Mencicipi Istana Bogor

1291949324752627000
Istana, dokpri


Kota Bogor hampir serupa dengan beberapa tempat di Kota Bandung, memiliki asset pepohonan yang telah berumur ratusan tahun. Di Bandung, beberapa pepohonan telah terkena hukum kekuasaan jalan raya. Ia di pangkas, jalan diperlebar, namun tetap saja menyisakan kemacetan.

Di pinggir-pinggir jalan pohon menjulang, telah berjanggut pula, menunjukkan umurnya yang telah tua. Ia mencakar jalan, mencekram trotoar, dan menendang langit kota. Indah memang. Bagi pendatang yang berasal dari daerah pantai atau Timur, Bogor
menyisakan kesejukan, barang langka yang tak pernah ditemukan. Namun bagi pendatang yang berasal dari daerah tinggi setengah kota seperti Bandung, barang asing kesejukan Bogor sudah menghilang bersama arus pemanasan Global. Setidaknya itulah yang saya rasakan.
Beberapa tahun lalu, hampir sebulan sekali mengunjungi daerah ekalokasari, hanya itu. Kini ditakdirkan bertemu Istana walikota yang bersebalahan dengan Kebun Raya Bogor dan tentu saja Istana Bogor.

Saya juga ditakdirkan untuk mencicipi Istana Kepresidenan Bogor. Setelah dijamu pihak walikota. Keesokan hari menjelang pukul 09.00, diundang untuk menghadiri forum yang bertempat di dalam komplek istana.
Beruntung, karena dapat mencicipi, walaupun dengan udara yang sudah tidak asing lagi; panas bin gerah. Cengkraman akar pepohonan, tendangan dedaunannya tak mampu mengusir panas.
Berbekal kamera hape klasik 2 MP, akhirnya bisa ambil gambar sekitar Istana;
12919504811349039767
Hamparan rumput bak karpet di depan Istana
12919507881914197754
Istana dari dekat. Dokpri
1291950959624817946
Pepohonan Tua, mencakar bumi, menendang langit
12919511921886249152
Karpet-karpet Indah alami, bisa buat tiduran lho he..he..
12919516732095204603
Tempat keluarnya Pak Wapres, saat akan memberikan sambutan
1291952041562153809
Phon-pohon tua yang sudah berjenggot panjang
12919522811546994419
Putri Seksi Penunggu Istana dan Pohon Tua
_______________________________________________________________

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon