11 December 2019

Menyoal Nilai Pancasila

Logika saya kadang selalu berbalik menyikapi fenomena yang ada, mungkin karena referensi dan pengalaman yang berbeda. Namun pada dasarnya, apa yang saya lakukan merupakan bagian dari pengejawantahan nilai-nilai.

Pada konteks Pancasila, nilai-nilainya bersifat universal. Begitu juga saat menyikapi berbagai fenomena di Indonesia, yang kadang logika saya selalu berfikir terbalik. Misalnya, saat menyikapi FPI dan HTI. Memang betul ada hal-hal yang mengancam Pancasila seperti radikalisme yang mereka lakukan. Akan tetapi pemberangusan terhadap eksistesi mereka, saya melihatnya sebagai perilaku yang tidak menghormati keberagaman dari nilai Pancasila.

Mereka tetap menjadi bagian dari ke-Indonesiaan, mereka tetap harus dirangkul. Oleh karena itu perlu ada dialog. Ini menjadi inti dari menciptakan keberagaman. Hanya saja yang menjadi pertanyaan, apakah kita pernah melakukan dialog dengan mereka. Pernahkan nilai-nilai Pancasila yang universal ditransformasikan kepada mereka. Ini menjadi persoalan.

Karena keberagaman tidak boleh dibuat standar ganda. Yang kita sukai boleh, yang tidak disukai tidak boleh. Bagi yang disukai sebagai bagian dari yang diangkat, tapi bagi yang beseberangan pendapatnya maka harus dibungkam. Bagi saya ini standard ganda.

Meminjam bahasa Prof Musdah Mulia, nilai-nilai universal itu salah satunya kebebasan, keadilan, persamaan, persatuan, solidaritas/ kerjasama, keberagaman/kebhinekaan, toleransi, tanggungjawab, kedamaian, kejujuran, keadaban, kemaslahatan.

Dengan kata lain, nilai-nilai Pancasila juga berarti tidak alergi dengan pemikiran atau sikap yang berseberangan dengan kita sendiri. Namun kadang, ego yang terlalu menonjol menutup kita sehingga jika ada yang berseberangan atau mengkritik mendorong terhadap sikap standar ganda kita sendiri dalam memahami nilai keberagaman, toleransi, atau keadilan.

Teringat kata pram, ketika ingin merealisasikan tentang suatu nilai, nilai itu harus ada dulu dalam pikiran. Keadilan harus ada sejak dalam pikiran. Jika hanya dalam pembicaraan maka jadinya terjadi standard ganda dalam toleransi. Karena toleransi sendiri tidak hanya terjadi dalam konteks agama dan suku saja atau sering disebut SARA.

Nah, menarik bahwa dalam diklat Pembinaan Ideologi Pancasila bagi Pendongeng, Youtuber, dan Influencer, bahwa hari ini memang seakan terjadi friksi-friksi di masyarakat. Kehidupan intoleransi terjadi di masyarakat, bahkan Jawa Barat sendiri yang menjadi rumah besar menjadi provinsi paling intoleran di Indonesia. Padahal, basis pesantren sangat kuat.

Bisa jadi hal ini karena adanya kebebasan yang tidak terkontrol. Sehingga pada akhirnya kebebasan ini dimanfaatkan oleh gerakan-gerakan yang ingin memecahbelah bangsa. Namun sayangnya, para oknum tersebut juga menjadi bagian dari kita sendiri, yang tidak paham tentang nilai-nilai tersebut. 

Nah jadi binguuuung….

Dari catatan yang disampaikan oleh Romo Beni, Era digital, konten-konten negative bisa muncul yang terkait dengan hal-berikut; (1) sentiment, suku, agama, ras, dan antar golongan. (2) Kemanusiaan reduksi dalam mekanis teknologi, (3) Permusuhan di ruang dunia maya (4) Hoax, ujaran kebencian

Nah untuk mengantisipasi ini semua perlu strategi. Paman Gery memberikan beberapa hal terkait dengan strategi tersebut; Pertama perlu ada segmentasi untuk penyebaran konten, sehingga pesan yang disampaikan tepat sasaran. Kedua, Konten. Konten juga menjadi hal yang penting, karena koten menjadi substansi dari pesan yang disampaikan. Ketiga Chanel. Pilihan media juga harus pas. Apalagi di era sekarang, media digital yang menjadi media mainstreamnya generai millennial dapat menjadi pilihan untuk menyebarkan konten yang segmentasinya millennial. Dan keempat, bahwa kontenya harus selesai.

Terakhir, yang paling diingat adalah pernyataan-pernyataan dari Pak Lek Djum, seorang Dalang Wayang Wolak-walik, pengurus LESBUMI PB NU. Bahwa nilai-nilai pancasila ini bukan persoalan butir-butir tapi bagaimana mengejawantahkan nilai-nilai yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ketemulah dengan apa yang disampaikan oleh Prof Musdah Mulia, Pancasila itu soal nilai-nilai yang universal dan persoalan moral.

Selain yang disebutkan di atas, seorang pengondeng senior Ki Kusumo mengatakan, membiasnya nilai Pancasila karena hilangnya rasa hormat dan penghargaan. Oleh karena itu rasa hormat dan menghargai itu harus dimunculkan. Ini juga menjadi bagian dari pengejawantahan nilai-nilai pancasila.

Bagi saya sendiri, mengejawantahkan nilai-nilai Pancasila itu gampang-gampang susah. Karena kadang kita membuat standar ganda. Pada sisi lain, kita seringkali baper jika berhadapan dengan orang yang berbeda, baik pemikiran, superioritas, atau pun sikap. Nah maka melalui Pancasila, apakah kita bisa cukup pikiran, rasa, dan sikap dalam bertoleransi dengan hal-hal tersebut!?

Semoga kegiatan ini menjadi pelecut untuk tetap berpegang pada nilai universal dan lokalitas kita! #SalamPancasila
Read More

07 November 2019

Disrupsi (Ruang) Keluarga

Sumber: Pikiran Rakyat, 06/11/2019
Seorang rekan kerja sekaligus seorang ayah dari 3 putrinya yang masih anak dan balita tiba-tiba saja bercerita dan mengeluh, salah dua anaknya kesulitan melepas kebiasaan bermain gawai. Ia juga bercerita, dalam waktu dekat akan mengikuti seminar parenting. Agar mendapatkan cara bagaimana menghentikan kecanduan anaknya tersebut bermain gawai.

Beberapa pekan lalu sempat viral pada pemberitaan, Rumah Sakti Jiwa Jawa Barat kedatangan pasien gangguan jiwa terdampak gawai. Pikiran Rakyat juga menerbitkan berita serupa tertanggal 18 Oktober 2019 pada laman daringnya. Merujuk pada Rumah Sakit Jiwa yang berlokasi di Bogor, terdapat belasan anak dan remaja yang terdampat gawai dan masuk kategori golongan orang dengan masalah kejiwaan (OMDK).

Fenomena ini terjadi hampir di setiap keluarga. Berdasarkan observasi terbatas, orang tua seringkali memberikan gawainya saat anaknya rewel. Beberapa keluarga membelikan anak-anaknya tablet, sehingga hampir seharian anak dapat menguasai perangkatnya tersebut; dari bermain game hingga menonton Youtube. Tanpa diganggu oleh keperluan orang tuanya menggunakan perangkat tersebut.

Disrupsi Masuk Rumah
Sejak popular dan kehadiran gawai di tengah keluarga. Tokoh pahlawan yang dipajang di kamar anak tidak lagi menjadi panutan. Gambar-gambar yang menjadi media pembelajaran yang ditempel di dinding tidak lagi menjadi perhatian. Aktivitas anak beralih dari hal-hal yang bersifat fisik menjadi hal-hal bersifat virtual. Panutan anak kini berasal dari tokoh game dan youtube. Bukan lagi Habibie tapi Atta Halilitar. Bukan lagi atlet berprestasi Kevin Sanjaya atau Febri Hariyadi, namun Spongebob.
Alih perhatian terjadi saat anak mulai sulit melepaskan pandangannya dari layar youtube. Orang tua lebih memilih meninabobokan kerewelan anak dengan memberikan gawai. Maka terjadilah perubahan segala perhatian anak terhadap hal-hal yang fisik. Anak-anak pun menjadi sulit menuruti nasihat orang tuanya. Kata-kata dan perilakunya dibimbing oleh kreasi-kreasi pada layar gawai.

Pada konteks tersebutlah disrupsi telah hadir di tengah-tengah keluarga. Bagi Francis Fukuyama (1999), disrupsi merupakan sebuah kekacauan tatanan sosial sehingga nilai-nilai yang pada awalnya menjadi rujukan bagi masyarakat tereduksi bahkan hilang. Hilangnya nilai inilah yang menjadi sumber kekacauan tatanan tersebut.

Fenomena yang terjadi akhir-akhir ini terhadap kecanduan gawai memberikan konteks bahwa telah terjadi pergeseran nilai-nilai yang diajarkan dalam keluarga. Orang tua yang seharusnya menjadi madrasah pertama dan utama bagi anak-anaknya tergantikan oleh kehadiran gawai. Ajaran dan nasihatnya tidak lagi menjadi rujukan, karena anak telah memiliki panutan sendiri dari tokoh virtual.

Disrupsi mulai merangsek ke ruang keluarga saat anak lebih banyak berinteraksi melalui gadget dibandingkan aktivitas fisik. Padahal anak-anak sedang butuh-butuhnya membangun saraf-sarat psikomotorik. Seperti pernah disampaikan Jalaluddin Rakhmat yang menulis buku Belajar Cerdas, Belajar Berbasis Otak, bahwa masa anak-anak adalah masa membangun jaringan saraf pada otaknya.
Jika anak lebih banyak berinteraksi dengan gawai, yang terbangun bukan saraf psikomotorik. Namun saraf interaksi dengan gawai. Maka wajar, anak mengalami kehilangan orientasi terhadap aktivitas psikomotorik, justeru yang terjadi adalah ketidakrelaannya saat terlepas dari gawai.  

Digital Native
Disrupsi ruang keluarga menjadikan orang tua sangat protektif terhadap anak. Bahkan salah satu komunitas literasi melarang orang tua memberikan akses virtual terhadap anak. Hal ini seakan melawan takdir anak yang lahir dengan segala bentuk kreativitasnya di dunia digital. Jika hal ini diterapkan, maka anak bukan hanya ketinggalan, juga kehilangan peluang besar dalam mengenal lebih awal kreativitas yang dihadirkan oleh perangkat. Ketinggalan ini justeru mendatangkan masalah baru bagi anak. Saat anak lain telah mengenal dunia digital yang kreatif, anak kita justeru tertinggal.
Pada konteks ini, orang tua harus betul-betul bijak dan sabar bagaimana mengenalkan dunia digital dan segala macam krearitivitas yang dapat dijadikan rujukan oleh anak menjadi bahan pembelajaran. Sebagai anak kandung digital, anak kita bernafas dengan bit-bit digital. Seperti ditulis oleh Don Tapscot (2009), anak yang lahir pada era digital memiliki nafas digital sehingga sulit untuk dilepaskan dari pengaruh dan dampaknya sekaligus.

Sebagai anak kandung internet, dunia anak sekarang adalah dunia virtual, yang penuh dengan segala bentuk kreativitas, tidak seperti orang tuanya yang berasal dari generasi X, yang cenderung kesulitan beradaptasi dengan beragam kreativitas yang dilahirkan oleh bit-bit digital (coding). Oleh karena itu biarkan mereka mengenal dunia mereka sendiri.

Sebagai orang tua, yang perlu dilakukan adalah mendampingi, mengingatkan, membukakan mata mereka bahwa walaupun mereka bernafas dengan bit-bit digital mereka hendaknya memperlakukan perangkat sebagai alat kebertubuhan, seperti yang ditawarkan oleh Don Ihde (Lim, 2008). Yaitu sebagai alat yang membantu fungsi tubuh dalam memahami dan menafsirkan dunia. Bukan sebagai bagian dari tubuh itu sendiri yang tidak bisa dilepaskan selama 24 jam.

Oleh karena itu, sebagai fungsi kebertubuhan juga semantik, perangkat hanya digunakan sekali waktu jika dibutuhkan. Digunakan secara wajar untuk keperluan belajar. Bukan terhanyut ke dunianya, bukan tercampur ke dalamnya sehingga anak dan gawai tidak bisa dipisahkan.

Nilai Keluarga
Era Disrupsi tidak berhenti pada kekacauan sebuah tatanan sosial. Juga menawarkan ragam solusi yang bisa memperbaiki tatanan tersebut. Jika anak terdisrupsi oleh kehadiran gawai. Maka di dalam perangkat digital tersebut juga hadir tawaran peluang yang menghadirkan nilai-nilai keluarga.

Persis seperti yang ditawarkan oleh Fukuyama dalam The Great Disruption (1999). Belajar dari dua negara maju, Jepang dan Korea, kedua negara tersebut telah mengalami disrupsi terlebih dahulu. Namun kedua negara tersebut mampu menghadapinya dengan mempertahankan nilai tradisional dalam keluarganya.

