Showing posts with label Feature. Show all posts
Showing posts with label Feature. Show all posts

26.12.17

Meneduh Di Puncak Bintang

Sumber: dok @abahraka
Minggu kedua bulan Desember sebetulnya bukan jadwal untuk bercengkerama ke luar bersama anak-anak. Karena tepat dua hari sebelumnya mereka sudah puas-puasan bermain bola di pusat permainan dekat rumah. Artinya bahwa minggu ini seharusnya digunakan untuk bermain sekaligus beristirahat di rumah.

Tapi satu agenda yang bisa memberikan pengalaman seru buat anak sepertinya sayang untuk dilewatkan, #angklungpride. Pukul Tujuh pagi, anak-anak baru saja bangun. Artinya mereka harus loading dulu sebelum mandi. Tidak cukup satu jam untuk persiapan. Sedangkan Gelaran #Angklungpride sudah sejak pagi mengawali. Sehingga dalam perhitungan saya, bukan waktu yang tepat jika berangkat dari rumah jam 9, sementara acara sudah mulai sejak jam 8 pagi.

Hmmm sudah tanggung anak dan isteri dandan, masa iya harus batal berangkat. Tentu saja akan mebuat mereka kecewa. Karena tujuannya sekitaran Cicaheum dan Suci. Destinasi wisata yang dekat salah satunya adalah Puncak Bintang atau Bukit Moko.

Sudah lama cukup popular di media sosial 1-2 tahun lalu. Saya belum pernah juga melawat ke daerah yang tidak jauh dari Caringin tilu ini yang jika malem minggu banyak motor terparkir di pinggir jalan dan di baliknya ada muda-mudi sedang indehoy. Maklum, dulu jalanan cukup gelap. Dua-duaan di balik sepeda motor terparkir sepertinya boleh juga, bagi yang kantongnya kekeringan.

Jalanan menuju Cartil (Caringin Tilu) memang cukup curam, tapi dengan aspal yang sudah dihotmix, menggunakan matic 150 cc bukan barang susah untuk digas. Kendaraan bisa melaju dengan kecepatan sedang di atas tanjakan 30 derajat walaupun berbonceng hingga 2 orang di belakang atau kiran-kira 120 kg penumpang. Ya, jalanan menuju area ini sudah lebih baik dari 6 tahun lalu saat saya bersama kawan meramaikan malam mingguan.

Puncak Bintang, ternyata cukup jauh dari Caringin Tilu. Jalannya untuk beberapa perkampungan masih ada yang bolong dan becek, tapi overall, jalannya sudah bagus bahkan mendekati puncak bintang jalanan sudah menggunakan beton walaupun cukup menanjak hingga 35-38 derajat. Untuk pengendara roda empat juga, kendaraan sudah bisa langsung di parkir di area Puncak Bintang Bukit Moko.

Dengan parkir 5000rupiah yang dikelola oleh penduduk setempat, pengelolanya cukup apik dan perhatian terhadap pemarkir, terdapat tempat penyimpanan helm, untuk jaga-jaga jika cuaca hujan, tanpa harus mengeluarkan lagi biaya sewa.

Setelah motor saya parkir, sejenak menikmati pemandangan Kota Bandung dari atas bukit, dengan latar bukit pohon pinus. Arah berseberangan dengan tempat parkir, di ujung bukit pohon pinus tampak menara pandang Bukit Moko.

Dari atas menara Pandang, sejauh mata memandang, para pengunjung bisa menyaksikan hamparan gedung-gedung dan rumah penduduk Bandung menyerupai cekungan. Wajar karena Bandung pada masa lalu adalah sebuah Danau yang kemudian mengering. Ini mungkin gambaran Bandung Purba, yang menyejarah bersama Danau Purba Bandung tempo doeloe, di saat kakek moyang kita belum lahir.

dok @abahraka
Tidak seperti kebanyakan pengunjung yang mendahulukan berkunjung ke ikon Puncak berupa Patung Bintang Raksasa, saya lebih memilih berjalan menyusuri rindangnya pohon pinus. Begitu teduh dan tenang, padahal saat itu jam menunjukkan pukul 11.00, saat-saat teriknya matahari. Di bawah jalan tanah merah, destinasi milik perhutani ini tampak alami. Seakan tanpa rekayasa, namun tetap bersih dan terawat dengan beberapa tempat sampah di beberapa area.

