8.1.21

Unlimited Smartfren, The Real Unlimited tanpa Tapi

Deputy CEO Smartfren Djoko Tata Ibrahim dan Deputy CEO Mobility Sukaca Purwo Relaunch Produk Baru Smartfren

[abahraka.com] - Smartfren memberikan kado tahun baru untuk pelanggannya. Kado tersebut berupa kuota unlimited tanpa stop, the real unlimited tanpa tapi. Ini merupakan bentuk inovasi yang tidak terbatas pada situasi. Hal tersebut disampaikan oleh Deputy CEO Smartfren Djoko Tata Ibrahim pada Relaunch Unlimited Smartfren secara virtual melalui chanel Youtube Smartfren, Kamis (07/01/2021).

Menurut, Djoko, salah satu alasan kenapa Smartfren memberikan kado Tahun Baru tersebut karena merujuk pada fakta terjadinya peningkatan yang signifikan terhadap data, salah satunya penggunaan kuota malam. Karena mereka, anak-anak muda, memilih bekerja waktu malam. Karena menurut Djoko, pada saat siang generasi muda mencari inspirasi, dan malamnya bekerja. Ini hasil pengamatannya, sehingga smartfren memberikan hadiah kepada para pelanggannya tersebut untuk mensupport kegiatan-kegiatan digitalnya tersebut.

Hadiah ini, pada dasarnya bukan produk baru, tapi hanya menguatkan produk lama, dengan pembaharuan. Pembaharuannya adalah memberikan kuota secara free untuk malam hari. Jadi walaupun paket datanya sudah habis, tapi selama malam, kuota unlimited tanpa pengurangan kecepatan akses, mulai dari jam 01.00 s.d. jam 05.00. dan ini berlaku untuk semua produk smartfren. Selain untuk semua produk, hadiah ini juga berlaku pada semua perangkat.

Pada  masa pandemic, dengan kuota unlimited tanpa stop tanpa tapi, Smartfren memberikan peluang terbuka agar tetap terhubung dan nonstop terhubung, nonstop berkreasi, nonstop berproduksi, nonstop berkreativitas.

Pada masa pandemi, produk smartfren banyak muncul pada masa ini, melahirkan kreativitas baru; seperti ada ION+, yang berlaku satu tahun, juga nonstop, ada esim yang menjadi satu-satunya di Indonesia.

Djoko berpesan, jangan sampai pandemic menghentikan kreativitas kita, smartfren membuktikan bahwa kita mampu. Tahun 2021 akan lebih lagi, karena pertumbuhan smartfren paling tinggi pertumbuhan. Pada masa pandemic justeru semakin berkembang, deras ke atas.

The Real Unlimited tanpa Tapi

Sukaca Purwo,"Smartfren the King Unlimited."

Deputy CEO Mobility Smartfren, Sukatja Purwo, menyampaikan, sebagai pelopor paket unlimited, paked data smartfren tidak memiliki banyak syarat, yang hanya berlaku pada jam tertentu, di tempat tertentu. Oleh karena itu unlimited smartfren adalah paket data unlimited tanpa tapi. Smartfren merupakan King of Unlimited. Unlimited smarfren merupakan the real unlimited karena tersedia untuk semua kebutuhan.

Jika konsumen perlu memilik kuota unlimited, tinggal gunakan smartfren. Ada beberapa alasan, kenapa smartfren memberikan kuota malam, salah satunya ada yang namanya passive usage, yang jika tidak kita gunakan ternyata kuota tetap terpakai seperti ada pesan masuk saat malam. Termasuk juga saat update aplikasi yang membutuhkan data besar.

Dengan kuota tersebut, maka pemakaian data yang tidak dibutuhkan menggunakan kuota malam; kuotanya fullspeed, tidak dibatasi waktu. Kuota tersebut juga bisa digunakan untuk segala kebutuhan, tidak dipartisi untuk satu dua kebutuhan.

Benefit tambahan ini akan otomatis aktif ketika memasuki pukul 01.00 WIB dan akan berhenti pada pukul 04.59 WIB. Selanjutnya, setelah waktu tersebut, pelanggan akan memakai batas pemakaian wajar (FUP) dari paket Unlimited yang sedang aktif. FUP akan di-reset begitu memasuki pukul 00.00, dan kembali memasuki Unlimited Full Speed Malam pada jam 01.00 – 04.59 WIB.

Kini pelanggan juga bisa mendapatkan Kartu Perdana internet Smartfren Unlimited baru seharga Rp22.500 untuk masa aktif 7 hari dengan batas pemakaian wajar 1 GB per hari. Selain itu ada juga varian Smartfren Unlimited Lite Rp55.000 dengan masa aktif 28 hari dan batas pemakaian wajar 0,5 GB per hari; dan Rp80.000 dengan masa aktif 28 hari dan batas pemakaian wajar 1 GB per hari.
Djoko Tata Ibrahim, Deputy CEO Smartfren

Khusus untuk pelanggan yang membutuhkan batas pemakaian wajar tambahan, masih bisa menikmati fitur Booster Unlimited harian.  Ada 3 pilihan masa berlaku dengan harga yang sangat terjangkau, mulai dari Rp2.000 berlaku 1 hari, Rp5.000 berlaku 3 hari, dan Rp10.000 berlaku 7 hari. Pemakaian Booster Unlimited ini akan ditambahkan pada total batas pemakaian wajar harian paket internet Unlimited yang aktif.

Pelanggan yang membutuhkan kuota besar dengan Extra Unlimited Malam full-speed juga dapat menggunakan Smartfren Kuota Nonstop. Paketnya terdiri dari 4 pilihan, yakni Kuota Nonstop 6 GB seharga Rp30.000 dan masa aktif 28 hari, Kuota Nonstop 10 GB seharga Rp 45.000 dengan masa aktif 28 hari, Kuota Nonstop 18 GB seharga Rp 65.000 dengan masa aktif 28 hari, dan Kuota Nonstop 30 GB harga Rp 100.000 dengan masa aktif 28 hari. ***[]

 

 

Read More

5.1.21

Tanggung Jawab Sosial Media

sumber: NUOnline

Indonesia (masih) sedang darurat menghadapi Corona. Persebarannya selama beberapa hari terakhir menunjukkan percepatan yang signifikan, alih-alih melambat karena telah dilakukan social distancing. Setiap hari selalu ada pembaharuan data, baik dari lembaga pemerintah ataupun media. Setiap lembaga sosial memberikan tips untuk pencegahan. Setiap orang saling memberikan support dan wejangan. Namun tidak sedikit juga yang panik gara-gara bertebaran beragam informasi tentang Corona.


Salah satunya, informasi yang beredar melalui grup WhatsApp Netizen (PRFM), tentang catatan seorang dokter pada laman media sosialnya. Isinya selain curhat, sang dokter juga mengungkapkan data-data real terinfeksi Corona, di luar data resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah. Saat artikel ini ditulis (19/03/2020), saya konfirmasi ke nomor WhatsApp sang dokter, namun tidak berjawab. Anggota Grup sudah mulai ada yang waswas.


Hal serupa terjadi dalam grup WhatsApp lain, menyebarkan konten informasi sama yang belum terkonfirmasi kebenarannya, dengan kasus rujukan tautan berbeda. Jika Grup satu bersumber dari sebuah blog. Grup lain berasal dari media online nasional terverifikasi Dewan Pers. Media tersebut menyebarkan berita yang belum terkonfirmasi kebenarannya. Karena dalam grup instan massager tersebut terdapat salah satu redaktur media online, lalu saya tanya, kenapa tidak diangkat pada medianya. Ia memberikan jawaban bijak, “berita seperti ini tidak akan diangkat karena membuat panik warga.”


Beberapa media mainstream menjadikan isu Corona sebagai komodifikasi. Overdosis informasi tentang corona menyebabkan warga panik. Apalagi saat media online terverifikasi Dewan Pers menjadikan curhatan sebagai berita. Tanpa ada konfirmasi dari sumber bersangkutan. Tanpa melakukan kroscek terhadap sumber lain. Media tersebut juga tidak melakukan jurnalisme data yang membanding-bandingkan dengan data yang ada dalam sistem big data. Ia hanya menyalin dan dijadikan berita. Lalu dimana tanggung jawab media, dimana disiplin verifikasi yang seharusnya dilakukan media, dimana keberimbangan berita yang seharusnya menjadi basis pemberitaan.


Peran Warga

Overdosis informasi menjadi kelumrahan di era digital. Hal ini karena setiap orang merasa memiliki hak sama dengan media mainstream untuk berbagi informasi terkini. Para penyebar informasi juga datang dari media personal yang diportalisasi, atau blog dengan domain level utama dan blog dengan domain penyedia jasa (CMS), sampai akun jejaring sosial dengan jumlah fanbase fantastis dan dengan jumlah pertemanan hanya puluhan.


Era digital Setiap orang dimudahkan oleh beragam aplikasi. Kemudahan ini menjadikan berbagi informasi sebagai keniscayaan, bahkan telah mengarah fear of missing out—tidak ingin melewatkan untuk berbagi informasi apapun. Setiap informasi yang beredar dianggap telah given kebenarannya. Kondisi inilah yang menyebabkan kecenderungan terjadinya penyebaran berita yang missinformasi atau justeru disinformasi (hoax).


Oleh karena itu, setiap warga digital harus memiliki antibody terhadap serangan informasi yang sumbernya tidak jelas, kontennya tidak valid, dan wacananya meresahkan. Kita harus skeptis terhadap setiap informasi yang ada. Jangan sampai merugikan cara kita berfikir dan berpesaaan sehingga meresahkan kita sendiri.


Padahal, setiap orang bisa secara mandiri menentukan informasi yang dianggap bermanfaat dan menyeleksinya sesuai kebutuhan atau mengabaikan informasi yang meresahkan kita anggap disinformasi. Kita dapat menjadi agen mandiri informasi dengan melakukan literasi terhadapnya; cek beritanya berasal dari mana, terverifikasikah media tempat publikasinya, terpercayakan sumber rujukannya, apakah judul dengan isi relevan, apakah kontennya masuk akal, atau validkah berita tersebut. Jika semua telah dikroscek dan memenuhi kriteria literasi, beritanya bermanfaat dan memberikan motivasi dan harapan, kita bisa bagikan. Namun jika sebaliknya, alangkah baiknya berita tersebut kita abaikan. Meminjam istilah kekinian dari dr. Gia Pratama melalui novelnya, cukup Berhenti di Kamu.


Melakukan hal tersebut, menjadi bagian dari solusi agar perilaku kita tidak memperburuk keadaan. Minimal jika kita tidak ambil bagian dalam proses aksi pemberantasan Corona,  kita tidak ikut bagian meresahkan masyarakat dengan menyebarkan berita yang tidak jelas sumber dan verifikasinya. Karena tidak setiap orang bersikap skeptis terhadap setiap informasi. Informasi-informasi tersebut sebagiannya dicerna mentah-mentah karena akses dan kemampuan literasi yang minim.


Tanggung Jawab Media

Walaupun telah banyak informasi yang beredar dari beragam institusi melalui situsnya atau personal ahli di bidangnya. Media tetap dibutuhkan kehadirannya oleh masyarakat. Media tetap harus menjalankan fungsi dan tanggung jawabnya dalam memberikan informasi yang kredibel, valid, dan solutif bagi masyarakat. Alih-alih meresahkan karena mengejar tiras, rating, rangking, dan klik.


Bagi Bapak Jurnalisme Dunia, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam buku Blur, How to Know What’s True in The Age of Information Overload (2010), kehadiran media diperlukan untuk melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh masyarakat dalam proses moderasi dan kurasi berita. Media diperlukan untuk melakukan autentifikasi berita. Menjelaskan dengan fakta dan bukti tentang berita yang layak dipercaya. Media juga dibutuhkan masyarakat untuk merasionalisasikan lalu lintas informasi.


Kita tahu bahwa overload informasi membuat masyarakat kehilangan keseimbangan dalam menentukan mana berita yang benar dan masuk akal dan mana berita yang bohong. Sehingga seringkali masyarakat menjadi korban kebiadaban disinformasi  yang menyebabkan mereka terkena pasal UU ITE karena menyebarkan berita bohong. Oleh karena itu, kata Bill Kovach dan Rosenstiel, media harus mampu menjadi sense maker. They must look for information that is of value, not just new, and present it in a way so we make sense of it ourselves. Media harus mencari informasi yang bernilai, bukan hanya yang baru, dan menyajikannya sedemikian rupa sehingga masyarakat memahaminya sendiri.


Jika masyarakat masih kesulitan memanfaatkan big data untuk keperluan literasi informasi, maka di sinilah tanggung jawab dan fungsi media. Kovach dan Rosenstiel bilang, media harus menjadi smart agregator. Media harus mampu mengarahkan informasinya ke sumber-sumber yang layak dipercaya. Sehingga dapat menghemat waktu pembaca dalam menelusuri sumber-sumber penting dan kredibel yang dijadikan rujukan oleh media.


Sebagian masyarakat masih belum memahami media-media yang layak dijadikan sebagai sumber rujukan. Bagi awam, informasi yang ditampilkan pada portal, web perusahaan, atau blog-blog dengan domain tingkat utama, tidak ada bedanya, sehingga berita-berita yang disampaikan dianggap terpercaya. Padahal tidak selalu demikian, dengan tujuan monetisasi, seringkali media berbasis weblog melakukan manipulasi fakta dan data, melalui judul-judul yang bombastik.  Sehingga media arus utama harus menjadi role model bagi siapapun.


Media Harus tetap menjadi panutan masyarakat sebagai rujukan informasi yang terpecaya dan solutif. Sehingga di tengah persoalan seperti sekarang, media tidak memperparah keadaan. Bukan  menjadikan keadaan sebagai komoditas, dengan menjadikan informasi yang belum terverifikasi menjadi berita demi mendulang klik. Justeru, kehadiran media tetap diperlukan agar masyarakat tetap waspada tanpa harus panik. Semoga.***[Dudi Rustandi/ @abahraka]

Read More

23.12.20

Minuman Herbal antara Imunitas dan Menunggu Vaksin Covid 19

sumber gambar: kompasdotcom

Sejak pandemi merebak, salah satu kata kunci yang populer dalam kehidupan masyarakat kita sehari-hari adalah minuman herbal alami yang terbuat dari rempah-rempah. Minuman-minuman herbal ini menjadi sangat populer, bahkan para pemain industri minuman seduh juga turut meramaikannya; sebut saja misalnya sujamer atau susu jahe merah yang diproduksi oleh produsen jamu besar di Indonesia.


Sebelum covid, memang minuman-minuman yang terbuat dari rempah telah cukup populer di masyarakat; bajigur yang dibuat kemasan, bandrek, sari jahe, temulawak, atau minuman rempah lainnya. Namun, sejak Covid, muncul minuman-minuman rempah baru seperti minuman instan serbuk susu jahe merah, yang sejak lama telah dijual oleh masyarakat. Populernya minuman rempah tersebut membuat barangnya pun menjadi mahal dan langka.


Kebetulan, di depan jalan raya dekat rumah saya, terdapat penjual beragam umbi-umbian herbal untuk keperluan minuman herbal tersebut. Pada awal-awal covid, karena saya memiliki beberapa tanaman yang telah sejak awal ditanam; ada sereh dan kunyit putih, tinggal saya membutuhkan jahe merah.


