19.7.20

Mengekstase dengan Pantai Parai dan Rock Island

Pulau Batu alias Rock Island
Biasanya, jika sampai di Pantai, tidak hanya menikmati batas pandang lautan dari pantai, juga mencoba bersatu dengan dengan menceburkan diri, minimal basah-bahasan celana. Tapi tidak, saat sampai di Pantai Parai Bangka dengan Pasir Putih dan birunya laut yang sungguh eksotis. Kami berenam, hanya duduk-duduk di bangku yang disediakan hotel. Menikmati, eksotisnya air yang kebiruan dengan bebatuan raksasasanya.

Cerita bermula,

Tepat pukul 04.25, saya sampai di Bandara Husen Sastranegara Bandung. Rencana keberangkatan pukul 06.00, ternyata terlalu pagi sampai di Bandara, dan akhirnya transit terlebih dahulu di mesjid untuk menunaikan kewajiban. Setelah sholat, satu persatu teman datang dan akhirnya berkumpul di pintu area keberangkatan domestik. Kami segera masuk dan menikmati suasana bandara.

November 2019, perjalanan ini bukan traveling, tapi memenuhi undangan, lebih tepatnya menjadi salah satu peserta sekaligus narasumber dalam workshop yang dilaksanakan dalam festival relawan TIK di Pangkal Pinang, Ibu Kota Kepulanan Bangka Belitung. Sebelum menginjakkan kaki di Pangkal Pinang, sengaja saya tidak browsing tentang Provinsi dengan dua pulau besar tersebut. Saya terkadang tertukar antara Pangkal Pinang dan Tanjung Pinang, padahal kedua tempat tersebut berada pada wilayah provinsi yang berbeda.

Barulah paham saat tiba dan menikmati suasana Pangkal Pinang, yang menurut saya cocok sebagai kota Heritage, karena rata-rata bangunannya menua—sebelum saya berkeliling, walaupun tidak tua-tua amat sih. Saya juga baru paham bahwa antara Bangka dan Belitung merupakan dua pulang yang berbeda dalam satu provinsi.

Ketauan ya, kalau saya kurang literate soal wilayah di Indonesia. Tidak masalah, saya nikmati kebodohan ini, karena begitu nikmatnya saat saya tahu, walaupun hanya sebatas pada apa yang saya dengar dan saya lihat saja. Ya, ini lah kota asalnya salah satu panganan terkenal di Bandung, Martabak Bangka.

Pangkal Pinang. Saya tunda ceritanya. Saya lanjutkan dengan Pantai Parai.

Tiba pukul 8, menyimpan barang di hotel dan langsung menuju tempat acara. Setelah acara pembukaan dan seminar sesi 2 selesai. Kami undur diri terlebih dahulu, karena acara workshop kepenulisan yang akan saya isi terjadwal besok siang, 23 November. Sesegera kami berenam menuju arah Selatan (kalau tidak salah), sekitar 43 km dari Kota Pangkal Pinang. Kami tempuh kurang lebih satu jam perjalanan.

Pasir Putih Parai Private Beach
Pantai Parai merupakan private beach, kami harus membayar retribusi melalui pihak hotel agar bisa menikmatinya. Retribusinya Rp.25.000,- per orang. Saat masuk, karena masih terlalu siang, suasana pantai masih sepi, sehingga kami bisa dengan puas dan bebas menebarkan pandangan dari sisi satu ke sisi lainnya, termasuk juga Rock Island yang berada pada sisi lain.

Rock Island yang berada begitu Indah dipandang dari sisi kanan Parai yang tepat berada di belakang hotel. Tempat ini juga sangat intagramable. Hampir di semua tempatnya memiliki pemandangan eksotis. Bahkan jika kita keluar Pantai dan masuk pada sisi lainnya, menyediakan semacam pedestrian khusus agar bisa menikmati Indahnya pantai dengan bebatuan raksasanya.

Cukup puas dengan hanya memandangi eksotisme pantai, saya coba menikmati bebatuan raksasa, dengan mengambil beberapa foto. Posisinya sangat pas berhadapan dengan Rock Island di seberangnya. Pohon kelapa menjadi ciri khas pantai. Mengingatkan pada latar lagu Rayuan Pulau Kelapa (yang mana ya?).

Semantara yang lain, tetap betah hanya duduk-duduk, saya berempat pergi menuju Rock Island. Sejatinya, di tempat ini terdapat cafe, sayang sepertinya telah lama tutup. Beruntung dengan 25ribu kami dapat minum teh kemasan botol. Sehingga menjadi penutup haus dan dahaga. Rock Island benar-benar Pulau Batu, dan kami pun menikmati berfoto di Pulau Batu sambil merasakan adrenalin horornya ombak yang mendorong dengan kencang bilah-bilah batu sehingga muncrat ke permukaan.

Andrenalin bertambah saat ingin menikmati laut dari atas baru paling terdekat dengan pantai. Karena batu menyerupai bukit, saya harus menaiki bukit tersebut. Begitupun saya harus menyeberang melalui belahan-belahan batu besar tersebut sehingga saya bisa melihat lepas laut dari Rock Island. 

Saat kembali dari bukit batu di Rock Island, tampak dua gadis berkerudung sedang ikut menikmati hempasan angit pantai. Terlindungi rimbunnya pohon-pohon meninggi. Sesekali kami mengajak ngobrol. Mereka berasal dari Lampung. Sengaja liburan ke Bangka bersama teman lamanya.

Cukup duduk-duduk di pinggiran kita sudah merasakan ekstase
Saat kami kembali dari Rock Island, Parai Private Beach sudah mulai ramai. Anak-anak berlarian di pinggir pantai. Bola ditendang ke sana kemari. Sesekali nyemplung ke air. Terkena deburan ombak. Mereka teriak kegirangan. Mengambil Bola. Byurr mereka pun berenang di pinggiran Pantai Parai. Sambil mengambil bola yang melayang-layang di atas permukaan laut. Mereka kembali lagi ke bibir pantai. Lempar bola lagi. Tendang lagi. Kejar lagi. Dan nyembur lagi ke permukaan air pantai.

Saat menuju gerbang pantai, rombongan keluarga besar, yang sepertinya dari perusahaan tertentu berbondong-bondong menuju Parai Private Beach. Sedangkan kami bergegas menuju tempat berbeda. Sebagai kenangan, sebelum meninggalkan Privat Parai Beach, kami berswafoto pada area yang telah disediakan space instagram. Cekrek. Sekali dua kali. Lalu kami pergi.

Parai Tenggiri
Setelah menikmati private beach yang bersih, dengan laut biru dan pasir putih. Kami bergegas menuju pantai selanjutnya, yaitu Parai Tenggiri. Sepanjang perjalanan kami menikmati sajian lepas Pantai yang bisa disaksikan dari atas kendaraan. Semilir angin cukup menjadi obat bagi panasnya daerah Parai Tenggiri Sungai Liat.

Sayang, di area lepas pantai ini, sulit menemukan kios agar bisa lebih menikmati pantai sambil minum air kelapa. Akhirnya berhenti di satu area yang terdapat reklamasi batu (istilahnya?), beberapa perahu nelayan terparkir di sana. Satu dua cekrek kami ambil. Seorang teman mengabadikan semburan kecil ombak yang menghampirinya. Sesekali menembakkan lensar tele ke kawannya.

Entah karena tidak pas atau memang masyarakat telah bosan bermain di pantai, pantai ini juga kosong melongpong. Hampir sulit menemukan kendaraan berlalu lalang. Hanya satu dua motor yang lewat, sepertinya itu pun warga setempat. Air kebiruan langit muda tersebut tetap membuat kami betah. Hanya berandai, karena berasal dar Jawa Barat, seandainya berada di sana, mungkin Pantai ini akan ramai dengan hiruk pikuk.

Tapi ya sudahlah, kami nikmati dan syukuri. Kami pun kembali ke Hotel sebelum matahari tenggelam. Berburu makan yang katanya paling populer di Bangka. Sayang sudah tutup, karena buka hanya sampai ashar saja. Akhirnya cari alternatif, pempek Palembang yang bikin kenyang.

Read More

18.7.20

Pembaharuan Performa HP Serie Omen Laptop Gaming

sumber HP Indonesia
Pengalaman pertama saya bersentuhan dengan Laptop HP saat mengerjakan tugas akhir. Ini juga sekaligus pengalaman pertama menggunakan laptop, setelah sekian lama menggunakan PC. Kesan pertama, memang HP memiliki speed yang bisa diandalkan untuk kebutuhan kerja saat itu. Tidak lambat seperti PC yang saya pake.  Kini, peralatan kerja di rumah juga menggunakan HP, khususnya PC All In alias desktop dan printer HP Laserjet. Sehingga merek dengan dua huruf tersebut sudah tidak asing lagi.

Sebagai salah satu pemain perangkat, HP tidak hanya memenuhi kebutuhan kerja, juga mengembangkan kebutuhan-kebutuhan hiburan yang bisa support. Melalui seri Omen, HP berinovasi melalui pengembangan Laptop khusus gaming. Bisa dikatakan bahwa seri ini, sering istimewa dan mewah karena menjadi lini khusus gaming, dengan logo deblo simple tapi justeru menunjukkan keistimewaan dan kemewahan seri ini.

Selasa, 14 Juli 2020, Indonesia menjadi negara pertama di kawasan Asia yang mendapatkan kesempatan peluncuran Pembaruan laptop gaming seri OMEN tersebut. Saya sendiri mendapatkan kesempatan hadir melalui aplikasi Zoom. Walaupun peluncurannya secara virtual, namun tetap tidak mengurangi keistimewaan Omen Series Upgrade tersebut. Secara lengkapnya, Asus mengeluarkan beberapa seri pembaharuan pada laptop lini Gaming dengan Sub Brand Omen; OMEN 15 Laptop, OMEN 25L Desktop, dan pembaruan bagi OMEN Command Center.

HP Omen Series dirancang untuk mendukung gamer menunjukan skill terbaiknya dengan mengoptimalkan kapabilitas perangkat yang mereka miliki. Seri OMEN merupakan tambahan terbaru di portofolio gaming HP yang diciptakan dan didesain ulang untuk memberikan pengalaman luar biasa dan mendukung gamer Indonesia play to progress selagi di rumah.

“Industri gaming di Indonesia semakin besar. Sebagai pengalaman sosial, gaming telah menjadi sarana hiburan yang juga menyatukan orang dari berbagai latar belakang berbeda meskipun mereka saling berjauhan,” ujar Fiona Lee, Indonesia President Director, HP Inc.

Ia menegaskan bahwa HP Indonesia berkomitmen untuk terus mendukung pertumbuhan industri gaming Indonesia dengan mengembangkan portofolio kelas dunia kami dan meningkatkan pengalaman gaming melalui inovasi andal dan terpercaya serta kemitraan strategis dalam industri ini.

Menaikkan Performa
Sumber HP Indonesia
Gamer masa kini menginginkan teknologi yang tepat untuk mendapatkan pengalaman gaming terbaik. Kombinasi teknologi termal inovatif, performa mumpuni, dan visual luar biasa membuat game terasa nyata, serta meningkatkan pengalaman gaming secara menyeluruh.

Seri OMEN terbaru menghadirkan ekosistem perangkat keras dan lunak yang mendukung gamer masa kini terhubung dan terhibur. OMEN 15 Laptop terbaru dengan sasis yang didesain ulang dalam bentuk lebih ringkas dari generasi sebelumnya memberikan estetika minimalis dan logo OMEN baru berwarna gradien biru kehijauan. Laptop ini hadir dalam warna Mica Silver dan Shadow Black dengan opsional RGB penuh di setiap key lighting. OMEN 15 memudahkan gamers bermain di mana saja dengan menyuguhkan performa yang lebih baik dari generasi sebelumnya dalam kerangka 8 persen lebih kecil dan 11 persen lebih tipis.

Berikut Fitur-fitur tambahan untuk meningkatkan performa HP Omen Series; NVIDIA® GeForce RTX™ 20603,4 . Melalui VGA tersebut seorang gamer dapat merasakan tenaga dengan level desktop. HP Omen Series menggunakan prosesor generasi ke 10 dari Intel atau Gen Intel® Core™ i7. Omen Series juga membedol RAM hingga 32 GB DDR47 yang bisa ditingkatkan untuk level profesional.

Melalui layar 15,6 inci, seorang gamer dapat merasakan pengalaman mengagumkan yang didukung dengan desain engsel hingga 180 derajat serta layar FHD 144 Hz10 dengan teknologi NVIDIA G-SYNC Pada konfigurasi tertentu bisa melakukan multistreaming. Benar-benar akan memberikan pengalaman menakjubkan.

Pada Inovasi Termal, HP mempersembahkan sensor IR thermopile pertama di industri12 yang disematkan ke laptop gaming untuk mengoptimalkan efisiensi termal, mempertahankan akustik kipas yang stabil dan tenang, serta memaksimalkan performa fitur Dynamic Power di OMEN Command Center.

OMEN Tempest Cooling Technology memastikan semua tetap terjaga dingin dengan bukaan udara lebih besar dan kipas 12 V 13 yang menggunakan ventilasi tiga sisi untuk menciptakan aliran udara lima arah mendorong laptop ini ke performa level desktop.

Sedangkan pada OMEN Command Center, HP melakukan pembaharuan dengan memaksimalkan produktivitas ketika menikmati konten dan browsing internet dengan Graphic Switcher yang tersedia di OMEN Command Center14 . Fitur ini memungkinkan pengaturan hybrid yang pas digunakan untuk menonton atau bekerja. Kustomisasi performa juga berevolusi berkat Performance Control15 di OMEN Command Center yang memudahkan pengendalian termal dan kecepatan kipas, serta menghadirkan performance mode yang meningkatkan kinerja CPU and GPU sebesar 17 persen dengan mudah.

Sisi kelebihan lain dari Omen Series ugrading ini adalah kemudahan meningkatkan performa dengan pembaharuan perangkat keras. Khusunya bagi yang suka mengotak-atik, sekrup Phillips di dasar laptop serta akses panel tunggal untuk memori dan penyimpanan membuat kustomisasi perangkat keras mudah dan cepat, sehingga Anda bisa memiliki laptop gaming terbaik yang sesuai keinginan.
Selain Seri Omen, HP juga melakukan pembaharuan terhadap lini Pavillion, yaitu HP Pavillion Gaming, dengan harga sangat menarik***[]

Read More

6.7.20

Stunting, dari Soal Gizi-Nutrisi Hingga Psikologis

Indonesia menjadi 1 dari 5 negara dengan jumlah penderita stunting terbanyak di dunia, di bawah Pakistan dan di atas Bangladesh. Sedangkan posisi pertama dan kedua adalah negara dengan penduduk 1 milyar lebih, yaitu India dan China.

Walaupun dengan prosentase 3,9 % dengan penderita  mencapai 7,688 pada tahun 2008, namun hal ini harus menjadi perhatian, karena jika tidak diantisipasi, bisa jadi stunting menjadi kasus yang terus meningkat.

Pemerintah melalui berbagai programnya terus mendorong agar masyarakat dapat menekan jumlah penderita stunting; mulai dari imunisasi, bantuan gizi, program keluarga harapan, kesejahteraan sosial, posyandu, dan lainnya. Pada dasarnya program-program tersebut merupakan program-program yang berbasis kesehatan dan gizi masyarakat termasuk di dalamnya adalah anak-anak usia emas, 1-5 tahun.

Pemenuhan Gizi
Stunting, dari Soal Gizi-Nutrisi Hingga Psikologis
Salah satu yang berkontribusi terhadap kondisi stunting adalah persoalan gizi dan pemenuhan nutrisi makanan untuk anak. Untuk bayi sendiri, usia 0-2 tahun, pemenuhan kecukupan ASI dan PASI sudah bisa memenuhi kebutuhan gizi dan nutrisinya.

Namun menjadi persoalan, jika gizi dan nutrisi orang tuanya tidak terpenuhi. Karena akan berpengaruh terhadap ASI-nya. Hal ini disampaikan oleh Dr. Rahmat Sentika, saat memberikan webinar untuk ratusan calon ibu/ Ibu-ibu muda yang mengikuti seminar tentang “Siap menjadi Ibu Pencetak Generasi Emas Bebas Stunting”, Selasa (30/06/2020). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Nutrisi Keluarga, sebuah lembaga nonprofit yang fokus pada kesehatan bunda dan anak.

Pemenuhan gizi untuk Ibu agar menghasilkan ASI yang berkualitas harus lengkap. Bagi dokter yang pernah menjadi anggota DPRRI 1997-1999 ini, gizi lengkap terdiri dari; karbohidrat, protein, lemak yang dibutuhkan, mineral, vitamin B & C, serta air.

Pemenuhan gizi ini harus sudah dilakukan sejak bayi berada dalam kandungan dan setelah lahir. Karena 1000 hari pertama sejak adanya kehidupan dalam kandungan, anak membutuhkan gizi dan nutrisi tersebut untuk membentuk kecerdasannya.

Karena 1000 hari pertama sejak ada kehidupan bagi jabang bayi, hingga bayi lahir, maka saat memulai kehidupan dunia bayi harus juga mendapatkan gizi dan nutrisi. Gizi dan nutrisi itu berasal dari ASI.

Hal serupa disampaikan oleh dr. Tria dari PP Aisyiah yang juga dosen Universitas Muhamadiyyah Jakarta. Walaupun, Tria membedakan antara gizi buruk dengan persoalan stunting, namun salah satu penyebanya adalah ketika anak mengalami kekurangan gizi secara terus menerus, akan menyebabkan stunting.

dr. Tria dan dr. Rahmat sepakat bahwa untuk mengantisipasi stunting adalah dengan pemenuhan gizi dengan gizi yang seimbang. Kedua dokter yang berbeda generasi ini juga sepakat, bahwa faktor kesehatan bisa menyebabkan stunting, misalnya anak terus menerus sakit. Dengan sifat kontinuitas sakit tersebut dapat menyebabkan stunting pada anak. Oleh karena itu, bagi Rahmat, jika sakit maka sembuhkan dulu sakitnya, baru penuhi gizinya, sehingga stunting bisa dianitisipasi.

Pola Asuh
Stunting, dari Soal Gizi-Nutrisi Hingga Psikologis
Peneliti bidang kesehatan publik, dr. Tria, tidak berhenti pada soal gizi dan kesehatan tapi juga menyangkut pola asuh. Pola Asuh ini, selain persoalan gizi adalah pemenuhan kebutuhan secara psikologis; mulai cara memberikan makan, cara mendidik, termasuk juga bagaimana cara berkomunikasi antara orang tua dan anak.

Bagi Psikolog, Vera Itabiliana, bukan hanya soal pemenuhan nutrisi juga bagaimana cara memberikannya kepada anak. Persoalan stunting, sudah harus menjadi visi bagi pasangan yang mau menikah, dia sudah harus memikirkannya, jangan pas setelah menikah. Sehingga pasangan muda memiliki persiapan membangun keluarga yang berkualitas.

Hal serupa disambut oleh paranting influencer, Ratu Anandita, yang memiliki pandangan religius. Pernikahan itu, pasangan suami dan isteri utamanya harus memiliki pegangan yang kuat, yaitu kepada Allah. Hal serupa seperti ditekankan oleh Vera Itabiliana, seorang psikolog, bagi Ratu, penciptaan suasana psikologis yang aman agar berdampak terhadap bayinya adalah bagaimana satu sama lain dalam keluarga harus saling mendukung.

“Kualitas komunikasi pasangan harus baik, harus berdasarkan keputusan bersama. Saling mendukung dengan tujuan memunculkan kepercayaan diri seorang ibu, sehingga beban ibu atau calon ibu menjadi lebih ringan,”ujar Ratu.

Disambung lagi oleh Vera Itabiliana, dengan dukungan tersebut, jika Ibu hepi berpengaruh terhadap keadaan psikologi sang Anak.

SKM bukan Susu Balita
Terkait dengan susu kental manis (SKM) baik bagi dokter Rahmat ataupun dr. Tria,  tidak memenuhi unsur nutrisi karena mengandung banyak gula. Lebih parahnya, SKM tidak mengandung susu. Bahkan menurut catatan dari dr. Rahmat, dalam SKM dua persennya terdiri dari glukosa. Sehingga anak yang sering minum SKM cenderung gemuk tapi tidak sehat.

Oleh karena itu, kedua dokter tersebut berpesan agar anak tidak diberikan susu kental manis. Jika anak sudah ketagihan minum susu kental manis, dapat menimbulkan ketagihan, sehingga tidak baik untuk kesehatan anak. Jika terus menerus terjadi, hal ini juga dapat menyebabkan stunting. ***[]
Read More

17.6.20

Belajar Filsafat


Masa Pandemi, turut berkontribusi terhadap kerapihan koleksi buku pada ruang kerja minim karya di rumah. Setelah menata ulang rak buku dan meja komputer, buku juga ikut saya rapihkan.

Nah, ternyata hasil dari penataan ulang ruangan kerja ini, menghasilkan beberapa kategori buku-buku yang sering menjadi target bacaan atau koleksi, karena tidak semua buku bisa tuntas dibaca, atau bahkan banyak buku yang hanya sempet dibaca kata pengantar atau justeru belum dibaca sama sekali.

Kategori Buku
Kategori pertama adalah buku-buku ilmu komunikasi, buku daras/ referensi/ atau populer dalam bidang komunikasi yang paling banyak atau mendominasi, karena basic pendidikan dari ilmu komunikasi. Sangat wajar. Bahkan, seringkali, jika ada buku-buku cukup populer dalam bidang komunikasi, biasanya dengan cepat menjadi penghuni rak buku.

Buku-buku komunikasi ini juga memiliki subkategori yang saya pisah-pisahkan pertama; buku Ilmu komunikasi secara umum; dari mulai pengantar ilmu komunikasi, komunikasi pemasaran, bunga rampai, audit, public relations, teknologi, dan lain sebagainya. Ini saya masukkan dalam satu kategori dengan menempati beberapa baris rak. Cukup banyak. Kedua, Buku teori komunikasi, karena cukup berat untuk dibaca, bahkan cenderung untuk keperluan analisis suatu isu atau paper, ini juga saya pisahkan pada rak yang berbeda, sehingga menjadi bagian dari sub kategori dalam buku ilmu komunikasi. Ketiga, buku-buku komunikasi berbahasa asing, biasanya buku yang berasal dari format pdf lalu saya cetak sendiri. Keempat, media studies dan jurnalisme. Kategori ini juga saya pisahkan menjadi beberapa rak tersendiri. Media studies menjadi rak yang menurut saya paling istimewa, walaupun tidak terlalu banyak, tapi ekslusif karena referensinya masih cukup jarang. Dan Kelima, masih subkategori dari ilmu komunikasi, yaitu buku-buku metode penelitian komunikasi; mulai dari metode penelitian kualitatif, komunikasi, analisis wacana, naratif, etnografi, fenonemologi, dan lainnya.

Kategori kedua adalah buku sastra. Saat mahasiswa cukup rajin mengoleksi karya sastra, karena selain lebih mengalir saat dibaca, juga memberikan spirit dalam memperkaya wawasan dan perspektif. Beberapa karya sastra yang menjadi koleksi; tetralogi pulau buru dan beberapa karya lainnya dari Pram, Trilogi Bilangan Fu dari Ayu Utami, buku terakhirnya anatomi rasa. Beberapa karya Kuntowijoyo juga jostein gaarder dimana magnum opusnya dipinjam tapi tidak kembali.

Kategori ketiga, merupakan buku pengembangan diri. Menjadi lumrah, hidup di dusun membawa sifat-sifat dusun. Rasa tidak percaya diri menjadi bagian hidup hingga lulus. Maka untuk memproses diri agar lebih pede, salah satunya banyak membaca buku-buku motivasi dan pengembangan diri. Beberapa buku pengembangan diri cukup praktis bukan hanya motivasi.

Kategori keempat merupakan buku Wacana. Buku wacana merupakan buku-buku yang mengangkat isu-isu keninian terkait sosial, politik, ekonomi, budaya, atau ilmu. Biasanya tidak terlalu spesifik tapi isu tersebut berdampak terhadap semua sendi kehidupan manusia; sebut saja misalnya Benturan peradaban karya Samuel W. Huttington, atau karya-karya dari Francis Fukuyama. Dari Indonesia misalnya buku-buku dari Rhanald Kasali, tapi yang terkini atau beberapa dari Yasraf Amir Piliang, yang sebagiannya saya masukkan ke dalam kategori filsafat.

Kategori Kelima, yaitu buku agama dan wacana agama. Nah, ini juga cukup banyak dan hampir mendominasi sama halnya dengan buku ilmu komunikasi. Kenapa? Karena pada masa lalu, selain kuliah di UIN juga aktif di beberapa organisasi yang sering mendiskusikan isu-isu agama.

Kategori keenam, tentu saja buku filsafat; Buku-buku filsafat walaupun tidak mendominasi, namun saya bagi menjadi beberapa kategogi lagi; filsafat umum, epistemologi, semiotika, cultural studies dan budaya pop, pemikiran filsuf seperti Foucault, Aali Syariati, Herbert Marcuse, Heidegger, Baudrillard, Umberto Eco, Yasraf Amir Piliang dan lainnya.

Kategori ketujuh, buku-buku yang tidak masuk kategori keduanya. Beberapa di antaranya cukup saya suka tentang isu-isu kedaerahan dan kesukuan; budaya sunda, garut, dan lain sebagainya. Ini juga cukup banyak, karena tidak masuk pada kategori-kategori buku sebelumnya.

Kategori kedelapan. Sebetulnya masih ada satu kategori lagi, yaitu media. Dulu langganan majalah Syir’ah, yaitu majalah yang mengangkat isu pluralisme, hanya sayang sudah tidak terbit. Kemudian langganan majalah mix, namun sama masuk era pandemi tidak terbit lagi. Begitu juga Pikiran Rakyat, sejak 2011 langganan, hanya saja sekarang beralih langganan digital.

Mendalami filsafat
Nah, terkait filsafat ini, memang umur kesukaanya sudah sejak lama, selama kuliah, sudah menjadi bagian dari wacana diskusi. Hingga akhirnya memengaruhi pada saat tugas akhir dengan mengambil pemikiran tokoh dengan dibedah melalui pisau analisi wacana. Termasuk juga sebelum lulus, tulisan yang dipublikasikan pada media massa pertama tentang filsafat postmodernisme.

Sejak filsafat ternyata bisa berkontribusi tidak hanya pada ranah cara berfikir, juga praktis, kini mulai lagi memperkaya referensi dan wacana melalui beberapa isu-isu filsafat. Postmodernisme yang lama ditinggalkan saat kuliah sarjana, kini dibuka-buka lagi. Begitu juga semiotika, yang sulit memahaminya karena tidak langsung dipraktikkan menjadi alat analisis, kini mulai dibuka lagi. Karena bagaimana pun, beberapa analisis dalam satu isu bisa menggunakan pisaunya tersebut.

Mendalami filsafat adalah belajar cara meluruskan cara berfikir kita, agar tidak picik. Belajar memahami perbedaan dan menerima dengan lapang karena kita mampu mengalihkan pikiran kita melalui filsafat praktis seperti halnya yang dilakukan oleh kaum Stoik.
Begitu juga pada ranah akademik, dengan memahami filsafat, kita lebih mudah memahami metode penelitian yang merujuk pada cara berfikir tentang ilmu. Bahkan untuk memahami ilmu sendiri kita harus belajar filsafat.

Jadi bukan soal gaya-gayaan dengan bahasa-bahasa yang melangit atau frasa-frasa yang sulit. Justeru sebaliknya. Untuk lebih mempermudah segalanya. Karena ketika kita memilih passion dalam bidang menulis atau dalam bidang yang terkait dengan akademik. Maka filsafat menjadi salah satu jalan yang mampu menunjukkan kemudahan itu.

Namun, tentu bukan barang mudah. Karena belajar filsafat artinya kita menerjukan diri pada kesulitan-kesulitan memahami berbagai frasa. Saya sendiri bukan orang yang mudah paham. Seringkali harus beberapa kali membaca ulang. Apalagi pemikiran seseorang yang sangat subjektif.
Oleh karena itu, saya lebih memilih yang mudah. Maksudnya, saya tidak belajar filsafat dengan menyeriusi semua kategori, namun cukup paham apa yang saya suka dan sesuai dengan apa yang bisa menjadi bahasan saya untuk keperluan sehari-hari.

Namun, bukan berarti yang rumit tidak dipelajari, jika harus karena untuk keperluan taktis analisis suatu isu dan menjadi bidang kajian, mau tidak mau harus dilakukan.

Misalnya, untuk keperluan laporan penelitian, salah satunya menggunakan hermeneutika. Terus terang saya belum pernah belajar hermeneutika. Waktu kuliah sarjana, belajar tentang analisis wacana juga sudah uyuhan, karena tidak pernah mendapatkan tema formal di kelas. Nah sekarang, mau tidak mau juga harus belajar hermeneutika. Saat membaca salah satu bukunya, karena langsung ke pemikiran tokohnya, lumayan lieur. Maka harus dicari jalan mudah, yaitu membaca pengantarnya terlebih dahulu.

Nah, begitu juga saat belajar filsafat. Dulu, banyak cerita, banyak orang tersesat, murtad, ateis gara-gara belajar filsafat. Bisa jadi karena itu langsung membaca atau memelajari  pemikiran filsufnya langsung. Banyak pemikiran yang tidak sesuai kita makan mentah-mentah. Dasarnya sendiri tidak dipelajari. Berlakukan seperti tangga, jangan langsung ke puncak, tapi titilah dulu tangga pertama sebelum sampai tangga 10.

Wallahu A’lam.
Read More

30.5.20

Ramadan dan Komodifikasi Ruang Publik

Ramadan dan Komodifikasi Ruang Publik*)
Ramadan dan Komodifikasi Ruang Publik. Foto ilustrasi, dokumen pribadi @abahraka

Seringkah menonton Televisi? Pernahkah melewati perempatan dengan gagahnya videotron berdiri? Pernahkah pergi ke jalan-jalan ramai sambil ngabuburit? Apa yang kita lihat dan tonton saat ramadhan mengunjungi?

Ini menjadi pertanyaan pengantar paling mendasar, karena saat ramadhan, semua berubah. Yang sepi jadi ramai, yang tidak punya pekerjaan nyambi berjualan. Pada subuh hari, sinetron dan film box office pindah jam tayang, beragam kuis begentayangan, cakakak cikikik juga mewarnai layar tivi yang diperankan para cenayang.

Beberapa makanan berubah fungsi, misalnya, mie instan yang fungsinya sebagai pengisi selingan perut berubah menjadi menu utama saat berbuka dan sahur. Minuman bersoda, pengusir rasa kantuk karena rasanya menggigit lidah, menjadi menu pembuka utama saat buka bersama. Bahkan rokok pun yang dengan vulgarnya menyimpan gambar mengerikan tiba-tiba menawarkan kebaikan.

Hal ini bahkan terjadi atau dilakukan 2 minggu sebelum ramadhan. Ruang publik riuh oleh berbagai tampilan dan tayangan yang sebetulnya jika dicermati, terlalu dipaksakan. Apakah iya, saat berbuka puasa menu utama yang disajikan adalah minuman bersoda? Apakah iya, menu utama utama sahur dan buka adalah mie instan?

Bagi saya pribadi, kedua produk tersebut adalah panganan yang dihindari selama ramadhan, entah untuk berbuka ataupun sahur. Karena dikenal mengandung zat yang tidak ramah usus dan lambung. 
Ramadhan, seakan menjadi aksioma sekaligus postulat, sebagai bulan berkah. Berkah bukan hanya untuk kaum muslimin, tapi semua umat kebagian berkahnya. Hampir semua produk dari yang memiliki label halal sampai yang membunuhmu berubah wujud dengan tawaran kebaikan. Di jalan-jalan juga orang begitu riuh dengan berbagi. Sehingga tiap keluarga memiliki harapan bisa berlebaran menggunakan pakaian yang membuat bangga sanak keluarga.

Menjejali Ruang Publik
Apa yang diuraikan di atas semua dijejalkan ke ruang publik. Sebuah ruang yang seharusnya menjadi tempat kontestasi masyarakat. Ruang kontemplatif dan komunikatif masyarakat luas untuk menciptakan makna hidupnya. Justeru menjadi tempat berebut kode-kode kapital dengan hanya menyisakan ruang kontemplatif yang sangat tidak memadai. Sehingga para penikmatnya pun tidak mendapat kesempatan bagaimana mendapat ekstase beragama. Merujuk pada Habermas (1989), dalam The Structural Transformation of Public Sphere, ruang publik adalah ruang yang fungsi-fungsi sosialnya sangat dominan dibandingkan fungsi frivat. Ia adalah ruang terbuka yang boleh dan bisa diakses oleh siapaun warga negara.

Seorang teman berkisah, saat ramadhan tahun lalu, ia menjadi tamak dan membabibuta memenuhi, apa yang disebut oleh Abraham Maslow sebagai kebutuhan paling rendah yaitu perut, hingga akhirnya terjadilah komplikasi penyakit antara kolesterol dan gula. Padahal, jika dikembalikan kepada kearifan puasa, justeru puasa bisa menjadi Asy-Syifa, medium penyembuhan dari beragam penyakit. Bahkan yang memiliki penyakit maag dan usus sekalipun, yang identik dengan penyakit makanan. Bahkan isu seperti ini pun menjadi lorong agar produk kapital bisa dijejalkan ke dalamnya.  Ditawarkanlah bahwa lambung aman itu minum obat ini sebelum sahur dan buka. Semua dijejalkan kepada ruang publik dengan memanfaatkan ramadhan.

Bukankah ini sebagai bentuk pemanfaatan terhadap ramadan untuk kepentingan kelompok tertentu atau satu orang untuk memenuhi dahaga kapitalnya. Semua tampak benar dan sepertinya cocok (cocokologi). Bahkan menjadi agenda rutin tahunan, beberapa agensi membuat iklan versi khusus ramadhan, sehingga bisa menaikkan rating dan reputasi brand. Beberapa productions house pun membuat edisi khusus sinetron ramadhan.

Habermas mengistilahkannya sebagai ruang publik borjouis. Karena ruang publik kini dikuasi secara privat. Tidak ada fungsi negara dalam ruang publik borjuis karena semua kepentingannya telah terdegradasi ke dalam bentuk kepentingan privat untuk melakukan produksi-produksi ekonomi. Pada konteks inilah terjadi perubahan nilai fungsi sosial/ budaya/ agama menjadi nilai tukar. Sesuatu yang dipertukarkan bisa dipertukarkan dengan nilai ekonomi. Inilah apa yang disebut dengan komodifikasi.

Komodifikasi Ramadhan
Ruang publik tak ubahnya menjadi ruang komodifikasi, bagaimana fungsi beragama yang dianut mayoritas masyarakat Indonesia berubah fungsi menjadi tempat kontestasi produk dan nilai tukar. Bukan lagi sebagai nilai fungsi beragama atau nilai refleksi terhadap sikap dan perilaku beragama kita pada masa lalu agar menjadi lebih baik pada masa depan. Tapi bagaimana masa depan dalam konteks komodifikasi tersebut, menjadi lebih ceuyah dengan beragam masakan, olahan, atau apapun yang bersifat material.

Maka wajar, menjadi hal umum terjadi pada masyarakat kita, saat ramadhan, hal yang dilakukan menjelang buka adalah saat-saat bagaimana balas dendam dengan segala materi-materi yang tersedia pada bulan ramadhan. Ini menjadi dampak langsung dari komodifikasi ramadhan. Ruang publik yang dipenuhi oleh komodifikasi beragam tema ramadhan berhasil mengabil makna sakral ramadhan dalam kehidupan kita dan digantikan oleh profanisasi segala bentuk amalan.

Berapa persen acara siraman rohani di televisi jika diprosentasekan, dibandingkan dengan hiburan? Berapa persen iklan yang hanya mengajak kebaikkan tanpa memasukkan semiotika produknya ke dalam iklan. Bahkan tayangan-tayangan religipun berubah fungsi menjadi entertainment, alih-alih entertaintmen penuh dengan tausiah ramadhan. Sehingga terjadi pemaksaan yang ilegal dari ruang profan terhadap sesuatu yang sakral.

Ruang publik berubah fungsi menjadi ruang berkumpulnya  kontestasi beragam kenikmatan profan dibandingkan kenikmatan yang sakral. Ini bentuk nyata komodifikasi ramadan dalam ruang publik. Ruang yang seharusnya milik kita bersama.

Meminjam istilah Adorno dan Hokrheimer (1979) ramadhan kini menjadi ruang produksi bagaimana industri budaya yang diproduksi oleh institusi kapitalisme. Karena bagaimanapun komodifikasi lahir dari hasil perkembangan industri budaya. Campur tangan industri kapital begitu sangat kuat. Eksploitasi terhadap tontontan menjadi target dari industri budaya ini. Segala macam tema-tema kebudayaan dalam ruang publik pada saat ramadhan tidak ada yang murni diproduksi untuk kepentingan pensakralan diri sehingga bertemu dengan ruhiyah kita yang paling agung. Sehingga ruang sakral kita bersih dari dosa. Semua diproduksi untuk kepentingan budaya massa yang sarat akan kepentingan profit.

Pada 2009 saya sempat menulis tentang dilema muballigh populer (Tribun Jabar, 2009), bagaimana pertarungan antara nilai-nilai kebaikan pada ruang publik, tapi pada sisi lain nilai kebaikan itu diproduksi oleh industri kebohongan (iklan). Apakah nilai kebaikan itu akan berujung baik?  Pada sisi lain, seorang dai ingin menyampaikan nilai kebaikan agar bisa secara cepat dan massal diterima khalayak, pada sisi lain acara tersebut didanai oleh produk yang disebut sebagai dengan aparatus ideologi kebohongan.  Kebenaran yang disampaikanpun menjadi ternoda.

Ruang publik pada saat ramadhan bisa jadi lebih parah dari apa yang saya tulis 11 tahun lalu tersebut. Karena justeru nilai agama yang harusnya terinternalisasi dalam diri setiap orang justeru dikomodifikasi menjadi produk-produk industri kapitalisme yang berorientasi pada keuntungan laba. Sehingga pada saat ini, ruang publik kita sedang krisis. Karena tidak lagi berfungsi sebagai ruang sosial spiritual lagi.

Bagaimana Menyikapi ?
Pada masa-masa kuliah hingga saya lulus kuliah, sempat booming bentuk komodifikasi dan provanisasi spiritual ala ESQ. Saat itu, saya selalu heran, kenapa untuk merejuvenasi ruhiyah kita harus mengikuti pelatihan ESQ. Begitu banyak sekolah, kampus, perusahaan yang mengikuti kursus-kursus ini. Memasuki ruangan yang sudah disetting sedemikian rupa ditambah dengan sound sistem yang memadai, lalu dibuatlah narasi sistematis sehingga membangkitkan memory terhadap perjalanan hidup, inget dosa. Lalu menangis sesenggukan. Ini tidak beda dengan apa yang diceritakan oleh Ian Marshal dan Danah Zohar (2001) bahwa untuk melakukan rejuvenasi spiritual cukup dengan merangsang saraf-saraf otaknya dengan aliran listeri tertentu. Sehingga rasa jenuh dan depresinya sembuh karena spiritualitasnya sudah diremajakan kembali.

Saat itu saya berfikir, bukankah sejak kecil kita diajarkan jika punya masalah, jika punya keinginan, berkeluh kesah, dan lain sebagainya, kita minta kepada yang memiliki kita. Kia bersujud di sepertiga malam di atas sajadah. Bukan dengan mendengarkan narasi-narasi yang sudah di susun sistematikanya sehingga membangkitkan memory terhadap dosan, namun hanya sementara. Sedangkan dalam sujud tengah malam kita, kita bisa mengakui dosa sekaligus minta ampun. Sehingga lebih otentik dan pengakuannya benar, tidak termanipulasi oleh musik dan narasi. Dan keteringatan kita akan dosa juga bukan karena musik yang telah kita bayar mahal.

Oleh karena itu, agar kita tidak ternodai oleh bentuk komodifikasi ruang publik saat ramadhan ini. Kita kembali ke fitrah kita. Teknologi media memang punya fungsi untuk membantu mengingatkan. Tapi alangkah baiknya kita bersimpuh langsung agar pengakuan kita otentik dan benar tanpa manipulasi. Meninggalkan media sesaat untuk merengkuh kembali sakralitas ramadhan. Wallahu’alam.

*) Penulis: Dudi Rustandi, Peminat Kajian Media (Baru).

Tulisan ini tanpa editing, telah dipublikasikan pada savanapost.com sebagai handout diskusi ramadan. 
Read More

15.5.20

Mengelola Persepsi Masa Pandemi

Pertanyaan pendahuluan

Pengelolaan Persepsi Masa Pandemi
Pengelolaan Persepsi Masa Pandemi/ Persepsi dan Emosi
Ada yang sering baca tentang isu Covid19? Ada yang sering nonton Bagaimana perkembangan Corona dan kapan berakhirnya? Atau ada yang kebangetan menerima pesan berantai tentang berbagai hal terkait dengan pandemi ini?

Ada yang cemas? Ada yang waswas atau merasa mandesu dengan beragam informasi dan pemberitaan menyangkut Covid19?

Tidak sedikit yang cemas, waswas, bahkan masa depannya telah terrenggut oleh keadaan ini. Seseorang berkomentar dalam grup WhatsApp,”Kok jadi ngeri begini ya”. Seseorang bertanya, ini kejadian bener, dimana? Seseorang lagi tanpa memberi jawaban terus menyebarkan informasi, yang, sekali lagi, entah benar atau tidak, entar faktual atau tidak.

Namun yang perlu digarisbawahi di sini, dari pertanyaan dan paragraf di atas adalah, seperti dikatakan oleh Epictetus, seorang filsuf Stoa,”Some things are up to us, some things are not up to us”.

Epictetus bilang, ada hal yang di bawah kendali kita, ada hal yang tidak di bawah kendali kita. Untuk yang di luar kendali kita, serahkan kepada yang mengendalikan kita. Kita punya Tuhan, punya Allah. Doakan mereka yang sering menyebarkan berita yang mencemaskan agar sadar dengan kenarsisan berbagi kecemasan dan ketakutan.

Hidup dengan Tirani Opini Orang Lain

Pengelolaan Persepsi Masa Pandemi
Pengelolaan Persepsi Masa Pandemi/ Tirani Opini
Nah, yang bisa kita kendalikan menjadi bagian yang bisa kita kelola sendiri. Jangan sampai kejadian atau informasi apapun yang masuk dari luar membuat kita cemas, khawatir, tertekan, atau justeru sudah masuk pada fase stress. Karena ini semua adalah sesuatu yang dikatakan oleh epictetus,”some things are up to us,”  sesuatu di bawah kendali kita.

Namun, di antara yang di bawah kendali dan di luar kendali, ada di antaranya sebagian kita kendalikan. Nah, contoh pasnya adalah Kuliah Online! Kuliah online tidak bisa dimasukkan ke dalam di bawah kendali kita, karena diselenggarakan oleh institusi dengan beranekaragam pelengkapnya; jadwal, dosen beserta moodnya, mata kuliah, ujian-ujian, data, kecepatan akses, keluasan server. Jika kuota tidak ada, kita tidak bisa mengubah jadwal sesuai dengan keinginan kita. Jika akses internet lambat kita juga tidak bisa mengubah akses dari 10 mbps menjadi 100 mbps.

Maka di antara itu ada bagian yang bisa kita kendalikan, yaitu internal goal kita terhadap kuliah online itu apa. Paham materi? Keterampilan? Nah itu semua berada dalam ruang kendali kita. Kita bisa memaksimalkan kemampuan kita untuk belajar. Sehingga walaupun kita tidak bisa mengubah mood dosen, kita bisa memberikan yang terbaik untuk ujiannya. Jadi jika kita tidak bisa mengikuti kuliah online karena kehabisan kuota, kita bisa konfirmasi dosen setelah ada kuota. Tidak harus menyalahkan jadwal dan keadaan yang memang di luar kendali.

Namun mengendalikan persepsi, seringnya sulit. Misalnya; Memilih tempat kuliah. Kalo aku kuliah di kampus ini, nanti teman-teman bilang, kampus apaan tuh?... Memilih pekerjaan, apaan kerjaannya Cuma posting-posting quote di medsos, emang gak ada pekerjaan lain yang lebih oke gitu?...atau Memilih pacar. Anjir pacarnya jauh banget sama doski yang blink-blink...,

Yakin, jika hidup di bawah pendapat orang lain kita akan bahagia? Tanya epictetus. Jangan sampai sebab corona, Coronanya baik-baik saja, karena persepsi dikendalikan opini orang, jadinya bunuh diri seperti menteri di salah satu negara Eropa. Jangan sampai Tirani opini orang lain mengatur hidup kita!

Mengelola Persepsi

Peristiwa seringkali mengendalikan persepsi. Tidak bisa kuliah online gara-gara kuota, persepsi kita langsung menjustifikasi, bahwa nilai kita akan turun. Tetangga kena corona, kita langsung menjustifikasi keadaan sudah sangat bahaya. Peristiwa dan informasi-informasi yang masuk ke dalam memori kita akan kita kelola menjadi persepsi. Persepsi ini dalam sistem syaraf kita terhubung dengan jajaring saraf emosi.

Suatu waktu, seseorang marah di hadapan saya. Sikap saya dingin, walaupun kaget karena marahnya tiba-tiba. Karena, saya mempersepsi marahnya bukan kepada saya. Jikapun kepada saya, saya bertanya kepada diri sendiri, kesalahan besar apa yang telah saya perbuat? Marahnya seseorang tidak bisa kita kendalikan, tapi kita bisa mengendalikan persepsi kita agar kita tidak tersulut emosi atau melakukan hal yang sama untuk marah. Karena kalau kita balik marah, sama artinya kemarahan kita dikendalikan oleh kemarahan orang lain. 


Konteks komunikasi, marah, cemas, khawatir atau sebaliknya, karena seseorang tidak cermat atau kurang tepat dalam mengelola informasi yang masuk ke dalam memori. Maka peristiwa/ informasi yang tidak tepat pengelolaan persepsinya akan berdampak terhadap kemunculan emosi negatif tersebut.


Bagi seorang motivar NLP, Ibrahim Elfikri, persepsi bisa membuat orang tertawa tapi bisa membuat sebagian orang menderita. Bisa membuat seseorang peduli bisa membuat seseorang angkuh. Bisa membuat seseorang memiliki sikap positif atau sebaliknya menjadi penyebab emosi negatif pada diri seseorang. Pilih mana?


Bisa jadi seperti yang ditulis oleh filsuf lain, bahwa pengolahan informasi itu sesuai dengan referensi dan pengalaman kita. Oleh karena itu, merujuk pada konsep literasi, barengi dengan kroscek dan keseimbangan informasi lain.


Nah oleh karena itu, untuk mencegah mental lockdown. Saya lebih fokus pada bagaimana mengelola persepsi kita terhadap peristiwa-peristiwa sekeliling kita. Dengan lockdown seperti sekarang, mental juga jangan ikut-ikutan lockdown juga; menjadi pemurung, penyendiri di kamar. Karena persepsi kita selain menjadi sumber lockdown mental juga menjadi sumber kekuatan untuk menciptakan kebahagiaan kita sendiri.


Selama lockdown, saya melihat ternyata banyak teman-teman saya yang memaksimalkan hobby dan potensinya; ada yang mendalami desain grafis, ada yang cover-cover lagu, ada yang bikin lagu juga. Dan itu sangat positif. Saya sendiri selama lockdown, bisa lebih mendekatkan diri dengan anak; mulai dari sholat berjamaah, mengajar ngaji. Mulai berkebun lagi. Tulisan yang tertunda bisa saya selesaikan; ngeblog lagi; menulis jurnal, termasuk juga belajar lagi bikin blog dan SEO. Jadi selama lockdown justeru bisa memaksimalkan pekerjaan dan hobby yang tertunda. Seakan tidak ada habis-habisnya sehingga tidak sempat untuk mencemaskan ‘duh bagaimana coron sudah sampai tetangga’ dengan tetap waspada.


Persepsi seringkali datang dari interpretasi yang terjadi secara otomatis. Karena kita sendiri termasuk ke dalam orang yang reaksioner. Jika ada orang yang pake baju koko dan peci kita langsung menginterpretasikan bahwa orang tersebut soleh. Jika ada yang pakai tatto kita mengintepretasian sebagai kriminal. Otomatis persesinya juga demikian. Ada aksi ada reaksi. Kita juga seringkali bereaksi otomatis saat dikecewakan oleh orang lain atau keadaan; macet, putus dari pacar, kehilangan dompet, kuota data habis, dan lainnya.


Nah, bagaimana agar tidak terjadi otomatisasi interpretasi, apalagi kita punya pengalaman sesuai dengan yang kita interpretasikan?


Kata seorang filsuf Stoa, Marcus Aurelius, gunakan interpretasi aktif. Stop interpretasi masuk ke dalam emosi. Caranya? Luangkan sedikit waktu untuk berfikir. Sebelum interpretasi itu dilakukan. Misalnya, apa yang bisa saya lakukan saat kuota habis dan tidak bisa ikut kulon (kuliah online)? Dari pertanyaan ini, kita bisa jawab sendiri dan bisa jadi banyak pilihan yang bisa kita lakukan. Sehingga tidak bete atau justeru cemas karena takut dosen marah atau memberikan nilai kecil. Bisa belajar dengan materi yang sama, bisa bantu orang tua yang memang sejak awal sudah minta tolong, atau bisa melanjutkan hobi.


Manampiring dalam Filosofi Teras (2019) memberikan panduan yang disingkatnya dengan STAR (Stop, Think & Asses, Respond). Berhenti melakukan apapun termasuk berbicara saat emosi mulai menguasai jiwa, jangan sampai larut ke dalam perasaan.  Setelah berhenti, Pikirkan dan nilai. Kita bisa aktif berfikir atau memaksakan diri untuk berfikir secara rasional tentang peristiwa atau keadaan sehingga bisa mengalihkan dari kebablasan emosi negatif. Kemudian nilai, apakah emosi tadi yang muncul bisa dibenarkan, memberikan dampak positif atau negatif? Apakah kita sudah memisahkan fakta dengan interpretasi subjektif? Pertanyaan-pertanyaan ini akan menghilangkan emosi berlebih tentang suatu peristiwa. Terakhir, respon. Setelah  menggunakan nalar untuk mengendalikan emosi, kita berfikir respon apa yang tepat untuk merespon keadaan atau peristiwa tersebut.


Sementara tawaran dari Ibrahim Elfikri dengan melakukan senam mental, yaitu suatu metode melakukan perlawanan terhadap persepsi negatif. Senam mental dilakukan sebagai berikut: Lihat situasi dari sudut pandang diri sendiri, lihat dari sudut pandang orang lain. Lebih baik jika kita dapat memahami perilaku orang lain. Sekarang coba lihat dari sudut pandang netral, tak memihak. Selayaknya sudut pandang seorang bijak, jangan mencampurkan emosi pribadi.


Penutup

Mengutip seorang filsuf sekaligus psikolog, William James, “penemuan terbesar generasiku adalah pengetahuan bahwa manusia bisa mengubahnya denga cara mengubah cara berfikir”. Dengan kata lain, mental lockdown dapat dilawan dengan mengelola cara berfikir (persepsi) kita. Seneca, seorang filsuf Stoic pernah bilang,”Tidak ada yang tidak mungkin terjadi. Pikiran kita harus menerawang ke depan untuk menghadapi segala persoalan, dan ita harus memikirkannya bukan yang tidak terjadi, tapi apa yang terjadi.


Jangan sampai persepsi negatif mendahulu takdir. Karena itu dosa!***[]

Read More

3.5.20

Imam Syafi’i, Ulama yang tidak Pernah Lelah Belajar

Sumber: inspiraloka

Imam Syafi’i, ulama besar peletak dasar fiqih menjadi salah satu ulama yang paling diingat, tentu di luar khulafaurrasyidin yang dijamin masuk surga. Karena sejak kecil, hidup di lingkungan tradisi, mengaji pada lingkungan Nahdlatur Ulama, setiap mengaji fiqih pada surau-surau kecil, pasti yang selalu dijadikan rujukan adalah Imam Syafi’i.


Imam Syafi’i lahir di Gaza tahun 150 Hijriyah dengan nama Abu Adbullah Muhamad bin Idris As-Syafi’i. Nama lengkap Imam Syafi’i adalah Muahammad bin Idris bin Al-‘Abbas bin Utsman bin Syafi’i bin as-Saib bin Ubayd bin Abdu Zayd bin Hasyim bin al-Muthalib bin Abdu Manaf bi Qushay.  Jika dilihat dari nasabnya tersebut, Imam Syafi’i masih satu keturunan dengan Rasulullah Solallahu Alaihi Wassalam.


Kenapa saya menulis tentang Imam Syafi’i, pertama salah satu pernyataan Imam Syafi’i yang saya tulis pada blog ini, hanya Quotenya saja, ternyata dibaca oleh Ribuan orang. Padahal tidak ada isinya, hanya gambar quote saja. Kedua, pada bulan puasa, saya banyak belajar, merenung, dan bercengkerama dengan keluarga, mengajar ngaji anak setiap sore dan saat masuk bulan puasa pindah ke shubuh.


Aktivitas saya mengingatkan pada masa-masa kecil saya ketika mengaji di Surau. Walaupun tentu tidak banyak yang saya ketahui tentang Imam Syafi’i. Karena setelah dewasa, saya lebih memilih untuk memelajari fiqh lima madzhab. Maksudnya adalah bukunya.


Saya tidak akan menulis Imam Syafii’i tentang biografinya, hanya teringat dengan kondisi saya yang hari ini sedang menempuh studi saja. Dan ingat lagi dengan quotesnya yang cukup dikenal oleh netizen, bahkan saya perhatikan banyak netizen juga yang mengutif quote Imam Syafi’i seperti yang saya tulis juga.


Imam syafi'i


Bila Kau tak tahan lelahnya belajar, maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan.

Ini adalah bentuk selfreminder atau mengingatkan diri saya sendiri. Bahwa tidak ada yang instan dalam belajar. Tidak ada yang tiba-tiba seseorang bisa dan mampu melakukan sesuatu tanpa harus melalui berbagai macam tempaan. Bahwa saya harus ingat masa depan saya, dunia ataupun akhirat kelak, tidak boleh merasa lelah dalam belajar. Nasihat-nasihatnya bisa teman-teman baca di sini [Nasihan Imam Syafi'ii].


Bahkan saya ingat salah satu adagium yang menjadi pegangan organisasi ketika saya belajar, belajar itu sejak keluar rahim hingga pada akhirnya masuk liang kubur. Jadi pembelajar sepanjang hayat. Oleh karena itu saya selalu menjadi pembelajar. Belajar dari siapa saja, kapan saya, dimana saja. Bahkan saat sama sekali tidak berhubungan dengan sekolah atau kampus.


Termasuk juga pada ramadhan kali ini. Menjadi pembelajaran yang sangat berharga. Bagaimana beratnya mendidik anak, bagaimana beratnya menjadi seorang kepala keluarga. Oleh karena itu, belajar dan belajar menjadi salah satu praktik dalam menghadapi kehidupan yang menurut sebagian orang saat ini sedang mandesu alias masa depan suram.


Salah satunya, saya belajar pada Imam Syafi’i.


Walaupun tentu beda, karena pada umur 7 tahun Imam Syafi’i sudah hafal al-Qur’an, nah saya boro-boro hafal, lancar saja membaca al-Qur’an belum. Tapi kini saya berkomitmen bahwa membaca al-Qur’an ini harus menjadi bagian dari kehidupan saya sehari-hari. Tidak boleh meninggalkan al-Qur’an.


Imam Syafi’i pernah bercerita bahwa di suatu sekolah penghafal al-Qur’an, ia teringat dengan gurunya yang sedang membaca ayat al-Qur’an, lalu Imam Syafi’i menghafalnya yang dibacakan oleh gurunya. Hingga akhirnya Imam Syafi’i diminta menggantikan posisi gurunya setelah gurunya meninggal.