Memilih Tempat Anak Bermain
Mini tebing untuk anak #PuncakBintang
Sebagai Abah yang punya dua anak laki-laki yang tidak terpaut jauh usianya, dibanding mengikuti ego mencari tempat berswafoto (lagian gak terlalu suka selfie, kecuali hasilnya bagus-bagus hehe), prioritas  utama adalah mencari tempat bermain anak. Setelah tanya-tanya, pihak perhutani menyediakan satu spot khusus tempat bermain. Walaupun dengan alat mainan yang terbatas dan tidak terlalu luas, sepertinya cukup meninamainkan agar anak tidak merengek minta jajan hehe.

Tak jauh dari area pohon pinus, setelah berjalan 200 meter, akhirnya kami temukan area permainan anak yang terdiri dari kuda-kudaan, perahu-perahuan, jembatan kayu, komidiputar, ataupun panjat tebing mini. Tidak jauh dari tempat bermain ada area memanah yang sedang hits dan kekinian. Semua dicoba  selagi bisa dan tersedia. Setelah anak merasa bosan dengan permainannya yang itu-itu saja, jajan jadi tujuan. Naik perahu-perahuan sudah, naik kuda-kudaan bergoyang sudah, naik jembatan dan tebing mini juga sudah.

Tepat tengah hari, cuaca di bawah pohon pinus tetap teduh. Walaupun agak jauh berjalan menuju gerbang kedatangan. Anak-anak tetap semangat, apalagi tujuannya adalah warung, tak lain dan tak bukan mencari jajanan anak. Apalagi rengekannya sudah tidak bisa lagi dibebenjokeun. Niat menuju ikon Puncak Bintang pun pupus sudah. Toh dominasi tujuan hang out bukankah untuk anak-anak?

Tak apalah tidak berswafoto di Patung Bintang Raksasa sebagi ikon Puncak Bintang, yang penting sudah tau area dan kemewahan pohon-pohon pinus yang meneduhkan dan menenangkan. Juga sudah bisa ngabrangbrangkeun anak-anak yang setiap minggunya minta hang out.

Bisa meneduh di bawah kemewahan pohon pinus, ngabrangbrangkeun anak-anak, dan juga sudah merasakan kemegahan Puncak Bintang dan Bukit Moko yang semoat Hits dan mungkin masih hits, sepertinya sudah cukup. Tak jauh dari gerbang masuk terdapat beberapa tempat duduk bisa dibuat sebagai tempat ngadem setelah jalan-jalan seharian.

Baydewey, retribusi masuknya tidak jauh berbeda dengan retribusi masuk destinasi buatan seperti Floating Market atau Dago Dreampark. Bedanya area jajanan yang tersedia lebih merakyat karena dikelola oleh masyarakat secara langsung dengan harga up tempat wisata, tidak murah juga tidak mahal. Sedangkan jajanan di area destinasi sudah menyesuaikan dengan harga manajemen. Yang jelas tidak akan membuat kantong jebol dan bolong.***[]
Read More

8.7.17

Balik Bandung Via Kamojang, menuju Perantauan Sambil Berwisata


Gunung Cikuray Garut, gambar diambil dari daerah Legok Pulus Samarang [dok. abahraka.com].
[abahraka.com] - Saat melakukan bakti sosial di Kecamatan Ibun, pernah satu kali naik ke Kamojang, jalannya sangat curam, mungkin tanjakannya mencapai 45O. Motor 110 CC harus menggunakan gigi satu, padahal tidak pakai boncengan. Sejak saat itu, cerita-cerita tentang asyiknya mudik melalui jalan Kamojang sudah tidak menarik lagi. Apalagi beberapa tahun lalu, saat wisata ke Kamojang, mobil carry tidak bisa naik dan akhirnya harus balik lagi. Padahal setiap tahunnya, atau setiap kakak (abang) pulang ke rumah ibu, balik lagi ke Bandung selalu melalui Kamojang. Katanya jalanannya melongpong, gak macet.

Belakangan, sejak pemerintah Kabupaten Bandung membangun lingkar Cukang Monteng, jalan baru yang cukup lebar, apalagi dengan ikon jembatan kuning, sebagai ikon baru Kamojang seakan terus ngabibita untuk merasakan indahnya berswafoto di sana. Jembatan Cukang Monteng yang terkenal dengan Kamojang Bridge Hill tersebut sering diberitakan, beredar di media sosial, dan dipublikasikan media massa. Jembatan baru tersebut seakan menjadi daya Tarik wisata baru di wilayah Bandung paling Timur. Kakak pun selalu bilang, jika ingin balik ke Bandungnya tidak macet, jalur Kamojang menjadi pilihan, dibandingkan melalui jalur Cijapati, harus melalui jalur Tarogong-Leles yang menjadi biang macet ditambah juga dengan jalannya yang kecil dan cukup curam juga.

Setelah beberapa tahun lewat, Cukang Monteng kian mentereng di media sosial, diberitakan media nasional, menjadi idola pengendara yang lewat. Baru saya ngeuh, bahwa curamnya jalan Kamojang tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Apalagi setelah satu kali, saya mengunjungi wisata alam Kawah Kamojang. Dengan jalan yang sudah hotmix, pemandangan yang ciamix, dan juga daya tarik jembatan yang menjadi magnet para pejalan yang lewat. Akhirnya meluluhkan hati saya untuk mencoba lewat jalur Kamojang. Jalannya pun sudah sangat memadai dan cukup nyaman untuk pengendara roda dua ataupun empat.

Perjalanan Tarogong Kaler – Kamojang
Rumah saya berada  di antara perbatasan Kecamatan Samarang dan Kecamatan Tarogong Kaler, tepatnya Desa Mekarwangi. Seberang jalan rumah saya sudah masuk Desa Cintarakyat kecamatan Samarang. Jika ada yang bertanya, saya berasal dari mana, biasanya saya jawab dari Samarang tapi masuk kecataman Tarogong. Seperti halnya tempat tinggal sekarang, berada di wilayah Cibiru tapi masuk kecamatan Cileunyi.

Wilayah Kecamatan Samarang Garut berbatasan langsung dengan Kecataman Ibun-Kabupaten Bandung. Di wlayah Samarang terdapat beberapa Hotel Resort seperti Sampireun, Mulih ka Desa, Kamojang Resort, juga resto sunda. Di Samarang juga terdapat destinasi wisata sekaligus restoran Kebun Mawar di wilayah Situ Hapa, Area Konservasi Elang, ataupun arboretum atau kebun Botani yang mengoleksi berbagai macam pepohonan yang juga menjadi perpustakaan herbal serta sumber mata air.

Sedangkan di wilayah Kamojang, setelah melewati wilayah Arboretum, ada beberapa destinasi wisata, selain Kawah Kamojang yang sudah cukup nyaman tempatnya dengan pengelolaan yang cukup baik dan tertata lebih rapih, juga terdapat wisata edukasi pertanian di komplek pemukiman warga atau dekat komplek pertamina. Wahana baru yang bisa saya lihat ada destinasi wisata air panas, outbond, ATV, hutan pinus, jembatan Cukang Monteng.

Gunung Papandayan, gambar diambil dari Legok Pulus [doc. abahraka.com]
Selain tempat wisata yang cukup bisa memuaskan dahaga untuk traveling, sepanjang perjalanan Jalan Kaum/ Samarang menuju Kamojang juga dihiasi pemandangan menakjubkan. Gunung Cikuray dan Papandayan yang menjadi salah satu ikon para climber Jawa Barat khususnya, menjadi latar perjalanan saya hingga sampai di daerah Legok Pulus. Cikuray dan Papandayan yang biasanya sering terlihat terpisah dan berjauhan saat saya lewati  kini seakan berdampingan. Takjub.

Gunung Papandayan, dilihat dari kejauhan begitu eksotik dengan pemandangan bekas letusan kawahnya.  Menambah asyiknya perjalanan. Bahkan saya sampai berhenti beberapa kali untuk menyaksikan kedua Gunung tersebut. Selain kedua gunung yang cukup terkenal di Garut tersebut, hamparan sawah dan palawija yang terhampar luas, memberikan aura kesejukan udara di Garut. Perjalanan sepanjang 15 km dari rumah hingga melewati Samarang tidak terasa dan akhirnya memasuki wilayah Randu Kurung yang sudah tidak lagi terdapat persawahan.

Randu kurung merupakan salah satu wilayah penghasil akar wangi terbesar yang terkenal di Garut. Masih menjadi bagian dari Kecamatan Samarang. Sepanjang perjalanan melewati Randu Kurung menyuguhkan pepohonan tinggi, perkebunan, khususnya kebun akar wangi dengan rumput tinggi-tinggi. Juga pertanian nonpadi dengan palawija atau sayur mayor, tanaman jangka pendek.

Melalui jalanan yang kosong, sepoinya angin Randu Kurung terasa sangat sejuk. Tanpa ada tat tit tuut bunyi klakson yang ingin menyalip kendaraan kita, motor yang saya kendarai bisa dengan santai dijalankan. Kanan kiri pohon tinggi-tinggi, dari jabon, suren, pinus, hingga jati.

Memasuki Legok Pulus, suasana berganti seperti puncak. Dengan bebukitan saling menonjolkan diri, tak beda jauh dengan pemandangan bukit Teletubbies. Kanan kiri bukit dipenuhi dengan tanaman pertanian jangka pendek atau sayur-mayur. Truck sayuran pengangkut hasil pertanian beserta alat penimbangnya menambah indahnya kesan pedesaan.  Penjual hasil tani pinggir jalan siap menjajakan  sayur dan buahnya kepada para pengendara dan pejalan. 

Legok Pulus terlewati, kita akan melewati wilayah Arboretum Citepus, yang menyimpan koleksi berbagai jenis pohon hingga mencapai sekitar 800 jenis. Termasuk buah-buahan yang sudah langka di pasaran seperti Kesemek, Pisitan, Kupa, dan lainnya. Area Arboretum terlewati kita akan menemukan kawasan Wisata Edukasi Konservasi Elang, masih termasuk Daerah Garut tepatnya Kecamatan Samarang. Menurut sang guide, hampir 70 %  jenis Elang dari 700an varietasnya ada di Indonesia, sehingga menjadi satu kewajaran jika harus ada konservasi elang di Indonesia. Dan Destinasi Konservasi Elang Samarang tersebut satu-satunya di Indonesia. Sebagai bentuk keprihatinan terhadap maraknya jual beli Burung Elang yang dilindungi di Indonesia. Konservasi Elang ini disponsori oleh #Pertamina. 

Baru sampai pada wilayah perbatasan Kecamatan Ibun Kabupaten Bandung dan Kecamatan Samarang, pengendara akan disambut dengan Gapura Selamat Datang di Desa Wisata Ibun dengan gambar foto Bupati Bandung. Kanan kiri begitu rimbun dengan pepohonan. Hutan konservasi tersebut di antaranya dipenuhi pohon pinus yang bisa dijadikan sebagai tempat berteduh. Sebalah kanan jalan menunggu para pencari rizki dengan saung-saung sederhananya. Beberapa motor berhenti untuk menyicipi dinginnya alam Ibun dan sekedar mencicipi seduhan mie rebus dan kopi.

Gapura perbatasan Kab. Garut dan Kab. Bandung [doc. abahraka.com].
Melewati Gapura Selamat datang, akan disuguhkan dengan berbagai plang pertamina dan masuk komplek pemukiman warga. Persis seperti kota di tengah-tengah hutan. Dengan jalan hotmix yang rapih. Aura suasana seperti dalam latar film-film Hollywood tampak terasa. Sebuah kota yang jauh dari kebisingan tetapi tersedia segala kebutuhan. Seperti tampak bukan desa dengan bangunan yang cukup mewah. Salah satu yang membuat suasana tersebut adalah komplek perumahan Pertamina. Di komplek ini juga terdapat salah satu wisata edukasi pertanian; mulai dari tanaman jangka pendek (sayur) juga tanaman menahun.