Wadidaw, dari harga 25 ribu per kilo, setelah masuk masa covid naik hingga Rp80.000,- per kilonya. Belakangan, setelah saya membeli jahe merah tersebut yang pada akhirnya hanya saya beli sejumlah setengah kilo karena harganya melonjak, ternyata setelah dua kali saya berniat membeli lagi jahe merah, barangnya tidak ada.


Akhirnya isteri saya hanya membuat minuman ramuan yang terbuat dari kunyit putih, sereh, dan jahe biasa dengan bahan dasar gula merah. Beberapa kali saya buat ramuan seperti ini untuk menjaga imun tubuh.


Selain untuk menjaga imun tubuh, saat diminum dalam keadaan dingin sangat menyegarkan. Apalagi ditengah tegukan dingin tersebut, ada rasa hangat dari jahe, sedikit pait dari kunyit putih dan wangi dari sereh dan pandan.


Tidak Hanya Minuman Herbal

Berdasarkan beberapa sumber referensi, minuman herbal tersebut berfungsi menjaga imun tubuh. Herbal juga terbukti menjadi salah satu faktor yang memperkuat sistem imun tubuh dalam mencegah penularan Covid 19.


Namun, minuman herbal bukan satu-satunya cara dalam meningkatkan imun tubuh. Penyediaan multivitamin juga bisa meningkatkan imun tubuh termasuk dengan cara berolahraga. Pemerintah, dengan menganjurkan protokol kesehatan atau yang populer denga 3 M; menjaga jarak, mencuci tangan, dan menggunakan masker menjadi salah satu kunci antisipasi penyebaran covid 19.


Setelah 9 bulan berjuang melawan Covid 19, salah satu unsur paling penting dalam menjaga imunitas tubuh dari serangan Corona adalah dilakukannya vaksinasi oleh pemerintah. Saat ini seperti ditulis oleh Halodoc, sebuah situs aplikasi sekaligus start up yang mempertemukan dokter, pasien, obat, rumah sakit serta fasilitas penunjang kesatannya lain secara online, bahwa penyediaan Vaksin Covid telah masuk pada episode akhir, yaitu tahap tiga, sebelum akhirnya divaksinasikan kepada masyarakat.


Berdasarkan situs halodoc.com, ada beberapa vaksin yang akan dianjurkan untuk divaksinasikan di Indonesia, berikut saya ulas dari situs halodoc, yaitu:


1.Vaksin Sinovac dan Merah Putih: Menurut Halodoc, uji klinis fase III vaksin corona buatan Sinovac di Indonesia masih berlangsung hingga kini. Andaikan tahap ini berjalan mulus, hasilnya akan diregistrasikan ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Bila BPOM memberikan lampu hijau, maka vaksin bisa diproduksi secara masal pada Januari 2021.  


2.Vaksin Johnson & Johnson. Sedangkan Johnson & Johnson mengembangkan vaksin untuk Ebola dan penyakit lainnya dengan Ad26. Kini Ad26 juga digunakan untuk membuat virus corona. Johnson & Johnson memulai uji coba fase I/II pada bulan Juli dan meluncurkan uji klinis fase III dengan hingga 60.000 peserta pada bulan September. Perusahaan raksasa ini menargetkan satu miliar dosis pada 2021.


3.Vaksin Moderna: Perusahaan bioteknologi asal AS, Moderna, juga turut andil dalam pengembangan vaksin virus corona. Moderna menggandeng National Institutes of Health (NIH) untuk membuat vaksin potensial. Setelah melakukan uji klinis II, Moderna dan NIH melakukan uji klinis III pada 27 Juli lalu. Uji coba terakhir akan melibatkan 30.000 orang sehat di sekitar 89 lokasi di Amerika Serikat. 


4.Vaksin Oxford: Dalam percobaan uji klinis fase I/II, para peneliti menemukan vaksin tersebut mampu meningkatkan antibodi relawan terhadap virus corona. Selanjutnya, vaksin Oxford dan AstraZeneca memasuki tahap uji klinis fase II/III di Inggris, dan India, serta uji klinis fase III di Brazil, Afrika Selatan dan Amerika Serikat.


5.Vaksin Pfizer: Dalam mengembangkan vaksin ini, Pfizer bekerja sama dengan BioNTech dari Jerman dan Fosun Pharma dari Tiongkok. Pada Juli lalu, uji klinis fase II/III dilakukan pada 30.000 relawan di AS, Argentina, Brazil, dan Jerman. Hasil studi sementara mengatakan relawan hanya mengalami efek samping ringan hingga sedang. 


Dengan perkembangan tersebut, semoga tahap terakhir dari proses uji klinis vaksin berjalan lancara sehingga vaksinasi cepat segera direalisasikan pada masyarakat Indonesia. Dengan demikian, harapan kembali hidup normal di depan mata. Semoga.***[]

Read More

13.12.20

Menepi di Cantigi

Menepi di Cantigi. Salah satu area permainan, Cantigi Camp. 

Pandemi, membuat hidup setiap orang menyisi. Bukan hanya soal ekonomi, juga emosi dan ketertekanan diri. Jiwa menjadi sepi. Setiap hari bertemu dengan dinding persegi, juga pintu yang seringnya menutupi penghuni.

Bosan iya, jenuh pasti. Keuangan terkurangi. Banyak agenda tertunda tanpa permisi. Karena setiap orang telah memaklumi. Satu kata, karena pandemi.


Minggu pertama Desember tahun 2020 ini, sejak pagi telah bersiap diri. Berniat pergi ke satu area wisata lokal yang sedang populer di Bandung Timur. Batu Kuda Gunung Manglayang.


Walaupun telah dua kali berkunjung ke sini, namun itu dilakukan saat tempat wisata yang lebih pas disebut sebagai hutan pinus ini, mengubah diri sejak beberapa tahun lalu. Sehingga cukup penasaran sekadar mengenali lagi area yang masih satu desa dengan rumah kami.


Menggunakan kuda besi hitam, kami pun beranjak menuju lokasi. Sayang, saat itu jalan menuju area sedang diperbaiki dengan cara dibeton. Akhirnya kami mencari jalan alternatif lain. Setelah tanya-tanya, akhirnya kami mendapati jalan alternatif. Sayang, hujan cukup merapat hingga tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan. Daaan kami pun kembali.


Namun teringat, di penghujung libur panjang yang melelahkan, kami pernah mengunjungi satu tempat yang tidak kalah menariknya. Ya, saat itu, Agustus 2020, menjelang penutupan libur sekolah pagi. Mencoba membuka diri, menghirup udara yang lebih hijau dibandingkan tetanaman halaman yang seuprit. Masih berada di kecamatan yang sama. Cileunyi belok kiri atas. Menuju ke arah Timur Bandung. Suatu lokasi yang masih asri dan pepohonan menjulang tinggi. Tempat parkir tertata rapi. Tepatnya berada di daerah Manjah Beureum Cileunyi Wetan. Cantigi Camp namanya.


Cantigi; dari Outbond, Camp, hingga Wisata Keluarga

Menepi di Cantigi. Salah satu area permainan, Cantigi Camp. Perosotan.


Cantigi Camp, dilihat dari namanya merupakan area tempat perkemahan. Di area paling tinggi dan atas terdapat lapangan cukup luas dengan dikelilingi oleh saung-saung yang cukup luas juga. Memang, sepertinya area ini disediakan khusus untuk perkemahan grup.

Namun, dengan kunjungan personal, Cantigi juga merupakan suatu area rekreasi keluarga, tepatnya tempat hang out bergaya outbond. Bukan hanya saung-saung tempat menepi dari hujan dan panas. Juga nyaman jika digunakan untuk botram alias makan bersama keluarga atau sanak famili lainnya.


Sebagai tempat outbond, Cantigi memiliki lapangan cukup luas. Lapangan di sana sini. Wajar karena lapangan tersebut merupakan area perkemahan. Selain bisa digunakan untuk kelompok atau grup besar, juga untuk keluarga kecil yang  merindukan suasana asri, sejuk, dan jauh dari hiruk pikuk kendaraan dan polusi udara.


Keluarga yang memiliki anak-anak laki-laki bisa bermain bola tanpa terganggu pengunjung yang menggunakan fasilitas outbond. Pepohonan yang menjulang tinggi, bisa melindungi dari sorotan matahari tengah hari. Sehingga tidak khawatir kepanasan. Bahkan tidak khawatir anak-anak tersesat di kerumunan orang. Karena masih bisa terpantau dari kejauhan sejauh mata memandang.


Bangunan yang cukup luas dapat digunakan untuk acara-acara ultah bergaya outdoor. Atau sekedar memberikan tutorial untuk peserta pelatihan perusahaan kecil. Beragam fasilitas juga tersedia; perosotan, kolam lengkap dengan perahu, juga kolam untuk melatih keseimbangan. Begitu juga dengan ada flying fox khusus untuk anak-anak, selain juga untuk dewasa yang lebih tinggi dan lebih panjang talinya. Sayangnya, flying fox untuk keluarga berbayar hehehe.


Memiliki embel-embel Camp, Cantigi terkesan serius khusus untuk tempat kegiatan outbond, tapi cocok untuk wisata atau tempat piknik keluarga. Hampir pada setiap tempatnya memiliki tempat duduk-duduk selain menyediakan saung-saung, baik untuk kapasitas 5 orang atau 15 orang.  


Jika tidak ingin repot membawa makan dari rumah, tempat ini sebetulnya menyediakan resto lengkap dengan saung gazebo-nya. Bahkan sepertinya, terdapat dapur khusus sebagai ruang produksi makanan. Sayang, memang karena masa pandemi resto ini harus tutup sementara waktu.


Sebagai informasi, saat saya mengunjungi tempat ini, area parkir sedang diperluas. Sepertinya pengelola sedang melakukan perluasan tempat agar pengunjung bisa lebih nyaman dan aman memarkirkan kendaraannya.


Saya sendiri, selain lebih menikmati suasana hehijauan Cantigi, lebih menikmati sebagai latar untuk foto-foto anak. Kebetulan sudah lama tidak pernah foto anak-anak.


Murah Meriah

Tiket masuk dipatok rata Rp.7.500.-/ orangnya. Baik dewasa maupun anak-anak, terkecuali balita tidak dihitung. Dengan harga murah tersebut, pengunjung bisa menikmati semua fasilitas yang ada di Cantigi Camp. Pengecualian Flying Fox untuk dewasa, pengunjung harus mengeluarkan lagi koceknya seharga Rp.15.000,-/ orangnya. Namun, bagi anak-anak (kids) disediakan fasilitas flying fox gratis yang satu area dengan fasilitas ayunan.


Pengunjung bisa berpuas ria menikmati semua fasilitas dan bermain bersama sanak keluarga sambil menikmati udara sejuk yang berasal dari pohon-pohon menahun dan meninggi. Suasana yang nyaman, Cantigi Camp juga bisa dijadikan sebagai tempat bersantai, ngopi, ataupun berleha-leha dengan fasilitas Gazebo yang tersedia.


Tempat ibadah dan toilet yang sangat urgent dalam bepergiaan, juga tersedia di sini. Sehingga tidak perlu khawatir, dapat memfasilitasi keperluan beribadah, khususnya bagi muslim. Jika memasuki waktu ibadah, pengunjung tidak repot mencari mushola.


Menuju Cantigi

Tinggal ketik Cantigi Camp untuk Mapsnya.

Cantigi Camp cukup mudah dijangkau dengan kendaraan pribadi ataupun menggunakan Opang. Tempatnya berada di daerah Manjah Bereum Cileunyi Wetan. Sekitar 7 km dari Bunderan Cibiru, sekitar 20 menit waktu perjalanan. Jika posisinya dari Cileunyi sekitar 3,5 km dari Jalan Raya Cileunyi (terminal) atau sekitar 12 menit.


Bagi baraya yang hendak mengunjungi tempat ini dengan menggunakan kendaraan pribadi, jalan masuknya tepat berada di sebelah kiri ujung jalan percobaan Cileunyi menuju arah Sumedang. Jika arahnya dari Sumedang maka belok kanan pas sebelum masuk jalan percobaan.


Cukup 2 jam berada di sini, dan kepenatan karena selalu diborder oleh pintu dan langit-langit rumah, akhirnya terbayar setitik dengan suasana hijau Cantigi, saya bisa menikmati kembali langit asli ciptaan Tuhan. Cantigi bisa jadi tempat wisata keluarga alternatif terdekat bagi yang tinggal di sekitar lokasi, Cileunyi dan sekitarnya.***[]

 

Read More

12.12.20

Pahami Karakter Medsosmu, Brosis! Jangan Sampai Keuwuan Membawa Sengsara

Uwu, seuwu tulisannya! @abahraka

Warganet 62 terkenal Julid, karena kejulidannya yang sudah melewati batas wajar, sampai-sampai lahir frasa netizen mahabenar. Namun pada sisi lain, netizen 62 juga terkenal dengan sikap empatiknya di dunia lain, apalagi jika dibubuhi dengan kata Please twitter, give your magic!, dengan cepat postingannya akan tersebar ke mayantara.


Akhir-akhir ini fenomena semacamnya menjadi pemandangan yang biasa di twitterland, yang bisa menyebar ke seantero negeri medsos lainnya. Jika awalnya, saya sering melihat fenomena tersebut karena isu-isu politik, belakangan tentang keuwuan anak tanggung sampai menu bekal suami pun dijulidin netizen maha benar. Wajar jika abegeh tersebut mendapatkan spill of the tea, karena sebelumnya, sang lelaki menggoda perempuan lain, sampai minta pap sensitif segala. Etapi menu bekal suami, kenapa dijulidin juga? Nah, kejulidan ini mengetuk tangan-tangan gatal saya, untuk menuliskan dalam bentuk catatan tak berdaya ini.


Sulit Melihat Orang Bahagia

Kenapa melihat orang bahagia begitu bencinya, dan saat orang berbagi inspirasi, seperti menonton kesalahan hakiki? Sedangkan berbagi posisi batu bata rumah di atas kusen pintu jadi inspirasi?


Asumsi saya, kedua contoh kasus tentang keuwuan erat hubungannya dengan rasa! You know lah, rasa itu ibarat lidah, saat badmood, makanan enak apapun tetap tidak punya taste. Hambar. Jika tidak enak justeru mengundang emosi. Apalagi bagi seseorang yang selama hidupnya belum pernah merasakan manisnya berpasangan. Jomlonya udah takdir. Untuk merasakan keuwuan, para jones badmood harus sering-sering nonton drakor. Nah, saat drakor selesai, badmood-nya memuncak lagi. Saat keuwuan orang muncul pada temlen, mencabik-cabik perasaannya, yang udah lama garing bertambah kering kerontang. Komentarnya pun autojulid. Belum lagi situasi sulit seperti sekarang menjadi pelengkap kejulidannya.


Kalau di temlennya muncul postingan keuwuan dengan dengan mutualannya, apakah itu tidak bikin panas? Sementara dirinya, yang sudah lama ngecengin anak tetangga, gak pernah dapat. Apalagi saat seorang istri sholehah, begitu cintanya, setiap hari membuatkan sarapan dan bekal, apa gak merasa gagal tuh kaum feminis dalam mendidik kaumnya agar memberontak patriarki? Maka muncul kejulidan-kejulidan berlapis yang akan diarahkan kepada siapapun yang pamer keuwuannya. Betapapun keuwuan yang wajar.


