadi merah, bahkan bukan merah tapi geuneuk.
Karena tidak mau terulang kejadian yang sama, akhirnya aku beranikan bertanya lagi,”Terus kalo mau ke Cicaheum naek mobil apa?.
 
“Masih sami ‘a, naek mobil ieu, engke ieu muter heula teras ka cicaheum”. Jawabnya lagi.

Akhirnya dengan hati dongkol, aku menumpang angkot yang sama untuk sampe ke terminal Cicaheum.
Selama perjalanan, saya dan sodara sepupu saling ledek karena pengalaman tersebut, dan tentu saja ledekan-ledekan itu menjadi sesuatu hal yang lucu, karena enggan bertanya alias dusun, bukannya ngirit ongkos, malah ongkos jadi dobel dua kali lipat.
Dasar Dusun!!


Read More