Showing posts with label Ragam Komunikasi. Show all posts
Showing posts with label Ragam Komunikasi. Show all posts

19.8.09

Oleh-oleh Mahasiswa Baru ; Positif vis a vis Negatif


Positif dan negatif merupakan istilah umum yang bisa masuk kemana-mana. Digunakan oleh berbagai bidang dalam ilmu pengetahuan, eksakta, kedokteran, ilmu sosial, ataupun filsafat. Dalam terminology sosial ataupun wabilkhusus dalam kehidupan sehari-hari, istilah positif sering diidentikan dengan sesuatu yang bagus-bagus. Misalnya dalam percakapan seseorang dengan lawan bicaranya ketika menanyakan sesuatu hasil sering mengkonfirmasikan dengan kata positif, yang artinya berhasil atau bagus.
Namun berbeda dengan istilah dalam dunia kedokteran, positif dan negative bisa secara acak bergantian maknanya. Misalnya ketika seeorang mengandung calon bayi dalam rahimnya bisa dimaknai ganda. Jika seorang wanita yang telah memiliki pasangan sah tentu kehamilan yang dibahasakan dengan “positif” tersebut adalah suatu hal yang baik atau mungkin diharapkan, namun berbeda ketika seorang wanita tersebut belum memiliki pasangan yang sah, maka kata “positif’ dari dokter atau dari lembaran alat test seolah menjadi sambaran hari lintar di tengah hari, sehingga kata “positif” justeru menjadi tidak baik baginya, menjadi momok yang menakutkan.

Positif vs Negatif
Cerita ini didapat dari seorang Dosen Adab. Berikut merupakan pengalaman seorang mahasiswa baru yang melakukan test urine untuk keperluan registrasi mahasiswa baru yang telah diterima di UIN Bandung. Ketika sang Calon Mahasiswa tersebut menerima hasil testnya, kemudian konfirmasi ke petugas poliklinik.

Mahasiswa : “Bagaimana hasilnya bu?”, Sambil melihat hasil catatan dari petugas.
Petugas : “Negatif” Jawab petugas dingin.
Mahasiswa : “Ha… Negatif”, balas mahasiswa kaget bukan kepalang.

Sang Calon Mahasiswa langsung protest minta di test ulang.

Mahasiswa : “Bu masa negative, saya mah Positif” kata si mahasiswa dengan nada tinggi.
Mahasiswa : “bisa diulang ga bu?”
Petugas : “???” mengerutkan dahi.

Setelah berfikir sejenak, petugas baru mengerti bahwa calon mahasiswa tersebut mengira bahwa ungkapan atau hasil “negative” yang diperolehnya dari test urine dirinya dikiranya (dimaknai) jelek atau sesuatu yang tidak diinginkan dan akan berefek negative pada dirinya. Dan akhirnya petugas menjelaskan yang dimaksud dengan “negative” dari hasil test urin tersebut.

Petugas : “Gini lho de, maksudnya “Negative” dari hasil test urin ini adalah bahwa urin (air kencing) yang punya ade tidak mengandung narkoba atau zat adiktif lainnya, artinya bahwa urin Ade bagus”
Mahasiswa :”???” masih bingung
Mahasiwa : Ooh
Petugas : “masih mau diulang?”
Mahasiswa : “Owh ga deh bu makasih”, sambil ngeloyor pergi dan tentunya dengan membawa malu.

Read More

13.8.09

Doktor; Kok Disangka dokter


Selalu ada hal-hal lucu dalam hidup kita sehari-hari, tentu saja menyangkut interaksi antar kita. Interaksi yang dihubungkan oleh komunikasi. Komunikasi menjadi tiada tanpa adanya bahasa, baik bahasa verbal ataupun nonverbal. Hal inilah yang mengecoh orang di kampung seorang Doktor Hukum Islam ketika beliau mengadakan syukur nikmat di kampungnya setelah meraih gelar barunya.
Cerita ini didapatkan ketika bercerita dengan Mr. Agus Sulthoni, Senyor saya. Dia menceritakan bagaimana Prof. Dr. Jaih Mubarak yang sekarang menjadi Hakim Agung (mantan Asdir Pascasarjana UIN Bandung) mengadakan Syukuran di kampung kelahirannya daerah Bogor.