Melewati komplek pemukiman warga, piva-piva besar sudah mulai tampak. Piva penghantar gas bumi tersebut masih milik pertamina untuk disalurkan dan diolah ke PT Indonesia Power dan menjadi bahan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang. Jalur ini sekaligus juga jalan menuju Kawah Kamojang. Banyak pengendara berhenti, pedagang asongan juga sudah mulai meminggirkan roda dagangannya. Sebagian pengendara hanya sekedar istirahat, sebagian lain tampaknya berencana mengunjungi Kawah Kamojang.

PLTP Indonesia Power Kamojang [doc. abahraka.com].
Melewati area PLTP dan jalan menuju Kawah Kamojang, baru kita menemui jalan baru yang masih segar, dengan beton yang kokoh dan ukuran cukup lebar. Inilah yang dimaksud dengan Lingkar Cukang Monteng. Lingkar Cukang Monteng lebih mirip jalan tol, jalan tanpa hambatan. Di ujung Cukang Monteng, Jembatan Kuning menyambut. Inilah yang menjadi ikon baru daerah Kamojang yang dahulu terkenal dengan Kawahnya.

Saat ke daerah Kamojang, Kawah bukan satu-satunya tujuan wisata alam. Tapi Kamojang juga menyediakan tempat wisata lain seperti disebutkan di atas; Kolam Renang, Outbond/ ATV, Trail, Hutan Pinus, atau Jembatan Cukang Monteng yang saat penulis Balik Bandung sudah dipenuhi pengunjung yang sengaja berhenti untuk berswafoto. Saya berswafoto? Gak ah! Cukup ambil satu foto saya untuk sekedar mewakili bahwa saya pernah berkunjung atau melewati tempat ini.

Jalan Cukang Monteng

Lingkar Cukang Monteng

Kamojang Hill Bridge, tempat favorit swafoto
Lain kali, mungkin bisa semakin sering mudik atau balik Bandung lewat tempat yang memanjakan mata dengan hehijauan ini dan pemandangan langka ini.***[]
Read More

30.10.16

Sienta, Mobil Generasi XYZ


Generasi yang hidup pada masa kini adalah generasi yang tidak bisa lepas dari teknologi, khususnya perangkat gadget. Mereka yang sangat akrab dengan perangkat mutakhir ini adalah mereka yang lahir antara tahun pasca 1961-an s.d. pasca 1995-an. Era ini melahirkan tiga generasi, generasi pertama dalah generasi X, mereka yang lahir pada antara tahun 1961 dan 1980 ikut menikmati Karena mereka berada pada umur yang masih produktif, sedangkan generasi yang lahir tahun 1981-1995 sedang berada pasa masa puncak produktivitasnya, generasi ini biasa disebut sebagai generasi Y. Kedua generasi ini hidup pada dua masa sekaligus, masa dengan teknologi yang sederhana dan teknologi mutakhir. Sedangkan generasi Z adalah generasi yang lahir saat teknologi mutakhir sudah hadir.

Ketiga generasi ini yaitu XYZ adalah generasi yang sulit memisahkan diri dengan teknologi mutakhir, sebuah perangkat yang bisa menghubungkannya kemana dengan siapa dan apa saja dengan mudah. Sebuah mobile teknologi yang juga mampu melakukan interkonektivitas antar perangkat lain. Sehingga interkonektivitas antar perangkat pada akhirnya menjadi kebutuhan. Tak terkecuali dengan kendaraan, khususnya roda empat yang sudah menjadi kebutuhan bagi setiap orang.

