Showing posts with label Jalan-jalan. Show all posts
Showing posts with label Jalan-jalan. Show all posts

13.12.20

Menepi di Cantigi

Menepi di Cantigi. Salah satu area permainan, Cantigi Camp. 

Pandemi, membuat hidup setiap orang menyisi. Bukan hanya soal ekonomi, juga emosi dan ketertekanan diri. Jiwa menjadi sepi. Setiap hari bertemu dengan dinding persegi, juga pintu yang seringnya menutupi penghuni.

Bosan iya, jenuh pasti. Keuangan terkurangi. Banyak agenda tertunda tanpa permisi. Karena setiap orang telah memaklumi. Satu kata, karena pandemi.


Minggu pertama Desember tahun 2020 ini, sejak pagi telah bersiap diri. Berniat pergi ke satu area wisata lokal yang sedang populer di Bandung Timur. Batu Kuda Gunung Manglayang.


Walaupun telah dua kali berkunjung ke sini, namun itu dilakukan saat tempat wisata yang lebih pas disebut sebagai hutan pinus ini, mengubah diri sejak beberapa tahun lalu. Sehingga cukup penasaran sekadar mengenali lagi area yang masih satu desa dengan rumah kami.


Menggunakan kuda besi hitam, kami pun beranjak menuju lokasi. Sayang, saat itu jalan menuju area sedang diperbaiki dengan cara dibeton. Akhirnya kami mencari jalan alternatif lain. Setelah tanya-tanya, akhirnya kami mendapati jalan alternatif. Sayang, hujan cukup merapat hingga tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan. Daaan kami pun kembali.


Namun teringat, di penghujung libur panjang yang melelahkan, kami pernah mengunjungi satu tempat yang tidak kalah menariknya. Ya, saat itu, Agustus 2020, menjelang penutupan libur sekolah pagi. Mencoba membuka diri, menghirup udara yang lebih hijau dibandingkan tetanaman halaman yang seuprit. Masih berada di kecamatan yang sama. Cileunyi belok kiri atas. Menuju ke arah Timur Bandung. Suatu lokasi yang masih asri dan pepohonan menjulang tinggi. Tempat parkir tertata rapi. Tepatnya berada di daerah Manjah Beureum Cileunyi Wetan. Cantigi Camp namanya.


Cantigi; dari Outbond, Camp, hingga Wisata Keluarga

Menepi di Cantigi. Salah satu area permainan, Cantigi Camp. Perosotan.


Cantigi Camp, dilihat dari namanya merupakan area tempat perkemahan. Di area paling tinggi dan atas terdapat lapangan cukup luas dengan dikelilingi oleh saung-saung yang cukup luas juga. Memang, sepertinya area ini disediakan khusus untuk perkemahan grup.

Namun, dengan kunjungan personal, Cantigi juga merupakan suatu area rekreasi keluarga, tepatnya tempat hang out bergaya outbond. Bukan hanya saung-saung tempat menepi dari hujan dan panas. Juga nyaman jika digunakan untuk botram alias makan bersama keluarga atau sanak famili lainnya.


Sebagai tempat outbond, Cantigi memiliki lapangan cukup luas. Lapangan di sana sini. Wajar karena lapangan tersebut merupakan area perkemahan. Selain bisa digunakan untuk kelompok atau grup besar, juga untuk keluarga kecil yang  merindukan suasana asri, sejuk, dan jauh dari hiruk pikuk kendaraan dan polusi udara.


Keluarga yang memiliki anak-anak laki-laki bisa bermain bola tanpa terganggu pengunjung yang menggunakan fasilitas outbond. Pepohonan yang menjulang tinggi, bisa melindungi dari sorotan matahari tengah hari. Sehingga tidak khawatir kepanasan. Bahkan tidak khawatir anak-anak tersesat di kerumunan orang. Karena masih bisa terpantau dari kejauhan sejauh mata memandang.


Bangunan yang cukup luas dapat digunakan untuk acara-acara ultah bergaya outdoor. Atau sekedar memberikan tutorial untuk peserta pelatihan perusahaan kecil. Beragam fasilitas juga tersedia; perosotan, kolam lengkap dengan perahu, juga kolam untuk melatih keseimbangan. Begitu juga dengan ada flying fox khusus untuk anak-anak, selain juga untuk dewasa yang lebih tinggi dan lebih panjang talinya. Sayangnya, flying fox untuk keluarga berbayar hehehe.


Memiliki embel-embel Camp, Cantigi terkesan serius khusus untuk tempat kegiatan outbond, tapi cocok untuk wisata atau tempat piknik keluarga. Hampir pada setiap tempatnya memiliki tempat duduk-duduk selain menyediakan saung-saung, baik untuk kapasitas 5 orang atau 15 orang.  


Jika tidak ingin repot membawa makan dari rumah, tempat ini sebetulnya menyediakan resto lengkap dengan saung gazebo-nya. Bahkan sepertinya, terdapat dapur khusus sebagai ruang produksi makanan. Sayang, memang karena masa pandemi resto ini harus tutup sementara waktu.


Sebagai informasi, saat saya mengunjungi tempat ini, area parkir sedang diperluas. Sepertinya pengelola sedang melakukan perluasan tempat agar pengunjung bisa lebih nyaman dan aman memarkirkan kendaraannya.


Saya sendiri, selain lebih menikmati suasana hehijauan Cantigi, lebih menikmati sebagai latar untuk foto-foto anak. Kebetulan sudah lama tidak pernah foto anak-anak.


Murah Meriah

Tiket masuk dipatok rata Rp.7.500.-/ orangnya. Baik dewasa maupun anak-anak, terkecuali balita tidak dihitung. Dengan harga murah tersebut, pengunjung bisa menikmati semua fasilitas yang ada di Cantigi Camp. Pengecualian Flying Fox untuk dewasa, pengunjung harus mengeluarkan lagi koceknya seharga Rp.15.000,-/ orangnya. Namun, bagi anak-anak (kids) disediakan fasilitas flying fox gratis yang satu area dengan fasilitas ayunan.


Pengunjung bisa berpuas ria menikmati semua fasilitas dan bermain bersama sanak keluarga sambil menikmati udara sejuk yang berasal dari pohon-pohon menahun dan meninggi. Suasana yang nyaman, Cantigi Camp juga bisa dijadikan sebagai tempat bersantai, ngopi, ataupun berleha-leha dengan fasilitas Gazebo yang tersedia.


Tempat ibadah dan toilet yang sangat urgent dalam bepergiaan, juga tersedia di sini. Sehingga tidak perlu khawatir, dapat memfasilitasi keperluan beribadah, khususnya bagi muslim. Jika memasuki waktu ibadah, pengunjung tidak repot mencari mushola.


Menuju Cantigi

Tinggal ketik Cantigi Camp untuk Mapsnya.

Cantigi Camp cukup mudah dijangkau dengan kendaraan pribadi ataupun menggunakan Opang. Tempatnya berada di daerah Manjah Bereum Cileunyi Wetan. Sekitar 7 km dari Bunderan Cibiru, sekitar 20 menit waktu perjalanan. Jika posisinya dari Cileunyi sekitar 3,5 km dari Jalan Raya Cileunyi (terminal) atau sekitar 12 menit.


Bagi baraya yang hendak mengunjungi tempat ini dengan menggunakan kendaraan pribadi, jalan masuknya tepat berada di sebelah kiri ujung jalan percobaan Cileunyi menuju arah Sumedang. Jika arahnya dari Sumedang maka belok kanan pas sebelum masuk jalan percobaan.


Cukup 2 jam berada di sini, dan kepenatan karena selalu diborder oleh pintu dan langit-langit rumah, akhirnya terbayar setitik dengan suasana hijau Cantigi, saya bisa menikmati kembali langit asli ciptaan Tuhan. Cantigi bisa jadi tempat wisata keluarga alternatif terdekat bagi yang tinggal di sekitar lokasi, Cileunyi dan sekitarnya.***[]

 

Read More

8.12.20

Menapak Jejak Peninggalan Bosscha

Menapak Jejak Peninggalan Bosscha. sumber foto: Bambang Diskominfo Kabupaten Bandung 

Meneer Belanda, K.A.R. Bosscha, administratur perkebunan teh yang memiliki banyak kontribusi untuk kemajuan masyarakat Priangan. Bukan hanya Observatorium Bosscha Lembang, juga PLTA, Sekolah Teknik ITB, dan inovasi perumahan untuk pekerja perkebunan.
Janari gede, mataku telah terbuka, bersiap bebersih badan dan hidup normatif sebagai manusia beragama. Namun, bukan hanya soal itu. Karena pukul 5.00 pagi hari, telah ditunggu oleh sekawan, memburu janji untuk meluncur ke Neglawangi. Karena itu, pukul 04.00 setelah sameang, kuda besi tuaku telah menapaki jalan kecil desa, membelah jalanan kota.


Bersama tim Sarebu Kampung, Adhie Nur Indra, Asep Soehendar, Bambang, Anton, Kamal, dan Hendar, kami bergegas menuju ketinggian 2000-an mdpl, melalui jalur Pangalengan. Menuju tapal batas kabupaten Bandung. Blok Sedep - Neglawangi.


Neglawangi, salah satu desa di Kecamatan Kertasari, satu jam perjalanan dari kota kecamatan Pangalengan atau sekitar 30 km jaraknya. Kurang lebih tiga jam perjalanan dari Soreang, Kota Kabupaten Bandung atau sekitar 55 km arah Selatan Bandung. Dengan jarak tempuh dan waktu yang tidak sepadan, jangan bayangkan jika jalannya datar dan lurus seperti kota. Walaupun secara infrastruktur sudah cukup baik. Kelokan-kelokan yang bisa membuat pusing dan muntah, menjadi salah satu alasan kenapa waktu tempuh dan jarak seakan tidak berompromi.

Akan tetapi, saat menginjakkan kaki, tepat di depan Desa Neglawangi, terbayar sudah pusing dan mual karena kelokan. Mentari tersenyum, menjadi ciri bahwa pagi telah terlewati. Namun, kami masih betah berjaket. Aparat pun menikmati mengenakan kupluk. Udara dingin terasa meliuk-liuk mengitari badan yang masih berlum terbiasa dengan suhu 170 c atau berada pada ketinggian 1764 MDPL. Petugas desa bilang, jika sedang dingin-dinginnya, udara bisa sampai 50 c.


Perkenalan kecil dengan sejumlah aparat desa, penggerak KIM Neglawangi, dan penggerak informasi & pariwisata; Ibu Sekdes, Iwan Hadiana, Yusep Zamaludin, dan Reva Gumelar menjadi penghangat suasana, sebelum melakukan perjalanan dan liputan. Cerita-cerita kecil lalu berubah menjadi gelak tawa, bersama punggawa. Sebelum akhirnya, saya tersadar bahwa lokasi kantor desa yang menjadi tempat kami bercengkrama, adalah jalan kawah Papandayan.


Nama jalan tersebut, seakan menghantarkan saya untuk pulang ke kampung halaman. Tak pelak, karena jalannya dinamai dengan jalan Kawah Papandayan, tempat masa muda mengadu andrenalin dengan dingin dan gelapnya Pondok Saladah, di tempat kelahiran. Ya, jalan ini menghubungkan Kabupaten Bandung dan Garut melalui jalur Gunung Papandayan.


Terbersit mimpi masa remaja yang tak pernah terlaksana, untuk menapaki Tegal Arun dan Tegal Panjang yang menjadi penghubung Kabupaten Bandung dan Garut. Sebagai pencapaian gengsi para pendaki pemula di gunung Papandayan.


Bukan Tanam Paksa

Menapak Jejak Peninggalan Bosscha. Sumber foto: Bambang Diskominfo Bandung

Setelah personil lengkap; aparatur desa, kelompok informasi masyarakat, serta kelompok penggerak pariwisata desa Neglawangi. Kami pun, menuju tempat ‘perjamuan’ pertama, yaitu Villa Belanda, yang dibangun tahun 1926. Villa ini awalnya merupakan rumah dinas kepala bagian perkebunan blok Neglawangi, yang masih menggunakan bahasa Belanda, Sinder Apdeling. Beberapa kali alih fungsi, akhirnya eks rumah dinas pejabat perkebunan ini berubah fungsi menjadi villa.


Tidak seperti perkebunan teh di wilayah Garut dan Purwakarta, Perkebunan teh Neglawangi, walaupun memiliki sejarah yang kuat dengan tanam paksa, namun pembukaan lahannya didasarkan pada investasi para pemodal, sehingga bukan bagian dari politik balas budi Belanda atau istilah yang lebih populer saat itu, cultuurstelsel.


Sebagian besar perkebunan-perkebunan teh besar di Indonesia, merupakan peninggalan dari program tanam paksa bangsa Belanda. Bibit tehnya sendiri dibawa oleh mereka untuk keperluan bisnis. Sebagaimana halnya diceritakan dengan baik oleh Pramoedya Ananta Toer dalam tetralogi Pulau Buru, yang salah satunya telah diangkat menjadi film Bumi Manusia.


Perkebunan teh, merupakan bagian dari jejak tanam paksa. Hanya saja, ceritanya sedikit berbeda, karena perkebunan teh tersebut dikelola oleh generasi ke-2 dari investor Belanda. Generasi ini merupakan kelompok pemodal yang datang setelah dihilangkannya politik tanam paksa.


Generasi pertama teh di tatar priangan, yang bermula tahun 1827 memokuskan area penanaman di daerah Garut dan Purwakarta. Setelah muncul UU Agraria tahun 1870, tanam paksa berakhir. Dan pengusaha teh berdatangan sebagai investor yang menyewa tanah-tanah rakyat. Lalu pada tahun 1896 Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang sepupu pengusaha teh di priangan datang sebagai pekerja perkebunan teh Malabar Pangalengan.


Wajar, jika perlakuan dari meneer Belanda, pada periode kedatangan generasi kedua ini berbeda dengan generasi pertama di perkebunan teh Garut dan Purwakarta. Meneer-meneer Belanda bersikap dan memperlakukan masyarakat dengan sangat baik, bahkan disediakan perumahan khusus untuk pekerja pribumi. Mereka pun dikenang masyarakat.


Jejak Bosscha; dari Pembangkit Listrik, Sekolah Teknik hingga Gunung Nini

Saat menapaki jalan menuju Gunung Nini Bandaasri Pangalengan, sebuah penunjuk jalan bertuliskan Makam Bosscha terpampang di sebelah kiri jalan. Apa hubungannya dengan Observatorium Bosscha yang populer di Lembang?


Ya, saya baru menyadari, lebih tepatnya mengetahui setelah berbincang dengan pengelola tempat Wisata Gunung Nini. Bahwa hamparan perkebunan teh yang luas di Pangalengan merupakan peninggalan Bosscha. Bukan hanya pangalengan, namun tersebar ke sejumlah tempat termasuk Neglawangi dan Lembang.


K.A.R. Bosscha merupakan Meneer Belanda yang memiliki kepedulian sosial dan pendidikan yang  tinggi. Tidak hanya membangun pusat observasi Bosscha yang terkenal di lembang, juga mendirikan sekolah teknik pertama di Indonesia, atau sekarang yang dikenal dengan Institut Teknologi Bandung.


Awalnya, Bosscha bekerja sebagai administratur pada perkebunan milik sepupunya yang menjadi pioneer perkebunan teh di Jawa Barat, khususnya wilayah Garut, Bandung, dan Purwakarta, keluarga KF Holle dan Kerkhoven.


Bosscha sendiri masih berkerabat dengan Kerkhoven. Namun, selama bekerja Bosscha banyak melakukan inovasi. Ia mendirikan perumahan untuk pekerja perkebunan. Ia juga mendirikan pabrik teh Malabar. Selama menjadi administratur, ia berinovasi membuat pembangkit listrik tenaga air yang menjadi sumber energi bagi pabrik teh.


Pembangkit listrik tersebut, berada di perbatasan Kabupaten Bandung dan Garut, masih berfungsi dengan baik. Dibangun tahun 1924. Hingga kini masih memiliki fungsi menjadi sumber listrik bagi pabrik teh yang berada Neglawangi.

Generasi kedua meneer Belanda ini, tidak hanya menjadi pengusaha teh, mereka juga sangat cinta dengan kebudayaan dan masyarakatnya. Wajar jika mereka juga sangat menyatu dengan masyarakat. Hingga akhirnya dicintai oleh masyarakat. Bosscha sendiri ingin dimakamkan di tengah-tengah perkebunan, tepatnya pada perkebunan teh Malabar, tepat di area menuju Gunung Nini.


Gunung Nini, merupakan sebuah bukit tinggi di tengah pegununang setinggi 1760-an mdpl yang bisa melihat hamparan pohon teh 360 derajat. Menurut pengelolanya, Gunung Nini merupakan tempat favorit K.A.R. Bosscha untuk memantau keadaan perkebunan yang menjadi tanggung jawabnya. Setiap harinya, ia selalu melakukan pemantauan.


Salah satu cerita yang disampaikan oleh Bosscha saat memantau, setiap menjelang siang selalu datang seorang nenek-nenek yang membawakannya makan. Sampai akhirnya tempat tersebut dinamai gunung Nini. Kini, gunung Nini, dikelola oleh Karang Taruna Bandaasri Pangalengan. Menjadi tempat wisata swafoto 360 derajat.


Gunung Nini mudah dijangkau dengan kendaraan pribadi, baik roda dua atau roda empat. Jalan menuju gunung Nini cukup bagus, walaupun saat menapaki pegunungannya belum diaspal. Namun cukup nyaman untuk dilalui. Dengan tiket Rp.10.000,- per orang, wisatawan bisa menikmati pemandangan eksotis hamparan perkebunan teh dari ketinggian 1700-an mdpl. Pengelola menyediakan saung-saung terhubung satu sama lain untuk berswafoto ataupun istirahat sambil menikmati kuasa dan keindahan ciptaan Allah. ***[abahraka]

Read More

22.10.19

Menikmati Senja di Karang Papak

Foto: dokumentasi pribadi (@abahraka)
Pernah punya mimpi, suatu saat ingin sekali melakukan ekspedisi Pantai Selatan Garut, dari mulai Pantai Cicalobak, Cijeruk hingga menyusuri Sayang Heulang, Santolo dan berakhir di Rancabuaya. Adalah tahun 2008 atau 11 tahun yang lalu, pernah ngetrip ke Rancabuaya melalui jalur konvensional; Cikajang, Pakenjeng, Bungbulang dan sampailah Rancabuaya. Sedangkan kepulangan menggunakan jalur selatan yang waktu itu relatif masih baru. Jalannya pun masih aspal biasa dan kecil layaknya jalan kecamatan di sebuah kabupaten.

Lebaran tahun 2018 merupakan kunjungan keempat kali ke daerah Pantai Selatan. Niat menyusuri pantai selatan dari Cicalobak hingga Rancabuaya tidak pernah tertunaikan dengan berbagai macam alasan. Maka, cukup diniatkan, trip kali ini harus menambah referensi tentang pantai baru yang relatif anti mainstream atau yang jarang disebut oleh para pelancong; bukan Sayang Heulang atau Santolo, bukan Rancabuaya atau Cijeruk, bukan pula Cicalobak atau Karang Paranje. Ia adalah Karang Papak.

Berangkat dari Garut Kota jam 11.00. Pukul 14.00 telah sampai di Kota Kecamatan Pameungpeuk. Namun tidak seperti hari biasa, pada libur lebaran, Jalan Kota Kecamatan Pameungpeuk tidak berbeda dengan Kota Bandung atau Jakarta. Kemacetan jalan Pameungpeuk terjadi hampir sepanjang hari  hingga menuju bibir Pantai Santolo dan Sayang Heulang. Padat merayap. Baik menuju pantai atau yang pulang dari pantai. 

Siang hari, panas dan debu menyatu menyergap badan kami yang saat itu berbonceng menggunakan kuda besi. Sebentar-sebentar kendaraan yang kami tunggangi berhenti, jalan lagi. Menyalip ke sisi kiri menggunakan sisa-sisa jalan roda empat yang tak ingin kalah berlari. Seakan tak ingin menyisakan peluang untuk kendaraan lain. 

Selama dua jam, baik roda dua ataupun empat saling bersaing mendapatkan peluang agar bisa melaju sedikit-demi sedikit. Pukul empat sore, kami baru sampai pada pertigaan menuju Pantai Sayang Heulang. Waktu tempuh normal 15 menit dari kota kecamatan Pameungpeuk, musim libur lebaran ditempuh selama dua jam. Pameungpeuk yang menjadi jalur utama menuju pantai selatan Garut menjadi kota yang sibuk. Sanga padat. Laiknya metropolitan yang menjadi Ibu Kota Jawa Barat.

Jam menunjukkan pukul 16.00 WIB. Kuda besi kami masih terjebak di antara Pantai Sayang Heulang dan Santolo. Saat sampai pada pertigaan Santolo, jalanan tidak kalah padat dengan Pameungpeuk dua jam lalu. Si Kuda Besi akhirnya tidak kami arahkan ke Santolo, tapi kami arahkan menuju jalur Rancabuaya.

Satu kilometer lebih kami lalui sejak pertigaan belokan menuju Santolo. Batas warna biru laut tampak jelas terlihat dari kejauhan, semakin maju bertambah jelas terlihat dari Jalan Raya Cikelet. Kami tidak sadar bahwa gerbang menuju pantai tersebut telah terlewati. Dan sayapun memberikan kode kepada adik yang berbonceng di belakang untuk beristirahat dari perjalanan yang kami tempuh kurang lebih hampir 6 jam, dari Garut Kota sampai Cikelet.

Berhenti sejenak di pinggir jalan. Kami berjalan menggunakan kuda besi dengan pelan. Bertemulah dengan sebuah jalan setapak menuju pantai. Deburan ombak telah samar-samar terdengar. Makin mendekat suara semakin kencang. Kini pantai hanya terhalang oleh sebuah rimbun rerumputan. Motor akhirnya kami parkirkan di sebuah padang rumput kering. Pantai pun menganga di depan mata. Deburan ombak begitu jelas. Kami berada di Karang Papak. Sebuah pantai perawan yang masih dikelola warga.  

Pantai Karang Papak
Nama Karang Papak masih terdengar asing. Nama pantai yang sudah populer di Garut selain Santolo, Sayang Heulang, dan Rancabuaya; ada Cicalobak, Cijeruk, Manalusu, Karang Paranje, Gunung Geder, atau Cijayana. Walaupun beberapa pantai yang disebutkan belum saya kunjungi, namun sudah sering dijadikan catatan perjalanan oleh para pelancong baik domestik ataupun regional. Beberapa kanal seperti liputan6.com, kompasiana, atau blog-blog wisata juga sering menyebutkan pantai-pantai tersebut.

Karang Papak masih asing untuk disebutkan oleh kanal-kanal populer tersebut. Saat mencari informasi tentang Karangpapak, hanya ada satu blog yang cukup memadai memberikan informasi, jelajahgarut.com. Sebuah situs lokal yang menyajikan informasi wisata Garut beserta fasilitas guiding yang ditawarkan serta fasilitas lain yang diperlukan oleh pelancong seperti alat-alat berkemah. Namun, tidak memberikan petunjuk lengkap bagaimana mencapai ke sana atau bagaimana fasilitas penginapannya.

Begitu juga dengan wikipedia, belum ada keterangan tentang Karang Papak. Secuil informasi yang bertautan dengan wikipedia berasal dari googlemaps. Beruntung, terdapat 479 ulasan tentang Karang Papak yang bisa dijadikan pelengkap informasi, walaupun ulasan-ulasannya sangat singkat.

Merujuk pada keterangan googlemaps, pantai ini terletak sekitar 2,4 km dari Pantai Santolo. Namun jika ditempuh dari pertigaan Santolo kurang lebih 1 km. Jika Santolo harus masuk lagi ke dalam untuk menyaksikan pantainya. Karang Papak cukup terlihat jelas dari Jalan Raya Cikelet.

Pantai ini relatif baru, gapura masuknya masih tergolong sederhana, terbuat dari kayu dan bambu. Wajar saat kami melewati jalan ini, plang bertuliskan sambutan selamat datang tidak terlihat. Baru terlihat setelah kami mengitari dan menyusuri jalan di sekitarnya dan bertemulah dengan Gapura Selamat Datang.

Tidak jauh dengan retribusi di daerah Pameungpeuk, masuk Karang Papak cukup dengan Rp.10.000 per kendaran, itu pun jika mengunakan kendaraan roda empat. Sedangkan roda dua cukup Rp.5.000. Harga ini konon naik dua kali lipat karena musim lebaran. Masih relatif murah.

Sebagai pantai baru dan masih perawan, fasilitas di sekitarnya masih minim. Apalagi jika dibandingkan dengan Sayang Heulang dan Santolo. Hampir sepanjang pantai terdapat penginapan dan pemandian. Tidak banyak ditemukan tempat pemandian umum di Karang Papak, namun bukan berarti tidak ada. Saat saya dan adik menyusuri jalan tanah, bertemulah dengan sebuah pemandian umum yang hanya menyediakan dua kamar mandi. Untung suasana di pantai ini sepi, kamar mandi juga relatif tidak mengantri.

Awalnya kami menyangka hanya ada satu atau dua penginapan di area ini. Penginapan ini persis berada beberapa meter dari bibir pantai yang hanya dipisahkan oleh Jalan tanah. Walau demikian, jalan tersebut dapat dilalui kendaraan roda empat. Penginapan pada bibir pantai ini hanya menyisakan penginapan yang hanya memiliki satu kamar dan satu rumah,  juga beberapa bungalow. Harganya pada hari libur lebaran cukup tinggi, satu kamar untuk dua orang dihargai Rp.500.000,- sedangkan bungalow yang dapat menampung 15 s.d. 20 orang dihargai 1,5 juta rupiah.

Kami menyusuri jalan-jalan sekita Karang Papak yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua, ternya telah banyak penginapan. Ada yang hanya satu kamar, ada juga yang menawarkan ruang kontrakan yang lengkap antara kamar dan ruang depan. Begitu juga banyak pilihan kamar dan harga serta pilihan jenis kamar antara yang ber-AC atau tidak.

Artinya bahwa di Karang Papak sudah banyak fasilitas penginapan, walaupun tidak bisa dilalui semua dengan kendaraan roda empat dan tidak selalu berada di tepi pantai. Begitu juga dengan warung-warung yang menyediakan panganan dengan ikan dan seafod lainnya mudah ditemukan di warung-warung sekitar penginapan.

Hanya saja, jangkauannya tidak semudah di area Santolo ataupun Sayang Heulang. Saat libur lebaran 2018, saat kami mengunjungi Karang Papak, hampir semua penginapan terisi penuh. Jikapun masih kosong tidak sesuai dengan kriteria yang diinginkan, yang untuk 3 keluarga kecil. Jika pun ada kamar kosong ber-AC, harganya tidak normal alias mahal jika dibandingkan dengan kamar-kamar yang ditawarkan di daerah Santolo atau Sayang Heulang.

Menikmati Senja
Dokumentasi Pribadi (@abahraka)
Pantai Karang Papak masih belum banyak terjamah oleh para traveler. Oleh karena itu, saat kami sampai di area ini, pantainya masih kosong melongpong. Beberapa orang tampak terlihat menikmati suasana pantai yang sepi, tidak seramai Santolo dan Sayang Heulang. Sehingga kami bisa menikmati suguhan senja sore hari hingga terbenamnya matahari.

Hal ini sesuai dengan ekpektasi kami, jika tiba sore hari maka harus bisa menikmati sunrise pantai selatan Garut. Karena beberapa kali ke Pantai Selatan Garut, tidak kebetulan dengan kehadiran sunrise yang memesonakan mata.

Beberapa gambar saya ambil sebagai kenang-kenangan di Pantai tersebut. Anak-anak kami juga menikmati senja yang menghujani pasir pantai. Sebelum akhirnya mentari menghilang, anak-anak menyempatkan bermain pasir yang relatif berwarna abu cenderung putih.

Melalui senja, saya bisa mendapatkan kepolosan anak-anak yang masih usia taman kanak-kanak. Mereka begitu lepas bermain pasir dan menikmati semburan semburat senja yang sudah mulai tajam memerah. Di bawah hujan senja, anak-anak terlihat begitu mendamaikan.  Membuat hati para orang tua begitu teduh. Menambah rasa syukur akan kehadirannya dan kehadiran-Nya.

Begitu juga dengan senja sendiri. Ia adalah anugerah tak terhingga dari Tuhan, yang menciptakan keindahan begitu rupa. Keindahan warna senja adalah keindahan hidup itu sendiri, keindahan matahari berbalut dan bersembunyi di balik awan. Senja adalah cara kita bersyukur, cara kita mengetahui begitu agungnya keindahan yang diciptakan, pencipta yang maha Indah.

Walaupun tidak lama menikmati keindahan senja Karang Papak. Kami menjadi tahu bahwa menyaksikan semburat senja di Selatan Garut begitu memesona. Ia menjadi kesenangan tersendiri yang tidak bisa digantikan dengan barang berharga. Inilah jalan spiritualitas yang disuguhkan Tuhan kepada kita, makhluknya.

Senjapun beringsut berganti warga, dari kuning menyala, menjadi kuning kehitam-hitaman dan hilang di balik batas laut. Bersembunyi ke dasar laut sejauh pandangan mata. Sore berganti malam. Kesenangan pun berganti dengan hiruk pikuk persiapan menuju peraduan. Kami harus segera bersiap mengadu kepada Pencipta dan menuju ruang upacara senja. Menepikan badan-badan kami yang kelelahan sekaligus kenikmatan senja. Kami pun bergegas menuju penginapan.

Karena penginapan sekitar Karang Papak penuh, kami bergegas menuju Sayang Heulang.  Kami mengistirahatkan raga yang sejak pukul 11.00 menapaki jalan berkelok sejauh 100-an km yang ditempuh selama hampir 6 jam. Bersyukur kelelahan raga telah terbayar dengan ekspresi senja Pantai Karang Papak yang eksotis dan memesona. Sehingga kami masih bisa bercengkrama dengan keluarga kecil masing-masing di tempat istirahat depan Pantai Sayang Heulang.