Nah, kalau sudah kejadian seperti ini, yang repot bukan hanya penikmat keuwuan semu dunia maya, juga para juliders yang tidak bisa tenang hidupnya. Karena setiap menonton keuwuan orang lain, hatinya panas bin julid.


Bukan untuk Fomo Sapiens

Pada negeri sebelah (baca Instagram), keuwuan menjadi hal yang lumrah. Bahkan keuwuan yang remeh temeh pun sering menjadi konsumsi warganya. Senang-senang aja tuh. Bahkan dapat laik dan komentar banyak. Gak ada yang julid. Kecuali seleb yang banyak haternya. Sepertinya, berbagi keuwuan di negeri sebelah itu, menjadi paten bagi negeri tersebut. Hal yang sulit terjadi, kalau orang-orang biasa (folowernya masih dikit) dijulidin sama warganet biasa juga.


Wajar jika negeri ini terkenal dengan sebutan negerinya tukang pamer; dari remeh temeh hingga ramah tamah, dari yang sederhana hingga yang mewah. Dari dapat voucher 50ribu, hingga dapat giveaway jutaan. Dari yang dapat untung ribuan hingga puluhan juta. Dari usaha jual cilok sampai usaha jual intan. Dari yang hanya makan sama ikan asin, sampai yang makan ikan Arwana harga jutaan (dikiranya ikan Arwana buat digoreng). Semua lumrah terjadi dan tidak pernah terjadi kericuhan.


Kaum julid juga malas jika harus numpahin teh di negeri kaum FoMO! (Fear of Missing Out). Karena pasti setiap orang berlomba-lomba pamer segala hal. Gak ada kesempatan kaum julid bikin ricuh, karena setiap netizen berkomentar dengan keuwuannya masing-masing. Mereka yang pseudo UWU, tidak punya kesempatan sama sekali untuk menuangkan tehnya. Maka pembalasan kaum julid lari ke twitterland, yang memungkinkan setiap orang membuang semua sampah dan sumpahnya.


Lengkaplah twitterland oleh beragam manusia; dari yang terpelajar, politisi, para UWU, sampe penyedia jasa esek-eesk. Sejak pemilik twitter memfasilitasi dengan beragam fitur yang unyu, banyak generasi abal-abal pindah ke sini. Dengan akun abal-abal mereka menjadi zombie di siang hari. Memakan semua hal yang berbau rasa dan keuwuan. Menyerang kebijaksanaan yang tidak mereka dapatkan di lingkungannya nyatanya.


Jadi, saranku, Kaum FoMO Sapiens, silahkan bersenang-senang di negeri yang memanjakan dirimu, yaitu di Instagram yang bersih, wangi, dan penuh pesona. Jangan di twitterland yang sudah basah oleh kucuran liur sampah serapah dan semua jasa hampir semua tersedia. Tapi lain hal, jika kamu seleb, apalagi pecandu sahdu, betapapun sampahnya cuitanmu, pasti disambut bahagia oleh mereka.


Anda harus sadar diri sebagai orang biasa, tunjukkanlah bahwa anda juga biasa, jika perlu, tunjukkan kesulitan anda, karena justeru mereka kaum Julid cukup bahagia melihat kesulitan. Mereka pun langsung percaya, karena kesulitan serupa dengan kekeringan rasa mereka. Walaupun pada akhirnya mereka tertipu dengan simulacra mayantara.


Tapi tidak sedikit kok, bahwa kesulitan-kesulitan itu nyata dan berbuah bahagia, karena; entah itu yang sedang bertahan hidup dengan berjualan, menjual motornya, ataupun jenis kesulitan lain misalnya diusir ibu tiri. Kesulitan mereka disambut dengan empatik.


Pahami Karakter Medsosmu, Brosis!

Setiap media sosial memiliki niche-nya masing-masing. Tidak menyamaratakan perlakukan pengguna terhadap semua media sosial menjadi pilihan bijak, jika eksistensi kita ingin diakomodasi. Mungkin itu kata-kata bijak yang saya miliki untuk penduduk tiap media sosial. Walaupun, tidak semua media sosial membuat segmentasi tertentu. Misalnya, twitter hanya untuk kaum terpelajar dan melek politik. Siapa bilang? Toh sekarang, politik bukan tema satu-satunya yang sering trending. Isu-isu remeh temeh dan bahasan generasi lebay juga banyak kok di sini.


Jika di negeri tetangga, Instagram, kalian mau pamer segala macam sah-sah saja, sepertinya negeri tersebut memang yang paling cocok. Tapi tidak cocok untuk berbagi informasi link berita, karena cocoknya di dunia lain, facebook, yang sudah sangat berjubel dari anak gadis sampai nenek kakek.


Kalau mau cari gebetan, tentu kalian tidak cocok mencarinya di negeri kantoran semacam LinkedIn, karena negeri tersebut khusus untuk para jobless dan penebar lowongan kerja. Kalian cukup pergi ke negeri Tinder atau Tantan. Begitu juga kalo mau cari cowok atau cewek yang gampang untuk bermain-main di kosan, tentu tidak di medsos itu, tapi di youchat.


Jika kalian ingin menjadi betul-betul maya dengan informasi yang seringkali mengagregasi keviralan dari media online tidak jelas,  kalian harus paham, itu ada di line. Atau jika kalian ingin memalsukan informasi, jangan bermain di Wikipedia, tapi bikin blog sendiri. Karena Wikipedia berisi orang-orang dengan berjubel pengetahuan.


Jadi bagi medsos addict, kalian harus paham karakter dari aplikasi jejaring tersebut, agar kalian tidak kena julid dan aplikasi kalian tidak rusuh. Jangan sampai kalian tidak tahu ‘niche’ yang lagi trend pada setiap aplikasi tersebut, karena salah tema saat berbagi, kalian bisa berakhir sengsara. Tapi jika tepat, kalian akan berakhir bahagia. Ya, bahagia yang semu!.***[]

 

Read More

8.12.20

Menapak Jejak Peninggalan Bosscha

Menapak Jejak Peninggalan Bosscha. sumber foto: Bambang Diskominfo Kabupaten Bandung 

Meneer Belanda, K.A.R. Bosscha, administratur perkebunan teh yang memiliki banyak kontribusi untuk kemajuan masyarakat Priangan. Bukan hanya Observatorium Bosscha Lembang, juga PLTA, Sekolah Teknik ITB, dan inovasi perumahan untuk pekerja perkebunan.
Janari gede, mataku telah terbuka, bersiap bebersih badan dan hidup normatif sebagai manusia beragama. Namun, bukan hanya soal itu. Karena pukul 5.00 pagi hari, telah ditunggu oleh sekawan, memburu janji untuk meluncur ke Neglawangi. Karena itu, pukul 04.00 setelah sameang, kuda besi tuaku telah menapaki jalan kecil desa, membelah jalanan kota.


Bersama tim Sarebu Kampung, Adhie Nur Indra, Asep Soehendar, Bambang, Anton, Kamal, dan Hendar, kami bergegas menuju ketinggian 2000-an mdpl, melalui jalur Pangalengan. Menuju tapal batas kabupaten Bandung. Blok Sedep - Neglawangi.


Neglawangi, salah satu desa di Kecamatan Kertasari, satu jam perjalanan dari kota kecamatan Pangalengan atau sekitar 30 km jaraknya. Kurang lebih tiga jam perjalanan dari Soreang, Kota Kabupaten Bandung atau sekitar 55 km arah Selatan Bandung. Dengan jarak tempuh dan waktu yang tidak sepadan, jangan bayangkan jika jalannya datar dan lurus seperti kota. Walaupun secara infrastruktur sudah cukup baik. Kelokan-kelokan yang bisa membuat pusing dan muntah, menjadi salah satu alasan kenapa waktu tempuh dan jarak seakan tidak berompromi.

