27 July 2019

Bersilaturahmi Melalui Media Sosial

Abah Raka, Silaturahmi Melalui Media Sosial
Cara bersilatuhami bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu yang paling lumrah adalah berkunjung ke rumah. Orang tua, kakak, atau siapapun yang kita anggap tuakan, baik dari sisi umur, ilmu, (jabatan? mungkin) wajib kita kunjungi untuk bersilaturahmi. Kata orang NU mah biar berkah. Apalagi yang masuk kategori atau kita anggap sebagai orang tua atau guru. Wajib bin kudu!

Silaturahmi bukan soal memanjangkan umur dan rezeki. Juga memanjangkan babarayaan – kata orang sunda mah. Tina ngopi jadi dulur, begitu kira-kira mengutip sebuah tagline pada sebuah warung kopi. Karena dalam acara bertemu tersebut seringkali tersaji kopi, selain tentunya ada panganan lain plus rokok.

Saat teknologi sudah maju, silaturahmi lebih gampang lagi. Tak harus bertatap muka. Cukup kirim pesan, ‘kumaha damang? Atau gimana kabarnya? Dan lain sebagainya. Bisa melalui pesan instan atau telepon sekalipun.

Baik bertatap muka atau berkirim pesan instan untuk menanyakan kabar tersebut terasa sekali nilai silaturahminya. Walaupun, sebagian dari kita, karena beberapa kali punya pengalaman, mungkin sudah ada prejudice, sampai akhirnya begumam dalam hati,”ada apa nih, tiba-tiba nelpon, atau nge-WhatsApp.”

Berkomentar atau like sebagai Silaturahmi
Namun, ada yang mungkin dan barangkali, tidak disadari oleh setiap orang, bahwa sebagian dari kita meniatkan silaturahmi dengan seseorang dengan melike atau berkomentar di media sosial. Like dan komentar sudah sedemikian lumrah dalam kehidupan sekarang. Saat seorang teman membuat catatan atau status, bisa gambar atau tulisan. Lalu kita like atau komentar.

Pertanyaannya, apakah like dan komentar itu, karena statusnya benar-benar menarik? Karena menggugah? Karena memiliki dampak dan manfaat untuk kita atau orang banyak? Sehingga layak diapresiasi dan akhirnya kita komentari.

Sejauh yang saya alami dan rasakan, tidak setiap komentar dan like itu karena statusnya menggugah, atau benar-benar unik, atau memiliki manfaat dan dampak positif terhadap kehidupan kita. Seringkali juga like dan komentar karena kita menghargai sebagai teman atau justeru niatnya adalah menyambungkan kehadiran karena jarang bertemu muka. Jika niatnya adalah menyambungkan kehadiran, like dan komentar bukan karena menggugah, tapi karena niat bersilaturahmi melalui komentar tersebut.

Karena niat silaturahmi itu lah, kita kadang mengabaikan sentuhan mendalam terhadap komentar kita, sehingga komentarnya cukup dengan kata-kata yang singkat dan pendek, misalnya; mantap, kerena, bagus, mantul, dan lain sebagainya.

Hanya saja feedback yang kita dapat tidak sesuai ekspektasi kita, bahwa komentar kita pada dasarnya sebagai pembuka obrolan. Pemilik statuspun hanya memberikan like terhadap komentar kita. Padahal sebetulnya, jika sense of silaturahminya kuat, pemilik status bisa membalas dengan sebuah pertanyaan, atau ucapan terima kasih, sebagai respon atas apresiasinya terhadap komentar tersebut.

Jika yang dilakukan oleh pemilik status tersebut hanya like, biasanya tidak adalah jalan pembuka obrolan dalam komentar tersebut. Sehingga jalan menuju silaturahmi produktif berhenti begitu saja.

Saya sendiri, selalu berusaha untuk membalas—tidak hanya dengan like, setiap komentar di media sosial, sependek apapun, minimal dengan kata ‘nuhun’ atau terima kasih. Tentu saja ini sebagai feedback positif atas nilai silaturahmi yang dihadirkan dalam komentar.

Saya sadar bahwa komentar-komentar pada status media sosial yang saya posting, bukan karena postingan saya bagus, pemikiran saya luar biasa, atau apa yang saya bagikan berdampak positif secara luas pada khalayak. Apalagi yang saya bagikan hanya foto narsis, nilai manfaatnya nol besar. Oleh karena itu saya selalu berfikir lebih realistis, bahwa like atau lebih terasanya komentar terhadap apa yang saya share, merupakan silaturahmi teman-teman media sosial terhadap saya. Sehingga sependek apapun tetap harus saya balas. Ini konsekuensi dari postingan saya. Ada yang berkomentar wajib dibalas. Bukan membalas komentar dengan like semata.

Merujuk pada konsep tanda, saat seseorang mengomentari postingan kita, ada bentuk lain yang hadir bersama-sama dengan komentar tersebut, yaitu kehadiran pemilik komentar. Komentar tidak semata-mata sebagai komentar. Namun juga ia merupakan konsep kehadiran sang pemberi komentar. Kehadiran inilah yang tidak boleh kita abaikan. Karena bagaimanapun kehadiran dalam sebuah silaturahmi menjadi keniscayaan akan bentuk saling menghargai melalui berbagai macam interaksinya. Inilah hubungan antara penanda dan petanda, antara komentar dan kehadiran.

Menjadi keniscayaan saat kita hadir dan orang lain hadir, maka kehadiran itu akan melahirkan komunikasi. Dalam konsep komunikasi, bisa jadi kehadiran itu bersifat satu arah, dua arah, atau banyak arah. Jika yang terjadi adalah interaksi maka keniscayaan bahwa kehadiran yang aktif harus dibalas dengan kehadiran aktif lagi. Pendek kata, saat ada yang bertanya aktif, tentu harus dijawab dengan aktif bukan pasif seperti hanya senyuman, atau cukup dengan dua jempol diacungkan. Tentu ini tidak etis.

Bagi saya ini bagian dari konsekuensi kehadiran kita di medsos. Jika intensitas kehadiran kita cukup sering dan kehadiran orang lain pada postingan sering, menjadi konsekuensi bahwa kehadiran aktif itu harus dibalas dengan kehadiran aktif lagi. Sehingga nilai silaturahmi terjalin. Hubunganpun mengarah kepada hal yang positif. Sehingga medsos bukan hanya alat ia juga menjadi bagian dari kebertubuhan kita. Walaupun tentu saja kehadiran kita bisa ditunda sesuai dengan waktu yang memungkinkan untuk hadir.

Sudah siap hadir di media sosial? Atau sekadar narsis campur FOMO saja?!
Read More

15 June 2019

Tenggelamnya Lebaran Kami

Tenggelamnya Lebaran Kami, Pikiran Rakyat (14/06/2019)
Detox Media Sosial. Demikian sebuah postingan pada laman instagram yang saya baca H-3 Hari Raya Idul Fitri. Pada caption postingan tersebut, pemilik akun mengucapkan selamat lebaran kepada warga Instagram. Ia pamitan lebih dulu untuk mudik ke kampung halamannya. Bukan berarti di kampungnya fakir sinyal. Namun karena berlebaran di media sosial dianggap mengganggu silaturahmi dengan sanak famili. Artinya selama masa lebaran, ia tidak akan mengakses media sosial.

Menjelang dan saat hari H lebaran. Setiap orang berlomba mengucapkan selamat lebaran,  minal aidzin, dan permohonan maaf. Ada ratusan pesan masuk, baik melalui jalur pribadi ataupun melalui grup. Ada dua catatan yang saya cermati. Setiap ucapan yang saya terima melalui jaringan pribadi tidak satupun yang menyebut nama saya, orang yang dikirimi ucapan.

Sedangkan pada grup, hampir setiap pemberi ucapan, lalu meninggalkan grup tanpa ada interaksi lanjutan. Penghuni grup lain juga seakan tidak mau kalah, bukan membalas ucapan selamat tersebut, justeru mengirim pesan yang sama. Lalu siapa yang menjawab ucapan tersebut? Tidak ada yang menjawab!

Setelah berkumpul di kampung halaman. Intensitas berlebaran melalui antarmuka masih intensif dilakukan. Setiap warga kampung fokus pada perangkatnya masing-masing. Kegiatan asyncronus melalui whatsapp, scrolling media social, atau sekadar menonton tayangan yutub dan instagram. Sanak famili terabaikan. Lebaran tereduksi oleh kehadiran perangkat digital. Yang jauh mendekat yang dekat justeru terasa jauh. Mereka terkana sindrom post social. Demikian ditulis oleh Yasraf Amir Piliang, seorang filsuf postmodern dari ITB.

Mungkin ini yang menjadi salah satu alasan teman saya  meninggalkan media sosial selama masa libur lebaran. Intensitas berlebaran di media social mereduksi pondasi relasi kemanusiaan. Pemilik perangkat dianggap sebagai benda yang tidak memiliki identitas selain antarmuka. Diri yang direpresentasikan oleh antarmuka dianggap melebur menjadi benda. Sehingga tidak ada keharusan menyebutkan nama saat mengirim ucapan lebaran. Alih-alih lebaran penuh makna fitri, justeru menjadi kurang bermakna. Nilai mudik tak terasa.

Anomali Lebaran 4.0
Jean Baudrillard menyebut fenomena di atas sebagai simulasi social. Suatu kenyataan yang melampaui realitas sebenarnya. Suatu realitas yang hadir karena difasilitasi oleh media. Ia disatukan oleh berbagai komponen teknologi yang hadir dalam internet; jaringan, aplikasi, teknik citra, multimedia. Kenyataan social dalam media tersebut hanya sebagai hasil citraan.

Meminjam istilah Yasraf dalam simulasi sosial, lebaran melalui media social adalah lebaran artifisial. Relasi-relasi social sudah tereduksi oleh teknologi antarmuka. Yang hadir bukan lagi manusia, tapi aplikasi. Meminjam istilah filsuf postmodern tersebut, simulasi sosial merupakan bentuk permukaan  dari sosial, sebuah relasi sosial yang artifisial, yang tidak tercipta secara alamiah di sebuah territorial yang nyata, akan tetapi di dalam  sebuah territorial halusinasi, yang terbentuk dari bit-bit informasi.

Bagi Yasraf, pada tingkat tertentu, simulasi sosial dapat mengambil alih relasi sosial yang sesungguhnya, ketika ruang-waktu virtual  mengambil alih ruang waktu sosial yang natural. Kematian sosial adalah sebuah kondisi ketika persepsi, kesadaran dan emosi setiap orang diserap oleh ruang-waktu virtual ini, sehingga tidak tersisa lagi untuk ruang-waktu ilmiah. Dalam kematian sosial, setiap orang akan sepenuhnya hidup di dalam ruang sosial artifisial, dan menjalankan segala aktivitas di dalamnya dalam wujudnya yang artifisial.

Wajar jika hampir semua ucapan lebaran tanpa menyebutkan nama yang dikirim baik yang melalui jaringan pribadi atau grup. Ucapanpun seakan tanpa pijakan ditujukan untuk siapa. Sehingga Relasi sosial menjadi terreduksi. Karena lebaran melalui media social sekadar artifisial. Maka wajar, seorang teman memutuskan untuk melakukan detox media sosial selama lebaran.

Teknologi yang seharusnya mendekatkan antar penggunanya justeru mengurangi nilai social dari berlebaran. Intensitas yang mendalam terhadap media social saat lebaran justeru semakin membenamkan diri pada kehampaan social. Sehingga terjadi anomaly dari lebaran itu sendiri.

Lebaran yang identik dengan mudik, silaturahmi dengan sanak family, bercengkerama dengan keluarga diambil alih semuanya oleh teknologi. Di sinilah terjadinya anomaly lebaran, yang di hadapan justeru menjadi asing. Sedangkan yang jauhpun tidak ada di hadapan karena semua berada dalam antarmuka. High tech tidak mampu menghadirkan high touch. Meminjam istilah John Naisbitt, dalam konteks ini high tech tidak mampu memelihara kemanusiaan (low touch).

Sejatinya ini bukanlah kondisi ideal dari lebaran 4.0. Karena era 4.0 bukan sekadar merayakan kemajuan berbagai macam teknologi aplikasi. Lebaran 4.0 juga harus semakin merekatkan relasi kemanusiaan, melekatkan nilai silaturahmi. Melalui teknologi, intensitas silaturahmi justeru yang harusnya lebih erat, seperti harapan dari Naisbitt—high tech high touch.

Hal ini senada dengan yang ditulis oleh Hermawan Kertajaya melalui kajian dan pemikirannya dalam Marketing 3.0 yang berlanjut dengan Citizen 4.0. dan marketing 4.0. Marketing 3.0 hadir setelah melalui kehadiran teknologi digital, memfokuskan pada hubungan dengan konsumen, yang ia istilahkan dengan human-spirit. Hal ini merupakan tahapan lanjutan dari tahap kemajuan teknologi yang berfokus pada teknologi itu sendiri.

Sedangkan pada konteks manusia era 4.0, tahapan ke 3 dan ke 4 fokus pada pelayanan dan manusia. Salah satu elemen kunci dalam pelayanan adalah empati. Sedangkan elemen kunci dari manusia adalah keintiman dan passion. Kombinasi dari ketiga elemen tersebut menghasilkan suatu kedalaman hubungan, yaitu suatu hubungan kemanuasiaan yang didasarkan para hubungan tulus dan produktif.

Lebaran pada era 4.0 harusnya memijakkan diri pada hubungan yang bersifat interpersonal, bukan massal. Pada kasus lebaran virtual di atas, hubungan lebih di dasarkan pada hubungan massal. Komunikasi yang bersifat massal melalui media sosial tidak pernah menyentuh sisi personal dari sejawat. Semua teman sejawat dianggap sama, tanpa keunikan apapun, baik dari kedekatan emosional ataupun keunikan dari sebuah nama. Sehingga nilai-nilai empati dan keintiman menjadi hilang.

Lebaran iedul fitri bukan hanya mengembalikan diri ke dalam jiwa yang fitri, bersih, berangkat lagi dari nol dosa. Juga kembali pada sisi-sisi kemanusiaan kita. Mudik dan berlebaran adalah mengembalikkan tujuan silaturahmi, mempererat tali kemanusiaan, melekatkan relasi antar jiwa, melalui empathy dan keintiman.

Jadikan teknologi hanya sebagai alat kebertubuhan, yang pada waktunya perlu dilepaskan, bukan kebertubuhan itu sendiri, yang selamanya melekat. Mari kembali kepada relasi kemanusiaan, jadikan teknologi sebagai perekat bukan berrelasi dengan teknologi itu sendiri. Agar lebaran benar-benar fitiri. Agar mudik dapat mendekatkan sanak family. Bukan tenggelam dalam mabuk teknologi.***[]
Read More

29 May 2019

KiosAgro, Marketplace Untuk Petani Millenial

Tampilan website KiosAgro
Jalan keempat revolusi industry atau yang dikenal dengan era 4.0 memungkinkan setiap creator meciptakan sesuatu yang belum pernah terbayangkan. Revolusi berarti perubahan besar-besaran secara sistemik. Salah satu perubahan besar yang dialami oleh masyarakat post-industri ini adalah perubahan terhadap pola komunikasi antarmanusia.

Pola komunikasi berubah setelah kehadiran berbagai macam aplikasi komunikasi dalam perangkat digital. Hal inilah yang menjadi ciri utama revolusi industry abad mutakhir.

Saat usia masih remaja, saya membayangkan jika melakukan komunikasi jarak jauh dapat melihat wajah masing-masing pasti sangat menyenangkan. Lalu, tahun 2007-an hal itu benar-benar terjadi dengan kehadiran teknologi 3G. Melalui teknologi 4G, Kini, videocall menjadi hal lumrah.

Bukan hanya pada pola komunikasi, pola konsumsipun berubah. Orang kini lebih banyak menghabiskan belanja konsumtif di marketplace. Banyak supermarket atau pusat-pusat perbelanjaan menjadi sepi. Seperti sering diberitakan media nasional. Beberapa pusat niaga di Jakarta terancam gulung tikar. Kini orang lebih memilih belanja melalui marketplace.

Marketplace yang dimaksud adalah sebuah aplikasi pembelanjaan yang kini tidak asing bagi pemilik perangkat digital. Sebut saja bukalapak, lazada, zilinggo, tokopedia, shopee.

Kemudahan pemilihan barang, membandingkan harga, kemudahan transaksi, jaminan keamanan, efektivitas waktu, efisiensi dan sifat ekonomis menjadi alasan kenapa orang lebih memilih berbelanja di marketplace di banding dengan supermarket atau plaza. Wajar jika perkembangannya sangat pesat. Bahkan untuk sekedar membeli makanan saja, kini lebih banyak menggunakan jasa gofood dibandingkan harus keluar rumah/ kantor.

Kini, ada marketplace khusus untuk produk pertanian, peternakan, perikanan, dan produk olahannya. KiosAgro. Ya, KiosAgro merupakan marketplace baru yang mempertemukan antara petani, peternak, atau nelayan. Begitu juga bagi produsen produk olahannya, KiosAgro mempertemukannya dengan pembeli secara langsung. Dibandingkan dengan marketplace lain, KiosAgro lebih spesifik sehingga lebih memudahkan pencarian produk/ barang.

Berdasarkan keterangannya, KiosAgro merupakan marketplace bertentuk website dan aplikasi yang dididikan dan dikelola oleh PT. KiosAgro Indonesia Sejahtera. Marketplace ini dibuat dengan tujuan ingin mensejahterakan komunitas local, utamanya yang bergerak dalam bidang agro dan UMKM; pertanian, perkebunan, peternakan, perikakanan, kelautan, ataupun hasil olahan dari semua itu.

Menurut CEO KiosAgro, Hadian, kehadiran KiosAgro diharapkan dapat memutus mata rantai tengkulak yang merugikan petani. Sehingga kehadiran marketplace tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan petani atau nelayan. Penjual untung, pembeli untung, demikian seperti jargon dari KiosAgro yang didengungkan Master Of Ceremony beberapa waktu yang lalu di Hotel Patra Comfort Dago (20/05/2019).

Bagi saya sendiri, kehadiran KiosAgro bisa menjadi angina segar bagi para petani atau pedagang eceran dan produk olahannya. Karena marketplace ini focus pada satu produk yang spesifik. Sehingga calon pembeli baik dalam jumlah kecil (eceran) atau besar (partai) bisa langsung membuka atau menginstal aplikasinya.

Apalagi, kini generasi millennial juga punya banyak pilihan profesi. Bahkan menjadi petani sekalipun. Menjadi petani era sekarang tidak seperti dulu. Kini tidak sedikit generasi millennial yang terjun sebagai petani atau peternak. Kehadiran KiosAgro yang teknologinya lekat dengan gen M, menjadi peluang besar bagi petani/ peternak gen M agar lebih mudah dalam memasarkan produk-produknya.

Hanya saja memang perlu pendekatan yang pas agar kehadiran KiosAgro dapat diterima oleh semua kalangan. Bagi yang tua tidak menyulitkan, bagi yang muda tetap menguntungkan.

Semoga kehadiran KiosAgro, tidak hanya memberkan warna dalam dunia marketplace, juga memberikan warna start up yang memiliki differensiasi bagi usaha generasi kekinian yang harus selalu lekat dengan teknologi sentuh.

Pada masa yang akan datang KiosAgro tidak hanya marketplace, juga jasa lain yang masih terkait dengan agroindustry; edukasi, riset, keuangan, energy, pembayaran, dan lainnya. Sehingga lebih familier dengan generasi yang lahir kemudian.***[]
Read More

18 May 2019

5 Lima Alasan Puasa Menyehatkan Tubuh

Ilustrasi 5 (Lima) Alasan Puasa Menyehatkan Tubuh, Peci dan Kurma. (doc www.abahraka,com)
5 (Lima) Alasan Puasa Menyehatkan Tubuh

Puasa… puasa..
sebetulnya menyehatkan
Sebulan menahan nafsu
menjauhi larangan Tuhan
meningkatkan ketaqwaan
Puasa dengan penuh ikhlas
Tingkatkan martabat diri
Lahir bathin suci kembali
Semoga Tuhan ridhoi
ibadah puasa kita di bulan Ramadhan

Ada yang tahu penggalan lirik lagu di atas?

Ya betul sekali, lirik tersebut miliknya grup musik legendaris yang sampai ramadhan 1440 H sekarang masih eksis, tampil secara offline ataupun live di televisi.

Salah satu penggalannya, puasa...puasa sebetulnya menyehatkan, terus-terus mengiang dalam ingatan saya. Kenapa? Karena melalui puasa salah satu penyakit menahun saya bisa sembuh. Puasa jadi therapy utama saat kambuh. Walaupun kini, setelah mereda, saya jarang sekali melakukannya di luar bulan ramadhan.

Saya kutip dari buku Terapi ala Sufi karya Syeikh Chistiyah, puasa dapat menjadi alat therapy bagi beberapa penyakit. Termasuk maag yang sering dijadikan alasan orang untuk menghindari puasa. 

Saya sendiri sejak kuliah memiliki penyakit maag kronis, hingga harus dirawat bahkan diinfus. Saran dokter memang harus teratur sarapan, tidak boleh makan pedas, dan jangan ngopi.

Sejak saat itu memang saya selalu menghindari kopi. Saking pekanya lambung, mencium baunya saja, perut saya langsung gemeteran. Beberapa tahun saya betul-betul berhenti minum kopi. Padahal saat kumpul dan nongkrong, kopi plus rokok jadi menu utama pertemanan.

Detoksisasi Tubuh
5 (Lima) Alasan Puasa Menyehatkan Tubuh yang pertama adalah Detoksisasi Tubuh. Proses detoksisasi tubuh khususnya dalam usus/ lambung terjadi saat perut dalam keadaa kosong. Pada saat berpuasa, saya tersadar karena ternyata setelah bulan ramadhan, perut saya justeru seakan mengalami refreshing. Biasanya saya mengalami mencret dan sakit perut di awal-awal puasa. 

Hari ke 3 sampai ke 5. Nah, menurut syeikh Chistiyyah, kondiri seperti itu adalah proses pembersihan racun dalam perut. Detoksisasi. Kosongnya perut karena puasa menjadi ajang pengeluaran racun dari dalam perut. Sehingga saat terisi, racun-racun itu segera keluar dengan makanan yang kita makan.

Makanya, setelah puasa ramadhan, saya seringkali melanjutkan puasa tiga sampai dengan 6 hari. Istilah orang sunda, nyawalan namanya. Ini sebetulnya karena sayang meninggalkan kebiasaan baik, yang jika sudah jauh dari bulan puasa biasanya males untuk puasa.

Makanan Bernutrisi
Ilustrasi 5 (Lima) Alasan Puasa Menyehatkan Tubuh, makanan bernutrisi; buah kurma
5 (Lima) Alasan Puasa Menyehatkan Tubuh yang kedua adalah Pemilihan Makanan yang Bernutrisi. Puasa identik dengan korma, sayuran, buah-buahan, juga air/ cairan. 

Keempat kategori atau jenis makanan tersebut adalah makanan yang bernutrisi alias memiliki gizi yang dibutuhkan oleh tubuh. Kita ketahui, bahwa selama ramadhan selalu menyiapkan makanan terbaik baik untuk berbuka ataupun sahur.

Saya sendiri selalu memperbanyak minum saat sahur, bahkan saat akan tidur pun selalu menyempatkan minum 1 gelas. Saat berbuka atau sahur pun setiap harinya harus terdapat menu sayur dan buah, walaupun sederhana.

Fungsi nutrisi sendiri adalah untuk memelihara kesehatan tubuh dan juga pertumbuhan. Nah, selama berpuasa, karena ekpektasi kita harus kuat tidak makan selama kurang lebih 13 jam, kita mempersiapkan makanan terbaik dari sisi nutrisi agar dapat memenuhinya. Hal yang tidak dilakukan secara teratur saat hari biasa.

Bahkan, pada ramadhan 1440 Hijriah sekarang, bibir saya terkena panas dalam. Alhamdulillah, setelah 3 hari puasa, justeru sembuh. Ini membuktikan bahwa puasa—dari sisi keteraturan makan makanan yang bernutrisi, akhirnya bisa menyembuhkan—memelihara kesehatan.

Pada sisi lain, seperti ditulis situs finansialku, nutrisi juga memiliki manfaat lain. Misalnya menurunkan tingkat stress, membantu aktif secara fisik maupun mental, memberikan energi dan meningkatkan kinerja, membantu memiliki hidup yang seimbang, bahkan bisa meningkatkan kepercayaan diri.

Tidur
5 (Lima) Alasan Puasa Menyehatkan Tubuh yang ketiga adalah Tidur. Tidur bukan hanya Ibadah saat puasa, Namun juga memperlancar Metabolisme. Kegiatan-kegiatan lainnya pada bulan puasa juga turut membantu meningkatkan kesehatan tubuh. 

Misalnya seperti diteliti oleh Ebrahim Kazim dari Trinidad Islamic University, seperti dikutip republikaonline. Puasa membuat tidur lebih berkualitas, sehingga berpengaruh pada perbaikan tubuh dan otak. Tidur sebelum sahur dapat memperlancar metabolisme tubuh.

Saat puasa, tidur menjadi hal yang gampang ditemui dimana-mana. Saya sendiri, sehabis tarawih biasanya jarang sekali melakukan aktivitas misalnya, nonton sampai malam. Karena badan sudah lelah, maka lebih memilih untuk tidur agar jam 3 atau jam 4 subuh bisa terjaga.

Doa
5 (Lima) Alasan Puasa Menyehatkan Tubuh yang keempat adalah Doa. Energi Positif dari Doa dan Kata-kata positif dapat menyehatkan tubuh. Pada bulan puasa, terjadi peningkatan ibadah. Misalnya membaca Al-Qur’an ataupun dzikir. Al-Qur’an memiliki sifat Asy-Syifa turut mendorong tubuh menjadi sehat. 

Betapa tidak, pada bulan Ramadhan, setiap orang berlomba-lomba untuk membaca al-Qur’an. Ada yang menargetkan 1 hari 1 juzz, sehingga hari terakhir ramadhan, tamat membaca 30 Juzz. Atau juga membaca Al-Qur’an secara bersamaan alias tadarrus.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Masaru Emoto, bahwa 64 persen dalam tubuh kita terdiri dari air. Air jika diberikan kata-kata yang indah dan bagus akan memberikan respon yang positif terhadap tubuh. Nah, dengan bacaan bagus yang berasal dari Al-Qur’an, tubuh pun merespon dengan baik.

Setelah meneliti di Jepang dan berbagai negara, Emoto berkesimpulan bahwa kata-kata baik itu berkorelasi secara linier dengan kebaikan tubuh. Air yang diberi kata-kata baik membentuk kristal yang indah, sedangkan air yang diberi kata-kata buruk justeru bentuk kristalnya tidak baik.

Terakhir kali penelitiannya dilakukan di Saudi Arabia terhadap Air Zamzam. Dan hasilnya sangat mengejutkan peneliti Jepang tersebut. Air Zam-zam memiliki kristal yang paling indah dibandingkan dengan air dari negara lain. Karena penelitian terhadap Air Zam-zam tersebut Masaru Emoto menjadi mualaf.

Hubungan Sosial
Ilustrasi 5 (Lima) Alasan Puasa Menyehatkan Tubuh, hubungan sosial.
5 (Lima) Alasan Puasa Menyehatkan Tubuh yang kelima adalah hubungan sosial. Pada bulan ramadhan terjadi peningkatan hubungan sosial. Bukan hanya kesalehan individu yang menonjol, juga kesalehan sosial bergema dimana-mana. Ibadah individu juga banyak dilakukan secara kolektif alias berjamaah. 

Shalat malam yang biasanya dilakukan sendiri, dilakukan berjamaah. Bahkan salat duhur dan ashar yang biasanya berisi 3 shaf, kini masjid penuh seperti halnya shalat jumat. 

Peningkatan relasi dalam konteks ibadah terhadap Allah, juga konteksnya terhadap manusia menjadi nilai yang dapat merelaksasi bagi tubuh. Menurut ahli kesehatan, relaksasi tubuh inilah yang membuat badan kita menjadi sehat.

Beberapa ahli mengatakan jika penyakit itu tidak hanya disebabkan oleh sebab fisik, juga psikis. Dengan kondisi psikis yang relaks inilah pada akhirnya tubuh juga menjadi sehat. 

Relaksasi tubuh berasal dari berbagai amalan yang dapat meningkatkan relasi antar manusia, seperti sadaqah, menyediakan tajil dan buka puasa untuk orang lain, termasuk kehidupan kolektif yang meningkat.

Berdasarkan beberapa uraian di atas, kesehatan yang disebabkan oleh puasa tidak hanya karena proses fisik, seperti hasil penelitian Syeikh Chitiyyah, karena ada proses detoxisasi dalam tubuh/ perut, atau seperti hasil penelitian Masaru Emoto, karena ada kecenderungan tubuh menerima kata-kata baik, namun juga kehidupan kolektif yang meningkat pada bulan ramadhan ini.

Maka sangat wajar jika bulan ramadhan sebagai bulan penuh berkah ini, selain karena diampuni dosa orang berpuasa, terbukanya pintu surga dan tertutupnya pintu neraka, terhindar dari berkata-kata kotor, atau berlipatgandanya pahala. 

Lebih dari itu, Allah menyediakan berbagai cara dan dari berbagai arah bagaimana tubuh betul-betul sehat secara syariat dan hakikat. Sehat lahir batin. Sehat jiwa raga. Sehat kehidupan individu dan sosial. Kecuali bagi orang yang tidak bersyukur.

5 (Lima) alasan puasa yang menyehatkan tubuh tersebut secara holistikdikaji berdasarkan sifat dan unsur dari tubuh manusia yang bersifat materi sekaligus immateri. Karena pada dasarnya manusia tidak hanya berasal dari tanah (nutfah) namun juga ruh (Allah).

Sehingga bisa jadi pelajaran dalam kehidupan sehari-hari kita agar nilai dari bulan ramadhan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di luar bulan ramadhan. Tentu, agar sehat jiwa dan raga, lahir dan batin. Selamat menunaikan ibadah puasa guys.


Read More

23 April 2019

Tukar Tambah Laptop Asus, Bisa?

@abahraka dan Asus Zenbook  13"/14"/ 15"
Sejak 2013, saya merupakan pengguna LED Asus. Cukup keren waktu itu, karena LED tersebut memiliki sambungan HDMI khusus game, yang waktu itu masih jarang dipakai pada LCD atau LED merk lain. Pengalaman menggunakan LED Asus tersebut mengantarkan saya untuk ambil program pembelian Laptop Asus di kampus pada tahun berikutnya, 2014.

Program yang ditawarkan adalah kredit Asus tipe 12 Inch Netbook, Tipe A Pentium i3 14 Inch dan Tipe A Pentium i5 14 Inch. Karena teriming-imingi dengan akselerasi pentium i5 akhirnya saya memutuskan untuk mengambil Asus A i5.

Bukan hanya Laptop dan LCD/LED, Asus juga belakangan mengeluarkan produk gawai. Asus menjadi pemain populer melalui program percepatan produk gawai tersebut. Saya awalnya tidak begitu aware dengan produk Asus ini.

Setali tiga uang popularitas Gawai Asus, saya menjadi sadar bahwa Asus yang saya pakai, yaitu LED dan Laptop tipe A dengan pentium i5 ini memang bandel, dalam arti belum pernah rusak, baik sisi perangkat keras maupun perangkat lunaknya. Rentang waktu selama 2014 s.d. 2019 ini baru sekali instal ulang dan sekali beli Cahrgeran. Itupun karena charger genuine-nya hilang dan diganti dengan charger abal-abal akhirnya cepat rusak.

Tahun 2018 lalu, Asus mengeluarkan produk laptop dengan standar militer; kuat, tipis, dengan kapasitas premium. Ya, Asus yang dikampanyekan melalui Blogger Ambassadornya, seorang travel blogger Mbak Katerina – Travelerien. Asus Zenbook UX331UAL.

Melihat tampilannya saja, lepi ini begitu elegan dan mewah. Apalagi saat saya mengetahui spesifikasinya. Saya menjadi sangat ingin mengganti Asus tipe A saya yang sudah lama menjadi teman bekerja selama kurang lebih 5 tahun. Semakin sadar bahwa Asus memiliki kelas tersendiri untuk urusan laptop. Saya bermimpi bisa mengganti Asus lama dengan tipe tersebut untuk menemani saya bekerja dan studi lanjut.

Ketika ada tawaran di WAG untuk Asus Blogger Gathering, Sabtu 13 April 2019, saya langsung isi form. Dan tiba waktunya, saya hadir bersama teman-teman blogger di Grand Savoy Homan. Salah satu hotel bersejarah di Bandung.

Rela rebutan demi Asus Zenbook  13"/14"/ 15"
Spesifikasi Asus Zenbook 13“ UX33, 14” UX433, 15” UX533 menjadi fokus dalam Asus Blogger Gathering tersebut. Namun hanya tipe 14” yang disodorkan ke hadapan kami, 47 orang blogger yang hadir. Saya langsung bereksperiens dengan tipe UX433F hingga akhirnya mendorong saya berhalusinasi, bisakah Laptop Asus tipe A kepunyaan saya ditukar tambah dengan Asus yang berada di hadapan saya ini? tukar tambah? motor kali ah!

Dan tiba-tiba seorang teman kampus membalas dan bertanya di IG @abahraka, apa bener Asus sedang ada program tukar tambah?

Hahaha ini hanya sekadar lempar-lemparan batu siapa tahu kena dan pihak Asus mengabulkan halusinasi ini. Karena produk baru ini bisa menambah booster dan produktivitas saya dalam bekerja. Jadi, tidak ada salahnya jika bermimpi agar bisa tukar tambah kan?

Teknologi, Kelebihan, dan Spesifikasi Asus Zenbook 13“ UX33, 14” UX433, 15” UX533
Saya tidak akan bercerita banyak tentang Asus, dari narasi di atas saya pikir sudah cukup. Saya akan lebih menyajikan dalam bentuk gambar-gambar berikut, kenapa Asus Asus Zenbook 13“ UX33, 14” UX433, 15” UX533 menjadi pilihan.

Teknologi yang Disematkan ke Dalam Asus Zenbook 13“ UX33, 14” UX433, 15” UX533
Teknologi Asus Zenbook  13"/14"/ 15"
Asus Zenbook Secara Keseluruhan

All in Asus Zenbook 13"/14"/ 15"
Layar Tanpa Bezel
Bezel Asus Zenbook 13"/14"/ 15"

New NumberingPad
New Numbering Asus Zenbook 13"/14"/ 15"

Sudut Lengkung Ergonomis dengan Teknologi Ergolift
Teknologi ErgoliftAsus Zenbook ZenBook 13"/14"/ 15"
Batere Kuat Seharian
Baterai Asus Zenbook 13"/14"/ 15"

Desain dan Bodi dengan Standar Militer
Standar Militer Asus Zenbook 13"/14"/ 15"
Spesifikasi Asus Zenbook ZenBook 13"/14"/ 15"
Spesifikasi Asus Zenbook 13"/14"/ 15"
Spesifikasi yang mumpuni, bukan suatu hal yang berlebihan jika saya bermimpi bisa tukar tambah laptop Asus lama saya dengan model Asus Zenbook  13"/14"/ 15" kan? Semoga bisa terwujud.

Setelah mimpi-mimpi yang dihadapkan pada laptop impian, ternyata ini bukan sekadar Asus Blogger Gathering, acara ini lebih ke cara menikmati bagaimana pertemanan dan persahabatan itu yang harus dilengkapi dengan hangout dan makan-makan. Dari Savoy Homan, Asia Afrika, Alun-alun, Braga, dan menikmati hidangan ala Bidakara Savoy Homan yang lengkap.

Asus Blogger Gathering, Asus ZenBook 13"/14"/ 15"
Lengkaplah Asus Blogger Gathering, bukan hanya membahas travel blogging, review Asus ZenBook 13"/14"/ 15", juga hangout, makan, dan persahabatan. ***[www.abahraka.com]


Sumber gambar: Dokumentasi pribadi dan Asus.


Read More

22 April 2019

Fintektok Bandung: Hati-hati dengan Fintek Abal-abal, Cari yang Sudah Berizin!

Fintektok Bandung: Hati-hati dengan Fintek Abal-abal, Cari yang Sudah Berizin!

Fintektok Bandung: Hati-hati dengan Fintek Abal-abal, Cari yang Sudah Berizin!

Perkembangan teknologi keuangan di Indonesia cukup pesat. Pada tahun 2019 ini terdapat 1100-an lebih perusahaan yang bergerak di bidang start up keuangan tersebut. Dari aplikasi keuangan tersebut baru 106 perusahaan yang sudah terdaftar di lembaga otoritas keuangan atau OJK (otoritas jasa keuangan). Dari 106 perusahaan fintek tersebut, baru dua perusahaan yang mendapatkan izin resmi untuk beroperasi. Artinya yang belum terdaftar ada sekitar 1000an lebih.

Hal tersebut disampaikan oleh Aden Budi, Direktur Transaksi Keuangan   PT. Anantara Digital Indonesia, salah satu fintek yang sudah mendapatkan izin dari OJK. Dihadiri oleh 100-an peserta Ibu-ibu dari Fika Aerobik, acara ini diselenggarakan oleh fintektok, sebuah portal informasi start up keuangan di Graha Sindang Reret Ciwidey (19/04/2019).

Selain Direktur Transaksi Modal Antara, Aden Budi, turut hadir konsultan IT dari Universitas Parahyangan, Titan Hadian. Ia menjelaskan definisi dan hal-hal dasar terkait dengan financial technology. Bagaimana finansial teknologi memberikan banyak kemudahan dalam bertransaksi, bagaimana masa depan keuangan Indonesia juga akan sangat dinamis dengan kehadiranya fintek tersebut.

Pada sesi kedua, Yunus Bani, Pimred fintektok.id, portal informasi seputar teknologi keuangan, menyampaikan 10 hal terkait fintek, Pertama tentang status fintek abal-abal. Menurutnya fintek yang beredar lebih banyak yang abal-abal. Dibandingkan yang resmi. 

Bagi pria bertubuh tambun ini, cukup mudah membedakan fintek abal-abal. Misalnya, pendaftaran mudah, bunga tinggi, penagihan tidak manusiawi, dan yang membahayakan pengguna atau nasabah adalah media yang digunakan untuk mengunduh aplikasi dapat menyedot semua media dalam perangkat nasabah. Untuk lebih mudahnya membedakan fintek resmi dan abal-abal bisa dicek di OJK, apabila tidak terdaftar maka termasuk ke dalam fintek abal-abal.

Kedua, perusahaan fintek resmi mengikuti Peraturan OJK No.77 tahun 2016, yaitu mengikuti semua ketentuan dalam peraturan tersebut, termasuk sosialisasi perusahaannya ke publik atau target sasaran konsumennya. Mendirikan perusahaan start up keuangan tidak mudah, persyaratannya sangat ketat. Wajar, jika dari 1100-an fintek baru 106 yang terdaftar di OJK dan baru 2 perusahaan yang sudah mendapatkan izin. Walaupun begitu, yang terdaftar juga sudah memenuhi syarat operasional untuk melakukan usahanya.

Ketiga, teknologi keuangan tidak hanya meminjamkan secara online namun juga offline.  Beberapa jenis teknologi finansial misalnya market aggregator. Ia memiliki kemampuan mengumpulkan data finansial untuk disajikan kepada pengguna atau calon konsumen finansial. Contoh perusahaan market agregator seperti duitpintar dan aturduit.

Kemudian ada juga jenis peer to peer lending yaitu penyelenggara layanan jasa keuangan yang mempertemukan antara pemodal dan peminjam. Ini bentuknya platform online. Modalantara yang menjadi salah satu penyelenggara kegiatan termasuk ke dalam jenis peer to peer lending. Jenis lainnya adalah aplikasi pembayaran atau payment & settlement seperti gopay, ovo, atau tcash.  

Keempat, fintek ditujukan untuk masyarakat yang tidak terjamah oleh bank. Oleh karena itu jumlah pinjamannya kecil. Misalnya butuh 1 juta dalam jangka waktu satu bulan. Atau butuh 3 juta dan dibayar langsung saat gajian. Masyarakat yang terdesak kebutuhan jangka pendek bisa menggunakan fintek sebagai solusinya.  Dan inilah sasaran fintek. Bahkan fintek bisa menjadi alternatif dalam berinvestasi.
Hal lainnya yang disampaikan oleh Yunus Bani, adalah jenis pinjaman dari fintek dan tujuan peminjamannya. Apakah untuk darurat atau konsumtif sifatnya. Hanya saja jumlah pinjaman tidak bisa besar seperti meminjam ke bank. Jenis pinjaman bermacam-macam dari multiguna, biaya pendidikan, properti, belanja produk, atau pinjaman darurat yang waktu pembayarannya hanya sampai si peminjam gajian.
Fintektok Bandung: Modal Antara Permudah Transaksi Keuangan Via Platform
Fintektok Bandung: Hati-hati dengan Fintek Abal-abal, Cari yang Sudah Berizin!
Fintektok Bandung: Hati-hati dengan Fintek Abal-abal, Cari yang Sudah Berizin! Modal Antara adalah platform fintek yang mempertemukan antara pemodal dengan peminjam. Modal antara merupakan 1 dari 106 fintek yang sudah terdaftar di OJK. Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu khawatir dengan keberadaan modal antara. Justeru menjadi solusi. Misalnya, modal antara telah memiliki akta pendirian, SK Menhumkan, NPWP, NIB, tanda daftar penyelenggara sistem elektronik kemkominfo, serta surat tanda terdaftar dan diawasi oleh OJK.

Adapun produk modal antara terdiri dari pinjaman personal dan pinjaman usaha. Jangka waktu pembayarannya juga bervariasi dari satu bulan sampai dengan 3 bulan. Sedangkan besar pinjaman, yang persolan dari mulai 1 juta sampai 3 juta saja yang harus dibayar dalam jangka pendek misalnya 1 bulan. Namun dapat juga diangsur 6-12 bulan jika pinjaman 3,5 s.d. 10 juta rupiah.

Hanya saja modal antara tidak memberikan pinjaman ke sembarang orang, namun harus yang terdaftar sebagai karyawan salah satu perusahaan. Perusahaan tersebut harus yang sudah bekerjasama dengan modal antara.
Foto Narasumber, Fintektok Bandung: Hati-hati dengan Fintek Abal-abal, Cari yang Sudah Berizin!
Hati-hati dengan Fintek Abal-abal, Cari yang Sudah Berizin! ***[www.abahraka.com]


Read More

07 March 2019

Digital Branding, Kampanye Efektif dan Murah Calon Legislatif

Foto: @abahraka
Menjelang dimulainya kampanye pemilu 2019 yang tinggal menghitung hari, ada 3 orang yang menghubungi saya untuk sekedar ngobrol dan sharing tentang kampanye untuk pencalonannya sebagai caleg untuk pemilu 2018. Ada yang sekedar silaturahmi karena telah lama tidak pernah kopi darat, walaupun jarak rumahnya dekat. Ada yang sengaja menghubungi karena butuh semacam diendorse sosoknya pada media sosial. Ada juga yang secara verbal minta bantuan dan arahan untuk pengelolaan media digitalnya.

Untuk yang pertama mengira bahwa kampanye melalui digital cukup dengan posting dan menggunakan media sosial ads. Untuk yang kedua, sampai akhirnya ngobrol hingga larut malam, mengira bahwa dengan membuat banyak media dan iklan media massa cukup lumayan untuk kampanye.

Secara substantif tidak ada yang salah dengan posting berkala, iklan di media sosial, ataupun publikasi pada media mainstream bagi balon legislatif tersebut. Hanya saja, pada akhirnya akan sia-sia karena balon tersebut hanya dikenal saja tetapi tidak menjadi top of mind dalam benak pemilih. Hal ini karena apa yang dilakukan balon dengan netizen lain yang aktif di media (baik medsos atau mainstream) tidak ada pembeda. Bahkan tidak jelas nilai yang diperjuangkan oleh balon.

Saat membuka situs anggota legislatif, katakanlah yang sedang menjadi selebritinya sekarang adalah Fahri Hamzah dan Fadhli Zon. Sekilas dari tampilan profil digitalnya (web) tidak jelas nilai apa yang mereka perjuangkan. Tidak ada gambaran sama sekali bahwa mereka sedang memperjuangkan nilai tertentu, masyarakat tertentu, atau isu tentang kemanusiaan. Walaupun secara brand, semua tahu bahwa FH dan FZ ini adalah orang-orang yang kritis terhadap pemerintah. Tapi sekilas hal tersebut tidak tergambarkan dalam profil digital mereka. Profilnya terlalu general sebagai tokoh publik. Terlalu general. Walaupun hal berbeda akan didapatkan jika kita mengikuti dan menguliti isinya. Atau secara berkala kita tengok twitternya, karakter mereka cukup kuat untuk menjadi pembeda dengan anggota legislatif yang lain.

Saat membuka profil lain, misalnya Budiman Sudjatmiko (BS) dan Rike Diah Pitaloka (RDP), kebetulan mereka dari PDIP. Walaupun sekarang mereka lebih banyak diam daripada mengkritisi kebijakan pemerintah.  Akan tetapi, sekilas pandang saya menemukan aura beda dari tampilannya. Terlihat jelas juga bahwa ada nilai yang diperjuangkan. Misalnya dalam tampilan profilnya tergambar bahwa BS adalah sebagai pejuang nilai-nilai pedesaan. Hingga muncul kesan bahwa dialah yang melahirkan UU pedesaan. Begitu juga saat mengintip profil RDP, kesan yang muncul adalah bahwa dia pejuang kaum buruh. Salah satu yang menjadi concern-nya adalah masalah upah.

Walaupun FH dan FD memiliki brand yang kuat sebagai tokoh publik dengan konsistensinya yang terus mengkritisi pemerintah. Namun jika jarang mengikuti dan kita buka profil digitalnya sekilas, kita kesulitan menangkap kesan tentang nilai yang dia perjuangkan. Nah, bagaimana jika hal ini terjadi pada balon legislatif yang notabene tidak populer FH, FD, atau BS dan RDP. Oleh karena itu, yang pertama dilakukan oleh balon legislatif baru adalah dengan membuat pembeda. Pembeda menjadi salah satu kekuatan dalam memasarkan diri.

Meminjam konsep Hermawan, seorang pakar marketing, ada 2 lagi kekuatan lain yang dapat menggerakan  kampanye balon, yaitu positioning dan brand. Pendiri Asosiai Marketing Asia tersebut menyebutnya sebagai konsep PDB yang menghasilkan 3i. PDB merupakan kependekan dari Positioning, Differentiation, dan Brand. 3i sendiri adalah Brand Integrity, Brand Identity, dan Brand Image. Konsep ini merupakan pijakan dasar dalam marketing 3.0 yaitu collaborative, cultural, dan spiritual. Konsep ini dapat diaplikasikan saat memarketingnya diri sendiri dalam kontestasi politik menuju DPRD/ RI tahun 2019 mendatang.

Mari kita mulai...
Merujuk pada konsep 3i di atas, pertama, mau tidak mau seorang balon harus mampu merumuskan visi misinya dengan cara kolaborasi (collaborative). Partisipasi dari konstituen menjadi keniscayaan agar balon terhubung dengan konstituen. Kolaborasi memberikan penghargaan dan eksistensi konstituen, bahwa mereka bukan kambing conge. Konstituen adalah pribadi-pribadi kreatif dan punya kehendak bebas sehingga perlu diberikan ruang eksistensi. Tentu ini bukan kerja yang mudah dan enteng. Apalagi bagi politisi pemula yang bukan organisatoris atau bukan pula aktivis. Akan tetapi, jika balon telah memulainya sejak lama, hanya tinggal melanjutkan dan menguatkan nilai apa yang hendak diperjuangkan bersama-sama konstituen.

Kedua, balon juga harus berada di tengah-tengah masyarakat, membumi dengan konteks. Agar tidak asing dalam persfektif masyarakat. Bukan hanya terhubung tapi juga diakui sebagai bagian dari masyarakat. Hal ini penting karena masyarakat begitu sensitif dengan tradisi. Jangan sampai balon atau sebaliknya merasa asing satu sama lain. Oleh karena itu, misalnya orang-orang yang berasal dari daerah Dapil seringkali menyesuaikan dengan kultur masyarakat dapil. Mulai dari berbahasa, berpakaian, panggilan juga. 

Ketiga, melengkapi keterhubungan dan pembumian diri dengan spiritualitas. Spiritualitas bukan hanya hal-hal yang berhubungan dengan sesuatu yang maha. Namun juga mampu mewujudkan nilai-nilai kemahaan menjadi nilai kemanusiaan. Ingat pernyataan Ali Syariati, spiritualitas adalah melalui tangannya menuliskan ayat-ayat suci dari langit serta terbenam dalam genangan lumpur dan mengayungkan kayu untuk menyuburkan tanah yang kering, ia berdiri tegak memperjuangkan ayat-ayat dan hak-hak masyarakat. Pada prinsip ketiga inilah nilai itu muncul, yang akan menjadi pembeda sekaligus. Sehingga bukan hanya positioning dan differensiasi, seorang balon juga akan muncul brand-nya.

Lalu, bagaimana mengaplikasikan konsep tersebut sehingga mudah terwujud dalam konteks pemasaran diri? Berikut beberapa teknik yang saya kutip dari beberapa referensi...

Teknik Personal Branding
Pada dasarnya personal branding adalah upaya seorang balon untuk menjadikan namanya mudah diingat dan calon pemilih langsung mengasosiasikan dengan keunggulan tertentu. Jika saya sebutkan nama yang sudah saya sebutkan di atas; Farhri Hamzah, Fadli Zon, Budiman Sujatmiko, atau Rike Diah Pitaloka. Konstituen akan mengasosiasikan dengan sifat-sifat tertentu. Fahri Hamzah selain kritis juga orang yang cukup lurus, Fadli Zon selain terkenal kritis sebagai oposan juga punya kepedulian terhadap artefak dan budaya intelektual. Terlepas brand keduanya tidak langsung muncul saat mengintip profilnya dalam personal websitenya.

Ada beberapa prinsip yang dapat dilakukan untuk melakukan personal branding, seperti ditulis oleh Silih Agung Wasesa (2018).

Nama
Nama menjadi yang pertama diingat dalam konteks apapun. Sukarno dan Hatta memiliki panggilan populer Bung Karno dan Bung Hatta. Ia seorang proklamator, orang yang disegani, melalui panggilan bung di depan nama pendeknya membuat Soekarno dan Hatta lebih familier sebagai seseorang yang memiliki jiwa patriot dan negarawan. Akan tetapi saat panggilan bung ini kita pakai misalnya di organisasi pemuda, justeru menjadi asing. Karena konteksnya sudah berbeda.

Begitu juga saat caleg atau kepala daerah yang berasal dari Sunda menggunakan panggilan ‘Kang’. ‘Kang’ yang biasanya digunakan dalam konteks keorganisasian menunjukan stratifikasi bahwa yang dipanggil ‘kang’ lebih senior dan disegani. Untuk menciptakan suasana saling menghargai rasanya pas menggunakan panggilan ‘kang’. Akan tetapi di dunia baru yang serba egaliter, tampaknya panggilan ‘Mang’ lebih membumi, dekat, dan egaliter dibandingkan ‘kang’ yang memiliki jarak. Mang juga mengasosiakan bahwa dirinya memosisikan sebagai seseorang yang dapat dijangkau oleh siapapun.

Untuk memberikan nama panggung, panggilan depan dengan ‘Mang’ misalnya ‘Mang Ahmad’ akan lebih terasa familier oleh masyarakat dari semua kalangan. Ini juga menjadi pembeda di antara orang Sunda yang rata-rata menggunakan kata ‘Kang’ sebagai panggilan. Dan tentu saja banyak pilihan untuk menjadikan nama kita sebagai nama panggung dalam dunia politik.

Muda dan Pemberi Harapan
Sukarno pernah memberikan pernyataan “berikan aku 10 pemuda maka akan aku guncang dunia”. Pernyataan tersebut relevansinya kini sangat kuat. Hermawan Kertajaya, pakar marketing menjadikan kaum muda sebagai lokus gerakan dan perubahan. Lihat saja para pemberi harapan di era disrupsi, rata-rata kaum muda. Perusahaan pertama yang mencapai nilai saham 1 trilyun adalah Nadiel Makarim yang notabene masih muda. Begitu juga Ahmad Dzaki yang memberikan harapan terhadap pelaku UKM di Indonesia notabene masih berumur 30-an. Yoris Sebastian, Yasa Singgih, dan mereka juga para milyarder dunia seperti Mark Zuckerberg notabene memulai melakukan perubahan saat masih sangat muda. Oleh karena itu kesan dan ide-ide yang mengasosiasikan dengan sesuatu yang menjadi muda harus digalakkan. Seorang balon harus mampu memiliki penampilan, cara bicara, semangat, dan ketahanan fisik sebagai anak muda.

Prabowo lebih memilih Sandiaga Uno yang punya penampilan muda, begitu juga Jokowi memilih Erick Thohir untuk mengimbangi para pemilih pemula yang rata-rata harus didekati dengan pendekatan kekinian. Era digital, kaum muda menjadi salah satu lokus dan dinamisator. Bisakah balon menampilkan diri sebagai yang muda dan memberi harapan?

Go Digital
Wasesa (2018) memberikan beberapa tips praktis, bahwa salah satu pintu masuk instan ke generasi X, Y, dan Z adalah melalui etalase digital. Dalam etalase digital, sosok caleg dapat dikonstruk agar sesuai keinginan. Tetapi bukan berarti asal posting dan tulis. Butuh teknik dan keahlian agar sosok caleg berkarakter. Seperti ditulis Wasesa, pertama  memiliki narasi tunggal kepribadian. Caleg harus memiliki team atau agen-agen digital yang tersebar di setiap titik yang membicarakan secara tunggal dengan bahasanya masing-masing yang walaupun gayanya beragam, namun isunya seragam. Kedua,  terkoneksi dengan netizen. Bukan hanya di dunia maya, tetapi juga di dunia nyata. Ketiga menemukan KPI. KPI terukur dari indikator yang ada pada setiap platform arus utama pada media digital; engangement, reach, impression, output, out-take, dan outcome. Keempat, rencanakan editor plan. Seorang balon sudah menyiapkan konten-konten yang mendukung terhadap konstruksi personal branding untuk didistribusikan setiap harinya. Bukan hanya konten, kelima, balon juga harus sering ‘hadir’ dalam dunia maya, menyapa, menjawab, memberi suara, atau kontestasi ide sesuai dengan nilai yang diperjuangkan.

Meminjam point penting yang selalu disampaikan Hermawan dalam Marketing 3.0, go digital harus selalu terkoneksi; lekat dan dekat dengan 3 hal yaitu kaum muda, emak-emak, dan netizen. Hal ini tampaknya selalu digaung-gaungkan sebagai bentuk kesadaran dari para kontestan politik di negeri ini.***[@abahraka]
Read More