Wisata Sungai Purba Sanghyang


Berniat mengunjungi Sanghyang Heuleut, terjebak pada wisata Batu Purba!

Sanghyang Heuleut!
Satu Kalimat itu cukup tepat menggambarkan suasana batin, saat rombongan yang berjumlah 15 motor mengunjungi Sanghyang Heuleut, Rajamandala-Padalarang, Kabupaten Bandung Barat beberapa waktu lalu. Tepatnya awal November 2015. Namun bukan Stone Garden yang dekat dengan Gua Pawon yang kami kunjungi. Melainkan kumpulan batu Purba sepanjang sungai menuju lokawi wisata baru Sanghyang Heuleut. Lokasi ini berurutan dengan Sanghyang Tikoro, Sanghyang Poek, dan Sanghyang Ratu. 

Ya! Sanghyang Heuleut atau seperti yang penduduk setempat sebut, namanya Sanghyang Heureut bukan Sanghyang Heuleut karena lokasinya yang menyempit (heureut berasal dari bahasa sunda yang artinya sempit) adalah lokasi wisata yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial. Lokasi wisata ini tiba-tiba populer dan menarik banyak pengunjung. Bahkan saat sampai di lokasi, tidak beda saat kita mengunjungi wahana permainan yang promosinya besar-besaran. Padat.

Sanghyang Heuleut seperti pernah dimuat dalam rubrik Pariwisata Koran Pikiran Rakyat menyerupai sebuah Kolam yang dikelilingi batu besar. Namun ternyata, apa yang diimajinasikan tidak sesuai dengan kenyataan. Karena Sanghyang Heuluet tidak lebih adalah sebuah sungai yang tidak sengaja terbendung oleh batu besar sehingga menyerupai Kolam. Kolam dengan warna air hijau. Seperti di Green Canyon atau Cukang Taneuh Pangandaran.

Namun sebelum sampai ke lokasi tujuan, perjalanan menuju Sanghyang Heuleutlah yang membuat saya terkesan. Ada pertanyaan dalam batin saya saat itu, selama menempuh perjalanan hampir 3 jam menuju lokasi. Dari Suci Bandung menuju Lokasi. Kenapa batu-batu ini begitu besar dan punya motif-motif tertentu? Apakah ini bagian dari Bandung Purba, Bandung pada dua juta tahun yang lalu?
Sanghyang Heuleut sendiri menjadi tidak terlalu berkesan bagi saya, justeru sepanjang sungai menuju Sanghyang Heuleutlah yang membuat saya terkesan. 

Perjalanan ini mengantarkan pada petualangan sesungguhnya dibandingkan dengan Sanghyang Heuleut sendiri. Di samping areanya yang tidak terlalu luas, di lokasi Sanghyang Heuleut juga ternyata sudah bergerombol rombongan wisatawan dari berbagai daerah, bahkan kalau dilihat dari logatnya ada juga yang datang dari daerah Jakarta. Para pemburu foto pun tampak di lokasi. 

Piva Air Pemutar Turbin pada lokasi PLTA Saguling
Petualangan dimulai saat meninggalkan tempat parkir yang berada di lokasi rumah-rumah penduduk kemudian memasuki area PLTA Saguling, melewati lorong Piva-piva besar penyalur air menuju turbin Pembangkit Listrik. Perjalanan dilanjutkan melewati kebun-kebun penduduk yang cukup curam. Saya berfikir, “oh ini bukan jalan biasa yang dilalui manusia”. 

Jalan setapaknya tidak wajar, karena destinasi wisata Sanghyang Heuleut relatif baru dibandingkan dengan lokasi wisata Sanghyang Tikoro yang sudah sangat terkenal untuk masyarakat Bandung dan sekitarnya. Jika Sanghyang Tikoro sudah dikelola dengan baik, bahkan direlokasi tempat parkirnya oleh pemerintah. Sanghyang Heuleut jauh dari pengelolaan. Tidak ada tempat parkir. Jalan menuju Sanghyang Heuleut seperti melalui jalan menuju negeri antah barantah, asing, dan tidak biasa. Setelah melewati kebun-kebun penduduk yang gersang, masuklah ke area pepohonan yang rindang dengan rumput tinggi-tinggi. Cukup terjal karena jalan tersebut alamiah dan jarang dilalui orang sebelumnya. 

Di tengah terik matahari saat itu, area terjal, berakar dan berbatu cukup menyedot energi. Suhu tubuh mulai naik ke kepala, keringat bercucuran tak tertahankan hingga membanjiri kaos oblong. Beruntung sejak awal sudah persiapan dengan mengenakan sepatu gunung sehingga cukup bisa menguasai medan. Air mineralpun sudah bersih tanpa jejak sedikitpun.

20 menit sudah dilalui, sampailah ke sungai yang dipenuhi dengan batu-batu besar. Sejenak kami beristirahat di lokasi sungai yang isinya hampir 90% batu dibandingkan airnya. Airnya jernih dan berkelok-kelok mengalir melewati batu-batu besar dan menyempit. Kami pun bercengkrama di atas bebatuan dan seperti manusia kekinian lainnya, mengambil gambar alakadarnya. Sebagian yang lain narsis berlebihan.


Salah satu Sungai Batu yang kami temui, jadi tempat rehat sejenak.
Sementara yang lain menikmati sejuk dan dinginnya air setelah berlelah-lelah dan berpanasan, saya sendiri justeru menikmati batu-batu besar tersebut hingga akhirnya mengantarkan saya ke lokasi Gua Batu yang berada di lokasi sungai tersebut. Inilah Sanghyang Poek. Salah satu lokasi yang berada di sepanjang sungai tersebut. Di lokasi Sanghyang Poek Selain Gua Batu yang bisa dijadikan tempat berteduh, juga terdapat batu-batu besar yang menyerupai patung. 

Ini Sanghyang Poek, Sungai Batu yang menyerupai Gua
Subhanallah, ciptaan Allah begitu sempurna. Sungai ini lebih pas jika disebut sebagai sungai Batu karena isinya semua Batu. Batu-batu besar. Gua Sanghyag Poek menyerupai bukit atau Gunung Batu yang di bawahnya adalah perbekasan air mengalir. Menurut T. Bachtiar seorang Geolog yang aktif mengeksplorasi kegiatan wisata kebumian, batu-batu tersebut adalah batu-batu purba yang sudah ada sejak 2 juta tahun yang lalu. Saat Indonesia masih berupa lautan luas. Sangat masuk akal, karena batu-batu tersebut selain besar juga memiliki jenis yang berbeda-beda. 

Setelah rasa lelah mulai memudar, kami pun bergegas menuju lokasi Sanghyang Heuleut. Perjalanan dilakukan melalui jalan setapak, sebelum akhirnya masuk kembali ke area Sungai Batu Purba. Sungai Sanghyang. 

Petualangan baru dimulai. Bukan hanya batu-batu besar yang kami temukan. Namun batu-batu yang bercorak dan berbentuk juga ada. Termasuk batu-batu berlapis. Pada area lain saya menemukan batu yang menyerupai kursi. Sepanjang perjalanan kami lewati melalui batu-batu. Batu kecil ataupun besar yang akhirnya harus didaki. Karena tidak ada jalan lain menuju Sanghyang Heuleut.

Setengah Jam perjalanan menuju lokasi ternyata tidak cukup. Berarti sudah hampir 1 jam kami lalui sejak turun dari area parkir roda dua kami lewati. Saat kami tanya kepada pedagang keliling, areanya sudah dekat. Tetapi hanya batu yang saya temukan. Bukan sanghyang Heuleut. 

Setengah jam lagi sudah dilalui. Sampailah pada kerumunan orang pada batu-batu besar. Rupanya Sanghyang Heuleut sudah nampak di depan mata. Apa yang kami dapat? Ya hanya batu. Batu berlapis. Batu dengan mata dimana-mana. Batu-batu hijau yang lebih mirip sebagai bahan pembuat akik. Juga dinding batu yang menjulang tinggi.

Inilah salah satu lokasi Sanghyang Heuleut, Sungai dengan dinding batu yang menyempit
Saat lokasi Sanghyang Heuleut sudah di depan mata. Ternyata tidak mudah agar bisa berada di lokasi tersebut. Selain jalan terjal dengan batu-batu besar yang harus kami lalui. Jika diibaratkan dengan lalu lintas, situasi di lokasi ini sangat macet. Karena jalan-jalan batu yang kami lalui dipenuhi oleh hilir mudik manusia. Manusia yang kelelahan. Penuh dengan peluh. 1,5 jam perjalanan dari area parkir, bukan waktu yang sebentar. Hanya dengan jalan kaki.  

Setelah bersusah payah menaiki batu-batu besar yang berhimpit dan meninggi. Akhirnya sampai di lokasi Sanghyang Heuleut. Diapit oleh dinding batu yang menjulang tinggi. Makin jauh makin menyempit. Tidak ada lagi jalan. Kecuali harus melalui kolam kecil yang terbendung Batu. Dan perjalanan berhenti sampai di sini. Menonton mereka yang kegirangan bermain-main dengan air. Air Sanghyang Heuleut. Mereka riang berenang di Air yang hulu sungainya dipergunakan untuk memutarkan turbin. Turbin listerik. Listerik yang menerangi penduduk Jawa-Bali. Namun hanya sisanya, sehingga air di sungai tersebut tidak royal. Sedikit saja.

Menyaksikan pengunjung yang siap-siap lompat ke Kolam Sanghyang Heuleut
Sejenak menikmati para perenang amatiran dari atas batu yang tinggi dan harus menaiki bukit batu. Betul saja, jika diperhatikan, dinding batu yang menjulang tersebut semakin menyempit. Sebelum airnya berkumpul menyerupai kolam. Dinding-dinding batu itu tidak menyisakan celah agar kami bisa melaluinya. Petualanganpun berhenti. Air hijau kami nikmati. Satu persatu pengunjung bergantian naik ke atas batu. Loncat dan byuuur, suara kepala menabrak air. Mereka pun riang berenang. Sesekali diiringi tepukan riuh pengunjung yang sengaja menonton di Seberangnya.

saya pun beristirahat. Sambil mengambil gambar-gambar di lokasi yang eksotik. Puncaknya, kami isi dengan botram yang tidak direncanakan. Makan bersama dengan lauk seadanya. Karena ternyata, makanan itu tidak datang dari rencana tim, hanya inisiatif perorangan. 

Alhamdulillah. Beberapa suap bisa memulihkan kembali tenaga yang terkuras oleh perjalanan yang tidak sebentar dan tidak juga dekat. Inilah Sanghyang Heuleut. Perjalanan sesungguhnya Wisata Batu Purba Bandung. ***[]
abahraka
abahraka abahraka adalah nama pena (media sosial) dari Dudi Rustandi: penulis kolom opini, essai, perjalanan, dan buku.

31 comments for "Wisata Sungai Purba Sanghyang"

  1. Penuh berjuangan juga ya ... kalau malem harus dijaga neh biar nggak ada penambang batu akik datang, #ehhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Kang, ini bener2 adventure hehehe. Kalo lagi musim batu akik bisa bawa bongkahannya hahaha *eh

      Delete
    2. Bener..!!

      Dulu sungai di kampung saya penuh dengan batu warna-warni. Namun semenjak negara api menyerang.. eh musim akik datang, batu berwarna itu ludes semua.

      Delete
    3. Waaah harusnya diselamatkan dari serangan negara api. Untung pas musim akik mereda, jadi sepertinya Sungai Sanghyang aman dari serangan :D

      Delete
  2. Tempatnya bagus, tapi kalo banyak yang dateng gitu saya mah malah gak bisa nikmatin :D. Pengennya ke tempat yang lebih sedikit pengunjungnya :D
    Makasih udah share :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba Weekday, jangan weekend mbak, kemaren ke sana kebetulan pas hari minggu, jadi rame banget.

      Delete
  3. akep batunya :D.. semoga g ada yg getok batu disana..

    btw itu sungai mirip kolamnya itu dalam?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untung udah gak musim batu akik ya Alan Nobita. Kolamnya lumayan dalam, pengunjung bisa terjun dari atas batu...

      Delete
  4. Sepertinya, kalau ambil fotonya pakai drone lebih keren ya, Kang. Tapi, itu aja udah mmenarik wisatawan, yaaah rame bangettt :(

    Semoga lain kali bisa berkunjung ke sungai purba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah pastinya keren kalo pake Dron bisa ambil gambar dari atas gunung Batu.

      Tapi sepertinya kalo weekday gak rame teh...

      Delete
  5. tempatnya bagus, dan gak terlalu rame juga kayaknya ya ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tempatnya betul-betul alami, bahkan untuk jalur pejalan kaki juga masih belantara.

      Menurut penduduk sudah mulai rame sejak 2 bulan yang lalu, kalo weekend khususnya. Tapi hari biasa sepi. susah juga cari pedagan jadi harus persiapan bawa perbekalan :)

      Delete
  6. Wah, jadi penasaran...
    Ke bandung kemarin ngga tau kalau ada tempat bagus gini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo teh Ria, kalo ke Bandung lagi mampir ke sini. Jangan lupa pake sepatu gunung ya biar bebas langkah melangkahnya :D

      Delete
  7. Perjalanan yang nggak gampang. Gempor gempor sampeyanana. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Teh Uwien, gempor sampeyan, sareng napas ngos-ngosan, matak seueur eureun hehehe

      Delete
  8. Replies
    1. Alam dan batunya itu loh yang mantap, kalo perjalanannya bikin gempor Pak hehehe

      Delete
  9. Waaaah saya pernah ke Sanghyang Tikoro. Keren juga mantap

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya malah belum Jar ke Sanghyang Tikoro hehehe, malah lewat doang pas ke lokasi Gua Batu ini

      Delete
  10. Akses jalannya deket sama PLTA Saguling, kang? Hari Sabtu cobain maen ke sini ah, tempatnya keren. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asyiik rame-rame sambil bawa bekel makan Om, biar kerasa piknik hehehe, perjalanan lumayan bikin gempor dan haus.

      Delete
  11. Tuan penulis abah raka : kalau bisa digambarkan kedalaman kolam dan dasarnya apakah juga adalah cegukan batu...?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe mohon maaf, saya tidak sempat tanya ke temen-temen yang berenang, kebetulan saya tidak berenang karena niatnya menikmati alamnya. Nanti saya tanya Tuan Apul Rudolf Silalahi...

      Delete
  12. wah mantap ni tempatnya..
    sayang jauh dari t4 ane

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama saya juga jauh, tapi bela-belain hehehe

      Delete
  13. Tambahan sedikit :
    Sanghyang Kenit, Sanghyang Tikoro, Sanghyang Poek, Batu Hiu, Leuwi Gobang berlokasi di Desa Rajamandala Kulon, Kecamatan Cipatat bukan Padalarang.
    Sanghyang Heuleut sudah masuk ke Desa Baranangsiang, Kecamatan Cipongkor. hanya masuknya harus dari Rajamandala
    Terima kasih tulisannya bagus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya betul, terima kasih koreksinya. Sebagai orang luar, seringkali menyamakan antara padalarang sama daerah lainnya seperti citatah atau cipatat, padahal beda ya?

      Wah ternyata masih banyak destinasi di daerah situ ya...

      Delete
  14. diatas Sanghyang Heuleut, masih ada Curug Halimun segemen pertama masuk ke Cukang Rahong. Kemudian Curug Pangulaan, Curug Batu Buleud dan sebagainya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gimana caranya biar bisa sampai ke Curug-curug tersebut ya?

      Delete
  15. Bisa menyusuri sungai, tapi jaraknya 2x lipat sanghyang heuleut. Atau bisa lewat hutan dari pertigaan Cikuda deket bendungan saguling. Disana kita bisa lihat, bobolnya danau purba Bandung melewati Cukang Rahong (sungai yg diapit tebing). Bisa lihat di Tarumareuy.blogspot.com

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung, tunggu kunjungan balik saya ya...