17.6.20

Belajar Filsafat


Masa Pandemi, turut berkontribusi terhadap kerapihan koleksi buku pada ruang kerja minim karya di rumah. Setelah menata ulang rak buku dan meja komputer, buku juga ikut saya rapihkan.

Nah, ternyata hasil dari penataan ulang ruangan kerja ini, menghasilkan beberapa kategori buku-buku yang sering menjadi target bacaan atau koleksi, karena tidak semua buku bisa tuntas dibaca, atau bahkan banyak buku yang hanya sempet dibaca kata pengantar atau justeru belum dibaca sama sekali.

Kategori Buku
Kategori pertama adalah buku-buku ilmu komunikasi, buku daras/ referensi/ atau populer dalam bidang komunikasi yang paling banyak atau mendominasi, karena basic pendidikan dari ilmu komunikasi. Sangat wajar. Bahkan, seringkali, jika ada buku-buku cukup populer dalam bidang komunikasi, biasanya dengan cepat menjadi penghuni rak buku.

Buku-buku komunikasi ini juga memiliki subkategori yang saya pisah-pisahkan pertama; buku Ilmu komunikasi secara umum; dari mulai pengantar ilmu komunikasi, komunikasi pemasaran, bunga rampai, audit, public relations, teknologi, dan lain sebagainya. Ini saya masukkan dalam satu kategori dengan menempati beberapa baris rak. Cukup banyak. Kedua, Buku teori komunikasi, karena cukup berat untuk dibaca, bahkan cenderung untuk keperluan analisis suatu isu atau paper, ini juga saya pisahkan pada rak yang berbeda, sehingga menjadi bagian dari sub kategori dalam buku ilmu komunikasi. Ketiga, buku-buku komunikasi berbahasa asing, biasanya buku yang berasal dari format pdf lalu saya cetak sendiri. Keempat, media studies dan jurnalisme. Kategori ini juga saya pisahkan menjadi beberapa rak tersendiri. Media studies menjadi rak yang menurut saya paling istimewa, walaupun tidak terlalu banyak, tapi ekslusif karena referensinya masih cukup jarang. Dan Kelima, masih subkategori dari ilmu komunikasi, yaitu buku-buku metode penelitian komunikasi; mulai dari metode penelitian kualitatif, komunikasi, analisis wacana, naratif, etnografi, fenonemologi, dan lainnya.

Kategori kedua adalah buku sastra. Saat mahasiswa cukup rajin mengoleksi karya sastra, karena selain lebih mengalir saat dibaca, juga memberikan spirit dalam memperkaya wawasan dan perspektif. Beberapa karya sastra yang menjadi koleksi; tetralogi pulau buru dan beberapa karya lainnya dari Pram, Trilogi Bilangan Fu dari Ayu Utami, buku terakhirnya anatomi rasa. Beberapa karya Kuntowijoyo juga jostein gaarder dimana magnum opusnya dipinjam tapi tidak kembali.

Kategori ketiga, merupakan buku pengembangan diri. Menjadi lumrah, hidup di dusun membawa sifat-sifat dusun. Rasa tidak percaya diri menjadi bagian hidup hingga lulus. Maka untuk memproses diri agar lebih pede, salah satunya banyak membaca buku-buku motivasi dan pengembangan diri. Beberapa buku pengembangan diri cukup praktis bukan hanya motivasi.

Kategori keempat merupakan buku Wacana. Buku wacana merupakan buku-buku yang mengangkat isu-isu keninian terkait sosial, politik, ekonomi, budaya, atau ilmu. Biasanya tidak terlalu spesifik tapi isu tersebut berdampak terhadap semua sendi kehidupan manusia; sebut saja misalnya Benturan peradaban karya Samuel W. Huttington, atau karya-karya dari Francis Fukuyama. Dari Indonesia misalnya buku-buku dari Rhanald Kasali, tapi yang terkini atau beberapa dari Yasraf Amir Piliang, yang sebagiannya saya masukkan ke dalam kategori filsafat.

Kategori Kelima, yaitu buku agama dan wacana agama. Nah, ini juga cukup banyak dan hampir mendominasi sama halnya dengan buku ilmu komunikasi. Kenapa? Karena pada masa lalu, selain kuliah di UIN juga aktif di beberapa organisasi yang sering mendiskusikan isu-isu agama.

Kategori keenam, tentu saja buku filsafat; Buku-buku filsafat walaupun tidak mendominasi, namun saya bagi menjadi beberapa kategogi lagi; filsafat umum, epistemologi, semiotika, cultural studies dan budaya pop, pemikiran filsuf seperti Foucault, Aali Syariati, Herbert Marcuse, Heidegger, Baudrillard, Umberto Eco, Yasraf Amir Piliang dan lainnya.

Kategori ketujuh, buku-buku yang tidak masuk kategori keduanya. Beberapa di antaranya cukup saya suka tentang isu-isu kedaerahan dan kesukuan; budaya sunda, garut, dan lain sebagainya. Ini juga cukup banyak, karena tidak masuk pada kategori-kategori buku sebelumnya.

Kategori kedelapan. Sebetulnya masih ada satu kategori lagi, yaitu media. Dulu langganan majalah Syir’ah, yaitu majalah yang mengangkat isu pluralisme, hanya sayang sudah tidak terbit. Kemudian langganan majalah mix, namun sama masuk era pandemi tidak terbit lagi. Begitu juga Pikiran Rakyat, sejak 2011 langganan, hanya saja sekarang beralih langganan digital.

Mendalami filsafat
Nah, terkait filsafat ini, memang umur kesukaanya sudah sejak lama, selama kuliah, sudah menjadi bagian dari wacana diskusi. Hingga akhirnya memengaruhi pada saat tugas akhir dengan mengambil pemikiran tokoh dengan dibedah melalui pisau analisi wacana. Termasuk juga sebelum lulus, tulisan yang dipublikasikan pada media massa pertama tentang filsafat postmodernisme.

Sejak filsafat ternyata bisa berkontribusi tidak hanya pada ranah cara berfikir, juga praktis, kini mulai lagi memperkaya referensi dan wacana melalui beberapa isu-isu filsafat. Postmodernisme yang lama ditinggalkan saat kuliah sarjana, kini dibuka-buka lagi. Begitu juga semiotika, yang sulit memahaminya karena tidak langsung dipraktikkan menjadi alat analisis, kini mulai dibuka lagi. Karena bagaimana pun, beberapa analisis dalam satu isu bisa menggunakan pisaunya tersebut.

Mendalami filsafat adalah belajar cara meluruskan cara berfikir kita, agar tidak picik. Belajar memahami perbedaan dan menerima dengan lapang karena kita mampu mengalihkan pikiran kita melalui filsafat praktis seperti halnya yang dilakukan oleh kaum Stoik.
Begitu juga pada ranah akademik, dengan memahami filsafat, kita lebih mudah memahami metode penelitian yang merujuk pada cara berfikir tentang ilmu. Bahkan untuk memahami ilmu sendiri kita harus belajar filsafat.

Jadi bukan soal gaya-gayaan dengan bahasa-bahasa yang melangit atau frasa-frasa yang sulit. Justeru sebaliknya. Untuk lebih mempermudah segalanya. Karena ketika kita memilih passion dalam bidang menulis atau dalam bidang yang terkait dengan akademik. Maka filsafat menjadi salah satu jalan yang mampu menunjukkan kemudahan itu.

Namun, tentu bukan barang mudah. Karena belajar filsafat artinya kita menerjukan diri pada kesulitan-kesulitan memahami berbagai frasa. Saya sendiri bukan orang yang mudah paham. Seringkali harus beberapa kali membaca ulang. Apalagi pemikiran seseorang yang sangat subjektif.
Oleh karena itu, saya lebih memilih yang mudah. Maksudnya, saya tidak belajar filsafat dengan menyeriusi semua kategori, namun cukup paham apa yang saya suka dan sesuai dengan apa yang bisa menjadi bahasan saya untuk keperluan sehari-hari.

Namun, bukan berarti yang rumit tidak dipelajari, jika harus karena untuk keperluan taktis analisis suatu isu dan menjadi bidang kajian, mau tidak mau harus dilakukan.

Misalnya, untuk keperluan laporan penelitian, salah satunya menggunakan hermeneutika. Terus terang saya belum pernah belajar hermeneutika. Waktu kuliah sarjana, belajar tentang analisis wacana juga sudah uyuhan, karena tidak pernah mendapatkan tema formal di kelas. Nah sekarang, mau tidak mau juga harus belajar hermeneutika. Saat membaca salah satu bukunya, karena langsung ke pemikiran tokohnya, lumayan lieur. Maka harus dicari jalan mudah, yaitu membaca pengantarnya terlebih dahulu.

Nah, begitu juga saat belajar filsafat. Dulu, banyak cerita, banyak orang tersesat, murtad, ateis gara-gara belajar filsafat. Bisa jadi karena itu langsung membaca atau memelajari  pemikiran filsufnya langsung. Banyak pemikiran yang tidak sesuai kita makan mentah-mentah. Dasarnya sendiri tidak dipelajari. Berlakukan seperti tangga, jangan langsung ke puncak, tapi titilah dulu tangga pertama sebelum sampai tangga 10.

Wallahu A’lam.
Read More

30.5.20

Ramadan dan Komodifikasi Ruang Publik

Ramadan dan Komodifikasi Ruang Publik*)
Ramadan dan Komodifikasi Ruang Publik. Foto ilustrasi, dokumen pribadi @abahraka

Seringkah menonton Televisi? Pernahkah melewati perempatan dengan gagahnya videotron berdiri? Pernahkah pergi ke jalan-jalan ramai sambil ngabuburit? Apa yang kita lihat dan tonton saat ramadhan mengunjungi?

Ini menjadi pertanyaan pengantar paling mendasar, karena saat ramadhan, semua berubah. Yang sepi jadi ramai, yang tidak punya pekerjaan nyambi berjualan. Pada subuh hari, sinetron dan film box office pindah jam tayang, beragam kuis begentayangan, cakakak cikikik juga mewarnai layar tivi yang diperankan para cenayang.

Beberapa makanan berubah fungsi, misalnya, mie instan yang fungsinya sebagai pengisi selingan perut berubah menjadi menu utama saat berbuka dan sahur. Minuman bersoda, pengusir rasa kantuk karena rasanya menggigit lidah, menjadi menu pembuka utama saat buka bersama. Bahkan rokok pun yang dengan vulgarnya menyimpan gambar mengerikan tiba-tiba menawarkan kebaikan.

Hal ini bahkan terjadi atau dilakukan 2 minggu sebelum ramadhan. Ruang publik riuh oleh berbagai tampilan dan tayangan yang sebetulnya jika dicermati, terlalu dipaksakan. Apakah iya, saat berbuka puasa menu utama yang disajikan adalah minuman bersoda? Apakah iya, menu utama utama sahur dan buka adalah mie instan?

Bagi saya pribadi, kedua produk tersebut adalah panganan yang dihindari selama ramadhan, entah untuk berbuka ataupun sahur. Karena dikenal mengandung zat yang tidak ramah usus dan lambung. 
Ramadhan, seakan menjadi aksioma sekaligus postulat, sebagai bulan berkah. Berkah bukan hanya untuk kaum muslimin, tapi semua umat kebagian berkahnya. Hampir semua produk dari yang memiliki label halal sampai yang membunuhmu berubah wujud dengan tawaran kebaikan. Di jalan-jalan juga orang begitu riuh dengan berbagi. Sehingga tiap keluarga memiliki harapan bisa berlebaran menggunakan pakaian yang membuat bangga sanak keluarga.

Menjejali Ruang Publik
Apa yang diuraikan di atas semua dijejalkan ke ruang publik. Sebuah ruang yang seharusnya menjadi tempat kontestasi masyarakat. Ruang kontemplatif dan komunikatif masyarakat luas untuk menciptakan makna hidupnya. Justeru menjadi tempat berebut kode-kode kapital dengan hanya menyisakan ruang kontemplatif yang sangat tidak memadai. Sehingga para penikmatnya pun tidak mendapat kesempatan bagaimana mendapat ekstase beragama. Merujuk pada Habermas (1989), dalam The Structural Transformation of Public Sphere, ruang publik adalah ruang yang fungsi-fungsi sosialnya sangat dominan dibandingkan fungsi frivat. Ia adalah ruang terbuka yang boleh dan bisa diakses oleh siapaun warga negara.

Seorang teman berkisah, saat ramadhan tahun lalu, ia menjadi tamak dan membabibuta memenuhi, apa yang disebut oleh Abraham Maslow sebagai kebutuhan paling rendah yaitu perut, hingga akhirnya terjadilah komplikasi penyakit antara kolesterol dan gula. Padahal, jika dikembalikan kepada kearifan puasa, justeru puasa bisa menjadi Asy-Syifa, medium penyembuhan dari beragam penyakit. Bahkan yang memiliki penyakit maag dan usus sekalipun, yang identik dengan penyakit makanan. Bahkan isu seperti ini pun menjadi lorong agar produk kapital bisa dijejalkan ke dalamnya.  Ditawarkanlah bahwa lambung aman itu minum obat ini sebelum sahur dan buka. Semua dijejalkan kepada ruang publik dengan memanfaatkan ramadhan.

Bukankah ini sebagai bentuk pemanfaatan terhadap ramadan untuk kepentingan kelompok tertentu atau satu orang untuk memenuhi dahaga kapitalnya. Semua tampak benar dan sepertinya cocok (cocokologi). Bahkan menjadi agenda rutin tahunan, beberapa agensi membuat iklan versi khusus ramadhan, sehingga bisa menaikkan rating dan reputasi brand. Beberapa productions house pun membuat edisi khusus sinetron ramadhan.

Habermas mengistilahkannya sebagai ruang publik borjouis. Karena ruang publik kini dikuasi secara privat. Tidak ada fungsi negara dalam ruang publik borjuis karena semua kepentingannya telah terdegradasi ke dalam bentuk kepentingan privat untuk melakukan produksi-produksi ekonomi. Pada konteks inilah terjadi perubahan nilai fungsi sosial/ budaya/ agama menjadi nilai tukar. Sesuatu yang dipertukarkan bisa dipertukarkan dengan nilai ekonomi. Inilah apa yang disebut dengan komodifikasi.

Komodifikasi Ramadhan
Ruang publik tak ubahnya menjadi ruang komodifikasi, bagaimana fungsi beragama yang dianut mayoritas masyarakat Indonesia berubah fungsi menjadi tempat kontestasi produk dan nilai tukar. Bukan lagi sebagai nilai fungsi beragama atau nilai refleksi terhadap sikap dan perilaku beragama kita pada masa lalu agar menjadi lebih baik pada masa depan. Tapi bagaimana masa depan dalam konteks komodifikasi tersebut, menjadi lebih ceuyah dengan beragam masakan, olahan, atau apapun yang bersifat material.

Maka wajar, menjadi hal umum terjadi pada masyarakat kita, saat ramadhan, hal yang dilakukan menjelang buka adalah saat-saat bagaimana balas dendam dengan segala materi-materi yang tersedia pada bulan ramadhan. Ini menjadi dampak langsung dari komodifikasi ramadhan. Ruang publik yang dipenuhi oleh komodifikasi beragam tema ramadhan berhasil mengabil makna sakral ramadhan dalam kehidupan kita dan digantikan oleh profanisasi segala bentuk amalan.

Berapa persen acara siraman rohani di televisi jika diprosentasekan, dibandingkan dengan hiburan? Berapa persen iklan yang hanya mengajak kebaikkan tanpa memasukkan semiotika produknya ke dalam iklan. Bahkan tayangan-tayangan religipun berubah fungsi menjadi entertainment, alih-alih entertaintmen penuh dengan tausiah ramadhan. Sehingga terjadi pemaksaan yang ilegal dari ruang profan terhadap sesuatu yang sakral.

Ruang publik berubah fungsi menjadi ruang berkumpulnya  kontestasi beragam kenikmatan profan dibandingkan kenikmatan yang sakral. Ini bentuk nyata komodifikasi ramadan dalam ruang publik. Ruang yang seharusnya milik kita bersama.

Meminjam istilah Adorno dan Hokrheimer (1979) ramadhan kini menjadi ruang produksi bagaimana industri budaya yang diproduksi oleh institusi kapitalisme. Karena bagaimanapun komodifikasi lahir dari hasil perkembangan industri budaya. Campur tangan industri kapital begitu sangat kuat. Eksploitasi terhadap tontontan menjadi target dari industri budaya ini. Segala macam tema-tema kebudayaan dalam ruang publik pada saat ramadhan tidak ada yang murni diproduksi untuk kepentingan pensakralan diri sehingga bertemu dengan ruhiyah kita yang paling agung. Sehingga ruang sakral kita bersih dari dosa. Semua diproduksi untuk kepentingan budaya massa yang sarat akan kepentingan profit.

Pada 2009 saya sempat menulis tentang dilema muballigh populer (Tribun Jabar, 2009), bagaimana pertarungan antara nilai-nilai kebaikan pada ruang publik, tapi pada sisi lain nilai kebaikan itu diproduksi oleh industri kebohongan (iklan). Apakah nilai kebaikan itu akan berujung baik?  Pada sisi lain, seorang dai ingin menyampaikan nilai kebaikan agar bisa secara cepat dan massal diterima khalayak, pada sisi lain acara tersebut didanai oleh produk yang disebut sebagai dengan aparatus ideologi kebohongan.  Kebenaran yang disampaikanpun menjadi ternoda.

Ruang publik pada saat ramadhan bisa jadi lebih parah dari apa yang saya tulis 11 tahun lalu tersebut. Karena justeru nilai agama yang harusnya terinternalisasi dalam diri setiap orang justeru dikomodifikasi menjadi produk-produk industri kapitalisme yang berorientasi pada keuntungan laba. Sehingga pada saat ini, ruang publik kita sedang krisis. Karena tidak lagi berfungsi sebagai ruang sosial spiritual lagi.

Bagaimana Menyikapi ?
Pada masa-masa kuliah hingga saya lulus kuliah, sempat booming bentuk komodifikasi dan provanisasi spiritual ala ESQ. Saat itu, saya selalu heran, kenapa untuk merejuvenasi ruhiyah kita harus mengikuti pelatihan ESQ. Begitu banyak sekolah, kampus, perusahaan yang mengikuti kursus-kursus ini. Memasuki ruangan yang sudah disetting sedemikian rupa ditambah dengan sound sistem yang memadai, lalu dibuatlah narasi sistematis sehingga membangkitkan memory terhadap perjalanan hidup, inget dosa. Lalu menangis sesenggukan. Ini tidak beda dengan apa yang diceritakan oleh Ian Marshal dan Danah Zohar (2001) bahwa untuk melakukan rejuvenasi spiritual cukup dengan merangsang saraf-saraf otaknya dengan aliran listeri tertentu. Sehingga rasa jenuh dan depresinya sembuh karena spiritualitasnya sudah diremajakan kembali.

Saat itu saya berfikir, bukankah sejak kecil kita diajarkan jika punya masalah, jika punya keinginan, berkeluh kesah, dan lain sebagainya, kita minta kepada yang memiliki kita. Kia bersujud di sepertiga malam di atas sajadah. Bukan dengan mendengarkan narasi-narasi yang sudah di susun sistematikanya sehingga membangkitkan memory terhadap dosan, namun hanya sementara. Sedangkan dalam sujud tengah malam kita, kita bisa mengakui dosa sekaligus minta ampun. Sehingga lebih otentik dan pengakuannya benar, tidak termanipulasi oleh musik dan narasi. Dan keteringatan kita akan dosa juga bukan karena musik yang telah kita bayar mahal.

Oleh karena itu, agar kita tidak ternodai oleh bentuk komodifikasi ruang publik saat ramadhan ini. Kita kembali ke fitrah kita. Teknologi media memang punya fungsi untuk membantu mengingatkan. Tapi alangkah baiknya kita bersimpuh langsung agar pengakuan kita otentik dan benar tanpa manipulasi. Meninggalkan media sesaat untuk merengkuh kembali sakralitas ramadhan. Wallahu’alam.

*) Penulis: Dudi Rustandi, Peminat Kajian Media (Baru).

Tulisan ini tanpa editing, telah dipublikasikan pada savanapost.com sebagai handout diskusi ramadan. 
Read More

15.5.20

Mengelola Persepsi Masa Pandemi

Pertanyaan pendahuluan

Pengelolaan Persepsi Masa Pandemi
Pengelolaan Persepsi Masa Pandemi/ Persepsi dan Emosi
Ada yang sering baca tentang isu Covid19? Ada yang sering nonton Bagaimana perkembangan Corona dan kapan berakhirnya? Atau ada yang kebangetan menerima pesan berantai tentang berbagai hal terkait dengan pandemi ini?

Ada yang cemas? Ada yang waswas atau merasa mandesu dengan beragam informasi dan pemberitaan menyangkut Covid19?

Tidak sedikit yang cemas, waswas, bahkan masa depannya telah terrenggut oleh keadaan ini. Seseorang berkomentar dalam grup WhatsApp,”Kok jadi ngeri begini ya”. Seseorang bertanya, ini kejadian bener, dimana? Seseorang lagi tanpa memberi jawaban terus menyebarkan informasi, yang, sekali lagi, entah benar atau tidak, entar faktual atau tidak.

Namun yang perlu digarisbawahi di sini, dari pertanyaan dan paragraf di atas adalah, seperti dikatakan oleh Epictetus, seorang filsuf Stoa,”Some things are up to us, some things are not up to us”.

Epictetus bilang, ada hal yang di bawah kendali kita, ada hal yang tidak di bawah kendali kita. Untuk yang di luar kendali kita, serahkan kepada yang mengendalikan kita. Kita punya Tuhan, punya Allah. Doakan mereka yang sering menyebarkan berita yang mencemaskan agar sadar dengan kenarsisan berbagi kecemasan dan ketakutan.

Hidup dengan Tirani Opini Orang Lain

Pengelolaan Persepsi Masa Pandemi
Pengelolaan Persepsi Masa Pandemi/ Tirani Opini
Nah, yang bisa kita kendalikan menjadi bagian yang bisa kita kelola sendiri. Jangan sampai kejadian atau informasi apapun yang masuk dari luar membuat kita cemas, khawatir, tertekan, atau justeru sudah masuk pada fase stress. Karena ini semua adalah sesuatu yang dikatakan oleh epictetus,”some things are up to us,”  sesuatu di bawah kendali kita.

Namun, di antara yang di bawah kendali dan di luar kendali, ada di antaranya sebagian kita kendalikan. Nah, contoh pasnya adalah Kuliah Online! Kuliah online tidak bisa dimasukkan ke dalam di bawah kendali kita, karena diselenggarakan oleh institusi dengan beranekaragam pelengkapnya; jadwal, dosen beserta moodnya, mata kuliah, ujian-ujian, data, kecepatan akses, keluasan server. Jika kuota tidak ada, kita tidak bisa mengubah jadwal sesuai dengan keinginan kita. Jika akses internet lambat kita juga tidak bisa mengubah akses dari 10 mbps menjadi 100 mbps.

Maka di antara itu ada bagian yang bisa kita kendalikan, yaitu internal goal kita terhadap kuliah online itu apa. Paham materi? Keterampilan? Nah itu semua berada dalam ruang kendali kita. Kita bisa memaksimalkan kemampuan kita untuk belajar. Sehingga walaupun kita tidak bisa mengubah mood dosen, kita bisa memberikan yang terbaik untuk ujiannya. Jadi jika kita tidak bisa mengikuti kuliah online karena kehabisan kuota, kita bisa konfirmasi dosen setelah ada kuota. Tidak harus menyalahkan jadwal dan keadaan yang memang di luar kendali.

Namun mengendalikan persepsi, seringnya sulit. Misalnya; Memilih tempat kuliah. Kalo aku kuliah di kampus ini, nanti teman-teman bilang, kampus apaan tuh?... Memilih pekerjaan, apaan kerjaannya Cuma posting-posting quote di medsos, emang gak ada pekerjaan lain yang lebih oke gitu?...atau Memilih pacar. Anjir pacarnya jauh banget sama doski yang blink-blink...,

Yakin, jika hidup di bawah pendapat orang lain kita akan bahagia? Tanya epictetus. Jangan sampai sebab corona, Coronanya baik-baik saja, karena persepsi dikendalikan opini orang, jadinya bunuh diri seperti menteri di salah satu negara Eropa. Jangan sampai Tirani opini orang lain mengatur hidup kita!

Mengelola Persepsi

Peristiwa seringkali mengendalikan persepsi. Tidak bisa kuliah online gara-gara kuota, persepsi kita langsung menjustifikasi, bahwa nilai kita akan turun. Tetangga kena corona, kita langsung menjustifikasi keadaan sudah sangat bahaya. Peristiwa dan informasi-informasi yang masuk ke dalam memori kita akan kita kelola menjadi persepsi. Persepsi ini dalam sistem syaraf kita terhubung dengan jajaring saraf emosi.

Suatu waktu, seseorang marah di hadapan saya. Sikap saya dingin, walaupun kaget karena marahnya tiba-tiba. Karena, saya mempersepsi marahnya bukan kepada saya. Jikapun kepada saya, saya bertanya kepada diri sendiri, kesalahan besar apa yang telah saya perbuat? Marahnya seseorang tidak bisa kita kendalikan, tapi kita bisa mengendalikan persepsi kita agar kita tidak tersulut emosi atau melakukan hal yang sama untuk marah. Karena kalau kita balik marah, sama artinya kemarahan kita dikendalikan oleh kemarahan orang lain. 


Konteks komunikasi, marah, cemas, khawatir atau sebaliknya, karena seseorang tidak cermat atau kurang tepat dalam mengelola informasi yang masuk ke dalam memori. Maka peristiwa/ informasi yang tidak tepat pengelolaan persepsinya akan berdampak terhadap kemunculan emosi negatif tersebut.


Bagi seorang motivar NLP, Ibrahim Elfikri, persepsi bisa membuat orang tertawa tapi bisa membuat sebagian orang menderita. Bisa membuat seseorang peduli bisa membuat seseorang angkuh. Bisa membuat seseorang memiliki sikap positif atau sebaliknya menjadi penyebab emosi negatif pada diri seseorang. Pilih mana?


Bisa jadi seperti yang ditulis oleh filsuf lain, bahwa pengolahan informasi itu sesuai dengan referensi dan pengalaman kita. Oleh karena itu, merujuk pada konsep literasi, barengi dengan kroscek dan keseimbangan informasi lain.


Nah oleh karena itu, untuk mencegah mental lockdown. Saya lebih fokus pada bagaimana mengelola persepsi kita terhadap peristiwa-peristiwa sekeliling kita. Dengan lockdown seperti sekarang, mental juga jangan ikut-ikutan lockdown juga; menjadi pemurung, penyendiri di kamar. Karena persepsi kita selain menjadi sumber lockdown mental juga menjadi sumber kekuatan untuk menciptakan kebahagiaan kita sendiri.


