Showing posts with label Hand Out. Show all posts
Showing posts with label Hand Out. Show all posts

30.1.09

Menuju Transendensi Organisasi

Di tengah zaman “edan” yang serba global, agaknya determinisme peradaban sudah mengarah pada satu kesepakatan bahwa untuk mencapai eksistensinya, manusia berkuasa harus berdiri di atas pundak orang yang dikuasai. Eksistensi manusia sekarang diukur dengan sejauh mana bisa menindas kaum lemah. Hal ini merupakan konsekwensi logis dari epistemologi keilmuan Barat yang serba materialistik. Materialisasi produk Barat mendorong terhadap jauhnya penggunaan nurani dan akal sehat, menafikan keilmuan yang transenden. Merebaknya globalisasi, merajalelanya kapitalisme, pengaruh besarnya altruisme, pemujaan berlebihan terhadap nafsu, penuhanan terhadap sains dan teknologi mendorong manusia melakukan hal tersebut, mendorong manusia melakukan dehumanisasi, disadari atau tidak. 

Dehumanisasi terjadi akibat terjauhnya manusia dari nurani dan akal sehatnya sebagai implikasi lansung dari agama modern, yang mempunyai akar epistemolgis yang harus serba rasional, empiris dan terukur (positivistik). Agama Modern yang berkiblat pada sains dan teknologi serta berpijak pada epistemologi positivistik di atas, mengukur segala sesuatunya dengan realitas kebendaan. Penilaian segala sesuatu didasarkan pada tinggi rendahnya materi yang dimiliki. Manusia yang hidup dalam dimensi ini selalu mengejar materi dengan alasan dan cara apapun. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya kesenjangan dan kurangnya kepekaan dan kepedulian terhadap kehidupan sosialnya. Sehingga pantaslah jika ummat yang satu tertindas cenderung tidak akan merasakan kemerdekaan, dan Si ‘Penindas’ sama sekali tidak pernah merasa bahwa dirinya menindas, karena hati nuraninya tergeser dengan altruisme yang salah kaprah dan pemujaan terhadap hedonitas. Hati nuraninya sudah tercerabut dari akar kehidupan sosialnya. Kini, kebanyakan manusia degan gejala modernitasnya, semakin sibuk dengan kesenangan duniawi, hanya memperturutkan cinta diri yang berlebihan, mengikuti dan guyub terhadap trend, menjiplak kebudayaan modern tanpa bersikap kritis, meniru cara berfikir dengan kedok kemajuan.

Pengaruh di atas secara umum terjadi secara global di semua bangsa, sehingga pantas kalau V.S. Naivaul yang dikutif S. Hutington, menyebutnya dengan peradaban universal, dengan artian bahwa pengaruh dari agama modern sudah begitu mendunia. Tidak berbeda antara Muslim dan non-muslim, sebab kedua-duanya menggunakan simbol dari epistemologi positivistik, tak terkecuali Indonesia yang mayoritas berpenduduk muslim. Semua sektor kehidupan termasuk sektor kehidupan di bawah institusi agama mencirikan hal yang sama. Tidak memandang suku, ras agama, tidak memandang organisasi dan stratifikasi sosial. Segala sektor kehidupan sudah terjebak dengan liberalisasi yang berlebihan dan tanpa batas; ekonomi, budaya politik, sosial.
 
Di tengah kepanikan global di atas, Bangsa Indonesia, yang mayoritas berpenduduk muslim, di samping sedang berperang dengan pengaruh negatif arus modernitas juga sedang menghadapi bencana nasional; Badai Tsunami di Aceh, Gempa bumi di sebagian wilayah Jawa Barat, Gempa bumi Nisa, Longsor besar di Kabupaten Bandung, Jogja, dan pantai selatan jawa barat di awal- awal pemerintahan SBY-JK dan disusul dengan berbagai bencana transfortasi. Ummat seharusnya mampu menjadikan Islam sebagai kekuatan yang revolusioner untuk membendung arus negatif modernitas serta mengatasi problem sosial di atas. Dengan mengembalikan Islam kepada fungsi sosialnya. 
Menjembatani kesenjangan antara penguasa dan yang dikuasai, antara Si kaya dan Si miskin. Mampu memberikan penyadaran dengan praksis, bahwa Islam tidak sekedar bertanggungjawab atas kehidupan pribadi, tetapi tanggung jawab sosial merupakan sandaran yang baku terhadap ciri bahwa manusia, bertanggungjawab secara pribadi. Jelasnya, Tauhidullah tidak memilah-milah, tidak mendikotomiskan antara tanggungjawab pribadi dan sosial. Tanggung jawab pribadi dan tanggung jawab sosial manusia dalam pandangan tauhid merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, tidak saling menegasikan, ia merupakan satu kesatuan yang utuh. Oleh karena itu Tauhid sebagai inti ajaran Islam harus mampu—selain membentuk manusia bertanggungjawab terhadap dirinya—juga bertanggung jawab terhadap kehidupan sosial. Manusia Indonesia yang menganut dan memegang teguh ajaran Tauhid Islam, harus mampu menjadikan Islam sebagai solusi problem sosial.

Untuk melakukan penyadaran tersebut, bukanlah hal yang mudah. Diperlukan usaha sistematis dan terencana. Yang pertama adalah harus melakukan provokasi keresahan, terhadap bahaya modernitas—disamping kelebihan positifnya. Dan selanjutnya adalah bagaimana mengimplementasikan ide-ide sosial Islam tidak sekedar di atas mimbar yang selalu didengung-dengungkan oleh para muballigh, tetapi menjadi solusi kongkrit bagi oang yang membutuhkan.

HMI sebagai bagian dari bangsa Indonesia, sebagai organisasi yang berazaskan Islam, yang mempunyai tujuan ” bertanggungjawab terhadap terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridloi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala”, harus merasakan dan menganalisa gejala di atas, sebagai landasan gerak perjuangannya. HMI harus mampu mengembalikan kemurnian Islam, menjungjung tinggi ajaran tauhid, dengan tidak memilah-milah tanggung jawab pribadi dan sosial. HMI harus mampu menjadikan Islam sebagai agama Revolusioner sesuai dengan tuntutan Al-Qur’an, seperti halnya Nabi pernah melakukan. Tidak lantas menjadikan Islam sebagai tunggangan. Kader HMI harus mempunyai kepekaan sosial yang tinggi, menjadikan problem sosial sebabai bagian dari problem ke-Tuhan-an/ Tauhid.

Sebagai organisasi kader, Kehidupan HMI secara umum, bersentuhan langsung dengan kehidupan sosial manusia. HMI hendaknya menganut rujukan utama, Al-Qur’an sebagai landasan ideal dan NDP sebagai landasan ideologis. Tauhid sebagai basis pergerakannya harus mewarnai gerakan sosial masyarakat HMI. Bahwa gerakan perjuangan yang digagas HMI harus berfihak kepada kebenaran, berfihak kepada fihak tertindas, kepada fihak yang selalu dirugikan oleh permainan sistem, harus berfihak kepada kehidupan sosial manusia Indonesia. Praksis sosial sebagai bagian yang tak terpisahkan dari ajaran Tauhid harus menjadi tolak ukur perjuangan HMI, bahwa permasalahan sosial adalah bagian dari permasalahan tauhid.


Read More

MEMAKNAI ULANG PROSES PENCIPTAAN PEREMPUAN

Anita, seorang TKW Indonesia yang bekerja di Kuwait meninggal secara mengenaskan. Ia meninggalkan misteri kematian yang membuat hati keluarganya tersayat. Betapa tidak, kepulangan Anita ke Indonesia justeru untuk dirawat di Rumah Sakit. Ketika masuk ke Rumah Sakit kondisi Anita sudah cukup parah dengan luka-luka lebam disekujur tubuhnya. Menurut sumber berita, Anita mengalami penyiksaan oleh majikannya di Kuwait, tidak hanya berupa pukulan dan tendangan saja, bahkan setrikaan panas pun pernah hinggap di bagian tubuhnya.(H.U. Pikiran Rakyat edisi 28 Mei 2005)

Di bagian lain, diberitakan pula seorang Ibu Rumah Tangga melaporkan suaminya ke Kantor Polisi Sektor Cikelet Garut, usut punya usut, ternyata si Ibu yang mempunyai Nama Ida, sudah tidak kuat lagi menerima siksaan dari suaminya. Sejak pertama menikah—Nyonya Ida—bukan menikmati bulan madunya, malah sudah mendapatkan tamparan dan tendangan dari suaminya. Hal ini terjadi selama delapan tahun kehidupan rumah tangganya. Karena tak kuasa menahannya, akhirnya nyonya Ida melaporkan Suaminya Ke Polisi. (H.U. Priangan Tasikmalaya, edisi 28 Mei 2005)
Cerita (fakta) di atas hanya salah dua kekerasan yang di alami oleh makhluk yang namanya perempuan. Masih banyak kasus-kasus lain yang mendiskreditkan posisi perempuan, menjadikan wanita sebagai objek. Belum lagi, bahwa seorang perempuan menjadi komoditi yang sangat menggiurkan untuk dijual. Baik di Barat sana ataupun di Indonesia.

