13.12.20

Menepi di Cantigi

Menepi di Cantigi. Salah satu area permainan, Cantigi Camp. 

Pandemi, membuat hidup setiap orang menyisi. Bukan hanya soal ekonomi, juga emosi dan ketertekanan diri. Jiwa menjadi sepi. Setiap hari bertemu dengan dinding persegi, juga pintu yang seringnya menutupi penghuni.

Bosan iya, jenuh pasti. Keuangan terkurangi. Banyak agenda tertunda tanpa permisi. Karena setiap orang telah memaklumi. Satu kata, karena pandemi.


Minggu pertama Desember tahun 2020 ini, sejak pagi telah bersiap diri. Berniat pergi ke satu area wisata lokal yang sedang populer di Bandung Timur. Batu Kuda Gunung Manglayang.


Walaupun telah dua kali berkunjung ke sini, namun itu dilakukan saat tempat wisata yang lebih pas disebut sebagai hutan pinus ini, mengubah diri sejak beberapa tahun lalu. Sehingga cukup penasaran sekadar mengenali lagi area yang masih satu desa dengan rumah kami.


Menggunakan kuda besi hitam, kami pun beranjak menuju lokasi. Sayang, saat itu jalan menuju area sedang diperbaiki dengan cara dibeton. Akhirnya kami mencari jalan alternatif lain. Setelah tanya-tanya, akhirnya kami mendapati jalan alternatif. Sayang, hujan cukup merapat hingga tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan. Daaan kami pun kembali.


Namun teringat, di penghujung libur panjang yang melelahkan, kami pernah mengunjungi satu tempat yang tidak kalah menariknya. Ya, saat itu, Agustus 2020, menjelang penutupan libur sekolah pagi. Mencoba membuka diri, menghirup udara yang lebih hijau dibandingkan tetanaman halaman yang seuprit. Masih berada di kecamatan yang sama. Cileunyi belok kiri atas. Menuju ke arah Timur Bandung. Suatu lokasi yang masih asri dan pepohonan menjulang tinggi. Tempat parkir tertata rapi. Tepatnya berada di daerah Manjah Beureum Cileunyi Wetan. Cantigi Camp namanya.


Cantigi; dari Outbond, Camp, hingga Wisata Keluarga

Menepi di Cantigi. Salah satu area permainan, Cantigi Camp. Perosotan.


Cantigi Camp, dilihat dari namanya merupakan area tempat perkemahan. Di area paling tinggi dan atas terdapat lapangan cukup luas dengan dikelilingi oleh saung-saung yang cukup luas juga. Memang, sepertinya area ini disediakan khusus untuk perkemahan grup.

Namun, dengan kunjungan personal, Cantigi juga merupakan suatu area rekreasi keluarga, tepatnya tempat hang out bergaya outbond. Bukan hanya saung-saung tempat menepi dari hujan dan panas. Juga nyaman jika digunakan untuk botram alias makan bersama keluarga atau sanak famili lainnya.


Sebagai tempat outbond, Cantigi memiliki lapangan cukup luas. Lapangan di sana sini. Wajar karena lapangan tersebut merupakan area perkemahan. Selain bisa digunakan untuk kelompok atau grup besar, juga untuk keluarga kecil yang  merindukan suasana asri, sejuk, dan jauh dari hiruk pikuk kendaraan dan polusi udara.


Keluarga yang memiliki anak-anak laki-laki bisa bermain bola tanpa terganggu pengunjung yang menggunakan fasilitas outbond. Pepohonan yang menjulang tinggi, bisa melindungi dari sorotan matahari tengah hari. Sehingga tidak khawatir kepanasan. Bahkan tidak khawatir anak-anak tersesat di kerumunan orang. Karena masih bisa terpantau dari kejauhan sejauh mata memandang.


Bangunan yang cukup luas dapat digunakan untuk acara-acara ultah bergaya outdoor. Atau sekedar memberikan tutorial untuk peserta pelatihan perusahaan kecil. Beragam fasilitas juga tersedia; perosotan, kolam lengkap dengan perahu, juga kolam untuk melatih keseimbangan. Begitu juga dengan ada flying fox khusus untuk anak-anak, selain juga untuk dewasa yang lebih tinggi dan lebih panjang talinya. Sayangnya, flying fox untuk keluarga berbayar hehehe.


Memiliki embel-embel Camp, Cantigi terkesan serius khusus untuk tempat kegiatan outbond, tapi cocok untuk wisata atau tempat piknik keluarga. Hampir pada setiap tempatnya memiliki tempat duduk-duduk selain menyediakan saung-saung, baik untuk kapasitas 5 orang atau 15 orang.  


Jika tidak ingin repot membawa makan dari rumah, tempat ini sebetulnya menyediakan resto lengkap dengan saung gazebo-nya. Bahkan sepertinya, terdapat dapur khusus sebagai ruang produksi makanan. Sayang, memang karena masa pandemi resto ini harus tutup sementara waktu.


Sebagai informasi, saat saya mengunjungi tempat ini, area parkir sedang diperluas. Sepertinya pengelola sedang melakukan perluasan tempat agar pengunjung bisa lebih nyaman dan aman memarkirkan kendaraannya.


Saya sendiri, selain lebih menikmati suasana hehijauan Cantigi, lebih menikmati sebagai latar untuk foto-foto anak. Kebetulan sudah lama tidak pernah foto anak-anak.


Murah Meriah

Tiket masuk dipatok rata Rp.7.500.-/ orangnya. Baik dewasa maupun anak-anak, terkecuali balita tidak dihitung. Dengan harga murah tersebut, pengunjung bisa menikmati semua fasilitas yang ada di Cantigi Camp. Pengecualian Flying Fox untuk dewasa, pengunjung harus mengeluarkan lagi koceknya seharga Rp.15.000,-/ orangnya. Namun, bagi anak-anak (kids) disediakan fasilitas flying fox gratis yang satu area dengan fasilitas ayunan.


Pengunjung bisa berpuas ria menikmati semua fasilitas dan bermain bersama sanak keluarga sambil menikmati udara sejuk yang berasal dari pohon-pohon menahun dan meninggi. Suasana yang nyaman, Cantigi Camp juga bisa dijadikan sebagai tempat bersantai, ngopi, ataupun berleha-leha dengan fasilitas Gazebo yang tersedia.


Tempat ibadah dan toilet yang sangat urgent dalam bepergiaan, juga tersedia di sini. Sehingga tidak perlu khawatir, dapat memfasilitasi keperluan beribadah, khususnya bagi muslim. Jika memasuki waktu ibadah, pengunjung tidak repot mencari mushola.


Menuju Cantigi

Tinggal ketik Cantigi Camp untuk Mapsnya.

Cantigi Camp cukup mudah dijangkau dengan kendaraan pribadi ataupun menggunakan Opang. Tempatnya berada di daerah Manjah Bereum Cileunyi Wetan. Sekitar 7 km dari Bunderan Cibiru, sekitar 20 menit waktu perjalanan. Jika posisinya dari Cileunyi sekitar 3,5 km dari Jalan Raya Cileunyi (terminal) atau sekitar 12 menit.


Bagi baraya yang hendak mengunjungi tempat ini dengan menggunakan kendaraan pribadi, jalan masuknya tepat berada di sebelah kiri ujung jalan percobaan Cileunyi menuju arah Sumedang. Jika arahnya dari Sumedang maka belok kanan pas sebelum masuk jalan percobaan.


Cukup 2 jam berada di sini, dan kepenatan karena selalu diborder oleh pintu dan langit-langit rumah, akhirnya terbayar setitik dengan suasana hijau Cantigi, saya bisa menikmati kembali langit asli ciptaan Tuhan. Cantigi bisa jadi tempat wisata keluarga alternatif terdekat bagi yang tinggal di sekitar lokasi, Cileunyi dan sekitarnya.***[]

 

Read More

12.12.20

Pahami Karakter Medsosmu, Brosis! Jangan Sampai Keuwuan Membawa Sengsara

Uwu, seuwu tulisannya! @abahraka

Warganet 62 terkenal Julid, karena kejulidannya yang sudah melewati batas wajar, sampai-sampai lahir frasa netizen mahabenar. Namun pada sisi lain, netizen 62 juga terkenal dengan sikap empatiknya di dunia lain, apalagi jika dibubuhi dengan kata Please twitter, give your magic!, dengan cepat postingannya akan tersebar ke mayantara.