Selama lockdown, saya melihat ternyata banyak teman-teman saya yang memaksimalkan hobby dan potensinya; ada yang mendalami desain grafis, ada yang cover-cover lagu, ada yang bikin lagu juga. Dan itu sangat positif. Saya sendiri selama lockdown, bisa lebih mendekatkan diri dengan anak; mulai dari sholat berjamaah, mengajar ngaji. Mulai berkebun lagi. Tulisan yang tertunda bisa saya selesaikan; ngeblog lagi; menulis jurnal, termasuk juga belajar lagi bikin blog dan SEO. Jadi selama lockdown justeru bisa memaksimalkan pekerjaan dan hobby yang tertunda. Seakan tidak ada habis-habisnya sehingga tidak sempat untuk mencemaskan ‘duh bagaimana coron sudah sampai tetangga’ dengan tetap waspada.


Persepsi seringkali datang dari interpretasi yang terjadi secara otomatis. Karena kita sendiri termasuk ke dalam orang yang reaksioner. Jika ada orang yang pake baju koko dan peci kita langsung menginterpretasikan bahwa orang tersebut soleh. Jika ada yang pakai tatto kita mengintepretasian sebagai kriminal. Otomatis persesinya juga demikian. Ada aksi ada reaksi. Kita juga seringkali bereaksi otomatis saat dikecewakan oleh orang lain atau keadaan; macet, putus dari pacar, kehilangan dompet, kuota data habis, dan lainnya.


Nah, bagaimana agar tidak terjadi otomatisasi interpretasi, apalagi kita punya pengalaman sesuai dengan yang kita interpretasikan?


Kata seorang filsuf Stoa, Marcus Aurelius, gunakan interpretasi aktif. Stop interpretasi masuk ke dalam emosi. Caranya? Luangkan sedikit waktu untuk berfikir. Sebelum interpretasi itu dilakukan. Misalnya, apa yang bisa saya lakukan saat kuota habis dan tidak bisa ikut kulon (kuliah online)? Dari pertanyaan ini, kita bisa jawab sendiri dan bisa jadi banyak pilihan yang bisa kita lakukan. Sehingga tidak bete atau justeru cemas karena takut dosen marah atau memberikan nilai kecil. Bisa belajar dengan materi yang sama, bisa bantu orang tua yang memang sejak awal sudah minta tolong, atau bisa melanjutkan hobi.


Manampiring dalam Filosofi Teras (2019) memberikan panduan yang disingkatnya dengan STAR (Stop, Think & Asses, Respond). Berhenti melakukan apapun termasuk berbicara saat emosi mulai menguasai jiwa, jangan sampai larut ke dalam perasaan.  Setelah berhenti, Pikirkan dan nilai. Kita bisa aktif berfikir atau memaksakan diri untuk berfikir secara rasional tentang peristiwa atau keadaan sehingga bisa mengalihkan dari kebablasan emosi negatif. Kemudian nilai, apakah emosi tadi yang muncul bisa dibenarkan, memberikan dampak positif atau negatif? Apakah kita sudah memisahkan fakta dengan interpretasi subjektif? Pertanyaan-pertanyaan ini akan menghilangkan emosi berlebih tentang suatu peristiwa. Terakhir, respon. Setelah  menggunakan nalar untuk mengendalikan emosi, kita berfikir respon apa yang tepat untuk merespon keadaan atau peristiwa tersebut.


Sementara tawaran dari Ibrahim Elfikri dengan melakukan senam mental, yaitu suatu metode melakukan perlawanan terhadap persepsi negatif. Senam mental dilakukan sebagai berikut: Lihat situasi dari sudut pandang diri sendiri, lihat dari sudut pandang orang lain. Lebih baik jika kita dapat memahami perilaku orang lain. Sekarang coba lihat dari sudut pandang netral, tak memihak. Selayaknya sudut pandang seorang bijak, jangan mencampurkan emosi pribadi.


Penutup

Mengutip seorang filsuf sekaligus psikolog, William James, “penemuan terbesar generasiku adalah pengetahuan bahwa manusia bisa mengubahnya denga cara mengubah cara berfikir”. Dengan kata lain, mental lockdown dapat dilawan dengan mengelola cara berfikir (persepsi) kita. Seneca, seorang filsuf Stoic pernah bilang,”Tidak ada yang tidak mungkin terjadi. Pikiran kita harus menerawang ke depan untuk menghadapi segala persoalan, dan ita harus memikirkannya bukan yang tidak terjadi, tapi apa yang terjadi.


Jangan sampai persepsi negatif mendahulu takdir. Karena itu dosa!***[]

Read More

3.5.20

Imam Syafi’i, Ulama yang tidak Pernah Lelah Belajar

Sumber: inspiraloka

Imam Syafi’i, ulama besar peletak dasar fiqih menjadi salah satu ulama yang paling diingat, tentu di luar khulafaurrasyidin yang dijamin masuk surga. Karena sejak kecil, hidup di lingkungan tradisi, mengaji pada lingkungan Nahdlatur Ulama, setiap mengaji fiqih pada surau-surau kecil, pasti yang selalu dijadikan rujukan adalah Imam Syafi’i.


Imam Syafi’i lahir di Gaza tahun 150 Hijriyah dengan nama Abu Adbullah Muhamad bin Idris As-Syafi’i. Nama lengkap Imam Syafi’i adalah Muahammad bin Idris bin Al-‘Abbas bin Utsman bin Syafi’i bin as-Saib bin Ubayd bin Abdu Zayd bin Hasyim bin al-Muthalib bin Abdu Manaf bi Qushay.  Jika dilihat dari nasabnya tersebut, Imam Syafi’i masih satu keturunan dengan Rasulullah Solallahu Alaihi Wassalam.


Kenapa saya menulis tentang Imam Syafi’i, pertama salah satu pernyataan Imam Syafi’i yang saya tulis pada blog ini, hanya Quotenya saja, ternyata dibaca oleh Ribuan orang. Padahal tidak ada isinya, hanya gambar quote saja. Kedua, pada bulan puasa, saya banyak belajar, merenung, dan bercengkerama dengan keluarga, mengajar ngaji anak setiap sore dan saat masuk bulan puasa pindah ke shubuh.


Aktivitas saya mengingatkan pada masa-masa kecil saya ketika mengaji di Surau. Walaupun tentu tidak banyak yang saya ketahui tentang Imam Syafi’i. Karena setelah dewasa, saya lebih memilih untuk memelajari fiqh lima madzhab. Maksudnya adalah bukunya.


Saya tidak akan menulis Imam Syafii’i tentang biografinya, hanya teringat dengan kondisi saya yang hari ini sedang menempuh studi saja. Dan ingat lagi dengan quotesnya yang cukup dikenal oleh netizen, bahkan saya perhatikan banyak netizen juga yang mengutif quote Imam Syafi’i seperti yang saya tulis juga.


Imam syafi'i


Bila Kau tak tahan lelahnya belajar, maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan.