Menurut cerita beliau, di ruang kerjanya, hal ini terjadi saat mengadakan syukuran Dr Jaih. Menurut penuturan Prof Jaih, seperti dituturkan oleh Mr. Agus Sulthoni, saat itu datang tetangganya yang terserang panas dingin. Karena mengetahui ada Doktor yang baru saja meraih gelarnya, sang tetangga berkunjung ke rumah Doktor Jaih.

“Untung aya Pak Dokter Jaih”, ungkapnya sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman.

“Kunaon kitu Pak”, Tanya Doktor Jaih
“Ieu si Aki ngadadak Panas tiris”, lanjut sang tetangga

Dokter Jaih kebingungan, kenapa yang sakit dibawa ke rumahnya, padahal ia bukan dokter.

Setelah kebingungan beberapa lama, akhirnya Prof. Jaih mengerti, bahwa di kampung setiap berita tersebar dengan cepat kepada tetangganya, begitupun raihan gelar Doktornya yang kemudian diadakan tasyakur dengan tetangga di kampungnya cepat tersebar. Namun sayang, beberapa penduduk kurang faham, Gelar Doktor yang diraihnya dikiranya dokter yang suka mengobati penyakit.

Setelah kebingungan beberapa detik akhirnya Prof. Jaih tersenyum dan menjelaskan seperlunya kepada sang tetangga bahwa dirinya bukanlah dokter seperti yang disangkakan itu. Sang tetangga pun mengerti. Prof. Jaih berkelakar,”Masa saya disangka dokter,” sambil terkekeh.


Diceritakan kembali oleh Agus Sulthoni kepada penulis dan ditulis seperlunya.


Read More

24.2.09

HMI, Kok Ada di Bandung?

Dalam Komuniksi, persepsi seperti dikatakan oleh Deddy Mulyana merupakan inti Komunikasi. Persepsi memegang peranan penting dalam komunikasi. Pemaknaan seseorang terhadap pesan yang muncul atau diterima tergantung pada persepsinya mengenai pesan tersebut. Persepsi ditentukan oleh field of experience dan field of reference. Bahwa persepsi seseorang terhadap pesan sangat ditentukan oleh sejauh mana pengalaman dan referensinya tentang sesuatu. Filed of experience dan filed of reference tergantung pada sikap, pelajaran, persepsi, dan nilai seorang individu atau kelompok. Begitu juga ketika saya mempersepsi sebuah tulisan “ HMI kini hadir di kota Bandung”.

Jadi ceritanya beberapa bulan yang lalu ketika penulis melintasi jalan Soekarno Hatta Bandung tepatnya setelah melewati wilayah Metro menuju Leuwi Panjang, tiba-tiba penulis membaca sebuah tulisan dalam spanduk “ HMI KINI HADIR DI KOTA BANDUNG”. Setelah membaca tulisan tersebut sontak saja saya heran, kok HMI hadir di kota Bandung, bukannya HMI sejak awal kemerdekaan sudah ada di kota Bandung, kenapa sekarang baru ada. HMI yang saya persepsikan dalam benak saya adalah sebuah organisasi mahasiswa Islam terbesar dan terlama di Indonesia yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Namun tentu saja penulis masih bisa berfikir kritis dan jernih. Sebab warna tulisannya bukan berwarna hijau seperti yang seringkali dijadikan warna dasar HMI yaitu Hijau yang sekaligus menjadi warna ideologis. Saya mempersepsi demikian karena saya mempunyai hubungan yang cukup khusus dengan HMI khususnya HMI Kabupaten Bandung. Maka sayapun berani membantah dalam benak saya bahwa HMI yang dimaksud bukan HMI seperti yang saya maksud. Namun tentu saja sayapun tidak bisa mengelak atas kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi, bisa saja HMI sedang bermetamorofosis atas dinamikanya sehingga tidak saja hanya muncul HMI (DIPO) dan HMI (MPO) yang lahir kemudian karena desakan dan rasionalisasi dinamika organisasi. Mungkin juga sekarang lahir HMI baru yang dilahirkan oleh orang-orang yang lebih progressif sehingga mengganti warna ideologisnya menjadi biru dan tentu saja kelahirannya tersebut mengatasnamakan penyelamatan organisasi seperti yang sudah terjadi sebelumnya dengan nama MPO (Majelis Penyelamat Organisasi).