Eksploitasi terhadap permpuan telah terjadi sebelum Al-Qur’an turun. Oleh kalangan Atas, perempuan hanya dijadikan pemuas nafsu dan disekap dalam istana-istana. Dan di kalangan bawah, wanita sangat menyedihkan, mereka diperjualbelikan, sedangkan yang bersuami, mereka di bawah kekuasaan suaminya, mereka tidak mempunyai hak sipil, bahkan hak waris pun tidak ada. Dalam peradaban Yunani, wanita sepenuhnya berada di bawah kekuasaan ayahnya. Setelah menikah, kekuasaan berpindah ke tangan suami. Kekuasaan ini mencakup kewenagan menjual, menganiaya, mengusir dan membunuh. Keadaan tersebut berlangsung sampai abad ke enam masehi. Segala hasil usahanya menjadi hak milik keluarganya yang laki-laki. Hingga Abad modernpun tampaknya posisi perempauan masih tampak sama, yang membedakan adalah adanya gerakan yang cukup signifikan dari komunitas perempuan.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, terutama yang berbasis sosiologis Historis, ditambah lagi dengan kondisi sosial politik—baik di dunia, terutama Indonesia pasca reformasi—yang berubah, tampaknya kondisi keperempuan Indonesia pun mendapatkan momentumnya. Wacana bahkan gerakan perempuan Indoonesia menyeruak ke permukaan. Perempuan tidak lagi berada di sektor domestik tapi lebih muncul ke publik, baik dalam wilayah profesi ekonomi ataupuin politik. Kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan sudah mendapatkan perhatian yang amat sangat, sampai-sampai ada menteri khusus perempuan, padahal menteri khusus pemberdayaan laki-laki tidak pernah ada. Dalam politik, kita tentunya tahu bagaimana Kyai-Kyai yang berasal dari PPP melarang perempuan menjadi pemimpin dalam patwanya, tapi pasca reformasi khususnya ketika Bu mega hendak manggung, penafsiran itu menjadi pro dan kontra, bahkan menyepakatinya, bahwa Perempuan boleh menjadi pemimpin. Di satu sisi—dalam hal apapun—posisi wanita sudah bisa menyamai posisi laki-laki walaupun dalam porsi yang kecil, tapi di sisi yang lain. Perempuan tetap saja di anggap sebagai second man (woman).

Penciptaan perempuan dalan Al-Qur’an dan Asumsi Tentang Perempuan
Ayat Al-Qur’an yang popular dijadikan rujukan dalam pembicaraan tentang asal kejadian perempuan adalah firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 1


Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari nafs yang satu (sama), dan darinya Allah menciptakan pasangannya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakan lelaki dan perempuan yang banyak.

Menurut Jumhur ulama, kata nafs dirujukan pada Nabi Adam A.S., tetapi para mufassir modern seperti Muhammad Abduh mengartikan nafs dengan “ jenis”. Dari pandangan yang berpendapat bahwa nafs adalah Adam, di pahami pula bahwa kata zaujaha, yang arti harfiyahnya “pasangan” mengacu pada isteri Adam, yaitu Hawa.
Agaknya karena ayat di atas menerangkan bahwa pasangan tersebut diciptakan dari nafs yang berarti adam, para penafsir terdahulu memahami bahwa isteri Adam (perempuan) diciptakan dari Adam sendiiri. Pandangan ini kemudian melahirkan pandangan negatif terhadap perempuan, dengan menyatakan bahwa perempuan adalah bagian dari laki-laki. Hal ini rupanya bersumber pada hadits:

Saling pesan-memesanlah untuk berbuat baik kepada perempuan, karena mereka diciptakan dari tuilang rusuk yang bengkok… (H.R. At-Tirmidzi dari Abu Hurairah) Hadits di atas dipahami oleh ulama-ulama terdahulu secara harfiyah. Namun tidak sedikit ulama kontemporer memahaminya secara metafora. Yang memahami secara metafora berpendapat bahwa hadits di atas memperingatkan para lelaki agar menghadapi perempuan dengan bijaksana, karena kecenderungan mereka yang tidak sama dengan lelaki, karakter perempuan sangat berbeda dengan karakter laki-laki. Hal ini bisa kita baca dalam Revolusi IQ, EQ, SQ (Mizan 2000). Kecenderungan perbedaan karakter antara perempuan dan laki-laki karena perbedaan struktur bioloisnya, diantaranya yang paling utama adalah pembagian struktur otak kanan dan otak kiri pada perempuan dan laki-laki sangat berbeda. Pada otak kanan (otak yang mengatur emosi, sikap dll) perempuan strukturnya lebih besar dari pada laki-laki, hal ini menyebabkan emosi perempuan berbeda dari laki-laki sehingga timbul pernyataan bahwa emosi perempuan dan laki-laki itu sepuluh berbanding satu.

Menurut Ath-Thabathaba’I, bahwa tidak ada satu petunjuk yang pasti dari ayat Al-Qur’an yang dapat mengantarkan kita untuk menyatakan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk, atau bahwa penciptaan laki-laki berbeda dari penciptaan perempuan. Pada prosesnya laki-laki dan perempuan diciptakan dari nafs yang satu. Allah menciptakan manusia dari lakii-laki dan perempuan seperti terdapat dalam Q.S. Al-Hujurat ayat 13.
"Wahai seluruh manusia sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (terdiri) dari laki-laki dan perempuan, dan kami jadikan kamu berswuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia dihadapan kamu adalah yang paling bertakwa.

Lebih Ekstrim Rasyid Ridla dalam Tafsir Al-Manar menyatakan bahwa Kata “tulang rusuk“ dipengaruhi oleh Kitab perjanjian lama (taurat), yang menyatakan bahwa ketika adam terlelap tidur,maka diambil oleh Allah sebilah tulang rusuknya, lalu ditutupkannya pula tempat itu dengan daging. Maka dari tulang yang telah dikeluarkan dari Adam itu, dibuat Tuhan seorang perempuan.

Dari penafsiran bahwa wanita tercipta dari tulang rusuk, menurut Riffat Hasan dalam Muhamad Yazid, ada tiga asumsi dasar yang telah lama digunakan dalam tradisi pemikiran teologi di lingkungan umat Islam. Pertama; Bila mahluk yang bernama Hawa diciptakan Tuhan dari tulang rusuk laki-laki, maka dengan sendirinya perempuan diyakini sebagai mahluk yang secara ontologis adalah sekunder. Kedua; bahwa perempuan --bukan laki-laki-- yang merupakan penyebab utama tergelincirnya Adam dari surga atau yang kita kenal sebagai dosa manusia atau terusirnya manusia dari surga, karena itu semua anak perempuan Hawa harus diperlakukan dengan rasa benci, curiga dan --bahkan-- hina. Ketiga; Bahwa perempuan diciptakan pada dasarnya adalah untuk laki-laki, oleh karena eksistensinya hanyalah pelengkap. Asumsi di atas telah begitu jauh mempengaruhi pemahaman para ulama terhadap teks kitab suci tentang penciptaan manusia yang secara serta merta menempatkan laki-laki di atas perempuan, pada hal sejauh yang dapat ditangkap dari pesan-pesan kitab suci tidak ada penjelasan tentang perbedaan kualitas penciptaan antara laki-laki dan perempuan, walaupun al-Qur’an menggunakan istilah laki-laki dan perempuan, maskulin dan feminin, tidak dimaksudkan untuk memperioritaskan yang satu dan merendahkan yang lain, karena pada dasarnya hakekat penciptaan mahluk secara eksistensial adalah sama, seperti terdapat dalam Q.S. Al-Isra ayat 70:"Sesungguhnya Kami telah memuliakan anak-anak Adam, kami angkat mereka di daratan dan di lautan (untuk memudahkan mereka mencari kehidupan). Kami beri merek rizki yang baik-baik, dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk-makhluk yang kami ciptakan." Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal-orang-orang yang beramal, baik lelaki dan perempuan (Q.S. Ali Imran 195)

Persamaan derajat laki-laki dan perempuan Nabi Muhammad Sebagai penyampai risalah, mempunyai tujuan untuk menyempurnakan Akhlak ummatnya. Begitupun dalam mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan. Sejak Islam datang ke dunia Arab, telah tejadi revolusi yang sangat dahsyat dalam hubungan laki-laki dan perempuan. Perempuan yang saat itu kelahirannya dianggap sebagai aib oleh orang Arab, setelah Islam datang perempuan begitu disucikan, bahkan dalam suatu hadits, perempuan (ibu) ditinggikan derajatnya 3 kali lebih tinggi dari pada laki-laki (bapak), hal ini dimaksudkan bahwa posisi perempuan sama halnya dengan laki-laki, bahkan dalam hal tertentu posisi wanita lebih tinggi dari pada laki-laki. Bahkan dalam dunia tasauf, adalah perempuan yang pertama kali memurnikan ajaran tasauf dari hal-hal yang negatif, ia adalah Rabi’ah Al-Adawiyah.