Tips Memilih Mobil Anak Muda
Cuaca yang tidak menentu beberapa tahun terakhir, jika panasnya terik dan saat musim penghujan setiap hari Kota Bandung diguyur hujan sehingga menggunakan tunggangan kuda besi menjadi tidak nyaman, kendaraan roda empatpun menjadi kebutuhan mutlak. Namun memilih kendaraan di masa kini, pengendara harus mempertimbangkan unsur konektivitasnya.  
Foto Istimewa
Ada beberapa tips untuk memilih kendaraan roda empat untuk anak muda (generasi Z), pasangan muda (generasi Y), atau generasi X yang masih berada di puncak produktivitasnya dengan semangat muda, seperti disampaikan Indra Prabowo, Managing of Editor mobil123.com pada saat blogger gathering di Resto Atmosphere Bandung (28/10/2016), yaitu:

Economis
Unsur ekonomis bukan hanya soal murah, tetapi juga hemat. Untuk memilih kendaraan yang digunakan untuk aktivitas sehari-hari baik kerja ataupun bersama keluarga harus mempertimbangkan unsur hemat. Salah satu yang menunjukan unsur hemat adalah tidak boros terhadap penggunaan bahan bakar. Seperti halnya yang diusung oleh LCGC, murah dan hemat. Toyota menjadi salah satu pelopor mobil LCGC seperti direalisasikan dalam brand Ayla.

Safe & Secure
Pemilihan kategori save dan secure artinya bahwa mobil tersebut harus aman secara fisik terhadap pengguna, melindungi pengguna (safe) melalui fitur-fitur keselamatan seperti safety balt, kantong udara, air brake system dan lain sebagainya. Sedangkan Secure mobil tersebut juga harus terlindung dari gangguan orang jahat, misalnya bisa terlindung dari pencurian seperti adanya alarm atau GPS.

Konektivitas
Unsur yang tidak kalah menarik saat memilih mobil masa kini adalah unsur interkonektivitas. Selain menyediakan perangkat teknologi yang sudah mumpuni juga bisa terhubung ke perangkat lain milik pengguna. Sehingga memudahkan untuk aktivitas pengguna. Mobil sudah dilengkapi dengan berbagai fitur teknologi mobile seperti koneksi ke gadget, ketersediaan GPS, sistem audio video yang sudah online, dan lain sebagainya. 

Toyota Sienta
Toyota Sienta di situs mobil123.com
Salah satu kendaraan sudah kompatibel dengan syarat di atas, baru saja diluncurkan beberapa bulan lalu oleh Toyota, yaitu Sienta. Sienta lahir di tengah-tengah dinamisnya perkembangan teknologi mobile. Sehingga Toyota mempersiapkan kendaraan terbarunya ini sudah bersahabat dengan teknologi masa kini, seperti perangkat audio dan power air conditioner yang sudah touchscreen. Perangkat ini juga bisa terkoneksi dengan gadget (interkoneksi) pemilik. Dengan fitur yang lengkap, Sienta diarahkan untuk anak muda dan pasangan muda dinamis agar selalu terkoneksi. Melalui fitur yang tersedia, Sienta juga memenuhi unsur safe & secure dan ekonomis.

Unsur ekonomis Toyota Sienta didapatkan dari teknologi terbarunya yaitu dari sistem bahan bakarnya yang telah menggunakan full injeksi. Dengan kubikasi 1500 cc dan full injeksi menjadikan Sienta hemat bahan bakar. Melalui pengapian yang sempurna yang didapatkan dari penyebaran merata bahan bakar dalam ruang kompresi menjadikannya tenaganya powerfull. Selain itu, fitur keamanan saat berkendara disediakan oleh Sienta melalui immobilizer, airbag, ABS, BA, dan EBD.

Dengan fitur yang dimiliki Sienta, Sienta akan memenuhi Ekspektasi anak muda atau pun pasangan muda termasuk mereka yang sudah terbiasa terkoneksi dengan perangkat mobile. 

Memilih Dealer Kredibel
Namun sebelum kita memutuskan membeli salah satu mobil yang sudah menjadi target pilihan kita. Salah satu yang tidak boleh dihiraukan saat akan mengambil kendaraan adalah pemilihan dealernya. Dealer harus dipastikan yang sudah memiliki kredibilitas. Baik saat akan membeli kendaraan bekas ataupun baru. Pada sisi lain, dengna adanya konektivitas, untuk mendapatkan mobil kita tidak mesti pergi ke dealer secara fisik. Kini banyak dealer online yang sudah menyediakan berbagai macam kendaraan lengkap dengan sistem pembeliaannya; kredit atau cash.

Salah satunya marketplace yang sekaligus juga mengedukasi masyarkat dalam soal jual beli kendaraan termasuk edukasi kendaraan adalah situs mobil123.com. Situs ini adalah portal otomotif nomor 1 di Indonesia yang mempertemukan pembeli dengan penjual pada satu platform dengan berdasarkan riset dan review kendaraan.

Menurut Head of Marketing mobil123.com, agar dealer secara offlinenya memberikan jaminan kredibilitas, mobil123.com langsung terjun ke lapangan untuk memastikannya, sehingga dealer yang bekerjasama adalah dealer yang sudah mendapatkan ‘sertifikasi’ dari portal tersebut. Sehingga calon pengguna tidak usah khawatir dengan sekuritasnya. Wajar, dengan sistem yang dibuatnya, portal otomotif tersebut mendapatkan kepercayaan dari publik. Tak kurang 13 juta halaman per bulannya di akses oleh calon konsumen. 

Nah termasuk untuk mendapatkan ulasan produk yang lengkap, misalnya tentang Sienta tinggal klik mobil123.com.***[]


Read More

2.2.16

Nyaneut, Tradisi Minum Teh Bersama

Pikiran Rakyat Edisi 6 Januari 2016
Garut, satu kota banyak cerita. Bukan hanya cerita Cipanas dan Darajatnya saja sebagai cerita wisata air panas. Garut kaya wisata Gurilapsnya atau gunung rimba laut dan pantainya sehingga wajar jika Charli Chaplin menyamakan dengan kota Swiss yang berada di Jawa, Swiss Van Java. Disempurnakan dengan kehadiran cokelat produksi Tama Cokelat yang sudah mendunia. Selain gurilaps, Garut juga menyimpan cerita sejarah baik sejarah kesundaan, keislaman, atau perjuangan.

Di tengah gempuran budaya modern, Garut juga masih menyimpan tradisi yang sama dimiliki oleh negara besar dan maju seperti Jepang, Amerika Serikat, Denmark, Rusia, Maroko, dan lainnya. Tradisi ini masih dianut oleh sebagian masyarakat di Garut. Mereka menyebut tradisi ini sebagai Nyaneut. Tradisi minum teh hangat bersama di antara para warga.

Nyaneut, adalah salah satu dari ratusan tradisi yang masih dianut oleh masyarakat Jawa Barat. Tradisi minum teh bersama ini merupakan tradisi yang sudah berlangsung ratusan tahun pada masyarakat Cigedug Kabupaten Garut. Nyaneut adalah salah satu tradisi yang masih terus dilakukan oleh masyarakat. Tradisi ini telah menyedot ribuan orang untuk sekedar menyaksikan tradisi minum teh bersama yang dikemas dalam bentuk festival.

Pada tanggal 1 Muharam 1437 atau tepatnya 14 Oktober 2015, penulis mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan Nyaneut. Nyaneut tahun ini berbeda dengan nyaneut sebelumnya, karena diselenggarakan lebih meriah, dikemas dalam bentuk pesta budaya yaitu Nyaneut Festival.

Nyaneut merupakan singkatan dari Nyai Haneut atau Cai Haneut yang artinya air hangat. Adalah bentuk tradisi suguhan air teh hangat kepada tetamu yang datang yang disuguhkan oleh warga masyarakat Cigedug. Tradisi ini sudah ada sejak teh ditanam sejak abad 19 di wilayah Bayongbong dan Cikajang, Cigedug bagian dari Kecamatan Cikajang sebelum terjadi pemekaran menjadi kecamatan tersendiri. Tehnya sendiri dibawa dan ditanam oleh para pengusaha dari Belanda ditanam di kaki Gunung Cikuray.