Selama dalam perjalanan pikiran saya terus mengembara membayangkan jika saja itu adalah benar-benar HMI seperti yang saya maksudkan, tentu saya harus segera mengetahui perkembangan atasnya, karena bagaimanapun saya salah satu anak yang lahir di HMI ketika mahasiswa. Namun tentu saja pikiran saya tidak berlanjut karena rumah yang saya tuju berada dihadapan saya, dan pikiran saya tentang HMI pun berhenti sampai disitu. Namun tentu saja, keberhentianku tentang kepenasaran saya tentang HMI yang dimaksud masih terus akan saya lanjutkan, karena tulisan yang saya baca tentang “HMI kini Hadir di Kota Bandung” hanya sepotong saja.

Dua haari kemudian, saya pun melenggang kembali melewati jalan Soekarno Hatta dan saya bertekad akan mencari tahu apa dan siapa sih HMI yang dimaksud, khususnya dari tulisan itu. Setelah dekat dengan lokasi spanduk tersebut akhirnya saya melihat kembali tulisan spanduk tersebut, namun tidak ditemukan jawaban, karena tidak ada keterangan atasnya. Barulah setelah saya melongok agak sedikit ke atas gedung, sedikit kebelakang dan agak ke atas dari tempat spanduk dipasang, ada logo merek kendaraan Hyundai. barulah disitu saya sadar, dan berandaimungkin, bahwa HMI itu singkatan dari “HYUNDAI MOBIL INDONESIA” bukan “ HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM”.

Alamak!!!

“ Jadi jelas saja jika tulisannya warna biru dan HMI yang dimaksud baru hadir di kota Bandung, karena baru membuka cabang baru di Bandung” pikirku saat itu menjawab keheranan dan kepenasaranku selama 2 hari.


Read More

24.12.08

Office 2003 VS Offive 2007 bagian II

Jika pada cerita Komunikasi antar budaya dengan judul di atas sebelumnya para komunikate berhasil mengambil solusi dan ada pergeseran pengtahuan dari tidak tau mejadi tahu bahkan menghubungkan silaturahmi baik antar komunikate ataupun dengan media sendiri, pada persfektif cerita ini justeru sebaliknya. cerita ini dialami oleh teman saya yang Jebolan Universitas Swasta terkemuka yang berbasis IT.
Suatu hari sang teman yang saya panggil akang, mendapatkan pesanan sebuah PC (personal computer) oleh mantan ketua RW di kampung saya di Garut. Sang Mantan RW tersebut mempunyai 3 orang anak dan salah seorangnya bersekolah di SMK. Sang anak tersebut mengutarakan keinginannya memiliki computer karena untuk mengerjakan tugas-tugas, jika setiap tugas harus selalu dikerjakan di rental tentu berabe karena jaraknya yang cukup jauh. Akhirnya sang mantan Ketua RW tersebut meminta bantuan Akang untuk membelikan sebuah PC yang serba baru, baik dari hardwarenya ataupun dari softwarenya.

Singkat cerita PC sudah jadi dan sudah bisa digunakan dengan menggunakan program office 2007. Dengan untung yang tidak seberapa menurut cerita Akang kepada saya, karena sifat sosialnya dikampung yang masih tinggi, komputer pun akhirnya digunakan oleh sang anak, lengkap dengan printernya.

Suatu hari ada seorang tetangga ikut mengetik pada komputer sang mantan ketua RW tersebut, setelah mengetik sampai puluhan halaman tersebut akhirnya sang tetangga pun pamit karena printernya ga bisa digunakan. Sang tetangga pun memutuskan untuk melakukan print out di rentalan saja, karena tugas sudah mendesak harus dikumpulkan.

Besok paginya sang tetangga buru-buru ke rentalan yang jaraknya lumayan jauh, sekitar 5 Km atau dengan ongkos Rp. 10.000, pulang pergi.

setelah sampai di tempat rental komputer, file tugas yang telah diketiknya ga bisa dibuka, kontan saja sang tetangga emosi dan akhirnya laporan ke pemilik komputer, bahwa komputernya teu baleg (ga bener).

Karena terpengaruh sang tetangga, sang pemilik pun akhirnya menyalahkan akang, seorang yang telah merakitkan komputer untuk sang pemilik.

” udah bayar mahal-malah malahan ga bener ” maki sang pemilik.

Padahal menurut cerita akang, space CPU nya sudah sesuai dengan permintaan, segala baru dan selama ini ga ada masalah.

Namun setelah dipake oleh sang tetangga ko jadi ada masalah. Akhirnya akang menyalahkan sang tetangga tersebut karena tidak becus menggunakan komputer.

akhirnya sang tetangga dan akang saling menyalahkan walaupun tidak berada dalam satu ruang dan waktu yang sama.

si Akang juga ga tau kalo ”musibah” yang dialami sang tetangga tersebut karena berbeda program, sehingga tidak disampaikan ke pemilik PC tersebut. yang pada akhirnya saling mengerutu satu sama lain, sang pemilik menggerutu ke si Akang, Si Akang menggerutu ke sang tetangga.

Setelah saya tanya-tanya, akhirnya diketahui bahwa Program office (seperti telah saya ceritakan di atas) yang digunakan oleh sang pemilik berbeda dengan office yang digunakan kebanyakan rentalan komputer.

akhirnya saya kasih informasi bahwa jika programnya berbeda maka harus digunakan subtitle save as, akhinya si Akang manggut-manggut tanda mengerti, namun tetap merasa kecewa kepada sang tetangga sehingga memprovokasi sang pemilik bahwa dikirannya si Kang lah yang ga bener bikin rakitan CPU.

(diceritakan oleh Akang ketika penulis pulang ke kampung halaman di Garut, mohon maaf jika namanya tidak disebutkan, karena cerita ini cerita nyata)

Read More

23.12.08

Office 2003 VS Offive 2007

Bagi pengguna computer, PC ataupun Laptop, tentu kita kenal program Office. Itulah yang ada powerpoint, Exel ataupun Word-nya.

Bagi para pengguna Office 1997-2003 barangkali akan sedikit gagap ketika pertama kali menjajal program office 2007, termasuk juga saya tidak faham dengan dengan program tersebut walaupun sebetulnya jika diperhatikan maka office word 2007 lebih comfort dan tentunya lengkap.
Suatu hari saya numpang ngetik di laptop seorang kawan yang kebetulan Laptopnya menggunakan aplikasi office 2007. Saya saat itu tidak tahu menahu jika akan digunakan pada aplikasi office 2000 atau 2003 harus disave dalam dengan subtitle office 2007. setelah selesai mengetik akhirnya saya save di plasdisk tanpa disave di subtitle 1997-2003, ketika hasil ketikan tersebut akan saya print out, eh ga bisa dibuka sedangkan jika balik lagi ke kelas waktunya sudah mepet, akhirnya saya ketik ulang. inilah akibatnya kurang komunikasi dengan teknologi pikirku saat itu, ko temen-temen juga ga ngasih tau, pikirku.

setelah kejadian tersebut akhirnya saya tidak pernah salah lagi jika numpang ngetik di program office 2007, saya tidak lupa untuk menyimpan dengan subtitle 1997-2003, kecuali jika minta copyan dari temen pasti selalu lupa jika orang lain penggunaan teknologinya masih tahun 2003 ke bawah. Jika sudah demikian saya harus cari rental atau temen yang menggunakan aplikasi 2007 untuk di save as.

Kekurangkomunikasian dengan teknologi terbaru tentu bukan monopoli saya yang gaptek namun juga terjadi pada orang lain. Misalnya salah satu Pegawas Sekolah (namanya rahasia) Menengah kejuruan di kota Bandung pernah kena getah kemajuan teknologi ini. Suatu hari sang Pengawas meminta semua data persiapan akreditasi yang sudah terkumpul dalam bentuk file agar tidak berabe mengangkutnya dan bisa diperiksa di rumah.

Setelah dibawa ke rumah dan dibuka di Komputer pribadinya, tentu saja semua file tersebut tidak bisa dibuka karena menggunakan program office 2007 sedangkan komputernya menggunakan program office 2000. Sang Pengawas menyangka bahwa cakram padat tersebut yang diberikan kepada dirinya kena virus semua, sehingga meminta cakram padat baru, namun tetap saja kejadiannya demikian, setelah ngobrol-ngobrol dengan orang yang memberikannya (kebetulan ahli informatika) akhirnya Sang Pengawas di kasih tau bahwa ga akan kebuka sampai kapanpun karena program officenya berbeda. Akhirnya sang Pengawas tersebut minta agar PC-nya diinstali ulang dengan menggunakan office 2007 dan si Pengawas bersyukur karena jadi tau tentang perpindahan teknologi software computer tersebut.

