Showing posts with label Insight. Show all posts
Showing posts with label Insight. Show all posts

12.1.21

Mengenal Kopi Arabica Terbaik Dunia

Kopi Arabica Puntang, by abahraka.com

Gegara memiliki penyakit maag, justeru mengantarkan saya berkenalan dengan kopi. Kopi tidak hanya sekadar sebagai minuman populer yang sejak dulu digandrungi oleh masyarakat, juga menjadi bagian dari peradaban. Kopi tidak hanya memiliki nilai ekonomi, juga memiliki nilai politik, saat pertama kali datang ke Indonesia.


Kini, kopi telah menjadi bagian dari gaya hidup. Jika, pada masa lalu kita hanya bisa menikmati kopi tubruk, menjadi pelengkap saat bercengkerama dengan teman saudara, kini kopi dapat dinikmati dengan berbagai cara dan jenis. Maka wajar, saya sebut bahwa kopi menjadi bagian dari peradaban.


Lalu, muncullah saat kopi memiliki fans dengan harga mahal, hanya orang-orang tertentu yang bisa menikmati, produk starbucks misalnya. Nongkrong sambil menikmati kopi di kedai sekelas cafe tersebut tidak bisa dinikmati oleh semua orang, hanya mereka yang merasa pantas dan gaul yang bisa duduk sambil nongkrong di sana.


Era Starbucks telah lewat, kini bukan satu-satunya cafe. Kopi bertambah populer. Kedai-kedai bertebaran, kios-kios kopi menjamur. Cafe tidak hanya ramai di kota, juga di pedalaman, mendekati perkebunannya. Anak muda, perempuan, kini suka ngopi. Sambil kerja dan nongkrong di cafe.


Perkenalan pertama dengan kopi, saat saya membuat project bersama mahasiswa di kota kecil, Garut. Kedai Masterblackcoffee yang kini entah berada di mana, atau mungkin sudah tutup ya...tulisannya bisa diklik link INI. Menjadi perkenalan pertama saya dengan kopi secara pengetahuan.


Berangkat dari pengetahuan secuil ini, akhirnya mengantarkan saya mencoba beberaoa kopi Jawa Barat saya coba Kopi Manglayang, Pacet, Garut, origin Papandayan, terakhir Kopi Puntang yang sedang saya tulis. Dari luar Jawa saya coba Arabica Gayo, Mandailing, Wine Gayo, Jantan Gayo, Toraja, juga Kintamani Bali. Beragam origin tersebut memiliki kekayaan taste-nya masing-masing.


Dari beberapa pameran yang saya kunjungi dan secara otomatis melakukan perbandingan harga, ternyata harga kopi Jawa Barat relatif istimewa. Saya tidak bilang mahal, setelah tahu bahwa proses pengolahan dari mulai menanam hingga roasting betul-betul terjaga. Khususnya yang saya kunjungi terakhir, yaitu Kopi Puntang.


Kopi Arabica Puntang, dari Juara Dunia hingga Dipromosikan Jokowi

Presiden dan Gubernur, saat mencoba Kopi Arabica Puntang. Sumber detikcom

Berawal tahun 2016, Kopi Arabica Puntang mulai dikenal dunia. Setelah dinobatkan sebagai kopi terbaik pada perhelatan SCAA atau Specialty Coffee Association of America bulan April tahun tersebut di Amerika Serikat. Padahal sebelumnya, tidak ada yang mengenal Kopi Puntang. Mulailah single origin gunung Puntang tersebut dikenal luas masyarakat.

Ahmad Heryawan yang menjabat Gubernur Jawa Barat saat itu, memperkenalkan kopi kualitas terbaik dunia tahun 2016 tersebut pada forum internernasional yang diselenggarakan di Bandung. Forum tersebut merupakan konferensi internasional tentang penyiaran ‘Media for World Harmony’ pada bulan Februari 2017.

Pada tahun yang sama, kemenangan dan popularitas Kopi Arabica Puntang pun sampai ke telinga presiden Jokowi. Desember 2017, saat Presiden Jokowi meresmikan Tol Soroja, Ia mengunjungi salah satu cafe di Bandung dan mempromosikan Kopi Puntang yang disebut-sebut sebagai kopi terbaik dan termahal di dunia.

Prestasi Kopi Puntang tidak berhenti di tahun 2016, tapi berlanjut pada tahun berikutnya. Selang 3 tahun, sejak perhelatan kopi Internasional. Kopi Arabica Gunung Puntang meraih kembali sebagai kopi terbaik dalam ajang ‘Indonesia Cupping Contest XI 2019’. Masih tahun yang sama, Kopi Puntang mendapatkan kembali gelar sebagai kopi terbaik dunia pada ajang perlombaan kopi tingkat internasional di Paris, Prancis, seperti diberitakan Antara. Mengalahkan kopi yang telah lebih dulu terkenal seperti Kopi Arabica Gayo, Kopi Arabica Mandailing, ataupun Kopi Arabica Kintamani Bali.

Berturut-turutnya juara Kopi Arabica Puntang, wajar jika tanpa promosi pun banyak diburu oleh para pecinta dan penikmat kopi di Indonesia maupun di Dunia. Bahkan membawa dampak terhadap kopi secara umum di Jawa Barat yang selalu memiliki minat tinggi terhadap Kopi Arabica.

Mengenal Kopi Arabica Puntang

Penjemuran dan Penyortiran Kopi Arabica Puntang

Mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi pusat kopi Arabica di wilayah Puntang, tidak saya sia-siakan untuk mengali pengetahuan tentang Kopi Arabica Puntang.

Akhir bulan Desember 2020, saya berbincang dengan salah satu pemilik Kopi Arabica Puntang, yaitu Kang Irwan, yang salah satu single originnya, pernah menjuarai ajang kontes kopi. Lalu dilanjutkan dengan rekan kerjanya, Herna.

Apa yang membuat kopi Arabica Puntang beberapa kali menjadi kopi terbaik dunia juga di Indonesia?

Sebelum menjawab pertanyaan, saya ingin menceritakan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan Kopi Puntang. Kopi Puntang sendiri merupakan suatu single origin yaitu kopi yang ditanam di suatu area gunung Puntang. Kopi yang dikembangkan sendiri lebih dominan kopi Arabica.

Menurut Herna, kopi Arabica merupakan varietas hybrid yang dikembangkan di Aceh, jadi secara varietas, kopi Arabica Puntang berasal dari kopi yang dikembangkan di Aceh. Dan kopi Puntang yang sekarang dikembangkan merupakan kopi Arabica Aceh dengan varietas hibrida.

Namun, walaupun demikian, dengan jenis tanah yang dimiliki, kopi Puntang memiliki kekhasan sendiri. Termasuk pola penanaman, penjemuran, hingga roasting. Sehingga wajar, kopi Arabica Puntang menjadi salah satu kopi terbaik di Indonesia.

Kesimpulan yang saya dapatkan, bahwa Kopi Arabica Puntang merupakan single origin, yaitu berasal dari suatu area tanpa dicampur dengan kopi yang berasal dari daerah lain, yaitu hanya berasal dari daerah gunung Puntang yang terjaga prosesnya sejak hulu hingga hilir. Dari mulai penanaman hingga peroastingan.

Kenapa kopi yang dikembangkannya khusus kopi Arabica? Berdasarkan penuturan dari Herna, karena dari sisi ketinggian lebih cocok untuk penanaman untuk Arabica, walaupun Robusta lebih produktif dari Arabica. Hanya, sisi bisnisnya lebih bernilai tinggi Arabica, selain karena kopi Robusta tidak tahan terhadap dingin, berbeda dengan Kopi Arabica. Sehingga, area gunung Puntang lebih dikembangkan Kopi Arabica.

Menjaga Kualitas Kopi Arabica Puntang

Chery merah menjadi pilihan Kopi Arabica Puntang agar kualitas rasa terjaga.

Berikut beberapa hal terkait, kenapa Kopi Arabica Puntang menjadi yang terbaik dan istimewa, seperti dijelaskan juga oleh Kopi Arabica Puntang.

Pertama, penanaman Kopi Arabica. Berdasarkan  cerita Herna, salah satu yang menjadikan kopi Arabica Puntang yang diproduksi Kopi Puntang menjadi yang terbaik telah dijaga sejak penanaman. Sampai hari ini sejak dikembangkan 6 tahunan lalu, penanaman kopi tidak dilakukan dengan pohon lain. Misalnya, dengan tanaman tumpang sari, atau penanamannya dicampur dengan tanaman buah-buahan lain seerti pisang, nangka, atau durian. Hal ini menjadi salah satu cara bagaimana agar rasa kopi tetap orisinil.

Kedua, Pemilihan Cherry Kopi Arabica. Kopi yang dipetik adalah kopi yang betul-betul sudah matang, yaitu yang sudah berbiji merah. Selain untuk menjaga kualitas kopi dan juga berdampak terhadap rasa orisinal Kedua, pemetikan cherry. Cherry yang dipetik oleh para petani Kopi Arabica Puntang adalah yang telah matang atau merah. Cherry merah menunjukkan kematangan buah cherry kopi Arabica. Melalui pemilihan cherry yang telah matang atau merah ini berdampak terhadap kualitas rasa kopi Arabica Puntang.

Jika dikaitkan dengan keuntungan para petani, nilai jual juga lebih tinggi dibandingkan dengan cherry yang berwarna hijau. Keuntungan lainnya, usia tanam lebih lama jika cherry yang dipeting telah matang atau berwarna merah dari Kopi Arabica Puntang. Hal ini menjadi salah satu cara bagaimana Kopi Arabica Puntang terjaga kualitasnya.

Ketiga, Pengupasan Kopi Arabica. Terdapat cara dalam pengupasan sebelum kopi dijemur. Bisa menggunakan teknik full wash, honey, ataupun natural. Hal ini diperhatikan banget oleh Kopi Puntang sebagai produsen Kopi Arabica Puntang.

Keempat, Penjemuran Kopi Arabica. Saat saya berkunjung ke Kopi Puntang. Terdapat semacam rumah plastik dan tempat penjemuran kopi yang ditutupi plastik. Ternyata rumah plastik dan tempat yang ditutupi plastik itu adalah tempat penjemuran kopi Arabica Puntang. Plastik yang digunakan sendiri bukan plastik biasa tapi plastik khusus untuk menjaga suhu. Penutupan dengan plastik juga dilakukan agar kopi tidak menyerap bau-bau atau wangi atau polusi dari luar. Sehingga kopi terjaga dengan baik sampai kering. Semakin tidak terkontaminasi, kualitas rasa terjaga.

Kelima, teknik roasting Kopi Arabica. Sama halnya dengan teknik penjemuran. Untuk roasting betul-betul diatur, saat pertama kali kopi yang telah kering dimasukkan ke mesin suhunya berbeda. Suhu harus betul-betul terjaga setiap 30 menit sekali. Oleh karena itu, untuk menjaga kestabilan suhu kopi, untuk melihat kestabilan suhu, diukur menggunakan teknik komputerisasi. Sehingga seorang roaster bisa menjaga agar tetap stabil.

Keenam, penyajian Kopi Arabica. Bagi Herna, ujung tanduk agar kopi terjaga rasnya bukan hanya dari yang telah dilakukan dalam proses sehingga menghasilkan bean-nya tapi juga teknik penyajian. Kopi yang sudah benar dalam pemrosesannya, belum tentu enak jika disajikan dengan cara yang salah. Tetapi jika kopinya dalam prosesnya telah salah, maka disajikannya dengan cara apapun tetap tidak akan terasa baik tastenya. Begitu juga density-nya atau tingkat kehalusan bubuk kopi berpengaruh terhadap rasa kopi.***[]

Read More

17.6.20

Belajar Filsafat


Masa Pandemi, turut berkontribusi terhadap kerapihan koleksi buku pada ruang kerja minim karya di rumah. Setelah menata ulang rak buku dan meja komputer, buku juga ikut saya rapihkan.

Nah, ternyata hasil dari penataan ulang ruangan kerja ini, menghasilkan beberapa kategori buku-buku yang sering menjadi target bacaan atau koleksi, karena tidak semua buku bisa tuntas dibaca, atau bahkan banyak buku yang hanya sempet dibaca kata pengantar atau justeru belum dibaca sama sekali.

Kategori Buku
Kategori pertama adalah buku-buku ilmu komunikasi, buku daras/ referensi/ atau populer dalam bidang komunikasi yang paling banyak atau mendominasi, karena basic pendidikan dari ilmu komunikasi. Sangat wajar. Bahkan, seringkali, jika ada buku-buku cukup populer dalam bidang komunikasi, biasanya dengan cepat menjadi penghuni rak buku.

Buku-buku komunikasi ini juga memiliki subkategori yang saya pisah-pisahkan pertama; buku Ilmu komunikasi secara umum; dari mulai pengantar ilmu komunikasi, komunikasi pemasaran, bunga rampai, audit, public relations, teknologi, dan lain sebagainya. Ini saya masukkan dalam satu kategori dengan menempati beberapa baris rak. Cukup banyak. Kedua, Buku teori komunikasi, karena cukup berat untuk dibaca, bahkan cenderung untuk keperluan analisis suatu isu atau paper, ini juga saya pisahkan pada rak yang berbeda, sehingga menjadi bagian dari sub kategori dalam buku ilmu komunikasi. Ketiga, buku-buku komunikasi berbahasa asing, biasanya buku yang berasal dari format pdf lalu saya cetak sendiri. Keempat, media studies dan jurnalisme. Kategori ini juga saya pisahkan menjadi beberapa rak tersendiri. Media studies menjadi rak yang menurut saya paling istimewa, walaupun tidak terlalu banyak, tapi ekslusif karena referensinya masih cukup jarang. Dan Kelima, masih subkategori dari ilmu komunikasi, yaitu buku-buku metode penelitian komunikasi; mulai dari metode penelitian kualitatif, komunikasi, analisis wacana, naratif, etnografi, fenonemologi, dan lainnya.

Kategori kedua adalah buku sastra. Saat mahasiswa cukup rajin mengoleksi karya sastra, karena selain lebih mengalir saat dibaca, juga memberikan spirit dalam memperkaya wawasan dan perspektif. Beberapa karya sastra yang menjadi koleksi; tetralogi pulau buru dan beberapa karya lainnya dari Pram, Trilogi Bilangan Fu dari Ayu Utami, buku terakhirnya anatomi rasa. Beberapa karya Kuntowijoyo juga jostein gaarder dimana magnum opusnya dipinjam tapi tidak kembali.

Kategori ketiga, merupakan buku pengembangan diri. Menjadi lumrah, hidup di dusun membawa sifat-sifat dusun. Rasa tidak percaya diri menjadi bagian hidup hingga lulus. Maka untuk memproses diri agar lebih pede, salah satunya banyak membaca buku-buku motivasi dan pengembangan diri. Beberapa buku pengembangan diri cukup praktis bukan hanya motivasi.

Kategori keempat merupakan buku Wacana. Buku wacana merupakan buku-buku yang mengangkat isu-isu keninian terkait sosial, politik, ekonomi, budaya, atau ilmu. Biasanya tidak terlalu spesifik tapi isu tersebut berdampak terhadap semua sendi kehidupan manusia; sebut saja misalnya Benturan peradaban karya Samuel W. Huttington, atau karya-karya dari Francis Fukuyama. Dari Indonesia misalnya buku-buku dari Rhanald Kasali, tapi yang terkini atau beberapa dari Yasraf Amir Piliang, yang sebagiannya saya masukkan ke dalam kategori filsafat.

Kategori Kelima, yaitu buku agama dan wacana agama. Nah, ini juga cukup banyak dan hampir mendominasi sama halnya dengan buku ilmu komunikasi. Kenapa? Karena pada masa lalu, selain kuliah di UIN juga aktif di beberapa organisasi yang sering mendiskusikan isu-isu agama.

Kategori keenam, tentu saja buku filsafat; Buku-buku filsafat walaupun tidak mendominasi, namun saya bagi menjadi beberapa kategogi lagi; filsafat umum, epistemologi, semiotika, cultural studies dan budaya pop, pemikiran filsuf seperti Foucault, Aali Syariati, Herbert Marcuse, Heidegger, Baudrillard, Umberto Eco, Yasraf Amir Piliang dan lainnya.

Kategori ketujuh, buku-buku yang tidak masuk kategori keduanya. Beberapa di antaranya cukup saya suka tentang isu-isu kedaerahan dan kesukuan; budaya sunda, garut, dan lain sebagainya. Ini juga cukup banyak, karena tidak masuk pada kategori-kategori buku sebelumnya.

Kategori kedelapan. Sebetulnya masih ada satu kategori lagi, yaitu media. Dulu langganan majalah Syir’ah, yaitu majalah yang mengangkat isu pluralisme, hanya sayang sudah tidak terbit. Kemudian langganan majalah mix, namun sama masuk era pandemi tidak terbit lagi. Begitu juga Pikiran Rakyat, sejak 2011 langganan, hanya saja sekarang beralih langganan digital.