Selesai sekolah tahfidz al-Qur’an Imam Syafi’i pergi ke masjid Al-Haram menghadiri majelis ilmu. Imam Syafi’i saat itu hidupnya kekurangan, namun ia tidak lelah mencari ilmu. Beliau mendayagunakan semua sumber daya yang ada untuk menulis ilmu; potongan kulit, pelepah kurma bahkan tulang unta. Sampai-sampai barang-barang milik ibunya penuh dengan tulang dan pelepah kurma yang ditulisi hadits oleh Imam Syafi’i.


Imam Syafi’i menghabiskan waktunya di Masjid al Haram. Termasuk menghapal alQur’an 30 juz. Pada usia 12 tahun, Imam Syafii menghafal Al-Muwatha, karya Imam Malik, yang pada akhirnya menjadi gurunya. Diketahui bahwa Imam Malik adalah salah satu peletak dasar fiqih Islam.


Imam Syafi’i sebelum belajar dasar fiqh, terlebih dahulu belajar bahasa Arab dan syair. Untuk memelajarinya ia tinggal dengan suku Hudzail yang fasih dan murni bahasa serta bagus syair-syairnya. Baru setelah mendapat nasihat guru-gurunya, Imam Syafi’i memelajari ilmu fiqh. Beliau menuntut ilmu dari ulama Mekkah. Ia juga belajar hadits dan lughoh sebelum membaca Al-Muwatha dari Gurunya, Imam Malik di Madinah.


Ia juga belajar kepada ahli hadits di Irak. Sekaligus ia menyebarkan ajaran yang telah dipelajarinya. Ia begitu teguh memegah Al-Qur’an dan Sunnah. Bahkan ia membela bagaimana pentingnya sunnah Rasulallah SWA.  “Jika kalian telah mendapatkan Sunnah Nabi, maka ikutilah dan janganlah kalian berpaling mengambil pendapat yang lain. Sampai-sampai karena pembelaannya, ia mendapat gelar as-Sunnah wa al-Hadits.


Setelah belajar dari beragam guru fiqh, al-Qur’an, Hadits, ia juga belajr banyak kepada ulama lain  di berbagai penjuru. Selain yang telah disebutkan Makkah, Madinah, dan Irak. Ia meminta izin gurunya, Imam Malik untuk belajar ke Baghdad, Persia, Yaman, hingga Mesir hingga menjelang ajalnya tahun 204 Hijriyah.


Imam Syafi’i adalah ulama yang tidak pernah berhenti belajar, hingga Allah menjemputnya. Nah jika ingin mendapatkan nasihat-nasihatnya Imam Syafi'i, bisa membaca tulisan dari Kang Jojoo.**[]

Read More

20.4.20

Intoleransi Beragama dan Menyoal Relasi Kewargaan

sumber ilustrasi; flickr gituajadotcom
Hari ini, saya tidak sengaja melihat temlen twitter yang membahas tentang perilaku salah satu saudara kita yang salah paham telah membubarkan ibadah salah satu warganya yang dilakukan di rumah. Dan berakhir damai.

Peristiwa ini tentu menjadi preseden buruk di tengah pandemi. Indonesia yang beragam dan runtut raut hirup sauyunan dinodai oleh perilaku warganya yang merasa diri ‘paling benar’. Namun patut disyukuri karena masalah ini telah diselesaikan secara kekeluargaan.

Nah, yang membuat saya merasa tidak nyaman adalah komentar saudara-saudara kita, secara terbuka menggeneralisir isu ini karena persoalan mayoritas dan minoritas. Kalau kita yang salah pastilah ujung-ujungnya penjara. Masalah protes suara aja penjara. Dan lain sebagainya. Saya sendiri turut menyesalkan kenapa masih terjadi intoleransi beragama.

Namun, intoleransi dan sikap dominasi warga mayoritas ini berlaku dimana-mana, bahkan sekalipun di negara paling liberal sekalipun selalu ada orang-orang yang merasa dirinya paling benar. Konservatis radikal.

Harus diingat bahwa isu dan peristiwa ini tidak hanya terjadi antar umat beragama, bahkan antar internal umat beragama pun seringkali muncul. Sudah menjadi rahasia umum, antara Sunni dan Syiah di Indonesia misalnya. Bahkan mayoritas muslim di Indonesia (oknum) beberapa kali menyerang penganut muslim lain yang dianggap menyimpang atau sesat.

Sepertinya ini sudah menjadi logika mayoritas. Eksistensinya tidak ingin teracam oleh kehadiran minoritas yang dianggap perilaku dan cara beragama/ ritualnya berbeda. Bahkan di kampung saya dulu, jangankan antara mayoritas dan minoritas, ini sesama mayoritas antara ormas agama juga pernah terjadi bentrokan.

Apakah ini persoalan agama?
Secara substansial, saya melihat lebih jauh bukan persoalan murni agama. Agama hanya menjadi kendaraan untuk melakukan legalitas perilaku intoleran. Lebih jauhnya saya melihatnya lebih pada relasi jalinan antar warga. Relasi kewargaan yang terjalin cenderung kering dan miskina. Tidak ada upaya bagaimana relasi itu harus dibangun antar warga agar terjadi internalisasi persaudaraan antar umat beragama ataupun sesama intern agama.

Jika ikatan emosional ini kurang maka konflik dengan mudah bisa tersulut dengan persoanal-persoalan kecil. Penekanannya bukan pada persoalan yang saat itu muncul, pada para rentetan peristiwa sebelumnya yang tidak terungkapkan. Konflik hanya puncak gunung es untuk melakukan legalitas perilaku saja.

Kenap saya bisa mengatakan ini? Sebetulnya sederhana. Saya punya teman berbeda agama. Setiap hari bisa berdiskusi, makan bareng, bercanda. Saat terjadi konflik seperti contoh di atas, apakah kami juga ikut berkonflik? Ya tentu tidak. Toh kita tetap baik-baik saja karena relasi yang sudah terbangun sudah diikat oleh persaudaraan sebagai warga.

Saya melihatnya dari sisi human relations antara warga. Jika relasi kewargaan terlah terjalin, saya kira persoalan-persoalan konflik atau kesalahpahaman antara penganut beragama akan sangat bisa di hindari. Sekalipun warga tersebut memiliki kelainan dalam beragama, misalnya karena anutannya adalah agama mayoritas yang sempalan. Jika relasi kewargaannya kuat, justeru akan melahirkan dialog yang sehat untuk mengetahui anutan agamanya tersebut.

Namun jika relasi kewargaannya tidak terjalin dengan kuat, kesalahpaham itu akan cepat teratasi karena sejak jauh-jauh hari orang-orang telah paham. Oleh karena itu, ini mungkin menjadi pekerjaan rumah bagi aparat setempat. Menjadi aparat tidak hanya menarik iuran warga saja atau ketika ada yang sakit ditengok. Perlu juga mengadakan family gathering, selain di tempat ibadah, karena tidak semua warga memiliki kesempatan untuk berkunjung ke tempat ibadah yang sama.

Pada sisi lain, aparat juga harus mampu merangkul semua warga yang berbeda-beda. Apalagi di kota yang sudah kosmopolit. Heterogenitas menjadi keniscayaan. Pada sisi lain, warga pendatang juga harus mampu dan cepat berbaur dengan warga sekitar sehingga cepat menyatu walaupun dengan budaya, suku, atau agama yang sama sekali berbeda.

Pada sisi lain, jika perilaku oknum itu tidak dapat dibenarkan, dan bagi kelompok yang merasa jadi korban tidak usah memperkeruh suasana dengan menggeneralisir masalah apalagi memojok-mojokkan, karena bisa jadi masalahnya jadi rumit dan besar. Mending berlapang saja. Toh masalahnya sudah selesai. Tidak usah mengungkit masalah yang lalu. Toh kita tidak tahu, bagaimana relasi kewargaan yang berkonflik itu.

Secara kolektif bagi minoritas juga (baik agama, suku, atau WN) harus cerdas menjalin relasi dengan warga baurannya ataupun dengan aparat setempatnya. Sehingga tidak ada lagi kata kami atau mereka, yang ada adalah kita. Insya Allah tidak akan ada peristiwa-peristiwa yang melukai kebhinekaan kita.
Read More