Akan tetapi, saat menginjakkan kaki, tepat di depan Desa Neglawangi, terbayar sudah pusing dan mual karena kelokan. Mentari tersenyum, menjadi ciri bahwa pagi telah terlewati. Namun, kami masih betah berjaket. Aparat pun menikmati mengenakan kupluk. Udara dingin terasa meliuk-liuk mengitari badan yang masih berlum terbiasa dengan suhu 170 c atau berada pada ketinggian 1764 MDPL. Petugas desa bilang, jika sedang dingin-dinginnya, udara bisa sampai 50 c.


Perkenalan kecil dengan sejumlah aparat desa, penggerak KIM Neglawangi, dan penggerak informasi & pariwisata; Ibu Sekdes, Iwan Hadiana, Yusep Zamaludin, dan Reva Gumelar menjadi penghangat suasana, sebelum melakukan perjalanan dan liputan. Cerita-cerita kecil lalu berubah menjadi gelak tawa, bersama punggawa. Sebelum akhirnya, saya tersadar bahwa lokasi kantor desa yang menjadi tempat kami bercengkrama, adalah jalan kawah Papandayan.


Nama jalan tersebut, seakan menghantarkan saya untuk pulang ke kampung halaman. Tak pelak, karena jalannya dinamai dengan jalan Kawah Papandayan, tempat masa muda mengadu andrenalin dengan dingin dan gelapnya Pondok Saladah, di tempat kelahiran. Ya, jalan ini menghubungkan Kabupaten Bandung dan Garut melalui jalur Gunung Papandayan.


Terbersit mimpi masa remaja yang tak pernah terlaksana, untuk menapaki Tegal Arun dan Tegal Panjang yang menjadi penghubung Kabupaten Bandung dan Garut. Sebagai pencapaian gengsi para pendaki pemula di gunung Papandayan.


Bukan Tanam Paksa

Menapak Jejak Peninggalan Bosscha. Sumber foto: Bambang Diskominfo Bandung

Setelah personil lengkap; aparatur desa, kelompok informasi masyarakat, serta kelompok penggerak pariwisata desa Neglawangi. Kami pun, menuju tempat ‘perjamuan’ pertama, yaitu Villa Belanda, yang dibangun tahun 1926. Villa ini awalnya merupakan rumah dinas kepala bagian perkebunan blok Neglawangi, yang masih menggunakan bahasa Belanda, Sinder Apdeling. Beberapa kali alih fungsi, akhirnya eks rumah dinas pejabat perkebunan ini berubah fungsi menjadi villa.


Tidak seperti perkebunan teh di wilayah Garut dan Purwakarta, Perkebunan teh Neglawangi, walaupun memiliki sejarah yang kuat dengan tanam paksa, namun pembukaan lahannya didasarkan pada investasi para pemodal, sehingga bukan bagian dari politik balas budi Belanda atau istilah yang lebih populer saat itu, cultuurstelsel.


Sebagian besar perkebunan-perkebunan teh besar di Indonesia, merupakan peninggalan dari program tanam paksa bangsa Belanda. Bibit tehnya sendiri dibawa oleh mereka untuk keperluan bisnis. Sebagaimana halnya diceritakan dengan baik oleh Pramoedya Ananta Toer dalam tetralogi Pulau Buru, yang salah satunya telah diangkat menjadi film Bumi Manusia.


Perkebunan teh, merupakan bagian dari jejak tanam paksa. Hanya saja, ceritanya sedikit berbeda, karena perkebunan teh tersebut dikelola oleh generasi ke-2 dari investor Belanda. Generasi ini merupakan kelompok pemodal yang datang setelah dihilangkannya politik tanam paksa.


Generasi pertama teh di tatar priangan, yang bermula tahun 1827 memokuskan area penanaman di daerah Garut dan Purwakarta. Setelah muncul UU Agraria tahun 1870, tanam paksa berakhir. Dan pengusaha teh berdatangan sebagai investor yang menyewa tanah-tanah rakyat. Lalu pada tahun 1896 Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang sepupu pengusaha teh di priangan datang sebagai pekerja perkebunan teh Malabar Pangalengan.


Wajar, jika perlakuan dari meneer Belanda, pada periode kedatangan generasi kedua ini berbeda dengan generasi pertama di perkebunan teh Garut dan Purwakarta. Meneer-meneer Belanda bersikap dan memperlakukan masyarakat dengan sangat baik, bahkan disediakan perumahan khusus untuk pekerja pribumi. Mereka pun dikenang masyarakat.


Jejak Bosscha; dari Pembangkit Listrik, Sekolah Teknik hingga Gunung Nini

Saat menapaki jalan menuju Gunung Nini Bandaasri Pangalengan, sebuah penunjuk jalan bertuliskan Makam Bosscha terpampang di sebelah kiri jalan. Apa hubungannya dengan Observatorium Bosscha yang populer di Lembang?


Ya, saya baru menyadari, lebih tepatnya mengetahui setelah berbincang dengan pengelola tempat Wisata Gunung Nini. Bahwa hamparan perkebunan teh yang luas di Pangalengan merupakan peninggalan Bosscha. Bukan hanya pangalengan, namun tersebar ke sejumlah tempat termasuk Neglawangi dan Lembang.


K.A.R. Bosscha merupakan Meneer Belanda yang memiliki kepedulian sosial dan pendidikan yang  tinggi. Tidak hanya membangun pusat observasi Bosscha yang terkenal di lembang, juga mendirikan sekolah teknik pertama di Indonesia, atau sekarang yang dikenal dengan Institut Teknologi Bandung.


Awalnya, Bosscha bekerja sebagai administratur pada perkebunan milik sepupunya yang menjadi pioneer perkebunan teh di Jawa Barat, khususnya wilayah Garut, Bandung, dan Purwakarta, keluarga KF Holle dan Kerkhoven.


Bosscha sendiri masih berkerabat dengan Kerkhoven. Namun, selama bekerja Bosscha banyak melakukan inovasi. Ia mendirikan perumahan untuk pekerja perkebunan. Ia juga mendirikan pabrik teh Malabar. Selama menjadi administratur, ia berinovasi membuat pembangkit listrik tenaga air yang menjadi sumber energi bagi pabrik teh.


Pembangkit listrik tersebut, berada di perbatasan Kabupaten Bandung dan Garut, masih berfungsi dengan baik. Dibangun tahun 1924. Hingga kini masih memiliki fungsi menjadi sumber listrik bagi pabrik teh yang berada Neglawangi.

Generasi kedua meneer Belanda ini, tidak hanya menjadi pengusaha teh, mereka juga sangat cinta dengan kebudayaan dan masyarakatnya. Wajar jika mereka juga sangat menyatu dengan masyarakat. Hingga akhirnya dicintai oleh masyarakat. Bosscha sendiri ingin dimakamkan di tengah-tengah perkebunan, tepatnya pada perkebunan teh Malabar, tepat di area menuju Gunung Nini.


Gunung Nini, merupakan sebuah bukit tinggi di tengah pegununang setinggi 1760-an mdpl yang bisa melihat hamparan pohon teh 360 derajat. Menurut pengelolanya, Gunung Nini merupakan tempat favorit K.A.R. Bosscha untuk memantau keadaan perkebunan yang menjadi tanggung jawabnya. Setiap harinya, ia selalu melakukan pemantauan.


Salah satu cerita yang disampaikan oleh Bosscha saat memantau, setiap menjelang siang selalu datang seorang nenek-nenek yang membawakannya makan. Sampai akhirnya tempat tersebut dinamai gunung Nini. Kini, gunung Nini, dikelola oleh Karang Taruna Bandaasri Pangalengan. Menjadi tempat wisata swafoto 360 derajat.


Gunung Nini mudah dijangkau dengan kendaraan pribadi, baik roda dua atau roda empat. Jalan menuju gunung Nini cukup bagus, walaupun saat menapaki pegunungannya belum diaspal. Namun cukup nyaman untuk dilalui. Dengan tiket Rp.10.000,- per orang, wisatawan bisa menikmati pemandangan eksotis hamparan perkebunan teh dari ketinggian 1700-an mdpl. Pengelola menyediakan saung-saung terhubung satu sama lain untuk berswafoto ataupun istirahat sambil menikmati kuasa dan keindahan ciptaan Allah. ***[abahraka]

Read More

19.7.20

Mengekstase dengan Pantai Parai dan Rock Island

Pulau Batu alias Rock Island
Biasanya, jika sampai di Pantai, tidak hanya menikmati batas pandang lautan dari pantai, juga mencoba bersatu dengan dengan menceburkan diri, minimal basah-bahasan celana. Tapi tidak, saat sampai di Pantai Parai Bangka dengan Pasir Putih dan birunya laut yang sungguh eksotis. Kami berenam, hanya duduk-duduk di bangku yang disediakan hotel. Menikmati, eksotisnya air yang kebiruan dengan bebatuan raksasasanya.

Cerita bermula,

Tepat pukul 04.25, saya sampai di Bandara Husen Sastranegara Bandung. Rencana keberangkatan pukul 06.00, ternyata terlalu pagi sampai di Bandara, dan akhirnya transit terlebih dahulu di mesjid untuk menunaikan kewajiban. Setelah sholat, satu persatu teman datang dan akhirnya berkumpul di pintu area keberangkatan domestik. Kami segera masuk dan menikmati suasana bandara.

November 2019, perjalanan ini bukan traveling, tapi memenuhi undangan, lebih tepatnya menjadi salah satu peserta sekaligus narasumber dalam workshop yang dilaksanakan dalam festival relawan TIK di Pangkal Pinang, Ibu Kota Kepulanan Bangka Belitung. Sebelum menginjakkan kaki di Pangkal Pinang, sengaja saya tidak browsing tentang Provinsi dengan dua pulau besar tersebut. Saya terkadang tertukar antara Pangkal Pinang dan Tanjung Pinang, padahal kedua tempat tersebut berada pada wilayah provinsi yang berbeda.

Barulah paham saat tiba dan menikmati suasana Pangkal Pinang, yang menurut saya cocok sebagai kota Heritage, karena rata-rata bangunannya menua—sebelum saya berkeliling, walaupun tidak tua-tua amat sih. Saya juga baru paham bahwa antara Bangka dan Belitung merupakan dua pulang yang berbeda dalam satu provinsi.

Ketauan ya, kalau saya kurang literate soal wilayah di Indonesia. Tidak masalah, saya nikmati kebodohan ini, karena begitu nikmatnya saat saya tahu, walaupun hanya sebatas pada apa yang saya dengar dan saya lihat saja. Ya, ini lah kota asalnya salah satu panganan terkenal di Bandung, Martabak Bangka.

Pangkal Pinang. Saya tunda ceritanya. Saya lanjutkan dengan Pantai Parai.

Tiba pukul 8, menyimpan barang di hotel dan langsung menuju tempat acara. Setelah acara pembukaan dan seminar sesi 2 selesai. Kami undur diri terlebih dahulu, karena acara workshop kepenulisan yang akan saya isi terjadwal besok siang, 23 November. Sesegera kami berenam menuju arah Selatan (kalau tidak salah), sekitar 43 km dari Kota Pangkal Pinang. Kami tempuh kurang lebih satu jam perjalanan.

Pasir Putih Parai Private Beach
Pantai Parai merupakan private beach, kami harus membayar retribusi melalui pihak hotel agar bisa menikmatinya. Retribusinya Rp.25.000,- per orang. Saat masuk, karena masih terlalu siang, suasana pantai masih sepi, sehingga kami bisa dengan puas dan bebas menebarkan pandangan dari sisi satu ke sisi lainnya, termasuk juga Rock Island yang berada pada sisi lain.

Rock Island yang berada begitu Indah dipandang dari sisi kanan Parai yang tepat berada di belakang hotel. Tempat ini juga sangat intagramable. Hampir di semua tempatnya memiliki pemandangan eksotis. Bahkan jika kita keluar Pantai dan masuk pada sisi lainnya, menyediakan semacam pedestrian khusus agar bisa menikmati Indahnya pantai dengan bebatuan raksasanya.

Cukup puas dengan hanya memandangi eksotisme pantai, saya coba menikmati bebatuan raksasa, dengan mengambil beberapa foto. Posisinya sangat pas berhadapan dengan Rock Island di seberangnya. Pohon kelapa menjadi ciri khas pantai. Mengingatkan pada latar lagu Rayuan Pulau Kelapa (yang mana ya?).

Semantara yang lain, tetap betah hanya duduk-duduk, saya berempat pergi menuju Rock Island. Sejatinya, di tempat ini terdapat cafe, sayang sepertinya telah lama tutup. Beruntung dengan 25ribu kami dapat minum teh kemasan botol. Sehingga menjadi penutup haus dan dahaga. Rock Island benar-benar Pulau Batu, dan kami pun menikmati berfoto di Pulau Batu sambil merasakan adrenalin horornya ombak yang mendorong dengan kencang bilah-bilah batu sehingga muncrat ke permukaan.

Andrenalin bertambah saat ingin menikmati laut dari atas baru paling terdekat dengan pantai. Karena batu menyerupai bukit, saya harus menaiki bukit tersebut. Begitupun saya harus menyeberang melalui belahan-belahan batu besar tersebut sehingga saya bisa melihat lepas laut dari Rock Island. 

Saat kembali dari bukit batu di Rock Island, tampak dua gadis berkerudung sedang ikut menikmati hempasan angit pantai. Terlindungi rimbunnya pohon-pohon meninggi. Sesekali kami mengajak ngobrol. Mereka berasal dari Lampung. Sengaja liburan ke Bangka bersama teman lamanya.

Cukup duduk-duduk di pinggiran kita sudah merasakan ekstase
Saat kami kembali dari Rock Island, Parai Private Beach sudah mulai ramai. Anak-anak berlarian di pinggir pantai. Bola ditendang ke sana kemari. Sesekali nyemplung ke air. Terkena deburan ombak. Mereka teriak kegirangan. Mengambil Bola. Byurr mereka pun berenang di pinggiran Pantai Parai. Sambil mengambil bola yang melayang-layang di atas permukaan laut. Mereka kembali lagi ke bibir pantai. Lempar bola lagi. Tendang lagi. Kejar lagi. Dan nyembur lagi ke permukaan air pantai.

Saat menuju gerbang pantai, rombongan keluarga besar, yang sepertinya dari perusahaan tertentu berbondong-bondong menuju Parai Private Beach. Sedangkan kami bergegas menuju tempat berbeda. Sebagai kenangan, sebelum meninggalkan Privat Parai Beach, kami berswafoto pada area yang telah disediakan space instagram. Cekrek. Sekali dua kali. Lalu kami pergi.

Parai Tenggiri
Setelah menikmati private beach yang bersih, dengan laut biru dan pasir putih. Kami bergegas menuju pantai selanjutnya, yaitu Parai Tenggiri. Sepanjang perjalanan kami menikmati sajian lepas Pantai yang bisa disaksikan dari atas kendaraan. Semilir angin cukup menjadi obat bagi panasnya daerah Parai Tenggiri Sungai Liat.

Sayang, di area lepas pantai ini, sulit menemukan kios agar bisa lebih menikmati pantai sambil minum air kelapa. Akhirnya berhenti di satu area yang terdapat reklamasi batu (istilahnya?), beberapa perahu nelayan terparkir di sana. Satu dua cekrek kami ambil. Seorang teman mengabadikan semburan kecil ombak yang menghampirinya. Sesekali menembakkan lensar tele ke kawannya.

Entah karena tidak pas atau memang masyarakat telah bosan bermain di pantai, pantai ini juga kosong melongpong. Hampir sulit menemukan kendaraan berlalu lalang. Hanya satu dua motor yang lewat, sepertinya itu pun warga setempat. Air kebiruan langit muda tersebut tetap membuat kami betah. Hanya berandai, karena berasal dar Jawa Barat, seandainya berada di sana, mungkin Pantai ini akan ramai dengan hiruk pikuk.

Tapi ya sudahlah, kami nikmati dan syukuri. Kami pun kembali ke Hotel sebelum matahari tenggelam. Berburu makan yang katanya paling populer di Bangka. Sayang sudah tutup, karena buka hanya sampai ashar saja. Akhirnya cari alternatif, pempek Palembang yang bikin kenyang.

Read More

18.7.20

Pembaharuan Performa HP Serie Omen Laptop Gaming

sumber HP Indonesia
Pengalaman pertama saya bersentuhan dengan Laptop HP saat mengerjakan tugas akhir. Ini juga sekaligus pengalaman pertama menggunakan laptop, setelah sekian lama menggunakan PC. Kesan pertama, memang HP memiliki speed yang bisa diandalkan untuk kebutuhan kerja saat itu. Tidak lambat seperti PC yang saya pake.  Kini, peralatan kerja di rumah juga menggunakan HP, khususnya PC All In alias desktop dan printer HP Laserjet. Sehingga merek dengan dua huruf tersebut sudah tidak asing lagi.

Sebagai salah satu pemain perangkat, HP tidak hanya memenuhi kebutuhan kerja, juga mengembangkan kebutuhan-kebutuhan hiburan yang bisa support. Melalui seri Omen, HP berinovasi melalui pengembangan Laptop khusus gaming. Bisa dikatakan bahwa seri ini, sering istimewa dan mewah karena menjadi lini khusus gaming, dengan logo deblo simple tapi justeru menunjukkan keistimewaan dan kemewahan seri ini.

Selasa, 14 Juli 2020, Indonesia menjadi negara pertama di kawasan Asia yang mendapatkan kesempatan peluncuran Pembaruan laptop gaming seri OMEN tersebut. Saya sendiri mendapatkan kesempatan hadir melalui aplikasi Zoom. Walaupun peluncurannya secara virtual, namun tetap tidak mengurangi keistimewaan Omen Series Upgrade tersebut. Secara lengkapnya, Asus mengeluarkan beberapa seri pembaharuan pada laptop lini Gaming dengan Sub Brand Omen; OMEN 15 Laptop, OMEN 25L Desktop, dan pembaruan bagi OMEN Command Center.

HP Omen Series dirancang untuk mendukung gamer menunjukan skill terbaiknya dengan mengoptimalkan kapabilitas perangkat yang mereka miliki. Seri OMEN merupakan tambahan terbaru di portofolio gaming HP yang diciptakan dan didesain ulang untuk memberikan pengalaman luar biasa dan mendukung gamer Indonesia play to progress selagi di rumah.

“Industri gaming di Indonesia semakin besar. Sebagai pengalaman sosial, gaming telah menjadi sarana hiburan yang juga menyatukan orang dari berbagai latar belakang berbeda meskipun mereka saling berjauhan,” ujar Fiona Lee, Indonesia President Director, HP Inc.

Ia menegaskan bahwa HP Indonesia berkomitmen untuk terus mendukung pertumbuhan industri gaming Indonesia dengan mengembangkan portofolio kelas dunia kami dan meningkatkan pengalaman gaming melalui inovasi andal dan terpercaya serta kemitraan strategis dalam industri ini.

Menaikkan Performa
Sumber HP Indonesia
Gamer masa kini menginginkan teknologi yang tepat untuk mendapatkan pengalaman gaming terbaik. Kombinasi teknologi termal inovatif, performa mumpuni, dan visual luar biasa membuat game terasa nyata, serta meningkatkan pengalaman gaming secara menyeluruh.

Seri OMEN terbaru menghadirkan ekosistem perangkat keras dan lunak yang mendukung gamer masa kini terhubung dan terhibur. OMEN 15 Laptop terbaru dengan sasis yang didesain ulang dalam bentuk lebih ringkas dari generasi sebelumnya memberikan estetika minimalis dan logo OMEN baru berwarna gradien biru kehijauan. Laptop ini hadir dalam warna Mica Silver dan Shadow Black dengan opsional RGB penuh di setiap key lighting. OMEN 15 memudahkan gamers bermain di mana saja dengan menyuguhkan performa yang lebih baik dari generasi sebelumnya dalam kerangka 8 persen lebih kecil dan 11 persen lebih tipis.

Berikut Fitur-fitur tambahan untuk meningkatkan performa HP Omen Series; NVIDIA® GeForce RTX™ 20603,4 . Melalui VGA tersebut seorang gamer dapat merasakan tenaga dengan level desktop. HP Omen Series menggunakan prosesor generasi ke 10 dari Intel atau Gen Intel® Core™ i7. Omen Series juga membedol RAM hingga 32 GB DDR47 yang bisa ditingkatkan untuk level profesional.

Melalui layar 15,6 inci, seorang gamer dapat merasakan pengalaman mengagumkan yang didukung dengan desain engsel hingga 180 derajat serta layar FHD 144 Hz10 dengan teknologi NVIDIA G-SYNC Pada konfigurasi tertentu bisa melakukan multistreaming. Benar-benar akan memberikan pengalaman menakjubkan.

Pada Inovasi Termal, HP mempersembahkan sensor IR thermopile pertama di industri12 yang disematkan ke laptop gaming untuk mengoptimalkan efisiensi termal, mempertahankan akustik kipas yang stabil dan tenang, serta memaksimalkan performa fitur Dynamic Power di OMEN Command Center.

OMEN Tempest Cooling Technology memastikan semua tetap terjaga dingin dengan bukaan udara lebih besar dan kipas 12 V 13 yang menggunakan ventilasi tiga sisi untuk menciptakan aliran udara lima arah mendorong laptop ini ke performa level desktop.

Sedangkan pada OMEN Command Center, HP melakukan pembaharuan dengan memaksimalkan produktivitas ketika menikmati konten dan browsing internet dengan Graphic Switcher yang tersedia di OMEN Command Center14 . Fitur ini memungkinkan pengaturan hybrid yang pas digunakan untuk menonton atau bekerja. Kustomisasi performa juga berevolusi berkat Performance Control15 di OMEN Command Center yang memudahkan pengendalian termal dan kecepatan kipas, serta menghadirkan performance mode yang meningkatkan kinerja CPU and GPU sebesar 17 persen dengan mudah.

Sisi kelebihan lain dari Omen Series ugrading ini adalah kemudahan meningkatkan performa dengan pembaharuan perangkat keras. Khusunya bagi yang suka mengotak-atik, sekrup Phillips di dasar laptop serta akses panel tunggal untuk memori dan penyimpanan membuat kustomisasi perangkat keras mudah dan cepat, sehingga Anda bisa memiliki laptop gaming terbaik yang sesuai keinginan.
Selain Seri Omen, HP juga melakukan pembaharuan terhadap lini Pavillion, yaitu HP Pavillion Gaming, dengan harga sangat menarik***[]

Read More