Mendalami filsafat
Nah, terkait filsafat ini, memang umur kesukaanya sudah sejak lama, selama kuliah, sudah menjadi bagian dari wacana diskusi. Hingga akhirnya memengaruhi pada saat tugas akhir dengan mengambil pemikiran tokoh dengan dibedah melalui pisau analisi wacana. Termasuk juga sebelum lulus, tulisan yang dipublikasikan pada media massa pertama tentang filsafat postmodernisme.

Sejak filsafat ternyata bisa berkontribusi tidak hanya pada ranah cara berfikir, juga praktis, kini mulai lagi memperkaya referensi dan wacana melalui beberapa isu-isu filsafat. Postmodernisme yang lama ditinggalkan saat kuliah sarjana, kini dibuka-buka lagi. Begitu juga semiotika, yang sulit memahaminya karena tidak langsung dipraktikkan menjadi alat analisis, kini mulai dibuka lagi. Karena bagaimana pun, beberapa analisis dalam satu isu bisa menggunakan pisaunya tersebut.

Mendalami filsafat adalah belajar cara meluruskan cara berfikir kita, agar tidak picik. Belajar memahami perbedaan dan menerima dengan lapang karena kita mampu mengalihkan pikiran kita melalui filsafat praktis seperti halnya yang dilakukan oleh kaum Stoik.
Begitu juga pada ranah akademik, dengan memahami filsafat, kita lebih mudah memahami metode penelitian yang merujuk pada cara berfikir tentang ilmu. Bahkan untuk memahami ilmu sendiri kita harus belajar filsafat.

Jadi bukan soal gaya-gayaan dengan bahasa-bahasa yang melangit atau frasa-frasa yang sulit. Justeru sebaliknya. Untuk lebih mempermudah segalanya. Karena ketika kita memilih passion dalam bidang menulis atau dalam bidang yang terkait dengan akademik. Maka filsafat menjadi salah satu jalan yang mampu menunjukkan kemudahan itu.

Namun, tentu bukan barang mudah. Karena belajar filsafat artinya kita menerjukan diri pada kesulitan-kesulitan memahami berbagai frasa. Saya sendiri bukan orang yang mudah paham. Seringkali harus beberapa kali membaca ulang. Apalagi pemikiran seseorang yang sangat subjektif.
Oleh karena itu, saya lebih memilih yang mudah. Maksudnya, saya tidak belajar filsafat dengan menyeriusi semua kategori, namun cukup paham apa yang saya suka dan sesuai dengan apa yang bisa menjadi bahasan saya untuk keperluan sehari-hari.

Namun, bukan berarti yang rumit tidak dipelajari, jika harus karena untuk keperluan taktis analisis suatu isu dan menjadi bidang kajian, mau tidak mau harus dilakukan.

Misalnya, untuk keperluan laporan penelitian, salah satunya menggunakan hermeneutika. Terus terang saya belum pernah belajar hermeneutika. Waktu kuliah sarjana, belajar tentang analisis wacana juga sudah uyuhan, karena tidak pernah mendapatkan tema formal di kelas. Nah sekarang, mau tidak mau juga harus belajar hermeneutika. Saat membaca salah satu bukunya, karena langsung ke pemikiran tokohnya, lumayan lieur. Maka harus dicari jalan mudah, yaitu membaca pengantarnya terlebih dahulu.

Nah, begitu juga saat belajar filsafat. Dulu, banyak cerita, banyak orang tersesat, murtad, ateis gara-gara belajar filsafat. Bisa jadi karena itu langsung membaca atau memelajari  pemikiran filsufnya langsung. Banyak pemikiran yang tidak sesuai kita makan mentah-mentah. Dasarnya sendiri tidak dipelajari. Berlakukan seperti tangga, jangan langsung ke puncak, tapi titilah dulu tangga pertama sebelum sampai tangga 10.

Wallahu A’lam.
Read More

15.5.20

Mengelola Persepsi Masa Pandemi

Pertanyaan pendahuluan

Pengelolaan Persepsi Masa Pandemi
Pengelolaan Persepsi Masa Pandemi/ Persepsi dan Emosi
Ada yang sering baca tentang isu Covid19? Ada yang sering nonton Bagaimana perkembangan Corona dan kapan berakhirnya? Atau ada yang kebangetan menerima pesan berantai tentang berbagai hal terkait dengan pandemi ini?

Ada yang cemas? Ada yang waswas atau merasa mandesu dengan beragam informasi dan pemberitaan menyangkut Covid19?

Tidak sedikit yang cemas, waswas, bahkan masa depannya telah terrenggut oleh keadaan ini. Seseorang berkomentar dalam grup WhatsApp,”Kok jadi ngeri begini ya”. Seseorang bertanya, ini kejadian bener, dimana? Seseorang lagi tanpa memberi jawaban terus menyebarkan informasi, yang, sekali lagi, entah benar atau tidak, entar faktual atau tidak.

Namun yang perlu digarisbawahi di sini, dari pertanyaan dan paragraf di atas adalah, seperti dikatakan oleh Epictetus, seorang filsuf Stoa,”Some things are up to us, some things are not up to us”.

Epictetus bilang, ada hal yang di bawah kendali kita, ada hal yang tidak di bawah kendali kita. Untuk yang di luar kendali kita, serahkan kepada yang mengendalikan kita. Kita punya Tuhan, punya Allah. Doakan mereka yang sering menyebarkan berita yang mencemaskan agar sadar dengan kenarsisan berbagi kecemasan dan ketakutan.

Hidup dengan Tirani Opini Orang Lain

Pengelolaan Persepsi Masa Pandemi
Pengelolaan Persepsi Masa Pandemi/ Tirani Opini
Nah, yang bisa kita kendalikan menjadi bagian yang bisa kita kelola sendiri. Jangan sampai kejadian atau informasi apapun yang masuk dari luar membuat kita cemas, khawatir, tertekan, atau justeru sudah masuk pada fase stress. Karena ini semua adalah sesuatu yang dikatakan oleh epictetus,”some things are up to us,”  sesuatu di bawah kendali kita.

Namun, di antara yang di bawah kendali dan di luar kendali, ada di antaranya sebagian kita kendalikan. Nah, contoh pasnya adalah Kuliah Online! Kuliah online tidak bisa dimasukkan ke dalam di bawah kendali kita, karena diselenggarakan oleh institusi dengan beranekaragam pelengkapnya; jadwal, dosen beserta moodnya, mata kuliah, ujian-ujian, data, kecepatan akses, keluasan server. Jika kuota tidak ada, kita tidak bisa mengubah jadwal sesuai dengan keinginan kita. Jika akses internet lambat kita juga tidak bisa mengubah akses dari 10 mbps menjadi 100 mbps.

Maka di antara itu ada bagian yang bisa kita kendalikan, yaitu internal goal kita terhadap kuliah online itu apa. Paham materi? Keterampilan? Nah itu semua berada dalam ruang kendali kita. Kita bisa memaksimalkan kemampuan kita untuk belajar. Sehingga walaupun kita tidak bisa mengubah mood dosen, kita bisa memberikan yang terbaik untuk ujiannya. Jadi jika kita tidak bisa mengikuti kuliah online karena kehabisan kuota, kita bisa konfirmasi dosen setelah ada kuota. Tidak harus menyalahkan jadwal dan keadaan yang memang di luar kendali.

Namun mengendalikan persepsi, seringnya sulit. Misalnya; Memilih tempat kuliah. Kalo aku kuliah di kampus ini, nanti teman-teman bilang, kampus apaan tuh?... Memilih pekerjaan, apaan kerjaannya Cuma posting-posting quote di medsos, emang gak ada pekerjaan lain yang lebih oke gitu?...atau Memilih pacar. Anjir pacarnya jauh banget sama doski yang blink-blink...,

Yakin, jika hidup di bawah pendapat orang lain kita akan bahagia? Tanya epictetus. Jangan sampai sebab corona, Coronanya baik-baik saja, karena persepsi dikendalikan opini orang, jadinya bunuh diri seperti menteri di salah satu negara Eropa. Jangan sampai Tirani opini orang lain mengatur hidup kita!

Mengelola Persepsi

Peristiwa seringkali mengendalikan persepsi. Tidak bisa kuliah online gara-gara kuota, persepsi kita langsung menjustifikasi, bahwa nilai kita akan turun. Tetangga kena corona, kita langsung menjustifikasi keadaan sudah sangat bahaya. Peristiwa dan informasi-informasi yang masuk ke dalam memori kita akan kita kelola menjadi persepsi. Persepsi ini dalam sistem syaraf kita terhubung dengan jajaring saraf emosi.

Suatu waktu, seseorang marah di hadapan saya. Sikap saya dingin, walaupun kaget karena marahnya tiba-tiba. Karena, saya mempersepsi marahnya bukan kepada saya. Jikapun kepada saya, saya bertanya kepada diri sendiri, kesalahan besar apa yang telah saya perbuat? Marahnya seseorang tidak bisa kita kendalikan, tapi kita bisa mengendalikan persepsi kita agar kita tidak tersulut emosi atau melakukan hal yang sama untuk marah. Karena kalau kita balik marah, sama artinya kemarahan kita dikendalikan oleh kemarahan orang lain. 


Konteks komunikasi, marah, cemas, khawatir atau sebaliknya, karena seseorang tidak cermat atau kurang tepat dalam mengelola informasi yang masuk ke dalam memori. Maka peristiwa/ informasi yang tidak tepat pengelolaan persepsinya akan berdampak terhadap kemunculan emosi negatif tersebut.


Bagi seorang motivar NLP, Ibrahim Elfikri, persepsi bisa membuat orang tertawa tapi bisa membuat sebagian orang menderita. Bisa membuat seseorang peduli bisa membuat seseorang angkuh. Bisa membuat seseorang memiliki sikap positif atau sebaliknya menjadi penyebab emosi negatif pada diri seseorang. Pilih mana?


Bisa jadi seperti yang ditulis oleh filsuf lain, bahwa pengolahan informasi itu sesuai dengan referensi dan pengalaman kita. Oleh karena itu, merujuk pada konsep literasi, barengi dengan kroscek dan keseimbangan informasi lain.


Nah oleh karena itu, untuk mencegah mental lockdown. Saya lebih fokus pada bagaimana mengelola persepsi kita terhadap peristiwa-peristiwa sekeliling kita. Dengan lockdown seperti sekarang, mental juga jangan ikut-ikutan lockdown juga; menjadi pemurung, penyendiri di kamar. Karena persepsi kita selain menjadi sumber lockdown mental juga menjadi sumber kekuatan untuk menciptakan kebahagiaan kita sendiri.


Selama lockdown, saya melihat ternyata banyak teman-teman saya yang memaksimalkan hobby dan potensinya; ada yang mendalami desain grafis, ada yang cover-cover lagu, ada yang bikin lagu juga. Dan itu sangat positif. Saya sendiri selama lockdown, bisa lebih mendekatkan diri dengan anak; mulai dari sholat berjamaah, mengajar ngaji. Mulai berkebun lagi. Tulisan yang tertunda bisa saya selesaikan; ngeblog lagi; menulis jurnal, termasuk juga belajar lagi bikin blog dan SEO. Jadi selama lockdown justeru bisa memaksimalkan pekerjaan dan hobby yang tertunda. Seakan tidak ada habis-habisnya sehingga tidak sempat untuk mencemaskan ‘duh bagaimana coron sudah sampai tetangga’ dengan tetap waspada.


Persepsi seringkali datang dari interpretasi yang terjadi secara otomatis. Karena kita sendiri termasuk ke dalam orang yang reaksioner. Jika ada orang yang pake baju koko dan peci kita langsung menginterpretasikan bahwa orang tersebut soleh. Jika ada yang pakai tatto kita mengintepretasian sebagai kriminal. Otomatis persesinya juga demikian. Ada aksi ada reaksi. Kita juga seringkali bereaksi otomatis saat dikecewakan oleh orang lain atau keadaan; macet, putus dari pacar, kehilangan dompet, kuota data habis, dan lainnya.


Nah, bagaimana agar tidak terjadi otomatisasi interpretasi, apalagi kita punya pengalaman sesuai dengan yang kita interpretasikan?


Kata seorang filsuf Stoa, Marcus Aurelius, gunakan interpretasi aktif. Stop interpretasi masuk ke dalam emosi. Caranya? Luangkan sedikit waktu untuk berfikir. Sebelum interpretasi itu dilakukan. Misalnya, apa yang bisa saya lakukan saat kuota habis dan tidak bisa ikut kulon (kuliah online)? Dari pertanyaan ini, kita bisa jawab sendiri dan bisa jadi banyak pilihan yang bisa kita lakukan. Sehingga tidak bete atau justeru cemas karena takut dosen marah atau memberikan nilai kecil. Bisa belajar dengan materi yang sama, bisa bantu orang tua yang memang sejak awal sudah minta tolong, atau bisa melanjutkan hobi.


Manampiring dalam Filosofi Teras (2019) memberikan panduan yang disingkatnya dengan STAR (Stop, Think & Asses, Respond). Berhenti melakukan apapun termasuk berbicara saat emosi mulai menguasai jiwa, jangan sampai larut ke dalam perasaan.  Setelah berhenti, Pikirkan dan nilai. Kita bisa aktif berfikir atau memaksakan diri untuk berfikir secara rasional tentang peristiwa atau keadaan sehingga bisa mengalihkan dari kebablasan emosi negatif. Kemudian nilai, apakah emosi tadi yang muncul bisa dibenarkan, memberikan dampak positif atau negatif? Apakah kita sudah memisahkan fakta dengan interpretasi subjektif? Pertanyaan-pertanyaan ini akan menghilangkan emosi berlebih tentang suatu peristiwa. Terakhir, respon. Setelah  menggunakan nalar untuk mengendalikan emosi, kita berfikir respon apa yang tepat untuk merespon keadaan atau peristiwa tersebut.


Sementara tawaran dari Ibrahim Elfikri dengan melakukan senam mental, yaitu suatu metode melakukan perlawanan terhadap persepsi negatif. Senam mental dilakukan sebagai berikut: Lihat situasi dari sudut pandang diri sendiri, lihat dari sudut pandang orang lain. Lebih baik jika kita dapat memahami perilaku orang lain. Sekarang coba lihat dari sudut pandang netral, tak memihak. Selayaknya sudut pandang seorang bijak, jangan mencampurkan emosi pribadi.


Penutup

Mengutip seorang filsuf sekaligus psikolog, William James, “penemuan terbesar generasiku adalah pengetahuan bahwa manusia bisa mengubahnya denga cara mengubah cara berfikir”. Dengan kata lain, mental lockdown dapat dilawan dengan mengelola cara berfikir (persepsi) kita. Seneca, seorang filsuf Stoic pernah bilang,”Tidak ada yang tidak mungkin terjadi. Pikiran kita harus menerawang ke depan untuk menghadapi segala persoalan, dan ita harus memikirkannya bukan yang tidak terjadi, tapi apa yang terjadi.


Jangan sampai persepsi negatif mendahulu takdir. Karena itu dosa!***[]

Read More

3.5.20

Imam Syafi’i, Ulama yang tidak Pernah Lelah Belajar

Sumber: inspiraloka

Imam Syafi’i, ulama besar peletak dasar fiqih menjadi salah satu ulama yang paling diingat, tentu di luar khulafaurrasyidin yang dijamin masuk surga. Karena sejak kecil, hidup di lingkungan tradisi, mengaji pada lingkungan Nahdlatur Ulama, setiap mengaji fiqih pada surau-surau kecil, pasti yang selalu dijadikan rujukan adalah Imam Syafi’i.


Imam Syafi’i lahir di Gaza tahun 150 Hijriyah dengan nama Abu Adbullah Muhamad bin Idris As-Syafi’i. Nama lengkap Imam Syafi’i adalah Muahammad bin Idris bin Al-‘Abbas bin Utsman bin Syafi’i bin as-Saib bin Ubayd bin Abdu Zayd bin Hasyim bin al-Muthalib bin Abdu Manaf bi Qushay.  Jika dilihat dari nasabnya tersebut, Imam Syafi’i masih satu keturunan dengan Rasulullah Solallahu Alaihi Wassalam.


Kenapa saya menulis tentang Imam Syafi’i, pertama salah satu pernyataan Imam Syafi’i yang saya tulis pada blog ini, hanya Quotenya saja, ternyata dibaca oleh Ribuan orang. Padahal tidak ada isinya, hanya gambar quote saja. Kedua, pada bulan puasa, saya banyak belajar, merenung, dan bercengkerama dengan keluarga, mengajar ngaji anak setiap sore dan saat masuk bulan puasa pindah ke shubuh.


Aktivitas saya mengingatkan pada masa-masa kecil saya ketika mengaji di Surau. Walaupun tentu tidak banyak yang saya ketahui tentang Imam Syafi’i. Karena setelah dewasa, saya lebih memilih untuk memelajari fiqh lima madzhab. Maksudnya adalah bukunya.


