Showing posts with label Parenting. Show all posts
Showing posts with label Parenting. Show all posts

6.7.20

Stunting, dari Soal Gizi-Nutrisi Hingga Psikologis

Indonesia menjadi 1 dari 5 negara dengan jumlah penderita stunting terbanyak di dunia, di bawah Pakistan dan di atas Bangladesh. Sedangkan posisi pertama dan kedua adalah negara dengan penduduk 1 milyar lebih, yaitu India dan China.

Walaupun dengan prosentase 3,9 % dengan penderita  mencapai 7,688 pada tahun 2008, namun hal ini harus menjadi perhatian, karena jika tidak diantisipasi, bisa jadi stunting menjadi kasus yang terus meningkat.

Pemerintah melalui berbagai programnya terus mendorong agar masyarakat dapat menekan jumlah penderita stunting; mulai dari imunisasi, bantuan gizi, program keluarga harapan, kesejahteraan sosial, posyandu, dan lainnya. Pada dasarnya program-program tersebut merupakan program-program yang berbasis kesehatan dan gizi masyarakat termasuk di dalamnya adalah anak-anak usia emas, 1-5 tahun.

Pemenuhan Gizi
Stunting, dari Soal Gizi-Nutrisi Hingga Psikologis
Salah satu yang berkontribusi terhadap kondisi stunting adalah persoalan gizi dan pemenuhan nutrisi makanan untuk anak. Untuk bayi sendiri, usia 0-2 tahun, pemenuhan kecukupan ASI dan PASI sudah bisa memenuhi kebutuhan gizi dan nutrisinya.

Namun menjadi persoalan, jika gizi dan nutrisi orang tuanya tidak terpenuhi. Karena akan berpengaruh terhadap ASI-nya. Hal ini disampaikan oleh Dr. Rahmat Sentika, saat memberikan webinar untuk ratusan calon ibu/ Ibu-ibu muda yang mengikuti seminar tentang “Siap menjadi Ibu Pencetak Generasi Emas Bebas Stunting”, Selasa (30/06/2020). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Nutrisi Keluarga, sebuah lembaga nonprofit yang fokus pada kesehatan bunda dan anak.

Pemenuhan gizi untuk Ibu agar menghasilkan ASI yang berkualitas harus lengkap. Bagi dokter yang pernah menjadi anggota DPRRI 1997-1999 ini, gizi lengkap terdiri dari; karbohidrat, protein, lemak yang dibutuhkan, mineral, vitamin B & C, serta air.

Pemenuhan gizi ini harus sudah dilakukan sejak bayi berada dalam kandungan dan setelah lahir. Karena 1000 hari pertama sejak adanya kehidupan dalam kandungan, anak membutuhkan gizi dan nutrisi tersebut untuk membentuk kecerdasannya.

Karena 1000 hari pertama sejak ada kehidupan bagi jabang bayi, hingga bayi lahir, maka saat memulai kehidupan dunia bayi harus juga mendapatkan gizi dan nutrisi. Gizi dan nutrisi itu berasal dari ASI.

Hal serupa disampaikan oleh dr. Tria dari PP Aisyiah yang juga dosen Universitas Muhamadiyyah Jakarta. Walaupun, Tria membedakan antara gizi buruk dengan persoalan stunting, namun salah satu penyebanya adalah ketika anak mengalami kekurangan gizi secara terus menerus, akan menyebabkan stunting.

dr. Tria dan dr. Rahmat sepakat bahwa untuk mengantisipasi stunting adalah dengan pemenuhan gizi dengan gizi yang seimbang. Kedua dokter yang berbeda generasi ini juga sepakat, bahwa faktor kesehatan bisa menyebabkan stunting, misalnya anak terus menerus sakit. Dengan sifat kontinuitas sakit tersebut dapat menyebabkan stunting pada anak. Oleh karena itu, bagi Rahmat, jika sakit maka sembuhkan dulu sakitnya, baru penuhi gizinya, sehingga stunting bisa dianitisipasi.

Pola Asuh
Stunting, dari Soal Gizi-Nutrisi Hingga Psikologis
Peneliti bidang kesehatan publik, dr. Tria, tidak berhenti pada soal gizi dan kesehatan tapi juga menyangkut pola asuh. Pola Asuh ini, selain persoalan gizi adalah pemenuhan kebutuhan secara psikologis; mulai cara memberikan makan, cara mendidik, termasuk juga bagaimana cara berkomunikasi antara orang tua dan anak.

Bagi Psikolog, Vera Itabiliana, bukan hanya soal pemenuhan nutrisi juga bagaimana cara memberikannya kepada anak. Persoalan stunting, sudah harus menjadi visi bagi pasangan yang mau menikah, dia sudah harus memikirkannya, jangan pas setelah menikah. Sehingga pasangan muda memiliki persiapan membangun keluarga yang berkualitas.

Hal serupa disambut oleh paranting influencer, Ratu Anandita, yang memiliki pandangan religius. Pernikahan itu, pasangan suami dan isteri utamanya harus memiliki pegangan yang kuat, yaitu kepada Allah. Hal serupa seperti ditekankan oleh Vera Itabiliana, seorang psikolog, bagi Ratu, penciptaan suasana psikologis yang aman agar berdampak terhadap bayinya adalah bagaimana satu sama lain dalam keluarga harus saling mendukung.

“Kualitas komunikasi pasangan harus baik, harus berdasarkan keputusan bersama. Saling mendukung dengan tujuan memunculkan kepercayaan diri seorang ibu, sehingga beban ibu atau calon ibu menjadi lebih ringan,”ujar Ratu.

Disambung lagi oleh Vera Itabiliana, dengan dukungan tersebut, jika Ibu hepi berpengaruh terhadap keadaan psikologi sang Anak.

SKM bukan Susu Balita
Terkait dengan susu kental manis (SKM) baik bagi dokter Rahmat ataupun dr. Tria,  tidak memenuhi unsur nutrisi karena mengandung banyak gula. Lebih parahnya, SKM tidak mengandung susu. Bahkan menurut catatan dari dr. Rahmat, dalam SKM dua persennya terdiri dari glukosa. Sehingga anak yang sering minum SKM cenderung gemuk tapi tidak sehat.

Oleh karena itu, kedua dokter tersebut berpesan agar anak tidak diberikan susu kental manis. Jika anak sudah ketagihan minum susu kental manis, dapat menimbulkan ketagihan, sehingga tidak baik untuk kesehatan anak. Jika terus menerus terjadi, hal ini juga dapat menyebabkan stunting. ***[]
Read More

7.11.19

Disrupsi (Ruang) Keluarga

Sumber: Pikiran Rakyat, 06/11/2019
Seorang rekan kerja sekaligus seorang ayah dari 3 putrinya yang masih anak dan balita tiba-tiba saja bercerita dan mengeluh, salah dua anaknya kesulitan melepas kebiasaan bermain gawai. Ia juga bercerita, dalam waktu dekat akan mengikuti seminar parenting. Agar mendapatkan cara bagaimana menghentikan kecanduan anaknya tersebut bermain gawai.

Beberapa pekan lalu sempat viral pada pemberitaan, Rumah Sakti Jiwa Jawa Barat kedatangan pasien gangguan jiwa terdampak gawai. Pikiran Rakyat juga menerbitkan berita serupa tertanggal 18 Oktober 2019 pada laman daringnya. Merujuk pada Rumah Sakit Jiwa yang berlokasi di Bogor, terdapat belasan anak dan remaja yang terdampat gawai dan masuk kategori golongan orang dengan masalah kejiwaan (OMDK).

Fenomena ini terjadi hampir di setiap keluarga. Berdasarkan observasi terbatas, orang tua seringkali memberikan gawainya saat anaknya rewel. Beberapa keluarga membelikan anak-anaknya tablet, sehingga hampir seharian anak dapat menguasai perangkatnya tersebut; dari bermain game hingga menonton Youtube. Tanpa diganggu oleh keperluan orang tuanya menggunakan perangkat tersebut.

Disrupsi Masuk Rumah
Sejak popular dan kehadiran gawai di tengah keluarga. Tokoh pahlawan yang dipajang di kamar anak tidak lagi menjadi panutan. Gambar-gambar yang menjadi media pembelajaran yang ditempel di dinding tidak lagi menjadi perhatian. Aktivitas anak beralih dari hal-hal yang bersifat fisik menjadi hal-hal bersifat virtual. Panutan anak kini berasal dari tokoh game dan youtube. Bukan lagi Habibie tapi Atta Halilitar. Bukan lagi atlet berprestasi Kevin Sanjaya atau Febri Hariyadi, namun Spongebob.
Alih perhatian terjadi saat anak mulai sulit melepaskan pandangannya dari layar youtube. Orang tua lebih memilih meninabobokan kerewelan anak dengan memberikan gawai. Maka terjadilah perubahan segala perhatian anak terhadap hal-hal yang fisik. Anak-anak pun menjadi sulit menuruti nasihat orang tuanya. Kata-kata dan perilakunya dibimbing oleh kreasi-kreasi pada layar gawai.

Pada konteks tersebutlah disrupsi telah hadir di tengah-tengah keluarga. Bagi Francis Fukuyama (1999), disrupsi merupakan sebuah kekacauan tatanan sosial sehingga nilai-nilai yang pada awalnya menjadi rujukan bagi masyarakat tereduksi bahkan hilang. Hilangnya nilai inilah yang menjadi sumber kekacauan tatanan tersebut.

Fenomena yang terjadi akhir-akhir ini terhadap kecanduan gawai memberikan konteks bahwa telah terjadi pergeseran nilai-nilai yang diajarkan dalam keluarga. Orang tua yang seharusnya menjadi madrasah pertama dan utama bagi anak-anaknya tergantikan oleh kehadiran gawai. Ajaran dan nasihatnya tidak lagi menjadi rujukan, karena anak telah memiliki panutan sendiri dari tokoh virtual.

Disrupsi mulai merangsek ke ruang keluarga saat anak lebih banyak berinteraksi melalui gadget dibandingkan aktivitas fisik. Padahal anak-anak sedang butuh-butuhnya membangun saraf-sarat psikomotorik. Seperti pernah disampaikan Jalaluddin Rakhmat yang menulis buku Belajar Cerdas, Belajar Berbasis Otak, bahwa masa anak-anak adalah masa membangun jaringan saraf pada otaknya.
Jika anak lebih banyak berinteraksi dengan gawai, yang terbangun bukan saraf psikomotorik. Namun saraf interaksi dengan gawai. Maka wajar, anak mengalami kehilangan orientasi terhadap aktivitas psikomotorik, justeru yang terjadi adalah ketidakrelaannya saat terlepas dari gawai.  

Digital Native
Disrupsi ruang keluarga menjadikan orang tua sangat protektif terhadap anak. Bahkan salah satu komunitas literasi melarang orang tua memberikan akses virtual terhadap anak. Hal ini seakan melawan takdir anak yang lahir dengan segala bentuk kreativitasnya di dunia digital. Jika hal ini diterapkan, maka anak bukan hanya ketinggalan, juga kehilangan peluang besar dalam mengenal lebih awal kreativitas yang dihadirkan oleh perangkat. Ketinggalan ini justeru mendatangkan masalah baru bagi anak. Saat anak lain telah mengenal dunia digital yang kreatif, anak kita justeru tertinggal.
Pada konteks ini, orang tua harus betul-betul bijak dan sabar bagaimana mengenalkan dunia digital dan segala macam krearitivitas yang dapat dijadikan rujukan oleh anak menjadi bahan pembelajaran. Sebagai anak kandung digital, anak kita bernafas dengan bit-bit digital. Seperti ditulis oleh Don Tapscot (2009), anak yang lahir pada era digital memiliki nafas digital sehingga sulit untuk dilepaskan dari pengaruh dan dampaknya sekaligus.

Sebagai anak kandung internet, dunia anak sekarang adalah dunia virtual, yang penuh dengan segala bentuk kreativitas, tidak seperti orang tuanya yang berasal dari generasi X, yang cenderung kesulitan beradaptasi dengan beragam kreativitas yang dilahirkan oleh bit-bit digital (coding). Oleh karena itu biarkan mereka mengenal dunia mereka sendiri.

Sebagai orang tua, yang perlu dilakukan adalah mendampingi, mengingatkan, membukakan mata mereka bahwa walaupun mereka bernafas dengan bit-bit digital mereka hendaknya memperlakukan perangkat sebagai alat kebertubuhan, seperti yang ditawarkan oleh Don Ihde (Lim, 2008). Yaitu sebagai alat yang membantu fungsi tubuh dalam memahami dan menafsirkan dunia. Bukan sebagai bagian dari tubuh itu sendiri yang tidak bisa dilepaskan selama 24 jam.

Oleh karena itu, sebagai fungsi kebertubuhan juga semantik, perangkat hanya digunakan sekali waktu jika dibutuhkan. Digunakan secara wajar untuk keperluan belajar. Bukan terhanyut ke dunianya, bukan tercampur ke dalamnya sehingga anak dan gawai tidak bisa dipisahkan.

Nilai Keluarga
Era Disrupsi tidak berhenti pada kekacauan sebuah tatanan sosial. Juga menawarkan ragam solusi yang bisa memperbaiki tatanan tersebut. Jika anak terdisrupsi oleh kehadiran gawai. Maka di dalam perangkat digital tersebut juga hadir tawaran peluang yang menghadirkan nilai-nilai keluarga.

Persis seperti yang ditawarkan oleh Fukuyama dalam The Great Disruption (1999). Belajar dari dua negara maju, Jepang dan Korea, kedua negara tersebut telah mengalami disrupsi terlebih dahulu. Namun kedua negara tersebut mampu menghadapinya dengan mempertahankan nilai tradisional dalam keluarganya.

Maka peran orang tua, bisa membuka peluang-peluang tersebut untuk menghadirkan kembali nilai-nilai keluarga melalui beragam aplikasi yang menawarkan nilai tersebut. Ipin-Upin yang sarat nilai kekeluargaan bangsa Melayu masih renyah untuk ditonton pada kanal youtube, begitu juga dengan beragam game Islami seperti yang ditawarkan oleh Marbel dan menjadi rujukan anak bagaimana belajar menyenangkan. 

Tentu saja walaupun anak diperkenankan memasuki dunia virtual, ada batasan-batasan yang harus diterapkan oleh orang tua. Dari sisi waktu dan dari sisi akses. Anak-anak hanya bisa bersentuhan dengan perangkat paling lama, misalnya 1 jam. Menonton youtube juga sudah kita sediakan pada ruang download perangkat. Sehingga anak dapat mengendalikan diri dan waktunya tanpa harus ketergantungan terhadap gawai. Semua dikembalikan lagi kepada keluarga dan orangtua.
Read More

27.8.17

Anak Main Gawai? Why Not!

sumber gambar: tempodotco
Jika kebetulan kumpul bareng dengan sanak family atau teman-teman lama, membawa serta pasangan dan anaknya, pemandangan anak yang bermain gadget menjadi hal lumrah. Kadang kasian sama anak sendiri, di saat teman-temannya asyik main game dan buka-buka youtube, anak saya malah menggelendot ke Amihnya atau merengek-rengek ke Saya minta main game di hape jadul.

Sedih juga memang, seperti yang punya rasa rendah diri gitu, mungkin dalam hatinya berkata, “kok akang (panggilan untuk anak pertama) gak di kasih gawai ya”. Teman-teman dan sodaranya pada pegang gawai…hmm bener-bener sedih!
Tapi rasa sedih itu barangkali perasaan yang tidak tepat, karena sebagai orang tua tidak punya pendirian untuk mendidik anak. Di samping karena memang anak tidak dibelikan gawai secara khusus, sekalipun yang murah. Sepertinya saya belum sanggup secara mental memberikan mainan canggih tersebut.
Apalagi setelah konsultasi,  katanya gadget berbahaya untuk anak-anak. Seorang rekan cukup kaget pada saat tahu anak-anak saya main gawai,”Apaaa? Udah dikasih hape? Ujarnya setengah berteriak, seperti kaget.
Rekan yang seorang psikolog juga memberikan gadget kepada anaknya saat anaknya, itupun dengan syarat. Sehingga dia sangat tidak menyarankan kepada anak-anak apalagi masih balita untuk memberikan mainan gawai.
Tambah yakin saja jika anak tidak diberikan gawai!
Tapi belakangan terbersit atau semacam tersadarkan—mungkin juga sejenis kesadaran palsu bahwa hari ini dunia sudah berubah. Sarana didik untuk anak 20 tahun lalu atau saat saya lahir 30 tahun lalu atau saat rekan saya lahir 40 tahun lalu berbeda dengan yang lahir tahun 2000-an. Saya pun berpandangan bahwa anak harus dikenalkan dengan dunia saat dia lahir bukan saat orang tuanya lahir.

