Mereguk Kesejukan di Situ Cisanti

Situ Sicanti, di tengah terik panas sekalipun tetap sejuk. Padahal foto ini diambil saat tengah hari.
Mendengar Cisanti mengingatkan pada cerita seorang teman, di daerah Ciparay konon terdapat kampung, namanya  Cisanti. Konon, perempuan setempat memiliki mata berwarna biru dan cantik-cantik. Bisa jadi rujukan mojang parahyangan sebetulnya menuju ke daerah ini.

Hoalaaah...saya pikir itu mitos! Ternyata bukan, Cisanti benar-benar sebuah tempat nun jauh di Kabupaten Bandung. Tetapi mojang-mojang Sunda yang bermata biru bak noni walanda itu sebuah mitos. 

Cisanti, sebuah Danau atau dalam bahasa Sunda disebut sebagai situ, berada di dataran tinggi Bandung. Namanya kalah popular dibandingkan Situ Cileunca yang berlokasi di Kecamatan Pangalengan, walaupun  sama-sama berada di wilayah Kabupaten Bandung, Jaraknyapun tidak terlalu terpaut. Apalagi dengan Situ Patengang yang berada di area Rancabali Ciwidey. Situ Cisanti terletak di Kecamatan Kertasari, tepatnya berada di wilayah pegunungan Wayang Windu. 

Dimanakah Kertasari itu? 
Lukisan alama pesawahan, hijau membuat betah
Kecamatan Kertasari berbatasan dengan wilayah Kecamatan Pacet. Pacet berbatasan dengan Kecamatan Ciparay. Jika menggunakan kendaraan Pribadi bisa melalui Jalan yang berada tepat di pinggir Terminal Ciparay. Perjalanan dari Ciparay menuju Situ Cisanti bisa memakan waktu 1 jam lebih atau sekitar 41 km. 

Sedangkan dari tempat saya bermukim, Cileunyi, jarak yang ditempuh menuju Situ Cisanti sekitar 2 jam perjalanan atau 62 km dengan menggunakan roda dua atau pun roda empat sama saja. 

Perjalanan dimulai dari daerah Cileunyi, tepatnya perbatasan Cileunyi Cibiru yang berada di Timur Bandung, sementara Situ Cisanti berada di Selatan Bandung. Saat itu hari Minggu, waktu menunjukan jam 8.30, mentari masih malu-malu menunjukan seluruh wajahnya. Sehingga bayang-bayan sinarnya tidak terlalu menyengat selama perjalanan, bahkan bisa dikatakan teduh, karena cuaca sedang sering mendungnya. Sehingga perjalanan tidak dibayangi oleh teriknya matahai. 

Kami berangkat menuju kecamatan Kertasari atau tepatnya desa Cibeureum yang berdekatan dengan lokasi Situ Cisanti. Dengan tujuan bersilaturahmi dengan teman lama dari isteri. Anak-anakpun dibawa serta dengan harapan bisa sekalian berwisata ke destinasi wisata terdekat dengan desa Cibeureum atau yang kami lewati selama perjalanan Ciparay-Kertasari.

Membayangkan melewati bypass Soekarno Hatta sebelum belok di Stoppan Buahbatu dengan panas yang terik, akhirnya perjalanan kami arahkan melalui jalur yang tidak populer menuju Ciparay, yaitu Sapan Gede Bage. Bayangan saya, jalur Gedebage Ciparay banyak lubangnya seperti beberapa tahun lalu, ternyata salah. Walaupun telah masuk wilayah Kabupaten Bandung, daerah Sapan menuju Ciparay ternyata sudah mendapatkan perlakuan baik, yaitu beton. Sepanjang jalan walaupun berada di tengah-tengah sawah, alhamdulillah sudah berbeton. Sehingga memudahkan perjalanan kami. 

Jalanan tidak terlalu ramai. Beruntung, cuaca panas tidak terlalu menyorot, sehingga kami, motoris ini, tidak terlalu kepanasan. Apalagi dengan pemandangan yang cukup asri, hehijauan dan kekuningan padi menjadi obat perjalanan yang tidak dekat ini. Melalui jalan kecamatan yang tidak terlalu besar, kami nikmati tidap belokan dan perubahan wilayah tersebut. 

Beberapa tahun lalu, sebelum berbeton, banyak jalan-jalan berlubang. Bahkan terlalu kecil untuk penghubung antar kecamatan di Kabupaten Bandung. Namun kini jalan-jalan kampung tersebut cukup nyaman untuk dilalui roda dua. Dengan santai motor melaju dengan kecepatan rendah, selain membawa serta anak-anak, juga untuk menikmati semilir angin yang terpantul dari hehijauan selama perjalanan. 