Saya tidak akan menulis Imam Syafii’i tentang biografinya, hanya teringat dengan kondisi saya yang hari ini sedang menempuh studi saja. Dan ingat lagi dengan quotesnya yang cukup dikenal oleh netizen, bahkan saya perhatikan banyak netizen juga yang mengutif quote Imam Syafi’i seperti yang saya tulis juga.


Imam syafi'i


Bila Kau tak tahan lelahnya belajar, maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan.

Ini adalah bentuk selfreminder atau mengingatkan diri saya sendiri. Bahwa tidak ada yang instan dalam belajar. Tidak ada yang tiba-tiba seseorang bisa dan mampu melakukan sesuatu tanpa harus melalui berbagai macam tempaan. Bahwa saya harus ingat masa depan saya, dunia ataupun akhirat kelak, tidak boleh merasa lelah dalam belajar. Nasihat-nasihatnya bisa teman-teman baca di sini [Nasihan Imam Syafi'ii].


Bahkan saya ingat salah satu adagium yang menjadi pegangan organisasi ketika saya belajar, belajar itu sejak keluar rahim hingga pada akhirnya masuk liang kubur. Jadi pembelajar sepanjang hayat. Oleh karena itu saya selalu menjadi pembelajar. Belajar dari siapa saja, kapan saya, dimana saja. Bahkan saat sama sekali tidak berhubungan dengan sekolah atau kampus.


Termasuk juga pada ramadhan kali ini. Menjadi pembelajaran yang sangat berharga. Bagaimana beratnya mendidik anak, bagaimana beratnya menjadi seorang kepala keluarga. Oleh karena itu, belajar dan belajar menjadi salah satu praktik dalam menghadapi kehidupan yang menurut sebagian orang saat ini sedang mandesu alias masa depan suram.


Salah satunya, saya belajar pada Imam Syafi’i.


Walaupun tentu beda, karena pada umur 7 tahun Imam Syafi’i sudah hafal al-Qur’an, nah saya boro-boro hafal, lancar saja membaca al-Qur’an belum. Tapi kini saya berkomitmen bahwa membaca al-Qur’an ini harus menjadi bagian dari kehidupan saya sehari-hari. Tidak boleh meninggalkan al-Qur’an.


Imam Syafi’i pernah bercerita bahwa di suatu sekolah penghafal al-Qur’an, ia teringat dengan gurunya yang sedang membaca ayat al-Qur’an, lalu Imam Syafi’i menghafalnya yang dibacakan oleh gurunya. Hingga akhirnya Imam Syafi’i diminta menggantikan posisi gurunya setelah gurunya meninggal.


Selesai sekolah tahfidz al-Qur’an Imam Syafi’i pergi ke masjid Al-Haram menghadiri majelis ilmu. Imam Syafi’i saat itu hidupnya kekurangan, namun ia tidak lelah mencari ilmu. Beliau mendayagunakan semua sumber daya yang ada untuk menulis ilmu; potongan kulit, pelepah kurma bahkan tulang unta. Sampai-sampai barang-barang milik ibunya penuh dengan tulang dan pelepah kurma yang ditulisi hadits oleh Imam Syafi’i.


Imam Syafi’i menghabiskan waktunya di Masjid al Haram. Termasuk menghapal alQur’an 30 juz. Pada usia 12 tahun, Imam Syafii menghafal Al-Muwatha, karya Imam Malik, yang pada akhirnya menjadi gurunya. Diketahui bahwa Imam Malik adalah salah satu peletak dasar fiqih Islam.


Imam Syafi’i sebelum belajar dasar fiqh, terlebih dahulu belajar bahasa Arab dan syair. Untuk memelajarinya ia tinggal dengan suku Hudzail yang fasih dan murni bahasa serta bagus syair-syairnya. Baru setelah mendapat nasihat guru-gurunya, Imam Syafi’i memelajari ilmu fiqh. Beliau menuntut ilmu dari ulama Mekkah. Ia juga belajar hadits dan lughoh sebelum membaca Al-Muwatha dari Gurunya, Imam Malik di Madinah.


Ia juga belajar kepada ahli hadits di Irak. Sekaligus ia menyebarkan ajaran yang telah dipelajarinya. Ia begitu teguh memegah Al-Qur’an dan Sunnah. Bahkan ia membela bagaimana pentingnya sunnah Rasulallah SWA.  “Jika kalian telah mendapatkan Sunnah Nabi, maka ikutilah dan janganlah kalian berpaling mengambil pendapat yang lain. Sampai-sampai karena pembelaannya, ia mendapat gelar as-Sunnah wa al-Hadits.


Setelah belajar dari beragam guru fiqh, al-Qur’an, Hadits, ia juga belajr banyak kepada ulama lain  di berbagai penjuru. Selain yang telah disebutkan Makkah, Madinah, dan Irak. Ia meminta izin gurunya, Imam Malik untuk belajar ke Baghdad, Persia, Yaman, hingga Mesir hingga menjelang ajalnya tahun 204 Hijriyah.


Imam Syafi’i adalah ulama yang tidak pernah berhenti belajar, hingga Allah menjemputnya. Nah jika ingin mendapatkan nasihat-nasihatnya Imam Syafi'i, bisa membaca tulisan dari Kang Jojoo.**[]

Read More

18.5.19

5 Lima Alasan Puasa Menyehatkan Tubuh

Ilustrasi 5 (Lima) Alasan Puasa Menyehatkan Tubuh, Peci dan Kurma. (doc www.abahraka,com)
5 (Lima) Alasan Puasa Menyehatkan Tubuh

Puasa… puasa..
sebetulnya menyehatkan
Sebulan menahan nafsu
menjauhi larangan Tuhan
meningkatkan ketaqwaan
Puasa dengan penuh ikhlas
Tingkatkan martabat diri
Lahir bathin suci kembali
Semoga Tuhan ridhoi
ibadah puasa kita di bulan Ramadhan

Ada yang tahu penggalan lirik lagu di atas?

Ya betul sekali, lirik tersebut miliknya grup musik legendaris yang sampai ramadhan 1440 H sekarang masih eksis, tampil secara offline ataupun live di televisi.

Salah satu penggalannya, puasa...puasa sebetulnya menyehatkan, terus-terus mengiang dalam ingatan saya. Kenapa? Karena melalui puasa salah satu penyakit menahun saya bisa sembuh. Puasa jadi therapy utama saat kambuh. Walaupun kini, setelah mereda, saya jarang sekali melakukannya di luar bulan ramadhan.

Saya kutip dari buku Terapi ala Sufi karya Syeikh Chistiyah, puasa dapat menjadi alat therapy bagi beberapa penyakit. Termasuk maag yang sering dijadikan alasan orang untuk menghindari puasa. 

Saya sendiri sejak kuliah memiliki penyakit maag kronis, hingga harus dirawat bahkan diinfus. Saran dokter memang harus teratur sarapan, tidak boleh makan pedas, dan jangan ngopi.

Sejak saat itu memang saya selalu menghindari kopi. Saking pekanya lambung, mencium baunya saja, perut saya langsung gemeteran. Beberapa tahun saya betul-betul berhenti minum kopi. Padahal saat kumpul dan nongkrong, kopi plus rokok jadi menu utama pertemanan.

Detoksisasi Tubuh
5 (Lima) Alasan Puasa Menyehatkan Tubuh yang pertama adalah Detoksisasi Tubuh. Proses detoksisasi tubuh khususnya dalam usus/ lambung terjadi saat perut dalam keadaa kosong. Pada saat berpuasa, saya tersadar karena ternyata setelah bulan ramadhan, perut saya justeru seakan mengalami refreshing. Biasanya saya mengalami mencret dan sakit perut di awal-awal puasa. 

Hari ke 3 sampai ke 5. Nah, menurut syeikh Chistiyyah, kondiri seperti itu adalah proses pembersihan racun dalam perut. Detoksisasi. Kosongnya perut karena puasa menjadi ajang pengeluaran racun dari dalam perut. Sehingga saat terisi, racun-racun itu segera keluar dengan makanan yang kita makan.

Makanya, setelah puasa ramadhan, saya seringkali melanjutkan puasa tiga sampai dengan 6 hari. Istilah orang sunda, nyawalan namanya. Ini sebetulnya karena sayang meninggalkan kebiasaan baik, yang jika sudah jauh dari bulan puasa biasanya males untuk puasa.