Untuk memberikan gambaran di atas, Al-Qur’an memberikan hikmah tentang seorang perempuan yang sangat berkuasa pada zaman Nabi Sulaiman, yaitu Ratu Balqis. Al-Qur’an memberikan gambaran bahwa Ratu Balkis sebagai penguasa di suatu negeri yang kekuasaannya tidak tertandingi, tentunya dengan pengecualian. Semua laki-laki tunduk di bawah kekuasaan Ratu Balkis. Nabi Sulaiman yang saat itu mempunyai misi meng-Islamkan semua ummatnya, termasuk Ratu Balkis, mendapatkan tantangan yang cukup signifikan, sampai-sampai nabi sulaiman harus mengerahkan seluruh kekuatannya. Menggunakan burung hud-hud, para semut, binatang-binatang lain sebagai mata-mata dan para jin untuk membuat istana yang membuat takjub Ratu Balkis, hingga akhirnya, setelah kekuatan Nabi Sulaiman dikeluarkan akhirnya Ratu Balkis masuk Islam.

Begiitupun, Al-Qur’an meceritakan kisah Siti Maryam sebagai perawan suci yang dilindungi Allah saking shalehahnya. Hal ini menunjukan bahwa Allah sama sekali tidak membuat diskriminasi antara perempuan dan laki-laki. Pada periode Nabi Muhammad SAW, tentunya kita mengenal sosok Siti Kahdijah. Ia merupakan partner Nabi Muhammad SAW dalam menjalankan misi dakwahnya. Bahkan tidak sedikit peran Siti Khadijah dalam memotivasi suaminya, misalnya ketika pertamakali turunnya ayat, terdapt pula isteri nabi yang lain dan juga putrinya Sayyidah Patimah yang berjuang melawan kesewenag-wenangan bani Umayyah bersama suaminya Sayyidina Ali.

Munculnya Peminisme (faham keperempuanan)
Tidak bisa disangkal, apabila kita kaji teks Al-Qur’an dan Hadits Nabi, menurut Muhammad Yazid, Agama Islam tidak membeda-bedakan antara perempuan dan laki-laki. Pembedaan muncul karena pijakan mitologi perempuan pada zaman kuno yang masih menempel dan menjadi warisan bagi manusia. Pembedaan terjadi karena ada kontsruk budaya masyarakat yang cenderung patriarki. Hal ini tidak terlepas dari sifat superior laki-laki. Mitologi, Konstruk budaya dan sifat superior ini menjadi inheren dengan penafsiran yang dilakukan oleh ulama yang berasal dari kaum laki-laki. Bahkan lebih ekstrim menganggap perempuan sebagai manusia nomor dua yang layak untuk dilecehkan. Akibat dari pelecehan ini menimbulkan kekerasan terhadap kaum perempuan, perempuan banyak yang menjadi korban ekploitasi, baik di lingkungan domestik ataupun publik. Hal inilah—acuan sosiologis—yang memicu munculnya feminisme, penuntutan hak yang sama bagi perempuan. Pada prakteknya gerakan feminisme ini ada yang lebih radikal (Feminisme radikal) yang membuat suatu praktek untuk tidak menikah dengan laki-laki bahkan lebih ekstrimnya lagi menganggap bahwa laki-laki adalah musuh.

Dalam diskursus budaya pop, pembedaan muncul dipertajam oleh kaum perempuan sendiri. Perempuan banyak mewacanakan tentang perbedaan tersebut. Padahal wacana yang dimunculkan oleh laki-laki bersifat universal dan tidak semua laki-lakipun bereaksi sama terhadap kaum perempuan, masih banyak kaum laki-laki mngakui posisi perempuan sebagai mitra hidup, sejajar dengan posisi laki-laki dan sebaliknya.
Konstruk budaya inipun saya pikir karena peran perempuan yang tergolong kecil. apabila kita telusuri pada zaman klasik, tidak ada kaum perempuan yang menghasilkan karya fiqh, atau zaman lahirnya ilmu kalam, tidak ada perempuan yang emgkonsentrasikan ke dalam bidang ini termasuk dalam bidang penafsiran, sehingga sangat wajar bila konstruk yang ada cenderung patriarki sifatnya.

Mesti dipahami, bahwa budaya patriarkal ini tidak saja terjadi dalam masyarakat non Islam. Kalau kita telusuri sejarah dari zaman yunani kuno, romawi, mesir, sampai asia Asia Timur; Jepang, China dan Asia lainnya, partisipasi wanita di wilayah publik adalah sesuatu hal yang tidak biasa. Jadi suatu hal yang memang dialami oleh masyarakat dunia secara umum, dan Islam memulainya memberikan hak yang penuh terhadap wanita.

Pasca Gagas
Dalam kenyataannya Asmaul Husna (Nama-nama Allah)—terlepas dari polarisasi—mencakup feminin dan maskulin yang selalu diasumsikan dengan sifat kewanitaan dan kelaki-lakian dan inipun tercermin dalam diri Rasulullah SAW. Atau dalam istilah kita—menurut sayyid Hossein Nasr—mencakup sifat ke-Mahabesaran (Jalal), ke-Mahasempurnaan (Kamal) dan ke-Mahaindahan (Jamal). Sifat-sifat ini harus dimiliki oleh seorang hamba, tidak ada pengecualian, tidak dikhususkan untuk perempuan dan laki-laki seperti halnya dinyatakan dalam pirman-Nya di atas bahwa manusia yang paling mulia di hadapan Allah adalah yang paling bertakwa.

Dalam Q.S. Al-Baqarah 187 disebutkan bahwa tiap-tiap pasangan pakaian bagi masing-masing pasangannnya, tidak hanya dalam pengertian seksual saja tapi menyentuh pada persoalan lain, bahwa antara laki-laki dan perempuan harus saling menjaga kehormatannya. Diciptakannya masing-masing pasangan adalah untuk saling melengkapi, laki-laki tidak akan menjadi sempurna kelaki-lakiannnya bila tidak ada perempuan, begitupun sebaliknya perempuan tidak akan sempurna keperempuanannya bila tidak ada laki-laki.

Karena stereotipe yang di alami perempuan cenderung bersifat sosiologis, tampaknya hal ini tidak bisa mengeneralisir kesalahan hanya terhadap pihak laki-laki saja, justeru persoalannya, apakah kaum perempuan mau mengejar ketertinggalan tersebut atau tidak, berlomba mengejar dan melakukan kebaikan (fastabiqul Khoirot), baik dalam hal ilmu pengetahuan umum, agama ataupun dalam bidang profesi, bisnis, ruang politik dan lain-lain. Jangan malah terjebak dengan diskursus kewanitaan yang dipublikasikan oleh Barat yang bahkan punya kecenderungan negatif.

Terakhir, kita sebagai kader muslimah (kohati), mesti mewaspadai segala bentuk gerakan feminisme, sebab agenda feminisme yang datang dari kaum Sana (Barat), mempunyai agenda yang bisa jadi bertentangan dengan budaya lokal kita di Indonesia, bahkan lebih ekstrim bertentangan dengan ajaran Islam. Bagaimanapun budaya Indonesia—filosofi Sunda yang mempunyai ungkapan; ngahormat ka saluhureun, ngahargaan ka sasama jeung nya’ah ka sahandapeun yang berasal dari ajaran Islam harus tetap kita pegang teguh. Filosofi ini ahrus menjadi landasan gerak kita dalam membangun human relation dengan siapapun termasuk dengan lawan jenis kita.

tulisan ini semacam makalah yang penulis sampaikan pada diskusi umum Korp HMI wati di HMI Cabang Kabupaten Bandung
Read More

29.1.09

Yakin Usaha Sampai

Satu tetes motivasi, Yakin usaha Sampai!!
Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Puji Syukur marilah kita panjatkan kepada Allah SWT yang akan senantiasa menemani hari-hari kita dalam mempersiapkan ujian Test masuk Uin SGD Bandung, Shalawat serta salam semoga tercurahlimpahkan kepada junjunan kita, pembawa obor cahaya menuju jalan surga di dunia dan akhirat, Nabi Muhammad SAW, penolong orang-orang yang sedang menghadapi ujian. Keselamatan semoga tetap sampai kepada keluarga serta para shahabat, dan syafaatnya semoga bisa sampai kepada kawan-kawan peserta dalam menghadapi ujian tes masuk UIN SGD Bandung dan juga kepada kita smeua.Amin.

Kawan-kawan sekalian, hingga tahun 1960-an semua ilmuan dan orang-orang yang mengikuti atas penelitiannya masih mempunyai keyakinan bahwa faktor utama yang menentukan berhasil tidaknya seseorang dalam mencapai cita-cita adalah kecerdasan intelektual {Intelligence Quotient (IQ)}. Begitu kejamnya hasil penemuan ini hingga orang-orang yang berada di bawah rata-rata IQ dipastikan tidak akan berhasil dalam mencapai keinginannya, bahkan orang yang mempunyai keahlian tertentupun dianggap tidak cerdas sama sekali. Tetapi masuk periode tahun 1960, hasil penelitian ini dibantah oleh seorang psikolog Daniel Goleman, bahwa yang menentukan keberhasilan seseorang bukanlah Kecerdasan Intelektual, tetapi kata Goleman adalah kecerdasan Emosional (emotional intellegences).

Dari hasil penemuan ini ternyata banyak fakta yang mendukung hal ini, di antaranya semasa zaman kaum sofis dan babak filosof sejak thales; seorang filosof awal dan sokrates, plato serta aristoteles para jenius yang tak terkalahkan yang tidak diragukan lagi tingkat IQ-nya sampai masa para filosof yunani ini habis, tidak seorangpun dari para filosof ini yang mampu menciptakan satu buah rodapun untuk membantu keberlangsungan hidup masyarakat disekitarnya, pekerjaan mereka hanya berfikir dan merenung tentang alam ini tanpa peduli terhadap keadaan disekitarnya, tanpa menghasilkan satu karya nyata yang mampu dipergunakan oleh masyarakat.

Setelah masa hampir dua 14 abad dari kehidupan mereka, seorang awam yang dinilai secara intelektual tidak menonjol bahkan tidak pernah menghasilkan karya pilsafat, menggemparkan alam ini dengan penemuannya, ia berhasil menerangi seluruh dunia dengan bola lampunya, ia adalah Thomas Alfa Edison. Sebelum mencapai keberhasilan tersebut, ia telah seribu kali melakukan percobaan membuat bola lampu, namun karena ia bukan masuk pada kategori yang mempunyai IQ tinggi, maka pekerjaannya mesti diulang-ulang hingga seribu kali, tetapi rupanya yang keseribu kali ini telah banyak memberikan pelajaran hingga akhirnya mengantarkan dirinya menemukan bola lampu. Jelas dari cerita ini bahwa ketekunan dan keuletan Alfa Edison sangat menentukan penemuannya. Nah, kata Goleman, ketekunan dan keuletan ini masuk dalam kategori kecerdasan Emosi. Bayangkan jika Alfa Edison pada waktu itu termasuk orang yang cepat bosan, barangkali ia sampai hari ini kita akan masih menggunakan cempor dalam sistim penerangan, kita tidak akan pernah mengenal neon putih yang terang benderang, jalan raya pun akan tetap gelap, kehidupan malam akan begitu sepi karena tidak akan ada kendaraan yang menggunakan bola lampu sebagai sistim penerangannya, kecuali andong yang menggunakan lampu minyak tanah. Dengan keuletan dan ketekunannya, Alfa Edison menerangi seluruh dunia dengan bohlam lampu. Dan faktor dominan yang menentukan itu semua, kata Goleman adalah kecerdasan emosi (EQ). Ia melanjutkan bahwa IQ atau kecerdasan intelektual hanya 7 persen saja dalam menymbangkan keberhasilan seseorang.

Pada Tahun 570 Masehi telah lahir seorang yang ummi, tidak bisa membaca dan menulis, yang beberapa tahun kemudian paska kelahirannya, ia mampu merubah kondisi masyarakat yang jahil menuju masyarakat yang dipenuhi iman Islam, Ia mampu membuat peradaban paling menakjubkan sepanjang kehidupan manusia, Ia adalah Nabi Muhammad SAW. Yang semasa kenabiannya 22 tahun2 bulan 22 hari mencapi keberhasilan-keberhasilan. Dan bahkan keberhasilannya telah sampai kepada bangsa yang bar-bar sekalipun.
Memasuki periode tahun 1990-an seorang psikolog menyatakan bahwa faktor keberhasilan tersebut adalah kecerdasan spiritual (Spiritual Quotien/ spiritual intellegence) seperti halnya yang terjadi pada Nabi Muhammad. Pada zaman ini tercipta peradaban-peradaban besar, bukan hanya karya pilsafat dan keilmuan tapi juga di bidang militer, ekonomi, budaya, sastra, politik bahkan teknologi dan karya arsitektur. Dan jauh sebelum penemuan Zohar Nabi Muhammad telah menemukan bahwa yang menentukan keberhasilan tidaknya seseorang adalah ditentukan oleh bagaimana seorang manusia meyakini adanya yang Maha Penolong, sejauh mana umat manusia yakin bahwa do’a sangat berperan dalam kehidupan umat beragama.

Dari ketiga kecerdasan tersebut, faktor kecerdasan spiritual dan emosional adalah paling menentukan dan kecerdasan intelektual hanya menyumbangkan 7-10 persen saja. Komponen-komponen dari kecerdasan Emosi, Goleman menyebutkan ada 5 komponen, yaitu kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, empati dan keterampilan sosial. Dalam hal ini, berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi oleh kawan-kawan peserta bimtes dan try out adalah bagaimana agar kawan-kaan sedini mungkin mempersiapkan proses ujian saringan ke UIN. Di samping itu ada faktor motivasi, sebesar mana kawan-kawan motivasinya untuk masuk UIN ini. Kedua faktor yang saya sebutkan perlu digarisbawahi sebagai element pembantu yang akan menentukan meloloskan kawan-kawan ke UIN. Sedangkan komponen-komponen dari Kecerdasan spiritual adalah berhubungan dengan kegiatan sehari-hari kita dalam menjalankan Islam. sejauh mana do’a yang anda panjatkan anda yakini akan mampu membantu proses mendapatkan ilham dalam menghadapi ujian saringan masuk UIN. Sebagaimana disebutkan Goleman di atas. Komponen-komponen SQ berkaitan dengan keyakinan kita dan komponen-komponen yang ada di dalamnya; kesabaran, kejernihan emosi, berhusnudzon, adalah salah satu komponen-komponen dalam SQ ini. Shalat dan do’a—bila shalat dan do’a anda berkualitas—akan menciptakan itu semua; keyakinan akan lulus, berfikir positif bahwa apa yang anda lakukan adalah dalam proses mencari ridlo Allah, ketenangan mengerjakan soal dan wawancara, itu semua tidak akan anda dapatkan tanpa adanya emosi dan spritual kawan-kawan. Sepintar dan sejenius apapun kawan-kawan tetapi dalam menghadapi ujian dan wawancara kawan-kawan grogi, maka wawasan dan pengetahuan anda yang sudah anda hapal selama tiga tahun di SLA sebagai bahan ujian akan hilang begitu saja, disinilah perlunya kecerdasan emosi dan spiritual.

Sebelum diakhiri saya ingin mengutif salah satu pernyataan dari rakanda alumni Bunda marwah Daud ibrahim,” Keberhasilan organisai adalah akumulasi dari keberhasilan individu, itu artinya bahwa sang aku (anda) merupakan faktor utama dalam menentukan keberhasilan tidaknya menghadapi tes saringan UIN. HMI sebagai organisasi kemahasiswaan yang sangat peduli terhadap kelulusan para calon mahasiswa, hanya menjadi mediator dan pembantu untuk membukakan hati kawan-kawan, memberikan motivasi dan tip-tips secara psikologis menghadapi test masuk UIN dan tentunya trik menjawab soal.

BIMTEST dan TRY OUT HMI Cabang Kabupaten Bandung bisa dan disediakan untuk menumbuhkan tidak saja kecerdasan intelektual, tapi juga kecerdasan emosional dan spiritual. diantara kita bisa saling bertukar ide, sharing pengalaman, dan saling menumbuhkan motivasi dan kepercayaan diri. Hal ini akan sangat efektif bila dilakukan dengan intensif. Bimtest ini bisa dan harus juga dijadikan media konsultasi, memberikan masukan dan arahan kepada calon mahasiswa baru.

Akhirul kalam

Yakin usaha Sampai

Yakin Usaha Sampai

Yakin Usaha Sampai

Yakin bahwa Allah menemani kita dalam menghadapi Ujian

Yakin bahwa do’a dan shalat yang kita lakukan akan sedemikian dahsyatnya dalam membantu proses kelulusan kita dan tentunya akan smpai kepada Allah..

Yakin bahwa Bimtest ini tidak sia-sia…

Selamat berproses menjadi pejuang…


Disampaikan pada try out mahasiswa baru di HMI Cabang Kabupaten Bandung

Read More

PERAN MAHASISWA ISLAM SEBAGAI WATCH DOG

Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari Jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang emndapat petunjuk.
(Q.S. Al-Nahl [16]: 125)
 
Prawacana
Predikat mahasiswa mempunyai kesan yang unik. Eksistensi masyarakat mahasiswa selalu diperhitungkan oleh komunitas masyarakat lainnya secara umum. Betapa tidak, perjalanan Sejarah Bangsa Indonesia yang baru saja mengalami kesedihan karena kenaikan BBM, lahir karena peran mahasiswa yang begitu besar. Jika kita kelompokan, ada lima masa penting dalam sejarah pergerakan, khususnya mahasiswa, yaitu; era prakemerdekaan, era orde lama, era rezim soeharto, era reformasi dan era pasca reformasi. Kita tentunya ingat, Sejarah pernah bercerita kepada kita bahwa gerakan awal yang lebih kita kenal sebagai kebangkitan Nasional pada tahun 1908 dipelopori oleh sejumlah Mahasiswa: Gerakan Boedi Oetomo. Gerakan Boedi Oetomo sebagai cikal bakal pergerakan merupakan virus segar yang mempropagandakan arti penting sebuah kemerdekaan, hingga akhirnya bersama-sama bersama elemen lainnya mengantarkan negeri kita menuju kemerdekaan.
 
Gerakan Era Orde lama, Kekuatan Gerakan Mahasiswa bertumpu pada tiga elemen penting yaitu; Dewan Mahasiwa (DEMA), Himpunan Mahasiwa Islam (HMI) dan Gerakan Mahasiwa Nasional Indonesia (GMNI). Gerakan mahasiswa pada era ini kita kenal dengan angkatan ’66. Era Orde Baru, elemen mahasiswa banyak mengkritik kebijakan pemerintah yang cenderung refresif dan otoriter, yang pada akhirnya mahasiswa mendapat perlakukan pengebirian oleh pemerintah dengan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK). Mahasiswa dibuat agar hanya hanya hanya berkutat di bangku kuliah dan di labolatorium dan diharamkanuntuk berpolitik praktis. Meskipun demikian hal ini tidak mematikan gerakan Mahasiswa Islam. Bersama Elemen mahasiwa lainnya yang diwadahi dalam BEM-SI (Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia) melakukan gerakan besar-besaran menduduki gedung MPR/ DPR dan puncaknya pada Mei 1998 melengserkan Rezim Orde baru yang korup dan refresif. Bila ditarik benang merah antara Gerakan Mahasiswa 1998 dan 2001 ada suatu kesamaan yang sangat mendasar yaitu melakukan fungsi kontrol mahasiwa terhadap pemerintah karena masih mempunyai kesamaan visi untuk melakukan pengawalan reformasi, semua elemen mahasiwa bisa mengesampingkan perbedaan ideologi.

Masyarakat di Era Post Industri.
Memasuki abad 21 hidup manusia termasuk manusia yang mempunyai predikat mahasiswa menghadapi tantangan yang lebih besar. Salah satunya ditunjukan dengan pesatnya perkembangan teknologi komunikasi yang mengakibatkan melimpahnya informasi yang tidak terbendung, apalagi sejak era keterbukaan di Indonesia. Pada era Post Industri ini segala macam informasi akan segera melimpah ke hadapan kita, sehingga sangat memungkinkan informasi-informasi yang sifatnya merusak akan segera kita cerna. Aksi-aksi yang selalu dilakukan oleh mahasiswa sebagai media kontrol terhadap pemerintah bukan sarana yang efektif lagi dalam hal ini, sebab informasi-informasi tersebut sedikit banyak bukan datang dari pemerintah, tetapi datang dari dunia luar kita. Era Post Industri menyebabkan ruang gerak dunia menjadi sempit, pepatah “dunia tak selebar daun kelor” sudah tidak berlaku lagi. Meminjam istilah Patricia aburdin Kini Dunia Ibarat Global village - Desa Global, karena secara geografis tidak ada lagi batas wilayah dari penerimaan informasi. Bahkan meminjam istilah Samuel P. Hutington dunia kita sudah menganut peradaban universal, di mana karena adanya sistem informasi yang tidak terbatas, dunia kita selalu dimasuki dunia luar, kita tidak punya identitas yang jelas, tidak punya identitas lokal Indonesia, sehingga menganut sistem budaya yang sama dengan dunia luar kita-Barat.

Beberapa ciri dan akibat yang jelas dalam masyarakt post industri adalah apa yang kita dapat lihat pada masyarakat Eropa dan Amerika:
1. Sekularisme. Tiadanya nilai keagamaan merupakan ciri masyarakat post industri (industi lanjut dalam istilah kuntowijoyo). Nilai yang dipegang secara individual yang tidak menghambat perkembangan individual akan terus dipegang, tetapi nilai yang dianggap menghambat akan dibuang.
2. Spiritualisme. Orang masih menerima spiritualisme, tapi menolak agama formal. Konsep manusia tentang “Tuhan” bukanlah “Tuhan yang maha melihat, tetapi semacam kesadaran kosmis.
3. Intelektualisme. Ilmu dan teknologi menggantikan agama sebagai petunjuk.
4. Demokrasi. Trend ke arah demokrasi akan menjadi umum dalam masyarakat industri lanjut.
5. Modernisme lanjut. Ciriunya adalah meragukan segalanya. Ditolaknya kerangka besar. Ini berarti agam yang merupakan kerangka besar akan ditolak.
6. Pundamentalisme. Munculnya gerakan yang bertolak belakang dengan keharusan sejarah. Anti Industri, anti kemapanan, anti duniawi dan ekslusif.

Apa yang harus kita lakukan?

Profaganda-profaganda ideologi post industri akan selalu menggerogori kesadara kita, apabila tidak kita antisipasi, maka apa yang telah saya sebut sebagai tidak punya identitas, berperadaban universal akan terjadi pada kita. Sisi negatif yang akan timbul dari permasalahan di atas adalah runtuhnya nilai-nilai budaya Indonesia. Pornografi, relatifitas agama, penghilangan sakralisasi lembaga perkawinan muncul dengan sendirinya. Kelihatannya sisi negatif globalisasi tersebut tidak dianggap oleh pemerintah sebagai sesuatu yang membahayakan sistem nasional, yakni tidak mengganggu stabilitas nasional atau kemapanan sistem kekuasaan. Kenyataannya, kalau kita lihat, sensor film dan iklan yang jorok misalnya, tidak terlaksana sebagai mana mestinya. Hal itu sering menimbulkan protes atau unjuk rasa dari lembaga-lembaga agama dan mahasiswa, seperti halnya yang telah dilakukan oleh Aa Gym dan kaan-kawan terhadap sejumlah film remaja. Namun, lama kelamaan kelihatannya timbul juga kebosanan dalam melancarkan protes sehingga lembaga agama dan mahasiswa cenderung bersikap tidak lagi aggressif dan bertahan. Dengan kata lain , pilihan terbaik bagi masyarakat adalah menggiatkan syi’ar agama, dakwah billisan, menggiatkan majelis taklim dan lain sebagainya, untuk melawan dampak buruk dari globalisasi media terhadap nilai-nilai budaya yang kita anut.
 
Sebagai mahasiwa dakwah, Aksi turun ke jalan sebagai fungsi pengabdian dari tridarma perguruan tinggi bukanlah hal yang efektif. Kita mempunyai tugas yang yang lebih dari sekedar aksi. Terminologi yang kita punya adalah Tabligh, tidak sekedar Dakwah billisan saja. Media massa merupakan sarana yang efektif untuk melakukan tugas tabligh kita. Tabligh dalam artian amar ma’ruf, belum sempurna apabila tidak kita barengi dengan nahyi munkar. Dalam nahyi munkar inilah kedudukan mahasiswa dakah sebagai pemantau media (media watch agent).
 
Dalam pengeratian sempit, “berita dan atau informasi yang kita terima mesti mengandung unsur kebenaran dan kebaikan atau kemaslahatan” bagi masyarakat luas, apabila kita melihat informasi yang kita dapat bisa merusak nilai budaya dan agama, maka tugas kita untuk meluruskan dan mengoreksinya. Akan tetapi pelaksanaannya tidak mudah membalikan telapak tangan. Ada persyaratan tertentau yang harus kita penuhi. Diantaranya keterampilan menulis dan segala peraturannya, etika junalistik, undang-undang media massa serta teori jurnalistik.
 
Keterampilan di atas bukan saja untuk melakukan kritikan terhadap media yang telah melakukan pemberitaan yang kurang benar dan profokatif, tapi kita juga harus mampu meng-counter wacana-wacana yang bisa merusak nilai aqidah agama dan budaya kita.
 
Media merupakan sarana yang efektif untuk melakukan transformasi sosial. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh pendahulu kita. Maka suatu keharusan bagi mahasiswa dakah untuk melakukan proses pembelajaran yang menuju ke arah tersebut.

Penutup
Mudah-mudahan tulisan ini mempunyai nilai motivasi untuk terus belajar-belajar dan belajar, belajar dari hidup secara umum bukan saja dari bangku kuliah.


ditulis bulan juli 2006, disampaikan ketika menjadi pembicara pada acara OSPEK jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam
Read More

18.11.08

Pseudo Idealisme

Idealisme semestinya berangkat dari kehidupan sehari-hari, tidak ada dikhotomi antara sikap, perbuatan dan pikiran-pikiran benarnya, idealisme seharusnya tidak berbicara masalah jatah kursi, idealisme tidak pernah menyinggung perasaan orang, idealisme tidak pernah menunggangi konstitusi dan ayat suci untuk kepentingan pribagi dan golongan. Idealisme hakiki mempeerjuangkan kemanusiaan, bukan memperjuangkan manusia yang memberinya jatah makan.

Di kalangan Mahasiswa, khususnya para aktivis; baik itu aktivis Himpunan, aktivis Gerakan, aktivis kesatuan, aktivis kajian ataupun aktivis Dakwah termasuk aktivis jalanan, atau bisa dikategorikan aktivis yang berbau kekiri-kirian, aktivis yang punya corak kanan ataupun yang moderat termasuk di dalamnya yang berorientasi pada kekuasaaan ataupun yang tidak jelas keaktivisannya, kata IDEALISME seolah menjadi pakaian seragam. Yang namanya pakaian seragam bisa digunakan saat ngantor, jalan-jalan ke mall, ataupun saat nongkrong, adalah sah-sah saja, tapi yang jelas namanya pakaian seragam adalah sebuah aturan yang harus dilaksanakan bagi orang-orang yang mempunyai aktivitas tertentu, bisa juga sebuah pengguguran kewajiban dan dalam rangka mentaati peraturan. Memakai seragam bisa berangkat dari kesadaran ataupun dari keterpaksaan aturan. Pakaian seragam bukanlah pakaian sehari-hari bukan pula pakaian menuju surga tapi hanya sebuah lipstik belaka. Makanya kata Idealisme seringkali kita dengar dikalangan tertentu, termasuk aktivis mahasiswa.

Kata idealisme seolah menjadi kata-kata penggerak jiwa aktivis untuk memperjuangkan kepentinganya ataupun diluar kepentingan dirinya. Ia menjadi kata ajaib yang siap kapan saja mendorong jiwa mudanya untuk bergerak menuju singgasana kemenangan, kemengan dalam perjuangan, perjuangan dalam hidup untuk mencapai cita-cita yang telah ditentukannya, baik untuk ummat dan dirinya.
 
Bila diurai, kata idealisme berasal dari kata idea dan isme. Idea bisa diartikan dengan sejumlah gagasan hasil dari pemikiran tertentu yang berpijak dari norma atau aturan yang dianggap benar menurut takaran normatif yang pada praktiknya bisa bersandar pada realitas atau murni tanpa referensi empiris. Sedangkan isme secara sederhana bisa diartikan sebagai faham; idelisme dalam hal ini bukan salah satu madzhab dalam sejarah dan istilah pilsafat, tapi sebuah kata yang sudah menjadi teman sehari-hari kita.

Kata idealisme seolah menjadi pakaian seragam. Seringkali kita dengar pada ceramah atau obrolan mahasiwa; bahwa kita harus mempunyai idealisme, bahwa perjuangan kita harus harus berpijakpada idealisme. Atau sebaliknya, khususnya para aktivis yang bersebrangan dalam rangka popolitikan intra kampus atau organisasi kita, seringkali mendengar bahwa aktisvis ‘A’ sudah tidak punya idealisme, bahwa si ‘B’ sudah luntur idealismenya. Tapi apa itu idealisme??, apakah hanya pemahaman pribadinya tentang suatu kebenaran yang telah direduksi, atau hanya pikiran piciknya dalam memahami kebenaran, atau idealisme hanya dijadikan kuda tunggangan untuk mencapai garis finish. Apakah idealisme hanya sebentuk pendirian yang tak pernah goyah ataukah sebentuk keistiqomahan yang tak pernah berubah tanpa pijakan yang jelas, jangan-jangan hanyalah sebentuk sikap yang berangkat dari ego pribadi dan komunitasnya ataupun menuruti syahwat kepentingan pridbadi dan rengrengannya yang dikemas secara rapi dalam kata idelisme.

Begitu hebatnya para pembicara disuatu forum ataupun peserta diskusi dalam forum tertentu ketika mengatakan bahwa kita harus mempunyai idealisme, bahwa kita tidak boleh memihak, bahwa kita harus independen. Begitu bergema kita dengar kata-kata agung memenuhi ruangan mesjid--“ALLAHU AKBAR”— untuk memenangkan calon ketua, begitu bangganya para aktivis demo meneriakan ‘hancurkan tiran yang korupsi’, begitu bangganya memekikan kata –kata perjuangan untuk rakyat tertindas di depan Gedung Wakil Rakyat, begitu menggaungnya ketika para aktivis dakwah mengumandagkan Jihad fiisabilillah, seenaknya saja para politikus kampus berkata ini untuk kemaslahatan organisasi kita, mentang-mentang lidah tak bertulang para ‘idealis’ berkata kita harus berpijak pada kontitusi. Tapi apakah sebuah slogan, kata-kata, ucapan, pekikan, gaungan saja cukup untuk memperjuangkan idealisme hakiki, jangan-jangan itu hanyalah sebuah kemasan politik, jangan-jangan itu hanyalah sebuah niatan saja, apakah dengan niat yang baik saja cukup dan apakah itu adalah sebuah niatan baik.

Dalam rumus matetatika kita tahu bahwa plus(+) ditambah/kali plus (+) akan menghasilkan plus juga (positif) dan bila plus (+) ditambah/ dikali min(-) akan menghasilkan negatif begitu juga sebaliknya. Bisa diartikan ketika kita mempunyai sebuah niatan baik dalam rangka memperjuangkan idealisme maka selain idealisme kita harus berpijak pada pondasi utama kita (Al-Qur’an+Sunnah, tentunya dengan ragam tafsirnya), juga implementasi idealisme harus menggunakan metode dan cara yang positif pula. Apabila niatan kita sudah baik (+, positif, berangkat dari idealisme) dan implementasi kita pun menggunakan metode yang positif maka hasilnya pun positif. Hal ini bisa diukur (hasilnya) dari kehidupan sehari-hari.
Dalam ranah politik praktis, kata-kata idealime pun seringkali muncul. baik idealisme sebagai kemasan dan slogan ataupun idealisme yang hakiki. Toh, dalam citra umum bisa kita fahami bahwa politik praktis merupakan ajang memperebutkan kursi dan jabatan. Tetapi, tentunya kita tetap harus mempunyai etika berpolitik termasuk etika antar lawan politik harus dijaga. Dalam hal ini; pencitraan lawan poilitik yang menjatuhkan dan menjelek-jelekan lawan politiknya merupakan gambaran bahwa kita tidak berangkat dari idealisme hakiki tetapi idealisme hanya sebuah selogan, pencitraan ini bisa secara institusi ataupun secara personal para pelau politiknya.

Etnosentris golongan ataupun pribadi dalam hal ini sering pula terjadi, bahwa dirinya, komunitasnya, organisasinya adalah paling hebat, paling intelek, paling popular, paling mengerti dunia perkaderan, paling gesit dalam bergerak, paling tahu tentang managemen organisasi dan serba paling tahu yang lainnya, sehingga akan melahirkan sikap bahwa orang lain sebaiknya; bahwa orang lain tidak punya idealime, orang lain tidak punya orientasi perkaderan, orang lain tidak mengerti tentang organisasi, orang lain tidak cukup wawasan dalam dunia keilmuan, pokoknya yang paling hebat adalah dirinya dan paling berhak adalah dirinya, orang lain minggir. Tidak segan pula menggunakan sinisme daerah.
Yang jelas apabila suatu perjuangan berangkat dari idealisme hakiki maka akan melahirkan dan menghasilkan sesuatu hal yang positif. Tetapai apabila perjuangan termasuk perjuangan politik praktis, berangkat dari idealisme slogan akan menghasilkan sesuatu hal yang negatif. Secara psikologis pun sudah terasa.

Maka sudah terjadi pemerkosaan idealisme dan pembohongan publik, apabila kepentingan golongan dan pribadi dikemas dengan kata-kata idealisme, apalagi dengan penjualan kontitusi dan ayat suci, apalagi sudah merugikan secara psikologis personal dan ummat yang lain. Jadi tak perlu mengatasnamakan idealisme, tak perlu mengatasnamakan ummat jauh-jauh mengatasnamakan Islam. Yang ada hanyalah kepentingan manusia. Laknat bagi orang-orang yang mengatasnamakan agama demi kepentingan golongan dan kehidupan pribadinya. Laknat pula bagi orang-orang yang mengatasnamakan konstitusi dengan penafsiran sempitnya demi kepentingan pribadi dan rengrengannya.

Idealisme semestinya berangkat dari kehidupan sehari-hari, tidak ada dikhotomi antara sikap, perbuatan dan pikiran-pikiran benarnya, idealisme seharusnya tidak berbicara masalah jatah kursi, idealisme tidak pernah menyinggung perasaan orang, idealisme tidak pernah menunggangi konstitusi dan ayat suci untuk kepentingan pribagi dan golongan. Idealisme hakiki mempeerjuangkan kemanusiaan, bukan memperjuangkan manusia yang memberinya jatah makan.

Pada akhirnya kita kembali pada diri kita sendiri, Wallahu A’lam.
Read More

21.9.08

Gerakan Mahasiswa, Gerakan Aktivis atau Popularity Contest>

pendudukan mahasiswa di gedung MPR; sumber tempo

Sebuah Pengantar
Berbicara sejarah mahasiswa, khususnya di Indonesia tentunya akan terkenang sebagai pahlawan. Betapa tidak, sejak jaman penjajahan yang dipelopori oleh kaum muda priyayi, kepahlawanan mahasiswa diperlihatkan melalui berbagai aktivitas, sebut saja misalnya dengan organisasi gerakan Budi Utomo yang memelopori kebangkitan nasional dilanjutkan dengan kebangkitan pemuda. Di zaman Merdekakpun mahasiswa selalu berada di tempat yang elitis, mahasiswa masih menjadi pahlawan, katakanlah dengan angkatan 66 yang menumbangkan orde lama, angkatan 74 dengan peristiwa MALARI, dan angkatan 98 dengan lengsernya Presiden Soeharto.

Dari peristiwa-peristiwa penting yang dilakukan mahasiswa di atas membuat posisi mahasiswa begitu strategis dan diperhitungkan oleh kalangan manapun, entah itu politisi, birorat atau masyarakat umum. Sehingga suatu kewajaran apabila selama ini mahasiswa mempunyai predikat sebagai Agen Perubah Sosial (Agent social of Change) dan atau Agen Rujukan Moral (Agent Moral Force).

Status sosial agung yang disandang mahasiswa rupanya cukup ampuh dalam merubah pola pikir masyarkat, Sehingga latar belakang sosial-ekonomi —pendidikan dari mahasiswa pun beragam, tak seperti halnya pada era revolusi kemerdekaan yang notabene berasal dari kalangan priyayi atau sesudahnya yang didominasi oleh kalangan sadar pendidikan. Motivasi kuliah di perguruan tinggi kini sangat beragam, sehingga beragam pula pola pikir dan gerakan mahasiswa sehingga mahasiswa tidak berada dalam satu mainstream gerakan saja.

Memandang mahasiswa dengan menggunakan kacamata idealisme gerakan (masa lampau), akan melahirkan pandangan bahwa mahasiswa hari ini masih menempati posisi unik dan strategis. Mahasiswa dipandang sebagai sosok ideal rujukan moral dan agen perubah sosial, walaupun hanya pendobrak saja. Tapi kurang bijak, bila kita melihat entitas mahasiswa hanya dari mainstream gerakan dan idealisme saja. Di balik layar itu semua, gerakan mahasiswa tidak hanya bertumpu pada satu mainstream gerakan saja, tapi tersebar ke seluruh komponen minat bakat, menerjuni kultur hobi dan lain-lain. Di sisi lain, kalau mau kita jujur—sebelum berbicara yang lebih luas tentang kepentingan ummah, maka banyak hal yang mencengangkan perihal sikap mahasiswa, yang mesti diluruskan menyangkut sikap-sikap amoral, hal ini tidak hanya menerpa mahasiswa umum saja, tapi juga mahasiswa Islam.

Sungguh menarik apa yang telah didiskusikan dalam PR KAMPUS edisi 23 maret 2006 yang ditulis oleh saudara Usep Saefulloh, lantas ditanggapi oleh M.Ikhsan Shiddieqy dan Agustinus Ari Sutriesno pada PR KAMPUS edisi 06 April 2006 yaitu menyangkut berbagai aktivitas dan sudut pandang untuk mahasiswa Aktivis. Sayapun ingin mengomentari perihal diskusi tersebut sebab berdekatan dengan dunia saya di kampus. Saya ingin melhat dari suduit pandang yang berbeda tentang gerakan mahasiswa. Mudah-mudahan diskusi di PR KAMPUS lebih semarak.

Telaah Kritis Gerakan Mahasiswa
Tetapi walaupun beragamnya pola pikir dan kultur yang digeluti mahasiswa serta aib amoral yang menempa mahasiswa ada satu kecenderungan ideal penilaian terhadap mahasiswa yang masih melekat sebagai agen perubah sosial dan rujukan moral yang dibantu dengan pemberitaan media massa yang masih didominasi oleh gerakan mahasiswa, bukan oleh komunitas hobi, minat bakat atau komunitas kajian dam dunia kreativitas mahasiswa lainnya..

Dalam Tajuk Rencana PR edisi Sabtu, 12 maret 2005. Isu yang diangkat khusus mengomentari aksi-aksi mahasiswa, Tulisan tersebut menjelaskan bahwa aksi-aksi yang dilakukan mahasiswa tampaknya sudah menjadi peristiwa yang rutin. Aksi yang dilakukan mahasiswa tampaknya tidak ada skala pemilahan yang jelas, dalam kasus apa saja mahasiswa merasa layak untuk melakukan aksi besar-besaran. Lebih lanjut, tulisan tersebut menjelaskan bahwa aksi perlawanan terasa kurang bergema dengan menyandarkan pada kurangnya dukungan dari masyarakat luas. Tanpa dukungan dari masyarakat luas, analisis HU PR mengkhawatirkan bahwa aksi yang dilakukan malah akan menjadi bumerang yang akan membunuh perjuangan mahasiswa sendiri serta tidak akan efektif lagi di masa yang akan datang.

Pada bagian lainnya, disebutkan bahwa aksi yang dilakukan (keberfihakan ).tidak memiliki pijakan moral dan sosial yang kokoh. Tampaknya pernyataan ini harus digaris bawahi serta diperhatikan dengan seksama oleh para mahasiswa, bahkan menjadi bahan renungan kita. Ketidakjelasan pijakan moral dan sosial rupanya menjadi sebab aksi-aksi mahasiswa terkesan hanya peristiwa rutin seperti yang dijelaskan dalam analisis tersebut.

“Di sisi lain memang marak aksi dan gerakan mahasiswa tapi tidak pernah membumi dengan rakyat, bahkan masyarakat pun merasa asing dengan teriakan-teiakannya. Mahasiswa hanyalah kelompok khusus yang tak bersinggungan dengan denyut nadi masyarakat” itulah salah satu komentar dalam pegantar buku aksi massa Tan Malaka yang ditulis oleh Siti Anisa.

Dengan menggunakan satu persfektif (Cultural Studies), saya ingin mengungkapkan bahwa Mahasiswa sebagai bagian dari kaum muda, secara psikologis adalah satu entitas sebagai sebuah kategori tunggal, dengan karakteristik-karakteristik psikologis dan kebutuhan-kebutuhan sosial tertentu yang dimiliki oleh sekelompok usia. Di mana masa muda merupakan tahap perkembangan yang bersifat formatif yang merupakan masa transisi dari ketergantungan masa anak-anak menuju otonomi masa dewasa normalnya melibatkan fase pemberontakan. (Barker:2005). Lebih lanjut Barker mengatakan, kalau orang dewasa hanya menganggap masa muda sebagai keadaan tansisi semata, kaum muda telah menjadikan kategori itu sebagai lahan untuk mengedepankan sensasi keberbedaan mereka. Contohnya adalah penolakan untuk mengidentifikasi diri dengan rutinitas kehidupan sehari-hari yang dianggap membosankan. Anak muda menjadi sebuah penanda ideologis yang mengandung berbagai gambaran utopis tentang masa depan (dalam Islam misal ada pernyataan Subhanul yaum rijalul ghodl: pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan) dan sekaligus menjadi sumber ketakutan bagi orang lain karena potensinya untuk mengancam norma dan peraturan-peraturan yang ada.
Hebdige (1988) Mencatat bahwa anak muda dikonstruksi di dalam melintasi wacana-wacana “masalah” (orang muda adalah masalah) dan atau kesenangan. Misalanya lewat figur-figur hooligan sepakbola, motorbike boys dan geng-geng jalanan, anak muda diasosiasikan dengan kriminalitas, kekerasan, kenakalan. Disamping itu anak muda juga direpsentasikan sebagai konsumen fesyen, gaya dan berbagai aktivitas waktu senggang yang suka bermain.