Setelah melalui jalur Sapan sampailah Ciparay. Kuda besi kami arahkan dan belok ke kanan lalu menuju terminal dan bertemulah dengan jalan menuju arah Pacet. Dari sinilah perjalanan begitu terasa lama, karena dari Ciparay menuju Pacet saja sudah lumayan—kata orang sunda mah ‘ngemplad’, kemudian dari Pacet menuju Kertasari juga lumayan Ngemplad, belum lagi jalan berkelok dan menanjak.

Namun, Alhamdulillah, selama perjalanan, khususnya dari Pacet menuju Kertasari khususnya dari daerah desa Kertasari menuju Cibeureum, suguhan pemandangan sungguh eksotik. Kami merasa berada di atas puncak. Melihat landainya hehijauan pertanian penduduk yang begitu lempar. Menjadi obat dahaga perjalanan. Sesekali saya menengok ke kiri, kanan kiri selalu hijau dengan tanaman kentang, wortel, tomat, kol, dan sayuran lainnya. 

Belum lagi udara yang sudah sangat khas pegununga, walaupun matahari sudah menyorot, tetapi hawa sejuk itu benar-benar seakan berada di tanah asing, berada nun jauh dataran rendah. Oooh jadi inget dinginnya kota Wonosobo!

Karena bersantai ria di perjalanan, sampailah di tempat tujuan. Kediaman teman dari isteri yang berlokasi di desa Cibeureum kira-kira pukul 10.30 atau sekitar 2 jam perjalanan. 

1,5 jam saja kami bersua. Setelah selesai hajat. Setelah Dzuhur, kami pamit karena tidak ingin menyia-nyiakan perjalanan yang cukup jauh. Kami pun bertanya ke teman dari isteri, tempat wisata yang dekat dengan Cibeureum. “Situ Cisanti, tidak jauh dari sini, paling 10 menit,” ujarnya.

Waaah kebetulan, pucuk dicinta ulam tiba, kata pribahasa jadul mah. Langsung teringat dengan cerita sang Teman yang rupanya cerita Hoax, karena tidak saya temukan wanita dengan warna mata yang biru.

Jika selama perjalanan Ciparay-Cibeureum kami banyak menemukan hamparan pertanian yang hijau dengan rupa-rupa sayuran. Menuju Cisanti kami temukan pohon-pohon yang rimbun dan menjulang tinggi. Rupayan tepat apa yang dikatakan teman dari isteri, lokasi wisata tidak jauh dari rumahnya tersebut. Ternyata, kami sudah masuk wilayah Gunung Wayang Windu tempat beradanya Situ Cisanti.

Situ Cisanti, berada dalam pengelolaan dan pengawasan Perhutani. Selain sepanjang 10 menit perjalanan disuguhi pohon rimbun dan menjulang, area Situ Cisanti juga dikelilingi oleh Pohon pinus yang menjulang tinggi. Saat memasuki areal Wayang Windu, kita akan diteduhi oleh pepohonan tersebut. Pun saat memasuki pelataran parkir Situ Cisanti, pohon-pohon pinus akan menjaga kita dari kepanasan. Wajar jika di daerah ini, udara sejuk begitu sangat terasa.

Pohon-pohon ini melindungi pengunjung dari terik matahari
Dengan membayar retribusi 7500/ orang, kami diarahkan menuju anak tangga menuju situ Cisanti. Cukup tersembunyi di balik pepohonan yang rindang. Sekitar pelataran parkir terdapat bungalow, toilet, juga mushala kecil. Dan saat habis anak tangga, tampak terlihat air situ dengan ciri khas bangunan irigasi yang mengalirkan air untuk keperluan pertanian daerah tersebut. Airnya hijau sebagai bayangan dari pepohonan yang menjulang tinggi dan hijau. Situ Cisanti juga menawarkan keteduhan itu. Rerumputan pendek membantu keteduhan sehingga siapapun yang berada di pinggiran danau akan sangat menyesal jika tidak menikmati danau sambil duduk di atas rumput-rumput liar tersebut.

Walaupun saat itu musim kemarau, namun rerumputan tetap hijau. Begitu juga, terik panas mentari tidak terasa, karena pepohonan itu menjadi pelindung. Udaranya begitu sejuk, kesejukannya membuat kami betah. Pohon-pohon tinggi melindungi kami dari kepanasan, sehingga membuat kami betah berlama-lama berada di lokasi. 

Tidak hanya dikelilingi oleh pepohonan tinggi dan rerumputan hijau, Situ Cisanti dikelilingi oleh jalan setapak yang sepertinya sengaja dibuat agar pengunjung bisa mengelilingi danau. Dengan udara sejuk dan keteduhan yang didapatkan, tidak akan terasa jika pun mengelilingi danau tersebut. 