Read More

20.12.08

Bedanya Mobil dan Kendaraan

Pada tanggal 11-15 Desember minggu lalu penulis bersama seorang teman di Pascasarjana diminta bantuan oleh teman sekelas untuk melakukan tugas survey tentang Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro. Perjalanan saya dimulai dari Bandung kemudian ke Semarang dengan menggunakan Bis Nusantara. Sesampai di Semarang saya bermalam di Hotel Terboyo, pas berada di sebelah terminal terboyo. Menjelang siang sekitar pukul 09.00 kami berdua menuju ke Dinas ESDM Provinsi. Dalam proses pencarian tersebut memakan waktu yang lama, sampai harus muter-muter dulu, karena lokasinya berada sedikit ke dalam, walaupun sebetulnya jika sudah mengetahui ada jalan pintas. Setelah akhirnya Tanya kesana kemari akhirnya lokasi kami temukan juga—dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah. Setelah mendapatkan informasi yang cukup dari dinas ESDM mengenai lokasi-lokasi PLTMH di Seluruh Jawa Tengah, kami pun menuju salah satu lokasi sesuai dengan petunjuk dari Dinas ESDM. Lokasi yang kami pilih pertama adalah daerah Pekalongan.

Sebelum akhirnya tiba ke Pekalongan saya pesen ke temen, wah jangan pake hotel-hotel yang mahal, tapi yang sederhana saja. Pesen itu disampaikan ke temennya yang kebetulan kerja di pekalongan. Namun setelah itu kami diantarkan malah ke sebuah penginapan yang menurut kami itu di bawah standar, artinya untuk ukuran kami saat itu, karena perubahannya drastis dari hotel pertama yang kami inapi. Namun tidak menjadi masalah toh bila masalah tempat tidur kita bisa lakukan dimana saja sekalipun mesti di mushala.

Setelah istirahat satu malam dan bertanya mengenai lokasi yang akan kami kunjungi yaitu daerah Petungkriyono tepatnya desa Curug Muncar, kami kebingungan harus naik apa kami kesana, sedangkan lokasinya jauh, sedangkan jika naek kendaraan umum pasti tidak akan keburu waktunya karena kebetulan saat itu hari jum’at. Akhirnya teman saya mengusulkan dengan naik taksi agar bisa cepat…

”Wah gila naik taksi”, pikirku, padahal kita belum tau lokasinya seperti apa, kondisi dan jaraknya juga belum tahu. akhirnya saya sarankan untuk menyewa motor, disamping akan lebih murah dari taksi yang jelas bisa sampe cepetnya, pikirku saat ini.

Inti cerita yang bermadzhab Mulya terjadi disini ketika kami mendatangi pangkalan ojeg di jalan urip.

setelah kami ngobrol tentang maksud untuk mencari sewaan kendaraan akhirnya salah satu dari kami bertanya tentang lokasi Curug Muncar, tempat PLTMH.

” Pak kalo ke Petungkriyono desa curug muncar berapa lama? tanya kami

“ Kalo pake Mobil itu sekitar satu jam setengah, tapi kalo pake Kendaraan paling tiga perempat jam bahkan bisa setengah jam”

Saat itu saya belum conect tentang mobil dan kendaraan yang dicetak tebal di atas karena kebetulan teman saya yang kebetulan orang jawa yang berbicara dengan mereka.

Namun setalah agak lama saya berfikir dan hanya dipendam dalam hati karena takut-takut salah karena saya orang sunda, ga ngerti bahasa jawa (pekalongan), saya pun berpikir, “lho ko kalo pake mobil sampe satu jam setengah, tapi kok kalo pake kendaraan Cuma setengah jam”. pikirku

Setelah sampe di Penginapan saya tanyakan ke temen saya mengenai ketidakmengertian tersebut, yaitu antara pengertian mobil dan kendaraan. Temen saya sambil ketawa menjelaskan,” Iki loh maksudne, mobil itu angkutan umum seperti angkot atau bis sedangkan kendaraan itu maksudnya motor atau kendaraan ojeg (motor)” jawab teman saya

Walah piye toh mas, pantesan bingung saya dari tadi, padahal kan dalam kosakata bahasa sunda mobil itu adalah bagian dari jenis kendaraan darat. Mobil sama motor sama-sama jenis kendaraan darat.