Mahasiswa sebagai bagian dari kaum muda yang intelek, dengan menggunakan sudut pandang di atas mempunyai substansi yang sama, tetapi warna dan bentuk yang berbeda. Bila kaum muda secara umum menunjukan keberbedaan mereka dengan style yang funki abis, dari mulai gaya rambut yang mencolok menggunakan warna-warni, pakaian yang serba modis, anting-anting dan tindik yang memenuhi seluruh wajah dan lain sebagainya. Atau kaum muda yang lain misalnya dengan masuk dan terlibat dalam geng motor, anak band, dan lain-lain yang menunjukan keberbedaannya dengan masyarakat dewasa secara umum, maka mahasiswa menunjukan keberbedaanya dengan melakukan aksi gerakan, membuat komunitas gemar membaca, komunitas kajian, berorgasisasi dan lain-lain, ada sebuah kebanggaan tersendiri bila kita masuk organisasi atau menjadi pegiat diskusi kopmunitas. 


Ruang diri kita menjadi terbuka terhadap masyarakat umum/ mahasiswa lain bila kita mempunyai kelebihan dalam keberbedaan, maka disitulah letak dan puncak eksistensi mahasiswa. Tidak kah bangga ketika kita mampu menonjolkan diri di depan mahasiswa atau masyarakat dengan orasi dengan slogan-slogan perubahan? Di mana kaum muda atau masyarakat secara umum tak mampu melakukannya. Disitulah kita akan menemukan eksistensi yang seolah-olah adalah identitas dirinya.
Dari penjelasan di atas bisa jadi mencerminkan hal yang sama, bahwa aksi/ gerakan yang dilakukan mahasiswa aktivis, terkena gejala yang sama, yaitu untuk menyatakan bahwa dirinya ada. Aku aksi, aku bergerak, aku diskusi, aku berontak, aku berbeda dengan yang lain maka aku ada (plesetan dari cogito ergo sum-nya Descartes seorang pilosof renaisssans). Hal ini tidak berangkat dari teori an sich, tapi dari kenyataan-kenyataan yang ada. Mahasiswa kini mengkotak-kotakan diri dalam wadah-wadah yang berbeda, baik organisasi atau komunitas-komunitas lainnya, baik dalam gerakan ataupun aktivitas lain.

Kita tengok misalnya gerakan mahasiswa terhadap permasalahan naiknya B.J.Habibi menjadi presiden tahun 1998. Mahasiswa Islam terpecah menjadi 2 kubu antara yang mendukung dan yang tidak. Pada satu sisi kedua kubu tersebut sama-sama menyatakan mahasiswa Islam, tapi pada sisi lain tidak mendukung Habibi sebagai representasi dari umat Islam yang pada saat itu sebagai motor ICMI. Pada era Gus Dur (Presiden Abdurahman Wahid) pun umat Islam seolah terpecah dengan kepentingannya masing-masing. Demikian pula gerakan mahasiswa di Era pasca kepemimpinan Megawati, terlebih masa sekarang.

Kita tengok aksi dan gerakan mahasiswa dalam kesatuan gerakannya dalam sejarah. Tahun 1908 bersatu dan dilanjutkan dengan 1928 dengan sumpah pemuda dan menghasilkan NKRI 1945, 1966 bersatu di bawah bendera KAMI dan menghasilkan Orde Baru, 1998 bersatu di bawah BEM se-Indonesia dan menghasilkan reformasi. Sekarang kita tengok, khusus di Bandung saja Gerakan Mahasiswa yang menggolongkan diri Intra Kampus selain ada BEM se-Bandung raya ada juga LIMA BARA sebagai kompetitor dari BEM-Bandung Raya. Selain itu gerakan Mahasiswa Islam pun terkotak-kotakan dalam ideologi gerakan yang berbeda HMI, PMII, IMM, KAMMI, GEMA-P, organisasi besar lainnya, PMKRI, GMNI dan masih banyak lagi gerakan-gerakan baru yang muncul. 


Setiap gerakan yang mereka lakukan, walaupun dengan issu yang sama, saya cermati di media massa seringkali membawa bendera masing-masing. Itu artinya ada kecenderungan dari organ ekstra tersebut untuk mengeksistensikan dirinya masing-masing—barangkali memenuhi kebutuhan psikologis seperti apa yang diungkapkan oleh Maslow. Dalam Pandangan saya Gerakan-gerakan yang dilakukan sekarang tak lain adalah perebutan kekuasaan eksistensi organ ekstra atau denga istilah lain politisasi eksistensi. Siapa yang banyak tampil di media masa, dalam orasi aksi, massanya paling banyak, seberapa sering gerakan aksi yang dilakukan, siapa yang menguasai kampus.itulah organ ekstra yang paling eksist.


Apabila benar perkiraan saya, sebagai hasil komparasi antara teori dan kenyataan, tak ubahnya Mahasiswa seperti kaum muda lainnya yang hanya mengedepankan keberbedaan secara ekstrem, untuk lebih diakui oleh komunitas khalayak kebanyakan, baik mahasiswa sebagai kaum muda akademik atau kaum muda secara umum, para birokrat, politisi dan masyarakat umum. Menurut Idi Subandy Ibrahahim, Dalam masyarakat tontonan, popularisasi gerakan mahasiswa menyebabkan aktivitas mahasiswa tak bisa menghindar dari popularity contest. Di mana setiap orang/ kelompok berkompetisi untuk diakui kebesarannya oleh orang diluar dirinya Inilah logika kebudayaan pop sebagai anak kanduk media. Akhirnya gerakan ini hanyalah gerakan baru dalam mendukung kapitalisme gerakan.walaupun di didi lain sedikit mampu menggugah kesadaran publik. Naudzubillah.

Berangkat dari sudut pandang di atas, saya sepakat dengan tulisan M.Ikhsan Siddieqy, bahwa aktivis kampus tidak bisa diidentikan dengan aktivitas politik atau hanya demonstarasi saja, lebih dari itu semua aktivitas yang dilakukan oleh mahasiswa adalah dalam rangka berkreativitas. Berkreativitas dalam menuangkan ide tentu tidak mesti dengan berdemonstrasi dan berpolitik kampus, tapi banyak jalur-jalur lain yang bisa dimasuki oleh oleh mahasiswa, misalnya yang menekuni dunia wirausaha, saya pikir itupun bisa masuk pada wilayah aktivis, dimana aktivis disini mesti dimaknai sebagai seseorang yang mempunyai aktivitas yang positif. Senada apa yang ditulis Oleh agustinus bahwa seseorang yang berhak menyandang aktivis adalah mereka yang mau berfikir, berjuang.

Menurut pandangan saya, tidak ada yang salah dengan aktivitas “mahasiswa nongkrong” seperti apa yang sebutkan oleh Usep, selama apa yang dilakukan oleh Usep adalah sesuatu hal yang memang bisa berdampak positif bagi mahasiswa.

Pada akhirnya apapun yang dilakukan oleh mahasiswa dalam pandangan kaum muda adalah dalam rangka mencari self identity, walaupun menggunakan wadah popularuty contest yang berbeda. Seperti halnya perkataan nabi SAW bila kita berijtihad benar benar maka kita mendapat pahala dua, dan jika salah kita mendapat pahala satu, artinya bila apa yang dilakukan oleh mahasiswa berangkat dari keyakinan benarnya dan ternyata hasilnya positif, maka apa yang dilakukan mahaswa tersebut mendapat nilai plus karena bermanfaat bagi orang lain, ttetapi ternyata salah minimal menjadi pelajaran untuk dirinya sendiri, tak ada satu aktivitas pun yang sia-sia pada akhirnya.

*) Dibuat untuk menanggapi tulisan mimbar akademik PR namun tidak dimuat, juni 2006


Pada masa pemerintahan sekarang, gerakan mahasiswa sudah sulit ditemukan, kecuali pada saat akan dilakukan pengesahaan beberapa undang-undang. Selebihnya sebagai show of force.
Read More