Berdasarkan keyakinan itu, saya akhirnya bersepakat dengan isteri memberikan pengenalan gawai dengan langsung pendampingan. Satu atau dua jam. Jika youtube dipastikan kartun-kartun anak, jika game yang tidak berbahaya bagi perkembangan kognitif. Selain juga didampingi dengan video-video pendidikan melalui VCD.

Anak Hidup dengan Dunianya
Sebagai orang tua yang baru memiliki anak Balita atau menjelang lewat golden age, memang ngeri-ngeri sedap dengan perkembangan teknologi hari ini. Begitu pesatnya hingga bisa menyesatkan. Gara-gara gadget anak bisa anak bisa celaka. Bukan hanya bagi anak tapi juga remaja atau orang tua sendiri. Tidak sedikit terkena boomerang dari gadget. Bahkan, cerita saudara yang memiliki tetangganya membiarkan anaknya bermain gadget, sementara orang tuanya bekerja anaknya bebas mengakses youtube dan aplikasi lainnya hingga masuk ke konten pornoaksi. Hampir setiap hari konten tersebut diaksesnya. Dan ia begitu bangga mempertontonkan tontonannya ke tetangga-tetangganya. Sang anak tidak faham bahwa konten tersebut ‘haram’ diakses.

Gadget tidak haram, gadget juga tidak berniat untuk menjerumuskan. Bahkan kehadirannya berniat untuk mempermudah aktivitas keseharian. Kehadirannya harus dimanfaatkan bukan justeru menjadikan malapetaka. Banyak konten yang bisa dijadikan bahan pembelajaran untuk anak-anak. Banyak juga konten positif yang bisa menginspirasi anak untuk melakukan seperti yang diajarkan oleh konten tersebut.

Sebagai anak kandung teknologi, sudah seharusnya anak tidak asing dengan gadget, justeru mereka harus piawai menggunakannya. Generasi milenial adalah mereka yang lahir bukan hanya karena saat mereka lahir sudah maju teknologinya, tapi juga harus disemangati dengan ruhnya. Cepat belajar, cepat berkomunikasi, Cepat berfikir, kreatif, inovatif, pantang menyerah, kritis, dan lain sebagainya. Bagaimana mau menjiwai sisi positif tersebut, jika anak dijauhkan dari ‘benda’nya.

Hanya saja, agar tidak menjadi boomerang, orang tua dituntut tetap awasi anaknya, mengikuti anaknya sampai detil apa yang sedang ditonton dan dimainkan.

Saya pribadi, memberikan gadget kepada anak khusus hari minggu. Itu pun tidak ada akses internet agar anak tidak membuka situs atau konten negative. Dengan begitu, anak tetap mengenal dunianya. Anak mengenal bahasanya sendiri seperti halnya dengan anak-anak lain.

Beberapa situs dan artikel, menulis jika anak tepat bermain game dan menonton dengan porsi yang cukup, akan mempercepat konstruksi saraf kognitif anak. Hal ini akan mempercepat proses pembelajaran anak. Ini menjadi nilai positif. Sekali lagi dengan porsi yang tidak berlebihan. Jangankan anak, orang tua jika kerjanya selama 8 jam duduk, tentau menjadi penyakit. Begitu juga dengan anak.

Oleh karena itu, biarkan anak hidup di dalam dunianya. Jangan dibawa ke dunia kita yang berbeda. Dalami dunianya, jika mampu dan bisa kita bisa masuk ke dunia anak juga agar kita bisa melihat dan merasakan dunianya.
#catatandiujungsenja



Read More