Maka peran orang tua, bisa membuka peluang-peluang tersebut untuk menghadirkan kembali nilai-nilai keluarga melalui beragam aplikasi yang menawarkan nilai tersebut. Ipin-Upin yang sarat nilai kekeluargaan bangsa Melayu masih renyah untuk ditonton pada kanal youtube, begitu juga dengan beragam game Islami seperti yang ditawarkan oleh Marbel dan menjadi rujukan anak bagaimana belajar menyenangkan. 

Tentu saja walaupun anak diperkenankan memasuki dunia virtual, ada batasan-batasan yang harus diterapkan oleh orang tua. Dari sisi waktu dan dari sisi akses. Anak-anak hanya bisa bersentuhan dengan perangkat paling lama, misalnya 1 jam. Menonton youtube juga sudah kita sediakan pada ruang download perangkat. Sehingga anak dapat mengendalikan diri dan waktunya tanpa harus ketergantungan terhadap gawai. Semua dikembalikan lagi kepada keluarga dan orangtua.
Read More

27 October 2019

Holamigo, Sumber Rujukan Ngetrip dan Gaya Hidup Traveling

sumber gambar; holamigo.id

Siang tadi, baru saja mendiskusikan tentang jurnalisme gaya hidup yang walaupun tidak atau setidaknya belum layak masuk jurnalisme konvensional namun setiap orang selalu merindukan panduan dan bordering dalam kehidupannya sehari-hari. Ya, walaupun cenderung lebih banyak menawarkan sisi ‘hiburan’ dan konsumtifnya. Wajar jika masih belum dianggap layak masuk kategori jurnalisme dalam pemahaman konservatif.

Dengan berbagai persoalan yang dihadapi oleh manusia di era serba cepat dan instan ini, ya pada akhirnya hiburan bukan lagi sesuatu hal yang sekunder, ia kini menjadi kebutuhan primer. Oleh karena itu, sebagai kebutuhan primer, orang banyak mencari berbagai bahan bacaan yang mudah diakses kapanpun dimanapun.

Salah satu unsur gaya hidup yang lekat dengan hiburan sekaligus mengembalikan spiritualitas diri adalah traveling. Traveling menjadi kebutuhan primer. Ia bahkan dianggap sebagai investasi manusia selama hidupnya. Oleh karena itu, tidak sedikit kawan kita yang rela menabung berbulan-bulan atau bahkan tahun demi dapat berinvestasi terhadap dirinya sendiri, yaitu dalam bentuk traveling.

Nah saat akan melakukan traveling, tentu kita butuh panduan yang lengkap. Karena sejatinya saat traveling yang kita butuhkan bukan hanya destinasi, tapi semua hal yang terkait langsung dengan tempat tujuan kita. Bisa tiket perjalanan, hotel, kuliner, budayanya, manusianya, atau hal-hal skunder dan tersier dalam melakukan traveling namun sangat berfaedah selama melakukan perjalanan.

Nah kawan, untuk memenuhi kebutuhan itu semua, Holamigo.Id memberikan kemudahan karena berbagai macam panduan tersebut disajikan berbasis website yang userfriendly. Holamigo dapat diakses dimanapun dan kapanpun kita butuhkan.

Beberapa yang  disajikam dalam situs Holamigo bukan hanya Destinasi, yang menjadi hidangan utama traveling, juga hal terkait dengan traveling; bisa ulasan tentang kesehatan, karena pada dasarnya bisa jadi kita memiliki riwayat penyakit tertentu sehingga saat perjalanan memang harus mengondisikan; tips; juga tentang lifestyle misalnya teknologi. Siapa yang hari ini saat melakukan perjalanan tidak membawa perangkat canggih? Apalagi perangkat tersebut digunakan untuk mengabadikan moment-moment istimewa saat traveling yang bisa jadi tidak akan terulang lagi.

Holamigo juga tidak hanya menjadikan hal-hal mainstream tersebut, juga selalu update terkait isu-isu menarik yang dijadikan sebagai lokus wisata. Misalnya saja, baru-baru ini dunia perfileman dihebohkan dengan ‘kebrutalan’ film The Joker. Walaupun dianggap terlalu vulgar dan menawarkan berbagai atrasi kekerasan dan kejahatan, namun nyatanya dari perspektif wisata, ada satu tangga yang menjadi salah satu latar dalam film tersebut kini menjadi tempat yang dapat dijadikan destinasi; atau istilah now-nya sebagai destinasi screen tourism.

Artinya dengan mengakses holamigo, berartai sobat juga bisa mengetahui segala bentuk updating informasi seputar dunia pariwisata; dari pariwisata sebagai hidangan utama, sampai hal-hal terkait dengan kepariwisataan namun tetap menjadi penting untuk diketahui para pelancong. Termasuk dengan isu-isu populer pariwisata yang sedang in dalam pariwisata di Indonesia ataupun dunia.

Saya saja, jika tidak membuka Holamigo tidak akan tahu bahwa salah satu spot/ latar dalam film The Joker menjadi spot wisata baru di Amerika, yaitu sebuah tangga yang menghubungkan antara Bronx di New York, yaitu Jalan Shakespeare dan Anderson di West 167 Street. Nah, The Bronx street ini mendadak tenar setelah diangkat ke layar lebar menjadi salah satu latar film The Joker.

Hmmm, update banget ya...artinya tim holamigo sangat peka dengan isu-isu destinasi pariwisata termasuk juga hal-hal skunder atau tersier yang terkait dengan pariwisata.

Mau update terbaru tentang Bandung? Atau destinasi di Indonesia?

Cuss...

                                                                      ***

Read More

22 October 2019

Menikmati Senja di Karang Papak

Foto: dokumentasi pribadi (@abahraka)
Pernah punya mimpi, suatu saat ingin sekali melakukan ekspedisi Pantai Selatan Garut, dari mulai Pantai Cicalobak, Cijeruk hingga menyusuri Sayang Heulang, Santolo dan berakhir di Rancabuaya. Adalah tahun 2008 atau 11 tahun yang lalu, pernah ngetrip ke Rancabuaya melalui jalur konvensional; Cikajang, Pakenjeng, Bungbulang dan sampailah Rancabuaya. Sedangkan kepulangan menggunakan jalur selatan yang waktu itu relatif masih baru. Jalannya pun masih aspal biasa dan kecil layaknya jalan kecamatan di sebuah kabupaten.

Lebaran tahun 2018 merupakan kunjungan keempat kali ke daerah Pantai Selatan. Niat menyusuri pantai selatan dari Cicalobak hingga Rancabuaya tidak pernah tertunaikan dengan berbagai macam alasan. Maka, cukup diniatkan, trip kali ini harus menambah referensi tentang pantai baru yang relatif anti mainstream atau yang jarang disebut oleh para pelancong; bukan Sayang Heulang atau Santolo, bukan Rancabuaya atau Cijeruk, bukan pula Cicalobak atau Karang Paranje. Ia adalah Karang Papak.

Berangkat dari Garut Kota jam 11.00. Pukul 14.00 telah sampai di Kota Kecamatan Pameungpeuk. Namun tidak seperti hari biasa, pada libur lebaran, Jalan Kota Kecamatan Pameungpeuk tidak berbeda dengan Kota Bandung atau Jakarta. Kemacetan jalan Pameungpeuk terjadi hampir sepanjang hari  hingga menuju bibir Pantai Santolo dan Sayang Heulang. Padat merayap. Baik menuju pantai atau yang pulang dari pantai. 

Siang hari, panas dan debu menyatu menyergap badan kami yang saat itu berbonceng menggunakan kuda besi. Sebentar-sebentar kendaraan yang kami tunggangi berhenti, jalan lagi. Menyalip ke sisi kiri menggunakan sisa-sisa jalan roda empat yang tak ingin kalah berlari. Seakan tak ingin menyisakan peluang untuk kendaraan lain. 

Selama dua jam, baik roda dua ataupun empat saling bersaing mendapatkan peluang agar bisa melaju sedikit-demi sedikit. Pukul empat sore, kami baru sampai pada pertigaan menuju Pantai Sayang Heulang. Waktu tempuh normal 15 menit dari kota kecamatan Pameungpeuk, musim libur lebaran ditempuh selama dua jam. Pameungpeuk yang menjadi jalur utama menuju pantai selatan Garut menjadi kota yang sibuk. Sanga padat. Laiknya metropolitan yang menjadi Ibu Kota Jawa Barat.

Jam menunjukkan pukul 16.00 WIB. Kuda besi kami masih terjebak di antara Pantai Sayang Heulang dan Santolo. Saat sampai pada pertigaan Santolo, jalanan tidak kalah padat dengan Pameungpeuk dua jam lalu. Si Kuda Besi akhirnya tidak kami arahkan ke Santolo, tapi kami arahkan menuju jalur Rancabuaya.

Satu kilometer lebih kami lalui sejak pertigaan belokan menuju Santolo. Batas warna biru laut tampak jelas terlihat dari kejauhan, semakin maju bertambah jelas terlihat dari Jalan Raya Cikelet. Kami tidak sadar bahwa gerbang menuju pantai tersebut telah terlewati. Dan sayapun memberikan kode kepada adik yang berbonceng di belakang untuk beristirahat dari perjalanan yang kami tempuh kurang lebih hampir 6 jam, dari Garut Kota sampai Cikelet.

Berhenti sejenak di pinggir jalan. Kami berjalan menggunakan kuda besi dengan pelan. Bertemulah dengan sebuah jalan setapak menuju pantai. Deburan ombak telah samar-samar terdengar. Makin mendekat suara semakin kencang. Kini pantai hanya terhalang oleh sebuah rimbun rerumputan. Motor akhirnya kami parkirkan di sebuah padang rumput kering. Pantai pun menganga di depan mata. Deburan ombak begitu jelas. Kami berada di Karang Papak. Sebuah pantai perawan yang masih dikelola warga.  

Pantai Karang Papak
Nama Karang Papak masih terdengar asing. Nama pantai yang sudah populer di Garut selain Santolo, Sayang Heulang, dan Rancabuaya; ada Cicalobak, Cijeruk, Manalusu, Karang Paranje, Gunung Geder, atau Cijayana. Walaupun beberapa pantai yang disebutkan belum saya kunjungi, namun sudah sering dijadikan catatan perjalanan oleh para pelancong baik domestik ataupun regional. Beberapa kanal seperti liputan6.com, kompasiana, atau blog-blog wisata juga sering menyebutkan pantai-pantai tersebut.

Karang Papak masih asing untuk disebutkan oleh kanal-kanal populer tersebut. Saat mencari informasi tentang Karangpapak, hanya ada satu blog yang cukup memadai memberikan informasi, jelajahgarut.com. Sebuah situs lokal yang menyajikan informasi wisata Garut beserta fasilitas guiding yang ditawarkan serta fasilitas lain yang diperlukan oleh pelancong seperti alat-alat berkemah. Namun, tidak memberikan petunjuk lengkap bagaimana mencapai ke sana atau bagaimana fasilitas penginapannya.

Begitu juga dengan wikipedia, belum ada keterangan tentang Karang Papak. Secuil informasi yang bertautan dengan wikipedia berasal dari googlemaps. Beruntung, terdapat 479 ulasan tentang Karang Papak yang bisa dijadikan pelengkap informasi, walaupun ulasan-ulasannya sangat singkat.

Merujuk pada keterangan googlemaps, pantai ini terletak sekitar 2,4 km dari Pantai Santolo. Namun jika ditempuh dari pertigaan Santolo kurang lebih 1 km. Jika Santolo harus masuk lagi ke dalam untuk menyaksikan pantainya. Karang Papak cukup terlihat jelas dari Jalan Raya Cikelet.

Pantai ini relatif baru, gapura masuknya masih tergolong sederhana, terbuat dari kayu dan bambu. Wajar saat kami melewati jalan ini, plang bertuliskan sambutan selamat datang tidak terlihat. Baru terlihat setelah kami mengitari dan menyusuri jalan di sekitarnya dan bertemulah dengan Gapura Selamat Datang.

Tidak jauh dengan retribusi di daerah Pameungpeuk, masuk Karang Papak cukup dengan Rp.10.000 per kendaran, itu pun jika mengunakan kendaraan roda empat. Sedangkan roda dua cukup Rp.5.000. Harga ini konon naik dua kali lipat karena musim lebaran. Masih relatif murah.

Sebagai pantai baru dan masih perawan, fasilitas di sekitarnya masih minim. Apalagi jika dibandingkan dengan Sayang Heulang dan Santolo. Hampir sepanjang pantai terdapat penginapan dan pemandian. Tidak banyak ditemukan tempat pemandian umum di Karang Papak, namun bukan berarti tidak ada. Saat saya dan adik menyusuri jalan tanah, bertemulah dengan sebuah pemandian umum yang hanya menyediakan dua kamar mandi. Untung suasana di pantai ini sepi, kamar mandi juga relatif tidak mengantri.