Makanan Bernutrisi
Ilustrasi 5 (Lima) Alasan Puasa Menyehatkan Tubuh, makanan bernutrisi; buah kurma
5 (Lima) Alasan Puasa Menyehatkan Tubuh yang kedua adalah Pemilihan Makanan yang Bernutrisi. Puasa identik dengan korma, sayuran, buah-buahan, juga air/ cairan. 

Keempat kategori atau jenis makanan tersebut adalah makanan yang bernutrisi alias memiliki gizi yang dibutuhkan oleh tubuh. Kita ketahui, bahwa selama ramadhan selalu menyiapkan makanan terbaik baik untuk berbuka ataupun sahur.

Saya sendiri selalu memperbanyak minum saat sahur, bahkan saat akan tidur pun selalu menyempatkan minum 1 gelas. Saat berbuka atau sahur pun setiap harinya harus terdapat menu sayur dan buah, walaupun sederhana.

Fungsi nutrisi sendiri adalah untuk memelihara kesehatan tubuh dan juga pertumbuhan. Nah, selama berpuasa, karena ekpektasi kita harus kuat tidak makan selama kurang lebih 13 jam, kita mempersiapkan makanan terbaik dari sisi nutrisi agar dapat memenuhinya. Hal yang tidak dilakukan secara teratur saat hari biasa.

Bahkan, pada ramadhan 1440 Hijriah sekarang, bibir saya terkena panas dalam. Alhamdulillah, setelah 3 hari puasa, justeru sembuh. Ini membuktikan bahwa puasa—dari sisi keteraturan makan makanan yang bernutrisi, akhirnya bisa menyembuhkan—memelihara kesehatan.

Pada sisi lain, seperti ditulis situs finansialku, nutrisi juga memiliki manfaat lain. Misalnya menurunkan tingkat stress, membantu aktif secara fisik maupun mental, memberikan energi dan meningkatkan kinerja, membantu memiliki hidup yang seimbang, bahkan bisa meningkatkan kepercayaan diri.

Tidur
5 (Lima) Alasan Puasa Menyehatkan Tubuh yang ketiga adalah Tidur. Tidur bukan hanya Ibadah saat puasa, Namun juga memperlancar Metabolisme. Kegiatan-kegiatan lainnya pada bulan puasa juga turut membantu meningkatkan kesehatan tubuh. 

Misalnya seperti diteliti oleh Ebrahim Kazim dari Trinidad Islamic University, seperti dikutip republikaonline. Puasa membuat tidur lebih berkualitas, sehingga berpengaruh pada perbaikan tubuh dan otak. Tidur sebelum sahur dapat memperlancar metabolisme tubuh.

Saat puasa, tidur menjadi hal yang gampang ditemui dimana-mana. Saya sendiri, sehabis tarawih biasanya jarang sekali melakukan aktivitas misalnya, nonton sampai malam. Karena badan sudah lelah, maka lebih memilih untuk tidur agar jam 3 atau jam 4 subuh bisa terjaga.

Doa
5 (Lima) Alasan Puasa Menyehatkan Tubuh yang keempat adalah Doa. Energi Positif dari Doa dan Kata-kata positif dapat menyehatkan tubuh. Pada bulan puasa, terjadi peningkatan ibadah. Misalnya membaca Al-Qur’an ataupun dzikir. Al-Qur’an memiliki sifat Asy-Syifa turut mendorong tubuh menjadi sehat. 

Betapa tidak, pada bulan Ramadhan, setiap orang berlomba-lomba untuk membaca al-Qur’an. Ada yang menargetkan 1 hari 1 juzz, sehingga hari terakhir ramadhan, tamat membaca 30 Juzz. Atau juga membaca Al-Qur’an secara bersamaan alias tadarrus.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Masaru Emoto, bahwa 64 persen dalam tubuh kita terdiri dari air. Air jika diberikan kata-kata yang indah dan bagus akan memberikan respon yang positif terhadap tubuh. Nah, dengan bacaan bagus yang berasal dari Al-Qur’an, tubuh pun merespon dengan baik.

Setelah meneliti di Jepang dan berbagai negara, Emoto berkesimpulan bahwa kata-kata baik itu berkorelasi secara linier dengan kebaikan tubuh. Air yang diberi kata-kata baik membentuk kristal yang indah, sedangkan air yang diberi kata-kata buruk justeru bentuk kristalnya tidak baik.

Terakhir kali penelitiannya dilakukan di Saudi Arabia terhadap Air Zamzam. Dan hasilnya sangat mengejutkan peneliti Jepang tersebut. Air Zam-zam memiliki kristal yang paling indah dibandingkan dengan air dari negara lain. Karena penelitian terhadap Air Zam-zam tersebut Masaru Emoto menjadi mualaf.

Hubungan Sosial
Ilustrasi 5 (Lima) Alasan Puasa Menyehatkan Tubuh, hubungan sosial.
5 (Lima) Alasan Puasa Menyehatkan Tubuh yang kelima adalah hubungan sosial. Pada bulan ramadhan terjadi peningkatan hubungan sosial. Bukan hanya kesalehan individu yang menonjol, juga kesalehan sosial bergema dimana-mana. Ibadah individu juga banyak dilakukan secara kolektif alias berjamaah. 

Shalat malam yang biasanya dilakukan sendiri, dilakukan berjamaah. Bahkan salat duhur dan ashar yang biasanya berisi 3 shaf, kini masjid penuh seperti halnya shalat jumat. 

Peningkatan relasi dalam konteks ibadah terhadap Allah, juga konteksnya terhadap manusia menjadi nilai yang dapat merelaksasi bagi tubuh. Menurut ahli kesehatan, relaksasi tubuh inilah yang membuat badan kita menjadi sehat.

Beberapa ahli mengatakan jika penyakit itu tidak hanya disebabkan oleh sebab fisik, juga psikis. Dengan kondisi psikis yang relaks inilah pada akhirnya tubuh juga menjadi sehat. 

Relaksasi tubuh berasal dari berbagai amalan yang dapat meningkatkan relasi antar manusia, seperti sadaqah, menyediakan tajil dan buka puasa untuk orang lain, termasuk kehidupan kolektif yang meningkat.

Berdasarkan beberapa uraian di atas, kesehatan yang disebabkan oleh puasa tidak hanya karena proses fisik, seperti hasil penelitian Syeikh Chitiyyah, karena ada proses detoxisasi dalam tubuh/ perut, atau seperti hasil penelitian Masaru Emoto, karena ada kecenderungan tubuh menerima kata-kata baik, namun juga kehidupan kolektif yang meningkat pada bulan ramadhan ini.

Maka sangat wajar jika bulan ramadhan sebagai bulan penuh berkah ini, selain karena diampuni dosa orang berpuasa, terbukanya pintu surga dan tertutupnya pintu neraka, terhindar dari berkata-kata kotor, atau berlipatgandanya pahala. 

Lebih dari itu, Allah menyediakan berbagai cara dan dari berbagai arah bagaimana tubuh betul-betul sehat secara syariat dan hakikat. Sehat lahir batin. Sehat jiwa raga. Sehat kehidupan individu dan sosial. Kecuali bagi orang yang tidak bersyukur.

5 (Lima) alasan puasa yang menyehatkan tubuh tersebut secara holistikdikaji berdasarkan sifat dan unsur dari tubuh manusia yang bersifat materi sekaligus immateri. Karena pada dasarnya manusia tidak hanya berasal dari tanah (nutfah) namun juga ruh (Allah).

Sehingga bisa jadi pelajaran dalam kehidupan sehari-hari kita agar nilai dari bulan ramadhan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di luar bulan ramadhan. Tentu, agar sehat jiwa dan raga, lahir dan batin. Selamat menunaikan ibadah puasa guys.


Read More

7.3.19

Digital Branding, Kampanye Efektif dan Murah Calon Legislatif

Foto: @abahraka
Menjelang dimulainya kampanye pemilu 2019 yang tinggal menghitung hari, ada 3 orang yang menghubungi saya untuk sekedar ngobrol dan sharing tentang kampanye untuk pencalonannya sebagai caleg untuk pemilu 2018. Ada yang sekedar silaturahmi karena telah lama tidak pernah kopi darat, walaupun jarak rumahnya dekat. Ada yang sengaja menghubungi karena butuh semacam diendorse sosoknya pada media sosial. Ada juga yang secara verbal minta bantuan dan arahan untuk pengelolaan media digitalnya.

Untuk yang pertama mengira bahwa kampanye melalui digital cukup dengan posting dan menggunakan media sosial ads. Untuk yang kedua, sampai akhirnya ngobrol hingga larut malam, mengira bahwa dengan membuat banyak media dan iklan media massa cukup lumayan untuk kampanye.