Sayang, saat itu sudah memasuki bulan puasa, tepatnya minggu pertama. Sehingga tidak terdapat warung-warung yang buka. Untuk menjaga kebugaran tubuh, maka perjalanan kami tidak lanjutkan untuk mengelilingi danau tersebut. Menurut Fitri, salah seorang pengunjung yang rumahnya tidak jauh dari lokasi, jika hari biasa (bukan bulan puasa) khususnya hari minggu, biasanya cukup ramai oleh pedagang, walaupun pengunjungnya tidak seramai Situ Patengang.

Di Sekeliling Danau terdapat jalan setapak, sehingga pengunjung bisa berkeliling mengitarinya
Selama berkeliling Danau, tidak sedikit dari warga dan pengunjung yang memanfaatkan danau dengan memancing. Mereka duduk dan berleha-leha dipinggir danau. Beberapa anak tampak asyik berenang di tengah dan pinggir danau. Ada yang loncat dengan riangnya. Sebagian lagi mencari krang tawar. Menurut penuturan warga, Bupati Bandung Dadang Nasher, secara rutin setiap tahunnya selalu mengisinya dengan ikan hingga 1 ton. Wajar, jika tidak sedikit pemancing yang memanfaatkan danau tersebut untuk mencari ikan.

Situ Cisanti, menurut beberapa sumber merupakan tempat petilasan atau persinggahan sementara Adipati Ukur atau yang dikenal dengan Dipati Ukur, salah satu pahlawan Bandung saat melawan penjajah Belanda dan lari dari kejaran Pasukan Mataram. Situ Cisanti, juga pernah menjadi salah satu tempat persinggahan Bujangga Manik yang merupakan anak keturunan Prabu Silihwangi. Bujangga Manik merupakan pelopor traveling dan merupakan pelopor Backpacker dari tanah Sunda, mengelililing Nusantara sendirian, dan ia ceritakan dalam sebuah buku (naskah).

Situ Cisanti juga menjadi pusat kehidupan masyarakat Jawa Barat, karena menjadi hulu sungai Citarum yang mengalirkan airnya hingga ratusan kilo meter. Konon terdapat 7 mata air yang menggenangi Situ Cisanti sebelum dialirkan ke sungai Citarum. Ini Situ kehidupan, bukan sembarang tempat wisata. Situ Cisanti juga sebagai tempat yang menjadi saksi sejarah, baik sejarah masa lalu bangsa Sunda ataupun kekinian. Sehingga masyarakat sunda tidak lupa akan sejarahnya. 

Berwisata ke Situ Cisanti, kami disuguhi pemandangan alam yang asri nan eksotis. Juga danau yang cantik dan bersih. Kami mendapatkan aura keteduhan secara materil juga immateri. Subhanallah, kebesaran-Mu kami rasakan di sini. Di alam ciptaan-Mu.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

8 komentar

Write komentar
Jan 8, 2016, 1:25:00 AM delete

Haha ... maksudnya lampu lalin yg di carrefour?? Saya juga lbh memilih lewat kawaluyaan drpd ngantri di situ sih :-p

Ngomong2 ... tempatnya memang asri ya, enak dipandang, apalagi dilindungi sama hutan pinus, jd lbh sejuk.

Reply
avatar
Tira Soekardi
AUTHOR
Jan 8, 2016, 3:13:00 AM delete

wah sunyi sekali situnya ya pak, aduh kalau aku di sana pasti sambilduduk2 dan bikin puisi.... romantis kayaknya kalau sama pasangan ke sananya

Reply
avatar
selvy erline
AUTHOR
Jan 8, 2016, 8:47:00 AM delete

wah, adem n seger banget ya pemandanganya

Reply
avatar
Abah Raka
AUTHOR
Jan 13, 2016, 2:19:00 PM delete

Bukan Kang Timgothy tapi yang Buah Batunya, kalo carefour sebelumnya hehehe

iya bisa ngadem di sini, pada teduh dengan pohon2 tnggi menjulang.

Reply
avatar
Abah Raka
AUTHOR
Jan 13, 2016, 3:08:00 PM delete

Pastinya romantis Teh Tira, adem pasti.

Reply
avatar
Jan 14, 2016, 7:00:00 AM delete

Kalo ke ci santi, kabar burungnya lebih enak lewat pangalengan... lalu masuk ke daerah perkebunan teh malabar

Reply
avatar
Abah Raka
AUTHOR
Mar 13, 2016, 8:43:00 AM delete

Bisa jadi seperti itu kang Fatah, tapi akan terasa lebih jauh karena harus lewat Banjaran...cuma pemandangannya yakin bikin ekstase...

Reply
avatar

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon