Showing posts with label Menulis. Show all posts
Showing posts with label Menulis. Show all posts

3.7.16

Writherapy, Salurkan Energi Berlebih (Negatif) dengan Menulis


Sumber gambar: psikologikita.com
Saat kuliah, teman hidup yang paling setia menemani setiap perjalanan adalah buku. Buku bukan hanya teman setia, ia juga adalah teman terbaik karena tidak pernah mengeluh untuk berbagi kisah dan ilmu kapanpun dan dimanapun. Bahkan ia tidak pernah mengeluh saat selalu dijadikan pelarian saat jenuh. Namun ternyata, bertambah jam terbang dalam membaca buku, semakin merasa banyak kekurangan, semakin merasa banyak yang tidak diketahui. Pada sisi lain bahan-bahan yang tersimpan dalam memory juga sepertinya bosan berdiam diri sehingga perlu disimpan di tempat lain.

Membaca diibaratkan dengan makan, jika sisa-sisa makanan ini tidak dibuang dari lambung, perut bisa mengeras dan menjadi penyakit. Begitu juga, bahan-bahan yang kita masukan ke dalam tubuh baik yang bersifat fisiologis ataupun psikis sebagian menjadi energy berlebih yang harus kita keluarkan dari tubuh kita. Energy yang berasal dari makanan fisik dan nonfisik tersebut berubah menjadi berbagai macam energy dalam tubuh kita, misalnya Sex atau emosi. 

Jika energy tersebut tidak disalurkan dengan tepat bisa menjadi boomerang bagi diri. Orang-orang yang stress atau depressi pada dasarnya adalah orang yang tidak mampu menyalurkan energy berlebih dari dirinya sehingga mereka tertekan. Orang yang libidonya tinggi jika tidak tersalurkan dengan baik bisa membahayakan dirinya entah dengan cara memuaskan diri sendiri atau menyalurkan kepada orang yang tidak tepat, bisa berakhir buruk.

Menurut Freud, energy yang menghancurkan ini disebut eros. Sedangkan energy yang bisa mengembangkan diri adalah Thanatos. Semua energy berlebih dalam diri kita jika tidak tersalurkan dengan baik bisa menjelma menjadi eros, tapi jika bisa disalurkan dengan baik menjadi thanatos. Bagi seseorang yang mendapatkan tekanan berat sehingga mengalami depresi, perlu mendapatkan therapy agar energy negatifnya bisa dialihfungsikan menjadi energy positif. 

Ingat satu film yang saya tonton dua minggu terakhir berjudul independence Writers. Menceritakan perjuangan seorang guru dalam mendidik anak-anak yang memiliki energy berlebih. Mereka terdiri dari siswa-siswa yang memiliki masalah hidup; ada yang dikucilkan, ada yang diusir orang tuanya, ada siswa yang ayahnya dipenjara hingga harus berhadapan dengan saudaranya sendiri, ada siswa korban konflik saudara, korban perceraian dan banyak lagi siswa yang betul-betul tidak bisa hidup dengan teratur. Namun di bawah bimbingan sang guru, anak-anak tersebut mampu menjadi siswa yang berprestasi.

Hal yang diajarkan oleh sang Guru adalah menyalurkan setiap energy berlebih tersebut melalui kegiatan menulis dan menjalin relasi persahabatan dalam kelas. Setiap tugas selalu diselipkan kewajiban melaporkan atau berbagi melalui resume dan menulis. Tulisannya lalu diceritakan di depan kelas, bahkan dikirim langsung ke seseorang yang menjadi objek dalam observasi bukunya. Kekuatan berbagi melalui tulisan dan relasi yang terjalin mampu mendorong siswa-siswa yang berasal dari latar belakang kacau ini akhirnya mendorong siswa-siswi pada kelas yunior tersebut berprestasi. Hingga akhirnya masuk koran. Dan terkenal sebagai siswa-siswi dengan latar belakang kacau namun mempu berprestasi.

Dalam sebuah buku yang saya temukan selintas di rak toko buku beberapa tahun silam dengan judul “Tidak Selamanya Diam itu Emas” menjadikan menulis sebagai bagian dari therapy. Sepertinya dalam film tersebut, menulis menjadi alat untuk menyalurkan energy berlebihnya (negatif) sehingga menjadi energy positif. Energy berlebih inilah yang menjadi kekuatan sehingga siswa-siswi bermasalah tersebut menjadi siswa/i berprestasi.

Dalam ruang-ruang kelas dan menjadi pengalaman saya saat dulu menjadi pengajar, tidak sedikit siswa yang nakal dan sulit diatur, namun jika pendekatan terhadap mereka tepat, kenakalan mereka justeru menjadi energy yang bisa membuat mereka sukses, jika dibandingkan dengan mereka yang terlalu baik (pendiam). 

Bahkan dalam buku Quantum Writingnya Hernowo, seorang peneliti psikologi melakukan eksperiment (penelitian) terhadap mahasiswa yang mengalami banyak kengerian dalam hidupnya. Mereka ditherapy dengan cara melepaskan energy negatif melalui tulisan. Dalam jangka waktu enam bulan lamanya, di antara mahasiswa tersebut sudah mulai tampak hasilnya. Selama jangka waktu enam bulan tersebut mahasiswa diwajibkan meluapkan emosinya melalui tulisan. Klinik universitas yang biasanya rutin dikunjungi oleh banyak mahasiswa yang bermasalah tersebut berkurang, dan dalam jangka waktu 6 bulan selanjutnya, mereka yang bermasalah dan sering keluar masuk klinik sama sekali tidak lagi bersentuhan dengan klinik kecuali beberapa orang saja.

Menurut Dr. Pennebaker menulis tentang pikiran dan perasaan terdalam tentang trauma yang dialami mereka alami menghasilkan suasana hati yang lebih baik, pandangan yang lebih positif, dan kesehatan yang lebih baik. Bahkan bukan hanya kesehatan jiwa, bagi Fatima Mernisi, seorang aktifis Islam dari Mesir (kalo gak salah hehe) menulis juga bisa mengencangkan kulit. 

Maka wajar jika kita lihat para penulis, katakanlah Pram, walaupun mengalami trauma yang sangat berat karena keluar masuk penjara dengan kesalahan yang tidak jelas, umurnya cukup panjang (81 tahun). Atau Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) penulis Lembaga Hidup, Tasauf Modern, atau dua novel yang telah difilmkan (Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Di Bawah Naungan Ka’bah) umurnya sampai 73 tahun. WS Rendra meninggal dalam usia 73 tahun. Sutan Takdir Alisyahbana saat meninggal berumur 86 tahun. Sekedar contoh, kalo kita lihat para penulis terkenal sepertinya mereka sehat-sehat saja sebut saja Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Dewi Lestari, Kang Abik.

Walaun tulisan ini tidak berdasarkan penelitian karena ada beberapa penulis yang mati muda seperti Soe Hok Gie, Chairil Anwar, atau Ahmad Wahib, tapi jumlahnya lebih sedikit dan ada sebab lain. Soe Hok karena racun belerang (?), Chairil Anwar karena Disentri (?) atau Ahmad Wahib karena tertarbrak (?). 

Nah, selain sebagai therapy, menulis juga menyehatkan baik psikis ataupun fisiologis kita. Ini jadi satu satu alasan, agar kita tetap menulis. Di samping juga karena hoby ataupun cari duit.***[]
Read More

7.1.16

Menulis antara Media Massa dan Media Sosial


Cukup sulit mengubah gaya selingkung dalam menulis dari artikel ke feature wisata. Begitu juga cukup sulit saat harus berpindah gaya dari menulis artikel media massa dan untuk blogging. Walaupun bisa saja disamaratakan. Hanya saja karena blog sifatnya lebih personal, tuntutan itu tidak bisa diindahkan.

Pada sisi lain, biasanya menulis artikel-artikel reflektif tentang komunikasi dan media, namun sejak beberapa bulan terakhir belajar untuk mengaktifkan blog dengan menulis isu-isu wisata dan perjalanan. Alhasil selama 3 bulan tersebut berhasil menulis sebanyak 27-an artikel yang sebagiannya cukup banyak tulisan wisata.

Hasilnya tidak mengecewakan, setelah lama absen dari pemuatan artikel di Pikiran Rakyat, kemarin (03/1/2016) menjadi pembuka untuk menyemangati diri agar tetap menulis dan mengirimkan ke media massa walaupun dengan isu yang jauh berbeda dari kajian komunikasi dan media dan dengan nama khusus media sosial. 

Pada bulan November juga mendapatkan ganjaran dengan artikel terbaik dengan judul "Pesona Talaga Bodas" di social Citizen Journalism Plimbi.com. Sebagai newbie tetep ini jadi bagian dari proses pembelajaran dalam menulis. Bagaimanapun, sebanyak apapun artikel di koran, jurnal, jika masih belum memiliki karya utuh berupa buku sepertinya tidak pas mengaku penulis. Begitu juga jika hanya memiliki buku bunga rampai, masih kurang sempurna menjadikan diri sebagai penulis.

Tahun 2014-2015 menjadi tahun paceklik dalam menulis, entah sepertinya tidak fokus, hanya satu dua saja menulis, dan hitungan dalam satu tahun sekali saja dimuat di media massa, sisanya dala bentuk jurnal. Harus diakui terlalu tersedot oleh hal-hal yang sia-sia, jadinya terlalu terlena dengan hal-hal yang pragmatis dan realistis. Sementara menulis bukan persoalan pragmatis tetapi bagaimana pergumulan pikiran ini harus tersusun rapi hingga menjadi gagasan yang bermanfaat untuk orang lain.

Tiga bulan terakhir menjelang pergantian tahun, saya cukup asyik berjejaring melalui media sosial, khususnya blog, walaupun sebetulnya ngeblog sudah dimulai tahun 2006 dan berjejaring juga sejak 2009. Namun baru kerasa setahun terakhir melalui #BloggerBDG dan tiga bulan terakhir menjelang pergantian tahun  menemukan team yang sebetulnya sudah diimpikan sejak lama untuk membangun usaha dalam bidang publikasi (media). 

Masuk pergantian tahun 2016, setelah mencoba seminggu membuat diri teratur, semoga ide-ide yang selalu terserak ini bisa diwadahi dalam gagasan yang lebih elegan dan prestisius. Bukan hanya blogging yang sudah menjadi dunia tersendiri untuk menjalin jejaring dan silaturahmi. Juga memiliki media sendiri yang dibangun tidak secara personal namun team sehingga menjadi bagian dari usaha media yang membanggakan.

Media sosial Yes, Media Massa Kudu! #ItuAjaSih










Read More

1.3.12

Revolusi Hasrat Menulis

Melakukan aktifitas tentu memiliki motif, entah itu motif financial, motif belajar, motif pertemanan, motif eksistensi termasuk motif narsis. Bagi newbie kompasiana, bergabung dan berinteraksi sesama kompasianers adalah hal yang paling menyenangkan sekaligus membuat diri kita eksis. 

Read More

15.6.11

Jangan [hanya] Membaca, Jika Ingin Bisa Menulis!

Jangan banyak membaca jika ingin menulis! Ini nasihat ekstrim seorang teman, saat menyadari bahwa tidak ada yang didapatkannya hanya dari membaca [saja]. Apalagi jika ingin bisa menulis. Membaca hanyalah pekerjaan sia-sia saja.

Pengalaman sang teman ternyata ada buktinya. Saat pertama kali kuliah, saya merupakan orang yang keranjingan membaca. Karena kuatnya keinginan sebagai pembelajar, saya menargetkan setiap satu bulan harus ada buku yang harus dibeli. Tentu saja hampir semua buku saya pada awalnya.

Dari membaca inilah termotivasi untuk menulis, apalagi setelah baca buku-buku Pram dan Ali Syariati. Keinginan untuk belajar menulis mulai tumbuh. Mulailah mencari buku-buku tentang menulis, jurnalistik, feature, opini termasuk menulis karya sastra.

Faham ilmu menulis saat membaca tentu berbeda ketika mencoba menuangkannya dalam bentuk tulisan. Susahnya minta ampun. Ide ada, isinya sulit didapat. Ide dapat dituangkan takut tidak pas. Dapat menulis satu halaman sampai dua halaman, takut gak mutu. Dan banyak lagi godaannya. Hingga akhirnya tulisan gak pernah dipublikasikan apalagi dikirim ke Koran, hanya sekedar untuk bulletin kampuspun merasa malu.

Ketidakpedean, akhirnya mendorongku untuk membaca dan membaca lagi. Hingga akhirnya sadar. Jika membaca terus tanpa aksi menulis, kapan bisa menulisnya. Kapan lagi saya tahu jika tulisan saya jelek. Kapan lagi saya tahu jika tulisan saya belepotan.

Saat itulah saya mencoba mepraktikan, apa yang kita fahami dari hasil baca, coba dikontekstualisasikan ke dalam masalah-masalah yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Saat itulah menulis pun menjadi kegiatan rutin setelah membaca, terlahirlah resensi, terlahirlah opini. Terlahirlah tulisan-tulisan lain, walaupun hanya sekedar cerita dan curhat.Walaupun belepotan, acaka-acakan, yang penting kita aksi, aksi menulis.

Oleh karena itu, membaca terus-menerus menjadi percuma jika pada akhirnya tidak ada aksi untuk memahami ilmu tersebut dalam pemahaman kita sendiri. Pemahaman tersebut dapat direalisasikan dalam tulisan kita. Karena menulis bagi saya sendiri adalah persfektif, tak ada persfektif tanpa menuliskannya lagi. Menulis adalah seni tafsir kita terhadap sesuatu.

Teringat perkataan seorang sejarawan, menurutnya bahwa seseorang dikatakan intelektual itu dilihat dari gagasannya yang dapat diikat dengan menuliskannya. Banyak orang mampu menjadi speaker seperti Guru, Dosen, Penceramah, Motivator dsb, tetapi jika ia tidak menulis. Ia belum dapat menjadi seorang ahli dalam bidangnya tersebut.

Ayo, jangan hanya membaca! Ayo, Jangan hanya Bicara! Buktikan! Aksi, aksi dan Aksi, begitulah perintah seorang penulis buku. Intinya harus Aksi, aksi menulis. Kalo baca dan bicara terus kapan nulisnya dong?
Read More

3.6.11

Penyakit Penulis Pemula

Sebagai penulis pemula dan amatiran, menemukan ide menulis sangat sulit bin susah. Sekalipun dapat ide, hanya selintas saja dalam ingatan, selanjutnya lupa lagi. Jika pun ide menulis telah tertuang dalam satu kalimat judul atau tema, kita seringkali susah untuk menuangkan isinya. Kesulitan ini dapat disebabkan oleh beberapa hal, pertama karena kehabisan ide/ stak, kedua memiliki ide tapi merasa takut tidak nyambung, ketiga memiliki ide yang pas namun sulit menempatkan kalimat, dan keempat memiliki ide namun sulit menuangkan dalam bentuk kalimat.

Kesulitan-kesulitan yang muncul merupakan hal yang wajar bagi kita sebagai pemula. Sulitnya mendapatkan ide adalah penyakit umum bagi orang yang memulai menulis, saat ide sudah muncul pun kadang kita sangat sulit untuk menuangkannya dalam bentuk redaksi kalimat. Namun setelah mendapat ide dan mampu menuangkannya dalam bentuk kalimat, kadang-kadang kita terlalu cepat bangga dengan apa yang kita tulis. Sebelum akhirnya tulisan selesai, seringkali kebanggaan kita mendorong untuk membaca kembali apa yang kita tulis, kita tengok tulisan dari awal (belakang) sampai kalimat dan kata terakhir. Dari sinilah penyakit mulai muncul, yaitu penyakit ketidakpedean, kadang kita sendiri malu dengan apa yang kita tulis, kok acak-acakan.

Ketidakpedean tersebut muncul karena kita membandingkan tulisan kita dengan orang lain yang lebih senior, baik dari jam terbangnya ataupun kemahiran menulisnya dari segi persfektif. Untuk menghindari ketidakpedean tersebut, maka hindarilah membaca tulisan sebelum tulisan tersebut selesai. Membaca di saat tulisan belum selesai, dapat juga membuat ide mandeg, karena kita mereka-reka dan merasa bahwa apa yang kita tulis tidak nyambung.
Penyakit kedua adalah keterikatan dengan aturan. Untuk pemula, termasuk saya, aturan kadang membuat sulit untuk bergerak. Contoh saja, bagi yang tidak biasa dengan penulisan menggunakan tata bahasa Indonesia, barangkali akan bingung ketika seseorang menuliskan kata depan untuk tempat (missal di rumah) apakah dipisah atau digabung (dirumah). Contoh lain penulisan gelar, tanda Tanya, penggunaan spasi setelah titik atau koma. Bagi penulis pemula yang terikat dengan aturan-aturan tersebut namun belum begitu menguasai akan membuat pikirannya mandeg pada hal-hal tersebut saja, sehingga ide yang telah muncul akan cepat terlupakan. Oleh karena itu, sebagai awalan, jika kita belum menguasai aturan-aturan menulis, lebih baik abaikan saja. 

Penyakit ketiga adalah takut mengkritik penulis senior/ inferior. Penulis pemula (seperti saya misalnya), seringkali melihat penulis lain yang telah banyak menulis dan jam terbangnya tinggi apalagi dengan mengutif para ilmuwan, filsuf atau kutipan-kutipan aheng seringkali terjebak dengan citra bahwa penulis tersebut hebat, pinter, dan tahu segalanya. Pada bisa saja dia hanya menguasai apa yang menjadi bidang keahliannya saja. Seorang guru informatika mungkin menguasa hal-hal yang berkaitan dengan bidangnya, tapi belum tentu ia menguasai perkembangan mutakhir teknologi masa kini jika ia kuper. Atau seorang wartawan dipersangkakan tahu segalanya tentang seluk beluk ilmu jurnalistik, padahal belum tentu, bisa jadi ia hanya sebagai ‘tukang’ melaporkan peristiwa saja, bukan seorang ahli. Dengan prasangka tersebut, seringkali kita menjadi inferior terhadap penulis lain dan membuat kita enggan untuk mengkritisi mereka. Padahal kritik merupakan salah satu arena untuk bahan menulis. Apalagi dalam dunia Jurnalistik, kajian atau literasi media berangkat dari kekritisan para penulisnya.

Penyakit selanjutnya yang  telah menjadi rahasia umum dalam tulis menulis adalah malas membaca, menonton, merenung, berfikir, kontemplasi dan lain-lain adalah penyakit para penulis pemula sehingga kemalasan tersebut yang membuat tidak pernah datang ide. Jika ingin datang ide terus menerus maka perbanyaklah membaca, terlebih membaca aktif untuk menemukan ilmu persfektif sebagai bahan analisa untuk menulis terlebih tulisan-tulisan yang sifatnya kritis.

Jika saja saya masih memelihara minimal 3 penyakit pertama di atas, saya tidak akan pernah menghasilkan satu tulisan pun. Oleh karena itu saya memberanikan diri menulis tanpa pandang bulu siapa yang dikomentari atau dikritik, nah terbukti kan, tulisan saya juga acak-acakan karena tidak pernah ditengok lagi apalagi di edit.

Bagaimana dengan kawanku yang lain?


Read More

27.3.11

Menulis, Perjuangan Melawan Lupa!


gambar dari triwahyudi.com
Saat duduk dibangku SMP atau SMA, Pak Guru di kelas sering mengatakan bahwa menulis catatan ibarat membuat cadangan, cadangan saat kita lupa akan apa yang pernah dipelajari dikelas. Jika memiliki catatan pelajaran kita dapat melihat kembali catatan yang telah lalu jika kita lupa. Begitu pentingnya catatan, Sampe-sampe sang guru sering menghukum murid-muridnya yang tidak membuat catatan pelajaran. Sampai hari ini, barangkali bagi murid SD-SMP-SMA, jika tidak memiliki catatan akan terkena hukuman dari gurunya.
Read More

20.1.11

Spiritualitas Menulis

Menulis bagi sebagian orang sesuatu hal yang gampang-gampang sulit. Sesulit ketika harus presentasi bagi orang yang sering terkena demam panggung atau akan melakukan public speaking. Padahal tentu saja menulis tidak mesti berhadapan dengan orang-orang. Karena menulis dapat dilakukan di kamar sendirian tanpa harus ada orang yang mengetahui. Namun mengapa menulis begitu sulit? 

Read More