Secara substantif tidak ada yang salah dengan posting berkala, iklan di media sosial, ataupun publikasi pada media mainstream bagi balon legislatif tersebut. Hanya saja, pada akhirnya akan sia-sia karena balon tersebut hanya dikenal saja tetapi tidak menjadi top of mind dalam benak pemilih. Hal ini karena apa yang dilakukan balon dengan netizen lain yang aktif di media (baik medsos atau mainstream) tidak ada pembeda. Bahkan tidak jelas nilai yang diperjuangkan oleh balon.

Saat membuka situs anggota legislatif, katakanlah yang sedang menjadi selebritinya sekarang adalah Fahri Hamzah dan Fadhli Zon. Sekilas dari tampilan profil digitalnya (web) tidak jelas nilai apa yang mereka perjuangkan. Tidak ada gambaran sama sekali bahwa mereka sedang memperjuangkan nilai tertentu, masyarakat tertentu, atau isu tentang kemanusiaan. Walaupun secara brand, semua tahu bahwa FH dan FZ ini adalah orang-orang yang kritis terhadap pemerintah. Tapi sekilas hal tersebut tidak tergambarkan dalam profil digital mereka. Profilnya terlalu general sebagai tokoh publik. Terlalu general. Walaupun hal berbeda akan didapatkan jika kita mengikuti dan menguliti isinya. Atau secara berkala kita tengok twitternya, karakter mereka cukup kuat untuk menjadi pembeda dengan anggota legislatif yang lain.

Saat membuka profil lain, misalnya Budiman Sudjatmiko (BS) dan Rike Diah Pitaloka (RDP), kebetulan mereka dari PDIP. Walaupun sekarang mereka lebih banyak diam daripada mengkritisi kebijakan pemerintah.  Akan tetapi, sekilas pandang saya menemukan aura beda dari tampilannya. Terlihat jelas juga bahwa ada nilai yang diperjuangkan. Misalnya dalam tampilan profilnya tergambar bahwa BS adalah sebagai pejuang nilai-nilai pedesaan. Hingga muncul kesan bahwa dialah yang melahirkan UU pedesaan. Begitu juga saat mengintip profil RDP, kesan yang muncul adalah bahwa dia pejuang kaum buruh. Salah satu yang menjadi concern-nya adalah masalah upah.

Walaupun FH dan FD memiliki brand yang kuat sebagai tokoh publik dengan konsistensinya yang terus mengkritisi pemerintah. Namun jika jarang mengikuti dan kita buka profil digitalnya sekilas, kita kesulitan menangkap kesan tentang nilai yang dia perjuangkan. Nah, bagaimana jika hal ini terjadi pada balon legislatif yang notabene tidak populer FH, FD, atau BS dan RDP. Oleh karena itu, yang pertama dilakukan oleh balon legislatif baru adalah dengan membuat pembeda. Pembeda menjadi salah satu kekuatan dalam memasarkan diri.

Meminjam konsep Hermawan, seorang pakar marketing, ada 2 lagi kekuatan lain yang dapat menggerakan  kampanye balon, yaitu positioning dan brand. Pendiri Asosiai Marketing Asia tersebut menyebutnya sebagai konsep PDB yang menghasilkan 3i. PDB merupakan kependekan dari Positioning, Differentiation, dan Brand. 3i sendiri adalah Brand Integrity, Brand Identity, dan Brand Image. Konsep ini merupakan pijakan dasar dalam marketing 3.0 yaitu collaborative, cultural, dan spiritual. Konsep ini dapat diaplikasikan saat memarketingnya diri sendiri dalam kontestasi politik menuju DPRD/ RI tahun 2019 mendatang.

Mari kita mulai...
Merujuk pada konsep 3i di atas, pertama, mau tidak mau seorang balon harus mampu merumuskan visi misinya dengan cara kolaborasi (collaborative). Partisipasi dari konstituen menjadi keniscayaan agar balon terhubung dengan konstituen. Kolaborasi memberikan penghargaan dan eksistensi konstituen, bahwa mereka bukan kambing conge. Konstituen adalah pribadi-pribadi kreatif dan punya kehendak bebas sehingga perlu diberikan ruang eksistensi. Tentu ini bukan kerja yang mudah dan enteng. Apalagi bagi politisi pemula yang bukan organisatoris atau bukan pula aktivis. Akan tetapi, jika balon telah memulainya sejak lama, hanya tinggal melanjutkan dan menguatkan nilai apa yang hendak diperjuangkan bersama-sama konstituen.

Kedua, balon juga harus berada di tengah-tengah masyarakat, membumi dengan konteks. Agar tidak asing dalam persfektif masyarakat. Bukan hanya terhubung tapi juga diakui sebagai bagian dari masyarakat. Hal ini penting karena masyarakat begitu sensitif dengan tradisi. Jangan sampai balon atau sebaliknya merasa asing satu sama lain. Oleh karena itu, misalnya orang-orang yang berasal dari daerah Dapil seringkali menyesuaikan dengan kultur masyarakat dapil. Mulai dari berbahasa, berpakaian, panggilan juga. 

Ketiga, melengkapi keterhubungan dan pembumian diri dengan spiritualitas. Spiritualitas bukan hanya hal-hal yang berhubungan dengan sesuatu yang maha. Namun juga mampu mewujudkan nilai-nilai kemahaan menjadi nilai kemanusiaan. Ingat pernyataan Ali Syariati, spiritualitas adalah melalui tangannya menuliskan ayat-ayat suci dari langit serta terbenam dalam genangan lumpur dan mengayungkan kayu untuk menyuburkan tanah yang kering, ia berdiri tegak memperjuangkan ayat-ayat dan hak-hak masyarakat. Pada prinsip ketiga inilah nilai itu muncul, yang akan menjadi pembeda sekaligus. Sehingga bukan hanya positioning dan differensiasi, seorang balon juga akan muncul brand-nya.

Lalu, bagaimana mengaplikasikan konsep tersebut sehingga mudah terwujud dalam konteks pemasaran diri? Berikut beberapa teknik yang saya kutip dari beberapa referensi...

Teknik Personal Branding
Pada dasarnya personal branding adalah upaya seorang balon untuk menjadikan namanya mudah diingat dan calon pemilih langsung mengasosiasikan dengan keunggulan tertentu. Jika saya sebutkan nama yang sudah saya sebutkan di atas; Farhri Hamzah, Fadli Zon, Budiman Sujatmiko, atau Rike Diah Pitaloka. Konstituen akan mengasosiasikan dengan sifat-sifat tertentu. Fahri Hamzah selain kritis juga orang yang cukup lurus, Fadli Zon selain terkenal kritis sebagai oposan juga punya kepedulian terhadap artefak dan budaya intelektual. Terlepas brand keduanya tidak langsung muncul saat mengintip profilnya dalam personal websitenya.

Ada beberapa prinsip yang dapat dilakukan untuk melakukan personal branding, seperti ditulis oleh Silih Agung Wasesa (2018).

Nama
Nama menjadi yang pertama diingat dalam konteks apapun. Sukarno dan Hatta memiliki panggilan populer Bung Karno dan Bung Hatta. Ia seorang proklamator, orang yang disegani, melalui panggilan bung di depan nama pendeknya membuat Soekarno dan Hatta lebih familier sebagai seseorang yang memiliki jiwa patriot dan negarawan. Akan tetapi saat panggilan bung ini kita pakai misalnya di organisasi pemuda, justeru menjadi asing. Karena konteksnya sudah berbeda.

Begitu juga saat caleg atau kepala daerah yang berasal dari Sunda menggunakan panggilan ‘Kang’. ‘Kang’ yang biasanya digunakan dalam konteks keorganisasian menunjukan stratifikasi bahwa yang dipanggil ‘kang’ lebih senior dan disegani. Untuk menciptakan suasana saling menghargai rasanya pas menggunakan panggilan ‘kang’. Akan tetapi di dunia baru yang serba egaliter, tampaknya panggilan ‘Mang’ lebih membumi, dekat, dan egaliter dibandingkan ‘kang’ yang memiliki jarak. Mang juga mengasosiakan bahwa dirinya memosisikan sebagai seseorang yang dapat dijangkau oleh siapapun.

Untuk memberikan nama panggung, panggilan depan dengan ‘Mang’ misalnya ‘Mang Ahmad’ akan lebih terasa familier oleh masyarakat dari semua kalangan. Ini juga menjadi pembeda di antara orang Sunda yang rata-rata menggunakan kata ‘Kang’ sebagai panggilan. Dan tentu saja banyak pilihan untuk menjadikan nama kita sebagai nama panggung dalam dunia politik.

Muda dan Pemberi Harapan
Sukarno pernah memberikan pernyataan “berikan aku 10 pemuda maka akan aku guncang dunia”. Pernyataan tersebut relevansinya kini sangat kuat. Hermawan Kertajaya, pakar marketing menjadikan kaum muda sebagai lokus gerakan dan perubahan. Lihat saja para pemberi harapan di era disrupsi, rata-rata kaum muda. Perusahaan pertama yang mencapai nilai saham 1 trilyun adalah Nadiel Makarim yang notabene masih muda. Begitu juga Ahmad Dzaki yang memberikan harapan terhadap pelaku UKM di Indonesia notabene masih berumur 30-an. Yoris Sebastian, Yasa Singgih, dan mereka juga para milyarder dunia seperti Mark Zuckerberg notabene memulai melakukan perubahan saat masih sangat muda. Oleh karena itu kesan dan ide-ide yang mengasosiasikan dengan sesuatu yang menjadi muda harus digalakkan. Seorang balon harus mampu memiliki penampilan, cara bicara, semangat, dan ketahanan fisik sebagai anak muda.

Prabowo lebih memilih Sandiaga Uno yang punya penampilan muda, begitu juga Jokowi memilih Erick Thohir untuk mengimbangi para pemilih pemula yang rata-rata harus didekati dengan pendekatan kekinian. Era digital, kaum muda menjadi salah satu lokus dan dinamisator. Bisakah balon menampilkan diri sebagai yang muda dan memberi harapan?

Go Digital
Wasesa (2018) memberikan beberapa tips praktis, bahwa salah satu pintu masuk instan ke generasi X, Y, dan Z adalah melalui etalase digital. Dalam etalase digital, sosok caleg dapat dikonstruk agar sesuai keinginan. Tetapi bukan berarti asal posting dan tulis. Butuh teknik dan keahlian agar sosok caleg berkarakter. Seperti ditulis Wasesa, pertama  memiliki narasi tunggal kepribadian. Caleg harus memiliki team atau agen-agen digital yang tersebar di setiap titik yang membicarakan secara tunggal dengan bahasanya masing-masing yang walaupun gayanya beragam, namun isunya seragam. Kedua,  terkoneksi dengan netizen. Bukan hanya di dunia maya, tetapi juga di dunia nyata. Ketiga menemukan KPI. KPI terukur dari indikator yang ada pada setiap platform arus utama pada media digital; engangement, reach, impression, output, out-take, dan outcome. Keempat, rencanakan editor plan. Seorang balon sudah menyiapkan konten-konten yang mendukung terhadap konstruksi personal branding untuk didistribusikan setiap harinya. Bukan hanya konten, kelima, balon juga harus sering ‘hadir’ dalam dunia maya, menyapa, menjawab, memberi suara, atau kontestasi ide sesuai dengan nilai yang diperjuangkan.

Meminjam point penting yang selalu disampaikan Hermawan dalam Marketing 3.0, go digital harus selalu terkoneksi; lekat dan dekat dengan 3 hal yaitu kaum muda, emak-emak, dan netizen. Hal ini tampaknya selalu digaung-gaungkan sebagai bentuk kesadaran dari para kontestan politik di negeri ini.***[@abahraka]
Read More

17.3.18

Literasi: Hati-hati dengan Remarketing Google!

sumber: google
Tulisan ini terinspirasi status Kang Isjet, Chief Community Editor Kompasiana. Ia memosting status tentang bumerang terhadap seorang pegiat media digital yang bermaksud menyerang sebuah situs muslim atau dengan kata lain menjelek-jelekkannya namun justeru berbalik menyerang dirinya sendiri. Tak tanggung-tanggung jabatannya sebagai pendiri dan juga direktur. Serangan yang dilakukan oleh orang tersebut adalah memosting iklan yang muncul pada sebuah situs berita muslim. Iklan yang dimaksud adalah iklan berbau pornografi.

Terlepas benar atau tidak, hoax atau bukan. Google menampilkan iklan berdasarkan kata kunci yang biasa dicari oleh para peselancar. Contohnya, sebulan yang lalu atau beberapa minggu yang lalu saya mencari lensa Nikon 18-200 mm. Saya lakukan banyak pencarian di berbagai marketplace agar mendapatkan harga termurah dan juga barang terbaik. Walaupun pada akhirnya belum membelinya karena alasan keuangan. Setiap saya buka situs apapun, situs yang memasang iklan google akan menampilkan iklan lensa nikon tersebut. Kita seakan diikuti oleh iklan tersebut kemana pun kita pergi. 

Dalam istilah digital marketing, google sendiri menamakannya sebagai remarketing – pemasaran ulang display yang dipasang atau barang yang dipasarkan. Untuk para pemasar cara ini sangat efektif, karena sekali barang kita dicari oleh seseorang, maka kemungkinan besar barang yang kita kampanyekan pada google adword akan terus muncul pada alamat email yang kita gunakan untuk mencari barang tersebut. 

Sama halnya saat kita mencari suatu video pada youtube, saat kita buka lagi keesokan harinya youtube kita melalui alamat email yang sudah terpasang, maka akan muncul lagi video yang kita cari. Dalam keterangannya, google menulis bahwa remarketing adalah,”Kampanye pemasaran ulang digunakan untuk menampilkan iklan kepada orang yang pernah mengunjungi situs web Anda atau menggunakan aplikasi Anda. Kampanye ini menyediakan setelan dan laporan tambahan khususnya untuk menjangkau pengunjung dan pengguna sebelumnya.” Begitu kata google.

Belakangan seorang teman seperti ditulis pada paragraf di atas memosting twit seorang pegiat media digital yang menyerang situs Islam melalui cuitannya. Cuitannya menampilkan bahwa situs Islam tersebut mengingklankan ‘pornografi’. Ia meng-capture iklan pornografi tersebut. Kalau rujukannya remarketing, apa yang dicuitkan adalah pengulangan apa yang sering dicari. Saat membuka situs lain, apa yang dicari akan muncul kembali.

Bagi orang awam—seperti saya, bisa jadi dengan polosnya akan menuduh,”wah parah nih, situs Islam kok ngiklanin pornografi,” tentu saja dengan yakinnya. Jika kebencian saya sudah mendalam terhadap situs Islam tersebut, saya akan capture dan menyebarkannya di akun media sosial saya. Agar kredibilitas situs Islam tersebut jatuh. Ya, mungkin dengan begitu dahaga kebenciannya terlampiaskan. Apalagi situs Islam tersebut seakan-akan selalu berhadapan dengan cara pandangnya yang berseberangan. 

Tapi sayang, dalam persfektif remarketing, justeru apa yang saya sebarkan memperlihatkan ketidaktahuan saya tentang dunia digital. Perilaku saya menjadi bumerang untuk saya sendiri.

Karena pada dasarnya iklan yang ditayangkan/ ditampilkan oleh sebuah situs—khususnya yang berasal dari google adalah apa yang belakangan sedang dicari-cari. Saya kutip dari toffeedev.com, remarketing memberikan sebuah cara efisien untuk menampilkan iklan spesifik kepada mereka yang pernah mengunjungi website. Ini merupakan cara terbaik untuk terhubung kembali—saya ulangi—untuk terhubung kembali dengan orang-orang yang belum pernah menjadi pelanggan saat mengunjungi website. Dengan kata lain, saat seseorang mencari pertama kalinya sudah produk/ jasa, ia akan mendatangi lagi dengan iklan yang relevan dengan apa yang pernah dicari. Remarketing didasari beberapa kegiatan yang dilakukan seseorang di dalam website yang dikunjungi.

Pelajaran yang bisa saya petik, kritis harus tapi sebelum melakukan kritik harus melakukan literasi—literasi digital. Agar kritik kita lebih elegan dan tidak jadi bumerang. Alih-alih menjadi produktif malah destruktif terhadap diri sendiri. 

Tentu saja tulisan ini pada akhirnya bukan tentang tips beriklan dengan melakukan remarketing tetapi lebih pada karakteristik dunia digital yang benar-benar transparan. Perilaku kita akan ditunjukan sendiri oleh media yang kita jajaki. Apa yang kita lihat, apa yang kita lakukan di media digital akan diperlihatkan juga kepada orang lain. Di Era digital perilaku kita menjadi transparan, bahkan sekalipun kita menggunakan akun samaran.***[]
Read More