Nyaneut menjadi tradiri dalam menyambut tahun baru Islam. Namun karena gempuran modernitas, Nyaneut sempat terputus cukup lama. Walaupun telah menjadi bagian dari keseharian warga karena dekat dengan kehidupan Teh. Festival ini menjadi awal kembalinya tradisi Nyaneut pada masyarakat Cigedug untuk terus dilakukan.

Jalannya Acara
Memasuki wilayah Situ Gede Cigedug, pengunjung disambut dengan gapura gugunungan, atau dikenal dengan SIGOTAKA yang sering ditemukan dalam pembukaan atau penutupan wayang golek. Semua panitia dengan mengenakan pakaian asli urang sunda (Pangsi) dan iket kepala turut menyambut kedatangan dan mempersilakan pengunjung untuk memasuki area serta ikut mengikuti acara Nyaneut. Sepanjang jalan menuju area Situ Gede, berjajar obor yang terbuat dari bambu anyaman. Aroma tradisi sungguh terasa bahwa ini merupakan festival budaya.

Acara diawali dengan Pawai Obor bersama yang dilakukan oleh ratusan anak-anak tepat setelah sholat magrib dilaksanakan. Dengan dampingan panitia, mereka mengelilingi jalan Cigedug. Mereka berangkat dari tempat festival dan kembali lagi ke area festival menjelang sholat Isya. Setelah Sholat Isya, festival dibuka dengan Rebana Cigedug dan rampak cangkir dari Teater Jalarea Universitas Garut. Dilanjutkan dengan sambutan dari ketua panitia, camat, dan Bupati Garut.

Baru setelah peresmian pembukaan festival oleh Bupati Garut, acara puncak Nyaneut Festival dilaksanakan yaitu ngahaturan cai kepada warga dan pengunjung pada tempat lesehan yang telah disediakan, dengan meja yang dirancang khusus dari bambu. Alas airnya sendiri menggunakan gelas dan teko yang terbuat dari tembikar. Air teh yang diolah adalah teh yang berasal dari teh wejek, yang diolah secara tradisional oleh masyarakat Cigedug. Sehingga menghasilkan wangi yang khas. Nyaneut disuguhkan bersama panganan tradisional yang dikukus yang mayoritas terdiri dari umbi-umbian; ubi jalar, singkong, ganyong, dan gula merah.

Di tengah-tengah udara Kaki Gunung Cikuray, Nyaneut menjadi aktifitas warga, bukan hanya untuk menghangatkan tubuh, juga menghangatkan suasana, karena pada dasarnya Nyaneut dilakukan secara bersama-sama. Maka, terbentuklah tradisi kerjasama dan kekompakan dari warga. Hal inilah yang menjadi semangat Nyaneut. Seperti dituturkan oleh Dasep Badrussalam, Ketua Penyelenggara Nyaneut Festival. Pemuda lulusan STT Tekstil ini mengatakan, ingin menghidupkan kembali tradisi Nyaneut untuk tetap menjadi kekompakan dan kebersamaan warga Cigedug yang sedikit demi sedikit sudah tergusur oleh modernitas.

Kekompakan dan kebersamaan ini tampak terasa atmosfernya dari sejak saya datang ke Cigedug. Anak-anak sangat kompak untuk melakukan pawai obor, para wanita kompak membuat suguhan kepada warga dan pendatang. Kekompakan inilah yang pada akhirnya melahirkan kebersamaan antara warga Cigedug Garut. Sebagaimana halnya kebersamaan antara menyambut Tahun Baru Islam dan kebiasaan warga Cigedug dalam melakukan aktifitas minum teh bersama. Jadilah Nyaneut menjadi bagian dari tradisi warga dalam menyambut hari bersejarah dalam Islam tersebut.

Sambil menikmati kehangatan dan kekhasan Teh Wejek, warga menikmati berbagai suguhan seni tradisi; teater, rampak, rebana, sampai haleuang Dangiang Galuh Pakuan yang dipimpin oleh Bupati Purwakarta Deddy Mulyadi. Cag.

@abahraka Pikiran Rakyat, 6 Januari 2016
Read More