Akhir-akhir ini fenomena semacamnya menjadi pemandangan yang biasa di twitterland, yang bisa menyebar ke seantero negeri medsos lainnya. Jika awalnya, saya sering melihat fenomena tersebut karena isu-isu politik, belakangan tentang keuwuan anak tanggung sampai menu bekal suami pun dijulidin netizen maha benar. Wajar jika abegeh tersebut mendapatkan spill of the tea, karena sebelumnya, sang lelaki menggoda perempuan lain, sampai minta pap sensitif segala. Etapi menu bekal suami, kenapa dijulidin juga? Nah, kejulidan ini mengetuk tangan-tangan gatal saya, untuk menuliskan dalam bentuk catatan tak berdaya ini.


Sulit Melihat Orang Bahagia

Kenapa melihat orang bahagia begitu bencinya, dan saat orang berbagi inspirasi, seperti menonton kesalahan hakiki? Sedangkan berbagi posisi batu bata rumah di atas kusen pintu jadi inspirasi?


Asumsi saya, kedua contoh kasus tentang keuwuan erat hubungannya dengan rasa! You know lah, rasa itu ibarat lidah, saat badmood, makanan enak apapun tetap tidak punya taste. Hambar. Jika tidak enak justeru mengundang emosi. Apalagi bagi seseorang yang selama hidupnya belum pernah merasakan manisnya berpasangan. Jomlonya udah takdir. Untuk merasakan keuwuan, para jones badmood harus sering-sering nonton drakor. Nah, saat drakor selesai, badmood-nya memuncak lagi. Saat keuwuan orang muncul pada temlen, mencabik-cabik perasaannya, yang udah lama garing bertambah kering kerontang. Komentarnya pun autojulid. Belum lagi situasi sulit seperti sekarang menjadi pelengkap kejulidannya.


Kalau di temlennya muncul postingan keuwuan dengan dengan mutualannya, apakah itu tidak bikin panas? Sementara dirinya, yang sudah lama ngecengin anak tetangga, gak pernah dapat. Apalagi saat seorang istri sholehah, begitu cintanya, setiap hari membuatkan sarapan dan bekal, apa gak merasa gagal tuh kaum feminis dalam mendidik kaumnya agar memberontak patriarki? Maka muncul kejulidan-kejulidan berlapis yang akan diarahkan kepada siapapun yang pamer keuwuannya. Betapapun keuwuan yang wajar.


Nah, kalau sudah kejadian seperti ini, yang repot bukan hanya penikmat keuwuan semu dunia maya, juga para juliders yang tidak bisa tenang hidupnya. Karena setiap menonton keuwuan orang lain, hatinya panas bin julid.


Bukan untuk Fomo Sapiens

Pada negeri sebelah (baca Instagram), keuwuan menjadi hal yang lumrah. Bahkan keuwuan yang remeh temeh pun sering menjadi konsumsi warganya. Senang-senang aja tuh. Bahkan dapat laik dan komentar banyak. Gak ada yang julid. Kecuali seleb yang banyak haternya. Sepertinya, berbagi keuwuan di negeri sebelah itu, menjadi paten bagi negeri tersebut. Hal yang sulit terjadi, kalau orang-orang biasa (folowernya masih dikit) dijulidin sama warganet biasa juga.


Wajar jika negeri ini terkenal dengan sebutan negerinya tukang pamer; dari remeh temeh hingga ramah tamah, dari yang sederhana hingga yang mewah. Dari dapat voucher 50ribu, hingga dapat giveaway jutaan. Dari yang dapat untung ribuan hingga puluhan juta. Dari usaha jual cilok sampai usaha jual intan. Dari yang hanya makan sama ikan asin, sampai yang makan ikan Arwana harga jutaan (dikiranya ikan Arwana buat digoreng). Semua lumrah terjadi dan tidak pernah terjadi kericuhan.


Kaum julid juga malas jika harus numpahin teh di negeri kaum FoMO! (Fear of Missing Out). Karena pasti setiap orang berlomba-lomba pamer segala hal. Gak ada kesempatan kaum julid bikin ricuh, karena setiap netizen berkomentar dengan keuwuannya masing-masing. Mereka yang pseudo UWU, tidak punya kesempatan sama sekali untuk menuangkan tehnya. Maka pembalasan kaum julid lari ke twitterland, yang memungkinkan setiap orang membuang semua sampah dan sumpahnya.


Lengkaplah twitterland oleh beragam manusia; dari yang terpelajar, politisi, para UWU, sampe penyedia jasa esek-eesk. Sejak pemilik twitter memfasilitasi dengan beragam fitur yang unyu, banyak generasi abal-abal pindah ke sini. Dengan akun abal-abal mereka menjadi zombie di siang hari. Memakan semua hal yang berbau rasa dan keuwuan. Menyerang kebijaksanaan yang tidak mereka dapatkan di lingkungannya nyatanya.


Jadi, saranku, Kaum FoMO Sapiens, silahkan bersenang-senang di negeri yang memanjakan dirimu, yaitu di Instagram yang bersih, wangi, dan penuh pesona. Jangan di twitterland yang sudah basah oleh kucuran liur sampah serapah dan semua jasa hampir semua tersedia. Tapi lain hal, jika kamu seleb, apalagi pecandu sahdu, betapapun sampahnya cuitanmu, pasti disambut bahagia oleh mereka.


Anda harus sadar diri sebagai orang biasa, tunjukkanlah bahwa anda juga biasa, jika perlu, tunjukkan kesulitan anda, karena justeru mereka kaum Julid cukup bahagia melihat kesulitan. Mereka pun langsung percaya, karena kesulitan serupa dengan kekeringan rasa mereka. Walaupun pada akhirnya mereka tertipu dengan simulacra mayantara.


Tapi tidak sedikit kok, bahwa kesulitan-kesulitan itu nyata dan berbuah bahagia, karena; entah itu yang sedang bertahan hidup dengan berjualan, menjual motornya, ataupun jenis kesulitan lain misalnya diusir ibu tiri. Kesulitan mereka disambut dengan empatik.


Pahami Karakter Medsosmu, Brosis!

Setiap media sosial memiliki niche-nya masing-masing. Tidak menyamaratakan perlakukan pengguna terhadap semua media sosial menjadi pilihan bijak, jika eksistensi kita ingin diakomodasi. Mungkin itu kata-kata bijak yang saya miliki untuk penduduk tiap media sosial. Walaupun, tidak semua media sosial membuat segmentasi tertentu. Misalnya, twitter hanya untuk kaum terpelajar dan melek politik. Siapa bilang? Toh sekarang, politik bukan tema satu-satunya yang sering trending. Isu-isu remeh temeh dan bahasan generasi lebay juga banyak kok di sini.


Jika di negeri tetangga, Instagram, kalian mau pamer segala macam sah-sah saja, sepertinya negeri tersebut memang yang paling cocok. Tapi tidak cocok untuk berbagi informasi link berita, karena cocoknya di dunia lain, facebook, yang sudah sangat berjubel dari anak gadis sampai nenek kakek.


Kalau mau cari gebetan, tentu kalian tidak cocok mencarinya di negeri kantoran semacam LinkedIn, karena negeri tersebut khusus untuk para jobless dan penebar lowongan kerja. Kalian cukup pergi ke negeri Tinder atau Tantan. Begitu juga kalo mau cari cowok atau cewek yang gampang untuk bermain-main di kosan, tentu tidak di medsos itu, tapi di youchat.


Jika kalian ingin menjadi betul-betul maya dengan informasi yang seringkali mengagregasi keviralan dari media online tidak jelas,  kalian harus paham, itu ada di line. Atau jika kalian ingin memalsukan informasi, jangan bermain di Wikipedia, tapi bikin blog sendiri. Karena Wikipedia berisi orang-orang dengan berjubel pengetahuan.


Jadi bagi medsos addict, kalian harus paham karakter dari aplikasi jejaring tersebut, agar kalian tidak kena julid dan aplikasi kalian tidak rusuh. Jangan sampai kalian tidak tahu ‘niche’ yang lagi trend pada setiap aplikasi tersebut, karena salah tema saat berbagi, kalian bisa berakhir sengsara. Tapi jika tepat, kalian akan berakhir bahagia. Ya, bahagia yang semu!.***[]

 

Read More

8.12.20

Menapak Jejak Peninggalan Bosscha

Menapak Jejak Peninggalan Bosscha. sumber foto: Bambang Diskominfo Kabupaten Bandung 

Meneer Belanda, K.A.R. Bosscha, administratur perkebunan teh yang memiliki banyak kontribusi untuk kemajuan masyarakat Priangan. Bukan hanya Observatorium Bosscha Lembang, juga PLTA, Sekolah Teknik ITB, dan inovasi perumahan untuk pekerja perkebunan.
Janari gede, mataku telah terbuka, bersiap bebersih badan dan hidup normatif sebagai manusia beragama. Namun, bukan hanya soal itu. Karena pukul 5.00 pagi hari, telah ditunggu oleh sekawan, memburu janji untuk meluncur ke Neglawangi. Karena itu, pukul 04.00 setelah sameang, kuda besi tuaku telah menapaki jalan kecil desa, membelah jalanan kota.


Bersama tim Sarebu Kampung, Adhie Nur Indra, Asep Soehendar, Bambang, Anton, Kamal, dan Hendar, kami bergegas menuju ketinggian 2000-an mdpl, melalui jalur Pangalengan. Menuju tapal batas kabupaten Bandung. Blok Sedep - Neglawangi.


Neglawangi, salah satu desa di Kecamatan Kertasari, satu jam perjalanan dari kota kecamatan Pangalengan atau sekitar 30 km jaraknya. Kurang lebih tiga jam perjalanan dari Soreang, Kota Kabupaten Bandung atau sekitar 55 km arah Selatan Bandung. Dengan jarak tempuh dan waktu yang tidak sepadan, jangan bayangkan jika jalannya datar dan lurus seperti kota. Walaupun secara infrastruktur sudah cukup baik. Kelokan-kelokan yang bisa membuat pusing dan muntah, menjadi salah satu alasan kenapa waktu tempuh dan jarak seakan tidak berompromi.

Akan tetapi, saat menginjakkan kaki, tepat di depan Desa Neglawangi, terbayar sudah pusing dan mual karena kelokan. Mentari tersenyum, menjadi ciri bahwa pagi telah terlewati. Namun, kami masih betah berjaket. Aparat pun menikmati mengenakan kupluk. Udara dingin terasa meliuk-liuk mengitari badan yang masih berlum terbiasa dengan suhu 170 c atau berada pada ketinggian 1764 MDPL. Petugas desa bilang, jika sedang dingin-dinginnya, udara bisa sampai 50 c.


Perkenalan kecil dengan sejumlah aparat desa, penggerak KIM Neglawangi, dan penggerak informasi & pariwisata; Ibu Sekdes, Iwan Hadiana, Yusep Zamaludin, dan Reva Gumelar menjadi penghangat suasana, sebelum melakukan perjalanan dan liputan. Cerita-cerita kecil lalu berubah menjadi gelak tawa, bersama punggawa. Sebelum akhirnya, saya tersadar bahwa lokasi kantor desa yang menjadi tempat kami bercengkrama, adalah jalan kawah Papandayan.


Nama jalan tersebut, seakan menghantarkan saya untuk pulang ke kampung halaman. Tak pelak, karena jalannya dinamai dengan jalan Kawah Papandayan, tempat masa muda mengadu andrenalin dengan dingin dan gelapnya Pondok Saladah, di tempat kelahiran. Ya, jalan ini menghubungkan Kabupaten Bandung dan Garut melalui jalur Gunung Papandayan.


Terbersit mimpi masa remaja yang tak pernah terlaksana, untuk menapaki Tegal Arun dan Tegal Panjang yang menjadi penghubung Kabupaten Bandung dan Garut. Sebagai pencapaian gengsi para pendaki pemula di gunung Papandayan.


Bukan Tanam Paksa

Menapak Jejak Peninggalan Bosscha. Sumber foto: Bambang Diskominfo Bandung

Setelah personil lengkap; aparatur desa, kelompok informasi masyarakat, serta kelompok penggerak pariwisata desa Neglawangi. Kami pun, menuju tempat ‘perjamuan’ pertama, yaitu Villa Belanda, yang dibangun tahun 1926. Villa ini awalnya merupakan rumah dinas kepala bagian perkebunan blok Neglawangi, yang masih menggunakan bahasa Belanda, Sinder Apdeling. Beberapa kali alih fungsi, akhirnya eks rumah dinas pejabat perkebunan ini berubah fungsi menjadi villa.


Tidak seperti perkebunan teh di wilayah Garut dan Purwakarta, Perkebunan teh Neglawangi, walaupun memiliki sejarah yang kuat dengan tanam paksa, namun pembukaan lahannya didasarkan pada investasi para pemodal, sehingga bukan bagian dari politik balas budi Belanda atau istilah yang lebih populer saat itu, cultuurstelsel.


Sebagian besar perkebunan-perkebunan teh besar di Indonesia, merupakan peninggalan dari program tanam paksa bangsa Belanda. Bibit tehnya sendiri dibawa oleh mereka untuk keperluan bisnis. Sebagaimana halnya diceritakan dengan baik oleh Pramoedya Ananta Toer dalam tetralogi Pulau Buru, yang salah satunya telah diangkat menjadi film Bumi Manusia.


Perkebunan teh, merupakan bagian dari jejak tanam paksa. Hanya saja, ceritanya sedikit berbeda, karena perkebunan teh tersebut dikelola oleh generasi ke-2 dari investor Belanda. Generasi ini merupakan kelompok pemodal yang datang setelah dihilangkannya politik tanam paksa.


Generasi pertama teh di tatar priangan, yang bermula tahun 1827 memokuskan area penanaman di daerah Garut dan Purwakarta. Setelah muncul UU Agraria tahun 1870, tanam paksa berakhir. Dan pengusaha teh berdatangan sebagai investor yang menyewa tanah-tanah rakyat. Lalu pada tahun 1896 Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang sepupu pengusaha teh di priangan datang sebagai pekerja perkebunan teh Malabar Pangalengan.


Wajar, jika perlakuan dari meneer Belanda, pada periode kedatangan generasi kedua ini berbeda dengan generasi pertama di perkebunan teh Garut dan Purwakarta. Meneer-meneer Belanda bersikap dan memperlakukan masyarakat dengan sangat baik, bahkan disediakan perumahan khusus untuk pekerja pribumi. Mereka pun dikenang masyarakat.


Jejak Bosscha; dari Pembangkit Listrik, Sekolah Teknik hingga Gunung Nini

Saat menapaki jalan menuju Gunung Nini Bandaasri Pangalengan, sebuah penunjuk jalan bertuliskan Makam Bosscha terpampang di sebelah kiri jalan. Apa hubungannya dengan Observatorium Bosscha yang populer di Lembang?


Ya, saya baru menyadari, lebih tepatnya mengetahui setelah berbincang dengan pengelola tempat Wisata Gunung Nini. Bahwa hamparan perkebunan teh yang luas di Pangalengan merupakan peninggalan Bosscha. Bukan hanya pangalengan, namun tersebar ke sejumlah tempat termasuk Neglawangi dan Lembang.


K.A.R. Bosscha merupakan Meneer Belanda yang memiliki kepedulian sosial dan pendidikan yang  tinggi. Tidak hanya membangun pusat observasi Bosscha yang terkenal di lembang, juga mendirikan sekolah teknik pertama di Indonesia, atau sekarang yang dikenal dengan Institut Teknologi Bandung.


Awalnya, Bosscha bekerja sebagai administratur pada perkebunan milik sepupunya yang menjadi pioneer perkebunan teh di Jawa Barat, khususnya wilayah Garut, Bandung, dan Purwakarta, keluarga KF Holle dan Kerkhoven.


Bosscha sendiri masih berkerabat dengan Kerkhoven. Namun, selama bekerja Bosscha banyak melakukan inovasi. Ia mendirikan perumahan untuk pekerja perkebunan. Ia juga mendirikan pabrik teh Malabar. Selama menjadi administratur, ia berinovasi membuat pembangkit listrik tenaga air yang menjadi sumber energi bagi pabrik teh.


Pembangkit listrik tersebut, berada di perbatasan Kabupaten Bandung dan Garut, masih berfungsi dengan baik. Dibangun tahun 1924. Hingga kini masih memiliki fungsi menjadi sumber listrik bagi pabrik teh yang berada Neglawangi.

Generasi kedua meneer Belanda ini, tidak hanya menjadi pengusaha teh, mereka juga sangat cinta dengan kebudayaan dan masyarakatnya. Wajar jika mereka juga sangat menyatu dengan masyarakat. Hingga akhirnya dicintai oleh masyarakat. Bosscha sendiri ingin dimakamkan di tengah-tengah perkebunan, tepatnya pada perkebunan teh Malabar, tepat di area menuju Gunung Nini.