Awalnya kami menyangka hanya ada satu atau dua penginapan di area ini. Penginapan ini persis berada beberapa meter dari bibir pantai yang hanya dipisahkan oleh Jalan tanah. Walau demikian, jalan tersebut dapat dilalui kendaraan roda empat. Penginapan pada bibir pantai ini hanya menyisakan penginapan yang hanya memiliki satu kamar dan satu rumah,  juga beberapa bungalow. Harganya pada hari libur lebaran cukup tinggi, satu kamar untuk dua orang dihargai Rp.500.000,- sedangkan bungalow yang dapat menampung 15 s.d. 20 orang dihargai 1,5 juta rupiah.

Kami menyusuri jalan-jalan sekita Karang Papak yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua, ternya telah banyak penginapan. Ada yang hanya satu kamar, ada juga yang menawarkan ruang kontrakan yang lengkap antara kamar dan ruang depan. Begitu juga banyak pilihan kamar dan harga serta pilihan jenis kamar antara yang ber-AC atau tidak.

Artinya bahwa di Karang Papak sudah banyak fasilitas penginapan, walaupun tidak bisa dilalui semua dengan kendaraan roda empat dan tidak selalu berada di tepi pantai. Begitu juga dengan warung-warung yang menyediakan panganan dengan ikan dan seafod lainnya mudah ditemukan di warung-warung sekitar penginapan.

Hanya saja, jangkauannya tidak semudah di area Santolo ataupun Sayang Heulang. Saat libur lebaran 2018, saat kami mengunjungi Karang Papak, hampir semua penginapan terisi penuh. Jikapun masih kosong tidak sesuai dengan kriteria yang diinginkan, yang untuk 3 keluarga kecil. Jika pun ada kamar kosong ber-AC, harganya tidak normal alias mahal jika dibandingkan dengan kamar-kamar yang ditawarkan di daerah Santolo atau Sayang Heulang.

Menikmati Senja
Dokumentasi Pribadi (@abahraka)
Pantai Karang Papak masih belum banyak terjamah oleh para traveler. Oleh karena itu, saat kami sampai di area ini, pantainya masih kosong melongpong. Beberapa orang tampak terlihat menikmati suasana pantai yang sepi, tidak seramai Santolo dan Sayang Heulang. Sehingga kami bisa menikmati suguhan senja sore hari hingga terbenamnya matahari.

Hal ini sesuai dengan ekpektasi kami, jika tiba sore hari maka harus bisa menikmati sunrise pantai selatan Garut. Karena beberapa kali ke Pantai Selatan Garut, tidak kebetulan dengan kehadiran sunrise yang memesonakan mata.

Beberapa gambar saya ambil sebagai kenang-kenangan di Pantai tersebut. Anak-anak kami juga menikmati senja yang menghujani pasir pantai. Sebelum akhirnya mentari menghilang, anak-anak menyempatkan bermain pasir yang relatif berwarna abu cenderung putih.

Melalui senja, saya bisa mendapatkan kepolosan anak-anak yang masih usia taman kanak-kanak. Mereka begitu lepas bermain pasir dan menikmati semburan semburat senja yang sudah mulai tajam memerah. Di bawah hujan senja, anak-anak terlihat begitu mendamaikan.  Membuat hati para orang tua begitu teduh. Menambah rasa syukur akan kehadirannya dan kehadiran-Nya.

Begitu juga dengan senja sendiri. Ia adalah anugerah tak terhingga dari Tuhan, yang menciptakan keindahan begitu rupa. Keindahan warna senja adalah keindahan hidup itu sendiri, keindahan matahari berbalut dan bersembunyi di balik awan. Senja adalah cara kita bersyukur, cara kita mengetahui begitu agungnya keindahan yang diciptakan, pencipta yang maha Indah.

Walaupun tidak lama menikmati keindahan senja Karang Papak. Kami menjadi tahu bahwa menyaksikan semburat senja di Selatan Garut begitu memesona. Ia menjadi kesenangan tersendiri yang tidak bisa digantikan dengan barang berharga. Inilah jalan spiritualitas yang disuguhkan Tuhan kepada kita, makhluknya.

Senjapun beringsut berganti warga, dari kuning menyala, menjadi kuning kehitam-hitaman dan hilang di balik batas laut. Bersembunyi ke dasar laut sejauh pandangan mata. Sore berganti malam. Kesenangan pun berganti dengan hiruk pikuk persiapan menuju peraduan. Kami harus segera bersiap mengadu kepada Pencipta dan menuju ruang upacara senja. Menepikan badan-badan kami yang kelelahan sekaligus kenikmatan senja. Kami pun bergegas menuju penginapan.

Karena penginapan sekitar Karang Papak penuh, kami bergegas menuju Sayang Heulang.  Kami mengistirahatkan raga yang sejak pukul 11.00 menapaki jalan berkelok sejauh 100-an km yang ditempuh selama hampir 6 jam. Bersyukur kelelahan raga telah terbayar dengan ekspresi senja Pantai Karang Papak yang eksotis dan memesona. Sehingga kami masih bisa bercengkrama dengan keluarga kecil masing-masing di tempat istirahat depan Pantai Sayang Heulang.

Menuju Karang Papak
Pantai Karang Papak tidak jauh dari Pantai Santolo. Jika dari bibir pantai berjarak sekitar 2,4 km, lain halnya dari pertigaan menuju Santolo hanya sekitar 1 km. Sehingga sangat mudah dijangkau oleh kendaraan roda empat atau roda dua sekalipun. Mencarinya pun sangat mudah karena sudah memampang gapura bertuliskan ‘Selamat Datang Di Pantai Karang Papak”.

Jika dari kota Garut membawa kendaraan sendiri, langsung diarahkan menuju arah Bayongbong, Cikajang, dan menuju arah Pameungpeuk. Perjalanan normal dapat ditempuh 3 jam perjalanan dengan jarak 95 s.d. 100 km tergantung meltpointnya. Namun jika ditempuh dari Bandung jaraknya sekitar 160 km. Namun ada juga jalur lain melalui Ciwidey-Cisewu-Bungbulang dengan jarak tempuh sekitar 200an km, tentunya dengan menggunakan kendaraan pribadi.

Namun jika menggunakan kendaraan umum dapat menggunakan kendaraan elf atau bis ¾ yang menuju Ibu Kota Kecamatan Pameungpeuk. Dari Pameungpeuk terdapat angkutan umum—lebih bersifat omprengan menuju pantai sayang heulang atau Santolo. Untuk menuju karang tinggal melakukan negosiasi dengan sopirnya. Ongkos Elf dari Bandung sekitar 100.000, sedangkan dari Garut sekitar 65.000. (harga versi tetangga yang berasal dari pameungpeuk).***[]

 Referensi:
-          Pengalaman Pribadi
-          Liputan6.com
-          Googlemaps
-          Wikipedia.com
       Jelajahgarut.com

j






Read More

27 July 2019

Bersilaturahmi Melalui Media Sosial

Abah Raka, Silaturahmi Melalui Media Sosial
Cara bersilatuhami bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu yang paling lumrah adalah berkunjung ke rumah. Orang tua, kakak, atau siapapun yang kita anggap tuakan, baik dari sisi umur, ilmu, (jabatan? mungkin) wajib kita kunjungi untuk bersilaturahmi. Kata orang NU mah biar berkah. Apalagi yang masuk kategori atau kita anggap sebagai orang tua atau guru. Wajib bin kudu!

Silaturahmi bukan soal memanjangkan umur dan rezeki. Juga memanjangkan babarayaan – kata orang sunda mah. Tina ngopi jadi dulur, begitu kira-kira mengutip sebuah tagline pada sebuah warung kopi. Karena dalam acara bertemu tersebut seringkali tersaji kopi, selain tentunya ada panganan lain plus rokok.

Saat teknologi sudah maju, silaturahmi lebih gampang lagi. Tak harus bertatap muka. Cukup kirim pesan, ‘kumaha damang? Atau gimana kabarnya? Dan lain sebagainya. Bisa melalui pesan instan atau telepon sekalipun.

Baik bertatap muka atau berkirim pesan instan untuk menanyakan kabar tersebut terasa sekali nilai silaturahminya. Walaupun, sebagian dari kita, karena beberapa kali punya pengalaman, mungkin sudah ada prejudice, sampai akhirnya begumam dalam hati,”ada apa nih, tiba-tiba nelpon, atau nge-WhatsApp.”

Berkomentar atau like sebagai Silaturahmi
Namun, ada yang mungkin dan barangkali, tidak disadari oleh setiap orang, bahwa sebagian dari kita meniatkan silaturahmi dengan seseorang dengan melike atau berkomentar di media sosial. Like dan komentar sudah sedemikian lumrah dalam kehidupan sekarang. Saat seorang teman membuat catatan atau status, bisa gambar atau tulisan. Lalu kita like atau komentar.

Pertanyaannya, apakah like dan komentar itu, karena statusnya benar-benar menarik? Karena menggugah? Karena memiliki dampak dan manfaat untuk kita atau orang banyak? Sehingga layak diapresiasi dan akhirnya kita komentari.

Sejauh yang saya alami dan rasakan, tidak setiap komentar dan like itu karena statusnya menggugah, atau benar-benar unik, atau memiliki manfaat dan dampak positif terhadap kehidupan kita. Seringkali juga like dan komentar karena kita menghargai sebagai teman atau justeru niatnya adalah menyambungkan kehadiran karena jarang bertemu muka. Jika niatnya adalah menyambungkan kehadiran, like dan komentar bukan karena menggugah, tapi karena niat bersilaturahmi melalui komentar tersebut.

Karena niat silaturahmi itu lah, kita kadang mengabaikan sentuhan mendalam terhadap komentar kita, sehingga komentarnya cukup dengan kata-kata yang singkat dan pendek, misalnya; mantap, kerena, bagus, mantul, dan lain sebagainya.

Hanya saja feedback yang kita dapat tidak sesuai ekspektasi kita, bahwa komentar kita pada dasarnya sebagai pembuka obrolan. Pemilik statuspun hanya memberikan like terhadap komentar kita. Padahal sebetulnya, jika sense of silaturahminya kuat, pemilik status bisa membalas dengan sebuah pertanyaan, atau ucapan terima kasih, sebagai respon atas apresiasinya terhadap komentar tersebut.

Jika yang dilakukan oleh pemilik status tersebut hanya like, biasanya tidak adalah jalan pembuka obrolan dalam komentar tersebut. Sehingga jalan menuju silaturahmi produktif berhenti begitu saja.

Saya sendiri, selalu berusaha untuk membalas—tidak hanya dengan like, setiap komentar di media sosial, sependek apapun, minimal dengan kata ‘nuhun’ atau terima kasih. Tentu saja ini sebagai feedback positif atas nilai silaturahmi yang dihadirkan dalam komentar.

Saya sadar bahwa komentar-komentar pada status media sosial yang saya posting, bukan karena postingan saya bagus, pemikiran saya luar biasa, atau apa yang saya bagikan berdampak positif secara luas pada khalayak. Apalagi yang saya bagikan hanya foto narsis, nilai manfaatnya nol besar. Oleh karena itu saya selalu berfikir lebih realistis, bahwa like atau lebih terasanya komentar terhadap apa yang saya share, merupakan silaturahmi teman-teman media sosial terhadap saya. Sehingga sependek apapun tetap harus saya balas. Ini konsekuensi dari postingan saya. Ada yang berkomentar wajib dibalas. Bukan membalas komentar dengan like semata.

Merujuk pada konsep tanda, saat seseorang mengomentari postingan kita, ada bentuk lain yang hadir bersama-sama dengan komentar tersebut, yaitu kehadiran pemilik komentar. Komentar tidak semata-mata sebagai komentar. Namun juga ia merupakan konsep kehadiran sang pemberi komentar. Kehadiran inilah yang tidak boleh kita abaikan. Karena bagaimanapun kehadiran dalam sebuah silaturahmi menjadi keniscayaan akan bentuk saling menghargai melalui berbagai macam interaksinya. Inilah hubungan antara penanda dan petanda, antara komentar dan kehadiran.

Menjadi keniscayaan saat kita hadir dan orang lain hadir, maka kehadiran itu akan melahirkan komunikasi. Dalam konsep komunikasi, bisa jadi kehadiran itu bersifat satu arah, dua arah, atau banyak arah. Jika yang terjadi adalah interaksi maka keniscayaan bahwa kehadiran yang aktif harus dibalas dengan kehadiran aktif lagi. Pendek kata, saat ada yang bertanya aktif, tentu harus dijawab dengan aktif bukan pasif seperti hanya senyuman, atau cukup dengan dua jempol diacungkan. Tentu ini tidak etis.

Bagi saya ini bagian dari konsekuensi kehadiran kita di medsos. Jika intensitas kehadiran kita cukup sering dan kehadiran orang lain pada postingan sering, menjadi konsekuensi bahwa kehadiran aktif itu harus dibalas dengan kehadiran aktif lagi. Sehingga nilai silaturahmi terjalin. Hubunganpun mengarah kepada hal yang positif. Sehingga medsos bukan hanya alat ia juga menjadi bagian dari kebertubuhan kita. Walaupun tentu saja kehadiran kita bisa ditunda sesuai dengan waktu yang memungkinkan untuk hadir.

Sudah siap hadir di media sosial? Atau sekadar narsis campur FOMO saja?!
Read More

15 June 2019

Tenggelamnya Lebaran Kami

Tenggelamnya Lebaran Kami, Pikiran Rakyat (14/06/2019)
Detox Media Sosial. Demikian sebuah postingan pada laman instagram yang saya baca H-3 Hari Raya Idul Fitri. Pada caption postingan tersebut, pemilik akun mengucapkan selamat lebaran kepada warga Instagram. Ia pamitan lebih dulu untuk mudik ke kampung halamannya. Bukan berarti di kampungnya fakir sinyal. Namun karena berlebaran di media sosial dianggap mengganggu silaturahmi dengan sanak famili. Artinya selama masa lebaran, ia tidak akan mengakses media sosial.

Menjelang dan saat hari H lebaran. Setiap orang berlomba mengucapkan selamat lebaran,  minal aidzin, dan permohonan maaf. Ada ratusan pesan masuk, baik melalui jalur pribadi ataupun melalui grup. Ada dua catatan yang saya cermati. Setiap ucapan yang saya terima melalui jaringan pribadi tidak satupun yang menyebut nama saya, orang yang dikirimi ucapan.

Sedangkan pada grup, hampir setiap pemberi ucapan, lalu meninggalkan grup tanpa ada interaksi lanjutan. Penghuni grup lain juga seakan tidak mau kalah, bukan membalas ucapan selamat tersebut, justeru mengirim pesan yang sama. Lalu siapa yang menjawab ucapan tersebut? Tidak ada yang menjawab!

Setelah berkumpul di kampung halaman. Intensitas berlebaran melalui antarmuka masih intensif dilakukan. Setiap warga kampung fokus pada perangkatnya masing-masing. Kegiatan asyncronus melalui whatsapp, scrolling media social, atau sekadar menonton tayangan yutub dan instagram. Sanak famili terabaikan. Lebaran tereduksi oleh kehadiran perangkat digital. Yang jauh mendekat yang dekat justeru terasa jauh. Mereka terkana sindrom post social. Demikian ditulis oleh Yasraf Amir Piliang, seorang filsuf postmodern dari ITB.

Mungkin ini yang menjadi salah satu alasan teman saya  meninggalkan media sosial selama masa libur lebaran. Intensitas berlebaran di media social mereduksi pondasi relasi kemanusiaan. Pemilik perangkat dianggap sebagai benda yang tidak memiliki identitas selain antarmuka. Diri yang direpresentasikan oleh antarmuka dianggap melebur menjadi benda. Sehingga tidak ada keharusan menyebutkan nama saat mengirim ucapan lebaran. Alih-alih lebaran penuh makna fitri, justeru menjadi kurang bermakna. Nilai mudik tak terasa.

Anomali Lebaran 4.0
Jean Baudrillard menyebut fenomena di atas sebagai simulasi social. Suatu kenyataan yang melampaui realitas sebenarnya. Suatu realitas yang hadir karena difasilitasi oleh media. Ia disatukan oleh berbagai komponen teknologi yang hadir dalam internet; jaringan, aplikasi, teknik citra, multimedia. Kenyataan social dalam media tersebut hanya sebagai hasil citraan.

Meminjam istilah Yasraf dalam simulasi sosial, lebaran melalui media social adalah lebaran artifisial. Relasi-relasi social sudah tereduksi oleh teknologi antarmuka. Yang hadir bukan lagi manusia, tapi aplikasi. Meminjam istilah filsuf postmodern tersebut, simulasi sosial merupakan bentuk permukaan  dari sosial, sebuah relasi sosial yang artifisial, yang tidak tercipta secara alamiah di sebuah territorial yang nyata, akan tetapi di dalam  sebuah territorial halusinasi, yang terbentuk dari bit-bit informasi.

Bagi Yasraf, pada tingkat tertentu, simulasi sosial dapat mengambil alih relasi sosial yang sesungguhnya, ketika ruang-waktu virtual  mengambil alih ruang waktu sosial yang natural. Kematian sosial adalah sebuah kondisi ketika persepsi, kesadaran dan emosi setiap orang diserap oleh ruang-waktu virtual ini, sehingga tidak tersisa lagi untuk ruang-waktu ilmiah. Dalam kematian sosial, setiap orang akan sepenuhnya hidup di dalam ruang sosial artifisial, dan menjalankan segala aktivitas di dalamnya dalam wujudnya yang artifisial.

Wajar jika hampir semua ucapan lebaran tanpa menyebutkan nama yang dikirim baik yang melalui jaringan pribadi atau grup. Ucapanpun seakan tanpa pijakan ditujukan untuk siapa. Sehingga Relasi sosial menjadi terreduksi. Karena lebaran melalui media social sekadar artifisial. Maka wajar, seorang teman memutuskan untuk melakukan detox media sosial selama lebaran.

Teknologi yang seharusnya mendekatkan antar penggunanya justeru mengurangi nilai social dari berlebaran. Intensitas yang mendalam terhadap media social saat lebaran justeru semakin membenamkan diri pada kehampaan social. Sehingga terjadi anomaly dari lebaran itu sendiri.

Lebaran yang identik dengan mudik, silaturahmi dengan sanak family, bercengkerama dengan keluarga diambil alih semuanya oleh teknologi. Di sinilah terjadinya anomaly lebaran, yang di hadapan justeru menjadi asing. Sedangkan yang jauhpun tidak ada di hadapan karena semua berada dalam antarmuka. High tech tidak mampu menghadirkan high touch. Meminjam istilah John Naisbitt, dalam konteks ini high tech tidak mampu memelihara kemanusiaan (low touch).

Sejatinya ini bukanlah kondisi ideal dari lebaran 4.0. Karena era 4.0 bukan sekadar merayakan kemajuan berbagai macam teknologi aplikasi. Lebaran 4.0 juga harus semakin merekatkan relasi kemanusiaan, melekatkan nilai silaturahmi. Melalui teknologi, intensitas silaturahmi justeru yang harusnya lebih erat, seperti harapan dari Naisbitt—high tech high touch.

Hal ini senada dengan yang ditulis oleh Hermawan Kertajaya melalui kajian dan pemikirannya dalam Marketing 3.0 yang berlanjut dengan Citizen 4.0. dan marketing 4.0. Marketing 3.0 hadir setelah melalui kehadiran teknologi digital, memfokuskan pada hubungan dengan konsumen, yang ia istilahkan dengan human-spirit. Hal ini merupakan tahapan lanjutan dari tahap kemajuan teknologi yang berfokus pada teknologi itu sendiri.

Sedangkan pada konteks manusia era 4.0, tahapan ke 3 dan ke 4 fokus pada pelayanan dan manusia. Salah satu elemen kunci dalam pelayanan adalah empati. Sedangkan elemen kunci dari manusia adalah keintiman dan passion. Kombinasi dari ketiga elemen tersebut menghasilkan suatu kedalaman hubungan, yaitu suatu hubungan kemanuasiaan yang didasarkan para hubungan tulus dan produktif.

Lebaran pada era 4.0 harusnya memijakkan diri pada hubungan yang bersifat interpersonal, bukan massal. Pada kasus lebaran virtual di atas, hubungan lebih di dasarkan pada hubungan massal. Komunikasi yang bersifat massal melalui media sosial tidak pernah menyentuh sisi personal dari sejawat. Semua teman sejawat dianggap sama, tanpa keunikan apapun, baik dari kedekatan emosional ataupun keunikan dari sebuah nama. Sehingga nilai-nilai empati dan keintiman menjadi hilang.

Lebaran iedul fitri bukan hanya mengembalikan diri ke dalam jiwa yang fitri, bersih, berangkat lagi dari nol dosa. Juga kembali pada sisi-sisi kemanusiaan kita. Mudik dan berlebaran adalah mengembalikkan tujuan silaturahmi, mempererat tali kemanusiaan, melekatkan relasi antar jiwa, melalui empathy dan keintiman.

Jadikan teknologi hanya sebagai alat kebertubuhan, yang pada waktunya perlu dilepaskan, bukan kebertubuhan itu sendiri, yang selamanya melekat. Mari kembali kepada relasi kemanusiaan, jadikan teknologi sebagai perekat bukan berrelasi dengan teknologi itu sendiri. Agar lebaran benar-benar fitiri. Agar mudik dapat mendekatkan sanak family. Bukan tenggelam dalam mabuk teknologi.***[]
Read More

29 May 2019

KiosAgro, Marketplace Untuk Petani Millenial

Tampilan website KiosAgro
Jalan keempat revolusi industry atau yang dikenal dengan era 4.0 memungkinkan setiap creator meciptakan sesuatu yang belum pernah terbayangkan. Revolusi berarti perubahan besar-besaran secara sistemik. Salah satu perubahan besar yang dialami oleh masyarakat post-industri ini adalah perubahan terhadap pola komunikasi antarmanusia.

Pola komunikasi berubah setelah kehadiran berbagai macam aplikasi komunikasi dalam perangkat digital. Hal inilah yang menjadi ciri utama revolusi industry abad mutakhir.

Saat usia masih remaja, saya membayangkan jika melakukan komunikasi jarak jauh dapat melihat wajah masing-masing pasti sangat menyenangkan. Lalu, tahun 2007-an hal itu benar-benar terjadi dengan kehadiran teknologi 3G. Melalui teknologi 4G, Kini, videocall menjadi hal lumrah.

Bukan hanya pada pola komunikasi, pola konsumsipun berubah. Orang kini lebih banyak menghabiskan belanja konsumtif di marketplace. Banyak supermarket atau pusat-pusat perbelanjaan menjadi sepi. Seperti sering diberitakan media nasional. Beberapa pusat niaga di Jakarta terancam gulung tikar. Kini orang lebih memilih belanja melalui marketplace.

Marketplace yang dimaksud adalah sebuah aplikasi pembelanjaan yang kini tidak asing bagi pemilik perangkat digital. Sebut saja bukalapak, lazada, zilinggo, tokopedia, shopee.

Kemudahan pemilihan barang, membandingkan harga, kemudahan transaksi, jaminan keamanan, efektivitas waktu, efisiensi dan sifat ekonomis menjadi alasan kenapa orang lebih memilih berbelanja di marketplace di banding dengan supermarket atau plaza. Wajar jika perkembangannya sangat pesat. Bahkan untuk sekedar membeli makanan saja, kini lebih banyak menggunakan jasa gofood dibandingkan harus keluar rumah/ kantor.

Kini, ada marketplace khusus untuk produk pertanian, peternakan, perikanan, dan produk olahannya. KiosAgro. Ya, KiosAgro merupakan marketplace baru yang mempertemukan antara petani, peternak, atau nelayan. Begitu juga bagi produsen produk olahannya, KiosAgro mempertemukannya dengan pembeli secara langsung. Dibandingkan dengan marketplace lain, KiosAgro lebih spesifik sehingga lebih memudahkan pencarian produk/ barang.

Berdasarkan keterangannya, KiosAgro merupakan marketplace bertentuk website dan aplikasi yang dididikan dan dikelola oleh PT. KiosAgro Indonesia Sejahtera. Marketplace ini dibuat dengan tujuan ingin mensejahterakan komunitas local, utamanya yang bergerak dalam bidang agro dan UMKM; pertanian, perkebunan, peternakan, perikakanan, kelautan, ataupun hasil olahan dari semua itu.

Menurut CEO KiosAgro, Hadian, kehadiran KiosAgro diharapkan dapat memutus mata rantai tengkulak yang merugikan petani. Sehingga kehadiran marketplace tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan petani atau nelayan. Penjual untung, pembeli untung, demikian seperti jargon dari KiosAgro yang didengungkan Master Of Ceremony beberapa waktu yang lalu di Hotel Patra Comfort Dago (20/05/2019).

Bagi saya sendiri, kehadiran KiosAgro bisa menjadi angina segar bagi para petani atau pedagang eceran dan produk olahannya. Karena marketplace ini focus pada satu produk yang spesifik. Sehingga calon pembeli baik dalam jumlah kecil (eceran) atau besar (partai) bisa langsung membuka atau menginstal aplikasinya.

Apalagi, kini generasi millennial juga punya banyak pilihan profesi. Bahkan menjadi petani sekalipun. Menjadi petani era sekarang tidak seperti dulu. Kini tidak sedikit generasi millennial yang terjun sebagai petani atau peternak. Kehadiran KiosAgro yang teknologinya lekat dengan gen M, menjadi peluang besar bagi petani/ peternak gen M agar lebih mudah dalam memasarkan produk-produknya.

Hanya saja memang perlu pendekatan yang pas agar kehadiran KiosAgro dapat diterima oleh semua kalangan. Bagi yang tua tidak menyulitkan, bagi yang muda tetap menguntungkan.

Semoga kehadiran KiosAgro, tidak hanya memberkan warna dalam dunia marketplace, juga memberikan warna start up yang memiliki differensiasi bagi usaha generasi kekinian yang harus selalu lekat dengan teknologi sentuh.

Pada masa yang akan datang KiosAgro tidak hanya marketplace, juga jasa lain yang masih terkait dengan agroindustry; edukasi, riset, keuangan, energy, pembayaran, dan lainnya. Sehingga lebih familier dengan generasi yang lahir kemudian.***[]
Read More