Di sinilah mungkin letak komunikasi antar budayanya, ketidakmengertian mengenai kebiasaan kekurangfahaman terhadap bahasa tertentu akan menjadi noise dalam melakukan praktik komunikasi.

Begitupun dengan yang saya alami pada saat itu, kata mobil dan kendaraan menjadi faktor kebingungan saya ketika mengeintrepretasikan satu jam setengah dan setengah jam karena ketikdamengertian saya terhadap kosakata tersebut dalam kebiasaan orang pekalongan, padahal kalo mobil dan kendaraan itu sama mengapa mesti beda waktu tempuhnya...kilah saya waktu itu di dalam hati.

(Pekalongan, Jum’at 12 Desember 2008) perjalanan bersama A. Ganjar Runtiko—dosen Universitas Jendral Sudirman Purwokerto.

Read More

Sayur Jangan

Ini cerita saya dapatkan ketika berada di pekalongan, cerita saya dapatkan dari koran harian Suara Merdeka. Cerita seorang Mahasiswa baru yang menjadi anak kost di daerah Sleman Yogyakarta. Mahasiswa baru tersebut tiba di Yogyakarta tentunya tanpa bekal pengetahuan budaya derah setempat, termasuk nama-nama makanan atau sebutan kebiasaan tertentu bagi jenis makanan tertentu. Kebetulan si Mahasiswa baru negekost di sebuah kost-kostan yang ada induk semangnya atau Ibu Kostnya.
Pada hari pertama ngekos si Anak kost baru tersebut akan makan dan kebetulan sendirian, di ruang makan tersebut hanya ada Ibu kost yang menemani sedangkan anak kost yang lain kebetulan sibuk kuliah dan sedang pada keluar. Karena anak kost baru, maka sesuai kebiasaan si Ibu Kost, agar tidak kaku si anak kost tersebut, maka ditunjukanlah jenis-jenis makanan yang disediakan oleh si Ibu kost, “ ini lho ada nasi, tahu, tempe, kecap” kata si ibu kost sambil menunjukan telunjuknya ke jenis makanan yang ia sebutkan.

Pada saat situ si Ibu Kost menunjukan salah satu jenis makanan yaitu sayur kemudian kata si Ibu Kost,” dan ini Jangan” samil menunjuk ke jenis sayuran.

Lantas si Anak kost baru tersebut makan dengan lahapnya hanya dengan tempe, tahau dan kecap, sedangkan sayuran yang ditunjukan oleh si Ibu Kost enggak dimakannya karena sesuai petunjuk ibu kost uga jangan atau ga boleh.

Setelah sebulan lamanya si Anak kost baru tersebut tanpa protes atau bertanya kenapa ga boleh makan sayur tersebut, hanya makan dengan lauk tahu tempe di tambah dengan kecap.

Pada suatu hari kebetulan anak-anak kost sedang pada kumpul dan makan bareng. Melihat si Anak kost baru yang hanya makan dengan tahu tempe dan ditambah dengan kecap, teman-teman kost yang sudah lama heran, “ kenapa sayurnya ga di makan? Anak kost yang sudah lama tinggal di situ.

“ Lho kan kata si Ibu ga boleh makan sayuran itu” kata anak kost baru

“ kata siapa, kapan si ibu ngeralang-larang makanan yang ada di meja?” kata anak kost lama

“ ga kok mas, waktu pertama kali kesini saya makan sendirian, dan hanya si Ibu yang nemenin saya, si Ibu bilang gini,' ini Jangan', katanya” Ujar si anak kost baru sambil memperagakan seperti si Ibu tempo lalu.

“ Ha..ha..ha..” Serempak anak kost yang udah lama tinggal disitu ketawa terbahak-bahak menertawakan tingkah anak kost baru

“ ini memang namanya sayur jangan “ kata anak kost lama

“ ooh jadi yang dimaksud Jangan itu, maksudnya sayur Jangan, bukannya ga boleh dimakan” kata anak kost baru sambil ngeloyor mau ngambil sayur Jangan yang dikirannya ga boleh dimakan.

Read More