Menuju Karang Papak
Pantai Karang Papak tidak jauh dari Pantai Santolo. Jika dari bibir pantai berjarak sekitar 2,4 km, lain halnya dari pertigaan menuju Santolo hanya sekitar 1 km. Sehingga sangat mudah dijangkau oleh kendaraan roda empat atau roda dua sekalipun. Mencarinya pun sangat mudah karena sudah memampang gapura bertuliskan ‘Selamat Datang Di Pantai Karang Papak”.

Jika dari kota Garut membawa kendaraan sendiri, langsung diarahkan menuju arah Bayongbong, Cikajang, dan menuju arah Pameungpeuk. Perjalanan normal dapat ditempuh 3 jam perjalanan dengan jarak 95 s.d. 100 km tergantung meltpointnya. Namun jika ditempuh dari Bandung jaraknya sekitar 160 km. Namun ada juga jalur lain melalui Ciwidey-Cisewu-Bungbulang dengan jarak tempuh sekitar 200an km, tentunya dengan menggunakan kendaraan pribadi.

Namun jika menggunakan kendaraan umum dapat menggunakan kendaraan elf atau bis ¾ yang menuju Ibu Kota Kecamatan Pameungpeuk. Dari Pameungpeuk terdapat angkutan umum—lebih bersifat omprengan menuju pantai sayang heulang atau Santolo. Untuk menuju karang tinggal melakukan negosiasi dengan sopirnya. Ongkos Elf dari Bandung sekitar 100.000, sedangkan dari Garut sekitar 65.000. (harga versi tetangga yang berasal dari pameungpeuk).***[]

 Referensi:
-          Pengalaman Pribadi
-          Liputan6.com
-          Googlemaps
-          Wikipedia.com
       Jelajahgarut.com

j






Read More

24.4.18

Bianglala di Atas Jakarta


Menyaksikan estetika kota dari ketinggian tertentu menjadi satu kepuasan tersendiri. Padanan kotak-kotak yang tersusun rapi di atas bumi, keteraturan jalan yang menjadi seperti halnya garis-garis menjadi pembatas gedung pencakar langit, jalan tol memanjang menjadi border gedung terbentang dari ujung batas kota melewati dalam kota menuju pinggiran. Sebagai co-creator Tuhan, manusia mampu menciptakan keindahan duniawi melalui gedung menjulang tersebut. Disandingkan dengan kreasi Tuhan yang Maha Indah, lautan luas terbentang tanpa batas sejauh mata memandang.

Secuil keindahan ini bisa dinikmati dari ketinggian yang tak seberapa dari atas bianglala, sebuah wahana yang berputar secara simetris dalam porosnya dari bawah ke atas dan sebaliknya sambil menikmati pemandangan sekitarnya sehingga penikmatnya bisa turun naik tanpa perlu khawatir tumpah dan jatuh. Tidak sedikit warga yang menjadikan bianglala sebagai wahana hiburan. Termasuk bagi saya. Saya menikmati bianglala bukan karena bisa berputar maju dan naik lalu turun lagi. Tapi saya juga menikmati proses naik turunnya kehidupan. Seperti makna intrinsik dari bianglala sendiri sebagai warna warni pelangi.

Bangunan Jakarta dari atas Bianglala
Rabu, 4 April 2018 saya mendapatkan kesempatan menikmati bianglala serta wahana lain – melalui One Day Trips bersama Politeknik LP3I Bandung. Sebagaimana halnya bianglala dalam arti kiasan, One Day Tour ini adalah titik warna-warni cerah yang menggantikan warna abu dan hitam. Menggantikan rutinitas kerja, membebaskan dari cengkeraman meja, mendatangkan suasana dengan warna ceria.

“Minimal Bapak Ibu bisa refreshing….”

Begitu kira-kira kata yang terlontar untuk mengantarkan kami pergi berwisata satu hari tersebut –  agar bisa merilekskan diri dari kegiatan rutinitas. Tujuannya adalah Dunia Fantasi hehehe…yang memang sudah digadang-gadang sebelumnya. Waktu SMP sempat akan pergi ke salah satu tempat favorit di ibu kota ini, sayang karena faktor biaya akhirnya akhir berangkat. Saat kuliah tahun 2008 akhirnya kesampaian juga hehe…

Tapi sekarang? Setelah 10 tahun, begitu banyak wahana sejenis yang bisa menjadi sarana hiburan. Belum lagi sepertinya refreshing lebih asyik mantai atau destinasi yang lebih didominasi oleh pepohonan hijau seperti hutan atau bukit.

Tanjung Priuk, dok: pribadi
Saya membayangkan, apa enaknya naik kora-kora yang bisa bikin jantung copot, apa enaknya naik roller coaster yang bikin andrenalin tidak karu-karuan, apa enaknya naik ontang-anting yang seperti balita ketemu komidi putar? Ah sudahlah, itu 10 tahun lalu memang asyik…tapi sekarang di saat usia sudah kepala tiga.

Tapi letak rekreasinya bukan naik itu semua, kebersamaan bersama rekanlah refreshing sesungguhnya.  Yap, betul banget kebersamaan. Sama halnya saat bertemu teman-teman lama, masalah hidup seakan tenggelam karena selalu bernostalgia dengan masa lalu.

Pukul enam, saya sudah berkumpul dengan rekan dan mahasiswa. Jam 11.00 sampai lokasi. Sebagai yang ditunjuk menjadi guide, saya masuk belakangan. Membiarkan peserta untuk menikmati duluan berbagai wahana yang tersedia. Saya sendiri lebih banyak melewati wahana-wahana tersebut. Memilih menikmati panasnya ibu kota yang terus menerus membuatku berkeringat.

Menjelang pukul 15.00 akhirnya saya menikmati kehidupan melalui bianglala, suatu pasang surut kehidupan dari setiap orang. Kadang di bawah kadang juga di atas. Jika pernah merangkak hidup dari bawah, ikhtiar dan sabar bisa mengantarkan orang untuk naik ke atas.

Antri bersabar menunggu giliran, akhirnya saya pun bisa menikmati kotak-kotak hasil rekayasa co-creator di atas tanah Jakarta. Sebuah bangunan pencakar langit yang tersusun rapi. Cuaca cerah menambah keindahan kota begitu Nampak. Dibatasi garis-garis tegas berupa jalan dan border daratan, lautan luas tak terhingga menambah ketakjuban. Inilah akhir dari One Day Trip, refreshnya ada di ujung helatan. Bianglala di atas Kota Jakarta. **[]
Read More

31.12.17

Persinggahan Mengesankan di Malaka

Gedung Merah menjadi salah satu ciri khas dari Kota Malaka (c)@abahraka
“Saya akan kasih surprise untuk kalian semua. Kalian memiliki waktu satu jam sahaja, kalian akan singgah di Tanah Merah. Dan nanti setelah satu jam kalian harus kembali lagi ke tanah merah,” ujar Suzie, seorang guide lokal Malaysia dengan logat khas melayunya.

Lalu saya membuka rundown itinerary. Agenda yang tertulis, setelah melakukan persinggahan ke University Kebangsaan Malaysia (UKM) lalu transit di Johor sebelum akhirnya menyeberang ke Singapura. Surprise yang dimaksud oleh Suzie adalah persinggahan di Kota Malaka. Tidak ada dalam itinerary karena kunjungan ini inisiatif dari travel agent sebagai ganti satu kunjungan yang berubah jadwal.

Saat mendengar nama Melaka, pikiran saya tiba melanglang buana terhadap salah satu materi pelajaran sejarah saat sekolah. Malaka adalah salah satu penggalan sejarah Indonesia. Malaka, adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah eksistensi Nusantara pada masa kerajaan sebelum akhirnya menjadi Indonesia. Pada masa Indonesia masih terdiri dari kerajaan, Malaka adalah kesultanan yang menguasai sebagian wilayah Indonesia yaitu Pulau Sumatera. Pendirinya sendiri berasal dari Nusantara, yaitu keturunan Sriwijaya, Prameswara. Ia memerintah selama 110 tahun di Kesultanan Malaka sebelum ditaklukkan Portugis tahun 1511.

Melalui jalur Malaka-lah Portugis menguasai Jawa bagian Barat dengan menaklukan kerajaan Sunda dan menjajah Indonesia. Sebelum melakukan penjajahan, Portugis melakukan kerjasama dagang dengan kerajaan Sunda. Sunda Kelapa Jakarta menjadi saksi sejarah kehadiran portugis di Nusantara dan mendirikan prasasti perjanjian dengan kerajaan Sunda.

Malaka juga saya ingat bukan hanya karena sejarahnya yang kuat dengan Indonesia, juga menjadi jalur dagang laut internasional pada abad ke-16. Para pedagang yang datang ke Nusantara baik dari Arab, Gujarat, India, ataupun Eropa yang kesengsem dengan rempahnya berlabuh di Malaka. Malaka menjadi jalur batas antara Indonesia dan Malaysia, yaitu sebuah selat atau laut yang diimpit oleh dua dataran, Sumatera di Indonesia dan Semenanjut Malaya di Malaysia.

Saya tidak menyangka jika persinggahan ke tempat ini merupakan persinggahan bersejarah. Bukan hanya tertulis dalam buku-buku sejarah Indonesia, Malaka benar-benar memiliki atmosfer sejarah. Hampir setiap jalan yang saya lewati penuh dengan bangunan sejarah, dalam hati saya berdecak kagum, betapa bangunan tersebut masih apa adanya, “Ini benar-benar wisata heritage,”gumam saya. Sepanjang jalan yang saya lewati, kanan dan kiri berdiri kokoh bangunan-bangunan tua peninggalan portugis, Belanda, dan Inggris.

Malaka sendiri berjarak 148 km dari Kuala Lumpur. Perjalanan yang ditempuh sekitar 2,5 jam menggunakan bis. Jika menggunakan kendaraan umum bisa menggunakan komuter. Sesampainya rombongan di Bundaran Jalan Merdeka yang di sekelilingnya terdapat bangunan berwarna merah. Lokasi ini menjadi titik berkumpul peserta Campus & Company Visit dari kampus kami, Politeknik LP3I Bandung pada April 2017agar tidak tersesat setelah kami berkeliling menikmati seuprit tempat dari Kota Makala. Karena tidak mungkin bisa menikmati semua hal yang ada di Malaka dengan waktu kurang lebih satu jam setengah saja.

Rombongan turun dan behenti di Taman Kota Malaka. Kami langsung mengambil foto dengan latar Gereja Kristen (Crist Church Malaka). Begitu ramainya kota Malaka, sebuah taman dengan tulisan I Love Malaka menjadi tempat favorit berswafoto atau foto group. Saya harus sabar untuk mengantri, agar mendapatkan latar yang heritagenic dengan berswafoto di taman dengan latar gedung merah. Setelah duduk-duduk menikmati Taman Malaka yang dikelilingi oleh bangunan tua berwarna merah, saya pun bergegas menuju salah satu area tempat berdirinya kompleks museum sejarah dan berjalan menuju sebuah bukit bernama Bukit St. Paul.  

Menikmati Malaka dari Bukit St. Paul
Di Bukit St Paul selain bisa menikmati bangunan tua peninggalan Portugis, juga gedung-gedung pencakar langit
Untuk mencapai bukit Saint Paul pengunjung harus melewati bangunan merah dan ratusan anak tangga. Saat sampai bukit, pengunjung akan disambut oleh patung pendeta. Konon patung tersebut adalah Pendeta Santo Francis Xavier. Seorang pendeta yang ditugaskan untuk melakukan misi Gospel atau penyebaran agama Kristen. Ia dianggap sebagai manusia suci sehingga dibuatkan patungnya.

Ada satu cerita yang menarik dari Patung Xavier ini, yaitu tangan kanannya yang patah. Pada tahun 1514, jenazah Xavier tangannya dipotong untuk kanonisasi dan simbol pembaptisan. Potongan tangannya sendiri di Simpan di Gereja Roma. Untuk menghormati jasa-jasa Xavier maka dibuatkan patungnya di bukit Saint Paul. Pada saat patung tersebut berdiri, tangan kanan patung Xavier patah tertimpa pohon dan potongannya tidak ditemukan. Maka berdirilah patung Xavier yang tidak memiliki tangan kanan sampai sekarang.

Setelah melewati Patung, sebuah bangunan berwarna putih tampak berdiri tinggi dan kokoh, konon ini merupakan peninggalan terakhir yang masih ada sebagai bagian dari Benteng A’Fomosa yang digunakan untuk memantau dan menghalau serangan musuh. Tepat di belakangnya adalah Gereja tertua di Malaysia, Gereja Saint Paul. Walaupun warna catnya sudah memudar dan tidak terdapat lagi atap di atasnya. Di dalam Gereja terdapat puing-puing makam peninggalan bangsa Portugis dan Belanda.

Bukit saint Paul merupakan salah satu bukit pertahanan Bangsa Portugis pada masanya untuk menahan gempuran dari Belanda yang sama-sama berebut wilayah kekuasaan di Asia Timur. Sebagai bagian dari kota pertahanan di sini didirikan kota A’Famosa yang di sekelilingnya berdiri berbagai bangunan dan juga kedai dan yang paling utama adalah Benteng sepanjang 1,5 km. Kota A’Famosa sendiri tepat mengelilingi bukit Saint Paul.

Saat berada di atas bukit Saint Paul, saya bukan hanya sedang berwisata Heritage. Saya juga sedang menikmati Kota Malaka pada abad modern. Seperti halnya Braga di Kota Bandung, yang menyisakan secara utuh berbagai bangunan sejarah , juga terdapat bangunan-bangunan pencakar langit. Saya juga dapat menyaksikan hamparan selat Malaka yang berseberangan langsung dengan Indonesia. Malaka bukan hanya sebagai sebuah Kota Sejarah, Malaka juga kota yang sudah hiruk pikuk dan padat dengan bangunan-bangunan pencakar langit. Tampak berjejer bangunan apartemen dan hotel yang menjulang tinggi ke langit. Hotel Malaka atau Holiday Inn atau apartemen yang bangunannya berjajar serupa kembar.

Satu Jam di Kota Warisan Dunia
Bandara Internasional pada masa lalu

Selama satu jam setengah menikmati Kota Malaka, hampir setiap sudut yang saya jumpai adalah bangunan-bangunan tua yang sarat nilai sejarah. Wajar jika pada tahun 2008 UNESCO atau Badan Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan di bawah Naungan PBB menetapkan Malaka sebagai World Heritage City. Bangunan-bangunan yang ada merupakan peninggalan 3 kerajaan Eropa masa penjajahan; Portugis, Belanda, dan Inggris.

Bangunan Heritage apa saja yang bisa saya nikmati selama berkeliling di sekitar Gedung Merah tersebut?

Pertama kali menginjakkan kaki di Taman Melaka dengan kesegaran air mancurnya adalah bangunan yang mirip seperti komplek pertokoan. Komplek pertokoan dengan cat berwarna merah ini merupakan bangunan pelindung Bukit Saint Paul. Tepat berada di belakang Taman Malaka yang bertuliskan ‘I Love Malaka’ adalah Gereja Kristen Malaka (Crist Church Malaka) yang berdiri kokoh bersebelahan dengan Gedung Galeri Seni Lukis Kota Malaka.

Setelah saya puas menikmati bangunan merah yang tepat berada pada 0 km Kota Malaka, pelancongan dilanjutkan ke Bukit Saint Paul melewati komplek Museum Demokrasi. Di sinilah patung misionaris pertama portugis berdiri kokoh membelakangi Gereja Saint Paul yang tidak lagi beratap namun tetap kokoh. Di dalam gereja berjejer nisan prajurit Portugis setinggi 2,5 m.

Puas menikmati semilir angin di atas bukit, saya turun dengan tujuan menuju sungai Malaka. Melewati Bundaran 0 km, di sebelah kiri jalan tampak tulisan besar ‘Selamat Datang Bandaraya Melaka Bersejarah’. Saat membaca tulisan tersebut, pikiran saya seakan dibawa ke dalam sejarah masa penjajahan seperti yang pernah saya baca dalam buku-buku sejarah.  Ya, pada masanya, ini adalah Jalur dagang internasional. Salah satu Bandar internasional strategis, sebuah jalur perdagangan paling penting pada masanya.

Museum berbentuk Kapal Pinisi

Sungai Malaka dan Pedestrian yang bersih dan nyaman untuk nongkrong
Sebelum sampai di pedestrian sungai Malaka, saya menyaksikan bagian dari Benteng A’Fomosa yaitu Middleburg yang menjadi benteng pengawasan. Benteng ini merupakan Benteng pengintaian yang digunakan oleh Portugis untuk mengawasi musuhnya yang datang dari arah Selat Malaka. Sungai Malaka sendiri airnya mengalir menuju Selat yang yang berbatasan dengan Indonesia.

Pedestrian Sungai Malaka tampak resik dengan sebagian tempat duduk kursi-kursi taman klasik. Pedestrian juga menjadi tempat asyik untuk kongkow dan bercengkerama menikmati pagi dan senja sambil sarapan atau ngopi. Seberang pedestrian berdiri kokoh bangunan heritage Hotel Del Rio.

Beranjak dari pedestrian, saya melipir mencari toilet untuk buang air kecil yang berada di muara sungai. Tidak jauh dari muara, saya lewati bangunan mirip kapal Phinisi. Bangunan ini merupakan museum kelautan Malaka (Maritime Museum Phase One Melaka) atau replika dari kapal Flor de La Mar yang pada masa lalu pernah terdampar di Pantai Malaka ketika kembali perjalanan dari Portugis. Dalam kapal dengan luas sekitar 288 M terdapat artefak dan dokumen peninggalan masa kejayaan kesultananan Malaka.

Seandainya tidak berbatas waktu, ingin sekali menikmati pagi dan senja itu di sini. Malaka. Kota Sejarah yang pertautannya sangat kuat dengan Indonesia. Bahkan sampai Kini. ***[]
Read More

26.12.17

Meneduh Di Puncak Bintang

Sumber: dok @abahraka
Minggu kedua bulan Desember sebetulnya bukan jadwal untuk bercengkerama ke luar bersama anak-anak. Karena tepat dua hari sebelumnya mereka sudah puas-puasan bermain bola di pusat permainan dekat rumah. Artinya bahwa minggu ini seharusnya digunakan untuk bermain sekaligus beristirahat di rumah.

Tapi satu agenda yang bisa memberikan pengalaman seru buat anak sepertinya sayang untuk dilewatkan, #angklungpride. Pukul Tujuh pagi, anak-anak baru saja bangun. Artinya mereka harus loading dulu sebelum mandi. Tidak cukup satu jam untuk persiapan. Sedangkan Gelaran #Angklungpride sudah sejak pagi mengawali. Sehingga dalam perhitungan saya, bukan waktu yang tepat jika berangkat dari rumah jam 9, sementara acara sudah mulai sejak jam 8 pagi.

Hmmm sudah tanggung anak dan isteri dandan, masa iya harus batal berangkat. Tentu saja akan mebuat mereka kecewa. Karena tujuannya sekitaran Cicaheum dan Suci. Destinasi wisata yang dekat salah satunya adalah Puncak Bintang atau Bukit Moko.

Sudah lama cukup popular di media sosial 1-2 tahun lalu. Saya belum pernah juga melawat ke daerah yang tidak jauh dari Caringin tilu ini yang jika malem minggu banyak motor terparkir di pinggir jalan dan di baliknya ada muda-mudi sedang indehoy. Maklum, dulu jalanan cukup gelap. Dua-duaan di balik sepeda motor terparkir sepertinya boleh juga, bagi yang kantongnya kekeringan.

Jalanan menuju Cartil (Caringin Tilu) memang cukup curam, tapi dengan aspal yang sudah dihotmix, menggunakan matic 150 cc bukan barang susah untuk digas. Kendaraan bisa melaju dengan kecepatan sedang di atas tanjakan 30 derajat walaupun berbonceng hingga 2 orang di belakang atau kiran-kira 120 kg penumpang. Ya, jalanan menuju area ini sudah lebih baik dari 6 tahun lalu saat saya bersama kawan meramaikan malam mingguan.

Puncak Bintang, ternyata cukup jauh dari Caringin Tilu. Jalannya untuk beberapa perkampungan masih ada yang bolong dan becek, tapi overall, jalannya sudah bagus bahkan mendekati puncak bintang jalanan sudah menggunakan beton walaupun cukup menanjak hingga 35-38 derajat. Untuk pengendara roda empat juga, kendaraan sudah bisa langsung di parkir di area Puncak Bintang Bukit Moko.

Dengan parkir 5000rupiah yang dikelola oleh penduduk setempat, pengelolanya cukup apik dan perhatian terhadap pemarkir, terdapat tempat penyimpanan helm, untuk jaga-jaga jika cuaca hujan, tanpa harus mengeluarkan lagi biaya sewa.

Setelah motor saya parkir, sejenak menikmati pemandangan Kota Bandung dari atas bukit, dengan latar bukit pohon pinus. Arah berseberangan dengan tempat parkir, di ujung bukit pohon pinus tampak menara pandang Bukit Moko.

Dari atas menara Pandang, sejauh mata memandang, para pengunjung bisa menyaksikan hamparan gedung-gedung dan rumah penduduk Bandung menyerupai cekungan. Wajar karena Bandung pada masa lalu adalah sebuah Danau yang kemudian mengering. Ini mungkin gambaran Bandung Purba, yang menyejarah bersama Danau Purba Bandung tempo doeloe, di saat kakek moyang kita belum lahir.

dok @abahraka
Tidak seperti kebanyakan pengunjung yang mendahulukan berkunjung ke ikon Puncak berupa Patung Bintang Raksasa, saya lebih memilih berjalan menyusuri rindangnya pohon pinus. Begitu teduh dan tenang, padahal saat itu jam menunjukkan pukul 11.00, saat-saat teriknya matahari. Di bawah jalan tanah merah, destinasi milik perhutani ini tampak alami. Seakan tanpa rekayasa, namun tetap bersih dan terawat dengan beberapa tempat sampah di beberapa area.

Memilih Tempat Anak Bermain
Mini tebing untuk anak #PuncakBintang
Sebagai Abah yang punya dua anak laki-laki yang tidak terpaut jauh usianya, dibanding mengikuti ego mencari tempat berswafoto (lagian gak terlalu suka selfie, kecuali hasilnya bagus-bagus hehe), prioritas  utama adalah mencari tempat bermain anak. Setelah tanya-tanya, pihak perhutani menyediakan satu spot khusus tempat bermain. Walaupun dengan alat mainan yang terbatas dan tidak terlalu luas, sepertinya cukup meninamainkan agar anak tidak merengek minta jajan hehe.

Tak jauh dari area pohon pinus, setelah berjalan 200 meter, akhirnya kami temukan area permainan anak yang terdiri dari kuda-kudaan, perahu-perahuan, jembatan kayu, komidiputar, ataupun panjat tebing mini. Tidak jauh dari tempat bermain ada area memanah yang sedang hits dan kekinian. Semua dicoba  selagi bisa dan tersedia. Setelah anak merasa bosan dengan permainannya yang itu-itu saja, jajan jadi tujuan. Naik perahu-perahuan sudah, naik kuda-kudaan bergoyang sudah, naik jembatan dan tebing mini juga sudah.

Tepat tengah hari, cuaca di bawah pohon pinus tetap teduh. Walaupun agak jauh berjalan menuju gerbang kedatangan. Anak-anak tetap semangat, apalagi tujuannya adalah warung, tak lain dan tak bukan mencari jajanan anak. Apalagi rengekannya sudah tidak bisa lagi dibebenjokeun. Niat menuju ikon Puncak Bintang pun pupus sudah. Toh dominasi tujuan hang out bukankah untuk anak-anak?

Tak apalah tidak berswafoto di Patung Bintang Raksasa sebagi ikon Puncak Bintang, yang penting sudah tau area dan kemewahan pohon-pohon pinus yang meneduhkan dan menenangkan. Juga sudah bisa ngabrangbrangkeun anak-anak yang setiap minggunya minta hang out.

Bisa meneduh di bawah kemewahan pohon pinus, ngabrangbrangkeun anak-anak, dan juga sudah merasakan kemegahan Puncak Bintang dan Bukit Moko yang semoat Hits dan mungkin masih hits, sepertinya sudah cukup. Tak jauh dari gerbang masuk terdapat beberapa tempat duduk bisa dibuat sebagai tempat ngadem setelah jalan-jalan seharian.

Baydewey, retribusi masuknya tidak jauh berbeda dengan retribusi masuk destinasi buatan seperti Floating Market atau Dago Dreampark. Bedanya area jajanan yang tersedia lebih merakyat karena dikelola oleh masyarakat secara langsung dengan harga up tempat wisata, tidak murah juga tidak mahal. Sedangkan jajanan di area destinasi sudah menyesuaikan dengan harga manajemen. Yang jelas tidak akan membuat kantong jebol dan bolong.***[]
Read More

3.11.17

Sukabumi; antara Sejarah, Kopi, dan Petualangan

sumber: mytrip123
Beberapa waktu lalu, pernah menyelenggarakan inhouse training di Sukabumi. Untuk mencari lokasi yang nyaman untuk kegiatan mahasiswa tersebut, saya tersesat ke beberapa tempat dari Sukaraja ke Kadudampit, hingga berkeliling mencari satu kecamatan di tengah-tengah kota di Sukabumi.
Ketersesatan ternyata membawa hikmah, hingga akhirnya menjadi berpetualang menyusuri kota dan daerah-daerah sejuk di Sukabumi. Dari bisingnya kota hingga menikmati sejuknya daerah pegunungan. Namun saya menjadi tahu, karena ternyata Sukabumi menyimpan potensi wisata yang sangat menakjubkan, apalagi meliat potensi di wilayah Geopark Ciletuh.
Sukabumi bisa menjadi salah satu kota destinasi yang bisa dicoba untuk liburan singkat. Selain kotanya yang campernik alias kecil tapi cantik alamnya juga cukup menyegarkan apalagi saat menyusuri daerah-daerah dengan dataran yang cukup tinggi, setidaknya memungkinkan menghirup udara segar. Apalagi setelah berkutat dengan hiruk pikuk rutinitas pekerjaan kantor.
Selain alam yang indah, Sukabumi juga dilengkapi dengan beragam jenis kuliner yang memanja lapis lidah. Entah menikmati secangkir minuman hangat di jalan-jalan Sukabumi, atau justru membiarkan adrenalin terpacu dengan arung jeram dan berselancar di bibir pantai--semua pilihan bisa Pengunjung coba. Bebas.
Nama Kota Sukabumi sendiri berasal dari bahasa Sunda, yakni soeka dan boemen. Secara etimologis, perpaduan keduanya bisa diartikan sebagai “kawasan yang disukai untuk menetap”.
Kisah Soeka dan Boemen
Di Sukabumi, setiap pengunjung akan disambut dengan pempengunjungngan serba hijau dari perkebunan teh dan kopi yang membentang luas, pun udara sejuk dan bersih khas dataran tinggi. Dari lanskap yang indah tersebut, tidak heran jika penamaan Kota Sukabumi memang berasal dari pengalaman terkait lokasi favorit dan nyaman untuk menetap.
Selain tempat peristirahatan, sejarah mencatat Sukabumi sebagai lokasi yang memang diperuntukkan sebagai daerah perkebunan. Salah satunya, kopi. Maklum saja, di masa kolonialisme--dalam hal ini pemerintahan VOC, komoditas kopi menjadi salah satu primadona.  
Pada 1709, misalnya. Gubernur Van Riebek pernah mengadakan inspeksi ke kebun kopi di Cibalagung (Bogor), Cianjur, Jogjogan, Pondok Kopo, dan Gunung Guruh Sukabumi. Beberapa tahun berselang, yakni 1786, VOC lantas membangun jalan setapak untuk memudahkan mobilitas hasil perkebunan. Jalan ini dapat dilalui kuda dengan rute Batavia - Bogor - Sukabumi - Cianjur - Bandung.
Menguji Adrenalin di Sukabumi
Selain perkebunan, para wisatawan juga diberi kesempatan untuk menguji adrenalin lewat wisata arung jeram di Sungai Citarik. Letaknya, ada di Taman Nasional Gunung Halimun, Cikadang, Sukabumi. Adapun sungai ini terbilang cocok, lantaran debit air yang cukup banyak, kondisi yang bersih, dan relatif stabil di sepanjang tahun.
Sudah puas menikmati alam dataran tinggi, Pengunjung bisa menjajal hangat pasir pesisir selatan Sukabumi. Beberapa aktivitas yang layak dicoba, yakni berselancar hingga sekadar bersantai di pinggir pantai.
Merencanakan short escape ke Sukabumi pasti akan sangat menyenangkan. Apalagi bagi masyarakat perkotaan seperti Jakarta. Nah, agar bisa puas lebih lama, ada baiknya Pengunjung mempertimbangkan kebutuhan menginap di sana. Memang, terdapat banyak penginapan yang siap menampung wisatawan kapan pun, namun booking dari jauh hari tentu akan lebih baik.
Nyaman dan bikin betah!
Agar lebih mudah, Pengunjung bisa melakukan pemesanan kamar hotel lewat layanan akomodasi dalam jaringan. Airy Rooms, layanan akomodasi dalam jaringan terbesar dan tepercaya menawarkan pengalaman pemesanan kamar hotel terbaik dengan harga yang terjangkau.
Pesan kamar hotel murah di Sukabumi dapat Pengunjung lakukan melalui aplikasi Airy Apps, atau melalui website resmi. Sementara, pembayaran dapat Pengunjung lakukan di saat itu juga melalui transfer bank atau kartu kredit. Tidak perlu khawatir mendapat kamar hotel yang buruk, sebab di Airy Rooms, fasilitas kamar hotel sudah terstpengunjungrisasi. Pengunjung akan mendapatkan kamar hotel dengan harga murah yang sudah dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas pendukung seperti AC, kebutuhan mandi dan air hangat, air minum gratis, WiFi, TV layar datar, dan tempat tidur bersih.

Read More