Ini adalah bentuk selfreminder atau mengingatkan diri saya sendiri. Bahwa tidak ada yang instan dalam belajar. Tidak ada yang tiba-tiba seseorang bisa dan mampu melakukan sesuatu tanpa harus melalui berbagai macam tempaan. Bahwa saya harus ingat masa depan saya, dunia ataupun akhirat kelak, tidak boleh merasa lelah dalam belajar. Nasihat-nasihatnya bisa teman-teman baca di sini [Nasihan Imam Syafi'ii].


Bahkan saya ingat salah satu adagium yang menjadi pegangan organisasi ketika saya belajar, belajar itu sejak keluar rahim hingga pada akhirnya masuk liang kubur. Jadi pembelajar sepanjang hayat. Oleh karena itu saya selalu menjadi pembelajar. Belajar dari siapa saja, kapan saya, dimana saja. Bahkan saat sama sekali tidak berhubungan dengan sekolah atau kampus.


Termasuk juga pada ramadhan kali ini. Menjadi pembelajaran yang sangat berharga. Bagaimana beratnya mendidik anak, bagaimana beratnya menjadi seorang kepala keluarga. Oleh karena itu, belajar dan belajar menjadi salah satu praktik dalam menghadapi kehidupan yang menurut sebagian orang saat ini sedang mandesu alias masa depan suram.


Salah satunya, saya belajar pada Imam Syafi’i.


Walaupun tentu beda, karena pada umur 7 tahun Imam Syafi’i sudah hafal al-Qur’an, nah saya boro-boro hafal, lancar saja membaca al-Qur’an belum. Tapi kini saya berkomitmen bahwa membaca al-Qur’an ini harus menjadi bagian dari kehidupan saya sehari-hari. Tidak boleh meninggalkan al-Qur’an.


Imam Syafi’i pernah bercerita bahwa di suatu sekolah penghafal al-Qur’an, ia teringat dengan gurunya yang sedang membaca ayat al-Qur’an, lalu Imam Syafi’i menghafalnya yang dibacakan oleh gurunya. Hingga akhirnya Imam Syafi’i diminta menggantikan posisi gurunya setelah gurunya meninggal.


Selesai sekolah tahfidz al-Qur’an Imam Syafi’i pergi ke masjid Al-Haram menghadiri majelis ilmu. Imam Syafi’i saat itu hidupnya kekurangan, namun ia tidak lelah mencari ilmu. Beliau mendayagunakan semua sumber daya yang ada untuk menulis ilmu; potongan kulit, pelepah kurma bahkan tulang unta. Sampai-sampai barang-barang milik ibunya penuh dengan tulang dan pelepah kurma yang ditulisi hadits oleh Imam Syafi’i.


Imam Syafi’i menghabiskan waktunya di Masjid al Haram. Termasuk menghapal alQur’an 30 juz. Pada usia 12 tahun, Imam Syafii menghafal Al-Muwatha, karya Imam Malik, yang pada akhirnya menjadi gurunya. Diketahui bahwa Imam Malik adalah salah satu peletak dasar fiqih Islam.


Imam Syafi’i sebelum belajar dasar fiqh, terlebih dahulu belajar bahasa Arab dan syair. Untuk memelajarinya ia tinggal dengan suku Hudzail yang fasih dan murni bahasa serta bagus syair-syairnya. Baru setelah mendapat nasihat guru-gurunya, Imam Syafi’i memelajari ilmu fiqh. Beliau menuntut ilmu dari ulama Mekkah. Ia juga belajar hadits dan lughoh sebelum membaca Al-Muwatha dari Gurunya, Imam Malik di Madinah.


Ia juga belajar kepada ahli hadits di Irak. Sekaligus ia menyebarkan ajaran yang telah dipelajarinya. Ia begitu teguh memegah Al-Qur’an dan Sunnah. Bahkan ia membela bagaimana pentingnya sunnah Rasulallah SWA.  “Jika kalian telah mendapatkan Sunnah Nabi, maka ikutilah dan janganlah kalian berpaling mengambil pendapat yang lain. Sampai-sampai karena pembelaannya, ia mendapat gelar as-Sunnah wa al-Hadits.


Setelah belajar dari beragam guru fiqh, al-Qur’an, Hadits, ia juga belajr banyak kepada ulama lain  di berbagai penjuru. Selain yang telah disebutkan Makkah, Madinah, dan Irak. Ia meminta izin gurunya, Imam Malik untuk belajar ke Baghdad, Persia, Yaman, hingga Mesir hingga menjelang ajalnya tahun 204 Hijriyah.


Imam Syafi’i adalah ulama yang tidak pernah berhenti belajar, hingga Allah menjemputnya. Nah jika ingin mendapatkan nasihat-nasihatnya Imam Syafi'i, bisa membaca tulisan dari Kang Jojoo.**[]

Read More

20.4.20

Intoleransi Beragama dan Menyoal Relasi Kewargaan

sumber ilustrasi; flickr gituajadotcom
Hari ini, saya tidak sengaja melihat temlen twitter yang membahas tentang perilaku salah satu saudara kita yang salah paham telah membubarkan ibadah salah satu warganya yang dilakukan di rumah. Dan berakhir damai.

Peristiwa ini tentu menjadi preseden buruk di tengah pandemi. Indonesia yang beragam dan runtut raut hirup sauyunan dinodai oleh perilaku warganya yang merasa diri ‘paling benar’. Namun patut disyukuri karena masalah ini telah diselesaikan secara kekeluargaan.

Nah, yang membuat saya merasa tidak nyaman adalah komentar saudara-saudara kita, secara terbuka menggeneralisir isu ini karena persoalan mayoritas dan minoritas. Kalau kita yang salah pastilah ujung-ujungnya penjara. Masalah protes suara aja penjara. Dan lain sebagainya. Saya sendiri turut menyesalkan kenapa masih terjadi intoleransi beragama.

Namun, intoleransi dan sikap dominasi warga mayoritas ini berlaku dimana-mana, bahkan sekalipun di negara paling liberal sekalipun selalu ada orang-orang yang merasa dirinya paling benar. Konservatis radikal.

Harus diingat bahwa isu dan peristiwa ini tidak hanya terjadi antar umat beragama, bahkan antar internal umat beragama pun seringkali muncul. Sudah menjadi rahasia umum, antara Sunni dan Syiah di Indonesia misalnya. Bahkan mayoritas muslim di Indonesia (oknum) beberapa kali menyerang penganut muslim lain yang dianggap menyimpang atau sesat.

Sepertinya ini sudah menjadi logika mayoritas. Eksistensinya tidak ingin teracam oleh kehadiran minoritas yang dianggap perilaku dan cara beragama/ ritualnya berbeda. Bahkan di kampung saya dulu, jangankan antara mayoritas dan minoritas, ini sesama mayoritas antara ormas agama juga pernah terjadi bentrokan.

Apakah ini persoalan agama?
Secara substansial, saya melihat lebih jauh bukan persoalan murni agama. Agama hanya menjadi kendaraan untuk melakukan legalitas perilaku intoleran. Lebih jauhnya saya melihatnya lebih pada relasi jalinan antar warga. Relasi kewargaan yang terjalin cenderung kering dan miskina. Tidak ada upaya bagaimana relasi itu harus dibangun antar warga agar terjadi internalisasi persaudaraan antar umat beragama ataupun sesama intern agama.

Jika ikatan emosional ini kurang maka konflik dengan mudah bisa tersulut dengan persoanal-persoalan kecil. Penekanannya bukan pada persoalan yang saat itu muncul, pada para rentetan peristiwa sebelumnya yang tidak terungkapkan. Konflik hanya puncak gunung es untuk melakukan legalitas perilaku saja.

Kenap saya bisa mengatakan ini? Sebetulnya sederhana. Saya punya teman berbeda agama. Setiap hari bisa berdiskusi, makan bareng, bercanda. Saat terjadi konflik seperti contoh di atas, apakah kami juga ikut berkonflik? Ya tentu tidak. Toh kita tetap baik-baik saja karena relasi yang sudah terbangun sudah diikat oleh persaudaraan sebagai warga.

Saya melihatnya dari sisi human relations antara warga. Jika relasi kewargaan terlah terjalin, saya kira persoalan-persoalan konflik atau kesalahpahaman antara penganut beragama akan sangat bisa di hindari. Sekalipun warga tersebut memiliki kelainan dalam beragama, misalnya karena anutannya adalah agama mayoritas yang sempalan. Jika relasi kewargaannya kuat, justeru akan melahirkan dialog yang sehat untuk mengetahui anutan agamanya tersebut.

Namun jika relasi kewargaannya tidak terjalin dengan kuat, kesalahpaham itu akan cepat teratasi karena sejak jauh-jauh hari orang-orang telah paham. Oleh karena itu, ini mungkin menjadi pekerjaan rumah bagi aparat setempat. Menjadi aparat tidak hanya menarik iuran warga saja atau ketika ada yang sakit ditengok. Perlu juga mengadakan family gathering, selain di tempat ibadah, karena tidak semua warga memiliki kesempatan untuk berkunjung ke tempat ibadah yang sama.

Pada sisi lain, aparat juga harus mampu merangkul semua warga yang berbeda-beda. Apalagi di kota yang sudah kosmopolit. Heterogenitas menjadi keniscayaan. Pada sisi lain, warga pendatang juga harus mampu dan cepat berbaur dengan warga sekitar sehingga cepat menyatu walaupun dengan budaya, suku, atau agama yang sama sekali berbeda.

Pada sisi lain, jika perilaku oknum itu tidak dapat dibenarkan, dan bagi kelompok yang merasa jadi korban tidak usah memperkeruh suasana dengan menggeneralisir masalah apalagi memojok-mojokkan, karena bisa jadi masalahnya jadi rumit dan besar. Mending berlapang saja. Toh masalahnya sudah selesai. Tidak usah mengungkit masalah yang lalu. Toh kita tidak tahu, bagaimana relasi kewargaan yang berkonflik itu.

Secara kolektif bagi minoritas juga (baik agama, suku, atau WN) harus cerdas menjalin relasi dengan warga baurannya ataupun dengan aparat setempatnya. Sehingga tidak ada lagi kata kami atau mereka, yang ada adalah kita. Insya Allah tidak akan ada peristiwa-peristiwa yang melukai kebhinekaan kita.
Read More

5.4.20

Hoaks jeung Hitut

Jaman ayeuna, teu eksis lamun teu berbagi. Pajarkeun teh sharing is caring cenah Ceuceu, Sujang. Nu puguh mah sharing is pusing. Naha bisa kitu? Nya enya atuh, tong boro ku lobana  informasi anu teu ngadatangkeun duit, nu baleunghar oge saking lobana duit, bingung duit rek dikamanakeun jadi pusing. Nya pusing, kumaha mun hartana aya nu madog, matakna jelema beunghar mah pager jeung bentengna paluhur-luhur. Eh tapi ketang, boa teuing mikiran hutangna anu mangjuta-juta. Can ge lunas, ke geus aya nu madog.

Balik deui kana perkara hoax. Dina perkara ieu, sharing is pusing, lain deui caring. Caring timana horeng, nu puguh mah garering. Coba gera ayeuna, lamun geus viral bewara jeung carita saputar Corona, naha teu degdegan? Tingkat kecemasan meningkat tajam. Lamun geus loba degdeganana, waraswas sapanjang waktu. Naha moal tereh gering tah awak.

Karek oge bieu, jam 5 leuwih saeunggeus sholat subuh, der we dina WA aya nu ngabagikeun video jeung tulisan, pajarkeun teh urang Itali, dedegan miliuner, keluargana kabeh tariwas. Manehna stress, antukna mah manehna maehan sorangan, ku cara ngaragragkeun maneh ti gedong luhur 30 umpak.

Lain, eta anu ngabagi teh asa teuboga cedo nya ceuk urang mah, cik we atuh subuh-subuh mah ngabagi teh bagbagan agama anu nenangkeun, lain anu matak sing gebeg hate. Ceuk hiji profesor mah lamun urang geus ngagebeg hate, sabaraha poeeun tah jatah kasehatan awak urang leupas. Matak, mun ceuk bahasa ayeuna mah, langsung we bewarana di clearchat, tuman atuh da.

Jeung deuih kieu Sudin, lamun aya anu keur rame teh atawa viral heueuh, eta anggota grup teh sok reang siga meuri nu keur diangon. Hayoh we tatanya, ari ieu bener, ari ieu bener, ari ieu bener, ari ieu bener. Asa matak bosen, eh lain bosen deui, pusing. Tuh kan, jadina anu tadina hare-hare oge jadi kabawa pusing. Da rareang siga meri hayoh weh tatanya.

Padahal geus dijentrekeun, geus dijentrekeun, Ceuceu – Sujang, lamun aya bewara anu teujelas juntrunganana. Cik atuh motekar sorangan, da geus jalebrog, geus boga perangkat aheng sewang-sewangan, sok talungtik. Talungtik ku sorangan, naha bewara eta teh aya teu dina si Sujang Google. Toong ku maraneh, ka tempat-tempat pangbewaraan anu kawentar, kawentar kabeneranana. Sok ngabewarakeun carita-carita anu sapagodos jeung kaayaan sawalatrana. Lamun aya dina pangbewaraan eta, tah berarti anggap we bener. Tah ieu bisi hayang nyaho carana mah Hirup Walagri jeung Sumanget Babati eh Babagi barengan ku Beunta!

Tapi omat, omat sarebu omat. Lamun kira-kira bewarana matak pihanjeluan sorangan mah teukudu babagi kabatur. Da sarua we jeung ngabagikeun katunggaraan anu bisa nyedot tur nyokot sabagean kasehatan baraya urang kabeh. Jadi heup we, mun ceuk dokter kekinian mah gening bahasana teh meni amoi, #berhentidikamu. Jadi mangga sok we dileleb ku sorangan, nya Sudin, Sujang!

Komo lamun bewarana teukasuat-suat saeutik-eutik acan mah dina pangbewaraan anu kawentar kabeneranana. Komo eta mah, cukup we jadi lalaban keur soranganeun. Omat nya ulah dibagikeun ke batur-batur urang anu keur digawe di imah. Ceuk pamarentah mah #rokpromhom eh #workfromhome.

Nya atuh, sahanteuna, lamun urang teuloba kanyaho oge, urang teu jadi wasilah mere panyakit ka baraya urang. Ku babagi bewara anu teujelas bagbagan timana-timana nya.

Tah, anu geus kaburu narima bewara teujeulas alias hoax, omat lamun apal eta hoax teh teukudu diwawar-wawar deui ka batur. Geus puguh maneh oge kan asa katipu. Naha marukanan teh lamu katipu teu hanjelu eta hate. Mun diibaratkeun hitut mah, maneh ngangseu bau, terus dibagi-bagi ka batur, nya pasti embungeun da lain duit atawa dahareun. Jadi mun ngangseu babauan, omat seuseup ku sorangan. Jadi doraka lamun batur oge kudu dibauan.

Nu ngarana hitut, pasti kaangseuna oge moal lila. Komo salilana mah. Engke oge leungit sorangan. Jadi ayeuna mah lamun aya nu ngabagikeun hoax, bewara sumberna teujelas. Anggap we manehna teh hitut atau keur hitut, bisi nyeri hateeun manehna disangka hitut mah. Piraku we jelema disaruakeun jeung hitut.

Aya nu hitut, angseu keur soranganeun, teukudu dibagi-bagi kabatur. Bau.

Hampura Ai, Sujang, Sudin. Lain mamatahan ieu mah. Ngan kereteg hate, baluwengna pikiran teh da kudu dibudalkeun meh teu matak jadi hitut. Bau.

Cag ah!

Cibangkonol, poe Ahad wanci Haneut Moyan, titimangsa 4 Ruwah 1953/2020.
Read More

4.4.20

Melindungi Anak dari Corona

corona dan anak, sumber; newsdetik
Korban Covid19 ternyata tidak hanya terjadi pada orang tua seperti banyak diberitakan media massa. 
Virus corona dapat menyerang siapa saja, termasuk anak-anak. Akan tetapi jenis virus baru yang menyerang saluran pernafasan dan dapat berbahaya ini juga mempunyai beberapa kelompok yang rentan untuk lebih mudah terkena virus ini. 

Orang yang rentan terkena penyakit ini didominasi oleh mereka yang memiliki daya tahan tubuh yang kurang.  Imun tubuh kurang menyebabkan rentan terhadap serangan virus. Oleh karena itu wajar jika orang tua, karena sistem imunnya telah berkurang menjadi korban paling domina dalam kasus ini. Misalnya orangtua yang berusia di atas 50 tahun. 

Selain itu juga ada anak-anak terutama bayi yang mempunyai kondisi imun yang belum sempurna. Sehingga hal tersebut membuatnya akan lebih mudah tertular virus covid-19. Oleh karena itulah bagi orang tua yang memiliki anak-anak harus lebih waspada menjaga anak atau balitanya agar tidak tertular virus.Ada beberapa cara terbaik yang dapat dilakukan seperti berikut ini:
    1. Membuat anak tinggal di rumah
    Cara paling ampuh yang pertama untuk menghindari penularan virus covid-19 termasuk bagi anak-anak adalah dengan membuat anak tinggal di rumah. Hal ini akan sangat efektif sehingga anak tidak mudah tertular dari orang lain yang mempunyai virus ini. Dengan tinggal di rumah Anda akan bisa menjaga kondisi di rumah tetap sehat dan menghindari penularan virus ini. Oleh karena itulah akan lebih baik untuk membuat anak Anda tinggal di rumah, terutama bagi bayi yang mempunyai daya tubuh belum terlalu baik.

    1. Hindari tempat ramai
    Hal selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah dengan menghindari tempat ramai. Ketika Anda akan membawa anak selama masa penyebaran virus ini maka pastikan untuk memilih tempat yang tepat. Seperti dengan menghindari tempat yang ramai apabila Anda akan memutuskan untuk membawa anak Anda. Misalnya saja bagi Anda yang akan belanja di supermarket tidak perlu untuk membawa anak karena akan ada banyak orang. Oleh karena itulah apabila tidak sangat urgent maka sebaiknya jangan bawa anak selama masa penyebaran virus corona yang masih marak seperti sekarang ini.

    1. Selalu dekat dengan ibu
    Hal selanjutnya yang perlu diperhatikan agar anak dapat terhindar dari penularan virus covid-19 adalah selalu dekat dengan ibu. Pastikan bahwa ketika membawa anak ke luar rumah, ibu ada untuk menggendongnya. Seperti ketika membawa anak maka bisa membuat tubuhnya tetap dekat dengan tubuh ibu, sedangkan apabila menggunakan stroller atau car seat bisa untuk membuat bayi tetap mudah bernafas.

    1. Tidak memberikannya masker
    Hal penting selanjutnya yang harus diperhatikan adalah dengan tidak memberikannya masker. Masker sendiri merupakan salah satu cara untuk menghindari penularan virus covid-19. Akan tetapi hal ini efektif untuk orang dewasa, sedangkan bagi anak-anak terutama yang berada di bawah usia 2 tahun sendiri sangat tidak disarankan untuk memakai masker. Hal tersebut karena banyak bahaya yang dapat mengancam anak seperti mengalami sesak nafas hingga dapat menimbulkan kematian. Selain itu juga tidak ada ukuran yang cocok untuk anak-anak, sehingga cara yang paling efektif memang dengan menghindari anak bepergian dari rumah.
Beberapa hal tersebut merupakan cara yang dapat dilakukan untuk menghindari penyebaran virus corona agar anak tetap aman dan tidak tertular virus ini. Karena seperti yang telah dijelaskan bahwa virus ini akan lebih mudah menyerang anak yang mempunyai imun tubuh belum sempurna.

Selain itu cara lainnya yang dapat dilakukan oleh orangtua adalah dengan berkonsultasi lewat Halodoc sehingga akan mendapatkan saran terbaik untuk dapat menghindarkan buah hatinya agar tidak tertular virus covid-19.

Oke, semoga informasi ini bermanfaat ya, jangan sampai penyakit ini hinggap ke ke tubuh anak-anak, karena sama rentannya seperti tubuh orang tua. Tetap jaga kesehatan dan selalu tinggal di rumah.

Untuk tips kesehatan orang dewasa bisa diakses Lagenda Mahsuri.***[]
Read More