Gunung Nini, merupakan sebuah bukit tinggi di tengah pegununang setinggi 1760-an mdpl yang bisa melihat hamparan pohon teh 360 derajat. Menurut pengelolanya, Gunung Nini merupakan tempat favorit K.A.R. Bosscha untuk memantau keadaan perkebunan yang menjadi tanggung jawabnya. Setiap harinya, ia selalu melakukan pemantauan.


Salah satu cerita yang disampaikan oleh Bosscha saat memantau, setiap menjelang siang selalu datang seorang nenek-nenek yang membawakannya makan. Sampai akhirnya tempat tersebut dinamai gunung Nini. Kini, gunung Nini, dikelola oleh Karang Taruna Bandaasri Pangalengan. Menjadi tempat wisata swafoto 360 derajat.


Gunung Nini mudah dijangkau dengan kendaraan pribadi, baik roda dua atau roda empat. Jalan menuju gunung Nini cukup bagus, walaupun saat menapaki pegunungannya belum diaspal. Namun cukup nyaman untuk dilalui. Dengan tiket Rp.10.000,- per orang, wisatawan bisa menikmati pemandangan eksotis hamparan perkebunan teh dari ketinggian 1700-an mdpl. Pengelola menyediakan saung-saung terhubung satu sama lain untuk berswafoto ataupun istirahat sambil menikmati kuasa dan keindahan ciptaan Allah. ***[abahraka]

Read More

19.7.20

Mengekstase dengan Pantai Parai dan Rock Island

Pulau Batu alias Rock Island
Biasanya, jika sampai di Pantai, tidak hanya menikmati batas pandang lautan dari pantai, juga mencoba bersatu dengan dengan menceburkan diri, minimal basah-bahasan celana. Tapi tidak, saat sampai di Pantai Parai Bangka dengan Pasir Putih dan birunya laut yang sungguh eksotis. Kami berenam, hanya duduk-duduk di bangku yang disediakan hotel. Menikmati, eksotisnya air yang kebiruan dengan bebatuan raksasasanya.

Cerita bermula,

Tepat pukul 04.25, saya sampai di Bandara Husen Sastranegara Bandung. Rencana keberangkatan pukul 06.00, ternyata terlalu pagi sampai di Bandara, dan akhirnya transit terlebih dahulu di mesjid untuk menunaikan kewajiban. Setelah sholat, satu persatu teman datang dan akhirnya berkumpul di pintu area keberangkatan domestik. Kami segera masuk dan menikmati suasana bandara.

November 2019, perjalanan ini bukan traveling, tapi memenuhi undangan, lebih tepatnya menjadi salah satu peserta sekaligus narasumber dalam workshop yang dilaksanakan dalam festival relawan TIK di Pangkal Pinang, Ibu Kota Kepulanan Bangka Belitung. Sebelum menginjakkan kaki di Pangkal Pinang, sengaja saya tidak browsing tentang Provinsi dengan dua pulau besar tersebut. Saya terkadang tertukar antara Pangkal Pinang dan Tanjung Pinang, padahal kedua tempat tersebut berada pada wilayah provinsi yang berbeda.

Barulah paham saat tiba dan menikmati suasana Pangkal Pinang, yang menurut saya cocok sebagai kota Heritage, karena rata-rata bangunannya menua—sebelum saya berkeliling, walaupun tidak tua-tua amat sih. Saya juga baru paham bahwa antara Bangka dan Belitung merupakan dua pulang yang berbeda dalam satu provinsi.

Ketauan ya, kalau saya kurang literate soal wilayah di Indonesia. Tidak masalah, saya nikmati kebodohan ini, karena begitu nikmatnya saat saya tahu, walaupun hanya sebatas pada apa yang saya dengar dan saya lihat saja. Ya, ini lah kota asalnya salah satu panganan terkenal di Bandung, Martabak Bangka.

Pangkal Pinang. Saya tunda ceritanya. Saya lanjutkan dengan Pantai Parai.

Tiba pukul 8, menyimpan barang di hotel dan langsung menuju tempat acara. Setelah acara pembukaan dan seminar sesi 2 selesai. Kami undur diri terlebih dahulu, karena acara workshop kepenulisan yang akan saya isi terjadwal besok siang, 23 November. Sesegera kami berenam menuju arah Selatan (kalau tidak salah), sekitar 43 km dari Kota Pangkal Pinang. Kami tempuh kurang lebih satu jam perjalanan.

Pasir Putih Parai Private Beach
Pantai Parai merupakan private beach, kami harus membayar retribusi melalui pihak hotel agar bisa menikmatinya. Retribusinya Rp.25.000,- per orang. Saat masuk, karena masih terlalu siang, suasana pantai masih sepi, sehingga kami bisa dengan puas dan bebas menebarkan pandangan dari sisi satu ke sisi lainnya, termasuk juga Rock Island yang berada pada sisi lain.

Rock Island yang berada begitu Indah dipandang dari sisi kanan Parai yang tepat berada di belakang hotel. Tempat ini juga sangat intagramable. Hampir di semua tempatnya memiliki pemandangan eksotis. Bahkan jika kita keluar Pantai dan masuk pada sisi lainnya, menyediakan semacam pedestrian khusus agar bisa menikmati Indahnya pantai dengan bebatuan raksasanya.

Cukup puas dengan hanya memandangi eksotisme pantai, saya coba menikmati bebatuan raksasa, dengan mengambil beberapa foto. Posisinya sangat pas berhadapan dengan Rock Island di seberangnya. Pohon kelapa menjadi ciri khas pantai. Mengingatkan pada latar lagu Rayuan Pulau Kelapa (yang mana ya?).

Semantara yang lain, tetap betah hanya duduk-duduk, saya berempat pergi menuju Rock Island. Sejatinya, di tempat ini terdapat cafe, sayang sepertinya telah lama tutup. Beruntung dengan 25ribu kami dapat minum teh kemasan botol. Sehingga menjadi penutup haus dan dahaga. Rock Island benar-benar Pulau Batu, dan kami pun menikmati berfoto di Pulau Batu sambil merasakan adrenalin horornya ombak yang mendorong dengan kencang bilah-bilah batu sehingga muncrat ke permukaan.

Andrenalin bertambah saat ingin menikmati laut dari atas baru paling terdekat dengan pantai. Karena batu menyerupai bukit, saya harus menaiki bukit tersebut. Begitupun saya harus menyeberang melalui belahan-belahan batu besar tersebut sehingga saya bisa melihat lepas laut dari Rock Island. 

Saat kembali dari bukit batu di Rock Island, tampak dua gadis berkerudung sedang ikut menikmati hempasan angit pantai. Terlindungi rimbunnya pohon-pohon meninggi. Sesekali kami mengajak ngobrol. Mereka berasal dari Lampung. Sengaja liburan ke Bangka bersama teman lamanya.

Cukup duduk-duduk di pinggiran kita sudah merasakan ekstase
Saat kami kembali dari Rock Island, Parai Private Beach sudah mulai ramai. Anak-anak berlarian di pinggir pantai. Bola ditendang ke sana kemari. Sesekali nyemplung ke air. Terkena deburan ombak. Mereka teriak kegirangan. Mengambil Bola. Byurr mereka pun berenang di pinggiran Pantai Parai. Sambil mengambil bola yang melayang-layang di atas permukaan laut. Mereka kembali lagi ke bibir pantai. Lempar bola lagi. Tendang lagi. Kejar lagi. Dan nyembur lagi ke permukaan air pantai.

Saat menuju gerbang pantai, rombongan keluarga besar, yang sepertinya dari perusahaan tertentu berbondong-bondong menuju Parai Private Beach. Sedangkan kami bergegas menuju tempat berbeda. Sebagai kenangan, sebelum meninggalkan Privat Parai Beach, kami berswafoto pada area yang telah disediakan space instagram. Cekrek. Sekali dua kali. Lalu kami pergi.

Parai Tenggiri
Setelah menikmati private beach yang bersih, dengan laut biru dan pasir putih. Kami bergegas menuju pantai selanjutnya, yaitu Parai Tenggiri. Sepanjang perjalanan kami menikmati sajian lepas Pantai yang bisa disaksikan dari atas kendaraan. Semilir angin cukup menjadi obat bagi panasnya daerah Parai Tenggiri Sungai Liat.

Sayang, di area lepas pantai ini, sulit menemukan kios agar bisa lebih menikmati pantai sambil minum air kelapa. Akhirnya berhenti di satu area yang terdapat reklamasi batu (istilahnya?), beberapa perahu nelayan terparkir di sana. Satu dua cekrek kami ambil. Seorang teman mengabadikan semburan kecil ombak yang menghampirinya. Sesekali menembakkan lensar tele ke kawannya.

Entah karena tidak pas atau memang masyarakat telah bosan bermain di pantai, pantai ini juga kosong melongpong. Hampir sulit menemukan kendaraan berlalu lalang. Hanya satu dua motor yang lewat, sepertinya itu pun warga setempat. Air kebiruan langit muda tersebut tetap membuat kami betah. Hanya berandai, karena berasal dar Jawa Barat, seandainya berada di sana, mungkin Pantai ini akan ramai dengan hiruk pikuk.

Tapi ya sudahlah, kami nikmati dan syukuri. Kami pun kembali ke Hotel sebelum matahari tenggelam. Berburu makan yang katanya paling populer di Bangka. Sayang sudah tutup, karena buka hanya sampai ashar saja. Akhirnya cari alternatif, pempek Palembang yang bikin kenyang.

Read More

18.7.20

Pembaharuan Performa HP Serie Omen Laptop Gaming

sumber HP Indonesia
Pengalaman pertama saya bersentuhan dengan Laptop HP saat mengerjakan tugas akhir. Ini juga sekaligus pengalaman pertama menggunakan laptop, setelah sekian lama menggunakan PC. Kesan pertama, memang HP memiliki speed yang bisa diandalkan untuk kebutuhan kerja saat itu. Tidak lambat seperti PC yang saya pake.  Kini, peralatan kerja di rumah juga menggunakan HP, khususnya PC All In alias desktop dan printer HP Laserjet. Sehingga merek dengan dua huruf tersebut sudah tidak asing lagi.

Sebagai salah satu pemain perangkat, HP tidak hanya memenuhi kebutuhan kerja, juga mengembangkan kebutuhan-kebutuhan hiburan yang bisa support. Melalui seri Omen, HP berinovasi melalui pengembangan Laptop khusus gaming. Bisa dikatakan bahwa seri ini, sering istimewa dan mewah karena menjadi lini khusus gaming, dengan logo deblo simple tapi justeru menunjukkan keistimewaan dan kemewahan seri ini.

Selasa, 14 Juli 2020, Indonesia menjadi negara pertama di kawasan Asia yang mendapatkan kesempatan peluncuran Pembaruan laptop gaming seri OMEN tersebut. Saya sendiri mendapatkan kesempatan hadir melalui aplikasi Zoom. Walaupun peluncurannya secara virtual, namun tetap tidak mengurangi keistimewaan Omen Series Upgrade tersebut. Secara lengkapnya, Asus mengeluarkan beberapa seri pembaharuan pada laptop lini Gaming dengan Sub Brand Omen; OMEN 15 Laptop, OMEN 25L Desktop, dan pembaruan bagi OMEN Command Center.

HP Omen Series dirancang untuk mendukung gamer menunjukan skill terbaiknya dengan mengoptimalkan kapabilitas perangkat yang mereka miliki. Seri OMEN merupakan tambahan terbaru di portofolio gaming HP yang diciptakan dan didesain ulang untuk memberikan pengalaman luar biasa dan mendukung gamer Indonesia play to progress selagi di rumah.

“Industri gaming di Indonesia semakin besar. Sebagai pengalaman sosial, gaming telah menjadi sarana hiburan yang juga menyatukan orang dari berbagai latar belakang berbeda meskipun mereka saling berjauhan,” ujar Fiona Lee, Indonesia President Director, HP Inc.

Ia menegaskan bahwa HP Indonesia berkomitmen untuk terus mendukung pertumbuhan industri gaming Indonesia dengan mengembangkan portofolio kelas dunia kami dan meningkatkan pengalaman gaming melalui inovasi andal dan terpercaya serta kemitraan strategis dalam industri ini.

Menaikkan Performa
Sumber HP Indonesia
Gamer masa kini menginginkan teknologi yang tepat untuk mendapatkan pengalaman gaming terbaik. Kombinasi teknologi termal inovatif, performa mumpuni, dan visual luar biasa membuat game terasa nyata, serta meningkatkan pengalaman gaming secara menyeluruh.

Seri OMEN terbaru menghadirkan ekosistem perangkat keras dan lunak yang mendukung gamer masa kini terhubung dan terhibur. OMEN 15 Laptop terbaru dengan sasis yang didesain ulang dalam bentuk lebih ringkas dari generasi sebelumnya memberikan estetika minimalis dan logo OMEN baru berwarna gradien biru kehijauan. Laptop ini hadir dalam warna Mica Silver dan Shadow Black dengan opsional RGB penuh di setiap key lighting. OMEN 15 memudahkan gamers bermain di mana saja dengan menyuguhkan performa yang lebih baik dari generasi sebelumnya dalam kerangka 8 persen lebih kecil dan 11 persen lebih tipis.

Berikut Fitur-fitur tambahan untuk meningkatkan performa HP Omen Series; NVIDIA® GeForce RTX™ 20603,4 . Melalui VGA tersebut seorang gamer dapat merasakan tenaga dengan level desktop. HP Omen Series menggunakan prosesor generasi ke 10 dari Intel atau Gen Intel® Core™ i7. Omen Series juga membedol RAM hingga 32 GB DDR47 yang bisa ditingkatkan untuk level profesional.

Melalui layar 15,6 inci, seorang gamer dapat merasakan pengalaman mengagumkan yang didukung dengan desain engsel hingga 180 derajat serta layar FHD 144 Hz10 dengan teknologi NVIDIA G-SYNC Pada konfigurasi tertentu bisa melakukan multistreaming. Benar-benar akan memberikan pengalaman menakjubkan.

Pada Inovasi Termal, HP mempersembahkan sensor IR thermopile pertama di industri12 yang disematkan ke laptop gaming untuk mengoptimalkan efisiensi termal, mempertahankan akustik kipas yang stabil dan tenang, serta memaksimalkan performa fitur Dynamic Power di OMEN Command Center.

OMEN Tempest Cooling Technology memastikan semua tetap terjaga dingin dengan bukaan udara lebih besar dan kipas 12 V 13 yang menggunakan ventilasi tiga sisi untuk menciptakan aliran udara lima arah mendorong laptop ini ke performa level desktop.

Sedangkan pada OMEN Command Center, HP melakukan pembaharuan dengan memaksimalkan produktivitas ketika menikmati konten dan browsing internet dengan Graphic Switcher yang tersedia di OMEN Command Center14 . Fitur ini memungkinkan pengaturan hybrid yang pas digunakan untuk menonton atau bekerja. Kustomisasi performa juga berevolusi berkat Performance Control15 di OMEN Command Center yang memudahkan pengendalian termal dan kecepatan kipas, serta menghadirkan performance mode yang meningkatkan kinerja CPU and GPU sebesar 17 persen dengan mudah.

Sisi kelebihan lain dari Omen Series ugrading ini adalah kemudahan meningkatkan performa dengan pembaharuan perangkat keras. Khusunya bagi yang suka mengotak-atik, sekrup Phillips di dasar laptop serta akses panel tunggal untuk memori dan penyimpanan membuat kustomisasi perangkat keras mudah dan cepat, sehingga Anda bisa memiliki laptop gaming terbaik yang sesuai keinginan.
Selain Seri Omen, HP juga melakukan pembaharuan terhadap lini Pavillion, yaitu HP Pavillion Gaming, dengan harga sangat menarik***[]

Read More

6.7.20

Stunting, dari Soal Gizi-Nutrisi Hingga Psikologis

Indonesia menjadi 1 dari 5 negara dengan jumlah penderita stunting terbanyak di dunia, di bawah Pakistan dan di atas Bangladesh. Sedangkan posisi pertama dan kedua adalah negara dengan penduduk 1 milyar lebih, yaitu India dan China.

Walaupun dengan prosentase 3,9 % dengan penderita  mencapai 7,688 pada tahun 2008, namun hal ini harus menjadi perhatian, karena jika tidak diantisipasi, bisa jadi stunting menjadi kasus yang terus meningkat.

Pemerintah melalui berbagai programnya terus mendorong agar masyarakat dapat menekan jumlah penderita stunting; mulai dari imunisasi, bantuan gizi, program keluarga harapan, kesejahteraan sosial, posyandu, dan lainnya. Pada dasarnya program-program tersebut merupakan program-program yang berbasis kesehatan dan gizi masyarakat termasuk di dalamnya adalah anak-anak usia emas, 1-5 tahun.

Pemenuhan Gizi
Stunting, dari Soal Gizi-Nutrisi Hingga Psikologis
Salah satu yang berkontribusi terhadap kondisi stunting adalah persoalan gizi dan pemenuhan nutrisi makanan untuk anak. Untuk bayi sendiri, usia 0-2 tahun, pemenuhan kecukupan ASI dan PASI sudah bisa memenuhi kebutuhan gizi dan nutrisinya.

Namun menjadi persoalan, jika gizi dan nutrisi orang tuanya tidak terpenuhi. Karena akan berpengaruh terhadap ASI-nya. Hal ini disampaikan oleh Dr. Rahmat Sentika, saat memberikan webinar untuk ratusan calon ibu/ Ibu-ibu muda yang mengikuti seminar tentang “Siap menjadi Ibu Pencetak Generasi Emas Bebas Stunting”, Selasa (30/06/2020). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Nutrisi Keluarga, sebuah lembaga nonprofit yang fokus pada kesehatan bunda dan anak.

Pemenuhan gizi untuk Ibu agar menghasilkan ASI yang berkualitas harus lengkap. Bagi dokter yang pernah menjadi anggota DPRRI 1997-1999 ini, gizi lengkap terdiri dari; karbohidrat, protein, lemak yang dibutuhkan, mineral, vitamin B & C, serta air.

Pemenuhan gizi ini harus sudah dilakukan sejak bayi berada dalam kandungan dan setelah lahir. Karena 1000 hari pertama sejak adanya kehidupan dalam kandungan, anak membutuhkan gizi dan nutrisi tersebut untuk membentuk kecerdasannya.

Karena 1000 hari pertama sejak ada kehidupan bagi jabang bayi, hingga bayi lahir, maka saat memulai kehidupan dunia bayi harus juga mendapatkan gizi dan nutrisi. Gizi dan nutrisi itu berasal dari ASI.

Hal serupa disampaikan oleh dr. Tria dari PP Aisyiah yang juga dosen Universitas Muhamadiyyah Jakarta. Walaupun, Tria membedakan antara gizi buruk dengan persoalan stunting, namun salah satu penyebanya adalah ketika anak mengalami kekurangan gizi secara terus menerus, akan menyebabkan stunting.

dr. Tria dan dr. Rahmat sepakat bahwa untuk mengantisipasi stunting adalah dengan pemenuhan gizi dengan gizi yang seimbang. Kedua dokter yang berbeda generasi ini juga sepakat, bahwa faktor kesehatan bisa menyebabkan stunting, misalnya anak terus menerus sakit. Dengan sifat kontinuitas sakit tersebut dapat menyebabkan stunting pada anak. Oleh karena itu, bagi Rahmat, jika sakit maka sembuhkan dulu sakitnya, baru penuhi gizinya, sehingga stunting bisa dianitisipasi.

Pola Asuh
Stunting, dari Soal Gizi-Nutrisi Hingga Psikologis
Peneliti bidang kesehatan publik, dr. Tria, tidak berhenti pada soal gizi dan kesehatan tapi juga menyangkut pola asuh. Pola Asuh ini, selain persoalan gizi adalah pemenuhan kebutuhan secara psikologis; mulai cara memberikan makan, cara mendidik, termasuk juga bagaimana cara berkomunikasi antara orang tua dan anak.

Bagi Psikolog, Vera Itabiliana, bukan hanya soal pemenuhan nutrisi juga bagaimana cara memberikannya kepada anak. Persoalan stunting, sudah harus menjadi visi bagi pasangan yang mau menikah, dia sudah harus memikirkannya, jangan pas setelah menikah. Sehingga pasangan muda memiliki persiapan membangun keluarga yang berkualitas.

Hal serupa disambut oleh paranting influencer, Ratu Anandita, yang memiliki pandangan religius. Pernikahan itu, pasangan suami dan isteri utamanya harus memiliki pegangan yang kuat, yaitu kepada Allah. Hal serupa seperti ditekankan oleh Vera Itabiliana, seorang psikolog, bagi Ratu, penciptaan suasana psikologis yang aman agar berdampak terhadap bayinya adalah bagaimana satu sama lain dalam keluarga harus saling mendukung.

“Kualitas komunikasi pasangan harus baik, harus berdasarkan keputusan bersama. Saling mendukung dengan tujuan memunculkan kepercayaan diri seorang ibu, sehingga beban ibu atau calon ibu menjadi lebih ringan,”ujar Ratu.

Disambung lagi oleh Vera Itabiliana, dengan dukungan tersebut, jika Ibu hepi berpengaruh terhadap keadaan psikologi sang Anak.

SKM bukan Susu Balita
Terkait dengan susu kental manis (SKM) baik bagi dokter Rahmat ataupun dr. Tria,  tidak memenuhi unsur nutrisi karena mengandung banyak gula. Lebih parahnya, SKM tidak mengandung susu. Bahkan menurut catatan dari dr. Rahmat, dalam SKM dua persennya terdiri dari glukosa. Sehingga anak yang sering minum SKM cenderung gemuk tapi tidak sehat.

Oleh karena itu, kedua dokter tersebut berpesan agar anak tidak diberikan susu kental manis. Jika anak sudah ketagihan minum susu kental manis, dapat menimbulkan ketagihan, sehingga tidak baik untuk kesehatan anak. Jika terus menerus terjadi, hal ini juga dapat menyebabkan stunting. ***[]
Read More

17.6.20

Belajar Filsafat


Masa Pandemi, turut berkontribusi terhadap kerapihan koleksi buku pada ruang kerja minim karya di rumah. Setelah menata ulang rak buku dan meja komputer, buku juga ikut saya rapihkan.

Nah, ternyata hasil dari penataan ulang ruangan kerja ini, menghasilkan beberapa kategori buku-buku yang sering menjadi target bacaan atau koleksi, karena tidak semua buku bisa tuntas dibaca, atau bahkan banyak buku yang hanya sempet dibaca kata pengantar atau justeru belum dibaca sama sekali.

Kategori Buku
Kategori pertama adalah buku-buku ilmu komunikasi, buku daras/ referensi/ atau populer dalam bidang komunikasi yang paling banyak atau mendominasi, karena basic pendidikan dari ilmu komunikasi. Sangat wajar. Bahkan, seringkali, jika ada buku-buku cukup populer dalam bidang komunikasi, biasanya dengan cepat menjadi penghuni rak buku.

Buku-buku komunikasi ini juga memiliki subkategori yang saya pisah-pisahkan pertama; buku Ilmu komunikasi secara umum; dari mulai pengantar ilmu komunikasi, komunikasi pemasaran, bunga rampai, audit, public relations, teknologi, dan lain sebagainya. Ini saya masukkan dalam satu kategori dengan menempati beberapa baris rak. Cukup banyak. Kedua, Buku teori komunikasi, karena cukup berat untuk dibaca, bahkan cenderung untuk keperluan analisis suatu isu atau paper, ini juga saya pisahkan pada rak yang berbeda, sehingga menjadi bagian dari sub kategori dalam buku ilmu komunikasi. Ketiga, buku-buku komunikasi berbahasa asing, biasanya buku yang berasal dari format pdf lalu saya cetak sendiri. Keempat, media studies dan jurnalisme. Kategori ini juga saya pisahkan menjadi beberapa rak tersendiri. Media studies menjadi rak yang menurut saya paling istimewa, walaupun tidak terlalu banyak, tapi ekslusif karena referensinya masih cukup jarang. Dan Kelima, masih subkategori dari ilmu komunikasi, yaitu buku-buku metode penelitian komunikasi; mulai dari metode penelitian kualitatif, komunikasi, analisis wacana, naratif, etnografi, fenonemologi, dan lainnya.

Kategori kedua adalah buku sastra. Saat mahasiswa cukup rajin mengoleksi karya sastra, karena selain lebih mengalir saat dibaca, juga memberikan spirit dalam memperkaya wawasan dan perspektif. Beberapa karya sastra yang menjadi koleksi; tetralogi pulau buru dan beberapa karya lainnya dari Pram, Trilogi Bilangan Fu dari Ayu Utami, buku terakhirnya anatomi rasa. Beberapa karya Kuntowijoyo juga jostein gaarder dimana magnum opusnya dipinjam tapi tidak kembali.

Kategori ketiga, merupakan buku pengembangan diri. Menjadi lumrah, hidup di dusun membawa sifat-sifat dusun. Rasa tidak percaya diri menjadi bagian hidup hingga lulus. Maka untuk memproses diri agar lebih pede, salah satunya banyak membaca buku-buku motivasi dan pengembangan diri. Beberapa buku pengembangan diri cukup praktis bukan hanya motivasi.

Kategori keempat merupakan buku Wacana. Buku wacana merupakan buku-buku yang mengangkat isu-isu keninian terkait sosial, politik, ekonomi, budaya, atau ilmu. Biasanya tidak terlalu spesifik tapi isu tersebut berdampak terhadap semua sendi kehidupan manusia; sebut saja misalnya Benturan peradaban karya Samuel W. Huttington, atau karya-karya dari Francis Fukuyama. Dari Indonesia misalnya buku-buku dari Rhanald Kasali, tapi yang terkini atau beberapa dari Yasraf Amir Piliang, yang sebagiannya saya masukkan ke dalam kategori filsafat.

Kategori Kelima, yaitu buku agama dan wacana agama. Nah, ini juga cukup banyak dan hampir mendominasi sama halnya dengan buku ilmu komunikasi. Kenapa? Karena pada masa lalu, selain kuliah di UIN juga aktif di beberapa organisasi yang sering mendiskusikan isu-isu agama.

Kategori keenam, tentu saja buku filsafat; Buku-buku filsafat walaupun tidak mendominasi, namun saya bagi menjadi beberapa kategogi lagi; filsafat umum, epistemologi, semiotika, cultural studies dan budaya pop, pemikiran filsuf seperti Foucault, Aali Syariati, Herbert Marcuse, Heidegger, Baudrillard, Umberto Eco, Yasraf Amir Piliang dan lainnya.

Kategori ketujuh, buku-buku yang tidak masuk kategori keduanya. Beberapa di antaranya cukup saya suka tentang isu-isu kedaerahan dan kesukuan; budaya sunda, garut, dan lain sebagainya. Ini juga cukup banyak, karena tidak masuk pada kategori-kategori buku sebelumnya.

Kategori kedelapan. Sebetulnya masih ada satu kategori lagi, yaitu media. Dulu langganan majalah Syir’ah, yaitu majalah yang mengangkat isu pluralisme, hanya sayang sudah tidak terbit. Kemudian langganan majalah mix, namun sama masuk era pandemi tidak terbit lagi. Begitu juga Pikiran Rakyat, sejak 2011 langganan, hanya saja sekarang beralih langganan digital.

Mendalami filsafat
Nah, terkait filsafat ini, memang umur kesukaanya sudah sejak lama, selama kuliah, sudah menjadi bagian dari wacana diskusi. Hingga akhirnya memengaruhi pada saat tugas akhir dengan mengambil pemikiran tokoh dengan dibedah melalui pisau analisi wacana. Termasuk juga sebelum lulus, tulisan yang dipublikasikan pada media massa pertama tentang filsafat postmodernisme.

Sejak filsafat ternyata bisa berkontribusi tidak hanya pada ranah cara berfikir, juga praktis, kini mulai lagi memperkaya referensi dan wacana melalui beberapa isu-isu filsafat. Postmodernisme yang lama ditinggalkan saat kuliah sarjana, kini dibuka-buka lagi. Begitu juga semiotika, yang sulit memahaminya karena tidak langsung dipraktikkan menjadi alat analisis, kini mulai dibuka lagi. Karena bagaimana pun, beberapa analisis dalam satu isu bisa menggunakan pisaunya tersebut.

Mendalami filsafat adalah belajar cara meluruskan cara berfikir kita, agar tidak picik. Belajar memahami perbedaan dan menerima dengan lapang karena kita mampu mengalihkan pikiran kita melalui filsafat praktis seperti halnya yang dilakukan oleh kaum Stoik.
Begitu juga pada ranah akademik, dengan memahami filsafat, kita lebih mudah memahami metode penelitian yang merujuk pada cara berfikir tentang ilmu. Bahkan untuk memahami ilmu sendiri kita harus belajar filsafat.

Jadi bukan soal gaya-gayaan dengan bahasa-bahasa yang melangit atau frasa-frasa yang sulit. Justeru sebaliknya. Untuk lebih mempermudah segalanya. Karena ketika kita memilih passion dalam bidang menulis atau dalam bidang yang terkait dengan akademik. Maka filsafat menjadi salah satu jalan yang mampu menunjukkan kemudahan itu.

Namun, tentu bukan barang mudah. Karena belajar filsafat artinya kita menerjukan diri pada kesulitan-kesulitan memahami berbagai frasa. Saya sendiri bukan orang yang mudah paham. Seringkali harus beberapa kali membaca ulang. Apalagi pemikiran seseorang yang sangat subjektif.
Oleh karena itu, saya lebih memilih yang mudah. Maksudnya, saya tidak belajar filsafat dengan menyeriusi semua kategori, namun cukup paham apa yang saya suka dan sesuai dengan apa yang bisa menjadi bahasan saya untuk keperluan sehari-hari.

Namun, bukan berarti yang rumit tidak dipelajari, jika harus karena untuk keperluan taktis analisis suatu isu dan menjadi bidang kajian, mau tidak mau harus dilakukan.

Misalnya, untuk keperluan laporan penelitian, salah satunya menggunakan hermeneutika. Terus terang saya belum pernah belajar hermeneutika. Waktu kuliah sarjana, belajar tentang analisis wacana juga sudah uyuhan, karena tidak pernah mendapatkan tema formal di kelas. Nah sekarang, mau tidak mau juga harus belajar hermeneutika. Saat membaca salah satu bukunya, karena langsung ke pemikiran tokohnya, lumayan lieur. Maka harus dicari jalan mudah, yaitu membaca pengantarnya terlebih dahulu.

Nah, begitu juga saat belajar filsafat. Dulu, banyak cerita, banyak orang tersesat, murtad, ateis gara-gara belajar filsafat. Bisa jadi karena itu langsung membaca atau memelajari  pemikiran filsufnya langsung. Banyak pemikiran yang tidak sesuai kita makan mentah-mentah. Dasarnya sendiri tidak dipelajari. Berlakukan seperti tangga, jangan langsung ke puncak, tapi titilah dulu tangga pertama sebelum sampai tangga 10.

Wallahu A’lam.
Read More

30.5.20

Ramadan dan Komodifikasi Ruang Publik

Ramadan dan Komodifikasi Ruang Publik*)
Ramadan dan Komodifikasi Ruang Publik. Foto ilustrasi, dokumen pribadi @abahraka

Seringkah menonton Televisi? Pernahkah melewati perempatan dengan gagahnya videotron berdiri? Pernahkah pergi ke jalan-jalan ramai sambil ngabuburit? Apa yang kita lihat dan tonton saat ramadhan mengunjungi?

Ini menjadi pertanyaan pengantar paling mendasar, karena saat ramadhan, semua berubah. Yang sepi jadi ramai, yang tidak punya pekerjaan nyambi berjualan. Pada subuh hari, sinetron dan film box office pindah jam tayang, beragam kuis begentayangan, cakakak cikikik juga mewarnai layar tivi yang diperankan para cenayang.

Beberapa makanan berubah fungsi, misalnya, mie instan yang fungsinya sebagai pengisi selingan perut berubah menjadi menu utama saat berbuka dan sahur. Minuman bersoda, pengusir rasa kantuk karena rasanya menggigit lidah, menjadi menu pembuka utama saat buka bersama. Bahkan rokok pun yang dengan vulgarnya menyimpan gambar mengerikan tiba-tiba menawarkan kebaikan.

Hal ini bahkan terjadi atau dilakukan 2 minggu sebelum ramadhan. Ruang publik riuh oleh berbagai tampilan dan tayangan yang sebetulnya jika dicermati, terlalu dipaksakan. Apakah iya, saat berbuka puasa menu utama yang disajikan adalah minuman bersoda? Apakah iya, menu utama utama sahur dan buka adalah mie instan?

Bagi saya pribadi, kedua produk tersebut adalah panganan yang dihindari selama ramadhan, entah untuk berbuka ataupun sahur. Karena dikenal mengandung zat yang tidak ramah usus dan lambung. 
Ramadhan, seakan menjadi aksioma sekaligus postulat, sebagai bulan berkah. Berkah bukan hanya untuk kaum muslimin, tapi semua umat kebagian berkahnya. Hampir semua produk dari yang memiliki label halal sampai yang membunuhmu berubah wujud dengan tawaran kebaikan. Di jalan-jalan juga orang begitu riuh dengan berbagi. Sehingga tiap keluarga memiliki harapan bisa berlebaran menggunakan pakaian yang membuat bangga sanak keluarga.

Menjejali Ruang Publik
Apa yang diuraikan di atas semua dijejalkan ke ruang publik. Sebuah ruang yang seharusnya menjadi tempat kontestasi masyarakat. Ruang kontemplatif dan komunikatif masyarakat luas untuk menciptakan makna hidupnya. Justeru menjadi tempat berebut kode-kode kapital dengan hanya menyisakan ruang kontemplatif yang sangat tidak memadai. Sehingga para penikmatnya pun tidak mendapat kesempatan bagaimana mendapat ekstase beragama. Merujuk pada Habermas (1989), dalam The Structural Transformation of Public Sphere, ruang publik adalah ruang yang fungsi-fungsi sosialnya sangat dominan dibandingkan fungsi frivat. Ia adalah ruang terbuka yang boleh dan bisa diakses oleh siapaun warga negara.

Seorang teman berkisah, saat ramadhan tahun lalu, ia menjadi tamak dan membabibuta memenuhi, apa yang disebut oleh Abraham Maslow sebagai kebutuhan paling rendah yaitu perut, hingga akhirnya terjadilah komplikasi penyakit antara kolesterol dan gula. Padahal, jika dikembalikan kepada kearifan puasa, justeru puasa bisa menjadi Asy-Syifa, medium penyembuhan dari beragam penyakit. Bahkan yang memiliki penyakit maag dan usus sekalipun, yang identik dengan penyakit makanan. Bahkan isu seperti ini pun menjadi lorong agar produk kapital bisa dijejalkan ke dalamnya.  Ditawarkanlah bahwa lambung aman itu minum obat ini sebelum sahur dan buka. Semua dijejalkan kepada ruang publik dengan memanfaatkan ramadhan.

Bukankah ini sebagai bentuk pemanfaatan terhadap ramadan untuk kepentingan kelompok tertentu atau satu orang untuk memenuhi dahaga kapitalnya. Semua tampak benar dan sepertinya cocok (cocokologi). Bahkan menjadi agenda rutin tahunan, beberapa agensi membuat iklan versi khusus ramadhan, sehingga bisa menaikkan rating dan reputasi brand. Beberapa productions house pun membuat edisi khusus sinetron ramadhan.

Habermas mengistilahkannya sebagai ruang publik borjouis. Karena ruang publik kini dikuasi secara privat. Tidak ada fungsi negara dalam ruang publik borjuis karena semua kepentingannya telah terdegradasi ke dalam bentuk kepentingan privat untuk melakukan produksi-produksi ekonomi. Pada konteks inilah terjadi perubahan nilai fungsi sosial/ budaya/ agama menjadi nilai tukar. Sesuatu yang dipertukarkan bisa dipertukarkan dengan nilai ekonomi. Inilah apa yang disebut dengan komodifikasi.

Komodifikasi Ramadhan
Ruang publik tak ubahnya menjadi ruang komodifikasi, bagaimana fungsi beragama yang dianut mayoritas masyarakat Indonesia berubah fungsi menjadi tempat kontestasi produk dan nilai tukar. Bukan lagi sebagai nilai fungsi beragama atau nilai refleksi terhadap sikap dan perilaku beragama kita pada masa lalu agar menjadi lebih baik pada masa depan. Tapi bagaimana masa depan dalam konteks komodifikasi tersebut, menjadi lebih ceuyah dengan beragam masakan, olahan, atau apapun yang bersifat material.

Maka wajar, menjadi hal umum terjadi pada masyarakat kita, saat ramadhan, hal yang dilakukan menjelang buka adalah saat-saat bagaimana balas dendam dengan segala materi-materi yang tersedia pada bulan ramadhan. Ini menjadi dampak langsung dari komodifikasi ramadhan. Ruang publik yang dipenuhi oleh komodifikasi beragam tema ramadhan berhasil mengabil makna sakral ramadhan dalam kehidupan kita dan digantikan oleh profanisasi segala bentuk amalan.

Berapa persen acara siraman rohani di televisi jika diprosentasekan, dibandingkan dengan hiburan? Berapa persen iklan yang hanya mengajak kebaikkan tanpa memasukkan semiotika produknya ke dalam iklan. Bahkan tayangan-tayangan religipun berubah fungsi menjadi entertainment, alih-alih entertaintmen penuh dengan tausiah ramadhan. Sehingga terjadi pemaksaan yang ilegal dari ruang profan terhadap sesuatu yang sakral.

Ruang publik berubah fungsi menjadi ruang berkumpulnya  kontestasi beragam kenikmatan profan dibandingkan kenikmatan yang sakral. Ini bentuk nyata komodifikasi ramadan dalam ruang publik. Ruang yang seharusnya milik kita bersama.

Meminjam istilah Adorno dan Hokrheimer (1979) ramadhan kini menjadi ruang produksi bagaimana industri budaya yang diproduksi oleh institusi kapitalisme. Karena bagaimanapun komodifikasi lahir dari hasil perkembangan industri budaya. Campur tangan industri kapital begitu sangat kuat. Eksploitasi terhadap tontontan menjadi target dari industri budaya ini. Segala macam tema-tema kebudayaan dalam ruang publik pada saat ramadhan tidak ada yang murni diproduksi untuk kepentingan pensakralan diri sehingga bertemu dengan ruhiyah kita yang paling agung. Sehingga ruang sakral kita bersih dari dosa. Semua diproduksi untuk kepentingan budaya massa yang sarat akan kepentingan profit.

Pada 2009 saya sempat menulis tentang dilema muballigh populer (Tribun Jabar, 2009), bagaimana pertarungan antara nilai-nilai kebaikan pada ruang publik, tapi pada sisi lain nilai kebaikan itu diproduksi oleh industri kebohongan (iklan). Apakah nilai kebaikan itu akan berujung baik?  Pada sisi lain, seorang dai ingin menyampaikan nilai kebaikan agar bisa secara cepat dan massal diterima khalayak, pada sisi lain acara tersebut didanai oleh produk yang disebut sebagai dengan aparatus ideologi kebohongan.  Kebenaran yang disampaikanpun menjadi ternoda.

Ruang publik pada saat ramadhan bisa jadi lebih parah dari apa yang saya tulis 11 tahun lalu tersebut. Karena justeru nilai agama yang harusnya terinternalisasi dalam diri setiap orang justeru dikomodifikasi menjadi produk-produk industri kapitalisme yang berorientasi pada keuntungan laba. Sehingga pada saat ini, ruang publik kita sedang krisis. Karena tidak lagi berfungsi sebagai ruang sosial spiritual lagi.

Bagaimana Menyikapi ?
Pada masa-masa kuliah hingga saya lulus kuliah, sempat booming bentuk komodifikasi dan provanisasi spiritual ala ESQ. Saat itu, saya selalu heran, kenapa untuk merejuvenasi ruhiyah kita harus mengikuti pelatihan ESQ. Begitu banyak sekolah, kampus, perusahaan yang mengikuti kursus-kursus ini. Memasuki ruangan yang sudah disetting sedemikian rupa ditambah dengan sound sistem yang memadai, lalu dibuatlah narasi sistematis sehingga membangkitkan memory terhadap perjalanan hidup, inget dosa. Lalu menangis sesenggukan. Ini tidak beda dengan apa yang diceritakan oleh Ian Marshal dan Danah Zohar (2001) bahwa untuk melakukan rejuvenasi spiritual cukup dengan merangsang saraf-saraf otaknya dengan aliran listeri tertentu. Sehingga rasa jenuh dan depresinya sembuh karena spiritualitasnya sudah diremajakan kembali.

Saat itu saya berfikir, bukankah sejak kecil kita diajarkan jika punya masalah, jika punya keinginan, berkeluh kesah, dan lain sebagainya, kita minta kepada yang memiliki kita. Kia bersujud di sepertiga malam di atas sajadah. Bukan dengan mendengarkan narasi-narasi yang sudah di susun sistematikanya sehingga membangkitkan memory terhadap dosan, namun hanya sementara. Sedangkan dalam sujud tengah malam kita, kita bisa mengakui dosa sekaligus minta ampun. Sehingga lebih otentik dan pengakuannya benar, tidak termanipulasi oleh musik dan narasi. Dan keteringatan kita akan dosa juga bukan karena musik yang telah kita bayar mahal.

Oleh karena itu, agar kita tidak ternodai oleh bentuk komodifikasi ruang publik saat ramadhan ini. Kita kembali ke fitrah kita. Teknologi media memang punya fungsi untuk membantu mengingatkan. Tapi alangkah baiknya kita bersimpuh langsung agar pengakuan kita otentik dan benar tanpa manipulasi. Meninggalkan media sesaat untuk merengkuh kembali sakralitas ramadhan. Wallahu’alam.

*) Penulis: Dudi Rustandi, Peminat Kajian Media (Baru).

Tulisan ini tanpa editing, telah dipublikasikan pada savanapost.com sebagai handout diskusi ramadan. 
Read More